Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
Not a member yet
279 research outputs found
Sort by
INVESTIGASI PARAMETER BAHAN BAKAR PEBBLE DALAM PERHITUNGAN TERAS THORIUM RGTT200K
INVESTIGASI PARAMETER BAHAN BAKAR PEBBLE DALAM PERHITUNGANTERAS THORIUM RGTT200K. Dalam desain RGTT200K, pemanfaatan thorium sebagaibahan bakar merupakan alternatif yang perlu dipertimbangkan. Pada makalah ini dibahasparameter bahan bakar pebble dalam perhitungan teras thorium RGTT200K menggunakanprogram transport Monte Carlo MCNPX dan pustaka data tampang lintang energi kontinuENDF/B-VII pada temperatur 1200K. Pengkayaan 233U sebesar 4%-20% serta pemuatan bahanbakar 232Th/233U sebesar 0,1g - 15g per pebble divariasikan untuk menganalisis kelakuankritikalitas dan burnup teras thorium RGTT200K. Hasil perhitungan memperlihatkan pemuatanbahan bakar yang rendah menyebabkan teras RGTT200K mengalami kondisi overmoderated.Penambahan pemuatan bahan bakar setelah mencapai kondisi maksimum, menyebabkankurva keff menurun dan teras mengalami undermoderated. Teras dengan pemuatan bahanbakar rendah mengakibatkan penurunan konsentrasi 233U dan kenaikan konsentrasi 233Pa yangtinggi. Sebaliknya, teras dengan pemuatan bahan bakar tinggi menunjukkan penurunankonsentrasi 233U dan kenaikan konsentrasi 233Pa yang rendah. Pemuatan bahan bakar 6 gdengan pengkayaan 233U 8% layak dipertimbangkan dalam desain teras thorium RGTT200Kdengan nilai kritikalitas dan burnup bahan bakar yang spesifik.Kata kunci : bahan bakar pebble, kritikalitas, burnup, thorium, RGTT200
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI SEDIAAN RADIOISOTOP 169ErCl3 HASIL IRADIASI BAHAN SASARAN ERBIUM-168 DIPERKAYA 97,75%
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI SEDIAAN RADIOISOTOP 169ErCl3 HASILIRADIASI BAHAN SASARAN ERBIUM-168 DIPERKAYA 97,75%. Erbium-169 (169Er)merupakan salah satu radioisotop pemancar β yang dapat digunakan untuk radiosinovektomi.Pada penelitian ini dikembangkan pembuatan radioisotop 169ErCl3 dengan cara iradiasi bahansasaran erbium oksida diperkaya dengan pengayaan 168Er sebesar 97,75%. Sebelumdigunakan dalam pembuatan radiofarmaka, larutan 169ErCl3 dikarakterisasi supaya memenuhisyarat aplikasinya. Karakterisasi fisiko-kimia radioisotop 169ErCl3 yang meliputi kejernihan; pH;muatan listrik; kemurnian radiokimia; dan kemurnian radionuklida; masing-masing ditentukandengan cara visual; kertas indikator pH; metode elektroforesis kertas; kromatografi kertas danelektroforesis kertas; serta spektrometer γ saluran ganda. Kestabilan larutan ditentukan denganmengamati kemurnian radiokimia larutan 169ErCl3 setiap hari selama satu bulan penyimpananpada temperatur kamar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 169ErCl3 berupa larutan jernih,memiliki pH 1,5 – 2, tidak bermuatan, kemurnian radiokimia sebesar 99,51 ± 0,41% dankemurnian radionuklida sebesar 99,84 ± 0,1%. Aktivitas jenis dan konsentrasi radioaktif larutan169ErCl3 masing-masing sebesar 1,26 – 3,38 mCi/mg Er dan 11,05 – 29,59 mCi/mL pada saatend of irradiation (EOI). Uji stabilitas menunjukkan bahwa larutan 169ErCl3 masih stabil sampaisatu bulan dengan kemurnian radiokimia sebesar 99,65 ± 0,09%. Larutan 169ErCl3 yangdiperoleh dari bahan sasaran erbium oksida diperkaya 97,75% memiliki karakteristik fisiko-kimiayang memenuhi syarat untuk radiosinovektomi
RESPON SITOGENETIK PENDUDUK DAERAH RADIASI ALAM TINGGI DI KABUPATEN MAMUJU, SULAWESI BARAT
