Journal of Information Systems for Public Health
Not a member yet
145 research outputs found
Sort by
Perancangan Model Dashboard Untuk Pelaporan dan Visualisasi Data Kesehatan Sebagai Sistem Monitoring di Dinas Kesehatan Gunungkidul
Latar belakang: Penggunaan data menjadi sangat penting untuk monitoring dan mendukung proses pengambilan keputusan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks. Data dimanfaatkan baik pada tingkat daerah, negara maupun global. Ada banyak data yang tersedia yang tidak benar-benar diterjemahkan kedalam lebih banyak program dan kebijakan berbasis bukti. Diperlukan keterampilan manajemen dan analisis data untuk mengubah data menjadi informasi dan pengetahuan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain tinjauan pustaka dari beberapa artikel dan pencarian situs web dashboard tentang visualisasi data kesehatan sebagai referensi perancangan model dashboard yang sederhana dan mudah dimenegeti. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan dengan menelaah dan menganalisis dataset penggunaan SIMPUS berbasis aplikasi smarthealth. Hasil: Tampilan di desain modular yang terdiri dari lima menu utama dan submenu yaitu laman utama, puskesmas, derajat kesehatan, upaya kesehatan dan SPM. Pada penelitian ini lebih fokus pada SPM. Tampilan modular dipilih untuk memudahkan penyajian data dan meminimalisir kesulitan dalam interpretasi data, dan juga untuk memastikan bahwa desain dapat diadopsi dan disesuaikan dengan kebutuhan organisasi kedepan. Kesimpulan: Memasukkan teknik reporting dashboard dan visualisasi data dasar di Puskesmas harus menjadi bagian dari upaya pengembangan kapasitas program dan pendekatan yang disengaja untuk memfasilitasi dalam memonitoring data sebagai upaya untuk mendorong pengambilan keputusan berbasis bukti
Upaya Aksesibilitas Data Kesehatan Pasien Untuk Pemantauan Kesehatan Secara Mandiri: Interoperabilitas e-PHR
Latar belakang: Melalui kemudahan untuk dapat memelihara catatan pemeriksaan medisnya sendiri dan menentukan hak akses dalam memiliki data pribadi, maka pasien dapat memanfaatkan akses tersebut untuk meningkatkan kesehatan dan mengelola penyakitnya sendiri. Namun, saat ini masyarakat masih kesulitan dalam mengakses data kesehatannya. Data yang diambil dalam EHR hanya dapat diakses oleh fasilitas kesehatan, sedangkan pasien tidak memiliki akses bahkan terhadap data kesehatannya sendiri. Melalui PHR, pasien dapat mengakses hasil tes laboratorium dengan cepat, serta melihat riwayat pemeriksaan dan pengobatan. Dalam pelaksanaannya seringkali fasilitas kesehatan tidak membagikan data pasien mereka. Selain itu, catatan kesehatan biasanya disimpan dalam standar yang berbeda pada masing-masing fasilitas kesehatan, sehingga kesulitan untuk pertukaran catatan kesehatan antar fasilitas kesehatan. Padahal, idealnya berbagai layanan sistem informasi dapat saling bertukar data untuk memperoleh data pasien secara komprehensif dan longitudinal. Sejalan dengan hal tersebut, laboratorium SIMKES UGM mengembangkan aplikasi Nusacare, yaitu bentuk digitalisasi dari PHR yang bertujuan memantau kesehatan individu. Agar pengguna dapat mengakses data kesehatannya dari rekam kesehatan elektronik di fasilitas kesehatan maka diperlukan perancangan sistem interoperabilitas.Metode: Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan desain penelitian action research. Tahapan penelitian terbagi menjadi empat fase yakni (1) Diagnosing Action, (2) Planning Action, (3) Taking Action, dan (4) Evaluation. Cara pengumpulan data dengan metode wawancara mendalam, FGD, dan studi dokumen.Hasil: Tahap diagnosing dengan mengidentifikasi tantangan dalam hal teknis