Journal of Information Systems for Public Health
Not a member yet
145 research outputs found
Sort by
Evaluasi penerapan konsep integrasi data menggunakan dhis2 di kementerian kesehatan
Latar Belakang: Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 168, untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan informasi kesehatan. Informasi yang berkualitas diperoleh dari pengumpulan data yang baik sehingga menjadi acuan dalam proses manajemen, perencanaan dan pengambilan keputusan. Namun hingga saat ini, SIK yang ada belum mampu menyediakan data dan informasi yang cepat, akurat dan tepat waktu dikarenakan masih adanya fragmentasi sistem informasi, lemahnya manajemen data dan sistem pendukung pengambilan keputusan. Berdasarkan hal tersebut, sejak tahun 2106 Kementerian Kesehatan mengadopsi aplikasi DHIS2 sebagai data repository yang bertujuan mengintegrasikan data, menguatkan proses manajemen data dan bahan pengambilan keputusan di Kementerian Kesehatan.Tujuan: Mendeskripsikan input, proses dan output dalam pelaksanaan integrasi data serta monitoring dan evaluasi pelaksanaan integrasi data menggunakan DHIS2 di Kementerian Kesehatan sesuai dengan kerangka kerja integrated data repository dari WHO. Metode Penelitian: Deskriptif kualitatif dengan rancangan studi kasus. Data dikumpulkan dengan cara observasi, telaah dokumen dan wawancara mendalam dengan pejabat struktural, staf teknis dan konsultan di Pusdatin Kementerian KesehatanMetode : Deskriptif kualitatif dengan rancangan studi kasus pada penerapan konsep integrasi data berdasarkan kerangka integrated data repository dari WHO.Hasil : Implementasi DHIS2 di Kementerian Kesehatan menggunakan infrastruktur server terpusat yang mendukung kemampuan cloud system. Aplikasi DHIS2 digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan data agregate dari berbagai sumber dan menyajikannya dalam tampilan dashboard. Kebijakan tertulis tentang integrasi data belum ada, saat integrasi disusun hanya berdasarkan kesepakatan antar unit. Regulasi tentang standar pelaksanaan integrasi belum ada, standar kode puskesmas digunakan sebagai standar integrasi data yang bersumber dari puskesmas. Sumber data yang telah diintegrasikan bersumber dari sumber data rutin yaitu aplikasi SIHA, SITT, Keluarga Sehat dan Komdat sedangkan sumber data rutin lainnya dan sumber data non rutin belum diintegrasikan ke DHIS2. Proses pencocokan data antara dashboard DHIS2 dengan sumber data pada aplikasi komdat diperoleh hasil yang sama pada data bulanan dan triwulan sedangkan pada data tahunan masih ditemukan perbedaan.Kesimpulan: Integrasi data menggunakan DHIS2 belum mampu menghasilkan data dan informasi berkualitas yang berasal dari berbagai sumber data sehingga saat ini belum dapat digunakan untuk memperkuat proses manajemen data dan bahan pembuatan kebijakan
Strategi transformasi digital pada pt. Kimia farma (persero) tbk
Latar Belakang : Teknologi memberikan efek kombinatorial yang mempercepat kemajuan diberbagai aspek baik dibidang bisnis maupun kehidupan bermasyarakat secara eksponensial. Ini adalah konteks dimana inovasi digital kini mengganggu bisnis dan model operasi, dan membuat beberapa dampak yang signifikan terhadap kehidupan sosial masyarakat. Transformasi digital telah menyentuh organisasi di tiga bidang utama, yaitu Pengalaman Pelanggan,Proses Operasional, Model bisnis. PT. Kimia Farma Plant, dalam satu naungan Holding Company yaitu PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Kimia Farma telah bersiap menyambut era digital dengan ditandai dengan peningkatan sistem ERP sebagai salah satu asetnya.