Widyanuklida
Not a member yet
98 research outputs found
Sort by
Pusat Pendidikan dan Latihan Untuk Iptek Nuklir di Abad 21
Meningkatnya peranan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dalam memajukan teknologi dan ilmu pengetahuan nuklir perlu didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, dan oleh karena itu dibutuhkan Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) yang andal. Dalam tulisan ini dipaparkan pemikiran tentang Pusdiklat di abad 21
Pengujian Kebocoran Radiasi Pada Kamera Gamma dan Pesawat Sinar-X
ABSTRAK Telah dilakukan pengujian kebocoran radisi pada kamera gamma Ir-192 Amertest tipe Tech Ops model 660B dan Co-60 model 680 Projector serta pesawat sinar-X Rigaku Radioflex-200 EGS-2. Pengujian kebocoran pada kamera gamma meliputi analisis kuantitatif (penentuan aktivitas) dan kualitatif (jenis nuklida) dari sampel yang diambil dengan metode usap menggunakan sistem spektroskopi gamma dengan detektor NaI(Tl). Pengujian kebocoran pada pesawat sinar-X meliputi penentuan posisi kebocoran menggunakan film radiografi serta penentuan laju dosis menggunakan dosimeter saku digital. Hasil yang diperoleh menunjukkan kebocoran pada kamera gamma Ir-192 terbesar adalah 2,419 Bq, radionuklida teridentifikasi sebagai Ir-192 dan pada kamera gamma Co-60 adalah 0,347 Bq sedangkan radionuklida tidak teridentifikasi. Pada pesawat sinar-X kebocoran radiasi terbesar ada di posisi A dengan laju dosis sebesar 0,1128 R/jam pada jarak 1 (satu) meter dari focal spot. Nilai kebocoran untuk kamera gamma dan pesawat sinar-X tersebut dibawah nilai yang diijinkan.
Peran Energi Dalam Pembangunan Nasional Memasuki Milenium III
ABSTRAK Energi merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam pembangunan nasional. Di Indonesia, terdapat beragam sumber daya energi, baik yang tidak terbarukan maupun yang terbarukan. Pembangunan yang berjalan dengan cepat dan jumlah penduduk yang besar membutuhkan dukungan energi. Walaupun akhir-akhir ini, perekonomian Indonesia terpuruk yang mengakibatkan terjadinya penurunan kebutuhan energi yang sangat tajam, diperkirakan dalam waktu mendatang, perekonomian di Indonesia akan pulih kembali. Oleh karena itu, pemanfaatan energi untuk mendukung pembangunan nasional, perlu dikelola dengan baik dengan strategi yang tepat. Hal-hal tersebutlah yang akan dibahas dalam makalah ini
Uji Visual dan Ketahanan Proyeksi Pada Peralatan Radiografi Gamma Industri Jenis Portabel
ABSTRAK Uji visual dan ketahanan proyeksi pada kamera gamma industri portabel jenis Tech Ops 660 A/2190, Delta 880 / D5549, Amertes 660B/B1822, dan Sentinel 660 A/A 1357 serta 4 perangkat kendali sumber telah dilakukan. Metode pengujian yang diterapkan mengacu pada SNI ISO 3999:2008. Pengujian ini dilakukan untuk memastikan dan menjamin bahwa peralatan radiografi yang digunakan memenuhi persyaratan keselamatan berkaitan dengan kondisi visual dan mekanik sehingga layak dioperasikan dengan aman. Pelaksanaan uji visual dilakukan dengan pemeriksaan visual pada kamera gamma dan perangkat kendali sumber. Sedangkan pelaksanaan uji ketahanan proyeksi dilakukan dengan memasang perangkat radiografi gamma dan alat pelengkung 90° pada selongsong kabel kendali dan pelengkung 45° pada selongsong proyeksi. Hasil uji menunjukkan bahwa kamera gamma tipe Tech Ops 660 A dan Delta 880 lolos uji, sedangkan tipe Amertes 660 B dan Sentinel 660 A tidak lolos uji. Sedangkan pada uji visual dan ketahanan proyeksi 4 perangkat kendali sumber menunjukkan bahwa hanya 2 yaitu perangkat kendali sumber (Tech Ops 660 A) dan perangkat kendali sumber (Sentinel 660 A) yang lolos uji. ABSTRACT Visual and projection endurance test on portable industrial gamma cameras type AI2190 Tech Ops 660, Delta 8801 D5549, Amertes 660BIB1822, and Sentinel 660 A 1A 1357 as well as 4 source control devices has been done. Tesing methods are applied refer to SNI ISO 3999:2008. The tes is performed to ensure and guarantee that the use of portable radiography equipments