AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian
Not a member yet
    337 research outputs found

    Eksplorasi dan Karakterisasi Rizobakteri yang Berpotensi sebagai Pemacu Pertumbuhan Asal Rizosfer Padi Sawah Tadah Hujan Kecamatan Kaway XVI Aceh Barat

    Full text link
    Salah satu teknologi pertanian ramah lingkungan adalah pemanfaatan non patogen rizobakteri yang berpotensi sebagai pemacu pertumbuhan (PGPR; Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengkarakterisasi rizobakteri yang berpotensi sebagai pemacu pertumbuhan asal rizosfer padi sawah tadah hujan di Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat. Penelitian ini menggunakan metode eksploratif yang dilaksanakan pada Juni- September 2023 di Laboratorium Teknologi Benih Universitas Teuku Umar. Sampel tanah diambil di lahan sawah tadah hujan pada beberapa titik sawah yang terdapat di Kecamatan Kaway XVI. Pengamatan terdiri dari karakterisasi morfologi, pewarnaan Gram bakteri, uji hipersensitivitas, dan analisis produksi hormone IAA. Hasil eksplorasi memperoleh 11 isolat rizobakteri yang diisolasi dari sawah tadah hujan kecamatan Kaway XVI, yaitu isolate dengan kode K1, K2, K3, K4, K5, K6, K7, K8.01, K8.02, K9, dan K10.  Masing-masing isolat rizobakteri memiliki ciri morfologi yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan isolat K1 merupakan rizobakteri yang berpotensi sebagai pemacu pertumbuhan

    Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair Darah Sapi terhadap Hasil Tanaman Ubi Kayu Varietas Ketan

    Full text link
    Pemupukan merupakan salah satu aktivitas penting dalam budidaya ubi kayu. Ironisnya aplikasi pupuk anorganik yang berlebihan ternyata berdampak negatif pada pertumbuhan tanaman. Pupuk Organik Cair (POC) dapat menjadi salah satu solusi untuk menggantikan pupuk anorganik. Namun, penggunaannya pada tanaman ubi kayu belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis dan interval waktu pemberian POC yang tepat untuk meningkatkan hasil tanaman ubi kayu varietas ketan (Manihot esculenta Crantz.). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan 2 faktor dan 3 ulangan sebagai blok. Faktor pertama adalah dosis POC darah sapi (0, 10, 20, dan 30 ml/tanaman), sedangkan faktor kedua adalah interval waktu pemberian POC darah sapi (3 minggu sekali, 6 minggu sekali, dan 9 minggu sekali). Data pengamatan diuji signifikansinya menggunakan analisis sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap seluruh parameter pengamatan. Hal tersebut dikarenakan kandungan unsur hara POC darah sapi yang belum mencukupi kebutuhan tanaman, sifat POC yang mudah tercuci dan menguap, penyiraman yang tidak optimal, volume pengaplikasian yang terlalu sedikit, dan rentang waktu pemberian yang terlalu lama sehingga menyebabkan terganggunya perkembangan umbi. Dapat disimpulkan bahwa pemberian POC darah sapi pada penelitian ini belum mampu meningkatkan hasil tanaman ubi kayu

    Pengaruh Pupuk Organik Cair (POC) Cangkang Telur Ayam dan Ampas Kopi terhadap Pertumbuhan Pre-Nursery Jengkol (Archidendron pauciflorum)

