AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
Viabilitas Benih Karet pada Beberapa Media Simpan dan Lama Penyimpanan yang Berbeda.
Benih karet adalah benih rekalsitran yang memiliki kadar air yang tinggi, pada periode penyimpanan tidak toleransi terhadap pengeringan dan mati bila disimpan dalam freezer ketika kristal es terbentuk, untuk mempertahankan viabilitas benih diperlukan metode penyimpanan untuk memperpanjang lama penyimpanan benih. Tujuan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari viabilitas benih klon karet pada beberapa periode penyimpanan dengan menggunakan bahan media simpan serbuk gergaji lembab, arang lembab dan sabut kelapa. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 2 faktor perlakuan, 3 ulangan, yaitu: I. Media Simpan (M) dengan 3 taraf yaitu: M1 = Serbuk Gergaji, M2 = Serbuk Arang, M3 = Sabut Kelapa, masing-masing berukuran 20 mesh; II. Lama Penyimpanan (T), dengan 3 taraf yaitu: T0 = Tanpa Penyimpanan, T1 = Penyimpanan 10 hari, T2 = Penyimpanan 20 hari. Jumlah benih yang digunakan untuk setiap unit percobaan adalah 30 benih. Parameter yang diamati adalah: Benih berkecambah (%), kecambah normal (%), kadar air benih(%), benih berjamur dalam penyimpanan (%), kecepatan tumbuh (%/etmal), tinggi tanaman (cm). Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa viabilitas benih karet menurun tidak signifikan sampai 29,27% dengan lama penyimpanan 10 hari menggunakan media simpan serbuk gergaji ukuran 20 Mesh dengan persentase benih awal tanpa penyimpanan 62,67%
Pengaruh Aplikasi Beberapa Media Tanam terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah dengan Teknologi Akuaponik
Teknologi akuaponik ini dapat menjadi langkah awal yang logis menuju kemandirian pangan keluarga dan bahkan bangsa Indonesia. Teknologi akuaponik merupakan teknologi budidaya tanaman dan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi beberapa media tanam terhadap pertumbuhan dan produksi bawang merah dengan teknologi akuaponik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non Faktorial dimana faktor yang digunakan adalah media tanam yang terdiri dari 4 faktor yaitu: tankos, arang sekam cocopeat dan kombinasi ketiganya. Parameter yang diamati yaitu panjang daun (cm), jumlah daun (helai), jumlah anakan (anakan), jumlah umbi (umbi), diameter umbi (mm), bobot basah (g) dan bobot kering (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam ada yang berpengaruh nyata terhadap parameter yang diamati seperti panjang daun, jumlah daun, jumlah umbi, bobot basah dan bobot kering umbi dan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah anakan dan diametr umbi. Aplikasi media tanam terbaik pada penelitian ini adalah kombinasi perlakuan untuk teknologi akuaponik pada tanaman bawang merah
Induksi Kalus Tanaman Paitan (Thitonia diversifolia) pada Beberapa Konsentrasi 2.4 D
Tithonia diversifolia merupakan nama latin dari tanaman daun insulin atau daun paitan. Salah satu manfaat daun insulin untuk mengatasi diabetes. untuk mengetahui pengaruh beberapa konsentrasi 2,4-D terhadap induksi kalus tanaman paitan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Laboratorium Kebun Percobaan dan Peternakan Universitas Pembangunan Panca Budi Medan yang dimulai pada bulan Agustus sampai dengan Desember 2019. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Nonfaktorial dengan perlakuan 2.4 D yaitu D0 (0 mg/l), D1 (0,5 mg/l), D2 (1 mg/l), dan D3 (1,5 mg/l) sebanyak 4 ulangan dengan 2 eksplan setiap botol sehingga terdapat 32 satuan percobaan. Parameter yang diamati adalah persentase terbentuknya kalus, waktu induksi kalus, tekstur kalus dan warna kalus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi 2,4 D berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter pengamatan. Pemberian zat pengatur tumbuh 2,4 D belum dapat menginduksi kalus tanaman paitan dengan baik
Preferensi Pakan Stadia Larva Ulat Api (Setothosea asigna) terhadap Daun Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.).
