Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
Not a member yet
279 research outputs found
Sort by
Pembuatan, Pemurnian dan Stabilitas Virgin Coconut Oil (VCO) Bertanda Radioiodium-131
Minyak kelapa virgin (Virgin Coconut Oil atau VCO) telah dikenal sebagai minyak yang mengandung asam lemak jenuh rantai menengah dan bermanfaat untuk menangkal serta menyembuhkan berbagai penyakit. Namun demikian pengungkapan ilmiah terkait dengan cara kerja dan nasibnya di dalam tubuh masih sangat jarang ditemukan dalam pustaka. Salah satu metode yang dapat menjelaskan fenomena ini adalah uji farmakologis dengan mengunakan senyawa bertanda radionuklida. Pada tulisan ini dikemukakan cara pembuatan senyawa bertanda 131 I-VCO dan karakterisasinya. Metode penandaan dilakukan dengan cara langsung dan cara tidak langsung, sedangkan pemurniannya dilakukan dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut kloroform. Penetapan kemurnian radiokimia dilakukan dengan metode kromatografi kertas menaik menggunakan fase diam Whatman-1 dan fase gerak larutan ammonium sitrat 0,02 N pada pH 9. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa VCO dapat ditandai dengan radioiodium-131 melalui metode tidak langsung dengan rendemen penandaan sebesar 75,7 ± 19,3%, dengan tingkat kemurnian radiokimia 95,9 ± 2,6%, dan konsentrasi radioaktivitas sebesar 57 mCi/mL. Sediaan 131 I-VCO yang disimpan dalam etanol absolut pada suhu dingin (4 o C) stabil selama 4 hari dengan tingkat kemurnian radiokimia masih di atas 90%, tetapi menurun sangat signifikan pada hari ke delapan dengan tingkat kemurnian di bawah 20%. Diharapkan dengan keberhasilan penandaan VCO disertai karakter yang dimilikinya tersebut, parameter farmakologisnya dapat dikaji lebih seksama, sehingga pemanfaatan VCO baik untuk tujuan preventif maupun terapeutik memiliki landasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan
SIFAT LISTRIK BAHAN KOMPOSIT FeXC1-XSEBELUM DAN SESUDAH IRADIASI SINAR-γ SAMPAI DOSIS 500 kGy
SIFAT LISTRIK BAHAN KOMPOSIT FeXC1-X SEBELUM DAN SESUDAH IRADIASISINAR-γ SAMPAI DOSIS 500 kGy. Telah dilakukan penelitian terhadap sifat listrik bahankomposit FeXC1-X sebelum dan sesudah iradiasi dengan sinar-γ sampai dosis 500 kGy. Bahankomposit FeXC1-X dibuat dari campuran serbuk Fe dan serbuk grafit, dengan rasio komposisi(20:80, 50:50, dan 80:20) % berat dengan berat total 20 gram. Campuran masing-masingbahan komposit ini diproses milling dengan teknik High Energy Milling (HEM) selama 4,5 jam,kemudian dibuat dalam bentuk pelet dengan tekanan 5000 psi. Pada penelitian ini, diamatiperubahan sifat listrik bahan komposit FeXC1-X setelah diiradiasi dengan sinar-γ pada berbagaivariasi dosis (50–500 kGy). Karakterisasi sifat listrik bahan komposit FeXC1-X dianalisis memakai LCR meter. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai konduktivitas dan kapasitansi bahan kompositmeningkat oleh adanya radiasi sinar-γ. Nilai konduktivitas dan kapasitansi meningkat secaralinear seiring dengan bertambahnya dosis radiasi sinar-γ. Peningkatannya mencapai 4,5 %untuk nilai konduktivitas, dan 11,5 % untuk nilai kapasitansi setelah diirradiasi sampai dosis 50kGy. Pada dosis maksimum (500 kGy), peningkatan nilai konduktivitas mencapai 41,5 %, dannilai kapasitansi naik 47,5 % berat. Diperkirakan peningkatan nilai-nilai ini didapatkan karenaadanya cacat (defect) yang terbentuk di dalam struktur bahan komposit FeXC1-X akibat interaksiradiasi sinar-γ dengan bahan komposit sehingga menimbulkan perubahan pada sifat listrikbahan komposit FeXC1-X
PENANDAAN CTMP DENGAN TEKNESIUM-99m UNTUK RADIOFARMAKA PENYIDIK KANKER TULANG*
PENANDAAN CTMP DENGAN TEKNESlUM-99m UNTUK RADIOFARMAKA PENYIDIK KANKER TULANG. Radiofarmaka untuk penyidik tulang sudah dikembangkan dengan bermacam-macam senyawa seperti pirofosfat dan difosfonat yang ditandai dengan 99mTc seperti antara lain metilen difosfonat (99m Tc-MDP), hidroksietilendifosfonat (99m Tc-HEDP) difosfonat (99m Tc-HMDP). Baik senyawa bertanda fosfat maupun difosfonat belum memberikan hasil yang memuaskan sebagai radiofarmaka penyidik tulang karena akumulasi yang cukup tinggi di organ selain tulang seperti hati, otot, limpa, darah dan sebagainya. Senyawa golongan tetraamintetrafosfonat mempunyai afinitas yang lebih tinggi pada tulang, karena mempunyai empat gugus amino dan empat gugus fosfonat. Pada penelitian ini dilakukan penandaan senyawa golongan tetraaminotetrafosfonat, khususnya 1,4,8,11-tetraazasiklotetra desil-l,4,8,11- tetrametilenfosfonat (CTMP) dengan radionuklida teknesium-99m. Untuk memperoleh hasil penandaan yang maksimal dilakukan optimalisasi dari beberapa parameter seperti pH, jumlah reduktor, jumlah ligan, waktu inkubasi dan temperatur reaksi. Kondisi yang optimum diperoleh pada pH 4-6, jumlah reduktor SnCI2 100pg, jumlah ligan CTMP 500 pg, dengan waktu penandaan 10 menit pada pemanasan suhu air mendidih (kira-kira 90 °C) atau 30 menit pada temperatur kamar dengan efisiensi penandaan >95%.
