AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
The Effect of a Combination of Fly Ash and Manure Pellets on the Amelioration of Latosol Subsoil and Its Impact on the Growth and Yield of Pakcoy (Brassica rapa L.)
Fly ash, a solid byproduct of coal combustion, contains both macro- and micronutrients that can function as soil conditioners. This study explores the sustainable use of fly ash in agricultural applications, specifically its role in improving acidic soils. The objective is to evaluate the potential of fly ash based on its chemical properties and agronomic advantages. A quantitative experimental design was applied, incorporating three levels of fly ash and two levels of manure fertilizer combinations, each with four replications plus a control group, resulting in a total of 24 experimental plants. The study assessed various parameters, including pakcoy (Brassica rapa L.) morphological traits (plant height, leaf count, root length, fresh and dry biomass), chemical characteristics of leachates (Ca²⁺, Na⁺, pH, TDS, and EC), photosynthetic performance, and statistical analysis. The results indicated that the treatment (A₂B₂) comprising 35% fly ash, 45% chicken manure, and 20% soil produced the optimal outcomes across all parameters. This treatment led to the best pakcoy growth, characterized by the highest number of leaves, greatest fresh and dry weights, and the longest root development. These findings highlight that fly ash offers a sustainable and effective solution for soil amendment, enhancing agricultural productivity on pakcoy plant by improving soil quality while simultaneously contributing to industrial waste management
Elevating the Growth and Production of Asparagus Beans Through the Use of Coffee Grounds and Rice Husk Ash
Asparagus beans (Vigna unguiculata subsp. Sesquipedalis) have high economic and nutritional potential, but their yield has declined due to suboptimal land fertility. Inorganic fertilizers pose adverse influence on the environment, so more eco-friendly organic materials, such as coffee grounds and rice husk ash are necessary. This study aims to evaluate the effect of coffee grounds and rice husk ash on the growth and production of asparagus beans. It was conducted in the experimental garden of the Faculty of Agriculture, Universitas Borneo, Tarakan City, using a Randomized Block Design (RBD) with five treatments: no coffee grounds and rice husk ash (P0), 1.5 ton/ha of coffee grounds (P1), 4 ton/ha of rice husk ash (P2), 0.75 ton/ha of coffee grounds + 2.0 ton/ha of rice husk ash (P3), and 1.5 ton/ha of coffee grounds + 4 ton/ha of rice husk ash (P4). The results corroborated that using 1.5 ton/ha of coffee grounds (P1) yields the highest outcome with respect to plant height (113.4 cm), the number of leaves (38 strands), the number of pods to the control (4 pieces), the length of the pods (4.01 cm), and the weight of the pods (140.65 g), compared to other treatments and control. Coffee grounds are proven a more effective material than its combination with rice husk ash in elevating the growth and yield of asparagus beans in red-yellow podzolic soil
Characterization of Phenology and Growth Phases of Local Sorghum (Sorghum bicolor L. Moench) from East Sumba
Sorghum is one of the cereal crops currently being widely developed as an alternative food in Indonesia. One of the approaches is through research in the field of plant breeding. To initiate the development of more advanced research, with future research focused on developing local cultivars as part of local wisdom that preserves sustainability and genetic diversity, information is needed regarding the phenological characteristics and growth phases of sorghum plants as conducted in this study. The plant materials used were two local sorghum genotypes of East Sumba, namely Watar Hammu Manippa Tadda and Watar Hammu Mitting Nggangga. A descriptive research method was used to provide a detailed description of the characteristics of sorghum plants. The research was conducted from June to December 2024 at the Science Techno Park (STP), Faculty of Agriculture and Business, Satya Wacana Christian University, Wates Village, Getasan District, Semarang Regency, at an altitude of 1118 meters above sea level. The results showed that the local East Sumba sorghum genotypes, Watar Hammu Manippa Tadda and genotype Watar Hammu Mitting Nggangga, have similar phenological charactersistics in terms of leaf, stem, and