Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB
Not a member yet
970 research outputs found
Sort by
GISEIGO PADA KOMIK YU-GI-OH! Vol. 38 KARYA KAZUKI TAKAHASHI
Kata Kunci: Fonetik, Giongo, Giseigo, OnomatopeDalam linguistik bahasa Jepang terdapat ilmu yang membahas tentang proses pembentukan kata, yaitu morfologi atau keitairon, proses pemaknaan, yaitu semantik atau imiron, dan yang membahas tentang bunyi-bunyi bahasa, yaitu fonetik atau onseigaku. Ketiga ilmu tersebut kemudian digunakan dalam menganalisa giseigo (onomatope) yang terdapat pada komik YU-GI-OH! Vol. 38 karya Kazuki Takahashi. Penulis memilih tema ini karena ketertarikannya untuk mengetahui kata onomatope terutama yang mewakili suara suatu latar belakang dalam suatu komik, atau yang lebih kita kenal dengan sebutan SFX (SoundEffects). Disini penulis akan menjawab sesuai rumusan masalah yang terdapat dalam penelitian ini, yaitu: (1) selain membahas makna, (2) penulis juga mencari keterkaitannya dengan bunyi bahasa sebagai unsur pembentuk suatu onomatope lalu mencari tahu apakah keterkaitan antara bentuk dan bunyi bahasa sebagai unsur pembentuk onomatope mencerminkan makna-makna tertentu.Teori yang digunakan untuk menganalisa keterkaitan antara bentuk dan bunyi bahasa sebagai unsur pembentuk onomatope ini menggunakan teori dari Otsubo Heiji (1992) dalam bukunya yang berjudul “Giseigo no Kenkyuuâ€. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendeskripsikan gambaran data yang telah dianalisa. Pendekatan kualitatif ini digunakan untuk menganalisa sumber kata onomatope yang diambil dari komik YU-GI-OH! Vol. 38 karya Kazuki Takahashi. Terdapat 180 kata onomatope dalam komik tersebut, dan yang digunakan hanya 18 kata onomatope setelah melakukan pengelempokkan data serta pemilihan data melalui frekuensi kemunculan.Penulis berharap penelitian mengenai giseigo (onomatope) selanjutnya dapat dianalisa lebih luas, sehingga dapat menambah pengetahuan pembelajar bahasa Jepang tentang keterkaitan antara bentuk dan bunyi bahasa sebagai unsur pembentuk onomatope dengan makna yang terkandung didalamnya
ANALISIS KONTRASTIF STRUKTUR KALIMAT PASIF BAHASA JEPANG DENGAN KALIMAT PASIF BAHASA JAWA
Kata Kunci : Analisis Kontrastif, kalimat pasifDalam suatu bahasa, terdapat banyak sistem bahasa yang berbeda antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain sehingga hal ini menjadi ciri khas bahasa itu sendiri. Salah satu sistem bahasa tersebut adalah kalimat. Dalam setiap bahasa terdapat jenis dan bentuk kalimat yang berbeda-beda. Bahasa Jepang dan bahasa Jawa memiliki jenis kalimat pasif. Akan tetapi bentuk kalimat pasif dari kedua bahasa tersebut tidak sama. Pada umumnya suatu kalimat disebut kalimat pasif apabila kalimat tersebut memenuhi syarat secara morfologis, sintaksis, dan semantis. Secara morfologis terdapat afiks pada verba. Secara sintaksis yaitu nomina atau frase nomina pengisi subjek adalah nonsubjek pada kontruksi aktifnya. Secara semantis, apabila pelaku tidak lagi menjadi topik suatu kalimat. Penelitian ini ditujukan untuk mencari perbedaan dan persamaan kalimat pasif dilihat dari bentuk atau struktur kalimat dari kedua bahasa tersebut. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Dimana penulis menganalisis kalimat pasif dari kedua bahasa tersebut dengan cara mengidentifikasi struktur-struktur yang membentuk kalimat pasif tersebut.Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan oleh penulis, dapat disimpulkan bahwa kalimat pasif dalam bahasa Jawa ditandai dengan pemarkah di-, tak-, atau ke dan hanya terbentuk dari verba transitif, adapula pemarkah ke yang termasuk verba intransitif bermakna pasif tidak dapat diubah ke dalam bentuk aktif. Sedangkan bahasa Jepang ditandai dengan pemarkah ~reru, ~rareru dan terbagi kedalam dua jenis kalimat pasif, yaitu kalimat pasif langsung (chokusetsu ukemi) dan kalimat pasif tidak langsung (kansetsu ukemi) yang juga dapat dibentuk dari verba transitif maupun intransitif.Kalimat pasif dalam bahasa Jepang berdasarkan strukturnya dapat dibentuk dengan empat kontruksi dalam kalimat yaitu subjek-predikat (SP) ,subjek-objek-predikat (SOP) , subjek-objek-objek tak langsung-predikat (SOOTLP) dan objek-predikat (OP).Kalimat pasif bahasa Jawa berdasarkan strukturnya dapat dibentuk dengan dua kontruksi dalam kalimatnya yaitu subjek predikat (SP) dan subjek-predikat-keterangan (SPK).Untuk penelitian selanjutnya , penulis menyarankan untuk dilakukan penelitian mengenai struktur kalimat pasif dengan menggunakan bahasa yang lain, selain bahasa Jawa dan disarankan untuk menggunakan sumber data yang lain misalnya dari komik atau film
