Widyanuklida
Not a member yet
98 research outputs found
Sort by
Penentuan Peak to Total Ratio Pada Analisis Aktivasi Neutron dengan Metode k0
ABSTRAK Penentuan efisiensi total diperlukan dalam Analisis Aktivasi Neutron dengan metode k0 yang mulai digunakan di BATAN. Efisiensi total dihitung dari efisiensi puncak dan nilai Peak to Total Ratio (P/T). Kondisi ideal penentuan nilai P/T dilakukan menggunakan sumber standar dari radionuklida yang memiliki energi tunggal. Pada kondisi keterbatasan ketersediaan sumber standar tersebut, penentuan dapat dilakukan dengan menggunakan radionuklida dengan multi-energi, dengan melakukan koreksi terhadap puncak-puncak yang lain. Percobaan penentuan nilai P/T dilakukan menggunakan sumber standar 241Am, 109Cd, 137Cs, 133Ba, 60Co terhadap spektrometer dengan detektor HPGe coaxial model GC3018. Dari percobaan diperoleh hubungan nilai P/T terhadap energi (E) dengan persamaan Log(P/T) = 1,95 (Log(E))2 + 7,88 Log(E) — 7,96 untuk energi sampai dengan 100 KeV dan Log(P/T) = -0,864 Log(E) + 1,76 untuk energi lebih besar atau sama dengan 100 KeV.
Faktor Gamma Γ
ABSTRAK Banyaknya foton yang melalui suatu luasan tertentu dalam satu detik disebut fluks. Jika foton tersebut dengan fluks tertentu berinteraksi dengan udara, maka sebagian energi radiasi tersebut akan diserap oleh udara. Besarnya energi yang diserap per satuan massa udara per satuan waktu disebut laju dosis serap, selanjutnya dapat diperoleh besaran laju paparan dari hubungan coulomb dengan joule. Dengan menggunakan faktor konversi dari grey ke sievert, akan diperoleh besaran laju dosis ekivalen. Dari ke tiga besaran radiasi yaitu laju paparan, laju dosis serap dan laju dosis ekivalen, akan muncul suatu nilai konstan yang disebut faktor gamma yang mempunyai satuan yang berbeda dan masing-masing dinamakan konstanta laju paparan, konstanta laju dosis serap dan konstanta laju dosis ekivalen. ABSTRACT The number of foton through a unit area in a second is called flux. When foton with a certain flux pass through a media of air, some of its energy will be absorbed by air. The energy absorbed in a unit of mass of air in a unit of time is named as absorbed dose rates. Using the relationship between coulomb and jou1e, the absorbed dose rates can be converted to exposure rates. Then by using conversion factor from grey to sievert, it can be obtained equivalent dose rates. From these three rates, one can get a constant which is called gamma factor. Gamma factor has unit that differs for each rates and the name for each rates are respectively exposure rates constant, absorbed dose rates constant, equivalent dose rates
Fasilitas Penyimpanan Sumber Terbungkus Iridium-192 untuk Radiografi Industri
ABSTRAKSalah satu persyaratan teknis yang harus dipenuhi oleh calon pengimpor sumber terbungkus Iridium-192 untuk radiografi industri adalah harus menyiapkan fasilitas penyimpanan yang memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan sebagaimana yang ditetapkan di dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 7 Tahun 2007 tentang Keamanan Sumber Radioaktif dan Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 7 Tahun 2009 tentang Keselamatan Radiasi Dalam Penggunaan Peralatan Radiografi Industri. Fasilitas penyimpanan sumber terbungkus Iridium-192 yang dibutuhkan dapat terdiri dari ruang penyimpanan, ruang tempat dimana bunker berada dan bunker itu sendiri. Untuk mengetahui seberapa besar dampak radiologi baik bagi masyarakat maupun lingkungan sekitar, maka harus dilakukan pemantauan paparan radiasi di tempat penyimpanan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Sedangkan untuk menjamin keamanan sumber terbungkus Iridium-192, fasilitas penyimpanan harus dilengkapi dengan peralatan keamanan, dilakukan pemantauan secara periodik dan pemeliharaan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.ABSTRACTStorage Facility of Iridium-192 Sealed Source for Industrial Radiography. One of the technical requirements that must be met by prospective importer Iridium-192 sealed sources for industrial radiography should be to prepare a storage facility that meets the requirements of security and safety as defined in the Regulation of Nuclear Power Agency Number 7 of 2007 on the Safety of Radioactive Sources and Regulations head of the Nuclear Energy Agency No. 7 of 2009 on Radiation Safety in the Use of Industrial Radiography Equipment. Storage facilities Iridium-192 sealed sources required may consist of storage space, a space where the bunkers are and bunker itself. To find out how big the radiological consequences both for society and the environment, the radiation exposure monitoring must be done in a storage area in accordance with a predetermined schedule. Meanwhile, to ensure the safety of Iridium-192 sealed sources, storage facilities must be equipped with safety equipment, monitoring and maintenance periodically according to a predetermined schedule.
