AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian
Not a member yet
    337 research outputs found

    Eksplorasi dan Karakterisasi Morfologi Vegetatif 19 Genotipe Padi Lokal Solok Selatan Sumatra Barat

    Full text link
    Mendapatkan keragaman genetik atau keragaman plasma nutfah perlu dilakukan karakterisasi sifat-sifat morfologi dan sifat agronomi dari suatu varietas lokal baru yang ditemukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi serta mengkarakterisasi morfologi vegetatif genotipe padi lokal Solok Selatan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu metode pengambilan sampel dengan sengaja (purposive random sampling) di lokasi penanaman ke genotipe padi lokal yang akan di karakterisasi morfologi vegetatifnya. Data yang dihasilkan berupa data kuantitatif yang terdiri dari tinggi tanaman, jumlah anakan, panjang ligula, lebar dan panjang helaian daun. Hasil eksplorasi menemukan 19 genotipe padi lokal yaitu Randah Sori, 46, Kuriak Batu, Redek Putiah, Simauang, Kuriak Karitiang, Batu Hampar Putih, Batu Hampar Kunig, Batu Hampar Tinggi, Padi 2000, Marleni, Kuniang Sarai, Rambutan, Tapak Leman, Randah Sungkai, Redek Sangir, Guliang Tandai Merah, Harum Manis dan Padi Nyai. Selain itu juga dilakukan analisis kekerabatan atau analisis kluster dengan metode NTSys baik secara kuantitatif ataupun kualitatif. Hasil karakterisasi morfologi vegetatif dari data kuantitatif diperoleh nilai variabilitas luas dengan keragaman yang tinggi untuk tinggi tanaman, jumlah anakan dan panjang helaian daun. Panjang ligula dan lebar helaian daun variabilitas tergolong sempit dengan tingkat keragaman yang rendah. Sementara untuk analisa deskriptif kualitatif semua karakter morfologi yang diamati memiliki variabilitas luas dengan keragaman yang rendah kecuali warna kelopak daun memiliki nilai keragaman yang tinggi.  Hasil Dendogram dari analisis kluster ke 19 genotipe padi lokal Solok Selatan memiliki nilai koefisien kesamaan (similaritas) yaitu antara 0,36 – 0,75 (36 -75%).

    Penambahan Massa Jamur Semi-kultur untuk Meningkatkan Sensitivitas Deteksi Entomopatogen dengan Metode Quantitative real time Polymerase Chain Reaction

    Full text link
    Banyak penelitian telah dilakukan untuk mendeteksi jamur entomopatogen di dalam tanah menggunakan metode qPCR. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa metode qPCR belum mampu mendeteksi jamur di sampel tanah yang disebabkan oleh sedikitnya kemelimpahan jamur pada sampel tanah yang diuji. Untuk mengatasi masalah tersebut, pada penelitian ini dilakukan penambahan massa jamur target di dalam tanah pada tingkat tertentu melalui metode semi-kultur dengan tujuan untuk meningkatkan sensitivitas qPCR. Pertama, dipilih media selektif yang cocok untuk kultur keempat target jamur entomopatogen (Cordyceps militaris, Beauveria bassiana, Isaria fumosorosea, dan Metarhizium anisopliae). Kedua, dengan menggunakan media yang dikembangkan, hubungan antara unit pembentuk koloni (CFU) dan DNA tanah standar ditentukan. Ketiga, qPCR dilakukan terhadap ekstrak DNA yang diperoleh dari koloni jamur tiap level. Hasil menunjukkan bahwa media kultur tipe 3b menjadi media selektif yang terbaik untuk kultur jamur. Namun, hubungan linier dengan korelasi kuat antara suspensi jamur dengan nilai Ct belum dapat diperoleh sehingga metodologi semi-kultur tidak berhasil meningkatkan sensitivitas deteksi jamur entomopatogen dari sampel tanah menggunakan metode qPCR. Modifikasi ekstraksi DNA untuk meningkatkan kepadatan DNA dalam ekstrak perlu dilakukan untuk keberhasilan deteksi jamur entomopatogen

    Pengaruh Waktu Pemangkasan Pucuk dan Konsentrasi Hormon Giberelin (GA3) terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Mentimun (Cucumis sativus L.)