KARAKTERISASI RODIUM-105 (105RhCl3) SEBAGAI RADIOISOTOP UNTUK TERAPI
Rodium-105 (105Rh) merupakan salah satu radioisotop yang memiliki sifat fisika yang menguntungkan untuk terapi karena merupakan pemancar-b yang mempunyai t1/2 = 35,4 jam dengan Eb sebesar 247 keV (30%) dan 560 keV (70%). Di samping itu, radioisotop tersebut juga memancarkan sinar-g dengan energi yang cukup ideal untuk penyidikan (imaging) selama terapi berlangsung yaitu 306 keV (5%) dan 319 keV (19%). Telah dilakukan karakterisasi fisiko kimia larutan radioisotop 105Rh (105RhCl3) yang meliputi penentuan: pH, kejernihan, kemurnian radiokimia dengan cara kromatografi kertas dan elektroforesis kertas, pengukuran aktivitas dan penentuan kemurnian radionuklida dengan alat cacah spektrometer-g multi saluran, kemurnian kimia melalui pemeriksaan kadar Ru yang tidak teraktivasi dengan menggunakan metode spot test, serta pengujian kestabilan larutan 105RhCl3 secara fisika dan kimia selama penyimpanan. Larutan radioisotop 105RhCl3 yang diperoleh mempunyai kemurnian radiokimia sebesar 98,61 ± 0,53% dan kemurnian radionuklida di atas 95% (99,78 ± 0,03%). Larutan tersebut mempunyai pH berkisar antara 1,5 – 2 dan terlihat jernih dengan aktivitas sebesar 35 - 60 mCi, konsentrasi radioaktif sebesar 7 – 12 mCi/mL, serta kadar Ru yang tidak teraktivasi sebesar < 50 ppm. Uji stabilitas larutan radiosiotop 105RhCl3 terhadap waktu penyimpanan menunjukkan bahwa setelah disimpan selama 6 hari pada temperatur kamar, larutan tersebut masih stabil dengan kemurnian radiokimia di atas 95%
KONSENTRASI URANIUM, THORIUM DAN KALIUM DALAM BERBAGAI PRODUK SEMEN YANG DIPASARKAN DI INDONESIA
KONSENTRASl URANIUM, THORIUM, DAN KALlUM DALAM BERBAGAI PRODUK SEMEN YANG DIPASARKAN DI INDONESIA. Telah dilakukan pengukuran konsentrasi radionuklida alam yaitu uranium, thorium, dan kalium dalam semen menggunakan metode spektrometri sinar-y. Sembilan cuplikan semen yang diambil dari delapan perusahaan produksi semen di Indonesia telah dianalisis kandungan radionuklida alamnya. Konsentrasi uranium ditentukan berdasarkan konsentrasi rata-rata 214Pb dan 214Bi, thorium menggunakan 214Pb dan 228Ac, dan kalium menggunakan 40K. Pengukuran konsentrasi anak luruh dilakukan setelah sampel mencapai kesetimbangan. Dengan metode spektrometri sinar-y diperoleh konsentrasi uranium 4,6 - 18 µg/g dengan nilai rata-rata 8,8 µg/g, thorium 2,3 - 10,8 µg/g dengan nilai rata-rata 4,8 µg/g, dan kalium 1638 - 6271 pg/g dengan nilai rata-rata 4189 µg/g. Konsentrasiuranium di dalam semen tersebut termasuk tinggi dibandingkan hasil pengukuran di beberapanegara lain, sedangkan konsentrasi thorium dan kalium termasuk lebih rendah. Kontribusi dosis gammadari semen termasuk rendah karena aktivitas radium ekivalen (Raeq) yang diperolehadalah 147 Bq/kg, sedangkan nilai batas dosis gamma untuk berbagai jenis material bangunan adalah 1,5 mSv per tahun yang setara dengan Raeq sebesar 370 Bq/kg.
