Deiksis Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Not a member yet
166 research outputs found
Sort by
Problematika Kebudayaan dalam Novel “Aku Tidak Membeli Cintamu†Karya Desni Intan Suri
Dalam pemilihan novel Aku Tidak Membeli Cintamu karya Desni Intan Suri ada dua alasan. Pertama, novel ini isinya menonjolkan kebudayaan. kebudayaan mengenai adat istiadat Minangkabau, Pariaman. Kedua kebudayaan yang ditonjolkan dalam novel Aku Tidak Membeli Cintamu karya Desni Intan Suri ini berbeda dengan daerah lain yang ada di Minangkabau. Keunikannya tergambar jelas dari adat istiadat mengenai uang jamputan. sama-sama diketahui dalam sebuah perkawinan yang meyediakan emas kawin adalah pria. Namun sangat berbeda tradisi orang Pariaman, wanita yang harus mengeluarkan uang untuk pihak keluarga lalaki sebagai emas kawin. Emas kawinitu disebut sebagai Uang jamputan, uang jamputan itu tergantung dengan gelar yang dimiliki lalaki. Tradisi ini sangat Nampak hanya memperlihat martabat keluarga saja. tokoh utama Suci Intan Baiduri yang jelaskan oleh pengarang merupakan orang yang kontra dengan tradisi kampung halamannya sendiri. Sehingga dalam novel ini tejadi masalah-masalah kebudayaan, maka penelitian ini di fokuskan Problematika Kebudayaan dalam novel Aku Tidak Membeli Cintamu karya Desni Intan Suri.Tujuan dari penelitian. Mendeskripsikan Problematika kebudayaan yang terdapat dalam novel Aku Tidak Membeli Cintamu karya Desni Intan suri. Jenis penelitian ini adalah penelitian sastra dengan menggunakan metode Hermeneutika. Data yang di interpretasikan dalam penelitian ini adalah problematika kebudayaan dalam novel Aku Tidak Membeli Cintamu karya Desni Intan Suri.  Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik kartu data. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut (1) Menelaah data yang telah dikelompokkan berdasarkan problematika kebudayaan (2) Menganalisis data yang telah dikelompokkan berdasarkan hambatan budaya yang berkaitan dengan pandang hidup dan sistem kepercayaan, hambatan budaya berkaitan dengan persepsi atau sudut pandang, hambatan budaya yang berkaitan dengan psikologi atau kejiwaan, sikap tradisional, dan perkembangn teknologi (3) Menafsirkan data yang telah dikelompokkan (4) Menegaskan data yang telah ditafsirkan (5) Menyimpulkan data penelitian. Peneliti menemukan 34 problematika kebudayaan. Hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan 15 data. Hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan persepsi atau sudut pandang 11 data. Hambatan budaya yang berkaitan dengan faktor psikologi atau kejiwaan 3 data. Sikap tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal-hal baru terdiri dari 3 data, perkembangan teknologi 2 data. Sedangkan masyarakat yang terasing kurang komunikasi dengan masyarakat luar, dan sikap etnosentrisme tidak ada ditemukan.Kata kunci: problematika kebudayaan, adat istiadat, novel, metode hermeneutikaÂ
Bilingualisme pada Masyarakat Desa Matanghaji
Bilingualisme adalah kemampuan menggunakan bahasa oleh seseorang dengan sama baik atau hampir sama baiknya, yang secara teknis mengacu pada pengetahuan dua buah bahasa bagaimanapun tingkatnya. Desa Matanghaji terletak di Kabupaten Cirebon dan berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kuningan. Hali ini berpengaruh pada bahasa yang digunakan oleh masyarakatnya. Diindikasi masyarakat Desa Matanghaji dapat menggunakan dua bahasa dalam aktivitas kesehariannya, yakni bahasa Sunda dan bahasa Cirebon. Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1.Mengetahui bilingualisme masyarakat di Desa Matanghaji. 2.Mengetahui bagaimana aktivitas bilingualisme yang digunakan oleh masyarakat di Desa Matanghaji. Berdasarkan hasil analisis data penelitian ini, maka dapat disiimpulkan bahwa masyarakat Desa Matanghaji sebagian besar bilingual, B1 masyarakat Desa Matanghaji adalah bahasa Sunda, sedangkan B2-nya adalah bahasa Cirebon dan bahasa Indonesia. Aktivitas bilingualisme masyarakat Desa Matanghaji, berlangsung situasional saja
Eksistensi Pembacaan Cerita Legenda “Babad Cirebon†di Keraton Kanoman Sebagai Kekuatan Literasi Budaya
