AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
Teknik Sterilisasi Eksplan Talas Lokal Toraja Bite (Colocasia esculenta) dengan Teknik In Vitro
Talas sebagai salah satu tanaman pangan alternatif di Indonesia, seharusnya mendapatkan perhatian dalam teknik budidayanya. Perbanyakan talas dapat dilakukan secara vegetatif dengan memanfaatkan teknologi, yakni melalui metode kultur in vitro. Metode kultur in vitro dilakukan untuk menghasilkan bibit talas lokal Toraja Bite dalam jumlah yang banyak, bebas dari hama dan penyakit. Keberhasilan kultur in vitro talas sangat dipengaruhi oleh teknik sterilisasi. Oleh karena itu, penelitian bertujuan untuk mengetahui teknik sterilisasi eksplan talas yang tepat dalam teknik in vitro. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai Juli 2022 di Laboratorium Pertanian Universitas Kristen Indonesia Toraja. Adapun parameter pengamatan adalah persentase kontaminasi eksplan, pencoklatan, dan persentase eksplan yang tumbuh. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian fungisida dithane (2,5 g/l, 5 g/l, 7,5 g/l) dan antracol (2,5 g/l, 5 g/l, 7,5 g/l). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan fungisida Dithane 7,5 gr/l mampu menurunkan persentase kontaminasi eksplan, sedangkan fungisida dithane 2,5 g/l mampu menurunkan persentase pencoklatan dan meningkatkan persentase eksplan yang tumbuh. Jadi direkomendasikan untuk menggunakan fungisida dithane 2,5 g/l dalam teknik sterilisasi talas lokal Toraja Bite karena dosis ini tidak menyebabkan kerusakan jaringan yang menyebabkan pencoklatan sehingga meningkatkan persentase eksplan yang tumbuh
Identification Of Microorganism Composition In Indigenous Microorganisms (Imo) Solutions Of Various Fruit Peels And Their Utilization In Organic Peanut Cultivation
This paper consists of two researches. A research to identify the microbial composition and density of various types of indigenous microorganisms (IMO) solutions was carried out descriptively. Another research aimed to study the effect of the types of IMO on the growth and yield of peanut was carried out using a randomized block design with three replications and two treatment factors, namely the types of IMO consisting of IMO of tamarillo, pineapple and orange peels, and the dose of chicken manure with the levels of 0, 10, 20 and 30 tons/ha. The IMOs were applied at a concentration of 45 ml/liter, each. The results showed that the IMO of tamarillo, pineapple and orange peels contained different densities of at least six types of microbes, namely: Pseudomonas sp; Azotobacter sp; Bacillus sp; Actinomycetes sp; Streptomyces sp and P (phosphate) solubilizing microbes, but the type of IMO had no significant effect on plant height and stem diameter at 6 WAP as well as the number of filled pods and the yield per plot. The three types of IMO gave the same good effect, as indicated by the production of 197 percent compared to the yield potential of Gajah variety
Evaluasi Kesesuaian Lahan Tanaman Kakao di Desa Sengeng Palie Kecamatan Lamuru Kabupaten Bone
Potensi suatu lahan untuk tujuan tertentu dapat diduga melalui evaluasi lahan. Pulau Sulawesi merupakan salah satu wilayah sentra produksi kakao dengan luasan sekitar 60% dari seluruh wilayah sentra kakao di Indonesia. Produktivitas kakao di Kecamatan Lamuru Kabupaten Bone lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas optimal kakao pada umumnya. Oleh karena itu, studi evaluasi kesesuaian lahan tanaman kakao pada Kecamatan Lamuru perlu dilakukan. Studi ini dilaksanakan pada bulan April sampai Juli 2022. Evaluasi tingkat kesesuaian lahan dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor pembatas dan tindakan perbaikan lahan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan parametrik. Hasil studi ini menunjukkan bahwa tipe iklim Desa Sengeng Palie berdasarkan teori Schmidt-Ferguson tergolong tipe C atau agak basah dengan kelas kesesuaian lahan kakao yang aktual dan tergolong sesuai marginal (S3) dengan indeks lahan sebesar 26. Adapun faktor pembatas iklim yang diperoleh adalah curah hujan dan lama bulan kering dengan pemberian irigasi intensif, serta kelembaban udara relatif dan sifat fisik tanah (kedalaman tanah) yang tidak dapat dilakukan tindakan perbaikan
Respon Beberapa Varietas Jagung Manis terhadap Hasil Panen di Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang
Jagung manis merupakan komoditi yang banyak diminati dan dibudidayakan oleh masyarakat pada umumnya. Upaya untuk meningkatkan potensi hasil jagung manis dapat dilakukan dengan menerapkan sistem budidaya yang tepat, salah satu syarat budidaya tanaman yang dilakukan adalah dengan menggunakan varietas unggul. Terdapat banyak jenis varietas unggul namun belum diketahui keunggulannya bila ditanam di daerah Hamparan Perak karenanya perlu untuk dilakukan pengkajian beberapa varietas unggul jagung manis terhadap hasil panen. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan varietas jagung manis yang mampu beradaptasi di Kecamatan Hamparan Perak dan memberi hasil panen tertinggi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai September 2017 di Desa Klumpang Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Non Faktorial dengan 3 ulangan, terdiri dari varietas: V1= Bonanza F1, V2= Secada F1, V3= Glory, V4= Kumala, V5= Purple Jean, V6= Sweet Lady, V7= MB-01 Sweet, V8= Sweet Boy, V9= Gulaku. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut dengan DMRT. Hasil penelitian menunjukkan varietas Sweet Lady memberikan hasil panen tertinggi pada bobot tongkol per plot, bobot tongkol per hektar dan kadar gula yaitu 13,61 % brix. Hasil panen jagung manis terendah terdapat pada varietas Purple Jean
Pengaruh EMS dan Paklobutrazol Terhadap Pertumbuhan dan Pembungaan Krisan (Chrysanthemum morifolium) di Dataran Rendah
Bunga krisan sangat diminati karena keindahannya dan memiliki harga jual yang tinggi, tetapi sangat disayangkan budidaya krisan masih mengandalkan tempat di dataran tinggi. Tanaman dapat dimodifikasi untuk mendapatkan bunga asli dataran tinggi yang dapat tumbuh dan mekar di dataran rendah. Modifikasi krisan asli dataran tinggi agar tumbuh dan berbunga di dataran rendah memerlukan bantuan mutagen Ethyl Methanesulfonate (EMS) dan konsentrasi paklobutrazol yang tepat. Penelitian dimulai dari bulan Desember 2021 hingga April 2022 di Screenhouse Fakultas Pertanian, UPN "Veteran" Jatim, Surabaya. Penelitian memakai Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang diurutkan secara Faktorial. Faktor tersebut adalah tanpa EMS dan perlakuan EMS (dosis 0,77% dan lama perendaman 90 menit) dan perlakuan konsentrasi paklobutrazol (0 ppm, 100 ppm, dan 200 ppm). Semua perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitian membuktikan adanya interaksi perlakuan EMS dan konsentrasi paklobutrazol terhadap waktu muncul kuncup dan waktu mekar sempurna. Perlakuan kombinasi EMS + konsentrasi paklobutrazol 200 ppm terbukti sebagai hasil interaksi terbaik pada waktu muncul kuncup bunga (75,55 HST) dan waktu mekar sempurna (46,23 HST). Perlakuan tunggal EMS berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, jumlah daun (umur 42, 56, dan 70 HST), jumlah ruas, waktu muncul kuncup, waktu mekar sempurna, dan diameter bunga, sedangkan perlakuan tunggal konsentrasi paklobutrazol berpengaruh nyata pada semua parameter pengamata
Respon Pemberian Ekoenzim dan Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bawang merah (Allium ascalonicum L)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon akibat pemberian Ekoenzim (EE) dan pupuk organik cair (POC) terhadap pertumbuhan dan produksi bawang merah (Allium ascalonicum L.). Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah pemberian ekoenzim (EE) yang terbagi menjadi 4 taraf yaitu E0= (kontrol), E1 = 1%, E2= 2%, E3 = 3%. Faktor kedua adalah pemberian POC buah-buahan yang terbagi menjadi 4 taraf yaitu B0 = (kontrol), B1 = 1%; B2 = 2%, B3 = 3%. Parameter pengamatan adalah tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), jumlah anakan, berat basah umbi per plot, berat kering Umbi per plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EE berpengaruh tidak nyata pada semua parameter yang diamati, dimana perlakuan terbaik pada E1 = 1%. Pemberian POC buah-buahan berpengaruh tidak nyata pada parameter tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), namun berpengaruh sangat nyata pada parameter jumlah anakan, berat basah umbi per plot (g) dan berat kering umbi per plot (g), dimana perlakuan terbaik pada pemberian B3 = 3%. Interaksi antara pemberian Eco enzyme dan POC Buah-buahan berpengaruh tidak nyata pada semua parameter yang diamati
Pengaruh Aplikasi Pupuk Kandang Ayam dan Cangkang Telur Terhadap Sifat Kimia Tanah, Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max L. Merril).