STUDY ON BOILING PHENOMENA DURING HEAT TRANSFER IN BOTTOM REFLOODING SIMULATION EXPERIMENT
STUDI FENOMENA PENDIDIHAN SELAMA PERPINDAHAN PANAS PADAEKSPERIMEN SIMULASI BOOTOM REFLOODING. Studi untuk memahami fenomenapendidihan yang terjadi selama pembasahan ulang dari bawah pada permukaan panasmerupakan langkah penting dalam menganalisis perpindahan panas pendidihan yang terjadiselama proses flooding dalam peristiwa Post-LOCA. Peralatan eksperimen yang diberi namabagian uji QUEEN-II telah didesain, dikonstruksi dan diuji untuk penelitian quenching padaperpindahan panas pendidihan selama bottom reflooding. Eksperimen dilakukan denganmemanaskan batang panas SS316 hingga mencapai temperatur awal 850oC, kemudiandidinginkan oleh air dengan temperatur 90oC yang mengalir dari arah bawah. Hasil eksperimenmenunjukkan bahwa rejim pendidihan agak berbeda dibandingkan dengan hasil eksperimenterdahulu. Tiga perbedaan nilai fluks kalor kritis (FKK) yang diperoleh berdasarkan kurva didihsecara berturut-turut adalah 53.51 kW/m2, 58.45 kW/m2 and 67.31 kW/m2 yangmengindikasikan tiga perbedaan laju aliran massa air 0.015 kg/detik, 0.060 kg/detik dan0.140 kg/detik. Efek kenaikan laju aliran massa air sebesar 57% hanya menaikkan FKKsebesar 21%
KARAKTERISTIK BLACK CARBON PARTIKULAT UDARA HALUS PM2,5 DI BANDUNG DAN LEMBANG 2004 - 2005
KARAKTERISTIK BLACK CARBON PARTIKULAT UDARA HALUS PM2,5 DIBANDUNG DAN LEMBANG 2004 – 2005. Black carbon (BC) merupakan bentuk impuritas darikarbon hasil pembakaran tidak sempurna bahan bakar fosil atau pembakaran biomassa. Blackcarbon memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan iklim melalui sifatnya yangmampu menyerap sinar matahari. Sumber utama BC adalah antropogenik, termasukpembakaran biomassa, kendaraan bermotor serta sumber industri seperti pembakaran batubara. Konsentrasi BC umumnya 10-40% dari partikulat udara halus yang berukuran kurang dari2,5 μm (PM2,5), sehingga sangat penting dilakukan penentuan secara tepat. Pada penelitian ini,BC pada PM2,5ditentukan berdasarkan metode reflektansi menggunakan alat EEL Smoke StainReflectometer. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan Gent Stacked Filter Unit dua kaliseminggu selama dua tahun di dua lokasi (BATAN Bandung dan stasiun BMG Lembang). Hasilpenentuan kadar BC di daerah lokasi sampling Bandung dan Lembang tahun 2005menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya. Hasil rata-rata tahunan BC tahun 2004 untukdaerah Bandung dan Lembang masing-masing sebesar 3,16 dan 2,42 μg/m3 dan tahun 2005masing-masing adalah 3,90 dan 2,61 μg/m3. Konsentrasi BC pada kedua tempat inimemberikan kontribusi sekitar 18 – 25 % dari partikulat massa halus. Perbandingan konsentrasiBC dengan beberapa negara lain di Asia yang menggunakan metode dan formula yang samajuga dilakukan untuk mengetahui distribusi tingkat pencemaran BC di Asia. Hasil perbandinganmenunjukkan bahwa konsentrasi BC di Indonesia masih lebih rendah dibanding negara-negaralain di Asia
STUDI TENTANG FISIBILITAS DAUR ULANG AKTINIDA MINOR DALAM BWR
Studi awal tentang fisibilitas daur ulang aktinida minor (MA) tanpa melibatkan plutonium dalam reaktor air mendidih (boiling water reactor, BWR) telah dilakukan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa dengan menaikkan konsentrasi fisil MA dalam bahan bakar mixed oxide (MOX) dan/atau memperkecil fraksi hampa maka faktor multiplikasi efektif pada awal siklus akan naik juga, tetapi kenaikan ini belum cukup untuk membuat reaktor kritis. Disisi lain memperkecil void fraction akan menaikkan ayunan reaktivitas yang pada akhirnya akan menurunkan faktor keselamatan dari reaktor.
