IKESMA
Not a member yet
348 research outputs found
Sort by
LITERATURE REVIEW: IDENTIFICATION OF TYPES OF BIOMARKERS FOR THE DETECTION OF ACUTE KIDNEY DISEASE AND CHRONIC KIDNEY DISEASE
Kidney disease is one of the global public health problems having high mortality rates. Patients suffering from kidney disease have the risk of experiencing losses in the form of mental health and financial state. Further identification of kidney disease biomarkers needs to be conducted to accelerate diagnostic activities so that the treatment can be carried out more quickly. This study is a literature review which was conducted to explore types of biomarkers that can be used to detect acute kidney disease and chronic kidney disease. The literature search was conducted in September 2021. The research sources were taken from several databases, namely Science Direct, ProQuest, PubMed, and Google Scholar. There were 49,115 articles found in Science Direct database, 161,983 articles found in ProQuest, 9,749 articles found PubMed, and 45,850 articles found in Google Scholar. Out of the entire database, only 21 articles met the inclusion criteria. The variables in this study were biomarkers, acute kidney disease, and chronic kidney disease. This literature review shows that the examination of biomarkers for acute kidney disease and chronic kidney disease can be done by taking urine and blood samples of the patient. There are 10 types of biomarkers that can be used to detect acute kidney disease and 41 types of biomarkers that can be used to detect chronic kidney disease. Acute kidney disease and chronic kidney disease can be diagnosed by examining the biomarkers present in the patient's body. The examination of biomarkers can reduce delays in the treatment of acute kidney disease and chronic kidney disease
KESIAPAN TENAGA KESEHATAN DALAM MELAYANI PENYANDANG DISABILITAS DI PUSKESMAS LAWANG
Meningkatnya jumlah penyandang disabilitas mendorong tingginya kebutuhan layanan kesehatan pada kelompok rentan. Tenaga kesehatan di Puskesmas menjadi gatekeeper yang memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesiapan tenaga kesehatan di Puskesmas dalam melayani penyandang disabilitas dan mendukung pemerataan akses layanan kesehatan di Indonesia. Penelitian ini berlokasi di Puskesmas Lawang Kabupaten Malang, menggunakan metode deskriptif, dengan survei cross-sectional yang melibatkan kuesioner yang diisi sendiri. Responden penelitian meliputi 40 tenaga kesehatan yang diambil secara simple random sampling. Penelitian ini menemukan bahwa 50% responden penelitian mempunyai tingkat kesiapan yang tinggi. Tetapi, terdapat sebagian responden yang masih perlu ditingkatkan kesiapan nya karena terkategori kurang 28% dan sedang 22%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat variasi tingkat kesiapan diantara tenaga kesehatan Puskemas. Dinas Kesehatan yang mempunyai peran dalam fungsi regulasi dan monitoring diharapkan untuk memberikan pelatihan terkait pelayanan penyandang disabilitas kepada staf Puskesmas terutama penanganan dari sisi perawatan dan pengobatan untuk kondisi disabilitas serta penggunaan bahasa isyarat untuk memudahkan komunikasi dengan penyandang disabilitas
PARENTAL SMOKING BEHAVIOR AND UNDERWEIGHT AMONG CHILDREN AGED 5-12 YEARS: EVIDENCE FROM RISKESDAS 2018
In recent years, underweight remains a medium public health problem in Indonesia, despite the substantial decrease in prevalence, still, this long-standing issue are potentially altering children physical growth and cognitive development. This current study aims to investigate the association between parental smoking behavior and underweight in children by analyzing secondary data of the 2018 Indonesia Basic Health Research (RISKESDAS). A total sample of 39,451 children aged 5-12 years were analyzed in this study. Anthropometric measurement of body weight was obtained to identify underweight. A structure questionnaire was employed to obtained information on child sex (male or female), age (5-8 or 9-12), type of residence (urban