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lingkungan internal dan eksternal bisnis dan Sistem Informasi/Teknologi Informasi (SI/TI), mengidentifikasi portofolio aplikasi saat ini dan masa mendatang, serta membuat sebuah Perencanaan Strategis Sistem Informasi (PSSI) dengan menggunakan Framework Digital Transformation dalam upaya pencapaian visi dan misi PT. Kimia Farma (Persero) Tbk.Metode : Data diperoleh dari hasil wawancara, dan observasi analisis dokumen perusahaan. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu deskriptif dengan kerangka kerja PSSI dari Ward dan Peppard, serta hasil rekomendasi strategis didokumentasikan dengan menggunakan kerangka kerja Transformasi Digital dari Westerman dkk.Hasil : Hasil dari penelitian ini adalah sebuah blueprint terkait strategi bisnis, strategi manajemen SI/TI, strategi SI/TI dan kerangka kerja strategi transformasi digital yang dapat membantu PT Kimia Farma dalam mencapai tujuan strategis perusahaan. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa usulan Model Bisnis Digital, Operasional Proses Digital, Customers Experience digital, serta pengelolaan Transformasi Digital yang dapat diterapkan di perusahaan.Kata Kunci : Kerangka Kerja Transformasi Digital, Perencanaan Strategis Sistem Informasi, Strategi Bisnis SI, Strategi Manajemen SI/TI, Strategi TI, Portofolio Aplikas
Implementasi bridging system aplikasi sikda generik dengan p-care bpjs kesehatan di kabupaten lamongan
Latar Belakang: Puskesmas di wilayah kerja Kabupaten Lamongan telah melakukan implementasi SIKDA Generik sejak tahun 2014 bersamaan dengan implementasi P-Care BPJS Kesehatan. Proses pencatatan rangkap pada dua aplikasi berbeda dengan data yang sama menyebabkan pekerjaan yang tidak efisien dan menghabiskan waktu. Perlu dilakukan intervensi pengembangan modul bridging pada SIKDA Generik untuk membantu pekerjaan petugas entri puskesmas.Tujuan: Penelitian ini mendeskripsikan implementasi bridging system antara P-Care BPJS Kesehatan dengan SIKDA Generik di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitaif deskriptif dengan pendekatan action research karena adanya kegiatan intervensi yang melibatkan mitra yang diteliti. Bentuk intervensi pada penelitian ini, yaitu proses pengembangan bridging pada aplikasi SIKDA Generik dan P-Care BPJS Kesehatan.Hasil: Pengembangan modul bridging system aplikasi SIKDA Generik dengan P-Care BPJS Kesehatan dengan metode Agile Development membantu petugas puskesmas agar tidak melakukan pencatatan rangkap. Sebanyak 90,2% data berhasil menjalankan proses interoperabilitas, sedang 9,8% gagal menjalankan proses interoperabilitas. Interoperabilitas sistem dapat ditingkatkan dari tingkat 2 menjadi tingkat 4 menurut skala LISI.Kata kunci: action research, bridging system, interoperabilitas, P-Care, SIKDA Generik
Pengembangan sistem informasi manajemen sebagai pendukung perencanaan distribusi dan mutasi sumber daya manusia kesehatan di puskesmas kabupaten ponorogo
Latar Belakang: SDMK merupakan kunci utama dalam keberhasilan pencapaian tujuan pembangunan bidang kesehatan di Indonesia. SIM SDM merupakan salah satu teknologi yang paling penting yang telah berkembang dan dapat dimanfaatkan untuk mengelola SDM yang ada (Buzkan, 2016). Hasil observasi menunjukkan belum adanya SIM SDMK di Puskesmas Kabupaten Ponorogo dapat memunculkan asumsi adanya ketidakjelasan dalam proses perencanaan, distribusi dan mutasi. Berdasarkan uraian diatas, penelitian mengenai Pengembangan SIM sebagai pendukung perencanaan, distribusi dan mutasi SDMK di Puskesmas Kabupaten Ponorogo perlu dilaksanakan.Tujuan : Mengembangkan SIM yang dapat mendukung perencanaan, distribusi dan mutasi SDMK di Puskesmas.Metode : penelitian ini adalah penelitian action research dengan rancangan penelitian prototyping. Data dan informasi diperoleh melalui observasi, wawancara, FGD.Hasil: Action Research ini menggunakan dua siklus. Pada siklus pertama, hasil dari aspek: Kemudahan penggunaan sistem, 86% user menyatakan “mudah” 14% “tidak tahu”; Tampilan sistem, user 71% user menyatakan “menarik” 29% “sangat menarik”; Kualitas informasi yang dihasilkan sistem, 86% user menyatakan “tidak tahu” 14% “tidak berkualitas”; Pemenuhan sistem terkait data/informasi yang dibutuhkan, 57% user menyatakan “tidak tahu” 43% “tidak sesuai”. Setelah itu, dilakukan beberapa perbaikan di DFD 0, DFD 1, SFC, dan Kamus data. Pada siklus ke dua, hasil dari aspek: Kemudahan penggunaan sistem, 100% user menyatakan “mudah”; Tampilan sistem, 71% user menyatakan “menarik” 29% “sangat menarik”; Pada Kualitas informasi yang dihasilkan sistem, 86% user menyatakan “tidak tahu” 14% “tidak berkualitas”; Pada pemenuhan sistem terkait data/informasi yang dibutuhkan, 86% user menyatakan “tidak tahu” 14% “tidak sesuai”.Kesimpulan: menurut user, SIM SDMK Puskesmas yang dikembangkan mudah diimplementasikan, tetapi masih terdapat kendala pada bahasa pemrograman sehingga perlu dikembangkan lebih lanjut. Terdapat beberapa data yang dibutuhkan penguna: Data SDMK, Standar SDMK, Regulasi SDMK dan Kebijakan SDMK.Kata Kunci: Sistem Informasi Manajemen, SDMK, Prototyping
Analisis spasial kejadian penyakit periodontal berdasarkan faktor sosioekonomi, perilaku, geografis dan lingkungan di kecamatan pundong kabupaten bantul
Latar Belakang: Penyakit periodontal adalah kerusakan patologis yang mengenai jaringan pendukung gigi. Patogenesisnya sebagian besar dipengaruhi oleh kondisi sistemik. Selain itu faktor geografis, lingkungan, perilaku kesehatan gigi dan sosiekonomi dapat mempengaruhi individu mengalami penyakit periodontal. Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat digunakan untuk menganalisa perbedaan faktor-faktor tersebut, terutama yang berhubungan dengan perbedaan geografis, faktor-faktor demografis, budaya dan lain-lain. Kecamatan Pundong memiliki variasi letak geografis dan sosial ekonomiMetode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik survei dengan disain cross sectional. Subjek penelitian ditetapkan dengan pendekatan Regristry Based Study dimana Puskesmas Pundong sebagai sumber data dasar dalam penelitian ini. Variabel bebas adalah penyakit periodontal, sedangkan variable terikat adalah faktor sosioekonomi, perilaku kesehatan, jarak ke sarana pelayanan kesehatan (geografis) dan pH air (lingkungan). Analisis spasial menggunakan SatScan dan ArcGIS.Hasil: Variabel yang berhubungan secara signifikan dengan keparahan penyakit periodontal yaitu status ekonomi, perilaku menyikat gigi, pH sumber air dan ketinggian tempat (p-value<0,05). Analisis buffer terhadap pelayanan kesehatan, sebagian besar penderita penyakit periodontal bertempat tinggal dekat dengan pelayanan kesehatan. Analisis spasial untuk mengetahui pengelompokan (cluster) kejadian penyakit periodontal, dengan analisis Purely Spatial Poisson Model didapat 1 cluster, terjadi pada 49 penderita dengan radius 2.24 km terdapat di Desa Seloharjo dengan nilai p-value = 1,00. Hal ini dikarenakan pola persebaran penyakit periodontal tidak berdasarkan pada tempat-tempat tertentu. Memiliki annual cases 11.2/100000 penduduk, yang berarti dalam 100000 penduduk memiliki kasus 11.2 orang.Kata Kunci: Penyakit Periodontal, Sosio ekonomi, Perilaku, Geografis, Lingkungan, SI
Evaluasi penerapan sistem informasi manajemen rumah sakit (simrs) di rsud praya kabupaten lombok tengah nusa tenggara barat
