Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
Not a member yet
279 research outputs found
Sort by
RADIOFARMAKA UNTUK DETEKSI INFLAMASI DAN INFEKSI.
RADIOFARMAKA UNTUK DETEKSI INFLAMASI DAN INFEKSI. Suatu penyakit atau adanya rasa sakit di dalam tubuh dapat disebabkan karena adanya reaksi inflamasi atau infeksi. Salah satu metode yang dapat dipakai untuk mendeteksi adanya reaksi ini adalah teknik nuklir menggunakan radiofarmaka sebagai radioperunut. Beberapa jenis radiofarmaka dengan mekanisme akumulasi yang spesifik untuk masing-masing radiofarmaka telah digunakan di bidang kedokteran nuklir untuk diagnosis inflamasi dan infeksi dengan hasil yang memuaskan. Radiofarmaka tersebut antara lain teknesium-99m-heksametilpropilenamin-sel darah putih (99mTC—HMPAO—SDP), indium- 111 –oksin- sel darah putih (111In—oksin-SDP), teknesium-99m-immunoglobin G (99mTC —IgG ) dan teknesium—99m—infecton (99mTC infecton ). Dalam visualisasi menggunakan metode ini, perlu diketahui runtunan pengobatan dari pasien karena pemakaian obat tertentu dapat mempengaruhi sifat biologis radiofarmaka, yang mengakibatkan kesalahan diagnosis. Tinjauan ini membahas beberapa radiofarmaka untuk diagnosis inflamasi dan infeksi serta mekanisme akumulasinya di dalam tubuh. Selain itu, dalam tinjauan ini diuraikan juga interaksi radiofarmaka tersebut dengan beberapa obat.
ANALISIS PENGARUH EXPANSION LOOP PADA TEGANGAN PIPA DAN GAYA NOZEL
ANALISIS PENGARUH EXPANSION LOOP PADA TEGANGAN PIPA DAN GAYA NOZEL. Telah dilakukan analisis sistem pemipaan tanpa expansion Ioop dan menggunakan expansion loop yang bertujuan untuk melihat pengaruhnya terhadap tegangan pipa dan gaya nozel agar diperoleh sistem pemipaan yang handal, aman dan memenuhi code. Analisis ini dilakukan dengan pembebanan statik, yaitu operating, sustaint dan expansion. Hasil analisis berupa tegangan telah dibandingkan dengan ASME code seksi III, subseksi NC (nuklir kelas 2). Selain itu diperoleh juga data berupa gaya dan momen pada nozel pompa dan nozel bejana tekan. Dan hasil analisis tersebut dapat dilihat bahwa expansion loop dapat dengan baik mengurangi pengaruh termal dan stiffness, sehingga diperoleh tegangan pipa di bawah tegangan izin. Selain itu gaya dan momen pada nozel pompa dan bejana tekan juga telah berkurang. Oleh karena itu, Expansion loop cukup efektif untuk mengurangi tegangan, gaya dan momen sehingga diperlukan pada sistem pemipaan yang memiliki keterbatasan ruang untuk instalasinya.
