Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB
Not a member yet
970 research outputs found
Sort by
EKSISTENSI DIRI PADA PUISI SORA NO AOSA WO MITSUMETEIRUTO, WATASHI WA KOTOBA WO YASUMESANAI DAN WATASHI WA WATASHI NO NAKA E KAETTEYUKU KARYA TANIKAWA SHUNTARO
Wiragama, Ergha Luthfi. 2014. Eksistensi Diri Dalam Puisi Modern Jepang padaPuisi Sora no Aosa wo Mitsumeteiruto, Watashi wa Kotoba wo Yasumasenai, danWatashi wa Watashi no Naka e Kaetteyuku Karya Tanikawa Shuntaro. ProgramStudi Sastra Jepang, Universitas Brawijaya.Pembimbing: (I) Retno Dewi Ambarastuti, M.Si (II) Dra. Elisabeth Worobroto P.Kata Kunci: Eksistensi, puisi jepang, Tanikawa Shuntaro Karya sastra merupakan suatu karya imajinatif dari seorang penulis yang berdasarkan kesadaran dan tanggung jawab kreativitas sebagai karya seni. Karya sastra juga merupakan salah satu bentuk ungkapan keindahan seorang pengarang terhadap lingkungannya.Dalam penelitian ini, penulis mengambil salah satu penyair yang masih aktif dalam kesusastraan di Jepang sampai saat ini adalah Tanikawa Shuntaro. Tanikawa Shuntaro dikenal di Jepang bahkan dunia karena puisinya mengusung tema humanis. Penulis dalam penelitian ini mengambil judul Eksistensi Diri Dalam Puisi Modern Jepang pada Puisi Sora no aosa wo mitsumeteiruto, Watashi wa kotoba wo yasumasenai, dan Watashi wa watashi no naka e kaetteyuku Karya Tanikawa Shuntaro. Dalam penelitian kali ini penulis akan mangambil rumusan masalah Bagaimanakah cara manusia menunjukkan wujud eksistensi dirinya dalam puisi modern Jepang pada puisi Sora no aosa wo mitsumeteiruto, Watashi wa kotoba wo yasumasenai, dan Watashi wa watashi no naka e kaetteyuku karya Tanikawa Shuntaro.Penelitian kali ini menggunakan pendekatan objektif yang lebih menekankankepada struktural dari puisi tersebut. Struktruk puisi meliputi struktur fisikdiantaranya : diksi atau pilihan kata, kata konkret, dan imajinasi. Sedangkan struktur batin meiputi : tema, perasaan penyair, nada dan suasana, dan amanat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa manusia yang mencoba menunjukkaneksistensi dirinya di tengah masyarakat. Usaha yang dilakukan dengan caramendapatkan kebebasan, banyak berbicara dan menginginkan dirinya bermanfaat bagi sesama.Penulis menyarankan kepada mahasiswa jurusan bahasa agar dapatmemperkaya pengetahuan akan karya sastra puisi. Setiap pengarang mempunyai gaya tersendiri yang dapat diketahui dari makna yang akan disampaikan. Hal ini tentunya dapat diketahui dan dikembangkan dengan berbagai metode penelitian yang lain misalnya pendekatan ekspresif dan semiotika
CODE SWITCHING IN JUST ALVIN ON METRO TV
Priyono, Reza Resisca Nandra. 2013. Code Switching in Just Alvin on MetroTV. Study Program of English, Department of Languages and Literature, Facultyof Cultural Studies, Universitas Brawijaya. Supervisor: Isti Purwaningtyas; Cosupervisor: Istiqomah Wulandari.Keywords: Code Switching, Just AlvinIn the globalization era where worldwide interaction happens, it is quite common for people to use two or more languages as a communication. Indonesiais well known as a multilingual country so that generally Indonesian people havethe ability to speak more than one language. Switching language are commonlydone by people who live in bilingual or multilingual society to avoid misunderstanding among them because of different languages. Here, the study of code switching focuses on conversations found in talk show of TV program. One of TV program which use more than one language and famous nowadays is “Just Alvin†talk show on Metro TV. In this study, the researcher proposed twoproblems of the study, (1) The types of code switching used by Just Alvin’spresenter and the guest stars (2) The viewer’s opinion about the use of codeswitching in the talk show “Just Alvin.This research uses Hoffman’s code switching theory to analyze the data.This study uses qualitative approach in relation to the use of clear and systematic description about the phenomena being studied. Descriptive study in textual analysis is applied in this study to analyze the conversation in “Just Alvin†talk show. The data are selected from 2 videos