TABOO WORDS FOUND IN NOVEL ENTITLED “RONGGENG DUKUH PARUK†BY AHMAD TOHARI
Keywords: Taboo Words, Novel, Ronggeng Dukuh Paruk. Taboo word is one of language phenomena that exist in society although these words are forbidden to be spoken. Taboo words can be found not only in everyday conversation, but also in literary works such as novels. This study examines the taboo words that exist in the novel entitled Ronggeng Dukuh Paruk.Ronggeng Dukuh Paruk novel written by Ahmad Tohari tells about the life of aronggeng, and the culture of Dukuh Paruk. In this study, the writer analyzed twoproblems namely; (1) The types of taboo words found in novel entitled Ronggeng Dukuh Paruk, and (2) The purposes of taboo words found in novel entitled Ronggeng Dukuh Paruk.In this study, the writer uses the theory from Wijana and Rohmadi (2013)to answer the first problem of the study about the types of taboo words. Besides, the writer also uses the theory from Liedlich (1973) to answer the second problem of the study about the purposes of taboo words found in the novel. This study used qualitative methods and document analysis.In this study, the writer found four types of taboo words, namely situation (25 words), animals (41 words), spirits (one word), and professions (19 words). The writer also found the six purposes of taboo words in the novel. The purposesof the use of taboo in this novel are to create attention, to discredit, to provokeviolent confrontation, to show endearment, to create strong personal identification, and to provide catharsis.In the process of research, the writer concludes that the mostly kind of taboo word used in Ronggeng Dukuh Paruk novel is taboo word using animal. It is because the influence of the environment, which is still attached to the life of ‘Dukuh Paruk’ people, that is still very natural. People in ‘Dukuh Paruk’ always connect natural events with the events that will happen. Therefore, they curse the interlocutor by using the names of animal that they think are similar to theattitude, behavior, or the look of their interlocutors.The writer suggests for the next researchers who will conduct research on taboo word to use other theories. The writer also suggest the next researchers to analyze taboo words not only in novel or movie, but also in other objects such asdaily conversation, poem, or talk show in television
GAMBARAN FUJOSHI PADA TOKOH OGIUE CHIKA DALAM MANGA GENSHIKEN KARYA KIO SHIKOMU
Kata kunci : genshiken, fujoshi, teori komik, sosiologi sastra Sistem patriarki di Jepang mempunyai salah satu dampak terhadap gerakan penolakan wanita Jepang terhadap stigma yang ada. Di mulai dari tahun 1970-andimana mulai muncul karya sastra yang bertemakan kisah percintaan diantara dua pria yang disebut genre Boy’s Love atau yaoi. Genre ini membebaskan penulis danpembacanya, yakni para wanita yang disebut fujoshi, dan sebagai bentuk penolakanmereka terhadap paradigma patriarki, dualisme gender dan normatif heteroseksualyang ada.Dalam penelitian kali ini, penulis memfokuskan menganalisa gambaran fujoshi dilihat dari sosiologi sastra, yakni melalui cerminan masyarakat. Sehingga penulis hanya mengidentifikasi fujoshi sesuai dengan yang tercermin di masyarakat Jepang. Selain sosiologi sastra, penulis juga menggunakan teori komik sebagai pendekatan untuk membantu menganalisis karya sastra yang diteliti.Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa para perempuan yang menyukai genre Boy’s Love atau yaoi ini ada dan tersebar di Jepang. Para perempuan yang diidentifikasikan sebagai fujoshi ini mampu dipresentasikan oleh tokoh Ogiue Chika dalam manga Genshiken melalui gambaran fujoshi miliknya, antara lain: menyembunyikan identitas sebagai fujoshi, suka berfantasi tentang hubungan romantis diantara pria, berbelanja doujinshi yaoi, dan fujoshi yang menjadi mangaka profesional.Genshiken bisa dianalisa menggunakan pendekatan alih wahana, seperti perbedaan fujoshi yang diwakili oleh Ogiue Chika dalam versi manga dan versi anime. Selain itu manga Genshiken juga bisa dianalisa dari sudut pandang karakter otaku menarik lainnya seperti Madarame dan Sasahara
