Widyanuklida
Not a member yet
98 research outputs found
Sort by
Keefektifan Pelaksanaan Program Proteksi Radiasi di Unit Kerja
ABSTRAK Saat ini aplikasi teknologi nuklir telah dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan. Aplikasi tersebut telah memberikan keuntungan kepada umat manusia. Walaupun demikian, sifat energi nuklir juga mempunyai potensi bahaya radiasi, sehingga setiap kegiatan yang terkait dengan pemakaian teknologi nuklir harus dikontrol secara memadai. Untuk mengendalikan aktivitas tersebut, Komite Intemasional untuk Proteksi Radiasi (International Committee on Radiological Protection, ICRP) merekomendasikan suatu sistem proteksi radiasi yang didasarkan pada tiga prinsip utama, yaitu: justifikasi, optimisasi dan limitasi dosis. Rekomendasi tersebut dapat diterapkan melalui beberapa tataran (level), seperti peraturan, manajemen dan operasional. Untuk maksud pelaksanaan tataran manajemen dan operasional, Badan Tenaga Atom Intemasional (International Atomic Energy Agenqy, IAEA) memperkenalkan suatu Program Proteksi Radiasi yang mencakup beberapa elemen. Tulisan ini akan memberikan gambaran tentang bagaimana mengevaluasi keefektifan suatu Program Proteksi Radiasi (RPP) di suatu unit kerja. Pelaksanaan evaluasi dapat dilakukan berdasarkan rekord dosis individu pekerja radiasi ataupun melalui pengamatan pada berbagai pelaksanaan elemen-elemen RPP. Tujuan utama dari evaluasi ini adalah untuk lebih meningkatkan keefektifan pelaksanaan suatu RPP. ABSTRACT The application of nuclear technology had been used in various types of field at the moment. The application of the technology has given many advantages to human being. However, due to the nature of nuclear energy, which also has radiation hazards, it is imperative that every activity, which is related to nuclear energy as well as nuclear technology, be controlled appropriately. To control such activity, The International Committee on Radiological Protection (ICRP) recommends a system of radiation protection based on three major principles (Publication 60); i.e. justification, optimization, and dose limitation. The recommendations can be applied at several levels in order to control the hazards from radiation. These levels are regulatory, management and operational. For the purpose of management and operational level, IAEA introduce a Radiation Protection Program (RPP)-which covers some elements. This paper will describe on how to evaluate the effectiveness of the program applied in the certain unit. The evaluation can be carried out based on the radiation individual dose record of the employees as well as observation on the implementation of RPP's elements. The main objective of the evaluation is to improve the effectiveness of implemented RPP
Computers Bring New Oppotunities to Education & Training in Science & Technology
All of us at Pusdiklat know very well that our country, through the GBHN statements, and also Batan, through its mission & vision statements, stressed the highest priority of human resources development as an important element in our attempt to survive - even to make progress - in the 21st century that will come soon. Naturally, as the education & training center of Batan, Pusdiklat must shoulder most of this heavy burden. Unfortunately, with our limited education & training budget, especially in the face of our country's problem of financial crisis, the burden on Pusdiklat's shoulders is extra heavy, and we really have to think and work very hard to accomplish Pusdiklat's "mission impossible".
Usulan Nilai Pembatas Dosis Bagi Pekerja Radiasi dan Peserta Pelatihan di Pusdiklat BATAN
