Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
Not a member yet
279 research outputs found
Sort by
KAJIAN INSTABILITAS KIT KERING RADIOFARMAKA BERTANDA 99mTc DITINJAU DARI ASPEK KIMIA DAN FISlKA
KAJIAN INSTABILITAS KIT KERING RADIOFARMAKA BERTANDA 99mTc DITINJAU DARI ASPEK KIMIA DAN FISIKA. Diagnosis suatu penyakit secara non-invasif membuat pasien tetap merasa nyaman sehingga metode ini lebih disukai. Diagnosis berbasis teknik nuklir dengan menggunakan radiofarmaka merupakan salah satu dari teknik non-invasif tersebut. Preparasi radiofarmaka dapat dilakukan melalui penandaan kit kering radiofarmaka yang sesuai, dengan penambahan larutan radionuklida tertentu ke dalam kit dengan mengikuti instruksi penandaan yang tercantum di dalam kemasan kit. Kualitas radiofarmaka yang dihasilkan bergantung pada kualitas kit, yang pada akhimya akan menentukan akurasi dari diagnosis atau pencitraan organ-organ yang diperiksa. Dalam beberapa kasus ditemukan kit radiofarmaka mengalami kerusakan, sehingga radiofarmaka yang diperoleh dari hasil penandaan memberikan pencitraan yang tidak baik dan dapat menyebabkan kesalahan diagnosis. Makalah ini berdasarkan cara mengevaluasi kit yang mudah rusak tersebut dari aspek kimia dan fisika, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas kit tersebut. Parameter yang perlu dievaluasi adalah pH, lipofilisitas, ikatan protein-plasma kemurnian radiokimia dan muatan listrik. Penyimpangan sifat kimia dan fisika yang disebabkan oleh beberapa hat antara lain kualitas bahan baku, komposisi kit, kevakuman kit dan kinerja alat yang digunakan, juga akan dibahas.
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASl FISIKOKIMIA KIT RADIOFARMAKA 99mTc-HIDA UNTUK PENYIDIK SISTEM HEPATOBILIAR
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI FISIKOKIMIA KIT RADIOFARMAKA 99mTc-HIDA UNTUK PENYIDIK SISTEM HEPATOBILIAR. Senyawa HIDA atau [N(2,6-dietil asetanilid)-iminodiasetat] setetah ditandai dengan radionuklida teknesium-99m mempunyai kemampuan farmakodinamik untuk mempelajari sistem hepatobiliar. Penelitian terdahulu baru sampai pada tahap pembuatan kit cair radiofarmaka HIDA, maka pada penelitian ini dilakukan pembuatan kit kering HIDA dan penentuan sifat fisikokimianya yang meliputi: kestabilan kit kering dalam penyimpanan, lipofilisitas (P) datam oktanol-air, ikatan dengan protein plasma, dan kestabilan radiofarmaka 99mTC-HIDA setelah disimpan pada temperatur kamar. Kemumian radiokimia ditentukan secara kromatografi kertas menggunakan kertas Whatman l dengan dua macam pelarut yaitu aseton kering dan natdum klorida fisiologis. Lipofitisitas (P) 99m Tc-HIDA ditetapkan melalui penentuan koefisien partisinya dalam pelarut oktanol-air. Ikatan protein plasma sediaan ditentukan secara in-vitro dengan metode pengendapan menggunakan larutan asam trikloro asetat (TCA) 5% Uji stabilitas kit kering HIDA menunjukkan bahwa kit tetap stabil sampai 4 bulan penyimpanan pada temperatur + 4°C dengan kemurnian radiokimia 85,58 ± 0,78%, lipofilisitas (P) sebesar 0,833 ± 0,14, ikatan protein plasma manusia sebesar 40,42 ± 2,85 %. Demikian pula sediaan 99mTC-HIDA masih stabil setelah disimpan pada ternperatur kamar selama 6 jam dengan kemurnian radiokimia sebesar 94,40 ± 0,92 %
