Jurnal Penyuluhan
Not a member yet
480 research outputs found
Sort by
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penguatan Modal Sosial dan Peran Stakeholder dalam Pembangunan Desa Wisata di Kabupaten Karanganyar
Keberadaan nilai-nilai modal sosial dan peran stakeholder dalam pemberdayaan masyarakat di desa wisata memberikan dampak pada penguatan ekonomi lokal. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai modal sosial dan peran stakeholders dalam pembangunan desa wisata. Lokasi penelitian ini di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan desain penelitian fenomenologi. Informan dalam penelitian ini adalah tokoh masyarakat, perangkat desa, petani, kelompok wanita tani, Kelompok usaha ekonomi produktif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis interaktif, yaitu melalui proses pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai modal sosial di masyarakat (hubungan sosial, nilai/norma, toleransi, kesedian mendengar, kejujuran, pengetahuan tradisional, jaringan sosial, trust, tukar kebaikan, kesetiaan dan kebersamaan, tanggung jawab, partisipasi sosial, dan kemandirian) terbukti berperan penting dalam pembangunan desa wisata. Selanjutnya stakeholder (Pemerintah Desa, Perguruan Tinggi, Karang Taruna, PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga), tokoh masyarakat, Perhutani) memainkan peran penting di dalam pemberdayaan masyarakat, yakni membangun keberlanjutan, melakukan perubahan dan sebagai fasilitator
Tantangan Menjadi Penyuluh Kekinian di Era Disrupsi
Perkembangan sektor pertanian saat ini dihadapkan dengan berbagai dilema terkait dengan revolusi teknologi 4.0, seperti disrupsi, perubahan iklim, pandemi Covid-19, bencana alam, kemiskinan dan kecukupan pangan nasional. Tantangan ini memerlukan respons dari berbagai pihak dan para pemangku kepentingan, khususnya penyuluh pertanian sebagai ujung tombak di sektor ini. Berbagai permasalahan masih menyelimuti keberadaan penyuluh pertanian baik secara kualitas maupun kuantitas, mulai dari penguasaan dan akses pada teknologi informasi, kebijakan, pembiayaan, akses pasar serta dinamika kelembagaan yang terus mewarnai kinerja penyuluh pertanian. Berkembangnya digitalisasi pertanian diharapkan dapat membantu penyuluh pertanian bersikap lebih inovatif, adaptif, kolaboratif, dan profesional dalam menjalankan profesinya agar eksistensinya tidak tersisih dan terabaikan dari laju percepatan pembangunan pertanian berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tantangan penyuluh pertanian agile di Yogyakarta dan sekitarnya dalam menghadapi revolusi 4.0. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan konstruktivisme kritis. Informan dalam penelitian ini terdiri dari penyuluh pertanian dan petani. Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak sembilan informan, dengan enam informan merupakan penyuluh pertanian dan tiga informan merupakan petani. Informan berasal dari dua kabupaten, yaitu Kabupaten Klaten dan Kabupaten Bantul. Setidaknya terdapat tiga tantangan penyuluh, yaitu: (1) Kurangnya kemampuan berkaitan dengan digitalisasi dan gawai, sebagian penyuluh tidak percaya diri; (2) Dukungan biaya operasional yang dirasa kurang dalam mendukung operasional Balai Penyuluh Pertanian; dan (3) Banyaknya aplikasi akibat digitalisasi yang justru memberikan administratif yang berdampak pada kinerja penyuluh. Penelitian ini menyimpulkan: (1) Penyuluh profesional dituntut dapat menyesuaikan diri dan perannya sesuai dengan perkembangan dan perubahan peradaban manusia yang selalu didukung oleh perkembangan teknologi digital; (2) Kunci utama sebagai penyuluh profesional adalah mengedepankan pendekatan yang humanis melalui pendekatan interpersonal. Dukungan anggaran dan kebijakan juga diperlukan dalam rangka mewujudkan penyuluh profesional di era kekinian
Pandangan Pemuda mengenai Isu-Isu Pekerjaan Pembangunan Infrastruktur (Studi Metode Photovoice) Kasus di Desa Kebak Kabupaten Karanganyar
