AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian
Not a member yet
    337 research outputs found

    Efektivitas Insektisida Nabati Daun Sirsak dan Sirih Hijau terhadap Mortalitas Rayap

    Full text link
    Penggunaan insektisida nabati untuk mengendalikan rayap Coptotermes curvignathus sudah dilakukan termasuk penggunaan ekstrak daun sirih hijau. Namun, belum ada penelitian yang dilakukan untuk melihat efektivitas ekstrak daun sirsak pada C. curvignathus, termasuk mengcampurkan ekstrak daun sirsak dan sirih hijau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh insektisida nabati dari ekstrak daun sirsak (Annona muricata), sirih hijau (Piper betle) dan pengaruh campuran dari keduanya terhadap mortalitas rayap C. curvignathus. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial yang terdiri dari 3 perlakuan dan 3 ulangan. Ekstrak dari kedua daun sirsak dan sirih hijau dibuat dengan beberapa konsentrasi dan kemudian disemprotkan ke C. curvignathus. Persentase mortalitas C. curvignathus dihitung 24 jam setelah aplikasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Duncan melalui SPPS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun sirsak pada seluruh perlakuan berpengaruh nyata terhadap mortalitas C. curvignathus dengan perlakuan konsentrasi 40% dan konsentrasi 60% menyebabkan mortalitas tertinggi yaitu 90%. Ekstrak daun sirih hijau pada seluruh perlakuan juga memberikan pengaruh nyata terhadap mortalitas C. curvignathus dengan perlakuan konsentrasi 50% menyebabkan mortalitas tertinggi yaitu 90%. Campuran dari ekstrak daun sirsak dan sirih hijau pada seluruh perlakuan juga memberikan pengaruh nyata terhadap mortalitas C. curvignathus dengan perlakukan konsentrasi 40% menyebabkan mortalitas tertinggi yaitu 76,67%. Penelitian ini menunjukkan bahwa daun sirsak dan sirih hijau efektif untuk mengendalikan C. curvignathus

    Penggunaan Biochar Limbah Kelapa Muda dan Kompos terhadap Produktivitas Kedelai

    Full text link
    Limbah kelapa muda merupakan salah satu biomassa yang melimpah, namun pemanfaatannya belum optimal. Limbah ini berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan biochar. Aplikasi biochar dari limbah kelapa muda dapat memperbaiki kondisi tanah pertanian serta meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Di sisi lain, kompos merupakan salah satu jenis pupuk organik yang dapat dikombinasikan dengan biochar. Namun, penggunaan kombinasi biochar dan kompos pada tanaman kedelai masih jarang dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian biochar limbah kelapa muda dan kompos terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai. Penelitian dilaksanakan di Indra Jaya, Pidie, pada bulan Agustus hingga November 2023. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) secara Faktorial, dengan dua faktor yaitu biochar limbah kelapa muda (B) dan kompos (K). Biochar terdiri atas tiga taraf: B0 = tanpa biochar (kontrol), B1 = 5 t ha-1, dan B2 = 10 t ha-1; sedangkan kompos juga terdiri atas tiga taraf: K0 = tanpa kompos (kontrol), K1 = 5 t ha-1, dan K2 = 10 t ha-1. Peubah yang diamati meliputi jumlah cabang, tinggi tanaman, umur berbunga, berat biji per tanaman, berat 100 butir biji, dan jumlah polong per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cabang tanaman kedelai meningkat sebesar 16,77% pada pemberian biochar dosis 10 t ha-1 dibandingkan tanpa biochar, dan meningkat sebesar 10,42% pada pemberian kompos dosis 10 t ha-1 dibandingkan tanpa kompos. Selain itu, berat 100 butir biji kedelai meningkat sebesar 10,83% pada pemberian biochar dosis 10 t ha-1 dibandingkan perlakuan tanpa biochar

    Pengaruh Jenis Media Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Pada Tiga Varietas Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Secara Hidroponik