RANCANG BANGUN SISTEM KENIDALI DIFRAKTOMETER SINAR—X SHIMADZU XD-5A
RANCANG BANGUN SISTEM KENDALl DIFRAKTOMETER SINAR-X SHIMADZU XD-5A. Telah dilakukan pembuatan sistem kendali difraktometer sinar-x Shimadzu XD-5A berupa kartu antarmuka, penggerak motor langkah dan pengubah sinyal analog ke digital. Sistem kendali berbasis komputer pribadi ini digunakan untuk mengatur gerakan lengan detektor pada goniometer, mencuplik data intensitas serta tampilan grafik antara intensitas dan sudut hamburan pada layar monitor
PENGARUH INOKULASI METASERKARIA FASCIOLA GIGIANTICA IRADIASI TERHADAP TINGKAT KEKEBALAN SAPI
PENGARUH INOKULASI METASERKARIA FASCIOLA GIGIANTICA IRADIASI TERHADAP TINGKAT KEKEBALAN SAPI. Telah dilakukan percobaan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh inokulasi metaserkaria F. gigantica iradiasi terhadap tingkat kekebalan sapi yang digunakan. Sapi dikelompokkan menjadi tiga dan diberi perlakuan sebagai berikut; kelompok pertama (Vp) sapi diinokulasi dengan metaserkaria infektif sebagai kontrol positif, kelompok ke dua (Vi) sapi diinokulasi dengan metaserkaria iradiasi 45 Gy dua kali dan diberi tantangan metaserkaria infektif dengan interval waktu masing-masing 4 (empat) minggu, kelompok ke tiga (Vn) sapi tanpa inokulasi metaserkaria sebagai kontrol negatif. Dosis inokulasi untuk semua kelompok adalah 700 metaserkaria F. gigantica per ekor sapi. Infektivitas metaserkaria diamati dengan melihat perkembangan dan pertambahan bobot badan, jumlah sel darah merah (RBC), sel darah putih (WBC), kadar haemoglobin (Hb), persentase PCV (Packed cell volume), uji serologi dan pemeriksaan patologi anatomi serta perkembangan cacing dalam hati. Hasil percobaan menunjukkan bahwa inokulasi metaserkaria F. gigantica iradiasi dapat menstimulasi tanggap kebal yang mempunyai daya perlindungan yang cukup baik terhadap infeksi tantangan pada sapi
TEKNIK NUKLIR UNTUK TERAPI PENYAKIT JANTUNG KORONER PASCA ANGIOPLASTI KORONER TRANSLUMINAL PERKUTAN
TEKNIK NUKLIR UNTUK TERAPI PENYAKIT JANTUNG KORONER PASCA ANGIOPLASTI KORONER TRANSLUMINAL PERKUTAN. Studi jantung dengan teknik nuklir merupakan salah satu bidang penelitian yang paling cepat berkembang. Beberapa tahun yang lalu, studi jantung dengan teknik kedokteran nuklir terbatas pada evaluasi dan diagnosis infark jantung. Perkembangan di bidang kimia-radiofarmaka dan instrumentasi telah mendorong kemajuan di bidang kedokteran nuklir untuk terapi endovaskular akibat restenosis pasca angioplasti koroner transluminal perkutan. Secara garis besar ada dua macam teknik yang dapat digunakan untuk penghantaran radionuklida sebagai sumber radiasi ke daerah sasaran, yaitu teknik menggunakan kateter dan stent berradioaktif. Untuk maksud ini dapat digunakan radionuklida pemancar γ dan β, di mana radionuklida pemancar β merupakan radionuklida yang ideal untuk terapi endovaskular. Terjadinya restenosis pada pembuluh darah pasca angioplasti koroner transluminal perkutan dapat dicegah dengan mcnggunakan stent radioaktif. Tinjauan ini membahas beberapa tcknik yang dapat digtmakan untuk terapi cndovaskular akibat restenosis. Sclain itu, diuraikan juga beberapa bentuk sediaan radiofarmasi dan jenis radionuklida, serta dosis sediaan yang dapat digunakan untuk maksud tersebut
PENGARUH GEOMETRI UJUNG ELEKTRODE TERHADAP HASIL PELASAN TIG TUTUP KELONGSONG BATANG ELEMEN BAKAR NUKLIR BAHAN ZIRKALOY-4