root, while their seed characteristics and panicle shapes of the two types are different, with clear distinctions in seed and panicle morphology serving as important differentiating traits. Based on the growth phase, there are no significant differences between the two genotypes. The research results indicates that both genotypes have strong potential as breeding materials, with breeding efforts best directed toward combining the superior traits of each genotype, maintaining local adaptation while improving seed productivity and quality. This study provides detailed information on the phenological characteristics and growth phases of two local sorghum varieties from East Sumba. Information related to plant phenology is an important foundation for developing sorghum breeding research in Indonesia. Knowing the characteristics of the plant also supports the optimal use of sorghum as a food source or alternative feed
Hubungan Praktik Budidaya di Berbagai Perkebunan di Sub-Daerah Aliran Sungai Tuntang Provinsi Jawa Tengah terhadap Karbon Organik Tanah
Penurunan kandungan karbon organik dalam tanah sering kali menjadi dampak dari penerapan praktik budidaya yang kurang ramah lingkungan di agroekosistem salah satunya adalah lahan perkebunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi praktik budidaya yang diterapkan di berbagai perkebunan di Sub DAS Tuntang, mengetahui kandungan karbon organik tanah, serta menganalisis hubungan antara praktik budidaya dengan kandungan karbon organik tanah. Penelitian dilakukan melalui survei lapangan di 41 titik sampel menggunakan metode stratified random sampling, disertai observasi agroekosistem dan wawancara petani. Analisis hubungan antara praktik budidaya dengan kandungan SOC dilakukan menggunakan Fisher's Exact Test. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar praktik budidaya seperti pemupukan, pola tanam, pengolahan tanah, penutup tanah, dan pengendalian hama tidak memiliki hubungan signifikan dengan kandungan karbon organik tanah. Namun, pengelolaan sisa tanaman dengan membiarkannya terurai secara alami terbukti memiliki hubungan signifikan dalam meningkatkan kandungan karbon organik tanah. Temuan ini menunjukkan bahwa retensi residu tanaman merupakan strategi yang efektif untuk memperbaiki kualitas tanah sekaligus mendukung upaya mitigasi perubahan iklim di lahan perkebunan
Uji Perbandingan Warna Perangkap Likat Terhadap Populasi Hama Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) di Lahan Organik, Selangor
Cabai (Capsicum annuum L.) merupakan tanaman hortikultura yang mengandung capsaicin, senyawa kimia yang bertanggung jawab atas rasa pedasnya. Cabai diperkenalkan ke Indonesia pada abad ke-15 oleh pelaut Portugis. Saat ini, cabai banyak digunakan di rumah tangga, restoran, dan industri sebagai bahan makanan, bumbu. Penelitian dilaksanakan di lahan cabai organik terpadu Malaysian Agricultural Research and Development Institute (MARDI) pada tanggal 1 - 21 September 2024. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi keragaman hama, populasi hama dan persentase hama utama yang terperangkap. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Perangkap ikat biru dan kuning, diberi tanda dengan berbagai macam tanda yang disesuaikan dengan ordo hama tersebut. Kemudian dihitung jumlah hama sesuai dengan ordo yang telah diberikan tanda pada masing- masing perangkap likat. Perangkap berwarna kuning dan biru yang mampu menarik dan menangkap berbagai jenis serangga yang dijadikan untuk indikator jenis serangga yang berada di pertanaman jenis hortikultura dan tanaman tahunan. Hama pada tanaman cabai (Capsicum annuum L.) terdiri dari beberapa hama seperti trips, kutu daun dan kutu kebul. Tidak hanya ada hama utama pada tanaman cabai (Capsicum annuum L) tapi sudah ada jenis lainnya yang berada pada perangkat likat yang digunakan. Banyaknya jumlah tangkapan pada perangkap biru karena warna biru lebih peka terhadap mata pada serangga seperti trips, kutu daun, kutu kebul dan serangga lainnya
Evaluasi Pertumbuhan dan Produksi Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Aksesi Liar Asal Kamerun di Lingkungan Kebun Percobaan PPKS Adolina