Pembatas dosis merupakan penerapan persyaratan proteksi radiasi yaitu prinsip optimisasi. Dasar hukum penetapan pembatas dosis diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif serta Peraturan Kepala BAPETEN No. 4 tahun 2013 tentang Proteksi dan Keselamatan Radiasi dalam Pemanfaatan Tenaga Nuklir. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Pusdiklat BATAN) telah menerapkan pembatas dosis bagi pekerja radiasinya, yaitu 10 mSv dalam 1 tahun. Nilai ini ditetapkan berdasarkan asumsi beban kerja pekerja radiasi di Pusdiklat dalam 1 tahun adalah 1000 jam dan laju dosis maksimum 10 µSv/jam. Sejak ditetapkan pada tahun 2008, Pusdiklat belum melakukan kaji ulang terhadap pembatas dosis yang ada. Oleh karena itu dipandang perlu dilakukan kaji ulang terhadap nilai pembatas dosis bagi pekerja radiasi di Pusdiklat dan pengusulan penetapan pembatas dosis bagi peserta pelatihan di Pusdiklat, dengan tujuan agar semua pihak yang bekerja dengan sumber radiasi di Pusdiklat menerima dosis radiasi serendah mungkin. Berdasarkan evaluasi dosis tahunan pekerja radiasi selama periode tahun 2007 sampai dengan tahun 2015, maka diusulkan pembatas dosis bagi pekerja radiasi di Pusdiklat adalah 5 mSv. Sedangkan untuk peserta pelatihan, berdasarkan evaluasi dosis yang diterima dari 1237 peserta pelatihan, maka diusulkan pembatas dosis bagi peserta pelatihan di Pusdiklat adalah 18 µSv per pelatihan
Perkembangan SDM Analisis Aktivasi Neutron
ABSTRAK Analisis Aktivasi Neutron (AAN) merupakan kompetensi utama BATAN. AAN merupakan analisis unsur yang bersifat multiunsur, selektif dan sangat sensitif yang sudah diterapkan antara lain di bidang lingkungan, kesehatan dan industri. Kelompok Kerja AAN merupakan suatu wadah koordinasi kegiatan AAN BATAN yang melibatkan satker PTAPB, PTNBR, PTBIN, PRSG, PATIR, PTKMR, Pusdiklat, STTN, PPIN dan PSJMN. Sejak tahun 2007, pokja AAN setiap tahun melakukan kegiatan seperti rapat koordinasi, uji banding, pertemuan teknis dan Seminar Nasional AAN. Sejak tahun 2007, pokja telah melakukan kegiatan uji banding yang diiikuti peserta dari PTAPB, PTNBR, PTBIN, PATIR, PTKMR dan Pusdiklat. Seminar Nasional AAN juga sudah dilakukan 4 kali, yaitu tahun 2008 di Bandung, tahun 2009 di Yogyakarta, tahun 2010 di Serpong dan tahun 2011 di Pasar Jumat Jakarta. Pelatihan untuk personil AAN sudah dilaksanakan sejak tahun 2003. Personil AAN yang sudah mendapatkan sertifikasi adalah 15 orang sebagai Teknisi Preparasi Sampel dan 19 orang sebagai Teknisi Spektrometer Gamma. ABSTRACT Neutron Activation Analysis (NAA) is a core competency of BATAN. NAA is an elemental analysis which is multielemental, selective and highly sensitive that has been applied in environment, health and industry. The Working Group is a forum of coordinating NAA BATAN activities participated by PTAPB, PTNBR, PTBIN, PRSG, PATIR, PTKMR, Pusdiklat, STTN, PPIN, and PSJMN. Annually, NAA working group runs activities such as coordination meeting, proficiency test, technical meeting and National Seminar on NAA. Since the year of 2007, proficiency test has been done since 2007, followed by participants from PTAPB, PTNBR, PTBIN, PATIR, PTKMR and Pusdiklat. National Seminar NAA has also been conducted since 2008, in Bandung, Yogyakarta, Serpong and Jakarta, respectively. Training for NAA personnel have been conducted since 2003. BATAN has certified 15 technicians for Sample Preparation and 19 technicians for Gamma Spectrometer.
Diklat Penjenjangan Bagi Pejabat Fungsional Dasar Keahlian Radiokimia dan Kimia Radiasi I
Dari kegiatan telaahan yang lampau dapat diidentifikasikan bahwa untuk para pejabat fungsional, karena tugas pokoknya, diperlukan diklat penjenjangan yang berorientasikan pada kemampuan mengelola kegiatan dalam jabatannya. Dari tiga Semiloka dan satu Lokakarya yang diselenggarakan oleh Batan telah diperoleh berbagai kesepakatan yang diperlukan guna merancang pola diklat berjenjang. Kesepakatan tersebut ialah, antara lain, jumlah strata dalam berbagai Jabatan Fungsional, jenis bidang keahlian, perencanaan/pengembangan sumber daya manusia di Batan berdasarkan Program Jangka Panjang dan Program PELITA VI Batan. Dari sumber ini dapat disusun berbagai pengetahuan yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan para pejabat fungsional dimaksud.