    Full text link
    Tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) memiliki manfaat sebagai sumber buah yang dapat dikonsumsi segar dan mengandung nutrisi penting bagi tubuh. Namun, tantangan dalam budidaya mentimun adalah rendahnya persentase bunga betina yang berkembang menjadi buah sempurna. Salah satu upaya untuk meningkatkan jumlah bunga betina dan produktivitas adalah dengan pemangkasan tunas dan pemberian GA3. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh interaksi antara pemangkasan pucuk dan aplikasi GA3 terhadap pertumbuhan dan produktivitas mentimun. Rancangan acak kelompok (RAK) faktorial digunakan dengan dua faktor, yaitu waktu pemangkasan pucuk (tanpa pemangkasan, pemangkasan pada 21 HST, dan 28 HST) dan konsentrasi GA3 (0, 50, 100, dan 150 ppm), masing-masing diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi GA3 100 ppm berpengaruh signifikan terhadap waktu munculnya bunga, jumlah buah per tanaman, panjang dan diameter buah, serta fruitset. Selain itu, pemberian GA3 100 ppm juga meningkatkan luas daun dan bobot buah per tanaman. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian hormon giberelin pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan hasil produktivitas tanaman mentimun secara signifikan

    Pengujian Bahan Aktif Formula Biofertilizer Cair terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bawang Wakegi (Allium × wakegi Araki)

    Full text link
    Keberadaan mikrobia bermanfaat yang rendah di daerah perakaran bawang wakegi dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman mengalami hambatan karena tanah menjadi kurang subur.  Penambahan mikrobia indigenous diharapkan dapat meningkatkan populasi mikrobia di daerah  tersebut.  Penelitian ini dilakukan untuk menguji potensi bakteri indigenous Bacillus sp. DB12 dan Trichoderma sp dalam meningkatkan produksi dan hasil bawang wakegi, baik yang diaplikasikan secara tunggal maupun konsorsium dengan formula biofertilizer.  Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, UNTAD, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan (faktor tunggal) bahan aktif formula biofertilizer berupa jenis mikrobia yang terdiri atas P1=kontrol (tanpa mikrobia), P2= Bacillus sp. DB12, P3= Trichoderma sp, dan  P4= konsorsium Bacillus sp. DB12 + Trichoderma sp.   Setiap perlakuan diulang sebanyak 10 kali sehingga secara keseluruhan terdapat 40 satuan percobaan.  Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi, berat ubi, dan diameter umbi.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi  biofertilizer berbahan aktif konsorsium Bacillus sp. DB12 dan Trichoderma sp (P4) merupakan perlakuan terbaik karena dapat meningkatkan tinggi tanaman (36,74 cm), jumlah daun (30,40 helai),  jumlah umbi per rumpun (8,05), berat umbi per rumpun (40,19 g), dan diameter umbi per rumpun (2,21 cm)

    Analisa dan Pemetaan Nilai C-Organik, Bahan Organik, dan Tekstur Tanah di Lahan Tumbuh Talas Beneng (Xanthosoma undipes) Berdasarkan Ketinggian

    Full text link
    Talas Beneng memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan nilai ekonomi, khususnya di wilayah Banten. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik tanah yang mendukung optimalisasi produksi Talas Beneng di tiga desa: Desa Talaga Warna, Desa Juhut, dan Desa Kaduengang, sehingga dapat memberikan panduan berbasis ilmiah bagi petani dalam meningkatkan produktivitas. Metode yang digunakan adalah survei dengan pendekatan deskriptif kuantitatif, dimana sampel tanah dianalisis di laboratorium untuk mengetahui parameter tekstur, kadar C-organik, dan bahan organik tanah. Tekstur tanah dianalisis menggunakan metode pipet, kadar C-organik menggunakan metode Walkley and Black, dan bahan organik dihitung dengan mengalikan hasil C-organik dengan faktor konversi 1,724. Data hasil analisis kemudian dipetakan menggunakan software ArcGIS untuk menggambarkan distribusi karakteristik tanah di masing-masing desa. Perbedaan ketinggian di masing-masing wilayah mempunyai pengaruh dari nilai analisis yang didapat. Desa Talaga Warna yang memiliki ketinggian rendah mempunyai nilai C-organik paling rendah yakni 0,69% juga nilai bahan organik paling rendah yakni 1,19%, kemudian hasil analisis meningkat seiring dengan bertambahnya ketinggian tempat. Desa Talaga Warna dan Desa Juhut memiliki tekstur tanah lempung berpasir, sementara Desa Kaduengang memiliki tekstur tanah pasir berlempung. Penelitian ini menegaskan pentingnya analisis tanah disertai pemetaan di setiap wilayah untuk mengoptimalkan pengelolaan lahan dan produksi talas beneng, serta memberikan panduan bagi petani dalam upaya meningkatkan produktivitas berdasarkan kondisi tanah setempat

    Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Konsentrasi Pupuk Organik Cair Kulit Pisang Kepok terhadap Pertumbuhan dan Hasil Daun Ketumbar (Coriandrum sativum L.)

