IKESMA
Not a member yet
348 research outputs found
Sort by
EFEKTIVITAS EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) SEBAGAI REPELLENT LALAT RUMAH (Musca domestica)
Lalat masih menjadi permasalahan hingga saat ini. Habitat lalat yang berada di lingkungan kotor menjadikan lalat sebagai vektor penyakit yang dapat menginfeksi manusia. Oleh karena itu, perlu dilakukan pencegahan dan pengendalian dengan menggunakan insektisida. Salah satu potensial insektisida nabati adalah bawang putih (Allium sativum) karena adanya senyawa yang bersifat racun bagi serangga seperti minyak asiri yang mencapai 0,5 v/b, serta adanya senyawa lain seperti alisin, alkaloid, tanin, flavonoid, dan saponin yang bersifat racun bagi serangga. Hasil screening fitokimia menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) menunjukkan bawang putih terdeteksi mengandung minyak asiri. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan True Experiment dan desain penelitian Post Test Only Control Group Designs. Ada lima kelompok perlakuan dalam penelitian ini, konsentrasi 0% (kontol), 5%, 7,25%, 10%, dan 12,5%. Pengamatan dilakukan selama satu jam. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dengan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan jumlah lalat yang hinggap pada umpan yang berupa udang karena nilai P=0,001, dan efektivitas bawang putih linear artinya semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan maka semakin besar efektivitas ekstrak. Efektivitas tertinggi pada konsentrasi 12,5% dengan efektivitas sebesar 54%. Ekstrak bawang putih dapat digunakan sebagai alternatif insektisida yang ramah lingkungan dan mudah terurai karena terbukti dapat digunakan sebagai insektisida, khususnya lalat rumah
LITERATURE REVIEW : FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN GANGGUAN FUNGSI PARU PEKERJA INDUSTRI MEBEL
Industri mebel memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan memiliki daya saing. 80% dari keseluruhan produksi mebel di Indonesia menggunakan bahan baku kayu. Industri mebel juga meningkatkan nilai strategis karena meyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar. Dengan berkembangnya industri maka akan ada dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan. Dalam proses produksi kayu menjadi mebel akan menghasilkan polusi yaitu partikel dari debu kayu. Gangguan fungsi paru merupakan salah satu penyakit akibat kerja yang tidak hanya terjadi di negara maju, melainkan juga terjadi di negara berkembang. Di Indonesia angka sakit mencapai 70% pada pekerja yang terpapar debu setiap harinya. Pada tahun 2013 angka prevalensi Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) mencapai 3,7% dan lebih banyak dialami oleh laki-laki. Besarnya gangguan fungsi paru dapat dipengaruhi oleh debu maupun faktor karakteristik pekerja itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru industri mebel di Indonesia. Desain penelitian ini merupakan penelitian dengan metode literature review. Dari hasil pencarian artikel ilmiah menggunakan database Google schoolar dan GARUDA didapatkan 10 artikel penelitian terpilih. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara kadar debu kayu dan karakteristik pekerja yang meliputi masa kerja, penggunaan APD, kebiasaan merokok, usia, dan lama paparan
TEKNOLOGI TEPAT GUNA PORTABLE CHLORINATOR PADA SISTEM PENYEDIAAN AIR KOMUNAL PEDESAAN
Pemerintah telah mencanangkan Percepatan Target Program Sanitasi dan Air Minum Aman Tahun 2024 melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Sustainable Development Goals (SDGs) 2024–2030. Salah satu capaian SDGs 2030 yaitu meminimalisasi penyakit berbasis lingkungan. Dari total 21.829 Sarana Air Minum (SAM) di Indonesia, proporsi rumah tangga untuk keperluan minum menurut mata air tidak terlindungi adalah 2,5%. Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Tulungagung memiliki satu mata air yang digunakan secara komunal dan berpotensi tercemar. Pencemaran air dapat berdampak pada kesehatan masyarakat, yaitu terjadinya penyakit bawaan air seperti diare. Penerapan teknologi tepat guna dapat menjadi salah satu teknik pengelolaan air untuk memenuhi standar mutu air bagi kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan melakukan pemanfaatan teknologi tepat guna portable chlorinator pada sistem pengolahan air bersih komunal menjadi sehat dan aman bagi masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian terapan sebagai solusi pemecahan masalah yang ditemukan. Data yang dikumpulkan adalah pengambilan sampel air di lima titik pemantauan dan data pendukung berupa angka kejadian diare dan pemberdayaan masyarakat di Desa Sukodono sebelum dan sesudah pemasangan alat. Hasil penelitian menemukan adanya Coliform pada saat sebelum pemasangan alat, yaitu 20–41 MPN/100 ml. Setelahnya, alat mampu mendesinfeksi air dan menghasilkan 0 MPN/100 ml Total Coliform dan E. coli. Jumlah kasus diare pada kategori balita di Puskesmas Jeli mengalami kenaikan di tahun 2020. Hingga September 2021, kasus diare pada balita sebanyak 57,6% dari kasus diare pada semua umur. Kegiatan sosialisasi membuat masyarakat paham akan pentingnya air bersih dan salah satu upaya pencegahan penyakit waterborne disease melalui teknologi tepat guna
HUBUNGAN KARAKTERISTIK MAHASISWA DENGAN KESEHATAN MENTAL MAHASISWA SELAMA KULIAH ONLINE
Gangguan kesehatan mental mengacu kepada ketidakmampuan seseorang berkembang secara fisik, intelektual, dan emosional dengan maksimal dan seimbang seperti perkembangan orang lain. Gangguan kesehatan mental dapat terjadi pada setiap individu tanpa terkecuali. Mahasiswa merupakan salah satu kelompok yang berisiko mengalami gangguan kesehatan mental. Pandemi Covid-19 mengakibatkan mahasiswa merasa stress dan tertekan karena harus menerima perubahan metode pembelajaran dari kuliah tatap muka menjadi kuliah online. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik respoden dengan kesehatan mental mahasiswa Universitas Jember selama kuliah online di masa pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik proportionate random sampling dengan sampel mahasiswa Universitas Jember sebanyak 346 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Kessler Psychological Distress Scale (K-10) yang telah di uji validitas. Analisis data menggunakan chi-square. Hasil analisis data menunjukkan sebagian besar responden mengalami gangguan kesehatan mental; 20,2% responden menderita gangguan jiwa ringan, 15% responden menderita gangguan jiwa sedang, dan 26,6% responden menderita gangguan jiwa parah. Korelasi yang signifikan secara statistik antara kesehatan mental dengan jenis kelamin (p=0,001). Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kesehatan mental mahasiswa. Saran peneliti pada penelitian ini Universitas Jember diharapkan untuk memperkuat sistem layanan kesehatan mental bagi mahasiswa
ANALISIS INSIDEN KESELAMATAN PASIEN BERDASARKAN KUALITAS TEAMWORK DAN COORDINATION MANAJEMEN RUMAH SAKIT ISLAM AHMAD YANI SURABAYA
Peningkatan insiden keselamatan pasien di rumah sakit sering terjadi. Kerja tim antar individu dalam unit kerja dan koordinasi antar unit pelayanan merupakan salah satu upaya untuk mengurangi lejadian yang terkait dengan masalah keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peranan kerja tim antar individu dalam unit kerja dan koordinasi antar unit pelayanan terhadap terjadinya insiden keselamatan pasien (IKP) di rumah sakit. Penelitian ini dilakukan di RS Islam Surabaya pada tahun 2020, dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Unit analisis ditentukan secara total sampling meliputi 18-unit kerja yang memberikan pelayanan kepada pasien dengan responden adalah pimpinan unit atau ruangan, penanggung jawab shift kerja dan penanggung jawab mutu keselamatan pasien. Pengumpulan data responden terkait kerja tim dan koordinasi dalam penanganan keselamatan pasien. Pengumpulan data dilakukan secara online dengan menggunakan google form, dan dianalisis menggunakan tabulasi silang serta pendekatan Pareto (memiliki keterkaitan jika ditemukan perbedaan >20% antara variabel bebas dan variabel terikat). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas kerja tim sudah baik (83,3%), pelaksanaan koordinasi mayoritas masih kurang baik (83,3%) dan insiden keselamatan pasien masih tergolong tinggi (33,3%). Insiden didominasi oleh Nyaris Cedera dengan peringkat hijau, dan unit rawat jalan memiliki insiden tertinggi. Kerja tim dan koordinasi berperan penting terhadap insiden keselamatan pasien dengan selisih persentase masing-masing sebesar 40,0% (> 20,0%) dari setiap kategori pada kerja tim maupun koordinasi. Penelitian ini menunjukkan kerja tim dan koordinasi berperan penting terhadap terjadinya IKP di rumah sakit. Oleh sebab itu, perlu saling support antar individu dalam tim di setiap unit kerja serta rutin melakukan pertemuan secara bersama membahas patient safety.