    Full text link
    Jengkol merupakan tanaman tanaman semak berkayu yang dapat hidup di dataran tinggi maupun dataran rendah yang memiliki kandungan bermanfaat bagi kesehatan. Kebutuhan terhadap buah jengkol makin meningkat, namun belum banyak yang membudidyakan tanaman ini. Tanaman jengkol memiliki tinggi rata-rata 20 meter dengan buah yang berbentuk bulat dan berwarna coklat. Penggunaan pupuk organik cair (POC) dalam pertanian merupakan salah satu cara menuju pertanian berkelanjutan yang memiliki banyak manfaat bagi unsur hara tanah, pertumbuhan tanaman, dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh interaksi dan pengaruh utama pemberian Pupuk Organik Cair (POC) cangkang telur dan ampas kopi terhadap pertumbuhan pre-nursery jengkol. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan di lahan eksperimen Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau, November 2021 hingga Februari 2022. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari dua faktor, yaitu konsentrasi POC kulit telur (C) dan dosis ampas kopi. Masing-masing perlakuan adalah sebagai berikut: dosis kopi:  0; 200; 400; 600 ml/l dan konsentrasi POC: 0; 32,5; 65; 97,5 g/polybag. Data dianalisis menggunakan analisis statistik, bila terdapat perbedaan dilanjutkan menggunakan uji BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Terdapat pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat segar, berat kering per tanaman serta volume akar. Perlakuan konsentrasi POC cangkang telur 600 ml/l dan dosis ampas kopi 97,5 g/polybag menghasilkan pertumbuhan dan hasil tertinggi pada tanaman jengkol. Ampas kopi berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pengamatan dengan 97,5 g/polybag sebagai dosis yang paling efektif. Disimpulkan bahwa POC cangkang telur ayam dan ampas kopi dengan dosis 97,5 g/polybag dan 600 ml dapat digunakan untuk membantu proses pertumbuhan pada pre-nursery jengkol

    Pupuk Kandang Sapi dan Mikroorganisme Lokal Menaikkan Jumlah Pembentukan Bintil Akar, Pertumbuhan dan Hasil Biji Kacang Tanah pada Ultisol Simalingkar

    Full text link
    Bintil akar pada tanaman legum berperan penting sebagai penambat nitrogen bebas dari udara yang selanjutnya diurai oleh mikrobia hingga berfungsi memenuhi kebutuhan N tanaman.  Jumlah bintil akar yang meningkat akan meningkatkan jumlah N udara yang dapat diubah menjadi N yang berguna bagi pertumbuhan tanaman. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi pengaruh perlakuan pupuk kandang dan mikroorganisme lokal, baik sebagai perlakuan tunggal maupun kombinasi dari kedua perlakuan terhadap masing-masing parameter penelitian yang diamati. Jumlah bintil akar yang meningkat akan meningkatkan jumlah N udara yang dapat diubah menjadi N yang berguna bagi pertumbuhan tanaman. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi pengaruh perlakuan pupuk kandang  sapi dan mikroorganisme lokal, baik sebagai perlakuan tunggal maupun kombinasi dari kedua perlakuan terhadap masing-masing parameter penelitian yang diamati. Penelitian dilaksanakan dengan Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri dari pupuk kandang sapi terdiri dari empat taraf perlakuan, dan pemberian mikroorganisme local (MOL) terdiri dari tiga taraf perlakuan.  Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan uji analisis varians dan setiap parameter pengamatan dengan hasil sidik ragam yang nyata pengaruhnya dilanjutkan dengan uji jarak BNT pada taraf uji α = 0,05. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa hanya perlakuan pupuk kandang sapi saja yang memperlihatkan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah bintil akar tanaman, meski tidak berpengaruh nyata terhadap parameter hasil tanaman tetapi menunjukkan adanya kecenderungan yang menggambarkan terjadinya kompetisi terselubung antara jumlah bintil akar dengan parameter produksi.  Perlakuan tunggal MOL dan juga interaksi dari kedua perlakuan tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap semua parmeter tanaman yang diamati

    Effect of Seed Soaking with Natural Growth Regulators on Germination of Red Rice Line SF 12-2-12

    Full text link
    Rice cultivation in Indonesia involves different types of rice, including red rice, which is known to have higher nutritional value compared to white rice. However, the germination rate of red rice seeds has decreased due to poor storage conditions. Nature Growth Regulators play a critical role in the success of seed germination, seedling establishment and subsequent plant growth. To improve the quality of red rice seeds, natural growth regulators can be used. In a recent study, researchers aimed to determine the best combination of natural growth regulators and concentration level for germination of red rice line. This research was conducted from July to October 2023 at the seed technology and agronomy laboratories of the Faculty of Agriculture, Universitas Andalas. This is a factorial experiment consisting of two factors arranged in random groups design and repeated four times. The first factor was the type of natural growth regulators, namely young coconut water and shallot extract. The second factor was the concentration level, namely 0%, 35%, 70%. The data were analyzed using the F-test with a 5% level of significance. If significant differences were found, Duncan's New Multiple Range Test (DNMRT) was conducted at a 5% level. The observation parameters for the germination test carried out were the maximum growth potential (%), seed germination (%), and hard seeds (%). The application of young coconut water on concentration 70% gave the best percentage of maximum growth potential and was not different with shallot extract on concentration 70%. The application of young coconut water on concentration 70% gave the best percentage of seed germination compare to other treatment