PENGARUH GEOMETRI UJUNG ELEKTRODE TERHADAP HASIL PELASAN TIG TUTUP KELONGSONG BATANG ELEMEN BAKAR NUKLIR BAHAN ZIRKALOY-4. Telah dilakukan percobaan pengaruh penggunaan geometri ujung electrode berbentuk runcing, lancip dan pipih terhadap hasil pelasan TIG (Tungsten Inert Gas) tutup kelongsong Batang Elemen Bakar Nuklir (EBN) dari bahan Zirkaloy-4. Kondisi pelasan dengan pola arus dan waktu pelasan yang sama untuk masing-masing bentuk elektrode yang digunakan, menghasilkan lebar las dan lebar HAZ (heat affected zone) yang relatif sama, tetapi menghasilkan kedalaman las yang berbeda. Elektrode berujung pipih menghasilkan kedalaman las sekitar 40 % lebih dalam dibandingkan dengan electrode berujung runcing dan lancip. Untuk kondisi pelasan mencapai kedalaman las lebih dari 100% tebal kelongsong, penggunaan elektrode berujung pipih menghasilkan lebar las sekitar 32% lebih sempit dibandingkan dengan lebar las yang dihasilkan elektrode berujung runcing dan sekitar 38% lebih sempit dibandingkan dengan lebar las yang dihasilkan elektrode berujung lancip, sementara menghasilkan lebar HAZ lebih sempit sekitar 18% dibandingkan dengan electrode berujung runcing dan 23% lebih sempit dibandingkan dengan lebar HAZ yang dihasilkan elektrode berujung lancip. Struktur mikro yang terbentuk pada daerah logam las untuk ketiga bentuk elektrode yang digunakan mempunyai struktur yang sama, yaitu struktur widmanstaten danparallel pacage. Penggunaan e lektrode berujung pipih pada pelasan yang mencapai kedalaman lebih dan 100% tebal kelongsong, rnenghasilkan ukuran butir 20% lebih kecil bila dibandingkan dengan penggunaan elektrode berujung runcing dan lancip
SINLESIS 2-METILALILAMIN-HCI SEBAGAI BAHAN DASAR PEMBUATAN LIGAN MIBI
SINTESIS 2-METILALILAMIN HIDROKLORIDA SEBAGAI BAHAN DASAR PEMBUATAN LIGAN MIBI. Ligan 2-Metoksiisobutilisonitril (MIBI) digunakan sebagai suatu bahan dasar pembuatan 99m Tc-MIBI. Senyawa kationik ini banyak digunakan secara klinis sebagai sediaan penyidik perfusi miokardiak. Beberapa metode telah dikemukakan untuk mensintesis MIBI. Pada tahun 1994 G.Ferro Flores dan kawan-kawan berhasil mensintesis ligan MIBI dengan rendemen yang cukup tinggi menggunakan bahan dasar 2-metilalilamin hidroklorida hanya dalam dua tahap reaksi. Mengingat 2-metilalilamin hidroklorida yang digunakan sebagai bahan dasar tidak terdapat dipasaran, maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut dilakukan sintesis metilalilamin hidroklorida. Sebagai bahan dasar digunakan 3-kloro-2-metil-1-propena yang diubah ke dalam bentuk garam amin hidroklorida dengan amonia dalam larutan alkoholik. Reaksi arnonolisis menghasilkan kristal tidak berwarna dengan titik leleh 179°C - 181°C. Kristal memberikan hasil negatif dengan pereaksi ninhidrin yang berarti senyawa tidak mengandung gugus NH2, dan memberikan hasilpositif dengan CCI4-Br2, berarti senyawa mengandung ikatan rangkap. Analisis dengan spektrofotometri infra merah memberikan resapan pada panjang gelombang 2700 cm-1 - 3000 cm-1 yang ditimbulkan oleh vibrasi ulur NH dari NH3+, 1140 cm-1 oleh vibrasi ulur C-N, dan 3070 cm-1 oleh vibrasi ulur =C-H. Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa senyawa hasil reaksi amonolisis adalah 2-metilalilamin hidroklorida
PENGARUH KONDISI IRADIASI MoO3 DAN PROSES PREPARASI TERHADAP KUALITAS LARUTAN 9”Tc-PERTEKNETAT.