    Full text link
    Penggunaan pupuk kimia dalam budidaya ketumbar sering menimbulkan permasalahan lingkungan akibat residu kimia yang terakumulasi di tanah. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh komposisi media tanam dan konsentrasi pupuk organik cair dari kulit pisang kepok terhadap pertumbuhan dan hasil daun ketumbar. Penelitian dilaksanakan di greenhouse lahan hortikultura Kelompok Tani Bahari Karya, Surabaya, pada Juni hingga Juli 2024, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor: komposisi media tanam dan konsentrasi pupuk organik. Komposisi media tanam terdiri dari empat variasi rasio tanah, sekam bakar padi, dan kotoran padat kambing: M1 (1:1:1), M2 (1:1:2), M3 (2:1:1), dan M4 (2:1:2). Faktor kedua adalah pupuk organik cair kulit pisang dengan empat perlakuan: P0 (kontrol 0,6 g NPK), P1 (10%), P2 (20%), dan P3 (30%). Data dianalisis dengan ANOVA dan uji HSD. Hasil menunjukkan kombinasi media tanam M3 (2:1:1) dan konsentrasi pupuk organik cair 20% (P2) memberikan pertumbuhan terbaik, termasuk tinggi tanaman, lebar tajuk, dan ukuran akar. Ini menunjukkan komposisi media tanam dan konsentrasi pupuk berpengaruh signifikan, dengan hasil optimal pada kombinasi komposisi media tanam 2:1:1 dan konsentrasi pupuk organik cair 20%

    Efikasi Serbuk Daun Belimbing Wuluh dan Pandan Wangi Sebagai Insektisida Nabati dalam Pengendalian Hama Kutu Beras (Sitophilus oryzae)

    Full text link
    Kutu beras (Sitophilus oryzae) menjadi hama utama yang menyerang produk simpanan beras di gudang sehingga dapat menurunkan kualitas dan kuantitas beras. Diperlukan upaya pengendalian hama kutu beras yang bersifat ramah lingkungan seperti pemanfaatan bioinsektisida berbahan alami dari tumbuhan agar mengurangi dampak negatif penggunaan insektisida sintetik terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mortalitas dan antifidan hama kutu beras setelah diaplikasikan serbuk daun belimbing wuluh dan pandan wangi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 8 perlakuan dan 3 kali ulangan. Data penghambatan konsumsi pakan diperoleh melalui perhitungan kehilangan bobot beras selam 21 Hari Setelah Aplikasi (HSA). Hasil penelitian menunjukkan serbuk daun belimbing wuluh dan daun pandan wangi efektif sebagai insektisida nabati dalam mengendalikan hama kutu beras dengan persentase mortalitasnya melebihi 50%. Persentase mortalitas tertinggi pada aplikasi daun belimbing wuluh dengan konsentrasi 50 g dan pandan wangi 40 g. Uji penghambatan makan memperlihatkan hasil bahwa semakin tinggi konsentrasi serbuk diberikan, maka nilai persentase kerusakan beras akan semakin menurun akibat aktivitas senyawa metabolit sekunder saponin, flavonoid, dan tanin yang terdapat pada tanaman. Senyawa metabolit sekunder saponin dan flavonoid pada daun belimbing wuluh dan pandan wangi bekerja sebagai senyawa antifeedant yang dapat menghambat aktivitas makan hama kutu beras.

    Diferensiasi Pertumbuhan Vegetatif Dari Dua Varietas Bibit Tanaman Cabai (Capsicum annum L.) di Kabupaten Aceh Barat

    Full text link
    Cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan jenis tanaman hortikultura yang termasuk famili Solanaceae. Cabai rawit dimanfaatkan untuk konsumsi pribadi sebagai bumbu masak atau bahan campuran pada berbagai industri makanan dan minuman, serta dalam produksi obat-obatan dan kosmetik. Selain itu, cabai juga mengandung nutrisi yang sangat penting bagi kesehatan, seperti karbohidrat, protein, kalori, kalsium, lemak, vitamin A, B1, dan vitamin C. Selain itu, cabai juga mengandung senyawa anti kanker lasparaginase dan capsaicin. Cabai memegang peranan penting dalam bidang perekonomian Indonesia. Berbagai macam usaha telah dilakukan agar mampu meningkatkan produktivitas cabai, salah satunya melalui pemilihan varietas yang memiliki potensi hasil tinggi, karena variasi genetik dapat mempengaruhi pertumbuhan cabai. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa varietas cabai tertentu, seperti Lado, Lede Uwe, dan Princes, memberikan hasil yang lebih baik dalam aspek pertumbuhan dan produksi. Berdasarkan hal ini, penting untuk memilih varietas yang tepat agar mendapatkan hasil optimal. Penelitian ini berfokus pada dua varietas cabai, CMK Tavi dan Tias Agro, untuk mengidentifikasi perbedaan performa dalam pertumbuhan vegetatif, seperti tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter batang. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan wawasan lebih mendalam mengenai karakteristik pertumbuhan varietas tersebut dan merekomendasikan varietas terbaik untuk meningkatkan hasil panen.. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk rancangan acak kelompok (RAK) pola non faktorial, 5 ulangan dengan variabel pengamatan pertumbuhan vegetatif tanaman berupa tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter batang, pada 14, 24, dan 34 hari setelah tanam(HST). hasil penelitian menunjukkan bibit cabai, varietas CMK Tavi memberikan pertumbuhan vegetatif yang lebih unggul dibadingkan dengan varietas Tias Agro,pada semua parameter pengamatan. Sehingga varietas cabai CMK Tavi lebih unggul jika dibudidayakan di Kabupaten Aceh Barat