ABSTRAKRESPON SITOGENETIK PENDUDUK DAERAH RADIASI ALAM TINGGI DIKABUPATEN MAMUJU, SULAWESI BARAT. Manusia di dunia menerima paparan radiasialam baik eksternal maupun internal. Total paparan tahunan dari radiasi alam dengan latarnormal adalah 2,4 mSv, sedangkan daerah dengan tingkat paparan radiasi alam mencapai 20mSv atau lebih dikategorikan sebagai High Natural Background Radiation (HNBR). Tingkatpaparan radiasi di HNBR dianggap sebagai radiasi dosis rendah. Efek biologik radiasi dosisrendah khususnya efek sitogenetik telah dipelajari pada penduduk di beberapa daerah HNBR didunia. Tulisan ini melaporkan hasil studi sitogenetik khususnya aberasi kromosom pada sellimfosit darah tepi penduduk di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, yang mempunyai tingkatpaparan radiasi alam relatif tinggi di Indonesia. Pemeriksaan aberasi kromosom dilakukandengan teknik Giemsa dan fluoresence in situ hybridization terhadap sampel darah pendudukyang telah dibiakkan dalam media pertumbuhan. Hasil penelitian tidak menunjukkan adanyaperbedaan nyata frekuensi aberasi kromosom pada sel limfosit penduduk daerah radiasi alamtinggi dan latar normal. Terdapat indikasi adanya fenomena respon radioadaptif pada pendudukdi Kabupaten Mamuju yang perlu diteliti lebih lanjut.Kata kunci : dosis rendah, aberasi kromosom, HNBR, MamujuABSTRACTCYTOGENETIC RESPONSE OF THE RESIDENTS OF HIGH NATURAL RADIATIONAREA IN KABUPATEN MAMUJU, SULAWESI BARAT. People in the world are exposed tobackground radiation from natural sources both internally and externally. Total exposure tonatural radiation in areas of normal background averages 2.4 mSv per year, while the area thathas total exposure to natural radiation up to 20 mSv or more is categorized as the High NaturalBackground Radiation (HNBR). Such radiation level of HNBR is considered as low doseradiation.The biological effects of low dose radiation, especially cytogenetic effects, have beenextensively studied on the habitants of several HNBR areas in the world. This paper reports theresults of cytogenetic study, especially chromosome aberrations, in peripheral blood lymphocytecells of the residents in Kabupaten Mamuju, West Sulawesi, which relatively has high level ofnatural radiation in Indonesia. Chromosome aberration examinations were performed usingGeimsa staining method and fluorescence in situ hybridization painting technique after culturingthe blood samples of the residents in enriched growth media. The results did not indicatesignificant difference on the frequency of chromosome aberrations in the lymphocytes ofpeople who live in HNBR area and that who live in normal natural radiation area. It is suggestedthat there is an indication of radioadaptive response phenomena in Kabupaten Mamuju peoplethat needs further investigation.Keywords: low dose, chromosome aberration, HNBR, Mamuj
KARAKTERISTIK FISIKO-KIMIA SENYAWA BERTANDA 175Yb-EDTMP
Penyakit kanker seperti kanker payudara, prostat dan paru-paru dapat mengalami metastase ke tulang, sehingga menimbulkan rasa sakit pada penderita. Senyawa-senyawa turunan fosfonat, baik berupa senyawa bifosfonat maupun polifosfonat seperti EDTMP dapat berikatan dengan komponen utama penyusun tulang. Senyawa bertanda 175Yb-EDTMP dapat digunakan sebagai radiofarmaka alternatif untuk menghilangkan rasa sakit (paliatif) akibat metastase kanker ke tulang. Senyawa bertanda tersebut dapat dibuat melalui penandaan ligan etilendiamintetrametilen fosfonat (EDTMP) dengan radionuklida iterbium-175 (175YbCl3). Sebelum senyawa 175Yb-EDTMP digunakan di bidang kedokteran nuklir untuk tujuan paliatif, senyawa tersebut harus dikarakterisasi supaya memenuhi standar radiofarmaka yang baik. Karakterisasi fisiko-kimia senyawa bertanda 175Yb-EDTMP telah dilakukan meliputi uji pH, kejernihan, kemurnian radiokimia dengan metode kromatografi kertas dan elektroforesis kertas, muatan listrik dengan metode elektroforesis kertas, kestabilan dengan melihat kemurnian radiokimia senyawa tersebut setiap hari selama sembilan hari setelah penandaan, lipofilisitas diketahui dengan menentukan koefisien partisinya dalam pelarut oktanol-air, ikatan protein plasma ditentukan secara in-vitro dengan metode pengendapan menggunakan larutan asam trikloroasetat (TCA) 5% dan pengikatan pada kristal hidroksiapatit. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa senyawa 175Yb-EDTMP memiliki pH sekitar 7, berupa larutan jernih, kemurnian radiokimia 98,66 ± 0,53%, bermuatan listrik negatif, lipofilisitas (P) = 0,0135 ± 0,003%, ikatan dengan protein plasma manusia sebesar 8,94 ± 0,66%, dan ikatan dengan hidroksiapatit sebesar 94,78 ± 2,16%. Uji stabilitas senyawa bertanda 175Yb-EDTMP terhadap waktu penyimpanan menunjukkan bahwa senyawa tersebut masih stabil selama sembilan hari penyimpanan pada temperatur kamar dengan kemurnian radiokimia di atas 95% (98,62 ± 0,83%). Senyawa 175Yb-EDTMP yang diperoleh diharapkan dapat memenuhi persyaratan sebagai radiofarmaka alternatif untuk tujuan paliatif akibat metastase kanker ke tulang sehingga dapat menunjang perkembangan kedokteran nuklir di Indonesia
STRUKTUR KRISTAL DAN MAGNETORESISTANCE PEROVSKITE La0,7Ca0,3MnO3 PADA SUHU KAMAR
STRUKTUR KRISTAL DAN MAGNETORESISTANCE PEROVSKITE La0,7Ca0,3MnO3PADA SUHU KAMAR. Studi banding struktur kristal dan magnetoresistance (MR) perovskiteLa0,7Ca0,3MnO3 (LCMO) terhadap senyawa induk LaMnO3 (LMO) dan CaMnO3 (CMO) telahdilakukan untuk mempelajari perubahan resistivitas LCMO akibat perubahan medan magnetluar pada suhu kamar. Cuplikan LCMO, LMO dan CMO disintesis dengan metode High EnergyMilling (HEM). Prekursor hasil milling dicetak menjadi pelet dan disinter pada Ts = 1350 ºCselama 6 jam. Analisis kualitatif dilakukan dengan teknik difraksi sinar-x metode Rietveld. EfekMR cuplikan diukur dengan metode Four Point Probe (FPP) dan morfologi permukaan peletdiamati dengan Scanning Electron Microscope (SEM). Ketiga cuplikan memiliki struktur kristalortorombik, grup ruang: Pnma, No. 62. Parameter kisi LCMO dapat dikonfirmasi hinggaketelitian 4 angka di belakang koma, yakni a = 5,4851(3) Å, b = 7,7601(4) Å, c = 5,5185(2) Å.Parameter kisi LMO dan CMO berturut-turut adalah: a = 5,4405(9)Å, b = 7,717(1) Å, c =5,537(1) Å dan a = 5,2973(6) Å, b = 7,477(1) Å, c = 5,281(1) Å. Cuplikan LCMO, LMO dan CMOmemiliki ukuran butir sekitar 1.000 nm, berbentuk bulat, dan setiap butir dibangun oleh rata-rata27 kristalit. Harga MR cuplikan LCMO, LMO dan CMO pada suhu kamar berturut-turut -10,1; -7,3 dan -12,3 %. Harga MR ini setara dengan harga GMR berbasis multilayers[Cu/NiFeCo]x10/Ta. Bulk perovskite La0,7Ca0,3MnO3 dapat dimanfaatkan untuk mendeteksimagnetic microbeads dan ferrofluid
Aplikasi Teknik Aan dan Ssa dalam Penentuan Nilai Asupan Harian Unsur Ca, Fe dan Zn pada anak usia sekolah di Kota Bandung
Unsur gizi mikro yang terkandung dalam makanan memiliki peran penting dalam proses metabolisme di dalam tubuh manusia, sehingga defisiensi unsur gizi mikro dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan penyakit kronik. Anak-anak merupakan populasi yang rentan menderita defisiensi mikronutrien yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Defisiensi mikronutrien telah lama terjadi di Indonesia namun belum terselesaikan dan data status nutrisi anak-anak Indonesia masih sangat terbatas. Untuk itu melalui penelitian ini dilakukan penentuan asupan harian unsur mikronutrien Ca, Fe dan Zn pada anak-anak usia sekolah. Pengambilan sampel makanan dilakukan menggunakan metode duplicate diet dan penentuanunsur Fe dan Zn dilakukan menggunakan metode