Latar belakang: Evaluasi menyeluruh untuk mengetahui bagaimana penerapan sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) di unit kerja rumah sakit. Penerapan sistem informasi SIMRS di rumah sakit sangat penting untuk mencapai layanan berkualitas. Sehingga rumah sakit perlu untuk mengembangkan SIMRS dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi dan manfaat penggunaan SIMRS.Metode Penelitian: Jenis penelitian kuantitatif pendekatan studi kasus dilakukan dengan menggunakan kerangka human, organization, technology–Fit (HOT-fit). Jumlah sampel sebanyak 35 sampel yang diambil yaitu pengguna SIMRS. Analisis data dilakukan dengan uji regresi linier berganda.Hasil: Berdasarkan hasil olah data diperoleh nilai Sig.t < 0,05, maka disimpulkan bahwa secara parsial ada pengaruh signifikan antara faktor human, organization, technology, pengetahuan pengguna, dan regulasi terhadap Net Benefit SIMRS. Hasil olah data diperoleh nilai Sig.F < 0,05, artinya secara simultan ada pengaruh signifikan antara faktor human, organization, technology, pengetahuan pengguna, dan regulasi terhadap Net Benefit SIMRS.Kesimpulan: Pemanfaatan penerapan SIMRS di RSUD Praya Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat hasil evaluasinya belum berjalan dengan maksimal. Faktor human, organization, technology, pengetahuan pengguna, dan regulasi berpengaruh signifikan secara parsial maupun simultan terhadap Net Benefit SIMRS (p-value = 0,000 < Level of Significant = 0,05).Kata kunci: Evaluasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), HOT-fit Model, dan Net Benefit
Analisis sentimen data twitter menggunakan metode text mining tentang masalah obesitas di indonesia
Latar belakang : Media sosial merupakan salah satu sarana yang digunakan oleh netizen untuk mengakses, berbagi dan berdiskusi seputar isu-isu obesitas. Twitter sebagai salah satu media sosial merupakan platform yang secara real time sering dipilih untuk mengkomunikasikan hal tersebut. Melalui analisis sentimen dengan metode text mining di Twitter, kita dapat memahami bagaimana orang menggambarkan dan mengungkapkan persepsi mereka terhadap kondisi obesitas baik secara positif, negatif maupun netral. Analisis tersebut penting untuk melihat sejauh mana media sosial seperti Twitter digunakan saat ini sebagai salah satu instrumen diseminasi informasi kesehatan di Indonesia. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi analisis sentimen pada Twitter terkait obesitas di Indonesia menggunakan metode text mining.Metode : Jenis penelitian adalah cross sectional. Rancangan ini dipilih karena data yang diambil dari Twitter dalam seri waktu 5 tahun terakhir (2012 -2017). Hasil webscraping pada Twitter didapatkan 67.942 tweet kemudian dicleaning dan menghasilkan sampel 43.436 data tweet berbahasa Indonesia. Pengambilan data menggunakan paket ekstensi Google Chrome Twitter Testing v.01 dan dianalisis menggunakan Python 3.7.2 dan R. Studio 3.5.2.Hasil : Berdasarkan hasil analisis sentimen tweet didapatkan sentimen positif sebanyak 22.246 (51,2%) tweet, diikuti oleh sentimen negatif sebanyak 12.015 (27,7%) tweet dan sentimen netral dengan jumlah 9.174 (21,1%) dari total 43.435 tweet. Nilai akurasi dengan algoritma Naïve Bayes didapatkan hasil nilai akurasi sebesar 94%.Kesimpulan : Analisis sentimen tweet terkait obesitas dengan metode text mining lebih didominasi oleh sentimen positif dibanding sentimen negatif dan sentimen netral. Nilai akurasi dengan algoritma Naïve Bayes Classifier berada dalam kategori “Excellent Classification” yang artinya algoritma Naive Bayes Classifier berhasil memprediksi kategori sentimen dalam penelitin ini dengan