Penentuan Faktor Intensitas Tegangan Dengan Metode Kaustik
Cahaya laser yang dilewatkan melalui ujung retakan yang terdeformasi lokal dideviasikan secara berbeda membentuk sebuah selubung permukaan yang disebut kaustik. Dilakukan penentuan faktor intensitas tegangan ragam I pada bahan bening yang retak dengan pengukuran diameter kaustik. Sumber cahaya yang digunakan adalah laser He-Ne dengan daya 5 mW dan panjang gelombang 6328 Å. Dalam penerapan metode ini untuk bahan bening, perlu mengetahui besarnya koefisien tegangan optik dari bahan tersebut dengan menggunakan metode kaustik yang dipadukan dengan metode interferometri. Hasil penentuan koefisien tegangan optik dengan kaustik cahaya pantulan adalah 1,77 x 10-5 cm2/kg dan dengan kaustik cahaya terusan adalah 1,26 x 10-5 cm2/kg. Hasil perhitungan Faktor Intensitas Tegangan ragam I menggunakan diameter kaustik cahaya pantulan dibandingkan dengan perhitungan secara teori terdapat perbedaan ±1,96 (4,86%), sedangkan hasil perhitungan Faktor Intensitas Tegangan ragam I menggunakan diameter kaustik cahaya terusan dibandingkan dengan perhitungan secara teori terdapat perbedaan ±1,68 (4,09%)
Osiloskop dan Pembangkit Gelombang Virtual Berbasis LabVIEW Menggunakan Antarmuka Kartu Suara
ABSTRAK Osiloskop dan pembangkit gelombang adalah perangkat yang sangat penting khususnya dalam bidang elektronika baik untuk penelitian maupun praktikum. Agar data hasil pengukuran dapat langsung tersimpan komputer dan gambar sinyal dapat terekam dalam bentuk file adalah efektif jika alat ukur tersebut terintegrasi di dalam komputer dalam bentuk perangkat lunak. Perangkat lunak yang dibuat adalah Osiloskop dan Pembangkit Gelombang menggunakan bahasa pemrograman berbasis grafis LabVIEW versi 5.11. dengan antarmuka kartu suara. Alasan penggunaan antarmuka kartu suara karena merupakan perangkat standar komputer saat ini dengan harga relatif murah. Hasil pengujian unjuk kerja sistem perangkat lunak ini terutama untuk pengukuran amplitudo dan frekuensi menunjukkan adanya linieritas antara masukan dan keluaran. Dengan bantuan terminal penghubung yang berisi rangkaian pembagi tegangan perangkat lunak osiloskop secara teori mampu mengukur amplitudo sampai dengan 120 Vpp dan secara paktek telah dilakukan pengukuran sampai dengan 60 Vpp. Pengukuran frekuensi terbatas sampai dengan 22 KHZ karena laju pencuplikan kartu suara hanya 44100 Hz. ABSTRACT The Virtual Osciloscope and Function Generator Based on LabVIEW programme using Sound Card Interface has been made. The oscilloscope and function generation are very important tools especially in electronic field whether for research or practice exercise. These are effective if the oscilloscope and Function Generator tools are packed as a software so that the meassured data and picture of waveform can directly be saved on computer. The software is made by LabVIEW programming using sound card interface by the reason that it is cheaper and has been a standard of computer today even has built in a motherboard. The result of testing the performance of this software, there are linear relationship between input and output. By using a terminal connector of voltage devider, this software is capable for meassuring input signal teoritically up to 120 Vpp and practically has meassured 60 Vpp. Meassuring of frequency is limitted up to 22 KHz because the sampling rate of sound card is just 44100 Hz
Korosi di Industri Nuklir
ABSTRAK Industri nuklir yang mendasarkan nilai tambahnya pada pemanfaatan iptek nuklir tidak luput dari ancaman korosi. Korosi di industri nuklir dapat menimbulkan kerugian ekonomi akibat berkurangnya masa produktif dan bahkan terjadinya kecelakaan. Dibahas sifat bahan yang digunakan di industri nuklir dan proses korosi serta pencegahan dan penanganannya. Disajikan kemungkinan pemanfaatan aktivasi lapisan tipis sebagai salah satu metoda analisis berdasarkan iptek nuklir untuk deteksi dan pengukuran laju korosi di industri nuklir. ABSTRACT Nuclear industries employing nuclear science and technology for its added value processes are object of corrosion. Corrosion in these industries may lead to an economic loss due to the decrease of the life-time and even an accident. Materials utilized in these industries as well as the corrosion processes and its protection and treatment are described. The possibility of thin layer activation utilization as a nuclear-based analytical method for detecting and measuring the corrosion rates in these industries is presented
Karakterisasi Penukar Ion Hasil Kopolimersasi Grafting Serat Rayon Dengan Asam Akrilat dan Akrilamida
