AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
Penekanan Pertumbuhan Colletotrichum sp. Penyebab Penyakit Antraknosa Oleh Beberapa Agens Hayati Pada Skala In Vitro
Penyakit antraknosa merupakan salah satu penyakit utama cabai, dengan kehilangan hasil yang ditumbulkan dapat mencapai 50-100%. Salah satu alternatif pengendalian yaitu penggunaan agens hayati. Beberapa agens hayati koleksi BBPOPT telah berhasil diuji penenakannya terhadap Pyricularia grisea, sehingga perlu diuji pada patogen lain. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji beberap agens hayati terhadap penekanan pertumbuhan Colletotrichum. Sejumlah 5 agens hayati (Pseudomonas fluorescens, Gliocladium sp., Paenibacillus polymyxa, Trichoderma sp., dan Bacillus subtilis) akan diuji kemampuan pertumbuhan Colletotrichum sp. Penelitian dilakukan di Laboratorium Menengah Agroteknologi, Program Studi Agroteknologi, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma, Kampus F7 Ciracas. Penelitian ini menggunakan rancangan rancangan acak lengkap. Masing-masing agens hayati ditanam pada media PDA untuk diuji antagonis dengan Coletotrichum sp secara dual culture dan diulang sebanyak 4 kali. Analisis statistik menggunakan program SAS 9.1 dengan mengolah data yang diperolah dengan ANOVA. Penelitian menunjukkan hasil bahwa dari semua agens hayati berpengaruh nyata secara statistik terhadap penekanan Colletotrichum dibandingkan dengan kontrol. Agens hayati terbaik menekan pertumbuhan Colletotrichum yaitu P. fluorescens sebesar 36.08%, kemudian diikuti oleh Trichoderma sp dengan penekanan pertumbuhan sebesar 35%. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa agens hayati yang diuji mempunyai potensi untuk mengendalian Colletotrichum.Penyakit antraknosa merupakan salah satu penyakit utama cabai, dengan kehilangan hasil yang ditumbulkan dapat mencapai 50-100%. Salah satu alternatif pengendalian yaitu penggunaan agens hayati. Beberapa agens hayati koleksi BBPOPT telah berhasil diuji penenakannya terhadap Pyricularia grisea, sehingga perlu diuji pada patogen lain. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji beberap agens hayati terhadap penekanan pertumbuhan Colletotrichum. Sejumlah 5 agens hayati (Pseudomonas fluorescens, Gliocladium sp., Paenibacillus polymyxa, Trichoderma sp., dan Bacillus subtilis) akan diuji kemampuan pertumbuhan Colletotrichum sp. Penelitian dilakukan di Laboratorium Menengah Agroteknologi, Program Studi Agroteknologi, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma, Kampus F7 Ciracas. Penelitian ini menggunakan rancangan rancangan acak lengkap. Masing-masing agens hayati ditanam pada media PDA untuk diuji antagonis dengan Coletotrichum sp secara dual culture dan diulang sebanyak 4 kali. Analisis statistik menggunakan program SAS 9.1 dengan mengolah data yang diperolah dengan ANOVA. Penelitian menunjukkan hasil bahwa dari semua agens hayati berpengaruh nyata secara statistik terhadap penekanan Colletotrichum dibandingkan dengan kontrol. Agens hayati terbaik menekan pertumbuhan Colletotrichum yaitu P. fluorescens sebesar 36.08%, kemudian diikuti oleh Trichoderma sp dengan penekanan pertumbuhan sebesar 35%. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa agens hayati yang diuji mempunyai potensi untuk mengendalian Colletotrichum
Efektivitas POC Kulit Pisang dan Pupuk Kotoran Ayam terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kacang Kedelai (Glycine max L. Merril).
Produksi kedelai tidak dapat memenuhi permintaan kacang kedelai yang terus meningkat di Indonesia, sehingga perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan produksi kedelai. Salah satu usaha yang dapat meningkatkan produktifitas kedelai adalah penggunaan pupuk dengan benar dan tepat. Pupuk organik dimanfaatkan untuk menambah kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah, dan juga mengurangi penggunaan pupuk kimia yang berdampak buruk bagi lingkungan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik cair (POC) yang berasal dari kulit pisang dan pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kacang kedelai (Glycine max L. Merril). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama POC kulit pisang (KP) yang terdiri atas KP0= kontrol, KP1= 100 ml/ liter air/ plot, KP2= 200 ml/ liter air/ plot dan KP3= 300 ml/ liter air/ plot dan faktor kedua pupuk kotoran ayam (KA) yang terdiri atas KA0=kontrol, KA1= 1 kg/ plot, KA2= 2 kg/ plot dan KA3= 3 kg/ plot. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa pemberian POC kulit pisang berpengaruh sangat nyata pada seluruh parameter yang diteliti, hasil paling tinggidiperoleh pada dosis300 ml/l air /plot. Perlakuanpupuk kandang kotoran ayamjuga berpengaruh sangat nyata pada semua parameter yang di teliti, hasil tertinggi didapat pada perlakuanKA3= 3 kg/plot
Intensitas Cahaya dan Dosis NPK Menentukan Pertumbuhan Bibit Kopi Arabika (Coffea arabica L.)
