IKESMA
Not a member yet
348 research outputs found
Sort by
PENGARUH USIA DAN LAMA KERJA BIDAN TERHADAP KESADARAN SOSIAL BIDAN DALAM PEMBERIAN TABLET FE PADA IBU HAMIL
Coverage of Fe tablets during antenatal care visit from 2011-2013 in Public Health Centers in Surabaya was still low with an average percentage of 9.29% and 16.27%. The study aim to analyze effect of midwife’s age and length of employment towards social awareness of midwife in Fe tablets administration for pregnant women in Public Health Centers in Surabaya.This research was an analytic observational study and a cross sectional approach. The research location was in all Public Health Centers in Surabaya. The samples as many as 65 midwives were taken using multistage random cluster sampling technique from 62 Public Health Centers representing every region in Surabaya. The data obtained were analyzed by using Ordinal Logistic Regression technique.The results showed that the older midwives (more than 36 years) have a better social awareness since they have had experience in interacting with the social world. Midwives who work longer (more than 10 years) tend to have better social awareness.The conclusion of this study is that the midwife’s age and length of employment are closely towards social awareness of midwife.
Keyword: Social Awareness, Midwife, Fe tablet
GEJALA FOTOKERATITIS AKUT AKIBAT RADIASI SINAR ULTRAVIOLET (UV) PADA PEKERJA LAS DI PT. PAL INDONESIA SURABAYA
Welding is a job has a high physical risk so that in the process requires considerable skill and specialized equipment. This research was conducted to analyze the UV radiation, workers factors and factors of personal protective equipment that may affect the acute photokeratitis symptoms on welders at the welding workshop Division Kapal Niaga of PT. PAL Indonesia (Persero) Surabaya. This research used a cross-sectional observational analytic method by using a quantitative approach. Observations and interviews were conducted on a sample of 32 workers. The data analysis consisted of univariable and bivariable analysis that used Spearman's test with α = 0.05. The research results show that a significant correlation exists between workers factors ( the age , length of employment , old workings , the distance welding ) with symptoms photokeratitis acute, there were a significant correlation between the use of personal protective equipment (PPE) with symptoms photokeratitis acute, there were a significant correlation between ultraviolet (UV) radiation with acute photokeratitis symptoms and there were no significant correlation between duration of exposure to the acute photokeratitis symptoms.
Keywords : the acute photokeratitis symptoms, welder, workers factors, personal protective equipment, ultraviolet radiatio
UMUR, KOMORBIDITAS , DAN METASTATIS DALAM PENENTUAN KONDISI PASIEN KANKER KOLOREKTAL DI KOTA MAKASSAR
Pendahuluan: Kecenderungan masyarakat untuk terbuka pada perubahan memberikandampak pada perubahan gaya hidup seperti kurangnya aktifitas fisik karenaketergantungan pada teknologi, kebiasaan konsumsi junk food,paparan zat kimia padamakanan dan lingkungan menyebabkan dunia mengalami transisi penyakit dari penyakitmenular ke penyakit tidak menular. Salah satu penyakit tidak menular yang saat inimenyebabkan angka morbiditas dan mortalitas meningkat adalah kanker kolorektal.Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara usia,komorbiditas, dan metastatis dengan kondisi pasien kanker kolorektal di Kota Makassar.Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kohort retrospektifdengan melihat riwayat pasien kanker kolorektal kemudia menelusuri kondisi pasienpada tahun 2015. Populasi adalah semua pasien yang terdiagnosa kanker kolorektal tahun2012-2015, dan sampel dipilih secara total dengan menggunakan kriteria inklusi. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 70 sampel. Analisis data menggunakan analisis chisquare.Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia, komorbditas dan metatstatisberhubungan secara statistic dengan kondisi pasien kanker kolorektal denga p value: usia(0,02), komorbiditas (0,00) dan metastatis (0,00).Hal ini terjadi akrena dengan adanyakomorbiditas akan memperlambat pengobatan dan dengan adanya metastatis makapengobatan pasien umumnya akan bersifat paliatif yaitu mencegah perkembangan kankernamun tidak menghilangkan sel kanker karena telah terjad penyebaran sel kanker.Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat 2 faktor yang dapat dicegahyaitu variabel komorbiditas dan metastatis. Komorbiditas dapat di cegah denganmencegah terjadinya penyakit degenerative dengan menerapkan pola hidup yang sehat,sedagkan pencegahan metastatis dapat dilakukan dengan deteksi dini kanker kolorektalsehingga pasien mendapat pengobatan lebih cepat sebelum sel kanker menyebar kejaringan lain.
