Widyanuklida
Not a member yet
98 research outputs found
Sort by
Uji Karakteristik Pencahayaan Illuminator Radiografi
ABSTRAK Uji karakteristik pencahayaan 5 buah illuminator (viewer) telah dilakukan. Pengujian dilakukan untuk mengetahui karakteristik pencahayaan illuminator radiografi industri. Karakteristik pencahayaan meliputi kecerahan (luminansi), penyebaran (difusi), dan kerataan (uniformity). Uji karakteristik pencahayaan mengacu pada standar SNI-18-6932-2002 menggunakan alat ukur luxmeter EXTECH Model 409026. Hasil uji menunjukkan bahwa illuminator memiliki kecerahan yang berbeda. Kecerahan illuminator memenuhi syarat untuk mengamati radiograf dengan densitas kurang dari 3,0 untuk illuminator nomor 2, densitas kurang dari 3,5 untuk illuminator nomor 1 dan nomor 5, densitas kurang dari 4 untuk illuminator nomor 3 dan nomor 4. Hasil uji penyebaran cahaya menunjukkan semua illuminator memiliki faktor penyebaran melebihi 0,7. Hasil uji kerataan cahaya menunjukkan bahwa illuminator nomor 4 tidak memenuhi persyaratan. ABSTRACT The luminance characteristics of five industrial radiographic illuminators have been tested, based on the Indonesian National Standard SNI-J8-6932-2002. The luminance characteristics included brightness, diffusion, and uniformity have been examined using luxmeter EXTECH Model 409026. The results show that the light brightness of illuminators are slightly different. Brightness of illuminators are eligible to view the radiograph with density less than 3.0 for number 2, density less than 3.5 for number 1 and 5, and density less than 4.0 for number 3 and 4. The light diffusion testing shows that all illuminators have factor of diffusion more than 0.7. The Light uniformity testing shows that illuminator number 4 does not meet the requirement.
Criticality Accident at Tokai Nuclear Fuel Plant (Japan)
Diambil dari www.antenna.nl/wise/uranium/eftokc.html pada 12 November 2001
Tokoh Dalam Sejarah Penemuan Atom dan Radiasi
ABSTRAK Dipaparkan riwayat singkat beberapa tokoh, Ernest O. Lawrence, Herman Joseph Muller, Jean Frederic Joliot dan Irene Curie, Lise Meitner, Rutherford dan Roentgen yang berperan dalam sejarah penemuan dan pemahaman atom, radiasi dan pemanfaatannya. ABSTRACT This paper notes about some people, Ernest O. Lawrence, Herman Joseph Muller, Jean Frederic Joliot and Irene Curie, Lise Meitner, Rutherford and Roentgen who have significant role on the discovery of and understanding on atom, radiation and its usage
Modern and Systems-Oriented Research Methodology
ABSTRACT This paper is to report the results of literature studies on the latest development of systems-oriented research methodology. Scientific communities effort to modernize research methodology is based on the fact that research is no longer of academic interest only, but it has become an integral part of modern business practices that highly infuenced by market dynamics. Consequently, there is a strong pressure on the research institutions that they should be able to achieve and produce concrete research results effectively, eficiently, and productively, as well as meeting rapidly change market demand. ABSTRAK Tulisan ini melaporkan hasil studi literatur tentang perkembangan metodologi penelitian modern berwawasan sistem. Maksud para peneliti untuk memutakhirkan metodologi penelitian ialah karena sekarang penelitian bukan memenuhi selera akademik saja, tetapi sudah menjadi bagian integral yang tak terpisahkan dari kegiatan bisnis modern, sehingga sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar. Akibatnya, institusi penelitian sangat dituntut untuk mampu berprestasi dan mampu menghasilkan karya-karya penelitian nyata secara efektif, efisien, dan produktif, sekaligus mampu memenuhi permintaan pasar yang cepat berubah