PENGARUH KONDISI IRADIASI MoO3 DAN PROSES PREPARASI TERHADAP KUALITAS LARUTAN 99mTc-PERTEKNETAT. Teknesium-99m adalah radio nuklida yang paling banyak digunakan sebagai penanda radiofarmaka untuk tujuan diagnosis. Radionukiida 99mTc dlisiapkan dalam bentuk larutan natrium perteknetat (Na99mTcO4) dalam NaCl fisiologis. Teknesiuin-99m yang merupakan anak luruh dan 99Mo, dipisahkan dan radio nuklida induknya dengan metode ekstraks, menggunakan larutan pengekstrak metiletilketon. Proses ekstraksi ¡ni dilakukan setelah MoO3 diubah kedalam bentuk garam molibdat (Na299MoO4).Syarat dan larutan Na99mTcO4 yang boleh digunakan untuk tujuan medis antara lain: tidak bewarna/bening, jernih tanpa mengandung partikel atau koloid, kemurnian radiokimia> 95 %, kandungan Mo 99 %. Larutan 99mTc kadang-kadang diperoleh bewarna kuning, bersumber dan dua macam sebab yaitu karena kondisi pada saat iradiasi MoO3 sehingga terjadi reaksi kimia dan kondisi pada saat preparasi larutan 99mTc O4 Metiletilketon (MEK) adalah penyebab utama terjadinya warna kuning yang dipicu dengan pemanasan dan adanya NaCl. Percobaan penggunaan larutan perteknetat yang bewarna kuning ini untuk penandaan radiofarmaka menghasilkan efisiensi penandaan yang sangat bervariasi. Dalam penelitian ini ditelusuri penyebab dan penyimpangan kualitas ini mulai dan kondisi radiasi dalam reaktor sampai pada proses preparasi Na99mTc04.
ANALISIS UNJUK KERJA HE TIPE PLAT REAKTOR KARTINI DENGAN METODE HILANG TEKANAN (PRESSURE DROP).
ANALISIS UNJUK KERJA HE TIPE PLAT REAKTOR KARTINI DENGAN METODE HILANG TEKANAN (PRESSURE DROP). Telah dilakukan analisis unjuk kerja HE tipe plat reactor Kartini menggunakan metode hilang tekanan (ΔP). Analisis dilaksanakan setelah perawatan HE dengan cara pelepasan plat-plat nya untuk dibersihkan, sesuai dengan prosedur perawatan. Berdasarkan data hilang tekanan pada sisi primer ΔP11 = 0,6 kg/cm2 dan hilang tekanan tekanan sisi sekunder ΔAP12 = 2,9 kg/cm2 Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa setelah dioverhoul, dibersihkan dan diuji untuk operasi reaktor pada daya 100kW, HE telah mengalami kenaikan unjuk kerja yaitu ΔUf = 930,144 W/m2. K; Δɛ = 0,04; ΔCs = 0,426; ΔCf = 0,274; ΔNTU 0,025 dan ΔQact = 20,635.kW.
METODE PENCACAHAN SINTILASI CAIR: SALAH SATU ALTERNATIF UNTUK PENGUKURAN α DAN β TOTAL DALAM SAMPEL LINGKUNGAN
METODE PENCACAHAN SINTILASI CAIR: SALAH SATU ALTERNATIF UNTUK PENGUKURAN α DAN β TOTAL DALAM SAMPEL LINGKUNGAN. Beberapa tahun terakhir ini para ahli telah mengembangkan metode pencacahan sintilasi cair untuk pengukuran α dan β total dalam sampel lingkungan. karena metode yang ada sebelumnya (metode elektrodeposisi) cukup rumit. Metode pencacahan sintilasi cair biasanya hanya digunakan untuk pencacahan radiasi β berenergi rendah, seperti 3H dan 14C, tetapi dengan semakin berkembangnya alat pencacah sintilasi cair, sekarang metode ini dapat digunakan pula untuk pencacahan α dan β total. Kelebihannya dibanding dengan metode terdahulu ialah sediaan yang berbentuk cair memudahkan sampel terlarut secara homogen sehingga tidak ada pengaruh serapan diri, dapat mendeteksi 3H dan 14C, serta dapat menetukan α dan β total sekaligus, sehingga dapat menghemat waktu.