ANALISIS UNSUR Cu DAN Zn DALAM RAMBUT MANUSIA DENGAN SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM (SSA)
ANALISIS UNSUR Cu DAN Zn DALAM RAMBUT MANUSIA DENGANSPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM. Jenis dan konsentrasi unsur-unsur dalam rambutdapat merefleksikan status kesehatan seseorang dan di mana ia tinggal atau bekerja. Padakonsentrasi yang tinggi Zn dapat menjadi toksik terhadap tubuh atau menyebabkan defisiensiuntuk unsur Cu. Konsentrasi Cu yang rendah akan menyebabkan sel kekurangan oksigenakibatnya menjadi anemia. Pada penelitian ini dilakukan penentuan Cu dan Zn dalam rambutmanusia menggunakan spektrofotometri serapan atom (SSA) dengan metode nyala. Hasilanalisis terhadap 27 sampel rambut remaja kota Bandung usia 16 – 19 tahun menunjukkanbahwa konsentrasi geomean Cu = 15,7 ± 45 μg/g dan Zn = 201,4 ± 205 μg/g. Data Cu ini lebihrendah jika dibandingkan dengan data Cu remaja Nigeria (117,4 μg/g), sedangkan dua data Cuyang menyebabkan simpangan baku tinggi (45 μg/g) yaitu sampel nomor 13 (110 μg/g) dansampel nomor 18 (218 μg/g) mungkin berasal dari sumber pencemar di sekitar tempat tinggalremaja tersebut. Hampir sama dengan data Cu, simpangan baku data Zn juga tinggi (205μg/g).Hal ini disebabkan oleh data sampel nomor 6 (657 μg/g), sampel nomor 7 (356 μg/g), sampelnomor 9 (1058 μg/g), sampel nomor 21 (460 μg/g), dan sampel nomor 27(436μg/g). Jika datageomean Zn yang diperoleh (201,4 μg/g) dibandingkan dengan geomean orang Nigeria ( 125,9μg/g ), maka konsentrasi Zn anak remaja Bandung lebih tinggi. Konsentrasi Zn yang tinggi inimungkin merupakan karakteristik pada anak remaja Bandung atau Indonesia, akan tetapi halini masih memerlukan penelitian lanjutan
PENGARUH IRADIASI GAMMA DAN KONSENTRASI POLiVINILPIROLIDON PADA PEMBUATAN HIDROGEL SERTA KEMAMPUAN IMOBILISASl DAN PELEPASAN KEMBALI PROPRANOLOL HCl
PENGARUH IRADIASI GAMMA DAN KONSENTRASI POLIVINILPIROLIDON PADA PEMBUATAN HIDROGEL SERTA KEMAMPUAN IMOBILISASl DAN PELEPASAN KEMBALI PROPRANOLOL HCI. Hidrogel adalah polimer tidak larut namun mengembang dan mencapai kesetimbangan dalam air. Hidrogel kompatibei dengan cairan tubuh, darah dan jaringan hidup. Telah dilakukan sintesis hidrogel dari 5%; 7,5%; dan 10 % potivinilpirolidon (PVP) dengan dosis iradiasi gamma 10, 20,30, dan 40 kGy pada laju dosis 5 kGy/jam. Nilai fraksi hidrogel ditetapkan. Pengaruh pH, suhu, dan waktu perendaman pada rasio swelling hidrogel diperiksa, kemudian hidrogel diuji kemampuannya mengimobilisasi dan melepaskan kembali obat, propranolol HCI sebagai model, Hasil menunjukkan bahwa fraksi gel meningkat dengan besarnya dosis iradiasi dan konsentrasi PVP, namun rasio swelling h[drogel menurun. Rasio swelling hidrogel tidak peka terhadap perbedaan pH atau suhu, dan perendaman dalam air menunjukkan bahwa swelling maksirnum tercapai dalam 24 jam. Uji imobilisasi propranolol HCI dalam hidrogel menunjukkan bahwa persentase obat yang terabsorpsi oleh hidrogel tidak dipengaruhi oleh dosis obat awal, tetapi dipengaruhi oleh kemampuan swelling hidrogel. Jumlah obat yang terabsorpsi oleh hidrogel rata-rata 86,51%. Pengujian lain menunjukkan bahwa pelepasan kembali propranolol HCI dar[ hidrogel ke farutan HCI 0,1N dipengaruhi oleh kemampuan swelling hidrogel. Jumlah obat yang dilepaskan kembali sampai jam ke-8 adalah +80%. Disimpuikan bahwa hidrogel~PVP terbaik disintesis dari 10% PVP menggunakan iradiasi gamma dengan dosis 40 kGy, serta hidrogeI-PVP dapat digunakan sebagai matriks imobilisasi dan pe[epasan kembali obat