or rural), parental age (under or older than 35), education (high: higher education graduate or under), working status (working or not working) and smoking behavior both among mother and father in the last one month. Among those who smoked, the average number of cigarettes being smoked was also questioned, as well as the experience of indoor smoking. Data were analyzed using SPSS version 25. There were 8.4% of underweight children in this study, 89.8% of parents were smoker, who 74.8% of them were father, on average smoked 14 cigarettes per day and 98.8% of them smoked inside the house. Underweight was not significantly associated with parental smoking behavior, type of residence, parental age and parental working status. Higher odds of being underweight was found among children age 5-8 years (OR 1.08, p = 0.04, 95% CI). While boys were protective factor against underweight (OR 0.75, p < 0.01, 95% CI). Despite no association found between parental smoking behavior and children underweight in current study, however, it remains relevant to remind parents that their smoking behavior, especially inside living space may hinder children physical growth and cognitive development
KUALITAS AIR MINUM RUMAH TANGGA DAN STUNTING PADA BALITA DI KECAMATAN KERKAP KABUPATEN BENGKULU UTARA
Stunting sebagai salah satu penanda risiko kegagalan tumbuh kembang anak. Air yang dikonsumsi sehari-hari dalam masyarakat bervariasi, kesehatan air minum sangat penting. Secara fisik air minum yang sehat tidak berbau, bewarna dan berasa, selain itu itu tercemar secara radioaktif, mikrobiologis dan kimia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan kualitas air minum dengan kejadian stunting. Desain penilian yang digunakan yaitu Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah balita di Kecamatan Kerkap Bengkulu Utara sebanyak 746 balita. Selanjutnya subjek dipilih dengan teknik random sampling, dengan jumlah sampel 260. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan pH air minum dan mikrobiologi air minum dengan kejadian stunting pada tingkat kepercayaan 95% P Value 0,000 (p<0,05). Tidak ada hubungan antara TDS air minum dengan kejadian stunting. Disarankan kepada petugas kesehatan memberikan sosialisasi dengan metode edukasi yang praktis dan efektif terkait kualitas air minum agar masyarakat dapat memahami tentang pentingnya mengkonsumsi air minum yang sehat untuk mencegah terjadinya stunting pada keluarga
KECELAKAAN SEPEDA MOTOR PADA PELAJAR SEKOLAH MENENGAH ATAS: ANALISIS KARAKTERISTIK, PERILAKU, DAN KESEHATAN PSIKOLOGIS
Kecelakaan lalu lintas merupakan suatu kejadian yang tidak terduga dan tidak disengaja yang terjadi di jalan. Kecelakaan lalu lintas dapat mengakibatkan kerugian kepada manusia atau harta benda. Kalangan remaja menjadi yang paling sering terlibat dan menjadi korban kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik individu, perilaku safety riding, dan kesehatan psikologis dengan kejadian kecelakaan sepeda motor pada pelajar SMA. Penelitian ini merupakan jenis penelitian observational analitik dengan desain studi cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 70 siswa SMA Khadijah Surabaya dengan menggunakan teknik random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin (nilai p = 0,853), kepemilikan SIM C (nilai p = 0,141), dan membawa SIM C (nilai p = 0,141) tidak berhubungan dengan kejadian kecelakaan sepeda motor pada pelajar SMA. Sedangkan perilaku safety riding (nilai p = 0,013) dan pengukuran kesehatan psikologis (nilai p = 0,042) memiliki hubungan dengan kejadian kecelakaan sepeda motor pada pelajar SMA. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara perilaku safety riding dan pengukuran kesehatan psikologis dengan kejadian kecelakaan sepeda motor pada pelajar SMA
ANALISIS KERUGIAN EKONOMI KELUARGA PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI KOTA TANGERANG SELATAN