Kata kunci : Kolorektal, Usia, Komorbiditas, Metastatis, Pasie
GAMBARAN PERILAKU KESEHATAN GIGI ANAK SEKOLAH DASAR DI DESA BANGSALSARI KABUPATEN JEMBER
Pendahuluan: Karies gigi merupakan penyakit dengan prevalensi tertinggi selainpenyakit periodontal. Penyakit ini menjadi masalah nasional di beberapa Negaraberkembang terutama di Indonesia.Tujuan Penelitian: Etiologi utama karies pada anak adalah pola makan. Kelompok usiasekolah dasar mempunyai kebiasan jajan yang lebih tinggi dari kelompok usia lainkhususnya makanan manis, sehingga menyebabkan meningkatnya indeks karies gigi.Kegiatan ini didanai oleh Kemenristekdikti, yang dilakukan pada 2 SD yaitu SDN 03 danSDN 04 Bangsalsari. Metode Penelitian: Jumlah responden adalah siswa kelas 3 sebanyak 70 orang di SDN 03Bangsalsari dan 51 orang di SDN 04 Bangsalsari yang diperoleh dengan menggunakanmetode total sampling. Penyuluhan dan praktek gosok gigi bersama dilakukan kepadapara siswa untuk memberi pengetahuan serta memperbaiki perilaku mengenai kesehatanrongga mulut.Hasil Penelitian: Hasil pemeriksaan menunjukkan indeks DMF-T rata-rata untuk siswaSDN 03 Bangsalsari yaitu 6,1, sedangkan rerata indeks DMF-T untuk siswa SDN 04Bangsalsari yaitu 5. Indeks gigi yang karies (D) lebih dominan yaitu sekitar 67%dibanding gigi yang telah dicabut (M) sebanyak 2% dan gigi yang telah ditambal(F) hanya 1%. Masih tinggi nya gigi yang karies (D) dibandingkan gigi yang sudahditambal (F) menunjukkan masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran siswa SDserta orang tua dalam menjaga kesehatan rongga mulutnya. Status karies gigi padasiswa SDN 03 dan 04 Bangsalsari berada pada kategori Tinggi berdasarkan kriteriaWHO.
Kata kunci : Karies gigi, Perilaku, Siswa SD, Indeks DMF-
UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN PADA PELAJAR SMAN 1 BANTUL TENTANG PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA DENGAN INTERVENSI CBIA-NARKOBA
AbstractBackground: Prevention programme of drug abuse in adolescents can be done in a schoolsetting. Evidence-based interventions is a must to guarantee the effectiveness of the methods.CBIA (Community Based Interactive Approach) is educational method based on interactiveapproach. It was proved to enhance health knowledge in community setting. CBIA-Drugs wasadopted from CBIA to improve knowledge of high school students to resist drugs.Objective: The objective of this study was to measure the effectiveness of CBIA-Drugs.Method: It was a quasi-experimental design with pretest-posttest control group design. Eachgroup of CBIA-Drugs and control consisted of 30 respondents. The relationship betweenvariables was analyzed by Wilcoxon Signed Rank and Mann Whitney, used 5% level ofconfidence.Result: The results of this study found that there were significant differences in pretest andposttest of knowledge on CBIA-Drugs group (p <0.05). It was concluded that knowledge wereimproved after intervention. CBIA-Drugs were able to maintain the consistency of theincreasing knowledge three weeks after the intervention.