Analisis Aktivasi Neutron (AAN) sedang unsur Ca ditentukan menggunakan metode Spektrometri Serapan Atom (SSA). Dari hasil analsis diperoleh kadar unsur Ca, Fe dan Zn dalam sampel makanan masing-masing berkisar antara 307–1991; 10,1–95,5 dan 11,9–29,4 mg/kg, dengan nilai rata-rata asupan harian unsur Ca, Fe dan Zn adalah 228; 9,3 dan 4,6 mg/hari yang hanya memenuhi 28%, 74% dan 39% dariAKG (angka kecukupan gizi). Dari hasil yang diperoleh, teramati adanya defisiensi unsur-unsur tersebut pada anak usia sekolah di kota Bandung. Hasil ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan informasi bagi pihak yang berwenang dalam perencanaan dan pengambilan kebijakan terkait dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang akan datang
PENGARUH PROSES ROL DAN PERLAKUAN PANAS PADA INGOT BAJA TAHAN KARAT AUSTENIT YANG MENGANDUNG UNSUR Ti DAN Y TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN
PENGARUH PROSES ROL DAN PERLAKUAN PANAS PADA INGOT BAJA TAHANKARAT AUSTENIT YANG MENGANDUNG UNSUR Ti DAN Y TERHADAP STRUKTURMIKRO DAN KEKERASAN. Telah dilakukan proses pembuatan baja tahan karat austenitberbentuk ingot kancing dengan cara peleburan menggunakan tungku busur listrik. Modifikasiunsur pemadu dilakukan untuk mendapatkan sifat fisik dan mekanik yang lebih baik dalam halketahanan bahan akibat interaksi dengan media pendingin nano fluida dan reaksi panas yangterjadi di dalam reaktor nuklir. Pada penelitian ini dilakukan modifikasi unsur pemadu baja tahankarat SS 316L dengan menambahkan unsur titanium (Ti) dan yttrium (Y) pada berbagaikonsentrasi dalam persen berat. Ingot hasil peleburan dirol dingin dengan reduksi sebesar 10 %kemudian dilakukan proses perlakuan panas di dalam tungku listrik pada temperatur 850 ºCselama satu jam menggunakan gas pelindung argon. Bahan pelat hasil perolan dan perlakuanpanas mempunyai kekerasan lebih tinggi 12 % dibanding kekerasan ingot hasil peleburan.Mikrosturktur bahan pelat hasil perlakuan panas adalah fase austenitik dendritik
Safety Evaluation of the Ethyl Acetate Extract on Irradiated Tea Parasite: Acute Toxicity Study on Mice
Many studies of the pharmacological efficacy of tea parasite and the use of ionizing radiation for decontamination of microbes and extending shelf life have been reported, but there is no information on its safety, such as the acute toxicity. In this study, the acute toxicity of two ethyl acetate extracts from unirradiated and irradiated (irradiation dose of 10 kGy) tea parasites Scurrula atropurpurea on Swiss Webster mice have been examined. The observation was done after the treatment of a single oral dose of ethyl acetate extract in various dose groups, i.e.: control (0 g/kg of mice body weight), D1 (0.625 g/kg), D2 (1.25 g/kg), D3 (2.5 g/kg) D4 (5 g/kg), D5 (10 g/kg) by observing the effect on behavioral response (pharmacological profile), the body weight gains and mortality until the day 14 th . At the last day, the observation of vital organs has also been done. The result showed thatno acute toxicity was found in mice treated with a single oral dose of ethyl acetate extract from unirradiated tea parasite and irradiated tea parasite at the dose of 10 kGy. At the dose up to 10 g/kg (equivalent to 77.6 g of extract which administered to human), the normal body weight gains were observed in mice of all dose groups, no mice deaths in any of the dose groups, and no significant change (p > 0.05) in organ weights relative to the body weight i.e.: liver, spleen, kidneys, lung, heart, testes and seminal vesicle (for male), and ovaries and uterus (for female). The approximate lethal doses for male and female mice were determined to be higher than 10 g/kg of mice body weight. It is suggested that the treatment of ethyl acetate extract from unirradiated and irradiated tea parasites until dose up to 10 g/kg of mice body weight was stillsafe
