Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB
Not a member yet
970 research outputs found
Sort by
GAMBARAN KARAKTER POSTFEMINIS PADA TOKOH RITSU SEBAGAI SHOUJO DALAM ANIME K-ON KARYA SUTRADARA NAOKO YAMADA
Kata Kunci : K-On, Ritsu, Shoujo, PostfeminismeK-On merupakan anime dua season ber-genre shoujo yang di sutradarai oleh Naoko Yamada dan muncul untuk pertama kalinya di televisi pada tahun 2009.Anime ini bercerita tentang 5 gadis Sekolah Menengah Atas yang tergabungdalam sebuah klub musik ringan. Namun, penulis hanya akan berfokus pada satu tokoh yang bernama Ritsu. Ritsu adalah tokoh yang kekanakan, androgini, bebas, dan sangat terbuka. Hal tersebut sesuai dengan karakter postfeminis di Jepang, yang secara khusus dikaitkan dengan generasi feminis muda perempuan yang suka mendeskripsikan diri sendiri, dan idealnya diposisikan sebagai wacana shoujo. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa Ritsu sebagai shoujo menggambarkan karakter postfeminis di Jepang.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran karakter postfeminis dalam shoujo anime di Jepang. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori feminisme gelombang ketiga (postfeminisme) yang muncul sebagai jawaban untuk menanggapi kelemahan dari feminisme gelombang kedua dan pelakunya merupakan generasi yang lebih muda di tahun 1990an. Sementara itu, metode kualitatif digunakan sebagai metode penunjang untuk memperjelas langkah-langkah penelitian.Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya gambaran tentang karakter postfeminis di Jepang pada tokoh Ritsu sebagai shoujo dalam anime K-On, yaitu kurang bertanggung jawab, ambigu, bebas, sanguin (selalu dikelilingi oleh temantemannya), dan terbuka (frontal dan open minded)
PORTRAYING CONCEPT OF INDONESIA THROUGH TEXTUAL ANALYSIS AND DISCOURSE PRACTICE IN INDONESIAN MINISTRY OF TOURISM’S SLOGANS
Keywords: Critical Discourse Analysis, Discourse Practice, Slogan, IndonesianMinistry of Tourism.The use of language as communication media to persuade people in advertising is realized by the Indonesian Ministry of Tourism in form of slogans. The writer conducted a study about portraying concept of Indonesia through textual analysisand discourse practice in Indonesian ministry of tourism’s slogans to elaborate more understanding toward the slogans. There are two problems to be solved in this study, namely: (1) What are the language aspects which construct the meaning of “Indonesia Ultimate in Diversityâ€, “Visit Indonesia 2008. Celebrating 100 Years of National Awakeningâ€, and “Wonderful Indonesia†(2) How is discursive practice applied in “Indonesia Ultimate in Diversityâ€, “Visit Indonesia 2008.Celebrating 100 Years of National Awakeningâ€, and “Wonderful Indonesia†The method of this study was qualitative approach. The writer focused on analyzing the slogans using two elements of critical discourse analysis proposed by Fairclough which are textual analysis and discourse practice.This study revealed that each slogan produced by The Ministry of Tourisms draws concept of Indonesia such as underlining the concept of diversity on Indonesia, emphasizing the historical events in Indonesia, and the latest slogan provides wider concept of Indonesia that enable everyone to interpret in various way.This study is expected to give more understanding about the concept of Indonesia that the Ministry of Tourism brought in form of slogans. The writer suggested next researchers investigate wider and deeper study about slogans using all three dimensions of CDA by Fairclough or using theory proposed by different expert like Teun Van Dijk
KONSEP SHUUDAN SHUGI PADA FILM CROWS ZERO KARYA SUTRADARA TAKASHI MIIKE