Keywords: Knowledge, CBIA, Drug
TINGKAT HARAPAN MASYARAKAT TERHADAP BIDANG KESEHATAN DI KABUPATEN JEMBER
Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan yang memiliki tanggungjawab untuk menyelenggarakan pembanguan kesehatan di wilayah kerjanya. Sebagaipusat penggerak pembangunan bidang kesehatan, puskesmas juga didorong untuk selalumeningkatkan kinerjanya. Salah satu tolak ukur yang dapat digunakan puskesmas untukpeningkatan kinerjanya adalah harapan masyarakat terhadap pelayanan yangdiselenggarakan puskesmas. Dengan mengetahui seberapa besar harapan masyarakat terhadap puskesmas, maka akan lebih mudah bagi pemerintah dalam mewujudkankepuasan masyarakat khususnya di bidang kesehatan. Tujuan penelitian ini adalahmengukur tingkat harapan masyarakat terhadap kinerja puskesmas berdasarkanreliability, responsiveness, assurance, emphathy, tangibles, assesibility, availability,continuity, keuangan, humanitas, ketersediaan informasi, dan kenyamanan lingkungan,serta kompetensi petugas. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survey denganpendekatan kuantitatif. Harapan masyarakat pada penelitian ini dibagi menjadi 5 kategoriyakni: Sangat rendah, rendah, biasa saja, tinggi, dan sangat tinggi. Berdasarkan hasilpenelitian diketahui bahwa harapan masyarakat terhadap pelayanan puskesmas beradapada level tinggi. Hal ini dapat disimpulkan dari hasil survey dimana sebagian besarmasyarakat menilai 11 dari 13 variabel penilaian puskesmas merupakan suatu hal yangpenting. Variabel tersebut diantaranya : reliability (42,69%), responsiveness (43,8%),assurance (43,93%), emphathy (53,07%), tangibles (48,6%), assesibility (36,27%),availability (52,84%), continuity (35,4%), humanitas (46,13%), dan kenyamananlingkungan (48,27%), dan kompetensi petugas (49,75%), sedangkan 2 variabel sisanyayakni: keuangan (35,6%) dan ketersediaan informasi (41,47%) dinilai sebagai hal yangbiasa saja.
Kata kunci : puskesmas, kinerja, harapan
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS PADA BALITA
Introduction: Pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas,kesadaran sosial, emosional, dan intelegensi berjalan sangat cepat dan merupakanlandasan perkembangan berikutnya. Salah satu hal terpenting pada proses perkembanganadalah perkembangan motorik karena merupakan awal dari kecerdasan dan emosi sosialnya. Perkembangan motorik halus adalah gerakan yang melibatkan bagian tubuhtertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil tetapi diperlukan koordinasi yang cermat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang status gizidengan perkembangan motorik halus balita.Methode: Jenis penelitian ini adalah korelasi dan desain penelitian menggunakan crosssectional study. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh balita yang berdomisili diwilayah kerja Puskesmas Kota Wilayah Utara Kota Kediri dan sampel yang digunakanpada penelitian ini sebanyak 32 responden. Teknik sampling yang digunakan adalahpurposive sampling.Result: Berdasarkan tabulasi silang di atas menunjukkan bahwa reponden yangberpengaetahuan baik dengan perkembangan motorik halus normal sebanyak 24responden (75%). Responden yang berpengatahuan kurang dengan perkembanganmotorik lambat sebanyak 3 responden (9,4%) dan berpengetahuan kurang denganperkembangan motorik halus normal sebanyak 5 responden (15,6%).Dari uji chi square menunjukkan bahwa adanya hubungan antara pengetahuan ibutentang status gizi dengan perkembangan motorik halus dengan nilai koefisien 6.008 dantingkat signifikansi 0.014 (α = 0.05).Conclusion: Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang status gizi denganperkembangan motorik halus balita.
