Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
Not a member yet
    279 research outputs found

    Cover dan Redaksi, Vol 20, No:1, 2019 - Februari 2019

    No full text

    EVALUASI FORMULASI RADIOFARMAKA 99mTc-SIPROFLOKSASIN DENGAN REDUKTOR SnCl2·2H2O dan Sn-TARTRAT

    Full text link
    99mTc-siprofloksasin adalah radiofarmaka berbasis antibiotik untuk diagnosis infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Pada penelitian ini radiofarmaka 99mTc-siprofloksasin disiapkan dengan menggunakan dua macam reduktor yaitu SnCl2·2H2O dan Sn-tartrat. Penelitian ini bertujuan membandingkan masing-masing reduktor untuk menghasilkan radiofarmaka 99mTc-siprofloksasin dengan nilai kemurnian radiokimia yang tinggi dan akumulasi yang baik di daerah infeksi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi optimum diperoleh pada jumlah reduktor SnCl2·2H2O sebanyak 25 µg dengan kemurnian radiokimia sebesar  94,25 + 2,04 dan Sn-tartrat sebanyak 400 µg dengan kemurnian radiokimia sebesar  95,06 + 1,00 Pengujian kemurnian  radiokimia 99mTc-siprofloksasin menggunakan High Performance Liquid Chromatography memperlihatkan profil kromatogram yang sama untuk masing-masing reduktor dengan puncak dari 99mTc-siprofloksasin berada pada waktu retensi 7,17 menit. Hasil uji biodistribusi pada paha mencit yang terinfeksi bakteri Staphylococcus aureus untuk formula 99mTc-siprofloksasin dengan reduktor SnCl2·2H2O 1 jam dan 3 jam pasca injeksi menunjukkan rasio target/nontarget relatif konstan yaitu sebesar 2,71 dan 2,25. Sedangkan rasio target/nontarget 99mTc-siprofloksasin dengan reduktor Sn-tartrat pada 1 jam dan 3 jam pasca injeksi sebesar 1,78 dan 2,20 Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa formulasi radiofarmaka 99mTc-siprofoksasin dengan dua macam reduktor SnCl2.2H2O dan Sn – tartrat memiliki karakteristik yang berbeda. Kata kunci : radiofarmaka,99mTc-siprofloksasin, reduktor, kemurnian radiokimi

    PENGARUH PENAMBAHAN La TERHADAP STRUKTUR DAN REFLECTION LOSS GELOMBANG MIKRO PADA PSEUDOBROOKITE Fe2-xLaxTiO5

    Full text link
    Telah dilakukan studi efek doping La terhadap struktur dan kehilangan refleksi menyerap gelombang mikro dari pseudobrookite Fe2TiO5 untuk membentuk senyawa sistem Fe2-xLaxTiO5 dengan mentode ko-presipitasi. Sintesis sistem Fe2-xLaxTiO5 bertujuan untuk membuat material yang dapat berfungsi sebagai peredam paparan gelombang elektromagnetik peralatan elekronik telekomunikasi. Sistem Fe2-xLaxTiO5 (x = 0,01; 0,04 dan 0,2) dibuat dari campuran FeCl3, LaCl3 dan TiCl4 sesuai dengan perbandingan molnya masing-masing. Campuran bahan ini ditambahkan larutan NH4OH sampai dengan pH 12. Endapan yang terbentuk dicuci dengan air deminineral sampai pH 7 dan kemudian dikeringkan pada suhu 100 °C, disinter pada suhu 1000 °C selama 5 jam. Semua sampel dikarakterisasi dengan XRD (X-ray diffractometer) untuk identifikasi fasa, SEM-EDS (Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive Spectroscopy) untuk pengamatan morfologi permukaan dan VNA (Vector Network Analyzer) untuk mengukur serapan gelombang mikronya. Hasil identifikasi fasa menunjukkan bahwa komposisi dengan nilai x = 0,01 dan 0,04 terbentuk 2 fasa yaitu fasa Fe2TiO5 dan FeTiO3 sedangkan  komposisi dengan nilai x = 0,2 juga terbentuk 3 fasa yaitu fasa Fe2TiO5, FeTiO3 dan La2Ti2O7. Hasil pengamatan morfologi permukaan dengan SEM-EDS, menunjukkan bahwa distribusi partikel yang tidak seragam karena memiliki beda fasa. Sedangkan hasil pengukuran serapan gelombang mikro dengan VNA menunjukkan bahwa serapan maksimal gelombang mikro diperoleh pada komposisi nilai x = 0,04 (Fe1,96La0,04TiO5) yaitu sekitar 94% pada frekuensi 10,52 GHz