meet the safety requirements relating to visual and mechanical condition so it is worth operated safely. Implementation of visual test was performed by visual examination of the gamma cameras and the source control devices. Meanwhile, projection endurance test is done by installing gamma radiography devices and 90° and 45° bending equipment to cable housing and source guide tube respectively. The result of the test shows that the gamma cameras type A Tech Ops 660 and Delta 880 pass the test, whereas type Amertes 660 B and Sentinel 660 A not pass the test. While, the test of 4 projection control devices indicate that only two control devices, namely the source control device (Tech Ops 660 A) and the source control device (Sentinel 660 A) that pass the test.
Kajian Soal Tertulis Sertifikasi Personel PPR Tahun 2015
Pusat Pendidikan dan Pelatihan BATAN menyelenggarakan Pelatihan Keselamatan Radiasi untuk calon PPR bidang Industri Tingkat 1, 2, 3 dan Medik Tingkat 1, 2 dan 3. Setelah lulus pelatihan, peserta mengikuti ujian untuk mendapatkan SIB sebagai PPR yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) untuk membuktikan bahwa yang bersangkutan memiliki kompetensi yang dipersyaratkan. Ujian dalam pelatihan harus bisa mengukur kemampuan peserta, sehingga ada keselarasan dengan ujian untuk mendapatkan SIB. Dalam rangka meningkatkan keselarasan pengukuran kompetensi dalam pelatihan dan kompetensi dalam sertifikasi personel untuk mendapatkan SIB PPR, maka perlu dilakukan kajian terhadap soal ujian BAPETEN. Kajian dilakukan terhadap komposisi dan tingkat kesulitan soal. Soal dikelompokkan berdasarkan materi pembelajaran dalam pelatihan. Tingkat kesulitan soal diklasifikasikan dalam kriteria mudah, sedang, dan sulit. Validasi penentuan tingkat kesulitan dan nilai rata-rata benar dilakukan terhadap soal ujian pelatihan PPR Industri Tk.2 pada tanggal 3 Juni 2015 yang melibatkan 16 peserta. Hasil validasi menunjukkan kesesuaian penentuan tingkat kesulitan dengan hasil ujian dengan kesalahan 4% dan nilai rata-rata benar dengan perbedaan 1,3 dari nilai maksimum 100. Hasil kajian menunjukkan komposisi soal untuk setiap klasifikasi PPR. Secara umum juga terdapat perbedaan prediksi tingkat kesulitan untuk setiap klasifikasi PPR, dengan urutan dari yang paling sulit dan prediksi nilai rata-ratanya adalah Industri Tk.1 (69,80), Medik Tk.1 (70,375), Industri Tk.2 77,50), Medik Tk.2 (71,375) dan Industri Tk.3 (73,60)
Pengaruh Perubahan Energi Radiasi Terhadap Respon Energi Surveymeter
ABSTRAK Telah dilakukan suatu percobaan atau pengujian untuk mengamati respon energi surveymeter terhadap perubahan energi radiasi. Percobaan dilakukan terhadap 12 buah surveymeter berlainan merk, model dan tipe detektor, dengan cara menempatkan surveymeter tersebut pada medan radiasi radiasi gamma dan Sinar-X yang dihasilkan dari Cs-137, C0-60 dan pesawat sinar-X merk PANTAK HF420. Respon energi surveymeter (R) diamati dengan membandingkan antara laju dosis ekivalen yang terukur surveymeter (M) dengan ambient dose equivalent (H*10) yang dipancarkan oleh sumber radiasi. Dari hasil percobaan terlihat bahwa surveymeter dengan detektor Ionization Chamber (IC) mempunyai rentang respon energi yang lebih panjang dibanding dengan surveymeter GM maupun Sintilasi. Secara umum, pada energi radiasi yang rendah sensitivitas surveymeter GM lebih baik dibanding surveymeter IC. ABSTRACT The experiment to investigate of energy response of the Gamma ray surveymeters have been performed. The experiments were conducted by using Ionization Chamber, Scintillation and GM surveymeter which consist of 12 models of surveymeters. In the experiments, the surveymeters were irradiated by a gamma sources, such as Cs-137, Co-60, and X-rays of PANTAK HF420 X-ray machine. The experiment result shows that IC type surveymeter has a maximum response at the longest of range of energy. In general, at low energy the sensitivity of GM type and Scintillation is better than those of IC type.