of “Just Alvin†on Metro TVdownloaded from the internet. The collected data are put into the table and given the analysis of the viewer’s opinion about the used of code switching in the talk show “Just Alvinâ€.In this research, the researcher found all the types of code switching basedon Hoffman’s theory. The researcher found most of the types of code switching is Intra-sentential code switching.The researcher also found the opinions of the viewers about the use of code switching in the talk show “Just Alvinâ€. The researcher found according the viewer’s opinions that bilingual languages program give various effects to the viewers. The researcher found most of the opinions are they learn English spoken by the guest star on the talk show, the participants feel interested to bilingual talk show and they enjoy the bilingual talk show.In conclusion, the more the code switching is used, the more it can giveimpact toward the viewer.The researcher suggests the next researchers who want to conduct asimilar research understand more about code switching and also find the reasons why people use code switching. The researcher suggest researchers to apply the latest theories of the types of code switching
KANDOUSHI (INTERJEKSI) DALAM KOMIK KOCCHI MUITE MIIKO VOL.1 KARYA ONO ERIKO
Kata Kunci: Kandoushi, Kandou, Yobikake, Outou, Aisatsugo. Language is the instrument of communication which is used by people to distribute their feeling and ideas. In Jappanese called kandoushi. Kandoushi arewords use to express many feel like disappointed, anger, happy, and sad. Thewriter analyze about kandoushi in the source of Comic Kocchi Muite Miiko Vol.1. This research used kualitative descriptive research to analyze ofkandoushi. Result of the research show than in the comic Kocchi Muite MiikoVol.1 There are four kinds of kandoushi like kandou, yobikake, outou, andaisatsugo. The type of kandoushi divide inti ninety part, such as are, he, iinee, ha, are, mo, ano, eeto, aa, ee, aa, ng, o, aa, he, sorya, ara, wa, haa, and wan.Yobikake just only one, that is mo. Outou divide into four such as un, hai, iie and oi. Aisatsugo divide into nine such as ohayou, arigatou, baibai, ashitane, rasshai, douzo, itadakimasu, tadaima, and okaeri. From this research the writer concludes that there are four kinds of kandoushi which all of those have different meaning shows different expression. For other research, the writer hopes he or she can compare kandoushi in Japan andIndonesia uses source from two countries until find the same and the different of those
KONSEP KAWAII PADA TOKOH MOMOKO DALAM FILM SHIMOTSUMA MONOGATARI KARYA TETSUYA NAKASHIMA
Febryanti, Rosdiana. 2014. Konsep Kawaii Pada Tokoh Momoko Di Film Shimotsuma Monogatari . Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. Pembimbing I: Retno Dewi Ambarastuti; Pembimbing II: Iizuka TasukuKata Kunci : Budaya Pop, Kawaii, Subkultur LolitaSeiring dengan perkembangan zaman para sineas dengan kemampuan dankreatifitasnya telah memperkaya bidang sastra dengan menyajikan sebuah karya sastra dalam bentuk bacaan menjadi sebuah film yang dikemas dengan bagus menarik. Salah satu contoh film yaitu Shimotsuma Monogatari yang menceritakan kehidupan seorang lolita.Budaya populer merupakan budaya yang banyak disukai orang. Terfokus lebih pada emosi dan pemuasannya daripada intelek. Dengan tujuan lebih kepada bersenang senang dan menikmati hidup Seperti Kawaii yang sangat populerdi Jepang dan diterapkan secara luas oleh masyarakat Jepang, baik dalamkonteks barang maupun tingkah laku, hingga menjadi sebuah fenomena.Penelitian ini menggunakan acuan konsep kawaii Yomota Inuhiko dan SharonKinsella. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Momoko dalam film ini adalah sweet lolita, subkategori dari Lolita. Momoko menjadi Lolita sebagai dinding pemisah dari dunia luar. Dia menjadi lolita dengan mendandani dirinya sebagai “boneka hidup†dan mengelilingi dirinya dengan benda-benda yang kawaii.Pada penelitian berikutnya disarankan meneliti menggunakan pendekatanmenggunakan konsep maskulin, feminis, pendekatan sosiologi sastra maupun cultural studies jika menggunakan objek material film yang sama
