AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
Pertumbuhan dan Produksi Selada (Lactuca sativa L.) Akibat Konsentrasi Nutrisi AB Mix dan Pupuk Organik Cair pada Sistem Hidroponik
Kebutuhan selada terus meningkat harus diambangi dengan luas lahan. Hidroponik rakit apung merupakan teknik budidaya tanaman sebagai alternatif untuk mengatasi penurunan lahan dengan memanfaatkan air sebagai media tanamnya. AB Mix merupakan nutrisi hidroponik yang harganya relatif lebih mahal sehingga dapat meningkatkan biaya produksinya. Penambahan nutrisi POC diharapkan dapat mengurangi pemberian AB Mix. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan konsentrasi nutrisi AB Mix dan POC Bioslurry terbaik serta interaksi dari ke dua faktor bagi pertumbuhan serta produksi tanaman selada secara hidroponik sistem rakit apung. Penelitian tersebut memakai Rancangan Acak Kelompok pola faktorial 3 x 3. Faktor yang di teliti yaitu konsentrasi AB Mix (0, 5, 10 ml L-1 air) serta POC Bioslurry (10, 20, 30 ml L-1 air). Analisis data memakai uji ANOVA, jika berpengaruh signifikan, maka di uji lanjut dengan BNJ0,05. Nutrisi AB Mix 10 ml L-1 air bisa meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman selada. POC Bioslurry 10 ml L-1 air bisa meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman selada diumur 14 dan 21 HSPT dan jumlah daun tanaman selada diumur 14 dan 35 HSPT. Interaksi konsentrasi AB Mix 10 ml L-1 air dan POC Bioslurry 10 ml L-1 air bisa meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman selada pada umur 14 dan 21 HSPT
Dampak Penggunaan Pupuk Hayati dengan Variasi Waktu Pemberian dan Konsentrasi Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Cabai Rawit
Tanaman hortikultura yang memiliki signifikansi ekonomi salah satunya adalah cabai rawit (Capsicum frutescens L.). Diperlukan peningkatan produktivitas secara signifikan untuk memenuhi permintaan konsumsi cabai rawit yang cenderung meningkat tiap tahunnya, salah satunya dengan menggunakan pupuk hayati. Perlu juga adanya perhatian khusus terhadap penggunaan nutrisi yang lebih ramah lingkungan untuk budidaya tanaman hortikultura salah satunya untuk tanaman cabai rawit. Penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat pengaruh penggunaan pupuk hayati terhadap budidaya tanaman cabai rawit. Penelitian ini dilaksanakan di Desa watutulis, Kecamatan Temu, Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur pada bulan Juli hingga Desember 2022. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor pertama adalah konsentrasi pupuk hayati dengan konsentrasi 5 ml/l, 10 ml/l dan 15 ml/l, sedangkan faktor kedua adalah waktu pemberian pupuk hayati sebanyak 2 kali, 3 kali dan 4 kali. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa kombinasi perlakuan konsentrasi dan waktu pemberian pupuk hayati tidak terdapat interaksi pada seluruh parameter pengamatan. Secara terpisah, konsentrasi dan waktu pemberian pupuk hayati memberikan pengaruh nyata pada parameter tinggi tanaman, jumlah buah per tanaman dan bobot buah per tanaman pada tanaman cabai rawit. Konsentrasi pupuk hayati terbaik pada 10 ml/l dan waktu pemberian terbaik sebanyak 3 kali pemberian pada parameter produktif
Studi Komponen Hasil beberapa Genotipe Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) di Lahan Gambut