Peranan serangga sebagai hama menyebabkan kerugian bagi tanaman budidaya dan manusia. Terutama Setothosea asigna sebagai ulat pemakan daun tanaman kelapa sawit, sehingga pengendalian hama ini penting dilakukan, namun pedoman pengendalian yang selama ini di gunakan hanya berlandaskan pada jumlah larva di batas ambang ekonomi tanpa memperhatikan tipe instar larva Setothosea asigna yang menyerang tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi pakan stadia larva Setothosea asigna terhadap daun tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Penelitian dilakukan di lahan percobaan Emplasmen PTPN IV unit laras. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu experimental design dan teknik observasi untuk pengambilan objek penelitian. Perlakuan dalam penelitian adalah memberikan pakan daun tanaman kelapa sawit dengan 2 waktu yaitu pukul 07:00 WIB dan pukul 19:00 WIB. Hasil pengamatan menunjukkan tingkat konsumsi paling tinggi di pagi hari dan malam hari terdapat pada instar 7 larva S. asigna, dan hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa, tipe instar berbanding lurus dan berpengaruh secara langsung (positif) terhadap jumlah pakan. Preferensi pakan stadia larva Setothosea asigna terhadap daun tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) lebih aktif pada malam hari serta tingkat konsumsi pakan yang paling tinggi baik pagi ataupun malam hari terdapat pada instar 7 dan hubungan antara instar stadia larva Setothosea asigna terhadap jumlah pakan daun tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) baik pada pagi hari ataupun malam hari yaitu berbanding lurus dan berpengaruh secara langsung
Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Tanaman Tomat terhadap Beberapa Konsentrasi Kolkhisin
Indonesia has decreased tomato production so that it cannot meet the needs of the community. Therefore, innovation is needed to meet the increasing needs of tomatoes. One way is to form polyploid plants using colchicines. In this research a factorial randomized block design (RAK) was used with two treatments, namely Varieties (Servo F1 and Gem) and Colchhisin Concentration (0, 0.1% and 0.2%) with 4 replications with a total plant total of 24 polibek. Immersion is carried out for 6 hours. Plant height, number of leaves, number of branches, number of flowers, number of fruits per plant and weight of fruits per plant were observed parameters. From the results of the analysis showed that the variety and concentration of kolchhisin did not significantly affect all parameters. Therefore, further research will be carried out to obtain the right concentration in forming polyploid tomato plant
Inovasi Baru Buah Nanas sebagai Alternatif Pengganti Feromon Kimiawi untuk Perangkap Hama Penggerek Batang (Oryctes rhinoceros L.) pada Tanaman Kelapa Sawit di Areal Tanah Gambut
The attack of the Oryctes rhinoceros beetle on oil palm plantations can reduce yield by 60% at the first harvest and cause death by 25% in immature plants. The use of pheromone traps in oil palm plantations is an excellent alternative for controlling horn beetles. The purpose of this research is to find out the new innovation of pineapple as an alternative substitute for chemical pheromones for the trapping of stem borer (Oryctes rhinoceros) in oil palm plants on the peat soil area. This study uses Faktorial Non Faktorial Randomized Block Design (RBD) 5 Treatment in the field. The results of the research that we have done, the highest treatment is in P5 and the lowest treatment is in P
Berbagai Dosis Kombinasi Limbah Pabrik Kelapa Sawit (LPKS) dengan Limbah Ternak Sapi (LTS) terhadap Pertumbuhan Vegetatif Jagung Manis (Zea mays Saccharata Struth)
The research has been carried out in Sei Mencirim Village, Sunggal District, Deli Serdang Regency, with an altitude of 400 meters above sea level, carried out from April to September 2019, with the title Combination of Palm Oil Mill Waste (POMW) with Cow Cattle Waste (CCW) and Specific Doses Affect the Vegetative Growth of Sweet Corn (Zea mays saccharata struth). This research used factorial randomized block desigan (RBD). Factor I LPKS combination : LTS symbol (P) consists of P1 (70 % Solid : 30 % Solid), P2 (50 % Solid : 50 % Solid), P3 (70 % Solid : 30 % Liquid), P4 (50 % Solid : 50 % Liquid), P5 (70 % Liquid : 30 % Solid), P6 (50 % Liquid : 50 % Solid), P7 (70 % Liquid : 30 % Liquid) and P8 (50 % Liquid : 50 % Liquid). Factor II Dosage (tons/ha) consist of control (DO), 5 tons/ha (D1), 10 tons/ha (D2) and 15 tons/ha (D3) with 32 combinations treatments and 2 replication. The results of research conducted with different combinations of LPKS with LTS with several doses have a significant effect on the vegetative of sweet corn. When to get the best plant height growth is to use a combination of 50 % LpPKS with 59 % LpTS at a dose of 15 tons/ha, while for stem diameter and leaf area is 10 tons/ha