    Full text link
    Bawang merah (Allium ascalonicum L.) dikenal sebagai salah satu tanaman komersial unggulan dengan potensi finansial tinggi yang produksinya mencapai 1.985.233 ton pada tahun 2023, namun harga sering berfluktuasi akibat keterbatasan pasokan, sehingga diperlukan peningkatan produktivitas melalui teknik budidaya seperti hidroponik untuk mengatasi penyempitan lahan pertanian. Penelitian ini dilakukan guna menganalisis dampak dari penggunaan media tanam serta varietas yang berbeda di masa pertumbuhan tanaman bawang merah sekaligus hasil produksinya. Penelitian telah dilaksanakan pada November 2024 – Februari 2025 di Perumahan Dasana Indah Blok SO16 No.12, Kabupaten Tangerang. Metode yang diterapkan ialah Rancangan Acak Kelompok (RAK) menggunakan media tanam serta varietas bawang merah sebagai faktornya. Kategori perlakuan yang dilakukan sebagai berikut : Kategori perlakuan yang dilakukan sebagai berikut : M1 (cocopeat), M2 (arang sekam), M3 (50% cocopeat + 50% arang sekam) dan V1 (Trisula), V2 (Bima Brebes), V3 (Merdeka). Seluruh kombinasi diulang sebanyak tiga kali dan masing-masing kombinasi terdiri dari tiga sampel, sehingga total sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 81. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media tanam cocopeat (M1) sangat signifikan mempengaruhi bobot umbi segar per tanaman dan bobot umbi kering per tanaman; media tanam arang sekam (M2) sangat signifikan mempengaruhi tinggi tanaman dan jumlah umbi per tanaman; dan varietas Bima Brebes (V2) sangat signifikan mempengaruhi hanya pada bobot umbi kering per tanaman. Kemudian dari hasil penelitian juga tidak ditemukan adanya saling keterkaitan antara jenis media tanam serta varietas pada seluruh aspek pengamatan

    Studi Kekerabatan Morfologi Jagung (Zea mays L.) Varietas Lokal Di Gorontalo

    Full text link
    Jagung varietas lokal Gorontalo merupakan salah satu jenis jagung yang memiliki kandungan gizi tinggi. Namun, jagung lokal jarang ditemukan dan belum dikenal secara luas oleh masyarakat. Kurangnya informasi terkait varietas ini menyebabkan kesulitan dalam pengembangannya, terutama terkait karakter fenetik jagung yang penting dalam program pemuliaan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter dan hubungan kekerabatan fenetik jagung varietas lokal Gorontalo berdasarkan marka morfologi. Penelitian ini dilaksanakan di Sreen House Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Gorontalo. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif. Pengamatan karakteristik morfologi terdiri dari 50 karakter meliputi habitus, akar, batang, daun dan bunga. Analisis hubungan kekerabatan dilakukan dengan metode UPGM (Unweighted Pair-Group with Mean of Arithmetic) melalui program statistik MVSP (Multivariate Statictical Program). Hasil karakterisasi pada empat varietas jagung lokal Gorontalo yaitu Binthe Doti, Binthe Pulo, Binthe Siropu dan Binthe Momala memiliki perbedaan dan persamaan karakter morfologi. Hasil analisis kekerabatan dari empat varietas jagung lokal Gorontalo berdasarkan dendogram menujukkan bahwa koefisien kemiripan berkisar 0,51-0,73. Hubungan kekerabatan yang sangat dekat terjadi antara Binthe Siropu dan Binthe Momala, diikuti oleh hubungan dengan Binthe Pulo. Sementara, Binthe Doti memiliki hubungan kekerabatan yang paling jauh dengan ketiga varietas lainnya, ditunjukkan oleh tingkat kesamaan yang lebih rendah.Jagung varietas lokal Gorontalo merupakan salah satu jenis jagung yang memiliki kandungan gizi tinggi. Namun, jagung lokal jarang ditemukan dan belum dikenal secara luas oleh masyarakat. Informasi yang masih minim terkait varietas ini menyebabkan kesulitan dalam pengembangannya, terutama terkait karakter fenetik jagung yang penting dalam program pemuliaan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter dan hubungan kekererabatan fenetik jagung varietas lokal Gorontalo berdasarkan marka morfologi. Penelitian ini dilaksanakan di Sreen House Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Gorontalo. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif. Pengamatan karakteristik morfologi terdiri dari 35 karakter meliputi habitus, akar, batang, daun dan bunga. Analisis hubungan kekerabatan dilakukan dengan metode UPGM (Unweighted Pair-Group with Mean of Arithmetic) melalui program statistik MVSP (Multivariate Statictical Program). Hasil penelitian menunjukkan empat varietas jagung lokal Gorontalo yaitu Binthe Doti, Binthe Pulo, Binthe Siropu dan Binthe Momala memiliki perbedaan dan persamaan karakter morfologi. Hasil analisis kekerabatan dari empat varietas jagung lokal Gorontalo berdasarkan dendogram menujukkan bahwa koefisien kemiripan berkisar 0,55-0,78. Hubungan kekerabatan yang sangat dekat terjadi antara Binthe Siropu dan Binthe Momala, diikuti oleh hubungan dengan Binthe Pulo. Sementara, Binthe Doti memiliki hubungan kekerabatan yang paling jauh dengan ketiga varietas lainnya, ditunjukkan oleh tingkat kesamaan yang lebih rendah

    Alternatif Baru Patogenisitas Hama Oryctes rhinoceros pada Elaeis guineensis Jacq Menggunakan Nematoda Steinernema sp.

