Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB
Not a member yet
970 research outputs found
Sort by
SEMIOTIC ANALYSIS OF U MILD’S PRINTED ADVERTISEMENTS
Keywords: printed advertisement, sign, icon, symbol, index, U MildPrinted advertisement has a promotional function as medium to advertise a product. It implicity persuades people to create demand of product which is being advertised. In this study, the writer uses printed advertisement of U Mild as the object. The printed advertisement was analyzes by using Semiotic study. There are seven printed advertisements selected in different themes. There are two questions to be answered: (1) What kinds of sign are used in the printed advertisements of U Mild based on the typology of sign by Peirce ?; (2) What is the meaning of each sign in the U Mild printed advertisements?This study uses qualitative approach by document analysis that focuses on identifying sign. The writer collected the data by identifying the verbal and visual signs within seven U Mild’s printed advertisements. In analyzing the data, the writer applied Peirce’s typhology of sign theory. The meaning of signs combination found in the seven advertisements is also analysed using connotation theory.The writer found 140 signs in total consisting of 70 icons, 37 indexes and 33 symbols. Each sign has a very important role to build up the message delivered by the advertisements. The sign has function to make particular message clear to support and to strengthen up the message.The researcher finally suggests that the next researchers analyze other objects as the data in conducting a research related to semiotics study like television, ballyhoo or newspaper in order to obtain various results. Different semiotics theory is also suggested to apply in order to broaden the semiotic analysis
THE USE OF JAVANESE TABOO WORDS IN MOVIE ENTITLED PUNK IN LOVE
Keywords: taboo words, “Punk in Love†movie. In society, people know that using taboo words is forbidden, because taboo words are considered vulgar, but they still use it in communication. Most people use taboo when they are angry, but in East Java especially in Surabaya and Malang people can express happiness by using taboo words. They can use taboo words for their friend zone as a sign of familiarity. This study deals with the Javanese taboo words in the movie entitled “Punk in Loveâ€. The writer chose this topic because all characters in the movie use taboo words. The objectives of this study are to find out Javanese taboo words in Punk in Love movie, to classify types of Javanese taboo words in Punk in Love movie and to find out the purposes of using Javanese taboo words in Punk in Love movie. This study is a qualitative study with document analysis, because the data were taken from the script of Punk in Love movie. The data of this study were the utterances containing taboo words produced by all characters (main characters and supporting characters) in Punk in Love movie and used Wardhaugh’s (2006) theory to analyze the data. The writer found 82 taboo words, consisting of 81 taboos uttered by the main characters and 1 taboo uttered by the supporting character. The main characters never use the left hand (the origin of sinister) term and religious manner term. The supporting characters only uttered 1 taboo word sex term and they never use other types of taboo words. The writer also found out that the use of taboo words has many purposes. All characters in this movie tend to use taboo words when they talk with each other to express their frustration. The writer suggests the next writer to conduct the research on taboo words using other theory and analyze in other objects such as in daily communication or in punker’s real life
PENGARUH INTERAKSI SOSIAL PADA PERILAKU ENJOKOUSAI TOKOH TOMOKO DALAM FILM TENSHI NO KOI KARYA SUTRADARA KANCHIKU YURI
Kata Kunci : Film, Imitasi, sugesti, Perilaku Enjokousai, IdentifikasiEnjokousai adalah suatu bentuk prostitusi yang dilakukan oleh remaja putri Jepang. Salah satu film yang menampilkan perilaku enjokousai di kalangan remaja putri Jepang adalah Tenshi no Koi karya kanchiku Yuri. Dalam film ini, Tomoko merupakan tokoh yang melakukan enjokousai. Melalui interaksi sosial penulis menemukan faktor yang mempengaruhi tokoh Tomoko dalam keputusannya melakukan enjokousai.Untuk mengetahui pengaruh interaksi sosial pada perilaku enjokousai tokoh Tomoko tersebut penulis menggunakan pendekatan sosiologi terfokus pada sistem interaksi sosial yang dilakukan oleh tokoh Tomoko dengan lingkungan sekitarnya. Penulis juga menggunakan teori mise en scene, karena data yang dianalisis berupa adegan dalam film. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh interaksi sosial pada perilaku enjokousai tokoh Tomoko.Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah mengalami proses interaksi sosial, tokoh Tomoko kemudian mengidentifikasikan dirinya sebagai pelaku enjokousai. Dimulai dari adanya kontak sosial dan komunikasi dengan kelompok siswi populer, proses imitasi pada kelompok pertemanannya, kemudian sugesti dari kelompoknya. Tomoko merasa nyaman sebagai pelaku enjokousai. Penulis menyarankan pada penelitian berikutnya yang menggunakan film ini sebagai data penelitian agar menggunakan psikoanalisis ataupun hedonisme guna memperkaya apresiasi terhadap karya sastra. Â
