IKESMA
Not a member yet
348 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN PENGUKURAN KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DAN KEPERCAYAAN PADA PUSKESMAS
Hampir semua pengukuran mutu berbasis pada pelayanan kesehatan di rumah sakit, dan masih terbatas instrumen pengukuran service quality dan kepercayaan (trust) pada pelayanan di Puskesmas. Healthcare Service Quality (HCSQ) merupakan salah satu konsep pengukuran kualitas pelayanan kesehatan yang banyak digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan instrumen pengukuran kualitas layanan terhadap kepercayaan di Puskesmas. Jenis penelitian ini adalah pengembangan instrumen dengan jumlah sampel 50 pasien di Puskesmas Semboro. Instrumen yang dikembangkan berupa angket melalui beberapa tahapan, yaitu penerjemahan, menyesuaikan dengan karakteristik Puskesmas, evaluasi dari para ahli, trial pada tiga responden, kemudian uji validitas dan penerapan. Hasil dari penelitian ini adalah instrumen yang dikembangkan oleh peneliti telah melewati 6 tahapan dari evaluasi oleh para ahli hingga uji analisis data. Hasil uji instrumen dalam mengukur kualitas layanan yang terdiri dari sikap, perilaku (attitude behaviour), keahlian (expertise), proses kualitas (proses quality), dan kepercayaan (trust) memiliki model yang baik, validitas konstruk dan reliabilitas memenuhi syarat. Sebanyak 15 item pertanyaan kepercayaan pada jurnal asli digunakan semua oleh peneliti karena cocok untuk diadaptasikan untuk kepercayaan pasien pada Puskesmas. Dimensi attitude and behaviour terdapat 16 item pertanyaan yang digunakan pada rumah sakit, dan peneliti mengadaptasi instrumen tersebut menjadi 11 item sesuai kondisi di puskesmas. Pada dimensi expertise memiliki 7 item instrumen asli dengan hasil pengembangan menjadi 4 item, dimensi process quality terdapat 7 item instrumen menjadi 5 instrumen yang digunakan
PENGARUH TINGKAT SPIRITUALITAS TERHADAP KUALITAS HIDUP PASIEN HIV/AIDS
Perkembangan epidemi infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) menjadi masalah di seluruh dunia termasuk Indonesia. Penderita HIV/AIDS dalam kehidupan sehari-hari dituntut untuk mampu menghadapi masalah yang kompleks, baik fisik, psikis, maupun spiritual. Kompleksitas masalah yang dihadapi berdampak pada kualitas hidup penderita HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh tingkat spiritualitas terhadap kualitas hidup pasien HIV/AIDS. Metode kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif korelasional menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah pasien baru HIV yang pengobatan ARV sebanyak 44 pasien. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor spiritualitas adalah 111,5 dan sebagian besar dengan tingkat spiritualitas kategori baik. Rata-rata skor kualitas hidup adalah 108,23 dan sebagian besar dengan tingkat kategori baik. Hasil uji statistic P value = 0,000 berarti ada pengaruh tingkat spiritualitas terhadap kualitas hidup pasien HIV/AIDS dengan korelasi kuat kearah postif
DETERMINAN UTILISASI LAYANAN ANTENATAL CARE 6 KALI DI KOTA SAMARINDA
Rendahnya pemanfaatan pelayanan ANC 6 kali akan berdampak pada tidak terpantaunya kondisi kehamilan yang dapat menyebabkan tanda bahaya kehamilan tidak terdeteksi dan dapat berujung pada kematian ibu. Tujuan penelitian adalah menganalisis determinan utilisasi layanan ANC 6 kali oleh ibu hamil di Kota Samarinda. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil di Kota Samarinda tahun 2021 berjumlah 14.803 orang. Variabel bebas adalah pengetahuan, aksesibilitas, fasilitas pelayanan, waktu pelayanan, sikap petugas kesehatan, dan persepsi ibu tentang kondisi kehamilan. Sedangkan variabel terikat adalah utilisasi layanan ANC 6 kali. Analisis data menggunakan uji statistik chi-square. Hasil menunjukkan bahwa responden berpengetahuan tinggi sebesar 69,6%, memiliki aksesibilitas yang mudah ke fasilitas kesehatan sebesar 61,5%, menilai fasilitas pelayanan sudah baik sebesar 77,0%, menilai waktu pelayanan sesuai standar sebesar 68,3%, menilai sikap petugas kesehatan baik sebesar 91,9%, persepsi ibu tentang kondisi kehamilan yang mengalami kehamilan normal sebesar 83,9%, dan melakukan utilisasi layanan ANC 6 kali sesuai standar sebesar 54,7%. Ada hubungan antara pengetahuan (p = 0,000), aksesibilitas (p = 0,000), waktu pelayanan (p = 0,046), dan persepsi ibu tentang kondisi kehamilan (p = 0,039) dengan utilisasi layanan ANC. Tidak ada hubungan antara fasilitas pelayanan (p = 0,225) serta sikap petugas kesehatan (p = 0,521) dengan utilisasi layanan . Perlunya peningkatan pengetahuan ibu hamil terkait kehamilan, melengkapi fasilitas pelayanan yang ada, dan peningkatan pelayanan oleh petugas sesuai standar
