Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
Not a member yet
279 research outputs found
Sort by
DINAMIKA FOTOSINTESIS 14C02 TANAMAN TEMULAWAK (CURCUMA XANTHORRHIZA ROXB.) DAN KUNYIT (CURCUMA DOMESTICA VAL.)
DINAMIKA FOTOSINTESIS 14CO2 TANAMAN TEMULAWAK (CURCUMA XANTHORRHIZA ROXB.) DAN KUNYIT (CURCUMA DOMESTICA VAL.) DALAM RUANG PENANDAAN. Sinar matahari pada intensitas tertentu memfasilitasi proses fotosintesis sehingga kadar CO2 di ruang penandaan terus menurun. Sebaliknya, respirasi di malam hari menyebabkan CO2 bertambah. Bila digunakan campuran CO2 dan 14CO2 maka perubahan konsentrasi keduanya mencerminkan dinamika CO2 dan 14CO2 yang sangat menarik. Selama percobaan kadar CO2 dipantau dan dipertahankan pada tingkat 300-1000 bagian per-juta (ppm). Bila kadar CO2 di bawah 300 ppm maka dilakukan penambahan CO2 sebagai hasil reaksi dan NaHCO3 dengan asam laktat berlebih. Dengan menjaga kadar CO2 terbukti bahwa temulawak dan kunyit dapat hidup dan tumbuh normal selama satu bulan di dalam ruang penandaan. Dengan demikian proses penandaan dapat dimulai, yakni dengan menambahkan 0,1-0,6 GBq atau 3-16 mCi gas 14CO2 ke dalam ruang penandaan. Kadar radioaktivitas 14CO2 dipantau sepanjang hari dengan selang waktu pengukuran tiga jam, dan hasilnya menunjukan bahwa selama dua jam pertama radioaktivitas ruang penandaan menjadi ¼ radioaktivitas awal. Pada sore hari hampir semua 14CO2 telah terfotosintesis, hal ini terlihat dan radioaktivitas ruang penandaan yang mendekati latar belakang. Pada pagi keesokan harinya radioaktivitas ruang penandaan meningkat hingga ~50% dari radioaktivitas awal. Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian produk fotosintesis telah direspirasi kembali. Siklus peningkatan radioaktivitas di pagi hari dan penurunan hingga mendekati latar belakang di sore hari teramati pada hari-hari berikutnya. Namun radioaktivitas 14C makin lama makin mengecil seperti deret ukur menurun, dan setelah dua minggu tingkat radioaktivitasnya mendekati latar belakang. Pola fotosintesis 14CO2 kedua tanaman menunjukkan kemiripan dengan bentuk hiperbolik, selain itu dengan bertambahnya waktu terjadi gradasi yang semakin menurun. Tujuan akhir dari penelitian ini adalah membuat kurkuminoid dan minyak atsiri bertanda produk dari tanaman temulawak dan kunyit
PENENTUAN DISTRIBUSI GLUKOSA 14C DALAM TUBUH TIKUS MENGGUNAKAN OTORADIOLUMTNOGRAFI
PENENTUAN DISTRIBUSI GLUKOSA 14C DALAM TUBUH TIKUS MENGGUNAKAN OTORADIOLUMINOGRAFI. Distribusi konsentrasi glukosa 14C dalam tubuh tikus telah dapat ditentukan dengan menggunakan metode otoradioluminografi. Pada percobaan ini digunakan pelacak 14C dari radionuklida yang memancarkan β dengan daya tembus 20 µm, karena akan menghasilkan citra dengan resolusi tinggi. Kondisi lain yang harus diperhatikan adalah tebal spacer yang diletakkan antara sampel dan film, karena akan mempengaruhi penampakan citra yang dihasilkan. Secara kualitatif, distribusi konsentrasi gIukosa 14C yang sangat tinggi ditemui dalam otak, hati, ginjal dan otot rangka, sedangkan pada organ lain distribusi konsentrasi glukosanya relatif lebih rendah. Hal ini disebabkan glukosa digunakan otak sebagai bahan bakar, sebagian glukosa disimpan di dalam otot dan hati sebagai glikogen dan di dalam ginjal glukosa diserap balik secara bebas. Penggunaan metode otoradioluminografi relatif baru khususnya di indonesia, untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, karena hal ini sangat penting berkaitan dengan keakuratan dalam pemilihan radiosotop dan dosis yang tepat untuk diagnosis dan terapi
UJI OKSIDASI BAJA AISI 316L UNTUK BAHAN KOMPONEN PLTN MAJU.