maupun non teknis, serta menganalisis kebutuhan pengguna terkait fitur, standar data dan interoperabilitas aplikasi e-PHR sesuai kebutuhan. Pada tahap planning melalui pemetaan dan gap analysis elemen data yang mengacu standar interoperabilitas HL7 FHIR R4 version menghasilkan profile sistem interoperabilitas yang diunggah dan divalidasi oleh platform Simplifier.net, serta berhasil diuji coba pada aplikasi PHR Nusacare. Pada tahap evaluasi, keseluruhan pengguna menyatakan sistem interoperabilitas bermanfaat terhadap kemudahan akses data kesehatan, membantu pasien dalam melakukan pemantauan kesehatan mandiri, serta mendukung kolaborasi internal organisasi, tetapi terkendala pada interoperabilitas ke organisasi external lainnya yang tidak saling membuka akses untuk interoperabilitas.Kesimpulan: Sistem interoperabilitas e-PHR dapat memberikan manfaat khususnya bagi pasien untuk memudahkan mengakses data kesehatannya dari rekam kesehatan elektronik di fasilitas kesehatan, dengan mendapatkan informasi kesehatan yang dibutuhkan akan membantu pasien dalam melakukan pemantauan kesehatan secara mandiri sehingga perawatan kesehatan pada pasien dapat berkesinambungan
Tingkat Literasi Digital dan Penerimaan Sistem Informasi EZoonosis Pada Petugas Kesehatan
Latar belakang: Profil Kesehatan Indonesia tahun 2019 menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus pada beberapa penyakit zoonosis dibandingkan tahun 2018. Dalam rangka pengendalian dan pencegahan penyakit zoonosis, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Health Information System Universitas Gadjah Mada melakukan pengembangan dan implementasi Sistem Informasi eZoonosis melalui pelatihan daring. Salah satu hambatan implementasi sistem informasi adalah berupa keterisian data. Keterisian data imunisasi dasar di DKI Jakarta tahun 2021 menunjukkan dari 44 puskesmas di DKI Jakarta, hanya 50% puskesmas mengisi data imunisasi di platform DHIS2. Penyebab hambatan keterisian ini perlu dilihat dari sisi literasi digital pengguna. Sebuah survei literasi digital dan penggunaan teknologi oleh Kuek dan Hakkennes (2020) menunjukkan bahwa responden yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam menggunakan teknologi akan memiliki sikap yang positif terhadap sistem informasi. Selain itu, menurut Jang et al., (2021) Semakin tinggi literasi informasi berhubungan langsung dengan semakin tinggi niat menggunakan teknologi digital. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran literasi digital dan Sistem Informasi eZoonosis pada petugas kesehatan.Metode: Metode berupa penelitian kuantitatif non eksperimental dan desain studi potong lintang menggunakan kuesioner. Data kemudian dianalisis secara PLS-SEM untuk memberikan gambaran literasi digital dan sistem informasi eZoonosis.Hasil: Responden terdiri dari 99 orang yang berasal dari 10 provinsi di Indonesia, hanya 59 responden masuk ke dalam proses pengambilan data dikarenakan beberapa hambatan diantaranya kendala kesibukan responden, ketersediaan, maupun kendala lain. Variabel frekuensi penggunaan dan tingkat kepercayaan diri digunakan untuk menggambarkan tingkat literasi digital. Variabel persepsi kegunaan, persepsi kemudahan penggunaan, dan sikap terhadap Sistem Informasi eZoonosis menggambarkan penerimaan sistem informasi.Kesimpulan: Tingkat literasi digital tinggi, namun kurang percaya diri dalam menggunakan sistem informasi spesifik kesehatan. Walaupun dipersepsikan berguna, mudah digunakan, dan disikapi positif, tetapi penggunaan Sistem Informasi eZoonsis masih digunakan hanya pada daerah tertentu. Terdapat faktor lain yang mempengaruhi penggunaan Sistem Informasi eZoonosis.