Salah satu strategi meningkatkan produktivitas yaitu introduksi kelapa sawit dari luar daerah dengan memilih varietas unggul yang adaptif terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan dan produksi aksesi liar kelapa sawit asal Kamerun serta hubungannya dengan faktor lingkungan seperti tanah, iklim dan cuaca. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan PPKS Adolina kecamatan Perbaungan, Sumatera Utara, di laboratorium Riset dan Teknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara dan di PT. Socfin Indonesia pada bulan Januari sampai dengan April 2024. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) sederhana metode ex post facto dan deskriptif. Data karakter morfologi dianalisis secara deskriptif dan dikelompokkan berdasarkan standar deviasi. Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan Korelasi Pearson (r) dan regresi linear berganda, mencakup karakter morfologi, produksi, dan karakteristik tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi pertumbuhan dan produksi 36 kelapa sawit aksesi liar asal Kamerun dibandingkan varietas DxP 540, yaitu aksesi CMR027D, CMR044D, dan CMR005D menunjukkan adaptasi yang baik karena mempunyai arakter pertumbuhan lebih lambat dan pelepah yang tidak terlalu panjang serta produksi yang tinggi. Aksesi CMR097D, CMR044D, CMR025D, CMR055D, CMR018D, CMR005D, CMR020D, CMR079D mempunyai jumlah tandan dan berat tandan diatas rata-rata yang menunjukkan potensi produktivitas yang tinggi. Terdapat korelasi signifikan antara pertumbuhan, produksi dan faktor lingkungan. Aksesi CMR058D, CMR025D, dan CMR055D menunjukkan korelasi positif terhadap faktor cuaca, yang mengindikasikan bahwa aksesi ini mempunyai kemampuan adaptasi yang baik terhadap perubahan lingkungan
Morfologi dan Produktivitas Kacang Hijau (Vigna radiata L.) pada Cekaman Kekeringan dengan Aplikasi Silika
Elnino and lanina have led to lower mung bean production and higher risk for farmers. Mung beans are one of the commodities whose export value has increased in recent years, so the problem of global warming is a serious threat that can reduce mung bean production. The purpose of this research was to determine the effect of silica application on morphology and yield of mung bean under drought stress.This research was conducted in a plastic house in Glumpang Sulu Timur Village, Dewantara District, North Aceh Regency, Aceh in February-May 2023. The research used a Randomized Block Design with two factors and three replications. The first factor was drought stress with 3 levels: 80%, 60%, 40%KL. The second factor is silica application with 4 levels: 0.15, 30, 45ml/l. The results showed that A3 drought stress (40% KL) can reduce the growth of plant height, number of leaves, leaf area, number of effective root nodules, root volume, root dry weight, crown dry weight, number of productive branches. Drought stress A3 (40% KL) also increased root length and accelerated flowering and harvesting age. Application of silica dose of 45ml/l can increase the growth and yield of mung beans. The interaction (A1S3) between 80% KL drought stress and 45ml/l silica can increase the number of mung bean seeds.Perubahan iklim global, terutama fenomena El Niño dan La Niña, menyebabkan ketidakstabilan curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan, yang berdampak negatif pada produksi kacang hijau. Padahal, kacang hijau merupakan salah satu komoditas ekspor yang terus mengalami peningkatan permintaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian silika terhadap karakter morfologi dan hasil panen kacang hijau di bawah cekaman kekeringan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah tingkat cekaman kekeringan (80%, 60%, dan 40% kapasitas lapang), sedangkan faktor kedua adalah dosis silika (0, 15, 30, dan 45 ml/L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cekaman kekeringan 40% KL secara signifikan menurunkan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, volume akar, dan bobot kering tanaman, serta mempercepat umur berbunga dan panen. Pemberian silika dosis 45 ml/L mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen kacang hijau, dengan interaksi terbaik ditemukan pada kombinasi 80% KL dan 45 ml/L silika. Kesimpulannya, silika berperan dalam meningkatkan ketahanan kacang hijau terhadap cekaman kekeringan dan dapat diterapkan sebagai strategi adaptasi untuk menjaga produktivitas di tengah perubahan iklim
Seleksi Bacillus sp. sebagai Penambat NPK dan Menghambat Aktivitas Jamur