UJI OKSIDASI BAJA AISI 316L UNTUK BAHAN KOMPONEN PLTN MAJU. Pengujian oksidasi dilakukan untuk evaluasi ketahanan korosi baja AISI 316L sebagai bahan komponen PLTN maju. Pengukuran laju oksidasi dilakukan dengan uji termogravimetri pada temperatur oksidasi 700°C selarna 5000 menit. Pengujian struktur mikro dan sifat oksida dan pengukuran kekerasan bahan dilakukan dengan uji metalografi, pengujian X-ray Difractometer (XRD) dan uji kekerasan Vickers. Dari pengujian termogravimetri diperoleh penambahan berat sebesar 0,35 mg/cm2, dengan laju oksidasi awal mengikuti kaidah parabola. Foto struktur mikro menunjukkan perubahan bentuk dan ukuran butir dan tebal lapisan oksida 2,3 µm. Kekerasan bahan sesudah oksidasi mengalami penurunan dari 186 menjadi 174 skala Vickers. Hasil pengujian XRD menunjukkan terbentuknya oksida Cr2O3 sebagai lapisan pelindung oksidasi yang mantap dan fasa Cr23C6 yang menjadi penyebab sensitisasi tidak terbentuk. Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa laju oksidasi dan korosi bahan memenuhi persyaratan desain bahan komponen pembangkit energi dalam PLTN maju
PENDAYAGUNAAN REAKTOR TRIGA 2000 UNTUK PEMBUATAN RADIOISOTOP IOD-131 DENGAN METODE DISTILASI KERING
PENDAYAGUNAAN REAKTOR TRIGA 2000 UNTUK PEMBUATAN RADIOISOTOP IOD-131 DENGAN METODE DISTILASI KERING. Produksi radioiod-131I dari hasil reaksi aktivasi neutron dengan menggunakan bahan sasaran serbuk logam telurium, sampai saat ini pemisahan kimianya dilakukan dengan metode distilasi basah. Bahan kimia yang dibutuhkan menggunakan metode tersebut cukup banyak serta kurang ekonomis, walaupun mudah prosesnya dan peralatanya sederhana. Hasil akhir yang diperoleh selain aktivitas radioiod-131I dalam jumlah volume yang besar, juga dihasilkan limbah radioaktif cukup besar. Karena itu dalam upaya mencari alternatif untuk proses produksi radioiod-131I, dicoba dilakukan pemisahan dengan metode distilasi kering pada tekanan aliran gas nitrogen. Metode tersebut hanya membutuhkan bahan kimia dalam jumlah sedikit, sehingga limbah radioaktif yang dihasilkan akan sedikit pula. Percobaan dengan menggunakan 50 gr sasaran telerium dioksida yang telah diirradiasi, ditempatkan dalam cawan yang dihubungkan dengan sistem distilasi kering pada pemanasan 700 °C. radioiod-131I yang diperoleh memberikan larutan jernih pada pH 7 — 9, dengan aktivitas lebih dari 200 mCi dalam larutan 5 mL NaOH 0,1 M, dan kemurnian radio kimia lebih dan 98,00 %. Dan hasil pemeriksaan kualitas menunjukan bahwa produk akhir larutan radioiod-131I yang dihasilkan dapat dipergunakan untuk proses sintesis senyawa bertanda. Hasil percobaan ini memperkuat pertimbangan untuk dapat memanfaatkan proses produksi radioiod-131I dengan sistem distilasi kering sebagai komplemen dan radioiod-131I hasil reaksi aktivasi neutron dengan mendayagunakan reaktor TRIGA2000
PENENTUAN DENSITAS ELEKTRON 3-DIMENSI BAHAN KRISTALIN
PENENTUAN DENSITAS ELEKTRON 3-DIMENSI BAHAN KRISTALIN. Densitas elektron bahan kristalin dalam 3-dimensi telah ditentukan dengan menggunakan data eksperimental difraksi sinar-x dan metode analisis numerik Fourier. Sebagai contoh dilakukan penentuan densitas elektron pada kristal yang berbentuk kubik, yaitu NaCI yang berbentuk kubik pusat bidang (FCC = Face Centered Cubic) dan CsCI yang berbentuk kubik pusat benda (BCC = Body Centered Cubic). Pada kristal NaCI diperoleh densitas 3-dimensi yang sesuai dengan posisi atom-atom dalam kristal tersebut secara lengkap. Pada kristal CsCI sinar x seolah-olah melihat dua buah kubus sederhana yang serupa dengan atom-atom Cs dan Cl masing- masing pada titik-titik sudutnya, sehingga karena dari kedua kubus sama maka puncak-puncak difraksi terletak pada sudut-sudut 20 yang sama pula, jadi difraksi sinar x tidak dapat membedakan mana yang Cs dan mana yang Cl
STUDI EKSPERIMENTAL QUENCHING PADA CELAH SEMPIT.