Kata Kunci : Antropologi Sastra, mise-en-scene, Paham Berkelompok.Salah satu kebiasaan masyarakat di Jepang yang menjadi sebuah konsep hubungan sosial masyarakat Jepang adalah konsep berkelompok. Hubungan sosial masyarakat Jepang yang juga dipengaruhi oleh paham berkelompok salah satunya adalah di dalam remaja di Jepang. Shuudan shugi adalah budaya masyarakat Jepang yang mempunyai sifat terikat pada kelompoknya. Mempunyai nilai kebersamaan yang kuat sebagai akibat dari merasa dan menjadi bagian dari kelompoknya. Oleh karena itu, dalam penelitian kali ini, penulis meneliti bagaimana konsep berkelompok dalam serial film crows zero karya Takashi Miike.Pada penelitian kali ini, penulis menggunakan pendekatan antropologi sastra dan konsep berkelompok yang mencakup orientasi berkelompok, kehidupan berkelompok, dan kesadaran berkelompok. Dalam meneliti film crows zero ini, penulis juga menggunakan teknik mise-en-scene. Hasil penelitian kali ini menunjukkan bahwa dalam film Crows Zero ini terdapat dialog serta adegan yang mencerminkan paham berkelompok, orientasi berkelompok, kehidupan berkelompok dan kesadaran berkelompok yang ada pada remaja di Jepang. Â
ARTI KESEDIHAN DALAM LIRIK LAGU FUYU NO MABOROSHI KARYA ACID BLACK CHERRY
Kata kunci : Fuyu No Maboroshi, Arti Kesedihan, Strata Norma Roman Ingarden, lirik lagu sebagai puisi Di era modern ini banyak lagu pop Jepang yang beredar di tanah air. Akan tetapi tidak semua lagu tersebut memiliki nilai lapis-lapis kepuitisan yang memiliki arti mendalam. Salah satu lagu pop Jepang yang pernah menduduki peringkat pertama pada Oricon Chart pada tahun 2008 dan memiliki lapisan kepuitisan yaitu Fuyu No Maboroshi. Dalam surat pengarang terhadap penggemarnya mengklarifikasi bahwa lagu ini bernuansa kesedihan, yaitu mengenai seseorang yang ditinggal mati oleh kekasihnya.Dalam penelitian ini terdapat rumusan masalah yaitu bagaimana kesedihan yang terdapat dalam lirik Fuyu No Maboroshi, serta bertujuan mengetahui arti kesedihan dalam lirik tersebut dengan metode penelitian deskriptif analisis. Penelitian ini menggunakan teori Strata Norma Roman Ingarden. Selain itu penulis menggunakan teori majas dan citraan yang tujuannya untuk memperjelas arti lirik lagu ini yang tidak dapat di analisis langsung menggunakan teori Strata Norma Roman Ingarden.Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa arti kesedihan yang terdapat dalam lirik lagu Fuyu No Maboroshi ialah mengenai rasa rindu seseorang yang ditinggal mati oleh kekasihnya. Selain itu muncul pula halusinasi yang dialami orang tersebut mengenai kekasihnya yang meninggal pada musim dingin. Terdapat beberapa frase yang memegang peran penting dalam mendeskripsikan makna kesedihan dari lirik lagu Fuyu no Maboroshi, antara lain “perjalanan ke surgaâ€, “aku cengeng dan pengecutâ€, serta “butiran salju jangan berhenti turunâ€. Frase tersebut merupakan gambaran kesedihan akibat sosok yang tak tergantikan dalam hidupnya telah tiada
STRATEGI KESANTUNAN FTA (Face Threatening Act) UNGKAPAN MAAF DALAM SERIAL DRAMA “RISOU NO MUSUKOâ€
Kata Kunci : FTA (Face Threatening Act), strategi kesantunan, Ungkapan meminta maaf. Strategi kesantunan digunakan untuk lebih menghargai orang lain maupun diri sendiri. Dalam komunikasi sehari-hari kita tidak dapat setiap saat menyampaikan tuturan dengan cara yang santun, hal tersebut kemungkinan akan menyakiti perasaan lawan tutur. Strategi kesantunan digunakan oleh penutur untuk menghindari tindakan yang tidak menyenangkan bagi lawan tutur. Tindakan yang tidak menyenangkan dapat juga disebut dengan FTA (Face Threatening Act). Tindak tutur meminta maaf terdapat pada semua komunitas bahasa. Tindak tutur maaf digunakan untuk mempertanggungjawabkan luka perasaan, pelanggaran atau kesalahan. Dalam bertindak tutur terkadang menimbulkan suatu masalah baik bagi penutur maupun petuturnya. Salah satu masalah yang terjadi adalah hal-hal yang berhubungan dengan norma kesopanan. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah (1) Strategi kesantunan FTA (Face Threatening Act) ungkapan maaf apa saja yang digunakan dalam serial drama Risou no Musuko? (2) Menyatakan apa saja kesantunan ungkapan maaf yang digunakan dalam serial drama Risou no Musuko?Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Data diambil dari serial drama ‘’Risou No Musuko’’. Adapun cara menganalisisnya dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur meminta maaf bahasa Jepang dalam drama serial Risou No Musuko mengunakan empat strategi strategi, yaitu: (1) Strategi Langsung tanpa Basa-basi (Bald on Record Strategy) (2) Strategi Kesantunan Positif (Positive Politeness Strategy) (3) Strategi Kesantunan Negatif (Negative Politeness Strategy) (4) Strategi Tidak Langsung (Off Record Strategy). Selanjutnya FTA yang digunakan adalah Positif Face dan Negatif Face.Â