    Full text link
    Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) adalah salah satu komoditas perkebunan yang paling penting di Indonesia. Permasalahan yang sering terjadi pada tanaman kelapa sawit yaitu adanya organisme penggangu tanaman salah satunya yaitu hama Oryctes rhinoceros dimana tingkat serangannya sangat tinggi pada tanaman yang belum menghasikan hingga tanaman menghasilkan mencapai 80%. Salah satu alternatif dalam menekan populasi hama O. rhinoceros yaitu menggunakan musuh alami Steinernema sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Steinernema sp. dalam menekan populasi hama O. rhinoceros pada tanaman kelapa sawit. Penelitian ini di lakukan di Lapangan dengan menggunakan pot. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) non faktorial dengan 4 taraf perlakuan yaitu dengan mengaplikasikan larutan yang mengandung juvenil infektif Steinernema sp. Adapun perlakuannya sebagai berikut: N0: Kontrol, N1: 30.000 ji/0,1 m3, N2: 60.000 ji/0,1 m3dan N3: 120.000 ji/0,1 m3) dengan 6 ulangan. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian hama O. rhinoceros dengan menggunakan Steinernema sp. mampu menekan populasi hama dengan menimbulkan gejala tubuh hama berwarna coklat kehitaman dan mengkerut. Tingkat daya persentasi terbaik pada mortalitas larva dengan perlakuan N3 (120.000 ji/0,1 m3) mendapatkan hasil 9.56%. Steinernema sp. terbukti mampu menekan populasi O. rhinoceros pada kelapa sawit, meskipun tingkat mortalitas masih rendah, sehingga perlu optimalisasi aplikasi dan penelitian lanjutan agar lebih efektif sebagai agens hayati ramah lingkungan dalam pengendalian hama

    Tissue Culture of Stevia (Stevia rebaudiana Bert.) with the Addition of Aloe vera Extract (Aloe vera (L). Burm.f) on Murashige and Skoog Medium (MS)

    Full text link
    The increasing demand for natural, low-calorie sweeteners highlights the importance of Stevia rebaudiana Bertoni, which produces steviol glycosides that are sweeter than cane sugar and provide health benefits. Due to low seed viability, tissue culture is preferred for propagation, with its success dependent on growth regulators and nutrient availability. Additionally, incorporating plant-derived supplements like Aloe vera, rich in bioactive growth-promoting compounds, may enhance in vitro development. This study aimed to identify the optimal concentration of Aloe vera extract in Murashige and Skoog (MS) medium to enhance the in vitro growth of Stevia rebaudiana. The experiment was conducted using sterile culture bottles arranged in a Completely Randomized Design (CRD) with one experimental factor, namely Aloe vera extract concentration, consisting of five treatment levels: 0%, 5%, 10%, 15%, and 20%. Each treatment was replicated five times, resulting in a total of 25 culture bottles used in this study. Observations were carried out periodically based on several parameters, including shoot, root, stem, and leaf development, as well as overall plant viability and growth performance. The findings demonstrated that 10% Aloe vera extract was the most effective concentration for promoting shoot, stem, and leaf growth, while root growth showed no significant variation across treatments

    Aktivitas Antagonis Isolat Bakteri Endofit Cabai dan Ciplukan terhadap Patogen Fusarium sp. dan Colletotrichum sp.

    Full text link
    Fusarium sp. dan Colletotrichum sp. merupakan patogen utama yang menyerang tanaman cabai. Bakteri endofit memiliki kemampuan antimikrobia sehingga mampu berperan sebagai pengendali hayati. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antagonis isolat bakteri endofit dari tanaman cabai dan ciplukan terhadap patogen Fusarium sp. dan Colletotrichum sp. Metode penelitian menggunakan dua isolat bakteri endofit dari tanaman cabai dan ciplukan, CS1A dan BA2(3). Kedua isolat dilakukan karakterisasi morfologi, dilanjutkan uji antagonis dual culture dengan metode Kirby Baurer pada media pertumbuhan PDA (Potato Dextrose Agar), serta kemampuan penghasil enzim ekstraseluler. Berdasarkan hasil karakterisasi morfologi, isolat CS1A berwarna putih, berbentuk tak beraturan, elevasi raised, tepian bergelombang, bentuk selnya batang, dan Gram positif. Isolat BA2(3) berwarna kuning, berbentuk bulat, elevasi cembung, tepian koloni yang mulus, berbentuk coccus, dan Gram positif. Hasil uji antagonis menunjukkan bahwa isolat CS1A dan BA2(3) memiliki potensi menghambat pertumbuhan Colletotrichum sp. dan Fusarium sp. secara in vitro. Zona hambat masing-masing sebesar 11,83 mm dan 15,66 mm terhadap Colletotrichum sp., serta 20,50 mm dan 9,16 mm terhadap Fusarium sp. Hasil uji biokimia isolat CS1A positif uji amilolitik dan selulolitik, sedangkan isolat BA2(3) positif uji amilolitik dan pelarut P. Kemampuan yang dimiliki isolat CS1A dan BA2(3) menunjukkan potensinya sebagai agen hayati terhadap patogen tanaman, Fusarium sp dan Colletotrichum sp

    Substitusi Pupuk Anorganik Menggunakan Kasgot terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis Ungu (Zea mays sacharata Sturt L.)