    ANALISIS DIFRAKSI SINAR-X DAN KARAKTERISASI ZnxFe(3-x)O4SEBAGAI PENYERAP GELOMBANG MIKRO OLEH PADA PERALATAN TELEKOMUNIKASI

    Full text link
    ANALISIS DIFRAKSI SINAR-X DAN KARAKTERISASI ZnxFe(3-x)O4SEBAGAI PENYERAP GELOMBANG MIKRO OLEH PADA PERALATAN TELEKOMUNIKASI. Telah dilakukan analisis dan karakterisasi ZnxFe(3-x)O4 sebagai penyerap gelombang mikro pada peralatan telekomunikasi.. Sistem ZnxFe(3-x)O4 (dengan x = 0,50; 0,75; 1,0 dan 1,25) disintesis dengan mencampurkan serbuk Zn(NO3)2 dan Fe(NO3)3 sesuai dengan perbandingan molnya dengan metode sol-gel dan kemudian disintering pada suhu 1000 ºC selama 5 jam. Hasil refinement dari pola difraksi sinar-X menunjukkan bahwa sampel dengan nilai x0 membentuk fasa ZnFe2O4 dan ZnO. Fasa ZnFe2O4 memiliki struktur spinel kubik (space group F d -3 m), parameter kisi  a = b = c = 8.428 Å, a = b = g = 90º. Fasa Fe2O3 memiliki struktur trigonal (space group R-3c),  parameter kisi  a = b = 5,03 Å dan c= 13,7 Å, a = b = 90º dan g=120º.  Fasa ZnO memiliki struktur kristal heksagonal (space group P 63 mc), parameter kisi a = b = 3,246 Å dan c = 5.198 Å, a = b = 90º dan g=120 º. Hasil pengukuran serapan gelombang mikro menunjukkan bahwa sistem ZnxFe(2-x)O4 dengan nilai x = 1,0 (ZnFe2O4) memiliki serapan gelombang mikro paling tinggi, yaitu ~ 91 %. Dengan demikian, ZnFe2O4 dapat diaplikasikan sebagai bahan penyerap gelombang mikro

    EVALUASI HUBUNGAN DOSIS RADIASI TERHADAP KERUSAKAN DNA SEL LIMFOSIT DENGAN MENGGUNAKAN TES COMET

    Full text link
    EVALUASI  HUBUNGAN DOSIS RADIASI TERHADAP  KERUSAKAN DNA SEL LIMFOSIT DENGAN MENGGUNAKAN TES COMET. Kerusakan asam nukleat (DNA) akibat radiasi atau faktor lain dapat mengarah ke efek yang lebih parah seperti sel kanker. Oleh karena itu diperlukan suatu metode deteksi untuk mengetahui besarnya kerusakan tersebut antara lain dengan metode uji komet yang sederhana. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji efek radiasi pada sel limfosit akibat radiasi melalui teknik uji komet. Spesimen darah diiradiasi dosis gamma 2-8 Gy kemudian diisolasi limfositnya dengan histopaque. Isolat limfosit diproses  uji komet pada slide dalam kondisi alkali dan hasil pencitraan dianalisis dengan software khusus. Hasil menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif parameter komet dengan dosis radiasi, semakin besar dosis paparan semakin besar kerusakan DNA. Diantara parameter uji komet, tail DNA memberikan korelasi yang terbaik dengan dosis radiasi. Disimpulkan bahwa uji komet sangat baik digunakan untuk mengetahui kerusakan DNA akibat radiasi