    Kadar Klorofil Daun Bibit Kelor (Moringa oleifera L.) pada Berbagai Dosis Kompos

    Full text link
    Moringa oleifera (kelor) merupakan tanaman yang banyak ditemukan di Indonesia dan memiliki kandungan nutrisi beragam sehingga banyak masyarakat yang membutuhkannya. Kelor membutuhkan klorofil untuk berfotosintesis sehingga pertumbuhan dan perkembangannya berjalan dengan baik. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan dosis kompos yang menunjang fungsi fisiologis kelor, sehingga membentuk kadar klorofil secara maksimal. Penelitian karakter klorofil dengan kompos sebagai perlakuan merupakan usaha memperbaiki aktivitas biologi tanah dan penyediaan unsur hara sehingga kadar klorofil meningkat untuk memacu laju fotosintesis. Kompos merupakan hasil dekomposisi organisme seperti tumbuhan dan hewan, yang mengandung unsur hara makro dan mikro serta memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan empat taraf kompos (0, 50, 100 dan 150 g/tanaman). Hasil analisis kadar klorofil dan intensitas warna daun berbeda nyata akibat perlakuan kompos, namun kompos memberikan hasil yang tidak nyata pada pigmen karotenoid. Kompos berpengaruh nyata terhadap jumlah klorofil daun pada tanaman kelor, yaitu: kandungan klorofil relatif dengan Soil Plant Analysis Development (SPAD), kadar klorofil a, klorofil b dan klorofil total yang diekstraksi menggunakan spektrofotometer dengan larutan Dimethyl Sulfoxide (DMSO). Pemberian kompos 110,80 g/tanaman menghasilkan kadar klorofil relatif maksimum 36,19 unit SPAD. Pemberian kompos 119,90 g/tanaman menghasilkan kadar klorofil a maksimum 25,64 mg/L. Peningkatan dosis kompos menurunkan nilai luminositas (L), nilai a* dan nilai b*. Nilai-nilai tersebut menunjukkan warna daun dari terang menjadi lebih gelap, hijau ke arah abu-abu dan kuning ke arah abu-abu, yang mengindikasikan bahwa kadar klorofil daun makin meningkat akibat perlakuan yang diberikan

    Efektivitas Lama Pemberian Nutrisi terhadap Produktivitas Pakcoy (Brassica rapa L.) pada Media Tumbuh Organik Secara Hidroponik Sistem NFT (Nutrient Film Technique)

    Full text link
    Salah satu tanaman yang memberikan semua nutrisi yang dibutuhkan tubuh adalah pakcoy. Selain padat nutrisi, pakcoy tinggi protein, serat, lemak nabati, karbohidrat, kalsium, magnesium, zat besi, natrium, serta vitamin A dan vitamin C. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh lama pemberian nutrisi dan beberapa media tumbuh organik terhadap pertumbuhan dan produksi pakcoy (Brassica rapa L.). Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca di Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Nias berada di ketinggian ± 30 meter di atas permukaan laut. Penelitian ini dilakukan mulai Januari 2024 sampai Februari 2024. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terpisah (RPT) dengan lama pemberian nutrisi sebagai petak utama terdiri dari 3 taraf yaitu : A1 = 8 jam, A2 = 16 jam, A3 = 24 jam, dan media tumbuh organik sebagai anak petak terdiri dari 3 jenis yaitu : M1 = Arang Sekam, M2 = Cocopeat, M3 = Limbah Jamur Tiram. Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama pemberian nutrisi dan penggunaan berbagai jenis media tumbuh organik tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman pakcoy, termasuk panjang daun, jumlah daun, berat segar per sampel, berat segar per petak, berat akar per tanaman, dan berat akar per petak

    Effect Biopesticides of Fungi Entomopathogenic on the Damage Intensity of Edamame Soybean