Sebagai daerah tropis yang melimpah dengan cahaya, namun kenyataan bahwa tidak semua tanaman dapat menerima intensitas cahaya penuh, untuk mendapatkan intensitas cahaya yang optimal bagi pertumbuhan bibit tanaman kopi dilakukanlah penelitian dengan bahan benih kopi Arabika dan naungan menggunakan paranet yang dapat dilalui cahaya. Penelitian dilaksanakan dengan Rancangan Acak Kelompok Petak Terbagi dengan tiga taraf intensitas cahaya 100%; 75%; 50% dan empat taraf pupuk: 0 kg/ha setara dengan 0 g/ 5 kg tanah; 200 kg/ha setara dengan 0,5 g/ 5 kg tanah; 300 kg/ha setara dengan 0,75 g/ 5 kg tanah, dan 400 kg/ha setara dengan 1 g/ 5 kg tanah. Hasil penelitian membuktikan, intensitas cahaya 75% dengan sangat nyata berpengaruh terbaik terhadap bobot basah dan bobot kering tajuk demikian juga halnya dengan akar, sedangkan dosis pupuk dan intraksi antara perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap parameter yang diamati
Hubungan Luas Daun, Diameter Batang dan Tinggi Tanaman Padi Karena Perbedaan Waktu Aplikasi Paclobutrazol (PBZ).
Walaupun produksi beras setiap tahun bertambah tetapi masih belum mencukupi kebutuhan para konsumen, khususnya di Indonesia. Pemerintah Indonesia berupaya meningkatkan produksi padi dengan memanfaatkan lahan yang sudah berubah fungsi tetapi masih bias digunakan untuk menanam padi, seperti lahan sawah yang beralih fungsi menjadi kebun sawit. Desain Penelitian ini adalah RPT (Rancangan Petak Terbagi), dimana Petak Utama (PU) adalah varietas (IR64 Ciherang), sedangkan Anak Petak (AP) yaitu saat pemberian PBZ (sebelum 7 hari, saat Inisiasi Malai dan 7 hari setelah inisiasi malai (IM)) serta 5 ulangan. larutan PBZ yang diberikan yaitu 400 mg/L dan dosis yang diberikan dengan standar merata kesemua permukaan daun. Pemberian pupuk yaitu, Phospat (TSP) dan Kalium (KCl) diberikan sebagai pupuk dasar, dan 3 kali pemberian untuk N (Urea). Organisme Pengganggu Tanaman (OPM), dan gulma dikelola dengan pemakaian racun kimia jika sudah mencapai ambang batas ekonomi. Parameter yang diamati adalah luas daun, tinggi tanaman dan diameter batang. Hasil riset menunjukkan bahwa tinggi tanaman yang paling rendah yaitu saat aplikasi seminggu sebelum IM, sedangkan diameter batang yang terbesar diperoleh pada pemberian tujuh hari sebelum IM juga, begitu juga dengan luas daun, dimana daun bendera yang terluas ditemukan pada aplikasi 7 hari setelah IM. Untuk ketiga parameter, tidak dijumpai interkasi antara perlakuan waktu aplikasi PBZ dengan varietas yang diuji. Kesimpulannya, dari 3 waktu aplikasi PBZ dapat dilihat bahwa pemberian yang terbaik adalah tujuh hari sebelum IM
Pengaruh Pupuk Kandang Kambing dengan Berbagai Macam Bioaktivator dan Dosis Kaldu Sapi Terhadap Pertumbuhan Serta Hasil Jagung Pulut Ungu (Zea mays var. ceratina Kulesh).