THE FLOUTING AND VIOLATING OF MAXIMS IN THE MAIN CHARACTERS’ UTTERANCES OF WILD CHILD MOVIE
Keywords: Cooperative Principle, Flouting Maxims, Violating Maxims, ResolvingStrategies, Intended Meanings, Wild Child Movie. Language becomes an important thing for people as the part of the society becausethey need language in their communication. In making communication more effectiveand to make sentences more acceptable to the hearer, it can be measured by applying cooperative principle consisting of four maxims proposed by Grice (2004), but in the real communication, that principle is not always being obeyed by the speaker and this phenomenon is called flouting and violating maxim. The writer conducts a study on “Wild Child†movie which shows the violating and flouting maxims phenomena occurring between the main characters. There are three problems of this study: (1) what maxims are violated and flouted in the main characters’ utterances of Wild Child movie in the exposition and conflict plot (2) How are the implied meaningsresolved by the interlocutors from the utterances being violated and flouted in WildChild movie (3) What are the intended meanings of the utterances being violated andflouted in Wild Child movie.This study uses the qualitative approach because the analysis is in the form of description rather than numbers. Then, the writer analyzes the main characters’ utterances. This study reveals that violating and flouting maxims are applied in themovie. There are 19 dialogues containing violating and flouting maxims, and the most violated and flouted is maxim of quantity. From violating and flouting maxims uttered by the main characters, their interlocutors use three resolving strategies: negotiation, contextual knowledge exploitation, and combination strategies in resolving the intended meanings. There are some intended meanings found, such as giving more information to hearer, maintaining good relationship, making jokes, supporting hearer, agreeing statement, persuading and showing surprise. Then, most of intended meanings from the utterances being violated and flouted are Showing Surprise and persuading hearer strategies. The most maxims that violated and flouted in the movie was quantity, it is shown by the main character in the movie by giving more information to the hearer in every conversation she made. The main character showed her ignorance and her being spoilt as a new student of Abbey Mount, a girlboarding school in rural of England. The writer suggests that the next researchers will analyze about the violating andflouting maxims in different plot, such as climax, falling action because the analysisabout resolving strategies will be more interesting. The writer also suggests that thenext researcher will use different theories about context that help to define theimplicit meaning, such as the relevance theory
LANGUAGE FUNCTION FOUND IN MIZONE FRES’IN TELEVISION COMMERCIAL
Keywords: Language functions, Mizone Fres’in television commercial. Language is one of the most important parts of human life which deals with society as a tool that is used to communicate and transfer information to others. In society, people use language to create a communication system in order to reach the goal of the communication itself which is all about getting the message and understanding the meaning that depends on the context. From communication, language function can be created as well. The writer conducts a study about language functions that are found in Mizone Fres’in television commercial by using Hymes and Gumperz’s theory (1964). This study focuses on a problem: What language functions are found in Mizone Fres’in television commercial.This study uses qualitative approach in document analysis to analyze the language functions found in Mizone Fres’in television commercial. The data are