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KINERJA PERAWAT SELAMA PANDEMI COVID-19 DI RSD dr.SOEBANDI KABUPATEN JEMBER
Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang berisiko tinggi terhadap penularan Covid-19 karena harus kontak langsung dengan pasien. Meskipun demikian kinerja seorang perawat harus tetap dijaga dengan baik untuk mempertahankan kualitas pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kinerja perawat dimasa pandemi Covid-19 yang terdiri dari karakteristik individu, faktor organisasi, dan faktor psikososial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif jenis analitik dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu 173 perawat RSD dr.Soebandi Jember sedangkan sampel yang diambil yaitu 120 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan paling banyak perawat berada pada kelompok usia dewasa awal, sebagian besar berjenis kelamin perempuan, sebagian besar lulusan DIII keperawatan/sederajat, dan sebagian besar memiliki masa kerja > 3 tahun. Sebagian besar perawat bekerja di ruang rawat inap nonisolasi Covid-19. Kondisi psikososial perawat paling banyak memiliki stres kerja rendah, mayoritas memiliki motivasi kerja tinggi dan sebagian besar memiliki dukungan sosial yang tinggi serta mayoritas memiliki kinerja yang baik. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa secara keseluruhan tidak terdapat hubungan antara karakteristik individu yaitu usia (p=0,949), jenis kelamin (p=1,000), tingkat pendidikan (p=1,000), dan masa kerja (p=1,000) serta variabel bagian kerja (p=0,551) dengan kinerja perawat. Faktor psikososial stres kerja tidak berhubungan dengan kinerja (p=0,104) sedangkan motivasi kerja (p=0,001) dan dukungan sosial (p=0,002) memiliki hubungan dengan kinerja perawat, mayoritas perawat memiliki kinerja yang baik. Pihak RSD dr.Soebandi diharapkan meningkatkan pelaksanaan program penanggulangan bahaya psikologis yang sudah ada di rumah sakit. 
ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN RUMAH DAN KEBERADAAN JENTIK AEDES AEGYPTI DI KELURAHAN TEBING TINGGI TAHUN 2022
Kelurahan Tebing Tinggi merupakan salah satu daerah tinggi kasus DBD, sejak Januari hingga September tahun 2022 kasus DBD mencapai 32 kasus. Kondisi lingkungan rumah dapat menjadi faktor pemicu perkembangan Larva nyamuk Aedes Aegypti di wilayah endemis DBD. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis berbagai faktor lingkungan rumah masyarakat dan hubungannya dengan kepadatan larva Aedes Aegypti di Kelurahan Tebing Tinggi. Penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Lokasi penelitian di Kelurahan Tebing Tinggi dengan populasi penelitian seluruh rumah tangga. Jumlah sampel yaitu 100 rumah dipilih secara acak dengan rumus slovin. Pengumpulan data, data primer dilakukan dengan wawancara menggunakan kuisioner Kobotoolbox, data sekunder diambil dari data profil Kesehatan Puskesmas Satria. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan taraf signifikansi 95%. Hasil Studi menemukan bahwa 34 rumah ditemukan larva nyamuk Aedes Aegypti. Berdasarkan hasil uji statistic dengan uji Chi-Square bahwa variabel Jumlah TPA menjadi satu-satunya faktor lingkungan yang mempengaruhi keberadaan larva Aedes Aegypti di Kelurahan Tebing Tinggi (p value 0,009). Dapat disimpulkan bahwa penanganan lingkungan rumah yang baik dapat dijadikan sebagai tindakan protektif dalam mencegah perkembangan larva Aedes Aegypti di Kelurahan Tebing Tinggi
EVALUASI PERILAKU KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA PADA PEKERJA EKOWISATA