MAKNA GAIRAIGO DALAM NOVEL YŪREI RESSHA WA TOMARANAI KARYA KEIKO NAGITA
Kata Kunci: Gairaigo, Novel, Semantik. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memerlukan bahasa untukberkomunikasi. Komunikasi dengan penutur bahasa lain akan mempermudahmasuknya informasi baru sehingga terjadilah perkembangan kebudayaan, ilmu,dan teknologi yang menyebabkan perkembangan bahasa sehingga munculah katakata baru. Dari perkembangan bahasa tersebut maka memungkinkan terjadinya pinjam meminjam kosakata dari bahasa lain atau yang biasa disebut dengan kata serapan. Dalam penelitian ini terdapat 2 rumusan masalah yaitu (1) Bagaimana makna kata serapan dalam novel Yūrei Ressha wa Tomaranai jika dibandingkan dengan makna kata aslinya? (2) Bagaimana makna kata serapan dalam novel Yūrei Ressha wa Tomaranai jika dibandingkan dengan padanan katanya di dalam bahasa Jepang?Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Data yang digunakanadalah kata serapan yang ada dalam novel Yūrei Ressha wa Tomaranai. Analisisdilakukan dengan mengklasifikasikan kosakata, mentabulasi, dan menganalisis maknanya.Dari data ditemukan 55 kata yang termasuk dalam kata serapn (gairaigo). Dalam 55 kata serapan ditemukan 14 kata tergolong kriteria ketiadaan kata di dalam bahasa Jepang untuk mendeskripsikan sesuatu yang dikarenakan budaya, 13 kata yang merupakan kriteria nuansa makna yang terkandung pada suatu kata asing tidak dapat diwakili oleh padanan kata yang ada pada bahasa Jepang, 23 kata termasuk dalam kriteria kata asing yang dijadikan gairaigo dianggap efektif dan efisien, 5 kata termasuk dalam kriteria kata asing menurut rasa bahasa dipandang mempunyai nilai rasa agung, baik, harmonis.Penelitian serupa dapat dilakukan dengan membandingkan fungsi kataserapan yang terdapat dalam bahasa Jepang dengan kata aslinya. Selain itu, dapat juga dilakukan penelitian mengenai pergeseran makna pada kata serapan
PERILAKU AMAE PADA TOKOH-TOKOH DALAM NOVEL SHIOSAI KARYA MISHIMA YUKIO
Kata Kunci: Amae, Novel Shiosai, Perilaku tokoh. Amae merupakan faktor dan bagian penting sebagai media hubungan personal orang Jepang. Novel Shiosai karya Mishima Yukio adalah novel yang menggambarkan amae dalam kehidupan sehari-hari orang Jepang. Penulis tertarik untuk mengadakan penelitian bagaimanakah perilaku amae yang tercermin pada tokoh-tokoh dalam novel Shiosai karya Mishima Yukio.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penulis menggunakan pendekatan salah satu unsur dari kajian struktural yaitu karakterisasi penokohan, penggunaan teori penokohan dimaksudkan untuk membantu proses mengidentifikasi perilaku tokoh-tokoh dalam novel Shiosai. Dan dengan tambahan teori konsep Amae yang akan penulis pergunakan untuk menganalisis perilaku Amae pada tokoh utama dalam novel Shiosai.Penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku ketergantungan antara Shinji dan Hatsue adalah perilaku yang berjalan positif sesuai dengan konsep amae, yaitu parasaan saling menggantungkan diri yang terbalaskan dengan baik, Perilaku Yasuo bisa dikategorikan sebagai perilaku amae yang tidak terbalas atau bukan perilaku amaeru. Sikap sombong Yasuo dan ketertarikan Yasuo terhadap Hatsue yang hanya melihat dari fisik dan materi, ditambah dengan perbuatan tidak simpatiknya terhadap Hatsue membuat Yasuo tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk saling berketergantungan atau amaeru dengan Hatsue. Shinji tidak bisa membalas amae dari Chiyoko setidaknya di antara mereka masih terjalinnya tali persahabatan yang baik dengan dilandasi sikap amae, Hatsue pun menerima kenyataan tersebut dengan hati yang senang.Penelitian ini juga dapat mengetahui bagaimana pentingnya sebuah hubunganyang berjalan dengan dilandasi perilaku amae secara positif, karena tanpa dilandasi sikap amae secara positif, maka akan berdampak seperti yang terjadi dalam persahabatan antara Hatsue dengan Yasuo serta Chiyoko dengan Shinji, yang selain menimbulkan konflik dan juga mengalami kegagalan. Selanjutnya penulis menyarankan agar penelitian selanjutnya dikaji dari segi ekstrinsik dengan menitikberatkan unsur-unsur ekstrinsik yang mempengaruhi Mishima Yukio dalam menulis novel ini dengan menggunakan teori psikologi atau pendekatan sejarah. Sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan dan wawasan baru dalam dunia ilmiah kesusastraan Jepang