STUDI EKSPERIMENTAL QUENCHING PADA CELAH SEMPIT. Proses quenching sangat banyak dijumpai di berbagai bidang industri, termasuk bidang nuklir. Khususnya, proses quenching pada celah sempit terkait erat dengan fenomena kecelakaan parah di mana diasumsikan teras yang meleleh dapat terkumpul di bagian bawah bejana reaktor. Eksperimen dan analisis data hasil eksperimen proses quenching pada celah sempit ukuran 0,5 mm dan 7 mm telah dilakukan untuk memahami proses quenching berdasarkan perbedaan lebar celah. Untuk celah ukuran 7 mm, hasil eksperimen dapat digambarkan secara baik untuk beberapa korelasi yang ada, termasuk korelasi untuk pendidikan kolam, sedangkan untuk celah 0,5 mm, sebagian besar korelasi belum dapat menggambarkan hasil eksperimen. Proses quenching pada celah sangat sempit tersebut sangat dibatasi oleh CCFL dan kapilaritas yang sangat berbeda dengan pendidihan kolam. Oleh karena itu pula, quenching pada celah sempit terjadi lebih lama daripada celah yang lebih lebar.Koefisien perpindahan panas maksimum rata-rata untuk celah 7 mm dan 0,5 mm berturut-turut adalah 15 kW/m2k dan 3 kW/m2k
MODIFIKASI PANEL KENDALl REAKTOR TRIGA 2000 DALAM MODE MANUAL.
MODIFIKASI PANEL KENDALl REAKTOR TRIGA 2000 DALAM MODE MANUAL. Untuk mengatasi permasalahan yang timbul akibat gangguan sistem komputer dan perangkat lunaknya, telah dilakukan modifikasi terhadap sistem instrumentasi dan kendali reaktor TRIGA 2000 Bandung. Modifikasi dilakukan secara bertahap mulai dan pembuatan panel kontrol dalam mode manual sampai dengan penggunaan komputer untuk sistem pengamatan dan kendali. Modifikasi panel kontrol reaktor TRIGA 2000 Bandung dilakukan agar reaktor dioperasikan secara manual tanpa melibatkan penggunaan komputer. Prioritas utama dan kegiatan ini adalah membuat sistem kontrol reaktor, mengatur gerak naik turun batang kendali reaktor secara aman. Pengujian hasil modifikasi dilakukan melalui tahap komisioning sesuai prosedur dan diketahui BAPETE
SINTEIS DAN UJI STABILITAS SENYAWA BERTANDA 186Re(V)-DMSA
SINTESIS DAN UJI STABILITAS SENYAWA BERTANDA 186Re(V)-DMSA. Senyawa 186Re(v) DMSA merupakan radiofarmaka permancar-β yang banyak digunakan untuk terapi kanker tiroid medular. Telah dilakukan sintesis senyawa bertanda 186Re(v)- DMSA melalui penandaan ligan DMSA dengan radio isotop186Re(v)menggunakan reduktor SnCl2 dan diinkubasi pada temperatur karnar selama 30 menit sambil dialiri nitrogen. Kondisi optimum reaksi diperoleh pada pH 1 dengan jumlah DMSA dan SnCl2. 2 H2O masing-masing sebanyak 8 dan 1,6 mg. Kompleks yang terbentuk diatur sampai pH 8 dengan penambahan larutan NaOH 1 N. yang memberikan efisiensi penandaan maksimum sebesar 97,29 ± 0,33 %. Uji siabilitas senyawwa 186Re(v)- DMSA terhadap waktu penyimpanan menunjukkan bahwa setelah disimpan selama 3 hari pada temperatur kamar, senyawa tersebut masih stabil dengan tingkat kemurnian radio kimia di atas 95%.