the transcribed utterances produced by the two store keeper in Mizone Fres’in television commercials, Mizone Fres’in and Mizone Isotonic which are downloaded from Youtube website. This study discovers that eight components of communication are presented in Mizone Fres’in television commercial namely addresser, addressee, channel, code,setting, message-form, topic, and event. This study also discovers three out of eightfunctions of language. Those are directive function, phatic function, and referentialfunction. Referential function is the most frequently used function since the data wastaken from an advertisement that contained some information related to MizoneFres’in product. Basically, a company uses an advertisement as a tool to inform orshare product knowledge of certain brand to the people as the consumers in whichcertain purpose contained. The writer also finds that double function could exist.Double function is two or more functions that exist in an utterance. In brief, theexistence of language function depends on components of communication.Through this study, the future researchers are expected to investigate languagefunctions from other object beside document analysis. The writer suggests the nextresearchers apply other theories of language function from different experts. Thewriter also suggests the students of Study Program of English who are interested inconducting language function study learn more about functions that can exist in alanguage
POLITENESS STRATEGY FOUND IN THE 2014 PRESIDENTIAL CAMPAIGN OF ABURIZAL BAKRIE ADVERTISEMENTS
Keywords: Politeness, Face Threatening Act, Politeness Strategy and AburizalBakrie.Language is a tool of communication and while communicating people need to know â€the rule†and one of which is politeness. One of important people who must be use politeness strategy is politicians. Nowadays, politician doing political campaign is by use advertisement as a tool to promote themself. There are two problems to be solved: (1) What face threatening acts are performed in the 2014 presidential campaign of Aburizal Bakrie advertisements? (2) What politeness strategies are performed to minimize the threat?. These problems are answered by using the theory of politeness strategy proposed by Brown and Levinson (1987).This study used qualitative approach in document analysis. The data were collected from 7 advertisement wich were shown on television from March 2013 until January 2014. In the form of transcript of the advertisement downloaded from www.youtube.com in March 2014The researcher found 18 utterances contain face threatening acts (FTA). Out of those utterances, 11 utterances contain negative FTA and 7 utterances contain positive FTA. The negative FTA are in the form orders and request, suggestion and advice, remaindings, promises, expressing thanks. The positive FTA are bringing a bad news or good news (boasting) about the speaker, increases or rising of dangerously emotional topics that relate to politics, race and religion and complimenting others. While in politeness strategies, the researcher found that 29 utterances containing positive politeness strategy which are; 1 notice-attend to the addresses, exaggerate, use in group identity markers, seek agreement, presuppose/raise/assert common ground, assert or presuppose the speaker’s knowledge of and concern for addressee’s wants, offer-promise, be optimistic, include both S&H in the activity and 3 give gifts to the hearer. The researcher did not find utterances contain negative politeness strategy. In this advertisements, the speaker mostly use negative face threatening act and positive politeness strategy to influence the hearer.It is very important for the people to know more closely about the personality of the speaker as president candidate and to be a smart elector after know what kind of face and politeness strategy that speaker shows. While for the the next researchers,who investigate the same area of study use another theory of politeness strategy and use another aspect of the object of advertisement for example advertisement on radio or text advertisement like billboard, magazine and newspaper