Program Keandalan Manusia
ABSTRAKBATAN sebagai lembaga penelitian memiliki reaktor nuklir riset dan cukup banyak sumber radioaktif, sehingga memiliki kerawanan terhadap penyalahgunaan fasilitas dan sumber radioaktif. Sistem keamanan nuklir dan sumber radioaktif bertujuan untuk mencegah potensi dan memitigasi kejadian tersebut. Ancaman tersebut dapat berasal dari orang luar, maupun insider. Kekecewaan, frustasi, ketidakpuasan, merasa diabaikan, tidak dihargai, dan dendam yang tidak ditangani dapat menjadi motivasi menjadi insider. Penangkalan adanya insider dapat dilakukan dengan sistem penghargaan dan sanksi yang jelas, budaya keamanan, serta Program Keandalan Manusia, yaitu penanganan pegawai yang bermasalah secara psikologi.ABSTRACTHuman Reliability Program. As a research institution, BATAN has research reactor and some radioactive sources, that most vulnerable againts malicious acts. The objectives of Nuclear security and Security of radioactive sources are prevent the malicious acts and mitigate its consequences. The threats could be done by outsider as well as insider. Insider might be a disappointed, frustrated, revenged, disgruntled employee. Detterence from insider could be done by reward and punishment system, security culture, and Human Reliability Program, which used phycology treatment.
Sintesis Nanokomposit Karbon Aktif-Zeolit Alam-TiO2
ABSTRAKTitanium dioksida (TiO2) merupakan fotokatalis yang banyak digunakan untuk mendegradasi senyawa organik. Untuk meningkatkan kinerja TiO2, dibutuhkan suatu modifikasi terhadap TiO2. Telah dilakukan sintesis nanokomposit karbon aktif-zeolit alam dan TiO2 (KAZA-TiO2). Nanotitania pada komposit KAZA-TiO2 disintesis melalui metode sol gel menggunakan titanium tetraisopropoxide sebagai precursor. Karakterisasi nanokomposit dilakukan dengan BET, XRD, dan SEM-EDX. Kinerja dari nanokomposit KAZA-TiO2 diuji menggunakan larutan 4,4’-dikloro bifenil dalam air dengan konsentrasi awal 10 ppm dengan sinar UV sebagai sumber foton. Penurunan konsentrasi 4,4’-dikloro bifenil sebesar 87% diperoleh dari penggunaan nanokomposit KAZA-TiO2 dengan perbandingan awal 2:1:7 dan waktu reaksi 270 menit.ABSTRACTNanocomposites Synthesis of Activated Carbon-Natural Zeolite-TiO2. Titanium dioxide (TiO2) is a photocatalyst that is widely used to degrade organic compounds. To improve the performance of TiO2, a modification is needed. Synthesis of nanocomposite made of Activated Carbon-Natural Zeolite and TiO2 (KAZA-TiO2) has been done. Nanotitania on KAZA-TiO2 nanocomposite was synthesized by sol gel method using titanium tetraisopropoxide as a precursor. Characterization of nanocomposite was conducted by BET, XRD, and SEM-EDX. Performance of KAZA-TiO2 nanocomposite was tested using a solution of 4,4'-dichloro biphenyl in water with an initial concentration of 10 ppm with UV light as a photon source. The decline in the concentration of 4,4'-dichloro biphenyl of 87% obtained from the use of KAZA-TiO2 nanocomposite with initial ratio of 2: 1: 7 and a reaction time of 270 minutes.
Evaluasi Efektifitas Tayangan Multimedia yang Disajikan pada Seminar di BATAN
ABSTRAKTayangan multimedia merupakan alat bantu yang banyak digunakan pada saat penyajian hasil penelitian pada suatu seminar. Tayangan multimedia yang efektif akan dapat meningkatkan daya tangkap peserta dan mampu mengkomunikasikan buah pikiran antara penyaji dan peserta. Untuk mengetahui tingkat efektifitas tayangan, telah dilakukan evaluasi terhadap 30 tayangan hasil penelitian yang dipilih secara acak pada 3 seminar di BATAN. Dari 30 tayangan yang dievaluasi, 28 tayangan milik penyaji dari BATAN dan 2 milik penyaji dari luar BATAN. Parameter yang dievaluasi dibatasi hanya 10 parameter dan substansi dari materi tidak termasuk dalam parameter yang dievaluasi. Evaluasi dilakukan secara visual dengan metode analisis kuantitatif dan pendekatan analisis kualitatif diskriptif sederhana. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa tayangan yang disajikan memperoleh nilai rata-rata terendah 1,5 dan tertinggi 2,6 dengan skala penilaian 1 - 4. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa tayangan tersebut dikategorikan kurang efektif. Nilai tayangan milik penyaji dari BATAN dan luar BATAN tidak terdapat perbedaan nilai yang mencolok.ABSTRACTEvaluation on the Effectiveness of the Multimedia Presentation presented at Seminar in BATAN. Multimedia presentation is a tool that is widely used by researcher in presenting the research results at a seminar. An effective presentation will be able to improve participants comprehension and communicate ideas between presenters and participants. To determine the level of effectiveness of the presentation, an evaluation of 30 presentations from 3 seminar in BATAN which were selected randomly has been conducted. Among 30 presentations to be evaluated, 28 presentations belong to the Batan presenter and 2 presentations belong to the presenter from outside BATAN. The evaluated parameters were limited to only 10 parameters and the content of the presentation was not included in the evaluated parameters. Evaluation was performed visually using quantitative analysis and a simple qualitative descriptive analysis method. The result showed that the evaluated presentation obtained the lowest average score of 1.5 and the highest average score of 2.6. These values indicated that the presentations were categorized less effective. There was no significant difference in score between the presentation belongs to presenters from BATAN and presenters from outside BATAN.