    RANCANGAN TANGKI TUNDA REAKTOR TRIGA PELAT BANDUNG

    Full text link
    RANCANGAN TANGKI TUNDA REAKTOR TRIGA PELAT BANDUNG. Dalam kondisi dilematis karena General Atomic (GA) menghentikan memproduksi bahan bakar reaktor TRIGA, PSTNT bersama satker-satker lain di BATAN melakukan terobosan baru dengan mengusulkan konversi bahan bakar standard TRIGA ke elemen bakar dengan jenis yang sama dengan reaktor RSG-GAS yang saat ini sudah diproduksi di dalam negeri. Salah satu yang harus mendapatkan perhatian dalam konversi reaktor TRIGA 2000 ke reaktor TRIGA Pelat adalah naiknya paparan radiasi N-16 di permukaan tangki reaktor, karena mengganti moda pendinginan teras reaktor menjadi konveksi paksa. Oleh karena itu perlu dirancang sistem tunda yang ditempatkan pada sistem primer, untuk menunda aliran N-16 keluar dari tangki reaktor hingga paparan radiasi N-16 yang keluar dari tangki reaktor turun. Sistem tunda ini dapat berupa pipa tunda atau tangki tunda Pada makalah ini disampaikan hasil kajian menggunakan paket program komputer FLUENT tentang keunggulan rancangan tangki tunda yang mempunyai tiga buffle untuk digunakan pada sistem tunda reaktor TRIGA Pelat sebagai reaktor TRIGA 2000 Bandung yang dikonversi

    EVALUASI BIOLOGIS 99mTc-GLUKOSA-6-FOSFAT PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) STOCK SPRAGUE DAWLEY

    Full text link
    EVALUASI BIOLOGIS 99mTc-glukosa-6-fosfat PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) STOCK SPRAGUE DAWLEY. Kanker merupakan penyebab kematian tertinggi dengan jumlah penderita yang diprediksi akan mengalami peningkatan hingga tujuh kali lipat pada tahun 2030. Pengendalian penyakit melalui deteksi dini dan diagnosis yang lebih akurat melalui aplikasi teknik nuklir diharapkan dapat membantu penyembuhan penyakit kanker pada stadium awal. 99mTc-glukosa-6-fosfat merupakan radiofarmaka yang penggunaannya ditujukan untuk diagnosis kanker, dan diharapkan  dapat diaplikasikan terutama di rumah sakit yang tidak memiliki fasilitas PET (Positron Emission Tomography) dan siklotron. Telah dilakukan uji lanjutan analisis bioafinitas sel kanker terhadap 99mTc-glukosa-6-fosfat melalui serangkaian pengujian pada hewan model yang memiliki kanker artifisial, antara lain uji biodistribusi, uji pencitraan, uji blood clearance, dan uji renal clearance. Uji biodistribusi 99mTc-glukosa-6-fosfat menunjukkan adanya akumulasi radiofarmaka di dalam jaringan target yaitu jaringan kanker sebesar 6,23% pada interval waktu 15 menit setelah injeksi. Namun demikian, selain di jaringan kanker, radiofarmaka ini diakumulasi cukup tinggi di tulang yaitu sebesar 23,99% pada 15 menit setelah injeksi, sehingga akan berpengaruh pada saat uji pencitraan. Hasil uji pencitraan menunjukkan bahwa 99mTc-glukosa-6-fosfat terakumulasi di dalam jaringan tumor/kanker. Radiofarmaka ini dapat dikatakan cepat dikeluarkan dari tubuh berdasarkan hasil uji blood clearance dan renal clearance yang menunjukkan bahwa aktivitas radiofarmaka di dalam tubuh sudah menurun drastis pada 15 menit setelah injeksi (1,25%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa radiofarmaka 99mTc-glukosa-6-fosfat terakumulasi di dalam jaringan kanker artifisial. Akan tetapi karena terdapat akumulasi yang cukup signifikan pada tulang, maka perlu dilakukan reformulasi radiofarmaka ini, tanpa menggunakan Na-pirofosfat