Kata Kunci : Pengetahuan, perkembangan motorik halus, balit
HUBUNGAN LINGKUNGAN KERJA DENGAN KINERJA PETUGAS PADA PENYERAHAN DOKUMEN REKAM MEDIS INSTALASI RAWAT INAP I RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG
The return time of medical record documents is one of the performance indicators medical record document submission officer, according to the Medical Record Manual Book, standard of the time to return of medical record document in inpatient is 2 x 24 hours after the patients out of the hospital. Result of preliminary studies found there were medical record documents late, average of medical record documents late were 45,28 % at Inpatient Instalation I. This research designed to analyze the relation of work environment with performance of medical record document submission officer. The type of this research was analytical with cross sectional approach. The result of this research was work culture of officer was very good (64%). Leadership effect to officer was effective enough (56%). Relationship between employee and boss was very good (68%), and Compensation of officer was very good (88%). The result of analysis showed that there was a correlation between work culture with officer performance (p=0,019), there was correlation between leadership with officer performance (p=0,018), there was no correlation between aspect of relationship of employee and boss with officer performance (p=0,688), and there was no correlation between compensation with officer performance (p=0,263). The conclusion of this research is the work culture and leadership is work environment that correlation with officer performance in Instalation of inpatient I RSUD Dr. Saiful Anwar Malang
Keywords: Work environment, performance, medical record documen
STRATEGI INTERVENSI KESEHATAN LANSIA DI POSYANDU
The number of elderly in Indonesia keeps increasing from 7.69% in 2011 be 8.1% in 2013. With the increasing number of elderly than so much heath problems that happened in elderly. The efforts are being mad by the government to cope the problems in elderly is holding Posyandu of elderly. The Posyandu of elderly is Integrated Service pos held to elderly so their can monitor the condition his health every month. to describe intervention strategies healthy of elderly to increases their status in Posyandu in the Puskesmas Getasan. The research is qualitative descriptive. The data collected use in depth interview by interview guidelines. The research done in the area of PuskesmasGetasan , Semarang, Central Java. In January to March 2017. The participants numbered 8 people obtained by using purposive sampling techniques. The research use data analysis from Miles and Humberman. Posyandu elderly held every month through five tables of activities that is driven by health workforce from Puskesmas and cadre in tre select from community. However there are still barriers is lock of awareness from elderly to make a visit so extension done by health workforce to elderly and their family through organization’s in community. The evaluation to monitor the visit and health condition from elderly done once a month. Conclusion: Posyandu elderly who in invented already well underway because already participating from health workforce and community is good. Howeverhealth workforce should be more plays again, so can increase knowledge from elderly about Posyandu benefits so the visit from elderly more on the rise.
Keyword keys : Strategies, Elderly, Posyandu
PENERAPAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA PEMBUATAN SABUN BELERANG MENURUNKAN JUMLAH KASUS SKABIES SANTRI NURUL QARNAIN SUKOWONO JEMBER
Latar Belakang: Skabies masih menjadi salah satu penyakit kulit utama santri pondokpesantren Nurul Qarnain desa Baletbaru kecamatan Sukowono. Penyakit ini menggangguproses belajar santri & menyebabkan produktivitas berkurang. Faktor yang mempengaruhiperkembangan penyakit adalah lingkungan kurang bersih dan personal higiene yang jelek.Kebersihan lingkungan dan fasilitas ponpes sudah sangat memadai sehingga faktor yangberperan utama menyebabkan penyakit adalah personal higiene yang jelek akibattidakpahamnya santri terhadap penyakit ini serta pengobatan awal yang kurang cepat dantepat.Tujuan Penelitian: Salah satu bahan penting untuk pencegahan dan pengobatan yaitu sabunbelerang harganya mahal, sehingga santri tidak membeli sabun jenis ini. Sehingga diperlukanpenerapan teknologi tepat guna berupa pelatihan pembuatan sabun belerang antiskabies.Metode Penelitian: Metode kegiatan berupa pendataan jumlah santri penderita skabies,penyuluhan tentang penyakit skabies dan pencegahannya, pelatihan pembuatan sabunbelerang antiskabies, dan pengkaderan santri untuk penanganan awal penyakit skabies.Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan pada bulan Agustus-Oktober 2016 di pondokpesantren Nurul Qarnain Kecamatan Sukowono.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian awal menunjukkan 151 santri menderita skabies(prevalensi 13,48%) dan setelah kegiatan berakhir jumlah santri yang menderita skabies jauhberkurang dan tersisa sebanyak 15 santri.
Kata kunci: skabies, teknologi tepat guna, sabun belerang, pondok pesantre