Virtual Reality Tour Sebagai Media Promosi Dan Pembelajaran Alur Pelayanan Rumah Sakit
Background: The Budi Rahayu Regional General Hospital Magelang is a hospital that has only been established for 2 years, so information technology is needed that supports promotion and provides information related to service flow. Virtual Reality Tour has been considered as a very effective technology that is useful as a media for promotion and learning related to hospitals which is more interesting because it provides a real/immersive and interactive experience to users.Methods: Using the Multimedia Development Life Cycle (MDLC) with 6 stages of multimedia development (concept, design, material collection, assembly, testing, distribution). Results: This research produces a website-based virtual reality tour. After that, user experience testing was carried out with benchmark results in the good category and positive impression values.Conclusion: Virtual reality tour can be used as a media for promotion and education of service flow in hospitals. The user experience in using virtual reality tours is that users feel they are in their original/immersive environment, can explore navigation freely so as to create interactive, practical learning, and create a feeling of security and comfort.Keywords: virtual reality tour, multimedia development life cycle, promotion of hospital service flo
Development of Android -Based Ambulance Tracking Prototype on the SPGDT Module of the Special Region of Yogyakarta
Background: An emergency is a dangerous situation that takes place suddenly. In the case of an emergency, response time is needed. Several factors contributed to the long response time for handling, especially the ambulance response to emergency cases, namely accessibility, accommodation, and availability of supporting facilities. To improve access and quality of emergency services and speed up response time, the Government of Indonesia issued the SPGDT service. The use of the SPGDT in the Special Region of Yogyakarta still needs an ambulance tracking service. Hence, people are worried about the arrival of an ambulance service in response to an emergency. This study aims to develop ambulance tracking services in the SPGDT Yogyakarta Special Region module. Methods: This research is qualitative research with an action research design. The stages in action research consist of diagnosing, planning, action, and evaluation. Results: The results of this study, at the diagnostic stage, resulted in the need for call center users to record and report on the SPGDT Website while the need for ambulance drivers to track ambulances. At the planning stage, it produces a data flow that will make. At the action stage, create a design consisting of flow chart diagrams, data flow diagrams, entity relationship diagrams, wireframes, and user interface designs. At the evaluation stage, the final score for the prototype was produced using the System Usability Scale (SUS) questionnaire, with the final score for recording and reporting getting a final score of 72, while in the evaluation of ambulance tracking for drivers, a final score of 80.Conclusions: Improved recording and reporting of emergency events and ambulance tracking after being developed and tested with the SUS questionnaire. Include the prototype in the "acceptable" category. With an acceptable interpretation, it is considered successful in being designed to meet user needs and is optimally utilized to assist in handling emergency cases
Strategi Perencanaan Anggaran Untuk Memperkuat Sistem Informasi Kesehatan Berdasarkan Maturitas Digital Di Dinas Kesehatan
Latar Belakang: Sistem Informasi Kesehatan (SIK) yang kuat merupakan salah satu building block penting untuk ketahanan sistem kesehatan. Dalam rangka menuju penguatan transformasi teknologi kesehatan, diperlukan suatu upaya agar dapat menghasilkan gambaran kondisi maturitas sistem informasi yang diterapkan di berbagai provider pelayanan kesehatan, salah satunya dinas kesehatan. Penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) yang ada saat ini perlu diidentifikasi apakah telah berjalan sesuai dengan standar melalui penilaian tingkat kematangan digital. Dengan mengikuti peta jalan yang diinformasikan oleh penilaian kematangan digital dapat menjadi salah satu metode yang strategis dalam upaya mengembangkan agenda kesehatan digital di Indonesia terutama di lingkup subnasional. Gambaran tingkat kematangan digital sistem informasi kesehatan (SIK) untuk menetapkan tujuan tingkat maturitas dan mengembangkan rencana perbaikan berkelanjutan SIK di masa depan. Tujuan: Mengidentifikasi kesenjangan penyelenggaraan SIK melalui penilaian kematangan digital di Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan cara kualitatif untuk memperoleh dan mengolah data, yaitu melalui pengisian kuesioner, wawancara mendalam (in-depth interview). Instrumen yang digunakan diadopsi dari Framework SOCI. Hasil: Rata-rata kematangan digital Dinkes Kukar berdasarkan 5 komponen SOCI yaitu 2,35. Komponen A Kepemimpinan dan Tatakelola 2,00; komponen B Manajemen Sumber Daya SIK 2,17; komponen C Infrastruktur TIK Pendukung 2,78; komponen D Standar dan Interoperabilitas 2,72; dan komponen E Kualitas dan Penggunaan Data pada level 2,07. Jika dibandingkan dengan hasil konsensus nasional maturitas digital level makro, rata-rata kematangan digital Dinkes Kukar masih dibawah nilai konsensus Kemenkes RI. Kesimpulan: Kematangan digital pada level subnasional memiliki karakteristik masing-masing sesuai kemampuan manajemen penyelenggaraan SIK di daerah. Sehingga strategi perencanaan anggaran perlu menyesuaikan kemampuan sumber daya yang dimiliki organisasi dinas kesehatan kabupaten
Analisis Pola Spasial Kasus Kecelakaan Lalu Lintas di Provinsi D.I.Yogyakarta
Latar Belakang: Kasus kecelakaan lalu lintas perlu perhatian khusus karena sering mengakibatkan kematian, cedera atau kematian manusia di seluruh dunia. Kematian akibat kecelakaan lalu lintas berada diurutan ke delapan dari total kematian dunia dan menjadi penyebab utama kematian pada usia muda. Sudah banyak penelitian kasus Kecelakaan di beberapa Kabupaten di Provinsi DIY yang menggunakan pemetaan untuk melihat sebaran dan pengelompokkan kasus, namun sejauh ini belum ada yang memanfaatkan data SPGDT Provinsi DIY untuk kasus seluruh Provinsi DIY. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi persebaran kasus kecelakaan lalu lintas dan pelayanan ambulan darurat untuk menurunkan kasus kecelakaan lalu lintas di Provinsi DIY.Metode: Penelitian ini menggunakan data Kecelakaan lalu lintas pada SPGDT Provinsi DIY tahun 2019-2020 dan survei lapangan pada Januari- April 2022. Jenis penelitian deskriptif kuantitatif menggunakan metode spasial autokorelasi (Moran's I) yang di petakan dalam bentuk peta tematik.Hasil: Pola persebaran kasus kecelakaan lalu lintas di Provinsi DIY berdasarkan analisis spasial autokorelasi Morans'Saya menunjukkan pola mengelompokkan. Daerah yang memiliki kerawanan tinggi berada di kecamatan Bantul. Selain itu, hasil pemetaaan menunjukkan fasilitas kesehatan dan darurat darurat masih belum merata di seluruh daerah di Provinsi DIY.Kesimpulan: Terdapat pengelompokan kasus kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Bantul berdasarkan analisa spasial. Perlu dilakukan intervensi lebih lanjut terkait variabel lain yang menyebabkan kasus kerawanan kecelakaan lalu linta
Analisis Sistem Informasi Rekam Medis Virtual Claim dengan Framework COBIT 5 pada Rumah Sakit Ari Canti
ABSTRAKLatar belakang: Pendaftaran pasien merupakan salah satu pelayanan rumah sakit yang harus selalu diunggulkan agar proses pelayanan terhadap pasien berjalan lebih baik dan optimal. Rumah Sakit Umum Ari Canti telah bekerjasama dengan BPJS dengan demikian pendaftaran pasien BPJS yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Ari Canti Gianyar dilengkapi dengan verifikasi data pasien BPJS serta dilengkapi juga dengan aplikasi Virtual Claim. Rs Ari Canti sendiri pada saat ini mulai menyandingkan antara visi misi lembaga dengan teknologi yang ada, maka dari itu diperlukan perencanaan dan penerapan yang baik dalam menyambut teknologi itu sendiri. Dengan adanya TI pada RS Ari Canti perlu pemeliharaan dan diawasi dengan baik. Salah satu cara yang dilakukan agar dapat mengetahui hal tersebut adalah melakukan Analisis sistem informasi menggunakan framework COBIT 5.Metode: Penelitian ini menggunakan analisis COBIT 5 untuk mengetahui kondisi saat ini (current capability level) penerapan TI yang terjadi di RS Ari Canti setelah mendapatkan hasil maka menentukan kondisi yang diharapkan (expected capability level). Analisis COBIT 5 Berfokus pada domain MEA proses MEA 01 (Monitor,Evaluate and Assess Performance and Conformance) untuk memberikan rekomendasi perbaikan sistem baik dari sistem itu sendiri maupun tata kelola sistem informasi rekam medis yang digunakan.Hasil: hasil dari evaluasi tingkat kapabilitas saat ini pengelolaan aplikasi v-claim pada rumah sakit Ari Canti gianyar menunjukkan pada level 3 dengan persentase 86% ( fully achieved ) yang artinya program sudah dapat berjalan dengan baik walaupun masih terjadi error atau bug, akan tetapi error atau bug pada aplikasi dapat diatasi oleh