Infrastruktur penting dalam mendukung terlaksananya pembangunan daerah. Perencanaan program pembangunan desa oleh pemerintah dilakukan dengan pendekatan bottom-up berdasarkan dari keinginan dan keikutsertaan generasi muda sebagai perwakilan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode photovoice yang diterapkan dalam Participatory Extension Approaches (PEA) dengan tahapan photovoice project. Generasi muda berperan sebagai partisipan dalam photovoice project yang terdiri dari 12 anggota karang taruna di Desa Kebak. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengungkapkan pandangan pemuda mengenai isu-isu pekerjaan pembangunan infrastruktur dan untuk mengetahui hasil perspektif pengguna terhadap metode photovoice dalam Participatory Extension Approaches (PEA). Hasil penelitian ini antara lain: (1) pandangan pemuda mengenai isu-isu pekerjaan pembangunan infrastruktur yang ditemukan yaitu isu yang di dalamnya terdapat kategori “manajemen” yang dipertimbangkan dari pengelolaan, administrasi, dan sosialisasi, serta kategori “kondisi fisik” yang diukur dari potensi, perawatan, tata letak, dan tingkat kepentingan; (2) perspektif pengguna terhadap metode photovoice dalam participatory extension approaches yaitu kelebihan photovoice project (sebagai dokumentasi bangunan, mengetahui value bangunan, sebagai acuan perbaikan, sebagai acuan pembaruan, dan memberdayakan komunitas) dan kekurangan photovoice project (outcome dari pameran masih belum tuntas sehingga membutuhkan tindak lanjut)
Respon Petani terhadap Rencana Pengembangan Agroeduwisata di Desa Waimital, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku
Agroeduwisata merupakan perpaduan dari konsep agrowisata dan edukasi. Agroeduwisata dapat dikembangkan di Desa Waimital, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku sebagai desa pertanian dengan berbagai cabang usaha tani yang didominasi padi sawah. Terkait hal tersebut, penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis respon petani terhadap rencana pengembangan agroeduwisata, dan (2) menemukan strategi pengembangan agroeduwisata berdasarkan respon petani pada tujuan (1). Desa Waimital dipilih secara sengaja sebagai lokasi penelitian karena memiliki potensi pengembangan agroeduwisata. Populasi penelitian adalah seluruh kelompok tani aktif di Desa Waimital, yaitu 19 kelompok; selanjutnya dari setiap kelompok ditentukan ketua kelompok dan dua anggota kelompok menjadi responden. Pemilihan anggota sebagai responden dilakukan secara acak sederhana. Data yang dikumpulkan meliputi data primer yang dikumpulkan melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner dan data sekunder dari berbagai sumber relevan. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif menggunakan statistik sederhana. Hasil penelitian ternyata respon petani bersifat positif terhadap rencana pengembangan agroeduwisata, namun ditemukan berbagai hal yang membutuhkan kesepakatan, yaitu: (1) penentuan lokasi wisata, (2) tugas petani dalam program agroeduwisata, dan (3) pengelolaan keuangan agroeduwisata. Terkait hal tersebut, dibutuhkan strategi untuk pengembangan agroeduwisata melalui kerjasama antar pihak terkait guna memenuhi kesepakatan melalui berbagai kegiatan diantaranya pemetaan lokasi wisata, sosialisasi dan pelatihan sesuai kebutuhan
Pengaruh Karakteristik Petani dan Peran Pemerintah Desa Terhadap Partisipasi dalam Pengembangan Agrowisata Bumi Lumbung Pendem
Pengembangan kawasan pedesaan berpotensi menjadi lokasi agrowisata marak terjadi di Indonesia, salah satunya di Kota Batu. Hal ini menimbulkan berbagai macam reaksi dari masyarakat baik menyetujui ataupun tidak. Beraneka macamnya karakteristik petani dan dukungan pemerintah menjadi latar belakang yang menentukan langkah masyarakat untuk terlibat dalam pengembangan agrowisata. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh karakterisitik petani dan peran pemerintah desa terhadap partisipasi dalam pengembangan Agrowisata Bumi Lumbung Pendem. Metode penelitian adalah kuantitatif dengan pendekatan survei, teknik pengumpulan data yaitu observasi dan penyebaran kuesioner. Pengolahan data menggunakan statistik deskriptif dan regresi linier berganda. Populasi pada penelitian adalah 388 petani dengan sampel sebanyak 80 petani yang diperoleh dari perhitungan Rumus Slovin. Sedangkan sebaran sampel menggunakan teknik Simple Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel karakteristik petani dan peran pemerintah secara simultan berpengaruh nyata positif terhadap partisipasi dalam pengembangan Agrowisata Bumi Lumbung Pendem. Sub variabel karakteristik petani yang berpengaruh pada partisipasi adalah umur, lama pendidikan formal, jumlah pendapatan, dan lama tinggal. Sedangkan sub variabel peran pemerintah desa yang berpengaruh hanya peran pemerintah sebagai fasilitator. Adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan pihak pengelola untuk menentukan kebijakan yang sesuai dengan petani
Life Accentuation in Cognitive Dissonance and Hedonistic Behavior between Jakarta and Moscow Adolescents