Pemuliaan tanaman merupakan salah satu upaya peningkatan produksi cabai. Hasil akhir dari program ini adalah didapatkan varietas yang toleran terhadap lingkungan ketika di tanam pada lahan gambut. Hubungan karakter kuantitatif beberapa genotipe tanaman cabai perlu dipelajari untuk membantu penentuan karakter yang memiliki pengaruh terhadap produksi. Informasi ini membantu dalam proses seleksi untuk mendapatkan calon varietas unggul baru toleran lahan gambut. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari delapan genotipe dengan tiga ulangan. Data hasil pengamatan selanjutnya dilakukan analisis ragam, kemudian mengatahui kaitan antara satu peubah dengan peubah lainnya dapat memanfaatkan analisis korelasi yakni korelasi Pearson. Setelah mendapatkan informasi korelasi, dilanjutkan dengan sidik lintas. Peubah tidak bebas ditetapkan guna menduga koefisien lintas. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa peubah bobot per buah sebesar 0,771, panjang buah sebesar 0,585, dan diameter buah sebesar 0,525 berkorelasi positif dengan produksi per tanaman. Hasil sidik lintas menunjukkan perubah bobot per buah memperlihatkan pengaruh direct kepada produksi per tanaman, namun peubah panjang dan diameter buah memperlihatkan pengaruh indirect melalui bobot per buah sehingga meningkatkan produksi per tanaman
Aplikasi Pupuk Kandang dan Mikoriza terhadap Peningkatan P-tersedia, serapan P serta Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis (Zea mays Saccharata L.) Pada Tanah Ultisol
AbstractKondisi tanah ultisol yang kurang subur memerlukan penanganan yang kompleks agar dapat berfungsi dengan baik sebagai lahan pertanian. Upaya tersebut diharapkan mampu memberi perbaikan kesuburan tanah secara menyeluruh. Untuk tujuan ini dilalukan suatu penelitian yang menggunakan pupuk kandang dan pupuk hayati mikoriza yang diharapakan dapat memperbaiki sifat-sifat tanah tersebut hingga diperoleh tingkat pengaruh aplikasi bahan tersebut pada tingkat yang optimal. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok, dengan dua factor. Faktor pupuk kandang 3 taraf dan factor mikoriza 4 taraf. Setiap pengaruh parameter yang signifikan akan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Untuk pengamatan dilakukan pengukuran tanah tersedia fosfor, kandungan fosfor tongkol jagung, dan produksi jagung manis. Produksi jagung manis tertinggi 16,06 t/ha terjadi dengan kombinasi perlakuan pada aplikasi atau pemberian pupuk kandang setara dengan 5 t/ha dan mikoriza 3 g/lubang tanam, produksi ini lebih tinggi 3,83 t/ha setara dengan 31,31 % dibandingkan dengan kontrol. Pupuk kandang hanya meningkatkan kandungan fosfor secara nyata pada tongkol jagung. Mikoriza hanya meningkatkan ketersediaan fosfor tanah secara signifikan
Optimalisasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Alami dan Bahan Setek Pada Pertumbuhan Vegetatif Setek Kopi Robusta
Teknik perbanyakan kopi secara vegetatif dengan cara setek memiliki beberapa keunggulan yaitu menghasilkan tanaman baru dalam jumlah banyak dengan waktu relatif singkat dan biaya operasional yang relatif murah. Namun kelemahan dari teknik perbanyakan ini adalah tingkat keberhasilannya yang lebih rendah dibandingkan teknik lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh interaksi antara perbedaan konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) air kelapa dan ekstrak bawang merah terhadap respon pertumbuhan setek kopi robusta yang berasal dari pucuk (S1) dan ruas pertama setelah pucuk (S2). Penelitian ini dilakukan di laboratorium lapangan perkebunan Politeknik Pembangunan Pertanian Medan menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial. Faktor pertama adalah pucuk pertama dan ruas pertama setelah pucuk, faktor kedua adalah konsentrasi ZPT 50% dan 75% serta kombinasi ZPT air kelapa dan ekstrak bawang merah dengan 5 ulangan. Variabel yang diamati meliputi jumlah tunas, jumlah daun, diameter daun, panjang akar dan jumlah akar. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA (Analysis of variance) dan dilanjutkan dengan uji Duncan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan pemberian konsentrasi ZPT bawang merah 50%. dapat meningkatkan jumlah tunas, jumlah daun, diameter daun, panjang akar dan jumlah akar. Pemberian konsentrasi ZPT bawang merah 50%. y juga memberikan pengaruh terhadap keberhasilan pembibitan. Persentase setek berakar meningkat pada perlakuan pucuk dibandingkan ruas pertama setelah pucuk dengan perlakuan ZPT bawang merah 50%