PENGUKURAN SUMBER BRAKITERAPI 1921r SECARA KALORI METRI.
PENGUKURAN SUMBER BRAKITERAPI 192Ir SECARA KALORIMETRI. Radioaktivitas sumber brakiterapi 192Ir yang berupa single pin dan hairpin dosis rendah yang digunakan dalam terapi kanker ditentukan dengan mikrokalorimeter. Untuk mengkonversi seluruh energi yang dipancarkan dan sumber 192Ir menjadi energi panas, digunakan penyerap radiasi yang terbuat dan wolfram. Pengukuran sumber radiasi dengan kamar pengion (ionization chamber) memberikan radioaktivitas 10% lebih rendah dibandingkan pengukuran dengan kalorimetri, yang terutama disebabkan oleh efek self absorpsi pada pengukuran dengan ionization chamber. Metode kalorimetri yang bebas dan efek self absorpsi dapat digunakan sebagai metode standar dalam pengukuran radioaktivitas sumber brakiterapi
STUDI PENCUPLIKAN PASIF TRITIATED WATER (HTO) DI UDARA DENGAN ABSORBEN MOLECULAR SIEVE.
STUDI PENCUPLIKAN PASIF TRITIATED WATER (HTO) DI UDARA DENGAN ABSORBEN MOLECULAR SIEVE. Pencuplikan pasif tritiated water (HTO) di udara menggunakan absorben molecular sieve telah dipelajari untuk mengetahui kemampuan pencuplik. Pencuplik pasif dibuat dari wadah plastik yang bertutup, pada tutupnya diberi satu atau dua buah lubang dengan bentuk bulat dan diberi pipa sepanjang 4 cm untuk tempat masuknya udara. Jumlah lubang dan posisi pipa divariasi untuk mencari bentuk pencuplik yang paling baik. Wadah plastik di isi dengan absorben molecular sieve 5A (MS5A), ditimbang, selanjutnya dipapari dengan udara yang mengandung HTO selama 40 jam. Pencuplik pasif kemudian ditimbang kembali dan MS5A dikeluarkan dan pencuplik. Molecular sieve 5A dipanaskan pada suhu 350 0C sambil dialiri gas nitrogen. Uap air yang terlepas dari MS5A ditangkap dengan cara pengembunan, kemudian dicacah dengan pencacah sintilasi cair (liquid scintillation counter, LSC). Selisih berat MS5A sebelum dan sesudah dipapari dievaluasi untuk menentukan koefisien difusi uap air dari udarake dalam wadah. Nilai koefisien difusi bervariasi berdasar bentuk pencuplik, yaitu 2,5 x 10-4 sampal 7,1 x l0-4 m2/jam. Hasil pengukuran dengan LSC memperlihatkan adanya HTO yang terserap oleh MS5A dalam pencuplik pasif dengan aktivitas sebesar 1 sampai 566 mBq/L udara. Ini membuktikan bahwa pencuplik pasif dengan absorben MS5A dapat digunakan untuk mencuplik HTO di udara. Berdasarkan perhitungan koefsien difusi dan evaluasi aktivitas tritium di udara ditentukan bentuk pencuplik pasif yang terbaik, yaitu pencuplik dengan satu lubang difusi dan tanpa pipa. Pencuplik pasif tersebut kemudian digunakan untuk mencuplik udara dalam ruang reaktor TRIGA 2000,P3TkN, BATAN, yang sedang tidak dioperasikan, dan diperoleh hasil konsentrasi tritium di udara ruang reactor sebesar 67 mBq/L. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa pencuplik pasif mampu mencuplik tritium dalam HTO di udara sebesar 92%