Kata kunci: insiden keselamatan pasien, kerja tim, koordinasi, rumah saki
PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI DAN KELUHAN PENYAKIT KULIT PADA PETUGAS PENGANGKUT SAMPAH
Sampah merupakan hasil kegiatan sehari-hari manusia maupun dari proses produksi industri yang sudah tidak terpakai. Petugas pengangkut sampah berisiko untuk mengalami keluhan penyakit kulit karena aktivitas pekerjaan setiap hari kontak dengan sampah yang mengandung bakteri patogen, virus, jamur serta vektor pembawa penyakit. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap seperti: topi, sarung tangan karet, sepatu boots, baju pelindung, dan masker dapat mencegah kontaminasi sampah ke kulit secara langsung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara penggunaan alat pelindung diri dengan keluhan penyakit kulit pada petugas. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross sectional. Responden penelitian yaitu petugas pengangkut sampah di Kota Madiun yang berjumlah 50 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Penelitian ini mengumpulkan data melalui kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Somers’D. Hasil uji Korelasi Somers’D menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan APD dengan keluhan penyakit kulit (p = 0,000), arah korelasi negatif (-), dan koefisien korelasi yaitu -0,520. Saran yang dapat diberikan adalah memberikan edukasi kepada petugas pengangkut sampah melalui sosialisasi terkait penggunaan APD yang lengkap, serta pemberian informasi tentang risiko penyakit kulit pada pekerjaan tersebut
PENGGUNAAN PAC DALAM MENURUNKAN KADAR BOD LIMBAH CAIR DI RPH PENGGARON
Rumah pemotongan hewan adalah unit atau sarana pelayanan masyarakat untuk menyediakan daging sehat dengan syarat tertentu yang akan dikonsumsi oleh masyarakat. Limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan pemotongan hewan ada kandungan bahan organik ditandai tingginya BOD yang dapat mempengaruhi kualitas badan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan PAC dalam menurunkan kadar organik terlarut pada Rumah Pemotongan Hewan. Penelitian ini menggunakan quasi experiment dengan rancangan pretest and posttest with control group design. Populasi penelitian ini yaitu limbah cair RPH dan total sampel untuk 4 perlakuan dosis PAC (2,5, 5, 7,5, dan 10 g) dengan 6 kali pengulangan yaitu 36 sampel. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dengan α=5%. Hasil penelitian menunjukkan kadar BOD sebelum perlakuan sebesar 524,833 mg/l dan kelompok kontrol sebesar 490,333 mg/l. Kadar BOD sesudah perlakuan terjadi penurunan berturut – turut pada dosis PAC 2,5 g – 10 g sebesar 19,62%, 28,17%, 43,66%, dan 52,71%. Hasil analisis statistik tidak ada perbedaan yang signifikan antara penurunan kadar organik terlarut sesudah penambahan PAC dengan variasi dosis. Dapat disimpulkan bahwa dosis PAC 10 g/l efektif untuk menurunkan kadar BOD limbah RPH yang rendah, karena hasil masih melebihi baku mutu menurut Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No 5 Tahun 2012. Oleh karena itu, perlu penelitian lebih lanjut menggunakan jenis koagulan atau pengolahan lainnya sebagai pertimbangan
KAJIAN RISIKO KESEHATAN KESELAMATAN KERJA PENYEMPROTAN DISINFEKTAN PADA PETUGAS PEMAKAMAN COVID-19
Penyemprotan disinfektan merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk mencegah penularan Covid-19. Penyemprotan disinfektan mengandung cairan bersifat destruktif sehingga menimbulkan iritasi pada kulit, mata, dan saluran pernapasan. WHO tidak menyarankan penyemprotan disinfektan dilakukan ke tubuh manusia karena dapat membahayakan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko kesehatan dan keselamatan kerja penyemprotan disinfektan pada petugas pemakaman Covid-19 di BPBD Kabupaten Lumajang. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain observasional. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi menggunakan lembar Job Safety Analysisis. Penelitian dilakukan pada anggota Tim Reaksi Cepat sebanyak 21 orang yang menjadi petugas pemakaman Covid-19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian petugas pemakaman Covid-19 pernah merasakan keluhan iritasi kulit seperti gatal-gatal, terasa terbakar, dan kulit pecah-pecah. Tingkat risiko penyemprotan disinfektan dibedakan berdasarkan tahapan kegiatannya yaitu saat pembuatan disinfektan dan saat penyemprotan disinfektan. Potensi risiko yang terjadi saat pembuatan disinfektan meliputi iritasi kulit, kulit pecah-pecah, terasa terbakar, dan iritasi mata yang tergolong dalam tingkat risiko acceptable serta gangguan pernapasan, sesak napas, dan sakit tenggorokan yang tergolong tingkat risiko priority 3. Saat penyemprotan disinfektan, terdapat tingkatan risiko yang terjadi mulai dari risiko yang acceptable hingga priority 1. Potensi risiko pada kategori acceptable meliputi terpeleset, tersandung, dan terjatuh yang dapat terjadi karena kurangnya konsentrasi ketika bekerja di malam hari. Sementara potensi risiko pada kategori priority 1 meliputi iritasi kulit, gatal-gatal, kulit pecah-pecah, terasa terbakar, dan kulit kemerahan. Saran yang dapat diberikan adalah dengan menggunakan APD saat pembuatan disinfektan seperti handscoon, masker, face shield serta menggunakan coverall yang tahan terhadap cairan.