Profile and Bioactivity of Bioactive Compounds of Beauveria bassiana Fungi Entomopathogens of Endophytes as Plant Growth Boosters
The purpose of this study was to identify bioactive compounds of Beauveria bassiana entomopathogenic fungi derived from insect isolates of Leptocorisa oratorius and endophytic fungi B. bassiana from cocoa plants that have bioactivity as growth boosters. The research was conducted in the laboratory of Biological Control, Faculty of Agriculture, Andalas University. The study was conducted for 4 months, using the GCMS method. From the results of the study, bioactive compounds identified as growth boosters of B. bassiana endofyt fungi from cocoa plants are compounds Acetic acid, Ethanoic acid, Ethylic acid, Glacial acetic acid, CH3COOH; n- Hexadecanoic acid Hexadecanoic acid, Palmitic acid; 9-Octadecenoic acid (2)-(CAS), Oleic acid, Red oil, Oelsaure; octadecanoic acid (CAS) Stearic acid, n-Octadecanoicacid, vanilla; Ergosta-5,7,22-trien-3-ol, (3.,beta.,22 E) – (CAS), Ergosterol (CAS); while from the entomopathogenic B. bassiana fungus from L. oratorius insects are Acetic acid (CAS), Ethylic acid, vinegar acid, Ethanoic acid, CH3COOH, Dianhydromannitol; Isosorbide, D-Glucitol,1,4-3,6-dianhydro-(+)-D-Isosorbide Devicoran; Hexadecanoic acid, methyl ester (CAS), Methyl palmitate, Uniphat A60; n-Hexadecanoic acid Hexadecanoic acid, n- Hexadecanoic acid, Palmitic acid; 9-octadecenoic acid, methyl ester, (E)-elaidic acid; 9-octadecanoic acid (Z)-(CAS) , oleic acid, Red oil, Oelsauere; octadecanoic acid, stearic acid, -n-octadecanoic acid, Humko Industrene R; Ergosta-5,7,22-trien-3-ol, (3.beta.,22E)-CAS, Ergosterol (CAS
Karakterisasi Morfologi Cendawan Penyebab Penyakit Busuk Pangkal Batang Pada Bawang Merah (Allium cepa)
Produksi bawang merah di Sumatera Utara belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat akan bawang merah di Sumatera Utara. Penyakit busuk pangkal batang fusarium (FBR) atau penyakit busuk pangkal batang pada bawang merah merupakan salah satu kendala budidaya bawang merah, dan salah satu penyakit utama pada bawang merah F.oxysporum. F. oxyporum merupakan patogen tular tanah dan juga berpotensi sebagai penyakit tular benih pada bawang merah. Penelitian dilakukan di Desa Pengambaten, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo dan di Laboratorium Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Sampel tanaman bawang merah bergejala di ambil pada masing-masing lokasi pengamatan, selanjutnya di bawa ke laboratorium, untuk di isolasi pada media PDA dan dikarakterisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab penyakit moler pada bawang merah di desa Pengambaten Kecamatan Merek Kabupaten Karo, dan karakterisasi cendawan patogen penyebab penyakit busuk pangkal batang pada bawang merah. Berdasarkan hasil karakterisasi morfologi makroskopis dan mikrosopis isolat cendawan patogen yang diperoleh adalah Fusarium sp
Kajian Sifat Kimia, Sifat Fisik Tanah dan Hubungannya dengan Produktivitas Tanaman Pala (Myristica fragrans) di Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara
Penelitian survey mengenai kajian sifat kimia, sifat fisik tanah dan hubungannya dengan produktivitas tanaman pala di Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara yaitu di Kecamatan Mandolang yang terletak pada ketinggian 109-555 m dpl. Analisis tanah di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Balai pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan. Sampel tanah diambil dari masing-masing lokasi secara komposit untuk di analisis di laboratorium. Analisis tanah meliputi tekstur, pH, C-Organik, N-Total, P-Tersedia, K-Total, Ca, Mg, Na KTK, dan Kejenuhan Basa. Hasil penelitian menunjukkan areal pertanaman pala bertekstur lempung dengan pH agak masam hingga netral, kandungan C-Organik rendah dan kadar N,P dan K rendah, KTK tinggi dan nilai kejenuhan basa sedang, kadar Ca dan Mg tinggi sedangkan kadar Na rendah, sehingga karakteristik tanah di areal pertanaman pala memenuhi syarat untuk budidaya pala dengan catatan perlu penambahan pupuk N,P dan K