ADSORPTION BEHAVIOUR OF CADMIUM-(II) ON HYDROUS OXIDE INORGANIC RESINS
ADSORPTION BEHAVIOUR OF CADMlUM-(II) ON HYDROUS OXIDE INORGANIC RESINS. Hydrous titanium oxide (HTO), hydrous zirconium oxide (HZO) and hydrous cerium oxide (HCO) resins were subjected to batch experiments on cadmium-(ll) adsorption studies using standard solutions of Cd-(ll)-nitrate. This was aimed to gain more experimental data in concern to choose inorganic resin for separation of Cd2+ - In3+. matrices in production technology of indium radioisotopes (111/115mln) as well as for recovery of high-enriched cadmium-(112/114Cd) target. Series of cold Cd-(ll)-nitrate standard solutions prepared from natural cadmium were treated by means of mixing and stirring with the resins at room temperature and then separated from the resin by centrifugation. The separating supernatants were then spectrophotometrically analyzed for Cd-(ll) determination as compared to Cd-(ll) content in the corresponding initial solutions. The results indicate that there was no Cd(ll) adsorption on Merck-produced titanium oxide pre-treated with neutral, acidic or basic condition. The Cd-(ll) adsorption occured either on zirconium oxide or on cerium oxide. The self-synthesized HCO having molecule formula of CeO2.nH2O (n = 0.8868 ± 0.0026) showed higher Cd-(ll)-adsorption capacity than self-synthesized HZO that was found to have molecule formula of ZrO2=.qH2O (q = 1.7613 ± 0.0836), i.e. (47.167 ± 0.083) x 10-3 mg/mg as compared to (12.200 ± 0.255) × 10-3 mg/mg. The ready-used zirconium oxide produced by Atomergic Chem. Corp. showed significantly smaller, i.e. (9.449 + 0.092) x 10-3 mg/mg. The influence of hydrate content in the resins to the Cd(ll)-adsorption capacity was observed by comparing Cd-(ll)-adsorption capacity of HCO heated up to 400°C (found as CeO2.0.1706H2O) and that of HCO heated up to 800°C (found as CeO2.0.0400H2O), i.e. (116.567 ± 0.839) x 10-3 mg/mg and (146.533 ± 0.897) x 10-3 mg/mg respectively.
PEMBUATAN RADIOISOTOP RODIUM-105 (105RhCl3)
PEMBUATAN RADIOISOTOP RODIUM-105 (105RhCl3). Radiofarmaka untuk keperluan terapi yang ditandai dengan radioisotop pemancar-β saat ini sangat banyak digunakan di bidang kedokteran nuklir. Rodium-105 (105Rh) merupakan salah satu radioisotop yang dapat digunakan untuk terapi karena merupakan pemancar-β yang mempunyai t1/2= 35,4 jam dengan Eβ sebesar 247 keV (30%) dan 560 keV (70%). Di samping itu, radioisotop tersebut juga memancarkan sinar-y dengan energi yang cukup ideal untuk penyidikan (imaging) selama terapi berlangsung yaitu 308 keV (5%) dan 319 keV (19%). Telah dilakukan pembuatan radioisotop 105Rh dalam bentuk carrier- free dengan menggunakan target rutenium (Ru) alam yang telah diiradiasi di reaktor TRIGA 2000 Bandung. Target tersebut dioksidasi dengan menggunakan kalium metaperiodat (KlO4) dan KOH yang dilarutkan dalam akuabides steril sambil dipanaskan perlahan-lahan, kemudian diekstraksi dengan larutan karbon tetraklorida (CCl4) untuk memisahkan