Penentuan Waktu Penyinaran Radiografi Ir-192 Menggunakan Persamaan Dosis Radiasi
ABSTRAK Penyinaran radiografi dilakukan dengan sumber radiasi Ir-192 dan sistem film yang terdiri dari film AGFA D7, skrin lembaran timbal 0,125 mm dan kaset lentur berbahan plastik berwarna hitam. Waktu penyinaran ditentukan dengan menggunakan persamaan dosis radiasi. Perhitungan didasarkan pada dosis radiasi untuk mendapatkan densitas radiograf 2 yang diperoleh dari kurva karakteristik hasil percobaan, yaitu sebesar 1400 mRem, dan laju dosis radiasi yang dihitung berdasarkan persamaan yang diturunkan dari hukum Lambert. Radiografi dilakukan pada sebuah stepwedge yang terbuat dari bahan carbon steel yang memiliki step dengan 10 ketebalan. Hasil radiografi masing-masing step sasaran dari stepwedge memiliki densitas radiografi antara 2,24 sampai 2,65. ABSTRACT Radiographic exposure of Ir-192 radiation source has been performed on a film sistem consisting of AGFA D7 films, 0,125 mm lead foil screens and black plastic of flexible cassettes. Exposure time is determined using the equation of radiation dose. The exposure time calculation is based on the radiation dose to get the radiograph density of 2 derived from characteristic curves resulting from experimental which indicate the value of 1400 mRem, and radiation dose rate is calculated based on equations derived from the law of Lambert. Radiography was performed on a stepwedge made of carbon steel having 10 thickness of step. Radiograph results of each target step has a radiographic density between 2.24 to 2.65.
Rancang Bangun Alat Ukur Densitas Film Hasil Radiografi
ABSTRAK Telah dibuat suatu perangkat pendukung radiografi dengan tujuan untuk mengukur densitas film hasil radiografi dengan menggunakan perangkat komputer. Perangkat keras terdiri dari sensor cahaya, rangkaian pengubah tegangan ke digital dan rangkaian antarmuka, sedangkan perangkat lunak menggunakan bahasa program LabVIEW. Sensor cahaya dipasang pada rangkaian pembagi tegangan sehingga tegangan keluaran yang dihasilkan dari rangkaian tersebut besarnya berbanding terbalik dengan intensitas cahaya yang masuk. ADC-0804 digunakan untuk mengubah tegangan analog menjadi digital dan antarmuka PPI-8255 digunakan untuk berkomunikasi data dengan komputer. Selanjutnya data diproses oleh perangkat lunak LabVIEW. Data hasil pengukuran intensitas ditampilkan dan diolah secara otomatis menjadi nilai densitas, variasi densitas dan kesimpulan untuk menentukan film hasil radiografi. Hasil pengujian alat ukur densitas film hasil radiografi ini mempunyai persamaan garis lurus Y = l,08X — 0,827 dan tingkat kesalahan sebesar 7,46 %. ABSTRACT A propotipe of radiographic apparatus for film density measurement was made and run using a computer. The apparatus consists of a light censor, an analog-to-digital converter (ADC-0801), and an interface peripheral (PPI-8255). The LabVIEW software was applied to run the system. The light censor absorbed light with different intensity passing through the film. Signals of light were changed to into analog voltages by a voltage divider which was inserted inside the probe. The analog voltages, then, were converted to digital voltages by ADC-0801. The digital voltages, as computer data inputs, were sent by a programmable input-output (PPI-8255) to a computer. The LabVIEW software calculated the data and then displayed to a computer monitor. Value of density and variation density can be viewed at the computer monitor, then conclusion can be made. The measurement results have a linear equation: Y=1.08 X + 0.827, where Y = density from measurement and X = density standard from film stepwedge. Relative error of the measurement was 7.16 %.