Information and communication technology play an important role in the development of communication, one of which is the utilization of the online shop platform, to fulfill the desire for a hedonistic lifestyle. The changes in lifestyle focus on seeking unlimited pleasure and satisfaction. Life accentuation assumes that a person will feel happy by seeking happiness and avoiding feelings of pain, disappointment, and sadness. The research objective was to compare Jakarta and Moscow adolescents\u27 cognitive dissonance and hedonism behavior. The comparative descriptive quantitative research method was used on 101 Moscow teenage respondents and 102 Jakarta respondents using cognitive dissonance theory and behavioral theory. The results were (1) ‘Looking for unlimited pleasure and satisfaction’ is ‘often’ (54.10%) by Jakarta teenagers, higher than Moscow teenagers (only 39.40%), and ‘sometimes’ (52.10%). (2) The dimension of ‘seeking as much happiness as possible and avoiding painful feelings’, Jakarta teenagers are 45.90% while Moscow teenagers are 36.60%, and ‘sometimes’ (56.30%). (3). For the dimensions of ‘seeking happiness symbolically’, Jakarta teenagers are more ‘often’ (53.10%) than Moscow teenagers (36.60%) and ‘sometimes’ (52.10%). (4) In the dimension of ‘pleasure is the most important thing in life’ there are differences between teenagers in Moscow and teenagers in Jakarta (54.10%) and Moscow teenagers are ‘often’ (63.40%) lower and ‘sometimes’ tend to behave hedonistically (63.40%)
Pengaruh Media Sosial terhadap Efikasi Diri Petani Tanaman Hias dalam Menggunakan Media Sosial untuk E-Commerce
Efikasi diri berkaitan dengan keyakinan petani akan kemampuannya dalam menggunakan media sosial untuk e-commerce. Media sosial merupakan aplikasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang dapat diakses tanpa batasan ruang dan waktu sehingga memungkinkan untuk memperluas pemasaran dan menjangkau konsumen yang lebih beragam. Tujuan penelitian untuk menganalisis pengaruh media sosial terhadap efikasi diri petani tanaman hias dalam menggunakan media sosial untuk e-commerce di Kabupaten Bogor. Populasi penelitian sebanyak 427 petani tanaman hias, dengan menggunakan rumus slovin diperoleh 210 responden sebagai sampel penelitian. Penarikasn sampel dilakukan secara acak sederhana. Metode penelitian menggunakan metode survei explanatory research dengan teknik pengumpulan data deskriptif kuantitatif yaitu observasi dan wawancara dipandu kuesioner yang telah dilakukan uji validitas dan realibilitas. Metode analisis data menggunakan analisis regresi, tabulasi data, estimasi model dan interpretasi model regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh media sosial melalui sistem sosial merupakan variabel memiliki nilai pengaruh yang lebih tinggi daripada media sosial secara langsung terhadap efikasi diri petani tanaman hias dalam menggunakan media sosial untuk e-commerce
Pemanfaatan Aplikasi SawitKita (Smallholders Assisted With Information Technology) dalam Mendukung Penerapan Good Agricultural Practices (GAP)
Di era digital saat ini, terbuka peluang mekanisme penyuluhan baru berbasis platform digital. Penelitian ini memiliki nilai kebaruan yaitu memberikan kontribusi pada pengembangan komunikasi massa dalam penggunaan media baru berbasis internet oleh petani. Metode deskriptif analitis digunakan untuk menganalisis fitur aplikasi SawitKita untuk mengetahui kebermanfaatan dan media pendamping dalam penerapan Good Agriculture Practices (GAP). SawitKita (Smallholders Assisted with Information Technology) merupakan sebuah aplikasi teknologi informasi dan komunikasi berbasis android yang menjadi media transfer informasi antara pekebun dengan pakar dan praktisi kelapa sawit. SawitKita dapat digunakan dalam mode online dan offline. SawitKita menyediakan sistem pakar yang dapat mendampingi pekebun dalam mengambil keputusan operasional kebun sesuai dengan prinsip GAP. Fitur yang disajikan dalam halaman utama SawitKita terdiri dari 3 pilar utama yang terintegrasi dalam satu aplikasi. Pertama, Sistem pakar yang tersedia saat ini meliputi sistem pakar persiapan lahan (LahanKita), pembibitan (BibitKita), pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPTKita), pemupukan (FertiKita), pengelolaan panen (PanenKita), dan administrasi keuangan (DanaKita). Kedua, Learning Management System (LMS) yaitu SawitKita Learning. Ketiga, fitur diskusi online HelloPlanters