A STUDY OF CODE SWITCHING USED BY THE PRESENTER IN X- FACTOR INDONESIA 2013 PROGRAM ON RCTI
Keywords: Code, Code Switching, X-Factor.People use language to communicate each other. In communication, when two or many people communicate to each other by using different language, the communication will not be understood. Generally, people who lived in bilingual or multilingual environment use code switching to prevent a misunderstanding between them because of the differences of language used. This research is aimed to find out code switching used by the presenter of “X-Factor Indonesiaâ€. Besides, this research is also to identify the kinds of code switching used by the presenter of “X-Factor Indonesiaâ€. As a result, the writer conducted a research which is aimed to find out: (1) What kinds of code switching are used by the presenter of “X-Factor†in RCTI, and (2) What are the factors facilitating the presenter of “XFactor†to use code switching. The writer used the theory of Romaine (1995) and Holmes (2001).The writer used descriptive or qualitative approach as the research method, while the subject of this research is the presenter of “X-Factorâ€. The writer collected 100 data containing code switching. This research used code switching theory of Romaine (1995) because this theory has suitable and clear explanation about kinds of code switching. To answer the second question, the writer used the theory of Holmes (2001). Based on Holmes' (2001) theory, there are four factors affected people used code switching.The result of this research showed that the most type of code switching in the utterances done by the presenter of “X-Factor Indonesia†is intra-sentential. This type occurred 88 times (88%). The second type is inter-sentential which occurred 8 times (8%), and the last type is tag switching which occurred 4 times (4%). While, the factors affecting the code switching is participants which occurred 17 times (17%), solidarity which occurred 68 times (68%), status which occurred 9 times (9%), and the last is topic which occurred 6 times (6%).Finally, the writer suggests the future researchers who will do the same research understand more about code switching. Besides, they should also analyze the factors affecting people in using code switching. The writer suggests them use the latest theory of code switching. This result of the research can be used for the next researchers as their reference in doing the next research in other phenomena of code switching occurred in television
MAKNA JUKUGO PADA KANJI YANG MEMILIKI KARAKTER DASAR “ONNAHEN†YANG TERDAPAT PADA MAJALAH NIKKEI WOMEN EDISI 4 (APRIL 2005)
Kata Kunci : Kanji, Jukugo, Karakter Dasar, Onnahen. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna di dunia. Mereka memiliki bahasa dan huruf yang mereka ciptakan untuk berkomunikasi. Pada huruf kanji, masing-masing huruf memiliki makna dan naritachi. Penelitian yang berjudul Makna Jukugo pada Kanji yang Memiliki Karakter Dasar “Onnahen†yang Terdapat pada Majalah Nikkei Women edisi 4 (April 2005) ini bertujuan untuk menjelaskan tentang makna dari huruf kanji yang berkaitan maupun yang tidak berkaitan langsung dengan wanita. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan metode analisis deskriptif. Analisis deskriptif pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna dari karakter dasar onnahen pada jukugo yang terdapat pada majalah Nikkei Women edisi 4 (April 2005).Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 32 data berupa jukugo dengan karakter dasar onnahen. Kemudian di analisis maknanya sehingga menghasilkan makna baru. Dari analisis tersebut, dapat ditemukan makna jukugo dengan karakter dasar onnahen yang memiliki keterkaitan dan yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan wanita
PESAN MORAL ISLAMI DALAM FILM LE GRAND VOYAGE KARYA ISMAEL FERROUKHI: SEBUAH TINJAUAN STRUKTURAL