PENGGUNAAN ONOMATOPE DALAM MEDIA SOSIAL TWITTER (Studi Kasus Artis Jepang)
Kata Kunci : Giongo, Gitaigo, Onomatope, Semantik, Twitter. Masyarakat Jepang adalah salah satu masyarakat yang menggunakan onomatope dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaannya pun sangat beragam, oleh karena itu onomatope sangatlah erat hubungannya dalam keseharian masyarakat Jepang. Dalam kehidupan orang Jepang onomatope adalah bahasa yang sangat unik dan menarik. Onomatope dalam bahasa Jepang pun sangat beragam. Onomatope adalah salah satu bagian dari bahasa yang ada di dunia ini.Onomatope juga mempunyai arti kata-kata yang berdasarkan tiruan bunyi. Onomatope tidak hanya ada di dalam komik, novel atau anime tetapi juga terdapat dalam media sosial twitter. Sudah lama kalangan artis Jepang menggunakan twitter sebagai media untuk berkomunikasi dengan penggemarnya di seluruh dunia. Dalam penelitian ini, penulis menjawab dua rumusan masalah yaitu (1) jenis onomatope apa saja yang digunakan dalam media sosial twitter (2) tipe makna apakah yang terdapat dalam media sosial twitter Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Data yang digunakan adalah twitter delapan orang artis Jepang yang aktif dalam media sosial twitter. Menganalisis jenis onomatope dan tipe makna yang digunakan dalam media sosial twitter.Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa dari delapan artis Jepang ini terdapat 25 onomatope. Dari 25 onomatope yang ditemukan, giseigo 3 data, giongo-gitaigo 5 data, giongo-giyougo 1 data, gijougo 5 data, gitaigo 6 data, giongo 2 data, gitaigo-giyougo 2 data dan giyougo 1 data. Tipe makna yang ditemukan adalah makna konotatif 4 data, makna tematis 3 data, makna konotatiftematis 12 data, makna konseptual 3 data, makna konseptual-konotatif-tematis 1 data dan makna tematis-konseptual 2 data. Kesimpulan dari penelitian ini mayoritas onomatope yang ditemukan adalah gitaigo 6 data, gijougo 5 data, dan giongo-gitaigo 5 data. Mayoritas tipe makna yang ditemukan adalah makna konotatif-tematis 12 data. Â
BENTUK-BENTUK WESTERNISASI PADA AWAL ZAMAN MEIJI YANG TERCERMIN DALAM ANIME SAMURAI X (EPISODE 8-94) KARYA SUTRADARA KAZUHIRO FURUHASHI
Kata Kunci: mise en scene, sosiologi sastra, westernisasi, zaman Meiji. Karya sastra merupakan tanggapan pengarang terhadap dunia (realitassosial) yang dihadapinya. Namun, sebagai sebuah karya yang memilikiketerkaitan dengan kehidupan sosial, tidak bisa dilupakan bahwa karya sastramerupakan hasil karya imajinatif ciptaan pengarang yang juga mengandung unsurrekaan (fiksi). Salah satunya adalah anime Samurai X karya sutradara KazuhiroFuruhashi yang memiliki latar cerita 10 tahun awal zaman Meiji (1878) dimanapada zaman tersebut banyak bentuk westernisasi yang telah masuk dan diterapkanoleh masyarakat Jepang. Maka, rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk-bentk westernisasi pada awal zaman Meijiyang tercermin dalam anime Samurai X (episode 8-94) karya sutradara KazuhiroFuruhashi. Teori yang digunakan penulis dalam melakukan penelitian adalahsosiologi sastra berdasarkan pendapat Plato dan Aristoteles yang telahdisimpulkan oleh Ratna (2011) dan mise en scene sebagai teori pendukung.Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis sesuai yangdiungkapkan oleh Ratna (2011). Hasil analisis yang dilakukan oleh penulis menunjukkan bahwa bentukwesternisasi yang banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari padamasyarakat awal zaman Meiji yang tercermin dalam anime Samurai X karyasutradara Kazuhiro Furuhashi antara lain adalah penggunaan pakaian ala Barat,senjata api, arsitektur khas Barat, makanan dan minuman, koran, transportasi, danlukisan. Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan penulis adalah meskipuntidak semua masyarakat menyerap sepenuhnya bentuk-bentuk westernisasi yanada, namun hampir setiap orang telah menerapkan unsur Barat dalamkehidupannya, meskipun hanya sebagian kecil saja. Pada penelitian selanjutnyadapat dilakukan dengan membahas penerapan bentuk-bentuk westernisasi lainmenggunakan sumber maupun teori yang berbeda