Penyakit layu bakteri, terutama yang disebabkan oleh Fusarium solanum, telah menjadi ancaman serius bagi petani di Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh Fusarium solanum pada tanaman sulit dikendalikan yang menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi sektor pertanian di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi spesies bakteri Bacillus terpilih (bakteri cereus, bakteri megaterium, dan bakteri licheniformis) sebagai agen pengendali hayati untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dan aktivitas antijamur. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial, setiap perlakuan dilakukan sebanyak empat kali ulangan. Parameter yang diamati adalah uji antagonis yaitu diameter jamur, radius dan zona hambat. Parameter uji antijamur yaitu diameter jamur pada media. Parameter untuk uji kemampuan pertumbuhan tanaman yaitu pertumbuhan ketiga bakteri. Analisis data menggunakan uji Tukey sistem SAS. Melalui uji kultur ganda, ditemukan bahwa semua spesies Bacillus terpilih mampu menghambat pertumbuhan Fusarium solanum. Selain itu, uji produksi senyawa volatil menunjukkan bahwa Bacillus sp. menghasilkan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan jamur. Selanjutnya, uji kemampuan pertumbuhan tanaman menunjukkan bahwa Bacillus sp. memiliki kemampuan untuk memperbaiki nitrogen, melarutkan fosfat, dan kalium. Temuan ini menunjukkan bahwa Bacillus sp. terpilih memiliki potensi besar sebagai alternatif pengendalian hayati yang ramah lingkungan untuk mengelola layu bakteri pada tanaman dan meningkatkan pertumbuhan tanaman
Pematahan Dormansi dan Periode Simpan Benih Cabai Rawit (Capsicum frutescens) Genotipe C307 dan C145x174
Benih cabai rawit memiliki sifat dormansi yang dapat mengacaukan saat tanam dan berdampak pada produksi. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari dan mengetahui teknik pematahan dormansi yang efektif dan periode simpan pada dua genotipe benih cabai rawit. Benih yang digunakan berasal dari dua genotipe cabai rawit yaitu genotipe C307 dan genotipe C145xC174. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dua faktor. Faktor pertama adalah metode pematahan dormansi yaitu kontrol (P1), perendaman dalam air hangat 40 °C selama 24 jam (P2), perendaman dengan GA3 200 ppm selama 24 jam (P3), dan perendaman dengan KNO3 0,08% selama 24 jam (P4). Faktor kedua adalah periode simpan yang terdiri dari 1, 2, 3 minggu penyimpanan. Pada benih genotipe C307, perlakuan pematahan dormansi berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah (DB) dan potensi tumbuh maksimum (PTM) dan berpengaruh sangat nyata terhadap peubah indeks vigor (IV). Periode simpan berpengaruh nyata pada kecepatan tumbuh (KcT) dan PTM serta sangat nyata terhadap IV. Interaksi perlakuan pematahan dormansi dan periode simpan berpengaruh nyata pada KcT dan sangat nyata pada IV. Pada benih genotipe C145x174, perlakuan pematahan dormansi berpengaruh nyata pada peubah DB dan PTM. Periode simpan berpengaruh nyata terhadap KcT, DB, IV, dan PTM. Interaksi perlakuan pematahan dormansi dengan periode simpan berpengaruh sangat nyata pada IV. Perlakuan pematahan dormansi terbaik pada benih cabai genotipe 307 dan C145x174 adalah dengan perlakuan P4
Pengaruh Pemberian Asam Salisilat terhadap Tanaman Kacang Merah Lokal (Phaseolus vulgaris L.) di Dataran Menengah
Kacang merah adalah sumber protein nabati yang penting di Indonesia, kaya akan nutrisi seperti protein, karbohidrat kompleks, serat, vitamin, dan mineral. Penanaman kacang merah di dataran menengah, terutama di Sumatera Utara, bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan efisiensi dalam rangka ekstensifikasi lahan. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh berbagai kultivar kacang merah lokal (Phaseolus vulgaris L.) asal Simalungun dan aplikasi asam salisilat terhadap tanaman kacang merah di dataran menengah. Penelitian dilaksanakan di Desa Rumah Galuh, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, yaitu 9 kultivar kacang merah lokal dan 3 konsentrasi asam salisilat (kontrol, 100 ppm, dan 200 ppm). Hasil penelitian menunjukkan kultivar Siantar Narumonda (TE1) memiliki hasil terbaik dan berpengaruh nyata pada tinggi tanaman. Pengaplikasian asam salisilat dengan konsentrasi 200 ppm memberikan pengaruh yang signifikan terhadap bobot basah, dan bobot kering tanaman. Asam salisilat terbukti mampu meningkatkan aktivitas fisiologis tanaman, seperti fotosintesis dan metabolisme, yang mendukung peningkatan produksi kacang merah. Interaksi antara kultivar dan aplikasi asam salisilat memberikan pengaruh signifikan pada tinggi tanaman, namun tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap parameter lainnya.