Rh dari pengotor radionuklida (radioisotop Ru dan 103Ru). Setelah itu larutan diekstraksi dengan larutan tributil fosfat untuk memisahkan 105Rh dari pengotor radionuklida iridium (192Ir). Setanjutnya larutan dilewatkan pada kolom penukar kation (resin Dowex 50) untuk memisahkan 105Rh dari kation K+ yang ada dalam larutan. Kondisi optimum preparasi 105Rh diperoleh dengan melakukan ekstraksi menggunakan CCl4 dan tributil fosfat masing-masing sebanyak 4 kali dan 3 kali. Larutan 105RhCl3 tersebut diuji melalui pemeriksaan kemurnian radiokimianya dengan cara kromatografi kertas, kromatografi lapisan tipis dan elektroforesis kertas. Aktivitas dan kemurnian radionuklida larutan 105RhCl3 ditentukan dengan alat cacah spektrometer-y multi saluran. Larutan radioisotop 105RhCl3 yang diperoleh mempunyai pH berkisar antara 1,5 - 2 dan terlihat jernih dengan aktivitas sebesar 35 - 60 mCi dan konsentrasi radioaktif sebesar 7 - 12 mCi / mL. Larutan tersebut mempunyai kemurnian radiokimia sebesar 98,90 + 0,6 % dan kemurnian radionuklida di atas 99% ( 99,78 +0,03 %). Penelitian ini masih dilanjutkan untuk mendapatkan larutan 105RhCl3 dengan pH yang memadai dan kestabilan yang tinggi. Larutan 105RhCl3 yang diperoleh memungkinkan untuk dapat digunakan sebagai radionuklida alternatif dalam pembuatan berbagai radiofarmaka dengan aktivitas jenis tinggi untuk terapi seperti antara lain 105Rh-EDTMP.
PREDIKSI STRUKTUR GEOMETRI DAN KESTABILAN SENYAWA KOMPLEKS MENGGUNAKAN BEBERAPA METODE PERHITUNGAN
PREDIKSI STRUKTUR GEOMETRI DAN KESTABILAN SENYAWA KOMPLEKS MENGGUNAKAN BEBERAPA METODE PERHITUNGAN. Akhir-akhir ini minat dalam pemakaian metode teoritis atau komputasi untuk mempelajari struktur dan kestabilan molekul maupun untuk meramalkan terbentuknya senyawa baru semakin meningkat dan cukup populer di kalangan peneliti. Kecenderungan ini dapat dikaitkan dengan perkembangan komputer dan permintaan dunia industri terhadap senyawa-senyawa baru yang kompetitif secara ekonomi. Pada penelitian ini pembahasan difokuskan pada kompleks teknesium. Pemilihan senyawa kompleks teknesium didasarkan pada perkembangannya yang pesat karena salah satu isomernya secara luas digunakan untuk tujuan diagnostik Prediksi struktur geometri senyawa kompleks dilakukan menggunakan metode mekanika molekul (MM) dan model MAB4, sedang prediksi kestabilan senyawa kompleks dilakukan menggunakan metode solid angle factor sum (SAS) dan perhitungan entropi konfigurasi. Hasil prediksi struktur yang diperoleh dad 17 senyawa kompleks teknesium menggunakan MM dan model MAB4 memiliki deviasi rata-rata < 2 % dibandingkan dengan hasil eksperimen menggunakan XRD. Prediksi kestabilan dad berbagai senyawa kompleks teknesium menggunakan metode SAS dan perhitungan entropi konfigurasi memiliki profil yang sama. Meskipun prediksi struktur geometri menggunakan berbagai metode perhitungan tidak dapat mengambil alih peran XRD, dengan melakukan studi pendahuluan untuk memprakirakan struktur geometri atau kestabilan suatu senyawa diharapkan dapat membantu peneliti menghindari pemborosan waktu, tenaga dan biaya dalam melakukan suatu penelitian.