Adanya tempat wisata tidak terlepas dari para pekerja didalamnya. Suatu pekerjaan pasti memiliki risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang dapat berupa fatigue, terjepit, terpeleset, tergores, kepanasan, terlindas, terjepit, terpapar debu, tertabrak wisatawan/pengemudi kendaraan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia, masa kerja, sikap dan pengaruh pengetahuan terhadap perilaku K3 di Ekowisata, serta pengaruh pelatihan terhadap peningkatan pengetahuan pekerja. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode action research, didahului dengan rancangan cross-sectional dan dilanjutkan dengan pelatihan untuk peningkatan pengetahuan. Sampel adalah seluruh pekerja ekowisata yang diambil dengan menggunakan teknik total sampling berjumlah 50 pekerja. Pengumpulan data mengenai perilaku K3 pekerja, usia, masa kerja, tingkat pengetahuan, dan sikap pekerja diperoleh melalui pengisian kuesioner sebagai instrumen penelitian. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil menunjukkan bahwa masih terdapat pekerja dengan pengetahuan, sikap, dan perilaku K3 yang kurang baik. Usia, masa kerja, tingkat pengetahuan, dan sikap pekerja menunjukkan tidak ada hubungan bermakna dengan perilaku K3 diantara para pekerja (nilai p>0,05). Tidak ada pengaruh pemberian pelatihan terhadap peningkatan pengetahuan pekerja (nilai p=0,840). Perilaku kesehatan dan keselamatan kerja diantara pekerja di Ekowisata Kabupaten Sleman tidak dipengaruhi oleh faktor usia, masa kerja, pengetahuan, dan sikap serta upaya pelatihan
JOB SATISFACTION AND TURNOVER INTENTION OF BLUD WORKERS AT TROSOBO PUBLIC PRIMARY HEALTH CARE
Job satisfaction is defined as a person's attitude or emotional response toward their job duties. Poor job satisfaction leads to turnover. Trosobo public primary health care staffing data showed a high turnover intention of BLUD workers. This study aims to determine the job satisfaction and turnover intention of BLUD worker at the Trosobo public primary health care. This study was quantitative study with a cross-sectional design. The research was conducted in November 2023 at Trosobo public primary care. Eleven BLUD workers were obtained using total sampling calculations. Data analyzed descriptively. The instruments used in this study were MSQ and TIS-6. The lowest average satisfaction score was recognition (43.64) and the highest were authority and achievement (80,00). Job satisfaction of BLUD workers was in the moderate category (score 26-74) and the turnover intention was in the high category (score >15). Trosobo public primary health care BLUD workers had a moderate category of job satisfaction and high turnover intention. Providing services based on workload and length of service, as well as opportunities for career development to BLUD workers, can be carried out by the Trosobo public primary health care as an effort to reduce the turnover proble
DINAMIKA TRANSFORMASI PENYULUHAN KESEHATAN DIGITAL PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI KABUPATEN SLEMAN
Kebijakan social/physical distancing secara koersif menggeser beragam aktivitas ke ranah virtual; termasuk dalam implementasi penyebaran informasi kesehatan melalui penyuluhan secara digital yang dianggap krusial selama pandemi. Penyuluhan digital menjadi salah satu manifestasi fungsi pembinaan kesehatan oleh lembaga kesehatan guna membangun masyarakat yang berdaya dalam bidang kesehatan di tengah pandemi. Nyatanya, realisasi penyuluhan kesehatan digital mengalami dinamika seiring dinamisnya kondisi lingkungan. Artikel ini bertujuan mengkaji dinamika transformasi penyuluhan kesehatan pada masa pandemi di Kabupaten Sleman. Penelitian ini bersifat kualitatif dan dilakukan dengan pendekatan studi kasus pandemi Covid-19 melalui teknik wawancara mendalam dan studi literatur. Informan penelitian ini terdiri dari pegawai Dinas Kesehatan dan Puskesmas, pengurus TP-PKK, Karang Taruna, kader kesehatan, dan civitas akademika yang berada di Kabupaten Sleman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika transformasi dapat diklasifikasi berdasarkan: (1) sebelum pandemi: transformasi menuju penyuluhan digital secara lambat dan linear (dominan dengan metode konvensional); (2) awal pandemi: transformasi penyuluhan secara digital bergeser secara revolusi dan masif, penyuluhan konvensional tidak diterapkan; (3) AKB: perlahan penyuluhan kembali secara konvensional dengan protokol kesehatan (porsi penyuluhan digital masih mendominasi). Dinamika transformasi dalam penyuluhan kesehatan digital saat awal pandemi merupakan perubahan revolusi temporer dan situasional dimana seiring berkurangnya tingkat kasus Covid-19 maka penerapan penyuluhan digital kembali berjalan melalui tahapan evolusi mengikuti perkembangan alamiah masyarakat. Hal ini juga dikarenakan masih terdapatnya kesenjangan digital; lekatnya struktur nilai dan norma masyarakat terhadap penyuluhan yang bersifat tatap muka; kondisi kesiapan sumber daya, serta sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan penyuluhan kesehatan secara digital