    Efektivitas Supernatan Isolat Bakteri RNc19 dan RNc43 sebagai Antagonis terhadap Patogen Hawar Malai Padi Burkholderia glumae in Vitro

    Full text link
    Supernatan dari kultur cair isolat bakteri antagonis diperkirakan mengandung senyawa metabolit yang berfungsi sebagai antimikroba. Kemampuan sebagai antibakteri ditunjukkan oleh sel isolat RNc19 dan RNc43 terhadap Burkholderia glumae, patogen penyebab penyakit hawar malai bakteri pada tanaman padi. Penelitian bertujuan menguji kemampuan antibakteri dari supernatan yang dihasilkan isolat RNc19 dan RNc43 terhadap B. glumae. Isolat bakteri yang digunakan merupakan hasil isolasi rhizosfer Nepenthes clipeata dari Bukit Kelam, Sintang. Produksi supernatan kedua isolat antagonis melalui co-culture, menumbukan isolat antagonis yang ditambahkan dengan B. glumae pada hari ke 2 masa inkubasi. Pengujian sebagai antibakteri meliputi kemampuan daya hambat menggunakan metode difusi cakram agar, menentukan minimum inhibition concentration (MIC) dan minimum bactericidal concentration (MBC). Hasil pengujian menunjukkan supernatan co-culture RNc19 lebih efektif menghambat pertumbuhan bakteri B. glumae dengan daya hambat 77.46%, sedangkan supernatan co-culture RNc43 menunjukkan daya hambat sebesar 46.94%. Kedua supernatan memiliki nilai MIC sebesar 50% dan tidak punya kemampuan membunuh sel B. glumae Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi alternatif bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai antimikroba patogen tanaman dan pengembangan produksi metabolit sekunder antimikroba

    Aplikasi Bakteri Endosimbion Rayap Macrotermes gilvus Hagen dalam Mendekomposisi Berbagai Jenis Kayu dan Tanah Mineral

    Full text link
    Rayap adalah sekelompok serangga eusosial yang menampung konsorsium bakteri aerobik, anaerobik, dan mikroaerofilik yang bertanggung jawab atas degradasi selulosa dan hemiselulosa serta bermanfaat bagi organisme inangnya. Kemampuan rayap dalam mencerna lignoselulosa 74-99%. Rayap mempunyai potensi dalam mendegradasi dengan bakteri yang terdapat di dalam tubuh rayap baik di usus atau pun pencernaan nya. Bakteri didalam tubuh rayap dapat mencerna selulosa lebih besar 65% dibandingkan dengan bakteri yang terdapat pada cacing tanah, ulat bulu dalam bentuk kertas filter. Bakteri yang terdapat di usus rayap Macrotermes gilvus Hagen sangat  berperan pada proses degradasi bahan organik  yang ada di alam. Tujuan dari penelitian adalah melihat kemampuan bakteri dari perut rayap Macrotermes gilvus Hagen dalam mendegradasi media pakan rayap dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan faktor pertama yaitu konsentrasi starter bakteri terdiri dari kontrol, 40%, 50% dan 60 %, sedangkan faktor kedua adalah faktor media dekomposisi rayap diantaranya kayu kelapa sawit, kayu karet, kayu mahoni dan tanah mineral. Parameter yang diamati yaitu pengukuran ph, kelembaban, dan suhu, ratio c/n, jumlah bakteri per satu gram media yang digunakan. Hasil yang didapat di penelitan ini adalah perlakuan starter 60%  mampu mendekomposisi berbagai jenis kayu dan tanah mineral memberikan pengaruh nyata pada parameter berat media kayu dan tanah mineral dengan hasil rataan terbaik pada media kayu kelapa sawit (948.42 gr), dengan pH 5,3-6,89, RH  74-98 dan suhu 26-29,40C

    319

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