Jagung adalah satu varietas jagung yang memepnyai kandungan antosianin tinggi, untuk itu perlu peningkatan dalam budidaya jagung pulut ungu. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pupuk kandang kambing dengan berbagai macam bioaktivator dan dosis kaldu sapi terhadap pertumbuhan serta hasil jagung pulut ungu (Zea mays var. ceratina Kulesh). Rancangan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor yaitu faktor pertama kotoran kambing yang diperkaya bioaktivator (K) : K0 (dengan N, P, K standar), K1 (nasi basi), K2 (rumen sapi), K3 (ragi), sedangkan faktor kedua dosis kaldu sapi S0 (tanpa kaldu sapi), S1 (kaldu sapi dosis 100 ml), S2 (kaldu sapi dosis 150 ml),S3 (kaldu sapi dosis 200 ml) pada masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Hasil data dianalisis menggunakan Analisis Sidik Ragam) dan apabila berbeda nyata dilakukan uji lanjut Duncans Mutiple Range Test (DMRT) taraf 5 %. Hasil penelitian menunjukkan pupuk kandang kambing dengan berbagai macam biokativator dapat menggantikan dosis pupuk N, P dan K standar pada tanaman kedelai
Respon Mini Bulb Bawang Merah terhadap Jarak Tanam, Aplikasi Biochar, dan Kascing Pada Tanah Ultisol.
Kebutuhan bawang merah sebagai salah satu komoditas hortikultura penting, secara signifikan terus mengalami peningkatan konsumsi oleh masyarakat. Upaya untuk meningkatkan produksi bawang merah adalah dengan pengaturan jarak tanam dan penggunaan media tanam yang tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji tentang jarak tanam, aplikasi biochar dan kascing terhadap pertumbuhan dan produksi mini bulb bawang merah (Allium ascalonicum L.) pada tanah ultisol. Pelaksanaan kegiatan penelitian ini dimulai pada bulan April sampai dengan bulan Desember 2020 di Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Parameter pengamatan yang dilakukan terdiri dari karakteristik tanah dan karakteristik agronomis bawang merah. Data dari penelitian ini dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan beda nyata terkecil (BNT) pada selang kepercayaan 95% atau nilai ?=5%. Berdasarkan hasil analisis unsur hara makro tanah di lapangan diperoleh dengan kriteria sangat rendah-rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak 10x15cm dengan kombinasi biochar sekam 20 ton/ha+kasing 15 ton/ha menghasilkan tinggi tanaman maksimal (24,67cm), biochar jagung 20 ton/ha + kascing 10 ton/ha menghasilkan jumlah helai daun tertinggi (4 helai), dan kombinasi biochar jagung 20 ton/ha + kascing 15 ton/ha menghasilkan bobot tertinggi (41,57 g). Pemberian biochar dan pupuk kascing juga memberikan pengaruh signifikan terhadap tinggi tanaman dan bobot tanaman. Implikasi dari penelitian adalah didapatkan sumber nutrisi alternatif dan serta jarak tanam terbaik bagi pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah
Pemanfaatan POC Tandan Kelapa terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) di Lahan Gambut.
Tandan kelapa sawit merupakan salah satu limbah yang banyak dijumpai di perkebunan kelapa sawit. Untuk mengurangi jumlahnya, salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan menjadikannya sebagai pupuk organik. Pupuk yang dapat dibuat dari tandan kelapa diantaranya adalah Pupuk Organik Cair (POC) yang dapat diaplikasikan pada tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) di lahan gambut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis POC tandan kelapa yang tepat dalam meningkatkan produksi jagung manis di Kabupaten Indragiri Hilir. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) non faktorial, terdiri dari (1) P0= (kontrol), (2) P1= 500 ml/l+perplot, penyemprotan 1 (15 HST), (3) P2= 750 ml/l+perplot, penyemprotan 2 (15, 30 HST). (4) P3= 1000 ml/l+perplot, penyemprotan 3 (15, 30, 40 HST). Dilaksanakan dua tahap, pertama analisis kandungan hara POC tandan kelapa di laboratorium Unri, dan tahap kedua adalah pengaplikasian POC tandan kelapa pada tanaman jagung manis. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, berat tongkol berkelobot, berat 100 biji, data hasil pengamatan dilanjutkan dengan uji tukey HSD pada taraf kepercayaan 5%. Hasil penelitian tahap 1 kandungan unsur hara POC tandan kelapa Pupuk Cair N-total 0,12%, P2O5 0,10%, K2O 0,15%, Ca 16,15 ppm, Mg 115,10 ppm, B 4,82 ppm, Cu 6,43 ppm Zn 6,35 ppm. Tahap 2 pertumbuhan dan produksi memperlihatkan pengaruh yang nyata pada semua parameter. Pemberian tandan kelapa 1000 ml/l merupakan hasil yang optimum terhadap pertumbuhan jagung mani
Pertumbuhan In Vitro Tribulus terrestris dengan Perlakuan Indole Butyric Acid (IBA) dan Benzyl Amino Purine (BAP).