PENGARUH JAPANISM PADA UMAT KAKURE KIRISHITAN DI ZAMAN EDO DALAM NOVEL CHIMMOKU KARYA SHUSAKU ENDO
Kata kunci : Japanism, umat Kakure Kirishitan, Chimmoku Chimmoku merupakan novel karya Shusaku Endo yang terbit pada tahun 1966. Novel ini disebut sebagai novel agama dan sejarah karena memuat banyak nilai ketuhanan (khususnya Kristianitas) dan memuat beberapa fakta sejarah yang terjadi pada zaman Tokugawa. Selanjutnya, novel ini menjelaskan berbagai ketidakcocokan antara karakter mentalitas masyarakat Jepang (disini disebut dengan “Japanismâ€) dan pengaruh Kristen.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan antropologi sastra. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis tentang mentalitas dan sistem religi masyarakat Jepang yang tercermin dalam novel tersebut.Hasil dari penelitian ini mendeskripsikan berbagai pengaruh Japanism pada infiltrasi agama Kristen pada zaman Edo yang terdapat dalam novel Chimmoku. Pengaruh Japanism membuat masyarakat Jepang pada zaman itu mengubah konsep agama Kristen agar menjadi sesuai dengan jalan pikiran mereka sendiri.Penulis menyarankan bagi penelitian selanjutnya yang ingin meneliti novel Chimmoku dapat menggunakan pendekatan historis mengenai masuknya agama Kristen di Jepang
KEGAGALAN AMAE PADA TOKOH SHUUYA WATANABE DALAM FILM KOKUHAKU KARYA SUTRADARA TETSUYA NAKASHIMA
Kata kunci : Amae, Film, Perilaku, Psikologi. Amae mempunyai makna sikap saling ketergantungan dengan seseorang. Dengan melihatnya melalui hubungan erat antara ibu dan anak. Hubungan yang dilihat sebagai dasar sebuah hubungan yang tidak bisa putus dan menjadi contoh bagi hubungan yang lainnya. Akan tetapi, amae tidak akan berhasil jika suatu hubungan tidak tercipta. Sikap amae dikatakan berhasil jika seseorang mendapatkan sikap yang puas. Akan tetapi, akibat dari sebuah kegagalan amae adalah sebuah sikap emosi, dendam dan marah. Sehingga akan menyebabkan sikap yang menyimpang dari seseorang yang mengalami kegagalan amae. Oleh karena itu, dalam penelitian kali ini penulis meneliti gambaran bentuk kegagalan amae dalam film kokuhaku karya Sutradara Tetsuya Nakashima. Pada penelitian kali ini, penulis menggunakan konsep amae yang mendukung analisis terhadap sebuah hubungan ibu dan anak. Penelitian ini berfokus pada bentuk kegagalan amae yang terjadi. Dan memberikan gambaran akibat dari kegagalan amae yang terjadi pada seseorang. Dalam menganalisis film ini, penulis juga menggunakan contoh amae dalam kehidupan masyarakat Jepang sebagai data pendukung. Hasil penelitian kali ini menunjukkan bahwa dalam film Kokuhaku terdapat beberapa kutipan dialog yang menunjukkan gambaran bentuk kegagalan amae diantaranya adalah hubungan ibu dan anak yang tidak tercipta, kurangnya suatu komunikasi dari orang yang dicintai, juga sikap yang menyimpang seorang anak hanya untuk mencari perhatian orang tuanya
THE STUDY OF WORD FORMATION PROCESSES IN THE LIST OF TERMS OF HONDA SPAREPART
Key Terms: Honda Beat PGM-FI, List of Honda Genuine Part Sparepart, Terms ofSparepart, Word Formation Processes. In this globalization era, language develops rapidly along with the development of technology. People produce new terms for naming their new inventions or products. These new terms passed series of word formation processes before they were used in daily life. One of the examples which can be found in the real life is terms of motorcycle sparepart. In this research, the writer analyzes the word formation processes of terms of Honda sparepart found in the list of Honda Genuine Part sparepart using Yule’s theory. The purposes