Kata Kunci: kesehatan keselamatan kerja, penyemprotan disinfektan, petugas pemakaman Covid-1
STRATEGI KOPING FOKUS EMOSI MAHASISWA PADA MASA PANDEMI COVID-19
COVID-19 adalah sebuah pandemi yang mematikan dan menimbulkan banyak kerugian. Salah satu langkah pencegahan oleh pemerintah adalah melakukan lockdown dan menerapkan pembelajaran online untuk anak sekolah dan perkuliahan. Hal ini menimbulkan potensi stres pada remaja. Tujuan dari studi ini adalah mengetahui faktor yang mempengaruhi remaja melakukan koping stres yang terfokus pada emosinya atau Emotion Focused Coping (EFC). Studi ini merupakan studi kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional dengan uji statistik yang digunakan adalah regresi logistik dengan metode backward. Responden berjumlah 397 mahasiswa aktif jenjang Diploma dan Sarjana di Universitas Airlangga angkatan 2017 hingga 2020. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2020 hingga Februari 2021. Sampel dipilih dengan simple random sampling. Teknik pengumpulan penelitian menggunakan Online Survey menggunakan fitur Google Form. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa faktor causal focus, controlled by self dan controlled by others memiliki korelasi signifikan terhadap EFC, masing-masing bernilai p-value = 0,003, p-value = 0,018 dan p-value = 0,009. Kesimpulan dalam studi ini adalah remaja melakukan Emotion Focused Coping karena menyadari kemampuannya untuk mengatasi potensi stres akibat COVID-19 dari dalam diri sendiri maupun bantuan orang lain dan perilaku menyalahkan diri sendiri. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti mengenai dampak dari remaja yang tidak bisa mengontrol koping fokus emosi terhadap kesehatan mentalnya sebagai mahasiswa di masa pandemi COVID-19
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN MEMAKAI MASKER, MENCUCI TANGAN DAN MENJAGA JARAK SEBAGAI PENCEGAHAN PENULARAN COVID-19
Kota Bandung termasuk kedalam potensi penularan dan risiko penularan kedalam kategori sedang dengan jumlah kasus terbanyak ke-3 di seluruh Jawa Barat. Upa ya yang dilakukan untuk menekan penyeran kasus COVID-19 dengan penerapkan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak serta menghindari kerumunan). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kepatuhan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak sebagai upaya pencegahan penularan COVID-19 Di Kota Bandung. Penelitian ini adalah studi cross sectional, teknik pengambilan sampel menggunakan Snowball, kuesioner online semi-terstruktur dikembangkan menggunakan formulir google. Peserta dalam penelitian adalah mereka memiliki akun media sosial dan memiliki akses ke Internet. Analisis data menggunakan uji chi-square nilai signifikansi sebesar 5% (0,05). Hasil penelitian menunjukan sebagian besar responden patuh memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak (63,4%). Faktor yang berperngaruh adalah pengetahuan (0,000), sikap (0,000), motivasi (0,004), peran tokoh masyarakat (0,040), dan ketersediaan tempat cuci tangan (0,030). Sedangkan variabel mempunyai masker dan tanda jaga jarak tidak dapat dibuktikan. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan menggunakan metode longitudinal untuk meneliti variabel mempunyai maskar, tersedianya tempat cuci tangan, serta tanda jaga jarak terhadap kepatuhan masyarakat dalam melaksanakannya guna untuk mencegah penularan COVID-19