Tribulus terrestris merupakan salah satu tanaman obat yang mempunyai beragam manfaat antara lain sebagai diuretik (peluruh kencing), meningkatkan kadar hormon testoteron, memulihkan vitalitas dan menambah kebugaran. Hambatan dari budidaya tanaman ini secara konvensional adalah relatif rendahnya persentase daya kecambah, bentuk bijinya yang kecil dan budidaya yang tergantung pada musim tertentu. Perbanyakan tanaman dengan menggunakan biji secara in vitro merupakan solusi yang dapat digunakan untuk memperbanyak tanaman ini. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan in vitro T. terrestris dengan perlakuan IBA dan BAP. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi IBA dan faktor kedua adalah konsentrasi BAP. Analisis data dilakukan dengan uji DMRT dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi pemberian IBA 1 ppm + BAP 1 ppm menghasilkan tinggi tunas tertinggi dan jumlah akar terbanyak, interaksi pemberian IBA 1 ppm + BAP 1 ppm dan IBA 1,5 ppm + BAP 2 ppm menginduksi saat muncul akar tercepat. Pemberian IBA secara tunggal tidak mempengaruhi pertumbuhan eksplan T. terrestris, pemberian IBA 0,5 ppm dikombinasikan dengan BAP 2 ppm dapat menginduksi panjang akar terpanjang. Pemberian BAP 1 ppm dapat menginduksi saat muncul tunas tercepat, saat muncul daun tercepat dan jumlah daun terbanyak
Konservasi Air dan Mata Air Nagahuta Kabupaten Simalungun Melalui Pembuatan Sumur Resapan Air Hujan
Mata air Nagahuta dan kawasan imbuhannya merupakan satu sumber air baku tertua Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirtauli, kebutuhan air masyarakat Kabupaten Simalungun dan Kota Pematang Siantar sangat bergantung dari keberadaanya. Jenis penggunaan lahan di kawasan imbuhan mata air Nagahuta didominasi oleh kawasan pertanian (perladangan dan perkebunan). Telah terjadi perubahan besar pada penggunaan lahan yang memberi pengaruh pada kawasan imbuhan mata air tersebut yaitu berkurangnya daya serap tanah di kawasan imbuhan sehingga menurunkan potensi cadangan air tanah, dan berujung pada penurunan debit mata air dan air tanah. Penelitian ini bertujuan untuk 1). Memberi pemahaman kepada masyarakat pentingnya konservasi air hubungannya dengan pelestarian lingkungan dan peningkatan akses terhadap air bersih. 2). Pelatihan rancang bangun, membangun sumur resapan dan menghitung anggaran biaya pembuatan sumur resapan. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Data yang dikumpulkan adalah data primer (survei, wawancara, dokumentasi) dan data sekunder. Pembuatan 15 unit contoh sumur resapan dengan ukuran 2 m x 2 m x 2 m diharapkan bisa menjadi pedoman bagi masyarakat dalam membangun sumur resapan sesuai standar yang dibutuhkan. Untuk membangun satu unit sumur resapan dibutuhkan biaya Rp. 3.437.620,29
Kombinasi Media Tanam dan Dosis Urea pada Pertumbuhan Bayam Putih (Amarathus tricolor)
Dengan berkurangnya lahan pertanian yang produktif, maka dibutuhkan inovasi untuk penggunaan media tanam, sehingga dapat meminimalisir penggunaan tanah sebagai media tanam.Salah satunya adalah arang sekam. Arang sekam mudah didapatkan dan cukup melimpah.Riset ini memiliki maksud untuk melihat kombinasi media tanam dan dosis urea pada pertumbuhan bayam putih (Amarathus tricolor). Penelitian ini dilakukan di Desa Ujung Barat Kecamatan Babussalam, pada November sampai Desember 2020. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok, dengan 6 perlakuan (Jenis Media Tanam : Sekam Padi, arang sekam 15 menit, arang sekam 30 menit, dan Dosis pupuk Urea: 10g/plot,15g/plot, 20g/plot) dengan 3 ulangan. Tes lanjutan yang digunakan adalah Beda Nyata Jujur (BNJ). Parameter yang diamati tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang. Hasil observasi menunjukkan bahwa perlakuan jenis media tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 2, 3 dan MST, diameter batang umur 2 MST dan jumlah daun pada seluruh umur pengamatan. Pemberian pupuk Urea berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun umur 2 dan 3 MST, dan diameter batang umur 1, 2 dan 3 MST. Pada interaksi perlakuan jenis media tanam dan pemberian pupuk Urea hanya berpengaruh nyata pada jumlah daun umur 3 MST dan diameter batang umur 3 dan 4 MST. Secara umum, penelitian ini kami simpulkan bahwa interaksi atau kombinasi antara perlakuan yang terbaik adalah pada perlakuan media sekam padi dan dosis urea 20 g (U1S3) pada setiap parameter