Kata kunci : Film, sastra, struktural, pesan moral, Islam.Film merupakan produk budaya yang tidak hanya menjadi hiburan di masyarakat, tetapi juga sebagai sarana penyampaian pesan moral yang mengarifkan. Salah satufilm Perancis yang dianggap menginspirasi adalah film berjudul Le grand voyageyang ditulis dan disutradarai oleh Ismaël Ferroukhi. Film ini bercerita tentang perjalanan seorang muslim keturunan Maroko dan anaknya yang bernama Reda.Mereka menempuh jarak ribuan mil dari Perancis menuju ke kota Makah untukmelaksanakan haji hanya dengan mengendarai sebuah mobil tua. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui pesan moral islami apa saja yang terkandung dalamfilm Le grand voyage dan bagaimana pesan tersebut dimunculkan dalam film.Penelitian ini menggunakan teori Struktural untuk menjawab rumusan masalah.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik studipustaka serta dokumentasi sebagai metode pengumpulan data, dan teknikdeskriptif dalam proses analisis data.Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat 13 pesan moral islami yang terkandungdalam film Le grand voyage. Semua pesan moral tersebut mengacu pada sebuahproses perbaikan moral dan spiritual antara manusia dengan manusia dan alam,serta antara manusia dengan TuhanPenulis menyarankan pada penelitian selanjutnya untuk meneliti film Le grandvoyage menggunakan pendekatan sosiologi sastra yang nantinya dapat mengupashal apa saja yang melatarbelakangi pembuatan film ini dan tujuan sebenarnyayang ingin dicapai oleh pembuat film Le grand voyage
PEGGUNAAN RAGAM BAHASA HORMAT (KEIGO) DALAM DRAMA ATTENTION PLEASE KARYA SATO YUICHI
Keigo adalah bahasa yang dipakai secara sopan, hormat dan ramahterhadap lawan bicara atau orang lain. Secara umum keigo dibagi menjadi tiga, yaitu sonkeigo, kenjougo dan teineigo. Namun selain ketiga jenis tersebut,terdapat pula teichougo dan bikago. Penelitian ini digunakan untuk mengetahui penggunaan keigo dan faktoryang mempengaruhi penggunaannya dalam drama Attention Please. Berdasarkan alasan di atas agar penelitian ini lebih terfokus, maka rumusan masalah yang didapat yaitu Keigo apa sajakah yang terdapat dalam drama Attention Please dan faktor apa yang mempengaruhi penggunaannya.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif karena data yang didapat berupa kata-kata tertulis yang mengandung keigo dalam drama Attention Please. Kemudian data tersebut dianalisis secara bersama-sama baik dari segi penggunaan dan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi penggunaannya.Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam drama Attention Please ditemukan penggunaan ketiga jenis keigo, yaitu sonkeigo sebanyak 20 data, kenjougo sebanyak 20 data, dan teineigo sebanyak 25 data. Dari penelitian iniditemukan faktor yang mempengaruhi penggunaan keigo, antara lain usiasebanyak 8 data, status sebanyak 34 data, jenis kelamin sebanyak 3 data,keakraban sebanyak 7 data, gaya bahasa sebanyak 6 data dan pribadi/umumsebanyak 3 data. Kata Kunci : Keigo, Sonkeigo, Kenjougo, Teineig
ANALISIS KONTRASTIF MAKNA IDIOM BAHASA JEPANG DENGAN BAHASA INDONESIA YANG TERBENTUK DARI KATA ME (MATA)
Bahasa sebagai sarana berkomunikasi yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Untuk dapat menyampaikan makna kepada lawan bicara kita dapat menyampaikannya secara langsung, akan tetapi terkadang kita tidak dapat menyampaikannya secara langsung. Karena itu dalam bahasa Indonesia terdapat idiom dan dalam bahasa Jepang terdapat kanyouku untuk menyampaikan maksud secara kiasan. Tetapi pembelajar terkadang masih sering menemui adanya kesulitan dalam penggunaan idiom atau kanyouku dikarenakan kurangnya pemahaman makna idiom tersebut.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna dari kanyouku medan idiom ‘mata’ dalam bahasa Indonesia sehingga dapat diketahui persamaandan perbedaaan maknanya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data yang digunakan diperoleh dari beberapa kamus idiom bahasa Jepang dan bahasa Indonesia.Kesimpulan yang diperoleh, yaitu (1) Kanyouku me dalam kalimat bahasa Jepang memiki beberapa arti, yaitu menyatakan arti perasaan, arti yangberhubungan dengan badan, watak, dan sikap, arti yang menyatakan perbuatan dan aktifitas, arti yang menyatkan nilai dan keadaan, arti yang berhubungan dengan masyarakat, kebudayaan, dan kehidupan. (2) Jenis idiom penuh dan idiom sebagian ditemukan pada idiom bahasa Indonesia yang menggunakan kata ‘mata’. (3) Dari beberapa kanyouku me, diantaranya memiliki persamaan dan perbedaan makna maupun arti secara harfiah dengan idiom ‘mata’. (4) Ada kanyouku me yang memiliki persamaan arti dengan idiom ‘mata’ dan dapat diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia.Kata Kunci : Idiom, Kanyouku, Analisis Kontrastif
PENGGUNAAN KONJUNGSI BANTU NAGARA DALAM NOVEL JINSEI NO MOKUTEKI KARYA HIROYUKI ITSUKI