THE PSYCHOLOGICAL CONDITION OF VIKTOR NAVORSKI IN HIS STRUGGLE OF HIS RIGHT IN ‘THE TERMINAL’ MOVIE
Kata Kunci: id, ego, super ego, perjuangan hidup Film adalah bagian dari hidup, bentuk dominan dari ekspresi manusia. Sudah biasa jika orang menonton film dalam kehidupan sehari-hari sebagai hobi. Salah satu jenis film adalah film drama komedi. Berbeda dengan komedi yang mengharapkan untuk menjaga nada rendah yang konsisten dan tidak menantang beberapa penonton dengan memperkenalkan konten yang lebih serius. Terlebih lagi, “film drama-komedi terbuat dari elemen komedi dan drama, memiliki konten yang humoris dan serius. Film ‘The Terminal’ menceritakan seorang pria yang terperangkap di sebuah bandara di New York, Bandara Internasional John F. Kennedy saat dia ditolak masuk ke Amerika Serikat dan pada saat yang sama tak bisa kembali ke negaranya, negara fiktif Krakozhia, karena revolusi. Skripsi ini akan menjelaskan bagaimana karakter utama bertahan dari tekanan dan bagaimana dia beradaptasi dengan lingkungan. Untuk menganalisis, penulis memakai psychoanalysis dan pembelajaran film untuk mengerti simbol dan kondisi sosial dari ketakbernegaraan di film ‘The Terminal’.Menggunakan teori Sigmund Freud, id, ego dan super ego.Pembelajaran ini menunjukkan bahwa Viktor dikendalikan oleh id dan egonya sendiri, secara sadar. Viktor mulai menekan keputusasaannya, dengan bertahan sendirian di terminal, berkomunikasi dengan orang di sekitarnya. Saat dia hampir kehilangan rasa percaya diri, dia diperalat untuk masuk Amerika secara ilegal. Dia hampir tersesat dalam godaan, tapi semangatnya kembali saat tahu dia diperalat. Saat dia dipancing dengan godaan, perilaku ini dikendalikan oleh id-nya. Tapi ketika dia memilih untuk tinggal, dia dikendalikan oleh ego-nya. Saat ia melanjutkan kegiatan sehari-harinya di terminal, egonya mendorongnya untuk membantu orang di sekitarnya. Dia tetap bersabar sampai akhirnya diijinkan masuk Amerika
INTERCULTURAL CONTACT IN ANDREA HIRATA’S EDENSOR
Key Words: Culture, Cultural Background, Intercultural Contact, Edensor.People with different cultural backgrounds have lead some research to reveal the phenomena of intercultural contact so many times. The revelation does not only exist in the formal research but also in some literary work, one of them is the story of a sojourner who faces new places which is appeared in Edensor. Through Ikal as the main character, this novel describes about the struggle of Ikal as a sojourner to face the various differences of each place he stays.This research applies Cultural Study since the novel concerns about cultures of each countries that are presented by Ikal through his narrations. This approach leads to use the theory of acculturation to explain deeply how Ikal as sojourner can accommodate himself to live in different countries. The identification of Ikal’s narration is used as the formal object to do the deep interpretation in this research. Therefore, the analysis of the research that deals about the intercultural contact among sojourner and new places can be seen clearly.The result of this research reveals that Ikal as a sojourner tries to notice and follow the native’ habits to show the politeness level when he notices the difference politeness level of his country, Indonesia, and another country. Therefore, his first hand of intercultural contact experience lead him to know each country’s politeness. Moreover, he tends to practice the native’s arts to do interaction with them after he discovers the difference of art’s tastes in every contries. The revelation of many kind of greetings which are difference from how Indonesian greet others is also a problem by Ikal that he has to practice those native’s greeting when he stays in native’s countries. As sojourner, the communication with the native people is important to do. However, Ikal tends to use the native’s native language to do communication when he can speak their native language, in contrary, he leaves that country when he can not speak the native language and the native can not speak Ikal’s language