Setelah pandemi covid, isu ketahanan pangan menjadi topik penting agar tidak terjadi gejolak politik dan sosial di Indonesia. Tingginya ketergantungan impor kedelai (86,4%) bisa mengancam ketahanan pangan nasional. Satu upaya untuk memenuhi kebutuhan kedelai adalah menanam kedelai di lahan kering masam. Kendala yang dihadapi adalah pH tanah rendah, kandungan Al tinggi, terfiksasinya P, miskin unsur hara, KTK rendah. Penggunaan limbah ternak ayam merupakan alternatif untuk mengatasi hal tersebut sekaligus mengatasi pencemaran lingkungan. Penelitian bertujuan untuk mempelajari respon penggunaan pupuk kandang ayam dan cangkang telur terhadap sifat kimia tanah, pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Penelitian menggunakan RAK 2 faktorial. Faktor I, pupuk kandang ayam P0 (0 ton.ha), P1 (10 ton/ha), P2 (20 ton/ha), P3 (30 ton/ha). Faktor II, cangkang telur C0 (0 ton/ha), C1 (1,20 ton/ha), C2 (2,39 ton/ha), C3 (3,59 ton/ha). Aplikasi pupuk kandang ayam dan cangkang telur memberi respon nyata pada pH tanah, Ca tersedia, P tersedia dan C organik. Pupuk kandang ayam 30 ton/ha memberikan hasil terbaik pada pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman (tinggi tanaman, jumlah cabang produktif, bobot kering tajuk, bobot kering akar, bobot kering biji per tanaman, bobot 100 biji. Pemberian cangkang telur ayam pada parameter pertumbuhan vegetatif dan generatif tidak berbeda nyata
Identifikasi Perubahan Fenologi Gulma Akibat Paparan Herbisida Glifosat dan Parakuat Dengan Dosis yang Berbeda
Penurunan produksi yang tinggi akibat gulma menyebabkan adanya teknik pengendalian gulma. Salah satu teknik pengendalian gulma yang banyak diaplikasikan adalah penyemprotan dengan menggunakan herbisida. Masalah yang muncul akibat penggunaan herbisida antara lain munculnya gulma resisten herbisida, penurunan biodiversitas tumbuhan, peningkatan biaya produksi dan pencemaran pada tanah, air dan udara serta meningkatkan residu pestisia pada bahan pangan. Masalah ini harus segera diselesaikan dengan mencari rekomendasi penyemprotan yang lebih efektif dan efisien. Rekomendasi penyemprotan herbisida dapat diperoleh melalui penelitian. Hal ini yang menjadi dasar penulis untuk melakukan penelitian tentang pengaruh jenis dan dosis bahan aktif terhadap perubahan fenologi dan waktu kematian gulma. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Perlakuan pertama adalah jenis bahan aktif herbisida yang terdiri dari dua taraf yaitu farakuat diklorida dan glifosat. Sedangkan perlakuan yang kedua adalah dosis herbisida yang terdiri dari tiga taraf yaitu 1,5 l/ha, 3 l/ha dan 4,5 l/ha. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa perubahan fenologi gulma dapat dilihat pada 1 HSP pada penyemprotan herbisida berbahan aktif farakuat diklorida sedangkan herbisida berbahan aktif glifosat pada 7 HSP. Waktu kematian gulma sangat dipengaruhi oleh jenis bahan aktif herbisida. Herbisida yang paling cepat mampu membunuh gulma adalah berbahan aktif farakuat diklorida
Pengaruh Komposisi Media Tanam Organik dan Dosis Pupuk Guano terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.)
Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam organik dan dosis pupuk guano terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill). Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga Juni 2021 di lahan Fakultas Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, Kota Surabaya. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 2 faktor perlakuan dan diulang 3 kali. Faktor pertama komposisi media tanam organik (K) yang terdiri atas 3 taraf yaitu K1= tanah : kompos : vermikompos (2:1:1), K2= tanah : kompos : vermikompos (2:1:2) dan K3= tanah : kompos : vermikompos (2:2:1). Faktor kedua dosis pupuk guano (P) yang terdiri atas 5 taraf yaitu P0= 25 g/tanaman NPK 16:16:16 (kontrol), P1= 25 g/tanaman, P2= 30 g/tanaman, P3= 35 g/tanaman dan P4= 40 g/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi komposisi media tanam organik dan dosis pupuk guano berpengaruh terhadap tinggi tanaman umur 21, 28 dan 35 HST, jumlah daun umur 49, 56, 63, 70, 77 dan 84 HST, jumlah tandan, jumlah buah per periode panen pada periode ke- 5, bobot buah per buah pada periode ke- 5, bobot buah per periode panen pada periode ke- 5, persentase fruit set, kadar gula buah dan kandungan klorofil
Pengaruh Frekuensi Penyiraman dan Volume Air terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi Pakcoy Pada Media Tanam Campuran Arang Sekam dan Pupuk Kandang
Budidaya sawi pakcoy membutuhkan waktu yang relatif singkat, yaitu dapat dipanen pada umur sekitar 40 hari setelah tanam. Sawi pakcoy merupakan tanaman yang mudah dibudidayakan, termasuk bagi pelaku non pertanian, namun pada kenyataannya faktor seperti ketersediaan air masih menjadi kendala bagi tanaman untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian air terutama volume air dan frekuensi penyiraman terhadap pertumbuhan sawi pakcoy. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah frekuensi penyiraman setiap 2 hari sekali (F1) dan frekuensi penyiraman setiap 3 hari sekali (F2). Faktor kedua adalah volume air 620 ml (V1), 496 ml (V2), 372 ml (V3), dan 248 ml (V4). Perlakuan tersebut diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman yang memiliki hasil tertinggi diberi perlakuan dengan frekuensi penyiraman setiap 2 hari sekali dengan volume 620 ml (F1V1). Fungsi air pada pengamatan ini berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, bobot daun, jumlah daun, bobot basah tanaman, diameter tanaman dan tidak berpengaruh nyata terhadap luas daun