Utami, Retno Tantri . 2014. Penggunaan Konjungsi Bantu Nagara Dalam Novel Jinsei No Mokuteki  Karya  Hiroyuki Itsuki. Program Studi Sastra Jepang, Universitas Brawijaya Malang. Pembimbing : (I) Efrizal  (II) Nadya Inda Syartanti  Kata Kunci : Konjungsi Bantu,  Nagara, Jinsei No Mokuteki    Dalam buku-buku pelajaran bahasa Jepang dasar seperti  Minna No Nihongo,  telah dibahas tentang  nagara  yang menyatakan adanya dua kegiatan atau lebih yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Pada penggunaan semacam itu, nagara berfungsi sebagai konjungsi bantu. Tapi sebenarnya nagara masih memiliki makna yang lain dan kurang dipahami oleh para pembelajar bahasa Jepang. Permasalahan pada penelitian ini adalah bagaimana penggunaan konjungsi bantu  nagara dalam kalimat yang  terdapat dalam novel  Jinsei no Mokuteki? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan konjungsi bantu  nagara  dalam novel  Jinsei No Mokuteki. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu metode untuk mengungkap  dan memahami sesuatu dengan mengumpulkan data-data yang konkrit. Data yang digunakan adalah diperoleh dari novel Jinsei No Mokuteki karya Hiroyuki Itsuki, yang berupa kalimat yang memuat  nagara. Jumlah keseluruhan data  yang telah ditemukan dari keempat  makna nagara  tersebut adalah 48  data, dan yang akan dianalisis dalam penelitian ini terdiri dari 36 penggunaan  nagara  yang bermakna ‘sambil’, 10 penggunaan nagara  yang bermakna ‘meskipun atau walaupun’, 2 penggunaan  nagara  yang bermakna ‘tetap’. Kesimpulan yang diperoleh, yaitu  nagara  dapat berfungsi sebagai konjungsi bantu, yang menyatakan adanya  dua  kegiatan atau kondisi yang dilakukan secara bersamaan, juga mengekspresikan perasaan saat adanya dua hal yang berkontradiksi pada waktu yang sama  dan menyatakan  keadaan tetap. Penggunaan  nagara  sebagai konjungsi bantu yang menunjukkan adanya dua kegiatan yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan adalah yang paling banyak digunakan. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memberi tambahan pengetahuan kepada para pembelajar bahasa Jepang tentang penggunaan  nagara
MOTIVATION OF ELEMENTARY LEVEL STUDENTS OF “ENGLISH FOR ADULTS†PROGRAM IN LEARNING ENGLISH AT LBPP LIA MALANG
Rahmawati, Hanifa. 2014.  Motivation  of  Elementary Level Students of “English for Adults† Program in Learning English  at  LBPP LIA Malang. Study Program of English, Faculty of Cultural Studies, Universitas  Brawijaya. Supervisor: Fatimah; Co-supervisor: Yana Shanti Manipuspika.   Keywords:  second  language,  motivation,  elementary  level, English for Adults Program, LBPP LIA Malang.   There are some factors influencing the learners’ success in second language learning. One of them is motivation. Motivation in second language learning is defined as the learner’s orientation with regard to the goal of learning a second language.  This study  discusses about  motivation  of  Elementary Level students of  “English for Adults† Program in learning English at  LBPP LIA Malang. The study was conducted in order to  find out the primary  type of motivation and the most dominant motivation in learning English. This study used quantitative approach. The instrument used was AMTB questionnaire, proposed by Gardner in 1985. The motivation part of the questionnaire consists of eight items divided into two parts: four items for instrumental motivation and other four for integrative motivation. The participants of the study were 36 students, which were divided into 4 levels. Therefore, the participants were 9 students of each level which were taken randomly. The result revealed  that  the primary  type of motivation of each level was instrumental motivation.  The students of each level have  different  dominant motivation in learning English. Elementary Level 1 students are learning English for their future career, in order to make them become knowledgeable people, and for getting a good job. Elementary Level 2 students are learning English in order to make them become more knowledgeable people and for getting a  good job. Elementary  Level  3 students are learning English  for their future career and  in order to make them become  more knowledgeable people.  Elementary Level  4 students are learning English for their future career and for getting a good job.   In conclusion, the students of each elementary level have the same primary type of motivation and different dominant motivation in learning English. The writer suggests the institute to make a better program for their students. It is suggested for future researchers to use another instrument in collecting data in order to prove whether the other instruments are applicable in other research. The writer also suggests Study Program of English to add more references related with motivation