Sintesis dan Karakterisasi Kopolimer Iradiasi Cangkok Asam Akrilat, Akrilamida dan Campurannya Pada Serat Rayon Sebagai Penukar Ion
ABSTRAKTelah dilakukan sintesis dan karakterisasikopolimer iradiasi cangkok asam akrilat (AA), akrilamid (Am) dan campurannyapada serat rayon sebagai penukar ion. Pencangkokan dilakukan dengan metodeiradiasi sebelum polimerisasi dalam atmosfir nitrogen/inert, menggunakanpelarut air-metanol dengan perbandingan 90:10 (v/v). Penelitian ini bertujuanmendapatkan kondisi optimum proses pencangkokan untuk memperoleh serat yangdapat diaplikasikan sebagai penukar ion. Parameter yang dipelajari adalahpengaruh dosis total, kestabilan radikal, konsentrasi monomer, waktu dantemperatur pencangkokan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa persentasepencangkokan meningkat dengan bertambahnya dosis total, konsentrasi monomerakrilat dan akrilamida, waktu dan temperatur reaksi. Untuk monomer asam akrilatkondisi optimum adalah pada dosis 10 kGy, konsentrasi monomer 40%, waktu reaksi15 menit dan temperatur reaksi 45°C dengan persentase pencangkokan tertinggiyang diperoleh sebesar 530%. Untuk monomer akrilamida kondisi optimum padadosis 8 kGy, konsentrasi monomer 30%, waktu reaksi 30 menit dan temperaturreaksi 70°C dengan persentase pencangkokan tertinggi yang diperoleh adalah470%. Untuk pencangkokan campuran dengan kondisi dosis 8 kGy, konsentrasimonomer campuran 30%, temperatur pencangkokan 45°C dan waktu pencangkokan 60menit didapatkan persentase pencangkokan sebesar 300%. ABSTRACTSynthesis and characterization of graftedacrylic acid (AA) , acrylamide (Am) and their mixture (AmAA) onto rayon fiberas ion exchange have been carried out. The grafting conducted bypre-irradiation technique in a nitrogen/inert atmosphere. Solvent used in thegrafting is methanol-water mixture with composition of 10:90 (v/v). Theobjectives of this research are to find out the optimum conditions for graftingprocess, and to characterize graft-copolymer that can be used as ion exchanger. Parameters of the process studied in this research are total irradiation dose, radical stability, monomer concentration, reaction time and temperature of the grafting. The results also showed that grafting percentage increases with the increase of total irradiation dose, acrylic acid and acryalmide concentration, reaction time and the temperature. It can be concluded from the results that the optimum conditions for acrylic acid monomer are as follows: total irradiation dose 10 kGy, monomer concentration 40% (v/v), reaction time 15 minutes and reaction temperature 45°C, the maximum grafting percentage obtained was 530 %. The optimum conditions for acrylamide monomer are as follows: total irradiation dose 8 kGy, monomer concentration 30% (v/v) , reaction time 30 minutes and reaction temperature 70°C, the maximum grafting percentage obtained was 470 %. For the mixture of acid and amide the optimum conditions were as follows: total irradiation dose 8 kGy, monomer mixture concentration 30 % (v/v), reaction time 60 minutes and reaction temperature 45°C, the maximum grafting percentage was 300% .
Kajian Pelatihan Tanggap Darurat
ABSTRAK Tanggap darurat atau Kesiapsiagaan Nuklir merupakan persyaratan keselamatan radiasi dalam pemanfaatan tenaga nuklir, sesuai Peratuan Kepala (Perka) BAPETEN N0. 