Setiap negara harus memprioritaskan penanganan masalah ini karena tingginya prevalensi kematian ibu dan bayi baru lahir. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan faktor signifikan yang berkontribusi terhadap kematian bayi di Indonesia. Tingginya prevalensi kasus BBLR memiliki pengaruh langsung terhadap pembiayaan kesehatan, terutama untuk perawatan BBLR. Penelitian ini bertujuan untuk menilai beban keuangan yang dihadapi oleh keluarga yang memiliki bayi BBLR. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional untuk melakukan penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder yang diambil dari catatan tagihan rumah sakit. Populasi penelitian adalah keluarga yang memiliki bayi BBLR di RSUD Tangerang Selatan yang berjumlah 130, dengan jumlah sampel sebanyak 97 dengan teknik Lameshow. Dampak ekonomi keseluruhan pada keluarga yang memiliki bayi dengan BBLR meliputi biaya gabungan dari biaya langsung medis, biaya langsung non-medis, dan biaya tidak langsung. Hasil penjumlahan menunjukkan bahwa rata-rata beban ekonomi keluarga yang memiliki bayi BBLR adalah sebesar Rp. 27.704.792. Kerugian ekonomi keluarga yang dihasilkan dari hasil penjumlahan antara biaya langsung pengobatan, biaya langsung bukan pengobatan, dan biaya tidak langsung perlu dilakukan secara komprehensif. Sehingga kebijakan yang dibuat untuk menyelesaikan masalah ini dapat secara tepat disesuaikan dengan anggaran yang dimiliki
EFEKTIVITAS MEDIA “KAMPUNGKU-RUMAHKU†SEBAGAI SARANA PENDUKUNG PENCATATAN DAN PEMANTAUAN IMUNISASI DI KABUPATEN TEGAL
Pencatatan dan pemantauan imunisasi yang selama ini dilakukan oleh kader posyandu masih belum optimal. Upaya dalam meningkatkan hasil pencatatan dan pemantauan imunisasi yang baik dan berkualitas dilakukan dengan penggunaan media poster “KampungKu-RumahKuâ€. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas media "Kampungku-Rumahku" sebagai alat yang mendukung pencatatan dan pemantauan imunisasi dasar lengkap di Kabupaten Tegal dengan membandingkan kelompok kader yang sudah menggunakan dan belum menggunakan media “KampungKu-RumahKuâ€. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan studi cross-sectional. Populasi penelitian ini sebanyak 1019 kader dan sampel penelitian ini terdiri dari 150 kader yang dipilih secara simple random sampling di tiga puskesmas yang telah diberi pelatihan media poster “KampungKu-RumahKu†yaitu Puskesmas Slawi, Puskesmas Kedungbanteng, dan Puskesmas Kramat. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney untuk membandingkan variabel yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja (sig=0,021), persepsi (sig=0,001), sikap (sig=0,009), motivasi (sig=0,000), sarana dan prasarana (sig=0,006), serta beban kerja (sig=0,000) terhadap pencatan dan pemantauan imunisasi kader memiliki perbedaan signifikan antara kader yang sudah menggunakan dan belum menggunakan media "KampungKu-RumahKu". Tidak ada perbedaan pada variabel pengetahuan (sig=0,200) dan imbalan (sig=0,169) di kedua kelompok kader. Dengan demikian, penelitian ini menghasilkan temuan yang mendukung penggunaan media "KampungKu-RumahKu" sebagai alat pendukung yang efektif dalam meningkatkan kinerja dan kesadaran kader posyandu dalam pencatatan dan pemantauan imunisasi di Kabupaten Tegal
HUBUNGAN KUALITAS UDARA DALAM RUANGAN DAN FAKTOR INDIVIDU DENGAN SICK BUILDING SYNDROME (SBS) DI PT LEN INDUSTRI (PERSERO)
Kualitas udara dalam ruangan dan karakteristik individu merupakan aspek yang dapat memengaruhi kesehatan dan kenyamanan karyawan. Buruknya kualitas udara dalam ruangan dapat menyebabkan berbagai risiko, salah satunya sick building syndrome. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara kualitas udara dalam ruangan dan faktor individu dengan sick building syndrome di PT Len Industri (Persero). Jenis penelitian ini yaitu observasional analitik dengan menggunakan desain penelitian cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh karyawan PT Len Industri (Persero) yang bertempat di gedung A lantai 3 sebanyak 80 karyawan yang terbagi di 6 ruangan sedangkan sampel yang diambil yaitu 44 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paling banyak responden berjenis kelamin laki-laki, berusia di bawah 40 tahun, paling banyak memiliki masa kerja di atas 5 tahun, dan mayoritas tidak merokok. Sebagian besar karyawan menempati ruangan dengan pencahayaan dan suhu yang tidak memenuhi standar menurut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja, yaitu 300 lux untuk pencahayaan dan 23oC-26oC untuk suhu. Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pencahayaan dan suhu dengan sick building syndrome. Pihak dari PT Len Industri (Persero) diharapkan dapat menambah sumber pencahayaan dan melakukan perawatan air conditioner (AC) secara rutin