EXTERNAL EVENTS DARI REAKTOR RISET MENUJU REAKTOR DAYA
EXTERNAL EVENTS DARI REAKTOR RISET MENUJU REAKTOR DAYA. Krisis energi yang dialami oleh Indonesia belakangan ini memerlukan adanya alternatif pembangkit listrik dengan energi terbarukan dan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) merupakan salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan. Standar keselamatan dan keamanan secara internasional perlu diterapkan termasuk di dalamnya standar untuk mengatasi kejadian-kejadian eksternal (external events). Di indonesia terdapat tiga reaktor nuklir riset yaitu reaktor Kartini di Yogyakarta, Reaktor TRIGA 2000 di Bandung, dan Reaktor GA Siwabessy di Serpong. Untuk menuju ke PLTN maka perlu diperhatikan pengalaman yang diperoteh dari reaktor riset tersebut. Makalah ini memuat pengataman dan kajian kejadian-kejadian eksternal (external events) sehubungan dengan qualifikasi dan re-evaluasi reaktor daya riset dengan studi kasus kajian kegempaaan yang telah dilakukan pada Reaktor TRIGA 2000, Bandung. Kajian kegempaan terhadap Reaktor TRIGA 2000 dibagi menjadi tiga tahap, yaitu investigasi lapangan, analisis resiko kegempaan (PSHA), dan analsis struktur. Pengalaman Indonesia dalam hal qualifikasi dan re-evaluasi reaktor riset sangatlah berharga sebagai bekal dalam pengembangan reaktor daya. Falsafah pengembangan reaktor daya adalah sejalan dengan reaktor riset dalam hal kejadian-kejadian eksternal. Perbedaannya adalah dalam hal besaran-besaran kuantitatif Performance Goal-Probability of Failure, Hazard Category, Safety dan Design Class
FITOREMEDIASI LINGKUNGAN PERAIRAN TAWAR: PENYERAPAN RADIOSESIUM OLEH KIAMBANG (Salvinia molesta)
FITOREMEDIASI LINGKUNGAN PERAIRAN TAWAR : PENYERAPAN RADIOSESIUM OLEH KIAMBANG (Salvinia molesta). Fitoremediasi lingkungan perairan tawar yang terkontaminasi dengan radiosesium telah dilakukan dengan care mempelajari penyerapan 134Cs oleh tanaman perairan. Tanaman perairan yang diteliti adafah kiambang (Salvinia molesta), sebelumnya terah diteliti tanaman eceng gondok (Eichomia crassipes). Sistem perairan tawar buatan, berupa bak stainless steel berisi 400 L air tawar, dikontaminasi dengan 134Cs sebanyak 0,2 mL dengan aktivitas 4,84 x 109 Bq/mL. Ke dalam bak tersebut dimasukkan sejumlah tanaman kiambang dan dipelihara selama 40 hari. Sebagai kontrol dilakukan pula pemeliharaan kiambang dalam bak yang tidak dikontaminasi. Setiap lima bari sekali tanaman kiambang, balk yang dipefihara dalam bak yang dikontaminasi maupun di bak kontrol, diambil sebanyak 3 tanaman (individu) untuk diukur konsentrasi 134Cs yang diserapnya. Bersamaan dengan pengambilan sampel kiambang dilakukan juga pengambilan sampel air sebanyak 25 mL untuk diukur konsentrasi 134Cs-nya. Sampel kiambang dipisahkan menjadi bagian akar dan non akar (batang beserta daun), kemudian dikeringkan dengan lampu IR. Sampel yang telah dikeringkan dimasukkan ke dalam vial plastik dan didestruksi dengan cara menambahkan HCl 5M sampai volumenya mencapai 100 mL. Sampel kiambang dan air masing-masing diukur dengan multi chanel analyser (MCA) dengan detektor HPGe selama 180 detik. Dad penelitian ini, diketahui bahwa tanaman air kiambang dapat menyerap dan mengakumutasi radiosesium dari air tempatnya tumbuh. Kemampuan tanaman mengakumulasi radiosesium dinyatakan sebagai faktor transfer, yang merupakan rasio konsentrasi 134Cs dalam tanaman terhadap konsentrasinya dalam air. Nilai faktor transfer yang diperoleh dari penelitian ini cukup besar, yaitu 5,9 mL/g, dengan koefisien laju transfer sebesar 3,08x10-7/bari dan 1,97x10-7/hari masing-masing untuk 0<t<25 dan 29<t<40. Tanaman kiambang dapat dipertimbangkan untuk digunakan sebagai fitoremediator atau depolutan radiesesium di lingkungan perairan tawar, walaupun kurang ekonomis