    Full text link
    Penggunaan pupuk anorganik yang masih menjadi andalan pada kegiatan budidaya jagung manis ungu, selain telah mencapai titik jenuh juga berdampak negatif terhadap kulitas tanah dan kesehatan lingkungan pertanian. Upaya mengurangi penggunaan pupuk anorganik dapat dilakukan melalui substitusi menggunakan pupuk organik, salah satunya menggunakan kasgot yang merupakan hasil biokonversi bahan organik oleh larva lalat tentara hitam. Kombinasi penggunaan pupuk anorganik dengan kasgot secara proporsional, diharapkan selain dapat memenuhi kebutuhan kesuburan kimia juga dapat memenuhi kesuburan fisik dan biologi untuk tanaman jagung manis ungu. Penelitian bertujuan untuk mengetahui proporsi pupuk anorganik dengan kasgot terhadap pertumbuhan dan hasil jagung manis ungu. Penelitian menggunakan pola dasar rancangan acak kelompok yang terdiri atas 4 perlakuan dengan 6 kali ulangan. Data dianalisis menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi pupuk anorganik menggunakan kasgot secara pemenuhan hara layak diterapkan untuk budidaya jagung manis ungu. Substitusi menggunakan kasgot sebesar 39% cenderung meningkatkan ukuran daun, berat tongkol kupas dan kadar gula reduksi biji sedang pada 59% meningkatkan kadar antosianin biji

    Isolation of Drought-Resistance Gene Encoded GmNAC-D in Dering-1 Variety of Soybean

    Full text link
    Drought is one of the most critical abiotic stresses limiting crop growth and productivity, causing substantial yield losses in major crops such as soybean (Glycine max L.). The No Apical Meristem (NAC) transcription factors (TFs) are plant-specific proteins that have been widely reported to play key roles in enhancing drought tolerance across various plant species. This study aimed to isolate and characterize a soybean NAC gene through a molecular approach. A NAC family gene was successfully isolated from drought-tolerant soybean cultivar Dering-1 and designated GmNAC-D (D = Dering-1). The gene was amplified by PCR-based cloning, sequenced and analyzed through bioinformatics, while tissue-specific expression was assessed using RT-PCR. The gene consists of a 762 bp open reading frame encoding 253 amino acids. Database analysis revealed that GmNAC-D shares high homology with GmNAC02, a known stress-responsive gene in soybean. Expression analysis across different tissues demonstrated that GmNAC-D is most abundantly expressed in stem tissue, followed by flowers and roots. Amino acid sequence analysis further confirmed its high similarity to GmNAC02, although with distinct expression profiles. The differential expression patterns of GmNAC genes suggest functional diversification during plant growth and development. Collectively, these findings expand the repertoire of soybean NAC transcription factors and provide a valuable genetic resource for the development of transgenic soybean with enhanced drought tolerance

    Morphology and Moleculer Sequencing Bactrocera sp. Fruit Fly from Deli Serdang District

    Full text link
    Due to some doubts regarding the morphological identification of fruit flies, molecular identification is necessary to more clearly determine the origin of the insect. With the PCR RAPD method, which can identify genetic markers, it can effectively and quickly distinguish closely related species. RAPD is used as a tool to create genetic maps, identify strains, species, populations, and systematics of various organisms. RAPD can differentiate laboratory populations that are morphologically indistinguishable. So the purpose of this study is to more clearly determine the identity of the fruit flies found, both morphologically and molecularly. This research method is a purpose sampling method, where fruit fly samples are obtained from traps using attractants in red guava plantations. The fruit fly species found in the red guava plantation location are Bactrocera sp., and Bactrocera kinabalu. The results of the study found that the fruit fly species Bactrocera sp. found in the village of Sawit Rejo was identified morphologically as having many similarities with Bactrocera papayae except for its abdominal pattern. To confirm the taxonomic status of Bactrocera sp. For further clarification, it is necessary to use molecular identification of cytochrome oxidase 1 and phylogenetic genes, with DNA sequencing results (500 bp) showing that the Bactrocera sp. species has a homology level of 88% with Bactrocera carambolae from the Genbank collection. The phylogenetic tree shows that Bactrocera sp. has ancestors from China

    319

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