    STUDI PENINGKATAN RADIONUKLIDA ALAM KARENA LEPASAN ABU TERBANG DI SEKITAR PLTU LABUAN

    Full text link
    Abu terbang dan abu dasar hasil pembakaran batu bara mengandung radionuklida alam dengan konsentrasi tertentu. Hal ini menyebabkan lepasan abu terbang ke lingkungan berpotensi meningkatkan konsentrasi radionuklida alam di sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur konsentrasi radionuklida alam di tanah dan menganalisis kemungkinan adanya peningkatan konsentrasi radionuklida alam di tanah sekitar PLTU Labuan. Metode penelitian diawali dengan pengambilan sampel tanah yang lokasinya disesuaikan dengan sampling sebelum PLTU Labuan beroperasi. Langkah selanjutnya adalah preparasi dan pengukuran sampel tanah menggunakan spektrometer gamma detektor HPGe. Hasil konsentrasi yang didapat dibandingkan dengan data konsentrasi sampel tanah yang terukur saat sebelum PLTU Labuan beroperasi. Perbandingan ini menggunakan komparasi dengan uji-t. Hasil penelitian, yaitu rata-rata konsentrasi radionuklida alam di sampel tanah saat ini adalah Ra-226 sebesar 23,15±3,05 Bq/kg; Th-232 sebesar 35,89±4,07 Bq/kg; dan K-40 sebesar 153,52±16,71 Bq/kg. Ketiga nilai konsentrasi radionuklida ini tidak berbeda signifikan dibandingkan dengan konsentrasi radionuklida di tanah sebelum PLTU Labuan beroperasi. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak ada peningkatan rata-rata konsentrasi radionuklida alam di sekitar PLTU Labuan yang signifikan

    SIMULATION OF OPERATIONAL CONDITIONS OF FASSIP-02 NATURAL CIRCULATION COOLING SYSTEM EXPERIMENTAL LOOP

    Full text link
    The natural circulation is considered in the design of emergency passive core cooling system in a nuclear power plant. In that context, in order to investigate the characteristics of the natural circulation, FASSIP-02 experimental loop is designed. This paper simulates the various operational conditions with different condition of the heater power, the pipe insulation and the expansion tank's valve using RELAP5 code. The objective is to obtain the best operational conditions of FASSIP-02 once it is built. The simulation results show that the until 50,000 s the steady state condition could not be achieved yet when the heater power greater than 10 kW. The pipe insulation reduced the heat loss to the environment and in turn it causes faster increase of the water temperature inside the pipe. While, if the expansion tank's valve is closed during the operation, the pressure inside the loop would increase, faster when the heater power is higher. It is concluded that in all cases to avoid the saturation condition, the heater power should be maintained lower than 10 kW, especially when the loop pipe is insulated

    OPTIMIZATION FOR METHOD IN DETERMINATION OF CHLOR CONCENTRATION IN PM2,5 USING EDXRF EPSILON 5

    Full text link
    OPTIMIZATION FOR METHOD IN DETERMINATION OF CHLOR CONCENTRATION IN PM2,5 USING EDXRF EPSILON 5. Airborne particulate matter with aerodynamics diameter less than 2.5 µm, PM2.5, is one of air pollutant parameter which have adverse impacts for human health and environment. To minimize those adverse impacts, elemental composition of PM2.5 needs to be characterized so that can be estimated their sources. One of instruments for characterize PM2.5 is Energy Dispersive X-Ray Fluorescence (EDXRF) spectrometer. EDXRF was used for measuring the elemental composition of PM2.5 in Indonesia. This study focused in determination of chlor concentration in PM2.5 since the optimal condition of chlor quantification using EDXRF spectrometer has not been obtained yet, whereas chlor is one of key element which is needed for source identification of air pollution. Concentration of chlor were determined using calibration curve and sensitivity curve methods. Both of curves were performed using Micromatter standards. The multi-element International Atomic Energy Agency (IAEA) reference materials were used for evaluating the accuracy and precision of the procedure. Our measurements result showed good agreement between observed value and certified value. Their accuracy and precision are more than 90%, to ensure the reliability of analytical results, the comparison with the Particles Induced X-ray Emission (PIXE) results from the same samples were also carried out. The result showed that there was good correlation between EDXRF and PIXE results, this is evidenced by the value of R2 is 0.9592. It can be concluded that calibration curve and sensitivity curve can be used to quantify of chlor in PM2.5 accurately

    144

    full texts

    279

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