admin sehingga proses pelayanan pasien dapat berjalan dengan baik.Kesimpulan: Analisis sistem informasi rekam medis V-claim menggunakan famework COBIT 5 pada proses MEA 01 (Monitor, Evaluate, and Assess Performance and Conformance) tingkat kapabilitas saat ini (current capability level) berada pada level 3 established proses yang ditunjukkan dengan persentase 86% (fully achieved) yang artinya sistem Virtual Claim telah berjalan dengan baik walaupun terdapat error atau bug tidak menjadi penghambat terhada pelayanan pasien. Terjadi kesenjangan satu level antara tingkat kapabilitas saat ini dengan tingkat kapabilitas yang diharapkan (expected capability level) karena tidak memenuhi ke level 4 predictable proses yang ditunjukkan dengan persentase 46% (partially achieved) perbaikan sistem diperlukan untuk mencapai level 4 agar pelayanan pasien yang berobat pada RS Ari Canti dapat terlayani dengan baik
Implementasi Rekam Medis Elektronik Berkontribusi pada Peningkatan Biaya Operasional di RSUP Surakarta
Latar belakang: Rumah Sakit termotivasi mengimplementasikan RME karena adanya harapan manfaat yang didapatkan termasuk RSUP Surakarta yang mulai menerapkan RME di Unit Rawat Jalan sejak April 2022. Implementasi RME memerlukan analisis mendalam berkaitan dengan dampak positif maupun negatif yang mengiringinya, dalam hal ini terkait dengan biaya operasional yang dikeluarkan sebagai sarana evaluasi dan pembelajaran yang bermanfaat untuk bahan pengambilan keputusan strategis.Metode: Jenis penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif, peneliti menggambarkan biaya operasional sebelum dan sesudah implementasi RME, kemudian memperkaya analisis dengan data kualitatif. Penelitian dilaksanakan di RSUP Surakarta, dengan waktu pelaksanaan April - September 2022. Cara pengumpulan data melalui telaah dokumen dan wawancara. Objek dalam penelitian ini adalah data besaran biaya yang dianggarkan pada unit rekam medis dan unit rawat jalan untuk rencana belanja tahunan. Subjek dalam penelitian ini adalah para pemangku kepentingan serta para pengguna yang terkait implementasi RME.Hasil: Implementasi RME berkontribusi pada peningkatan biaya operasional di RSUP Surakarta dengan total sebesar 56%. Narasumber menganggap bahwa implementasi RME dapat menghemat penggunaan kertas. Temuan yang kontradiktif menunjukkan adanya lag-effect, yang dapat diartikan sebagai jeda waktu kemanfaatan implementasi teknologi dapat dirasakan. Strategi RSUP Surakarta dalam implementasi RME meliputi penggunaan OSS untuk penghematan biaya. Selain itu perencanaan pengembangan RME menjadi bagian tak terpisahkan dari Renstra Rumah Sakit, yang disusun dengan timeline waktu, sesuai kompleksitas rumah sakit. Kesimpulan: RSUP Surakarta belum menginisiasi penghitungan cost-effectiveness analysis. Peneliti merekomendasikan RS melaksanakan penghitungan dengan metode yang paling memungkinkan, untuk mengetahui efektivitas biaya dalam implementasi RME, sehingga dapat digunakan untuk bahan perencanaan pengembangan RME kedepan.Kata kunci: Rekam Medis Elektronik, Biaya Operasional, Analisis Efektivitas Biay
Perancangan Prototipe Dashboard Pasien pada Klinik Kecantikan : Studi Kasus Klinik S
Latar belakang: Klinik kecantikan menjadi klinik yang popular di era modern. Klinik S merupakan salah satu klinik kecantikan yang sudah memanfaatkan sistem informasi tetapi masih terdapat kekurangan yaitu belum adanya dashboard pasien yang nantinya dapat membantu dokter untuk pengambilan keputusan. Sehingga diperlukan perancangan prototipe dashboard pasien yang diharapkan dapat membantu pengambilan keputusan dokter.Metode: Perancangan dashboard pasien menggunakan pendekatan User-Centered Design yang berfokus pada pengguna. Klinik S membutuhkan dashboard pasien yang dapat menampilkan profil pasien, riwayat foto pasien, riwayat pembelian pasien, rekam medis pasien. Prototipe dashboard pasien dirancang menggunakan figma yang selanjutnya akan dievaluasi menggunakan System Usability Scale (SUS).Hasil: Prototipe dashboard pasien sudah sesuai dengan kebutuhan Klinik S yaitu menampilkan profil pasien, Riwayat foto pasien, Riwayat pembelian pasien, dan juga rekam medis pasien. Rata-rata skor SUS untuk dashboard pasien adalah 77,3, masuk dalam kategori grade B dan kategori “Good” dengan penerimaan oleh pengguna yang baik.Kesimpulan: Dashboard pasien dapat dikatakan sudah sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh Klinik S dan mempunyai tingkat penerimaan yang terbilang baik. Pengembangan dashboard pasien perlu dilanjutkan untuk menghasilkan dashboard pasien yang maksimal dalam membantu dokter mengambil keputusan