baik. Analisis data selanjutnyadapat menggunakan data langsung dari API Twitter kemudian meningkatkan jumlah kata kunci (keyword) dan menggunakan algoritma klasifikasi teks lainnya (SVM, DBN dll). Selain itu, dari sisi kesehatan masyarakat perlu upaya peningkatan literasi kesehatan melalui media sosial twitter terkait obesitas untuk meningkatkan pemahaman serta kemampuan mempercayai informasi kesehatan khususnya oleh organisasi kesehatan pemerintah guna mempertahankan sentimen positif publik yang sudah adaKata kunci : Analisis Sentimen, Obesitas, Text Mining, Twitte
Integrasi Data Berbasis Program Kesehatan di Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta
Latar Belakang: Disintegrasi data kesehatan masih terjadi tidak hanya di tingkat pusat, melainkan juga di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, termasuk di dinas kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Disintegrasi data bisa berdampak terhadap kualitas kebijakan kesehatan yang dihasilkan, maka perlu dilakukan integrasi data. WHO menyerukan penggunaan data repository untuk integrasi data. DHIS2 hadir sebagai data repository yang dapat memenuhi kebutuhan daerah dan pusat. Belum pernah dilakukan penelitian terkait integrasi data berbasis program kesehatan di dinas kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya menggunakan aplikasi DHIS2.Tujuan: Mengeksplorasi proses integrasi data berbasis program kesehatan di dinas kesehatan tingkat provinsi maupun kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta.Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian action research. Penelitian ini dilakukan di Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta, juga termasuk dinas kesehatan kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2018 - Februari 2019.Hasil: Rangkaian kegiatan integrasi data menggunakan aplikasi DHIS2 dilaksanakan dengan melibatkan pengelola program kesehatan di masing-masing dinas kesehatan dalam tiga tahapan kegiatan, meliputi: tahapan sosialisasi, pelatihan dan analisis kebutuhan, tahapan pengembangan dan tahapan diseminasi dan evaluasi. Sumber data yang terkumpulkan pada tahapan analisis kebutuhan, sosialisasi dan pelatihan meliputi KIA, Gizi, Surveilans, SDMK, Promkes, Keswa, LB1 dan LB4, Imunisasi, Diare, ISPA dan DBD. Masih ada kendala teknis yang apabila tidak diatasi, maka akan menambah waktu yang diperlukan untuk integrasi data menggunakan aplikasi DHIS2, yakni tata desain formulir pelaporan rutin belum terstandar. Kendala non-teknis yang utama yakni terkait standarisasi dan regulasi tertulis yang mengatur tentang integrasi data.Kesimpulan: Integrasi data berbasis program kesehatan di Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta dilaksanakan melalui strategi berupa pelaksanaan pertemuanpertemuan dalam rangkaian kegiatan integrasi data menggunakan aplikasi DHIS2. Terdapat kendala-kendala pada pelaksanaan kegiatan integrasi data menggunakan aplikasi DHIS2 yang dapat dikelompokkan menjadi kendala teknis dan kendala non-teknis. Solusi untuk masing-masing kendala pada pelaksanaan kegiatan integrasi data menggunakan aplikasi DHIS2 perlu dilakukan. Diperlukan peningkatan atau perbaruan strategi integrasi data yang dapat dilakukan pada siklus selanjutnya. Kata Kunci: Integrasi, Program Kesehatan, DHIS
Evaluasi simrs menggunakan metode technology acceptance model (tam) pada bagian rawat inap rsud abepura jayapura provinsi papua