PHONOLOGICAL AND LEXICAL EXPLORATION ON DIALECT DIFFERENCES BETWEEN KEMIREN AND TAMPO OSING
Keywords: Osing language, Kemiren, Tampo, Dialect DifferencesIn Indonesia, there are many local languages. One of the local language is Osing language in Banyuwangi, East Java. This research aims to find out differences between Kemiren Osing dialect and Tampo Osing dialect in terms of the phonological and lexical aspects.This research is descriptive qualitative. The data were collected using interview and pupuan lapangan or field research (researcher went to see the informant and had the face to face interview). Two informants were chosen from two different villages. The data were taken from 46 sentences produced by informants.Results reveal that in terms of phonological differences, there are 7 differences, that is consonant addition, the vowel change / o / becomes / u /, the vowel addition / É™ / , the vowel reduction that form / i / into / e /, the vowel addition / u /, the vowel reduction from sound / e / into / a /. In phonemic variation that is a change from phoneme / i / into / e / and the phoneme / e / into / a /. As for lexical differences, there were 21 sentences containing lexical differences. The most lexical difference was found in the predicate component.Further researchers, who conduct similar topic are suggested to complete this research, not only in terms phonological and lexical differences but also broaden to cover other linguistic aspects especially syntactical aspec
THE COHESION DEVICES OF THESIS ABSTRACTS WRITTEN BY STUDENTS OF ACADEMIC YEAR 2009 OF STUDY PROGRAM OF ENGLISH UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Keywords: cohesion, type of cohesion, and abstract.Every scientific work, whether it is in the form of article, thesis or dissertation, must be initiated with an abstract. An abstract is a short summary written by a writer or researcher at the beginning page of his or her thesis or research report. Since an abstract is a significant part of an academic writing that will be read by educational people, it becomes extremely important then for researchers to make their abstracts as clear as possible which is characterized by well structured sentences and united text. The unity in the sentence or text can be formed by the the use of cohesion devices. Therefore, the writer conducts the study in analyzing thesis abstract written by students of academic year 2009 of English Study Program of Universitas Brawijaya. There are two problems in this study. (1) What are the cohesion devices found in the thesis abstracts written by student of academic years 2009 of English study program of Universitas Brawijaya? (2) What is the dominant type of cohesion devices that occurs in the thesis abstracts written by student of academic year 2009 of English study program of Universitas Brawijaya?This research is designed by using descriptive qualitative approach and document analysis to answer the problems of the study. The data were collectedfrom 12 abstract papers written by students of academic year 2009 who took linguistic and the writer selected them randomly. The writer analyzed the data byusing theory from Renkema’s (1993).The results of this research showed that there were grammatical cohesionand lexical cohesion in the students’ thesis abstract. In the grammatical cohesion, there are two types that occurred in the students’ thesis abstract. They are conjunction and reference. The biggest part is conjunction (52%), followed byreference (48%). For lexical cohesion, there are three types that occurred in thestudents’ abstract. The biggest part is repetition (61%), then followed byhyponymy (25%), and the last is antonymy (14%).The writer suggests the next researchers who want to conduct the similar research uses the different object and also analyze about coherent with othertheories. Another suggestion for the lecturers, hopefully this research could beused to enrich their teaching materials