    Full text link
    Biopesticides as an alternative to synthetic pesticides are rarely at the field testing level. The research described the composition of pest types and compared the intensity of plant pest attacks in edamame soybean cultivation areas. The study used a Randomized Block Design with biopesticide or entomopathogenic fungus treatments. The active ingredients consisted of L. lecanni, B. bassiana, and M. anisopliae, and the active ingredients were synthetic chemical compounds (control). Each treatment was repeated six times to obtain 24 experimental plots. The research analyzed growth and vegetative phases, pest composition, and intensity of pest attacks. Data analysis used the Kruskall-Wallis and Wilcoxon tests. The results showed that the control treatment had the highest plant height, number of productive branches, pods, and fresh seed. Furthermore, the pest composition comprises leaf-destroying pests: armyworms, grasshoppers, and pod-sucking ladybugs. The lowest level of leaf damage occurred two weeks after planting (MBS) on B. Bassiana plants. Meanwhile, M. anisopliae at 4 and 6 WAP, then L. lecanni at 8 WAP with damage of 16.69, 18.59, 20.88, and 20.24%, respectively. There were differences in leaf damage in the control and B. bassiana and M. anisopliae at 2 WAP. However, synthetic pesticides are more effective in suppressing pod damage than biopesticides. The findings of this research show that biopesticides are an alternative, but their effectiveness cannot exceed synthetic pesticides in edamame soybean cultivation

    Effect of Concentration and Time of Giving Paclobutrazol on Lumbu Hijau-Garlic Seedling Bulbs

    Full text link
    The farmer's interest in garlic planting is low because the yield is unsatisfied. One reason is the use of small cloves. Giving paclobutrazol is expected to increase the size of garlic cloves and bulbs. This research aims to determine the interaction between concentration and time of giving paclobutrazol, which produces the best size for cloves and bulbs. The research is a factorial, Completely Randomized Design. The first factor is the concentration of paclobutrazol:250 mg.L-1 and 500 mg.L-1 of water. The second factor is the time of applying paclobutrazol: 6 and 10, 8 and 12, 10 and 14 weeks after planting (w.a.p). Data were analyzed using variance, which will be continued with DNMRT at the 5% level. The results showed that giving paclobutrazol at 10 and 14 w.a.p resulted in the highest apparent stem diameter and yield, but even so, the weight of the largest and the smallest cloves was the lowest. Meanwhile, giving paclobutrazol at 6 and 10 w.a.p resulted in the highest weight of the largest cloves 1.95 g and the highest of the smallest cloves 0.55 g, even though the apparent stem diameter and yield were the lowest. Treatment of 250 mg.L-1 paclobutrazol resulted in the highest weight of the largest cloves 1.80 g

    Induksi Mutasi Secara In Vitro Anggrek Dendrobium gabriella Suryajaya Melalui Pemberian Kolkisin

    Full text link
    Dendrobium sp. merupakan tanaman yang masuk ke dalam famili Orchidaceae, memiliki variasi jenis, bentuk, dan warna bunga dengan kesegaran relatif lama. Induksi mutasi bagian dari upaya pemuliaan tanaman yang dilakukan untuk mendapatkan tanaman dengan sifat yang lebih baik. Kolkisin sebagai agen antimitotik digunakan dalam pemuliaan untuk menginduksi penggandaan kromosom, diaplikasikan pada eksplan yang memiliki jaringan aktif melakukan pembelahan. Tujuan penelitian untuk mengetahui konsentrasi kolkisin yang optimal terhadap pertumbuhan anggrek Dendrobium gabriella suryajaya secara In vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium CDAST Universitas Jember, waktu penelitian pada bulan Maret 2022 – Juli 2022. Metode yang digunakan yaitu perendaman eksplan protocom likes bodies (plb) umur 3 bulan pada larutan kolkisin menggunakann 4 taraf konsentrasi: 0%, 0,02%, 0,04% dan 0,06% dengan durasi perendaman selama 24 jam. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis Standart Error Mean (SEM). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan 0,02% memberikan rata-rata terbaik pada peningkatan tinggi tanaman, jumlah tunas, jumlah daun dan jumlah akar. Variasi warna planlet terjadi pada perlakuan 0,02%, 0,04% dan 0,06% yang menghasilkan warna planlet hijau kekuningan, albino dan hijau keputihan

    319

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