of this research are to analyze the word formation processes and also to know the dominant type of word formation processes found in the list of sparepart.In this research, the writer uses document analysis as the research design since this research describes the word formation processes of terms of sparepart found in the list of Honda Genuine Part sparepart. Specifically, the writer chooses Honda Beat PGM-FI motorcycle as the object of the research because this is the most selling motorcycle in Indonesia in 2014. The data of this study are sparepart terms containing word formation processes found in the list of sparepart.Research results reveal that derivation is the dominant process in the forming of terms of Honda sparepart. There are 46 terms of sparepart which are categorized as derivation out of 64 total terms. There are other word formation types found, they are compounding with 9 terms, clipping with 5 terms, acronyms with 3 terms, and blending with only one term.The writer believes this research is useful for students, especially those who are interested in studying Morphology, and also as a reference and comparison for the next researcher who wants to conduct a research in the same topic
PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN TOKOH TETSUZO DALAM CERITA PENDEK TETSUZO KARYA KODA ROHAN
Kata Kunci : Cerpen, Psikologi Sastra, Psikologi Sosial Erikson, Tahapan Perkembangan Karya sastra rekaan atau imajinatif dapat pula dikatakan sebagai karya sastra kreatif, sedangkan karya sastra non imajinatif adalah karya sastra yang terkait dengan fakta atau data tertentu. Dalam penelitian ini penulis mengambil karya sastra berupa cerita pendek dari Koda Rohan yang berjudul Tetsuzo.Cerita pendek Tetsuzo adalah salah satu karya sastra yang ditulis oleh Koda Rohan pada tahun 1890 dengan judul asli Tetsu No Dan. Kemudian diperbanyak kembali dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dalam buku kumpulan cerita anak Jepang yang berjudul Antologi Kasusastraan Anak Jepang oleh Antonius R. Pujo Purnomo. Â Skripsi ini menganalisa cerita pendek tersebut, penulis menggunakan teori psikologiuntuk mengetahui karakter tokoh-tokohnya. Ketertarikan penulis terhadap cerita pendek ini adalah cerita pendek ini lebih banyak menuliskan mengenai pembentukan kepribadian Tetsuzo.Dalam menganalisis ini, penulis menggunakan pendekatan psikologi sastra dari aspektekstual. Analisis akan difokuskan pada aspek psikologi tokoh utama Tetsuzo, dengan didukung oleh ilmu psikologi sosial yang dikemukakan oleh Erikson. Karena melalui teorinya Erikson memberikan sesuatu yang baru dalam mempelajari mengenai perilaku manusia dan merupakan suatu pemikiran yang sangat maju guna memahami persoalan/masalah psikologi yang dihadapi oleh manusia pada jaman modern seperti ini. Oleh karena itu, teori Erikson banyak digunakan untuk menjelaskan kasus atau hasil penelitian yang terkait dengan tahap perkembangan, baik anak, dewasa, maupun lansia.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan kepribadian tokoh Tetsuzo terlihatdari ego tokoh Tetsuzo yang semakin berkembang ke arah yang positif dikala menghadapi berbagai macam masalah. Di dalam delapan tahapan perkembangan Erikson tokoh Tetsuzo diidentifikasi ada pada posisi tahapan kelima yaitu identitas vs kebingungan identitas
APPRAISAL IN THE 2013 INAUGURAL ADDRESS OF PRESIDENT BARACK OBAMA
Keywords: Systemic Functional Linguistics, Appraisal, Attitude, Modality, President Barack Obama, Inaugural Address. Systemic Functional Linguistics (SFL) views language as a meaning-making. Appraisal as a framework under SFL focuses on the ways the speakers construct particular identities and how they position themselves in front of people whom they are addressing. By analyzing the language that is used by the speakers, it can provide the sight of the speakers’ objectives and belief, as well as to understand their position in relation to the others. In this study, the researcher is interested to analyze the Appraisal on 2013 inaugural address delivered by President Barack Obama. There are two problems of the study