The Basic Safety Standard (Standar Keselamatan Radiasi)
ABSTRAK Dalam kerangka kerja the Inter-Agency Committee on Radiation Safety (IACRS), telah dibentuk suatu sekretariat bersama oleh enam organisasi internasional pada tahun 1991. Beberapa anggota komite ini yaitu IAEA, ILO, OECD/NEA, FAO, PAHO dan WHO kemudian mensponsori terbentuknya the International Basic Safety Standards for Protection against Ionizing Radiation and for the Safety of Radiation Sources atau dikenal dengan the Basic Safety Standard (BSS). Setelah disetujui oleh semua organisasi sponsor, BSS diterbitkan dalam IAEA Safety Series No. 115 pada tahun 1996. Dalam tulisan ini akan diuraikan sejarah singkat standar keselamatan radiasi, pengertian tentang efek radiasi, practices dan interventions, tujuan pembentukan BSS, ruang lingkup BSS, kewajiban dalam BSS, serta persyaratan dalam pelaksanaan BSS. ABSTRACT Under an umbrella of the Inter-Agency Committee on Radiation Safetv (lACRS) and under coordinationship of the International Atomic Energy Agency, six international organizations have founded a joint-secretariate in 1991. The members of the secretariate. i.e. IAEA, ILO, OECD/NEA, FAO, PAHO and WHO then worked on to establish the International Basic Safety Standards for Protection against ionizing Radiation and .for the Safety of Radiation Sources or the Basic Safety Standard (BSS). The standard was issued as IAEA Safety Series No. 115 in 1996. This paper covers a brief discussion on radiation safety standard radiation effects, practices and interventions. It also covers a presentation on the goal and scope of the BSS and what have to be prepared for the implementation of the BSS
Sumberdaya Manusia Dalam Konteks Organisasi Pada Program Pertambangan Uranium di Eko Remaja, Kalimantan Barat
ABSTRAK Sejumlah personil Batan dan buruh lokal, kira-kira seluruhnya berkisar 70 - 150 orang per tahun telah bekerja pada penelitian pertambangan di daerah mineralisasi uranium Eko-Remaja, yaitu meliputi pekerjaan eksplorasi sistimatik, pemboran/estimasi cadangan sehingga mendapatkan cebakan uranium dan jumlah sumberdaya yang terukur, serta penelitian lainnya meliputi penelitian-penelitian penambangan, pengolahan bijih, limbah dan lingkungan. Evaluasi paling akhir terhadap hasil penelitian tersebut, diarahkan kepada pengembangan kegiatan menuju usaha pertambangan. Dalam kegiatan usaha pertambangan, antara lain kesiapan dan tersedianya sumberdaya manusia yang memenuhi kriteria kerja. Dalam telaahan ini didapat paling sedikit 8 jenjang jabatan fungsional menjadi 8 kategori. Mereka adalah personil yang profesional tidak saja berasal dari lulusan pendidikan formal, namun diperlukan pengalaman dan telah mengikuti pelatihan keahlian. Pendidikan cara magang, berlatih sambil bekerja adalah cara paling efektif dan efisien untuk segala jabatan, khususnya untuk tingkat operator; dan selama penelitian pertambangan berlangsung telah berhasil dilaksanakan, pesertanya terdiri dari buruh lokal kemudian menjadi buruh yang terampil sebagai operator/juru (skilled labour).