Pengukuran Konsentrasi Thoron (220 Rn) di Udara Dalam Ruangan Secara Kontinu Menggunakan Pylon Model WLx
Konsentrasi thoron ( 220 Rn) pada lokasi tertentu lebih besar dari pada radon ( 222 Rn), namun keberadaannya selalu terabaikan. Hal ini disebabkan oleh kesulitan dalam kalibrasi dan diskriminasi antara radon dengan thoron. Dari model biokinetik dan dosimetrik, kontribusi dosis efektif thoron terlihat dominan pada paru-paru. UNSCEAR memperkirakan dosis thoron berkontribusi antara 5–10% dosis tahunan yang diterima masyarakat umum dengan tingkat risiko 4,4 kali lebih besar dari radon. Oleh karena itu perlu dilakukan studi untuk mengetahui nilai konsentrasi thoron di udara dalam rumah dan tempat kerja. Konsentrasi radon-thoron di udara dalam ruangan dapat diketahui dengan metode langsung menggunakan alat Pylon Model WLx dan metode pasif menggunakan detector SSNTDs (Solid State Nuclear Track Detector). Pengukuran thoron pada penelitian ini dilakukan dengan alat Pylon Model WLx yang sensitif terhadap radon secara kontinu selama 24, 65, 72, 116 dan 154 jam dalam ruangan yang berbeda-beda. Hasil pengukuran memperlihatkan nilai rerata konsentrasi working level thoron sebesar 2,53 ± 0,67 Bq/m 3 dalam ruangan-1 dengan konsentrasi maksimum dan minimum adalah 3,37 Bq/m 3 dan 2,22 Bq/m 3 . Dari pengukuran pada lokasi berbeda diperoleh rerata konsentrasi anak luruh thoron yang terbesar dan terkecil masing-masing sebesar 0,83 ±0,23 Bq/m 3 dan 0,29 ±0,64 Bq/m 3 , sedang nilai konsentrasi maksimum dan minimum masing-masing adalah 7,80 Bq/m 3 dan 0,01 Bq/m 3 . Pylon Model WLx tidak dapat digunakan dalam jangka waktu lama dengan cakupan daerah survei yang luas secara bersamaan, sehingga masih diperlukan pengukuran menggunakan detektor pasif SSNTDs yang sangat sensitif terhadap emisi partikel alfa dan dapat mengukur konsentrasi thoron secara kumulatif
Pembuatan dan Karakterisasi Radioisotop Tulium-170 ( 170 Tm)
Tulium-170 ( 170 Tm) merupakan radioisotop pemancar β yang memiliki T1/2 = 128,4 hari dan E β (maksimum) sebesar 0,968 MeV. Radioisotop 170 Tm selain pemancar β juga memancarkan sinar γ dengan energi sebesar 84 keV (3,26%) yang dapat digunakan untuk penyidikan (imaging) selama terapi berlangsung. Berdasarkan sifat radionuklidanya, 170 Tm dapat digunakan sebagai radioisotop alternatif dalam pembuatan radiofarmaka untuk paliatif pengganti 89 SrCl2. Pembuatan radioisotop 170 Tm telah dilakukan menggunakan sasaran tulium oksida (Tm2O3) alam yang diiradiasi di fasilitas iradiasi RSG-G.A. Siwabessy – Serpong. Bahan sasaran dilarutkan dengan larutan HCl 1 N sambil dikisatkan perlahan-lahan sampai hampir kering, kemudian dilarutkankembali dengan akuabides steril. Larutan 170 TmCl3 diuji melalui pemeriksaan kemurnian radiokimia dengan cara kromatografi kertas dan elektroforesis kertas. Aktivitas dan kemurnian radionuklida larutan 170 TmCl3 ditentukan dengan menggunakan alat cacah spektrometer γ saluran ganda. Larutan radioisotop 170 TmCl3 yang diperoleh mempunyai pH antara 1,5 – 2, terlihat jernih, mempunyai aktivitas jenis dan konsentrasi radioaktif masing-masing sebesar 1,9– 2,7 mCi/mg dan 17 - 24 mCi/mL pada saat end of irradiation (EOI). Larutan 170 TmCl3 mempunyai kemurnian radiokimia sebesar 99,14 ± 0,42% dan kemurnian radionuklida sebesar100%. Hasil uji stabilitas larutan radioisotop 170 TmCl3 terhadap waktu penyimpanan menunjukkan bahwa setelah disimpan selama stabil dengan kemurnian radiokimia sebesar 99,43 ± 0,56%