that are proposed by the researcher: (1) what are the types of Affect, Judgement, and Appreciation elements used by President Barack Obama in his 2013 inaugural address?; (2) how does the attitudinal positioning function to convey the perspective of President Barack Obama?. The researcher applies a theory from Martin and White (2005) and limits the data by selecting the utterances that contain adjectives, verbs of emotion (mental process), adverbs, and modalitiesThe researcher conducted her study using qualitative approach. In collecting the data, the researcher firstly searched for the transcript of President Barack Obama’s 2013 inaugural address from the Internet. Then, she read the transcript and selected the utterances that contain Attitude elements.The study shows that President Barack Obama used all of the types of Attitude elements in his 2013 inaugural address, which are, Affect, Judgement, and Appreciation. The most dominant type of Attitude is Judgement, the second isAppreciation, and the least is Affect. Judgement of positive capacity is the expression that is often found in Obama’s inaugural address. In Appreciation, Obama mostly used positive reaction in his speech. In Affect, Obama only used the expression that are related to dis/inclination and in/security. In relation to Judgement, the type of modality that is mostly used by Obama is intrinsic modality. By using Appraisal theory to analyze the utterances in 2013 inaugural address of President Barack Obama, the researcher found that the attitudinal positioning of Obama as the speaker function to give positive perspective towards his own feelings, the behavior of American people, as well as the phenomena that occurs in United States of America.Finally, the researcher suggests the future researchers to conduct the Appraisal analysis in the other speech from English speakers. Future research also can be done by taking all of three aspects of Appraisal or only focusing on Engagement or Graduation
PENGGUNAAN SINONIM TAISETSU, JUUYOU DAN DAIJI
Kata Kunci: Sinonim, Adjektiva Taisetsu, Juuyou dan Daiji Salah satu kendala yang dialami pembelajar bahasa Jepang yaitu membedakan kata yang memiliki makna sama (sinonim). Di dalam bahasa Jepang terdapat banyak kata bersinonim. Salah satu kata bersinonim dalam bahasa Jepang dari kelas adjektiva yaitu taisetsu, juuyou dan daiji, yang bemakna “pentingâ€. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan adjektiva taisetsu, juuyou dan daiji serta mengetahui apakah ketiganya dapat saling menggantikan dalam sebuah kalimat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualiatatif dengan sumber data berupa majalah Nipponia dan Nikkei Business. Adapun analisisnya dilakukan dengan teknik subtitusi dengan terlebih dahulu membuat pasangan dari ketiga adjektiva tersebut.Hasil penelitian yaitu, adjektiva taisetsu, juuyou dan daiji apabila dipadankan ke dalam bahasa Indonesia adjektiva tersebut sama-sama bermakna “pentingâ€. Pada kalimat dengan adjektiva taisetsu, juuyou dan daiji sebagai predikat, adjektiva tersebut sama-sama bisa digunakan untuk subjek yang berupa benda (mono) dan hal (koto). Pada kalimat dengan adjektiva taisetsu, juuyou dan daiji sebagai modifikator (penerang) kata benda (meishi), adjektiva tersebut sama-sama bisa digunakan untuk menerangkan objek yang berupa benda konkret maupun abstrak. Kemudian, adjektiva taisetsu dan daiji dapat digunakan menyatakan makna kehati-hatian, sedangkan adjektiva juuyou tidak dapat digunakan. Pada kalimat dengan adjektiva taisetsu, juuyou dan daiji sebagai modifikator (penerang) kata kerja (doushi), adjektiva taisetsu dan daiji bisa digunakan pada pola ~ni naru dan ~ni suru, sedangkan juuyou hanya bisa digunakan pada pola ~ni naru. Adjektiva taisetsu dan daiji digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang sifatnya subjektif atau penilaian yang melibatkan perasaan. Sedangkan juuyou digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang bersifat objektif atau penilaian umum dari masyarakat. Adjektiva taisetsu, juuyou dan daiji dapat saling menggantikan pada konteks tertentu