1 Tahun 2010. Kompetensi personil untuk melaksanakan hal tersebut dapat diperoleh melalui pelatihan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) BATAN memiliki tugas menyelenggarakan pelatihan, sehingga kompetensi personil dalam semua bidang yang diperlukan dapat dicapai. Penyelenggaraan pelatihan dilakukan dengan metode Systematic Approach to Training (SAT), meliputi analisis kebutuhan, pengembangan pelatihan, pelaksanaan, dan evaluasi pelatihan. Dalam pengembangan pelatihan dilakukan penyusunan kurikulum yang perlu dievaluasi atau dikaji untuk penyempurnaan penyelenggaraan lebih lanjut. Keberhasilan pencapaian kompetensi personil sangat ditentukan oleh kurikulum pelatihan. Pelatihan tanggap darurat yang sudah diselenggarakan oleh Pusdiklat BATAN adalah pelatihan Radiological Assesment, Emergency Preparedness and Responses, Pengkajian Dosis, yang masing-masing untuk mencapai kompetensi menyusun rencana tanggap darurat, menanggulangi kedaruratan tingkat lokal sesuai tingkat nasional, menghitung dosis okupasi dan dosis kecelakaan. Berdasarkan kompetensi yang akan dicapai dalam pelatihan tersebut, maka pelatihan tersebut dapat diurutkan, tingkat pertama adalah Emergency Preparedness and Responses yang diperuntukkan bagi petugas Penanggulangan Keadaan Darurat (PKD) dan sebaiknya kurikulum ditinjau ulang; Tingkat kedua adalah pelatihan Pengkajian Dosis diperuntukkan bagi Pengkaji Radiologi, dimana kurikulumnya sudah memenuhi kompetensi yang akan dicapai. Pengkaji Radiologi sebaiknya berpengalaman sebagai petugas PKD. Tingkat ketiga adalah pelatihan Radiological Assesment yang diperuntukkan bagi personil yang memiliki tanggung jawab menyusun rencana PKD Nuklir, antara lain Penanggung Jawab dan Pengendali Operasi PKD, dimana kurikulumnya sudah memenuhi kompetensi yang akan dicapai. Sebaiknya pesertanya pernah mengikuti pelatihan Environmental Radiation Monitoring dan Pengkajian Dosis. ABSTRACT Emergency response or Nuclear Preparedness is a radiation safety requirements in the use of nuclear energy, in accordance with Bapeten 's Chairman Regulation NO. 1/2010. Competence of personnel to implement it can be acquired through training. Centre for Education and Training BATAN has conducted training tasks, so that the need of personnel competence in all fields can be achieved. Implementation of training was conducted using Systematic Approach To Training ( SAT) , including needs analysis, training development, implementation, and evaluation of training. In the development of training, curriculum need to be evaluated or assessed for the improvement of further implementation. The successful achievement of the personnel competence is determined by the training curriculum. Emergency response training has been organized by Center for Education and Training-BATAN is Radiological Assessment, Radiological Emergency Preparedness and Responses, Dose Assessment. Based on competencies to be achieved in the training, the training can be sorted by several level. First level is Radiological Emergency Preparedness and Responses Training for emergency worker and the curriculum should be reviewed; second level is Dose Assessment Training intended for Radiological Assessor . The curriculum has met the competencies to be achieved. Radiological Assessor should be experienced as an emergency worker. Radiological Assessment training is for personnel who have the responsibility to plan Nuclear Emergency, such as Person in Charge and Operations Controller. The curriculum meets the competencies to be achieved. Training participants should have followed the Environmental Radiation Monitoring and Dose Assessment.
Daerah Geologi Cileungsi Jawa Barat Sebagai Daerah Kerja Praktek Lapangan Diklat Prospektor II
ABSTRAK Dalam rangka meningkatkan pengetahuan eksplorasi Uranium bagi para teknisi/prospektor telah dilakukan Diklat Prospektor I sebanyak 3 (tiga) kali. Untuk lebih meningkatkan profesionalisme maka perlu diadakan Diklat Prospektor II yang disertai dengan kerja praktek lapangan. Faktor-faktor yang digunakan untuk mempertimbangkan pemilihan lokasi kerja praktek lapangan adalah prioritas eksplorasi, materi Diklat dan data non teknik. Berdasarkan faktor-faktor tersebut diatas maka telah dipilih daerah Geologi Cileungsi Jawa Barat sebagai daerah kerja praktek lapangan yang sesuai.