ABSTRAK Telah dilakukan karakterisasi kopolimer grafting radiasi asam akrilat (AA), akrilamid (Am) dan campurannya pada serat rayon sebagai penukar ion. Karakterisasi dengan SEM menunjukkan bahwa serat rayon yang tergrafting 300% memiliki diameter serat lebih dari 2 kali diameter semula. Selain itu pada serat yang telah di grafting menunjukkan penurunan kristalinitas disebabkan oleh rusaknya fasa kristalin yang diamati dari difraktogram XRD. Pengamatan terhadap spektrum serapan FT-IR dan DSC menunjukkan bahwa akrilat dan akrilamid tergrafting dengan baik pada serat rayon dan meningkatkan ketahanan termalnya. Kapasitas pertukaran yang dilakukan dengan ion Cu2+ pada pH 5, untuk serat rayon-g-AA dengan persen grafting 300% adalah 4.25 mek/g serat dan 2,12 mek/g untuk serat rayon-g-Am dengan persen grafting 101%. Untuk Rayon-g-AmAA (300%) diperoleh kapasitas pertukaran sebesar 3,67 mek/g serat. Keseluruhan serat memiliki kemampuan regenerasi di atas 98%, ini menandakan serat dapat digunakan secara berulang. Urutan selektivitas serat terhadap ion Cd2+, Cu2+, Ni2+ dan Co2+ adalah rayon-g-AA > rayon-g-AmAA > rayon-g-Am. Bila dilihat dari nilai koefisien distribusi beberapa logam yang diuji, maka serat rayon-g-AmAA diharapkan paling baik digunakan untuk keperluan pemisahan. ABSTRACT Synthesis of grafted acrylic acid (AA) , acrylarnide (Am) and their mixture (AmAA) onto rayon fiber as ion exchange has been carried out. The characterization of the grafted Rayon-g-AA, Rayon-g-Am and Rayon-g-AmAA copolymer are implemented by FTIR, DSC, SEM, XRD. DT A and TGA. The ion exchange properties of graft copolymer studied in this research are its capacity and selectivity to many ion. The characterization by SEM shows that the diameter of rayon fiber of 300% grafting becomes twice of its original size. It is also known that the grafted fiber has lesser crystalinity due to the damage of crystalin face. Analysis of absorption spertrum of FTIR as well as DSC data that acrylic acid and acrylamide are grafted onto rayon fiber. Thermal stability of grafted rayon fiber is better than that of ungrafted. The result shows that the ion exchange capacity of Rayon-g-AA is better than Rayon-g-AmAA, while Rayon-g-AmAA is better than Rayon-g-Am. Rayon-g-AA, has a good selectivity for Cd2+-, Cu2+, Ni2+, Co2+ ion. Based on the metal distribution coefficient value it can be concluded that Rayon-g-AA, is the best fiber used for ion exchange and separation propose
Aplikasi Metode Elemen Hingga Pada Masalah Gelombang Elektromagnet
ABSTRAK Pada makalah ini dijelaskan salah satu penerapan metode elemen hingga pada persoalan elektromagnet dengan electromagnetic analysis program (EMAP). EMAP merupakan kode program pemodelan elemen hingga tiga dimensi berbasis elemen tetrahedral skalar yang dapat digunakan untuk menghitung distribusi medan elektromagnet pada struktur tiga dimensi sederhana. Metode Galerkin diterapkan pada elemen tetrahedral skalar untuk memperoleh penyelesaian pendekatan. Kode program EMAP ini dibuat dalam bahasa C. Konfigurasi masukan yang diberikan ke EMAP berupa file berbentuk teks dan numerik, dan menghasilkan keluaran dengan format yang sama dengan input. Output dari kode program merupakan sekumpulan numerik yang merupakan titik-titik koordinat dan kuat medan listrik pada tiap titik koordinat pada domain komputasi. Data numerik relatif sulit untuk diinterpretasi sehingga diperlukan program bantu untuk mengubah data numerik tersebut menjadi bentuk grafik. Perangkat lunak Jandel Sigma Plot 3.0 digunakan untuk memvisualkan data numerik tersebut. Sedangkan paket program pengolah data Microsoft Excell versi 7.0 digunakan agar format output yang dihasilkan oleh kode program sesuai dengan format perangkat lunak Jandel Sigma Plot 3.0. Eksperimen numerik dilakukan untuk mengetahui distribusi medan listrik pada pemandu gelombang (waveguide) persegi empat. Mode TM digunakan untuk mengetahui perambatan gelombang elektromagnet di dalam waveguide tersebut. ABSTRACT This paper reports on an application of the finite element method to analyze electromagnetic problems using ElectroMagnetic Analysis Program or EMAP. EMAP is a three dimensional finite element modelling code. This finite element method is based on the nodal element that can be used to solve field distribution in a simple three dimensional structures. The Galerkin method is employed to formulate the Maxwell equation in the tetrahedral elements. The source code of EMAP is written in the C programming language. The code reads the input configuration in as an ASCII text file, and provides output in the same form. Out put from the source code consists of a listing of the nodal coordinates and electric field strength at each node. These numerical data are not easily understood, so a post processing is needed to manipulate them into a graphical output. To do so, the data are rearranged by the spreadsheet Microsoft Excell, and then plotted by Jandel Sigma Plot 3.0 for a visualization. A number of experiments is carried out to investigate the electric field strength distribution in the computation domain. The TM mode are chosen to illustrate wave propagation in a rectangular waveguide