Latar Belakang : RSUD Abepura memiliki lokasi yang strategis di jantung Kota Jayapura, Provinsi Papua dan mempunyai peran yang vital. SIMRS yang berjalan baru dalam tahap implementasi dini, dimana belum semua ruangan menggunakan sistem ini, oleh karena itu evaluasi formatif perlu dilakukan terhadap Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit Abepura Jayapura Provinsi Papua.Tujuan : Melakukan evaluasi tentang penerapan SIM RS yang sedang berjalan pada RSUD Abepura Jayapura di Provinsi Papua dengan menggunakan Metode Technology Acceptance Model (TAM)Metode Penelitian : Jenis penelitian ini deskriptif analitik yang bersifat menganalisis dan menyajikan secara sistematik. Subyek dalam penelitian berjumlah 50 orang yang merupakan total populasi. Teknik analisis data dengan SEM menggunakan Stata 13.1.Hasil :. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara perceived ease of use dengan perceived of usefulness yaitu nilai koefisien positif (0.4862), p value 0.000, CI 95% (0.329-0.642), terdapat hubungan positif dan signifikan antara perceived of usefulness dengan attitude toward using yaitu nilai koefisien positif (0.4481), p value 0.010, CI 95% (0.108-0.787), terdapat hubungan positif tetapi tidak signifikan secara statistik antara perceived ease of use dengan attitude toward using, yaitu nilai koefisien positif (0.2211), p value 0.086, CI 95% (-0.031-0.474), terdapat hubungan positif dan signifikan antara attitude toward using dengan actual usage yaitu nilai koefisien positif (0.6849), p value 0.001, CI 95% (0.278-1.091.Kesimpulan :. Keyakinan bahwa SIMRS dapat diaplikasikan dengan mudah atau tanpa kesulitan berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap sikap terhadap penggunaan SIMRS, menunjukkan bahwa para pengguna masih merasa kesulitan untuk mamakai SIMRS. Keyakinan bahwa SIMRS dapat diaplikasikan dengan mudah atau tanpa kesulitan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keyakinan bahwa SIMRS akan meningkatkan performa pekerjaan. Keyakinan bahwa SIMRS akan meningkatkan performa pekerjaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap terhadap penggunaan SIMRS. Sikap terhadap penggunaan SIMRS berpengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan SIMRS secara aktual.Kata Kunci : Evaluasi, SIMRS, TA
Fungsi esensial sistem informasi manajemen puskesmas (simpus) di kota yogyakarta
Latar belakang : Secara umum pemanfaatan SIMPUS di Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta masih belum optimal dan belum menunjukan arah pengembangan sistem informasi yang baik. Belum adanya rencana strategis untuk pengembangan SIMPUS, menyebabkan pengembangan SIMPUS tidak mempunyai target pelaksanaan dan waktu yang jelas dalam pencapaian tujuannya. Penelitian ini, bertujuan untuk menganalisis fungsi esensial SIMPUS, yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, perencanaan, pemantauan kinerja, dan pengambilan intervensi dalam sistem kesehatan.Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam, observasi, serta telaah dokumen.Hasil : Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan Puskesmas sebagai unit pelaksana teknis di bawahnya sudah lama menerapkan SIMPUS, namun sistem informasi yang ada belum sepenuhnya bisa menjadi sistem pelaporan dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan. Data dikumpulkan secara manual, belum memenuhi unsur kualitas data yaitu ketepatan waktu. Hal ini menyebabkan pengambilan keputusan menjadi sulit dilakukan secara cepat dan berbasis bukti.Kesimpulan : Sehingga berdasarkan hasil analisis tersebut, maka Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta perlu menyusun dan melengkapi modul pencatatan dan pelaporan berdasarkan fungsi esensial yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pemegang program dan pengambil kebijakan.Kata Kunci : Sistem Informasi, SIMPUS, Evaluasi Pemanfaatan, Fungsi Esensia