ANALISIS PROBABILISTIK KESELAMATAN RADIOLOGI RSG-GAS PADA TERAS SETIMBANG URANIUM SILISIDA 300 GRAM
ANALISIS PROBABILISTIK KESELAMATAN RADIOLOGI RSG-GAS PADA TERAS SETIMBANG URANIUM SILISIDA 300 GRAM. Dengan telah dimulainya penggunaan bahan bakar uranium silisida 250 g di teras RSG-GAS dan akan dilanjutkan dengan penggunaan bahan bakar uranium silisida 300 g, maka dilakukan penelitian tentang perhitungan lepasan radioaktif RSG-GAS jika menggunakan bahan bakar ini. Perhitungan dilakukan dengan paket program ORIGEN2.1 untuk menghitung karakteristik sumber, serta paket program PC-COSYMA untuk menghitung lepasan radioaktif RSG-GAS, untuk keadaan yang dipostulasikan. Perhitungan dilakukan untuk kondisi reaktor yang diasumsikan mengalami kecelakaan LOCA yang menyebabkan satu bahan bakar meleleh. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa aktivitas dan dosis radiasi yang diterima masyarakat dalam radius 5 km dari RSG-GAS, masih di bawah batas yang diijinkan untuk masyarakat yang bukan pekerja radiasi
PERHITUNGAN KARAKTERISTIK PELURUHAN BETA PADA INTI TERDEFORMASI DENGAN HAMPIRAN QRPA PROTON-NEUTRON MATRIKS-PENUH SECARA SWAKONSlSTEN
PERHITUNGAN KARAKTERISTIK PELURUHAN BETA PADA INTI TERDEFORMASl DENGAN HAMPIRAN QRPA PROTON-NEUTRON MATRIKS-PENUH SECARA SWAKONSISTEN. Metode HFB+QRPA proton-neutron swakonsisten matriks-penuh yang dirintis penulis (2001) sebetulnya merupakan hampiran yang sejauh ini paling konsisten dan paling umum untuk menghitung karakteristik peluruhan beta inti atom terdeformasi, namun metode ini belum memberikan ketelitian yang memuaskan. Untuk perbaikan ketelitian hasil perhitungan, pada penelitian ini dicari parametrisasi terbaik gaya pasangan partikel-sejenis p-p berbentuk gaya konstan berjangkauan nol pada perhitungan keadaan dasar HFB. Penelitian ini dibatasi pada peluruhan beta jenis Gamow-Tetler dari inti induk genap-genap menggunakan sembilan nuklida sebagai sampel dengan nomor massa A = 92-190, Disimpulkan bahwa parameter celah Lipkin-Nogami merupakan acuan yang lebih sesuai untuk menentukan parameter kekuatan gaya pasangan partikel-sejenis p-p pada perhitungan keadaan dasar. Penelitian ini juga menunjukkan adanya kebergantungan parameter-parameter kekuatan gaya pasangan tersebut pada nomor massa dan isospin
ANALISIS DOSIS DARI OPERASI NORMAL DUA UNIT PWR PADA SATU TAPAK.
ANALISIS DOSIS DARI OPERASI NORMAL DUA UNIT PWR PADA SATU TAPAK. Tujuan analisis ini adalah untuk menghitung dosis efektif ekivalen tahunan dari gas mulia, iodium dan zat radioaktif lainnya yang terlepas kelingkungan dan PLTN jenis PWR selama beroperasi normal. Dosis efektif ekivalen tahunan di luar daerah tapak PWR yang disebabkan oleh pelepasan gas mulia dan iodium radioaktif ke lingkungan harus dihitung secara seksama. Selama operasi normal, paparan tersebut, dihitung dengan computer code ANDOSE-JINS. ANDOSE-JINS digunakan oleh Nuclear Power Engineering Corporation, Jepang untuk mengevaluasi dosis operasi normal dan PLTN yang akan dibangun. Analisis dosis paparan radioaktif yang berasal dari dua unit PWR yang beroperasi secara normal pada satu tapak merupakan bahasan utama pada makalah ¡ni. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa dosis untuk penduduk sekitar PWR masih di bawah batas yang diizinkan.