Pengaruh Perbandingan Konsentrasi Pupuk Cair dan Jenis Media Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat Cherry (Solanum lycopersicum) Pada Sistem Hidroponik NFT
Lahan pertanian di Indonesia semakin berkurang karena pembangunan di bidang non pertanian. Hidroponik adalah salah satu upaya untuk memindahkan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan. Salah satu tanaman yang bisa dibudidaya secara hidroponik adalah tomat cherry. Tanaman tomat cherry (Solanum lycopersicum var.cerasiforme) adalah satu tanaman sayuran yang mempunyai manfaat untuk kesehatan. Sistem hidroponik dengan kombinasi konsentrasi nutrisi dan media tanam yang tepat akan mendapatkan hasil optimal. Budidaya hidroponik sejatinya memakai pupuk AB-mix guna mencukupi nutrisinya, akan tetapi nutrisi AB-mix merupakan pupuk kimia sintetis yang bisa menyebabkan pengaruh negatif untuk lingkungan dan konsumen. Nutrisi alternatif yang bisa digunakan adalah pupuk organik cair (POC). POC yang digunakan pada penelitian ini adalah wokozim. Penelitian ini bertujuan guna mengetahui pengaruh pemberian pupuk cair dan media tanam terkait hasil dan pertumbuhan tomat cherry. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi yang mencakup petak utama yaitu perbandingan AB-mix dan POC yang berisi dari 15 ml AB-mix, 10 ml AB-mix + 3 ml POC, dan 5 ml AB-mix + 2 ml POC. Anak petak yaitu media tanam yang mencakup rockwool, arang sekam, cocopeat. Berdasarkan hasil penelitian, interaksi kedua perlakuan berpengaruh untuk meningkatkan parameter berat basah dan berat kering tanaman serta berat basah dan berat kering akar. Konsentrasi nutrisi 10 ml AB-mix + 3 ml POC mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah dan berat buah total per tanaman, berat kering akar, berat basah akar, berat kering tanaman, berat basah tanaman. Media tanam rockwool memiliki pengaruh terbaik dalam meningkatkan berat kering akar, berat basah akar, berat kering tanaman, berat basah tanaman
Pengaruh Auksin, Sitokinin, Giberelin, dan Paklobutrazol terhadap Pertumbuhan Bibit Anggrek Dendrobium sylvanum pada Tahap Aklimatisasi
Indonesia memiliki berbagai jenis anggrek dengan keunikan bentuk bunga, warna, corak, serta ukuran. Jenis anggrek yang paling populer adalah Dendrobium. Pada umumnya anggrek diperbanyak melalui teknik kultur jaringan, namun pada tahap aklimatisasi terdapat kendala seperti rendahnya persentase bibit yang dapat bertahan hidup dan pertumbuhan yang stagnan. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh auksin, sitokinin, giberelin, serta paklobutrazol terhadap parameter pertumbuhan bibit anggrek di tahap aklimatisasi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Penelitian dan Percobaan (KP2) Instiper Yogyakarta pada bulan Februari-Mei 2020. Penelitian dilakukan dengan metode percobaan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL), faktor pertama adalah jenis hormon (4 aras), yaitu A1 (auksin), A2 (sitokinin), A3 (giberelin), A4 (paklobutrazol); faktor kedua berupa konsentrasi hormon yaitu D0 (0 ppm), D1 (2,5 ppm), D2 (5 ppm), D3 (7,5 ppm), masing-masing kombinasi perlakuan dilakukan pengulangan sejumlah 3 kali, kemudian dilakukan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji lanjut DMRT taraf kepercayaan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hormon giberelin memberikan pengaruh yang paling baik terhadap pertumbuhan bibit anggrek dibandingkan dengan hormon auksin, sitokinin, atau paklobutrazol. Hormon giberelin 5 ppm dapat meningkatkan pertumbuhan bibit anggrek seperti lebar tanaman, lebar daun, panjang daun, jumlah akar, panjang akar, dan bobot segar bibit