Peningkatan Tanaman akibat Aplikasi Pembenah Tanah terhadap Beberapa Varietas Bawang Merah
Tanaman bawang merah dapat ditingkatkan melalui teknik budidaya yang tepat seperti dalam pemilihan varietas dan aplikasi bahan organik sebagai pembenah tanah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peningkatan tanaman beberapa varietas bawang merah akibat aplikasi pembenah tanah. Penelitian ini dilaksanakan pada areal pertanian Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara pada bulan Februari sampai Juni 2017. Penelitian ini memakai Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor dan 3 blok. Faktor pertama adalah varietas (V) dan faktor kedua adalah pembenah tanah (P). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa varietas yang terunggul adalah varietas Super Philip, dimana varietas tersebut menunjukkan hasil produksi dari bobot kering per sampel yang paling banyak sedangkan aplikasi pembenah tanah tidak menujukkan pengaruh yang nyata pada penelitian ini
Penggunaan Semut Hitam dan Bokashi dalam Peningkatan Resistensi dan Produksi Tanaman Kakao
Cocoa is the source of life for more than 6.5 million farming families. Cocoa farmers in Langkat District about 2081 with an area of 2603/ha. Cocoa production in Langkat recorded about 950 kg/ha/year, but some produced about 450 kg/ha/year. In addition to the shortage of subsidized inorganic fertilizers, another problem in Indonesias low cocoa production especially Langkat is because cultivation was not done.Another, the attack of plant-disturbing organisms, such as Cocoa Borer (CPB) and Vascular Streak Dieback (VSD). Cocoa pod borer, Conopomorpha cramerella is a very serious pest and 80% production reduced. It was because the cocoa pod borer is difficult to control and had spread throughout Langkat. By 2018, cocoa production in Langkat about 7 kg/weeks. Biological control using black ants has been developed as a natural CPB pest agency by making ant nest of 30-40 strands of dried cocoa leaves with permanent polystyrene plastic or dry cocoa leaves and tied with rafia straps. The results showed that cocoa pods were heavy damaged under 5%. Fertilizing with Bokashi which are made of cocoa leaves, bran, husks and manure fermented with EM-4 was applied 5 kg/tree, for plant resistance to VSD disease and cocoa production increased. Farmer are commitment to their respective cocoa gardens and hope they can produce organic cocoa in the futur
Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) dengan Aplikasi Beberapa Konsentrasi Nutrisi AB Mix dan Monosodium Glutamat pada Sistem Tanam Hidroponik Wick.
Meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat saat ini juga menyebabkan adanya pergeseran pola konsumsi dan gaya hidup ke arah yang lebih baik. Beberapa tahun terakhir sudah bermunculan perkebunan sayuran yang berbeda dengan konvensional. Industri ini menghasilkan sayuran yang higenis dengan menggunakan teknologi seperti hidroponik. Salah satu komoditi pertanian yang dapat dibudidayakan secara hidroponik adalah sawi (Brassica juncea L.). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh aplikasi beberapa konsentrasi AB Mix dan Monosodium Glutamat terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sawi dengan sistem tanam hidroponik wick. Hasil pengamatan dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor, faktor pertama yaitu pemberian nutrisi AB mix yang terdiri 500 ppm/plot, 800 ppm/plot dan 1100 ppm/plot. Faktor kedua pemberian Monosodium Glutamate dengan taraf tanpa pemberian Monosodium Glutamate dan dengan pemberian Monosodium Glutamate. Parameter pengamatan penelitian adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, produksi persampel dan produksi perplot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian nutrisi AB Mix dan monosodium glutamat serta pengaruh interaksi antara nutrisi AB Mix dan Monosodium Glutamat tidak nyata terhadap semua parameter yang diamati