Setiap daerah di Indonesia memiliki cerita rakyatnya masing-masing. Sehubungan dengan itu, di Jawa Barat terdapat sebuah cerita yang hingga saat ini tetap dilestarikan, yakni cerita legenda “Babad Cirebonâ€. Cerita tersebutdilisankan menggunakan bahasa Cirebon Babasanoleh Pangeran Kumisi setiap tanggal 1 Muharram. Dalam hal ini, pihak Keraton Kanoman merupakan pilar utama yang konsisten menjaga tradisi lisan itu. Dalam perjalanannya, cerita legenda babad Cirebon telah mengalami transformasi, yaitu dari bentuk tulis ke lisan. Hal itu dilakukan agar masyarakat Cirebon dan masyarakat pada umumnya mengetahui kearifan lokal daerahnya serta asal-usul berdirinya Kota Cirebon sehingga mereka dapat menghargai jasa para leluhurnya. Selain itu, mereka diharapkan dapat memaknai kisah-kisah kebajikan yang ada di dalamnya sebagai suri teladan. Kata babadsendiri memiliki makna menebas, merambah hutan, semak, dan belukar. Sementara itu, pada hakikatnya babad Cirebon mengisahkan awal mula pendirian Cirebon yang dilakukan oleh Pangeran Walangsungsang dibantu dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Seiring derasnya arus modern, masyarakat setempat perlu menjaga dan melestarikantradisi lisan “Pembacaan Babad Cirebonâ€. Hal tersebut sangat urgen karena cerita babad Cirebon memiliki fungsi strategis, salah satunya menjadi sebuah kekuatan literasi budaya. Kata Kunci: Pembacaan Babad Cirebon, Tradisi Lisan, dan Literasi Buday
Cerpen “Corat-Coret di Toilet†Karya Eka kurniawan Sebagai Alternatif Bahan Literasi
Cerpen merupakan jenis karya sastra yang memaparkan kisah ataupun cerita tentang kehidupan manusia lewat tulisan pendek. Dalam upaya membiasakan siswa membaca dan melestarikan budaya literasi, cerpen yang menarik, mengedukasi, dan bahasanya mudah dipahami siswa perlu dikenalkan oleh guru. Sehubungan dengan itu, cerpen “Corat-coret di Toilet†karya Eka Kurniawan bisa dijadikan bahan alternatif literasi pada siswa jenjang SMA karena memuat tiga poin penting yakni menarik, mengedukasi, dan bahasanya mudah dipahami.Kata Kunci : Cerpen, Corat-coret di toilet, literasi sejara
Warna Lokal Melayu pada Novel Ayah Karya Andrea Hirata
Novel Ayah karya Andrea Hirata yang diterbitkan tahun 2015 menarik untuk dibaca sekaligus dianalisis. Karya tersebut satu dari beberapa novel yang mengandung warna lokal. Ada pun warna lokal yang ditonjolkan adalah melayu. Melayu sebagai sebuah kelompok memiliki karakteristik. Melayu identik dengan islam, adat istiadat, dan bahasa tetapi juga lekat dengan kemiskinan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Untuk itulah penulis tertarik menelitinya. Berdasarkan hal itu penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan gambaran warna lokal melayu pada novel Ayah karya Andrea Hirata; (2) mendeskripsikan kehidupan masyarakat melayu Belitung. Dengan penelitian ini diharapkan masyarakat mengenal lebih dalam tentang melayu sekaligus memberi referensi penelitian sastra terkait warna lokal. Sumber data penelitian ini adalah novel Ayah karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif dengan pendekatan teknik analisis isi. Data diperoleh dengan teknik membaca dan mencatat. Kata Kunci: Ayah, Andrea Hirata, Melayu, Antropologi Sastr
Pembelajaran Memproduksi Teks Eksplanasi Kompleks Menggunakan Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Siswa SMK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas dan hasil siswa SMK dalam memproduksi teks eksplanasi kompleks dengan menggunakan model pembelajaran berbasis proyek.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu dengan menggunakan nonequivalent control group design.Populasi yang dipilih yaitu siswa kelas XI SMK 1 PGRI Palimanan yang berjumlah 306 siswa.Sampel yang digunakan adalah kelas XI TKJ 3 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI MM 1 sebagai kelas kontrol.Teknik pengumpulan data dengan menggunakan instrumen tes dan lembar observasi.Berdasarkan hasil penelitian dapat dibuktikan bahwa pembelajaran berbasis proyek efektif. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes awal dengan nilai rata-rata 58, mengalami peningkatan pada tes akhir dengan nilai rata-rata 78,5.Berdasarkan hasil pengolahan data nilai  lebih besar dari  pada taraf signifikansi 5% yaitu >1,998.Hasil observasi aktivitas siswa menunjukkan kriteria baik dengan rata-rata 70,3%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran memproduksi teks eksplanasi kompleks dengan menggunakan model pembelajaran berbasis proyek untuk siswa SMK efektif dan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa.Kata Kunci: Model Pembelajaran Berbasis Proyek, Memproduksi Teks Eksplanasi Komplek