Aplikasi Log Gamma Ray Untuk Analisis Sensitivitas Guna Menentukan Sudut Impedansi Elastik Yang Paling Sensitif Dalam Memisahkan Litologi Batupasir dan Batulempung
Metode inversi Impedansi Elastik atau Elastic Impedance (EI) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi litologi reservoir batupasir di Lapangan "D", Formasi Talang Akar, Cekungan Jawa Barat Utara. Zona target yang berada pada Formasi Talang Akar ini, merupakan lapisan TAF-3-1 yang berada pada kedalaman 2780 m - 2805 m dengan litologi perselingan antara batupasir dan batulempung. Prinsip dasar log Gamma Ray (GR) adalah perekaman intensitas zat radioaktif yang secara alami dan kontinu dipancarkan oleh batuan yang mengandung zat radioaktif (Thorium-Th, Uranium-U, dan Potassium-K). Oleh karena itu, fungsi utama log GR dalam aplikasi stratigrafi dan geologi minyak bumi yaitu untuk membedakan antara lapisan permeabel dan lapisan impermeabel. Analisis yang dilakukan pada data sumur adalah analisis sensitivitas yang digunakan untuk memisahkan antara litologi batupasir dan batulempung yang dilakukan dengan cara melakukan crossplot antara log turunan EI pada sudut 0º-30º dengan log GR dilakukan di sekitar zona target TAF-3-1 dengan kedalaman 2192 m - 2202 m. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa sudut EI yang paling sensitif dalam memisahkan antara litologi batupasir dan batulempung adalah sudut 30º
Penentuan Perubahan Tebal dengan Metode Variasi Densitas Film
ABSTRAK Perubahan tebal pada suatu material dapat ditentukan berdasarkan persamaan hubungan antara perubahan tebal material dengan densitas film hasil radiografi. Densitas yang dijadikan sebagai acuan adalah densitas pada bagian material yang terdapat perubahan tebal, pada bagian material nominal, dan pada badan IQI tipe lubang yang ditempatkan di atas material nominal. Penelitian dilakukan terhadap material carbon steel bentuk pelat dengan ketebalan 10 mm yang diberi celah datar bawah menggunakan mesin sinar-X Rigaku Radioflex RF-Z50 EGM dengan tegangan tabung 120 KV, dan digunakan IQI ASTM tipe lubang nomor 17. Hasil percobaan kemudian dibandingkan dengan hasil pengukuran menggunakan caliper dan diperoleh perbedaan 15,93%. Hasil penelitian lebih lanjut dengan variasi tebal celah, variasi tebal penetrameter lubang, dan variasi tegangan tabung sinar-X, menunjukkan bahwa penerapan metode ini pada berbagai kedalaman celah dan berbagai tebal IQI diperoleh hasil dengan ketelitian yang hampir sama. Pengujian lebih teliti dapat dilakukan dengan meningkatkan tegangan tabung sinar-X. Berdasarkan hasil yang diperoleh, ketelitian yang paling tinggi sebesar 2,3% didapatkan pada tegangan tabung 150 KV. Penelitian ini merupakan penelitian awal yang perlu dikaji lebih lanjut dengan penerapan metoda statistik dan dikembangkan untuk material lain dengan bentuk geometri yang berbeda baik dengan atau tanpa pelindung (cladding).
Experiments of Pulse-Shape Discrimination Technique of Alpha- and Beta (X, gamma)-Particles with Uses of a Phoswich and a CsI(Tl) Scintillation Detectors
ABSTRACT A phoswich or sandwich-type scintillation detector consisted of a thin layer of ZnS(Ag) and a plate of NE 102A plastic scintillator and a single crystal-type CsI(Tl) scintillation detector have been applied to differentiate alpha- and beta (X, gamma)- particles by means of pulse shape discrimination (PSD) technique. In this experiment, rise time distributions of alpha- and beta-particles have been measured with uses of a couple of sources of 241Am and 90Sr (90Y) and a 93.3% enriched uranium-aluminum alloy. Rise time resolution of the PSD spectrometer has been measured as 8.8ns ± 1.2% in terms of FWHM (FWTM: l6.3ns), which has been measured with a pulse generator. The most probable rise times of ZnS(Ag)/NE 102A detector have been obtained as 1.473µs ± 0.3% with the FWHM of 40ns for alpha-particles (ZnS(Ag)) and as 32.2ns ± 4.8% with the FWHM of 18ns for beta (X, gamma)-particles (NE l02A). The most probable rise time of the CsI(Tl) detector has been determined as 1.288µs ± 0.l% with the FWHM of 54ns for alpha-particles and as 1.435µs ± 0.l% with the FWHM of 44ns for beta (X, gamma)-particles. It has been clarified that the PSD system equipped with the ZnS(Ag)/NE 102A and the CsI(Tl) detectors gives clearly differentiated count rates and spectra of alpha- and beta (X, gamma)-particles, and application of the PSD system to, for example, screening-out of the radwastes contaminated with alpha-emitters is expected to be very effective.