TINJAUAN KUALITATIF DETERMINAN PERILAKU MEROKOK REMAJA DI KABUPATEN BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Perilaku merokok telah menjadi beban bagi Indonesia, baik kesehatan maupun ekonomi. Perilaku merokok menjadi faktor risiko dari penyakit tidak menular yang persentasenya terus meningkat. Tren perokok belum mengalami perbaikan, bahkan dikalangan remaja. Perokok yang memulai kebiasaannya di usia remaja memiliki kecenderungan menjadi perokok hingga dewasa. Menelusuri fenomena ini di DI. Yogyakarta, Kabupaten Bantul adalah kabupaten dengan persentase perokok remaja yang paling tinggi di antara kabupaten/kota lainnya. Determinan yang berhubungan dengan perilaku merokok telah banyak diteliti secara kuantitatif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi determinan perilaku merokok remaja secara kualitatif. Desain yang digunakan adalah deskriptif. Subjek dipilih secara purposive, yang terdiri dari tujuh infoman, baik yang sebagai perokok aktif maupun mantan perokok. Peneliti menggunakan analisis tematik dalam proses analisis. Penelitian ini menghasilkan empat tema, yaitu faktor intrapersonal, interpersonal, lingkungan, dan tindakan merokok remaja. Faktor intrapersonal, interpersonal, dan lingkungan mempengaruhi terjadinya tindakan merokok remaja. Masing-masing faktor memiliki determinan yang menjelaskan pengaruhnya terhadap tindakan dan perilaku merokok remaja. Peneliti menggarisbawahi pentingnya orang tua dan remaja mengontrol faktor interpesonal remaja karena usia remaja adalah periode perkembangan psikologis untuk pencarian jati diri menuju kedewasaan. Determinan-determinan tersebut penting untuk diperhatikan dan menjadi landasan dalam mengembangkan program intervensi perilaku merokok remaja
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI KOTA TERNATE
Diabetes Melitus (DM) tipe 2, suatu penyakit kronik dengan hiperglikemia persisten akibat defek sekresi dan resistensi insulin ini masih menjadi ancaman kesehatan dunia hingga saat ini dikarenakan morbiditas, mortalitas, kejadian komplikasi serta pengeluaran biaya kesehatannya yang tinggi. DM tipe 2 memerlukan penatalaksanaan jangka panjang sehingga peran pasien terkait kepatuhan pengobatan menjadi krusial dalam mencapai tujuan pengobatan. Kepatuhan pengobatan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama pengetahuan pasien. Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi hubungan antara tingkat kepatuhan pengobatan dan tingkat pengetahuan pasien DM tipe 2 di Kota Ternate, tepatnya di Puskesmas Kalumata. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional terhadap 109 sampel yang diperoleh dengan metode consecutive samplingmenggunakan kuesioner DKQ-24 dan MMAS-8. Dari total 109 sampel ditemukan distribusi pasien terbanyak pada kelompok usia 56-65 tahun (35,8%), jenis kelamin perempuan (66,1%), tamatan SMA sederajat (44%), Ibu Rumah Tangga (44%), telah berobat selama 6 bulan atau lebih (77,1%), memiliki riwayat DM dalam keluarga (58,7%), berpengetahuan cukup (45,9% ) dan memiliki kepatuhan pengobatan sedang (36,7%). Analisis korelasi spearman menghasilkan nilai signifikansi (p value) sebesar <0,001 dan koefisien korelasi (r) sebesar 0,739. Hasil tersebut mengindikasikan adanya korelasi yang signifikan dan kuat, dengan arah korelasi positif, antara tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan pengobatan pada pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Kalumata Kota Ternate