Evaluasi Hasil Pengujian Keselamatan Kamera Radiografi Gamma Industri Jenis Portabel di Laboratorium PTKMR BATAN Tahun 2012-2013
ABSTRAKPengujian tersebut mengacu pada SNI ISO 3999:2008 dan SNI-6650.2-2002. Pengujian keselamatan kamera radiografi gamma ini berkaitan dengan pelaksanaan Perka BAPETEN No. 7 Tahun 2009 Pasal 42, Ayat (1) butir b dan c. Pada kurun waktu tahun 2012-2013 Laboratorium PTKMR BATAN melakukan pengujian 23 kamera gamma beserta asesorisnya. Dari 23 kamera gamma yang diuji, hanya 8 kamera gamma yang mendapatkan uji kebocoran radiasi, uji kebocoran radioaktif, serta uji visual dan ketahanan proyeksi dan hanya 5 kamera gamma yang lolos uji. Mengingat dalam Perka BAPETEN No. 7 Tahun 2009 hanya mewajibkan pelaksanaan uji kebocoran radioaktif untuk memperoleh perpanjangan izin, pengguna kamera gamma tidak mengajukan jenis uji tersebut. Untuk menjamin adanya dasar hukum yang mendukung pelaksanaan pengujian kamera gamma radiografi sesuai standar nasional Indonesia , maka Perka BAPETEN No. 7 Tahun 2009 perlu direvisi.ABSTRACTSafety Testing Evaluation of Industrial Radiography Gamma Camera of Type Portable at PTKMR BATAN Laboratory Year 2012-2013. The testing conducted refers to the ISO 3999:2008 and ISO -2002 - 6650.2 . Safety testing of gamma radiography camera is related to the implementation of BAPETEN Head Act No . 7 Year 2009 Article 42, Paragraph ( 1 ) point b and c . In the period of 2012-2013 PTKMR BATAN Laboratory had conducted a testing of 23 gamma cameras and its accessories. From 23 gamma cameras tested, only 8 gamma camera got radiation leakage test, radioactive leakage test, visual test and endurance as well as projection and only 5 gamma cameras that passed the test . Given the BAPETEN Head Act No. 7 Year 2009 only requires the implementation of radioactive leak test to extent the licence, so the gamma camera users do not necessary to pose the other kind of tests. To ensure that the legal basis supporting the implementation of appropriate radiographic testing of gamma cameras suits to Indonesian National Standards, the BAPETEN Head Act No. 7 Year 2009 is necessary to be revised.
Quality Management in Service Organization
Abstract Quality in service organization is rather obscure to define compare to in manufacturing industry. However, they both share the same values which is conformance to requirements. The commitment to meeting quality requirements must extend through all level of organization. Quality management in service organization is based on four basic principles: total involvement, customer orientation, systematic support, and continuous improvement. A case study illustrates how these concepts of quality management have been applied in an engineering consulting firm through several initiatives. ABSTRAK Mutu di dalam organisasi yang berorientasi pelayanan agak sulit didefinisikan dibandingkan dengan di industri manufaktur. Akan tetapi, keduanya mengandung nilai-nilai yang sama yaitu memenuhi persyaratan mutu. Komitmen untuk memenuhi persyaratan mutu harus ada di seluruh tingkatan dalam organisasi. Manajemen mutu di organisasi yang bersifat pelayanan didasarkan pada empat prinsip dasar: keterlibatan menyeluruh, berorientasi pelanggan, dukungan sistematis, dan perbaikan berkelanjutan. Dipaparkan di sini studi kasus yang menggambarkan bagaimana konsep manajemen mutu tersebut diterapkan di perusahaan konsultan teknik melalui beberapa inisiatif