FAKTOR DETERMINAN KEJADIAN WASTING PADA BALITA DI TIMOR-LESTE: (ANALISIS DATA DEMOGRAPHICS HEALTH SURVEY)
Wasting merupakan satu-satunya faktor risiko terbesar yang mengakibatkan kematian dini dan kecatatan pada anak usia dibawah 5 tahun. Wasting disebabkan oleh banyak faktor, tujuan penelitian ini untuk menentukan determinan yang mempengaruhi kejadian wasting pada anak di Timor-Leste. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Demographics Health Survey (DHS) tahun 2016 di Negara Timor-Leste. Pengambilan sampel dengan simple random sampling, dengan unit analisis yaitu anak balita. Populasi sebesar 1128 dan sampel yang digunakan sebanyak 492. Variabel dependen yaitu kejadian wasting, sedangkan variabel independen meliputi jenis kelamin, usia anak, tempat tinggal, riwayat imunisasi, riwayat pendidikan ibu, sumber air bersih, status bekerja dan status ekonomi keluarga. Penentuan determinan dengan menggunakan uji regresi logistik binary. Balita yang tinggal di daerah pedesaan 1,9 kali lebih berisiko mengalami wasting dibandingkan balita yang tinggal di perkotaan dengan (OR 1,927; 95% CI: 1,170-3,172). Balita yang memiliki ibu tidak berpendidikan (OR 3,307; CI 95%: 1,418-7,714), balita dengan ibu berpendidikan dasar (OR 1,649; CI 95%: 0,690-3,940), serta balita yang memiliki ibu pendidikan menengah (OR 1,725; CI 95%: 0,777-3,831) berisiko wasting daripada balita dengan ibu berpendidikan tinggi. Balita yang memiliki riwayat imunisasi tidak lengkap akan berisiko 0,63 kali mengalami wasting dibandingkan dengan balita yang riwayat imunisasinya lengkap (OR 0,633; CI 95%: 0,424-0,947). Kesimpulannya, faktor determinan kejadian wasting pada anak balita di Timor-Leste adalah daerah tempat tinggal, pendidikan terakhir ibu balita dan riwayat imunisasi balita
TRENDS OF COSMETICS AND KOREAN FOOD AND ITS HALAL STATUS IN INDONESIAN TEENAGER PERSPECTIVE: A LITERATURE REVIEW
Indonesia is a country in Southeast Asia which dominated by Muslim population. This condition brings halal products to have a very large market share potential, especially food and cosmetic products. A large number of Muslim consumers in Indonesia raises new challenges with the high public interest in Korean food and cosmetics products, which some types of products do not have a halal label. Because Korea is not a Muslim country, most of the imported products are not halal. That condition could be marked as the importance of awareness towards imported products that have non-halal status risk. Furthermore, due to the research limitation of Indonesian teenagers’ perspective about halal status, we need to provide more certain information about halal status. The method for this study uses a literature review by searching for a literature database obtained from the Google Scholar search engine with inclusion criteria such as articles in English or Indonesian, published between 2011-2021, accessible in full text, and articles discussing the halal status of Korean products and adolescent perspective. Indonesia, especially Muslim teenagers towards Korean cosmetic and food products. The results show that Indonesian teenagers’ huge interest in Korean products, the product’s halal status is one of the factors that affect teenagers' intention to buy Korean food and cosmetics and it works as a key factor/their priority in purchasing products. Teenagers are concerned about the halal status of Korean food and this aspect becomes a priority when buying Korean food. The conclusion of this study is that the halal status of Korean food and cosmetic products has an effect on consumer buying interest