Gambaran Imperialisasi dan Kolonialisasi di Pulau Jawa Abad Ke-19 dalam Travel Writing : A Visit to Java Karya William Basil Worsfold
Tulisan ini menganalisis gambaran imperialisasi dan kolonialisasi pulau Jawa abad ke -19 dalam Travel Writing : A Visit to Java karya william Basil Worsfold. Analisis tersebut bertujuan untuk memberi gambaran tentang imperialisasi dan kolonialisasi yang dilakukan bangsa Eropa terutama Belanda di Jawa. Dengan menggunakan pandangan Edward William Said tentang wacana Timur-Barat dan definisi tentang imperialisme serta teori representasi Stuart Hall, dapat disimpulkan bahwa bangsa Eropa terutama Belanda melakukan praktek imperialisme dan kolonialisasi dengan mendominasi, merekonstruksi, dan menguasai pulau Jawa yang kaya sumber daya alam. Bangsa Eropa mendirikan pusat pemerintahan dan perdagangan, mendirikan pusat pembibitan tanaman, menguasai tanah dan melakukan kegiatan tanam paksa, membanggun fasilitas jalan untuk mengangkut hasil-hasil perkebunan, mendirikan pabrik, dan menjual hasilnya ke luar negeri terutama negara-negara Eropa.  Kata kunci : travel writing, imperialisasi, dominasi, rekonstruksi, wacana Timur - BaratÂ
Wujud Pemilihan Kode Tutur Guru dan Siswa di SMP Perbatasan Cirebon Kuningan
Pemilihan kode tutur dibutuhkan guru dan siswa dalam interaksi kegiatan pembelajaran, tanpa pemilihan kode tutur yang baik, pembelajaran tidak akan berlangsung dengan efektif. Tujuan penelitian ini adalah mendeksripsikan dan menganalisis wujud pilihan kode tutur dalam kegiatan pembelajaran di SMP perbatasan Cirebon Kuningan. Peneliti tertarik meneliti pemilihan kode tutur guru dan siswa di SMP perbatasan Cirebon Kuningan dengan mengambil data di kelas VII SMP dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, peneliti mengambil data pada kelas VII karena siswa pada masa ini sedang mengalami masa transisi (peralihan) dengan mengambil data di tiga sekolah yang berada tepat di daerah perbatasan Cirebon Kuningan. Data dikumpulkan dengan metode simak dengan teknik simak bebas libat cakap. Wujud pilihan kode dianalisis menggunakan teknik baca markah dan teknik ganti. Berdasarkan hasil analisis data, wujud pemilihan kode tutur dalam ranah formal di perbatasan Cirebon Kuningan berupa alih kode, campur kode, dan variasi bahasa
Eufemisme dan Disfemisme dalam Catatan Najwa “Darah Muda Daerahâ€: Pola, Bentuk, dan Makna
Bahasa dalam penggunaannya tidak bisa lepas dari makna yang mengikuti. Makna yang ditimbulkan dapat mengandung nilai rasa positif (eufemisme) dan negatif (disfemisme) bergantung dengan tujuan penggunaannya. Penelitian ini diarahkan untuk mengungkap bagaimanakah pola, bentuk, dan makna dan pada Catatan najwa “Darah Muda Daerahâ€. Hal ini bertujuan untuk mengungkap konstruksi dan maksud dari wacana yang cenderung dipahami secara multitafsir oleh masyarakat. Hasil penelitian menunjukan bahwa lebih banyak makna eufemisme daripada disfemisme. Penggunaan pilihan kata yang bermakna eufemisme seolah memperhalus apa yang hendak disampaikan oleh redaksi Catatan Najwa
Variasi Bahasa Gaul pada Mahasiswa Unswagati Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Tahun 2016
 Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan untuk berinteraksi, bekerja sama, dan mengidentifikasi diri dalam suatu masyarakat. Anggota masyarakat bahasa biasanya terdiri atas berbagai status sosial dan latar belakang budaya yang berbeda. Perbedaan tersebut berdampak pada timbulnya variasi penggunaan bahasa oleh masyarakat dalam berkomunikasi. Saat ini pengguaan bahasa Indonesia baik dalam kehidupan nyata maupun kehidupan fiksi, sudah mulai mengalami interferensi dan mulai bergeser digantikan oleh penggunaan bahasa gaul. Pengguna bahasa gaul dalam masyarakat luas di Indonesia tentunya berdampak negatif terhadap pengguna bahasa Indonesia secara baik dan benar. Saat ini, di kalangan masyarakat sudah banyak yang menggunakan bahasa gaul, terutama di kalangan remaja yang mudah akrab dan sangat mudah terpengaruhi oleh fenomena bahasa gaul tersebut. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan variasi bahasa gaul yang bagaimanakah yang digunakan oleh mahasiswa Unswagati Cirebon. Adapun metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik metode penyebaran angket. Kemudian, metode observasi ini juga digunakan untuk mengungkap penggunaan bahasa gaul oleh mahasiswa tingkat 2 Unswagati Cirebon tahun 2016.  Kata Kunci: Variasi Bahasa, bahasa Gaul, dan Pemertahanan Bahas