Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
Not a member yet
    279 research outputs found

    PENENTUAN KONDISI OPTIMUM PENANDAAN PARTIKEL HIDROKSIAPATIT DENGAN SEDIAAN RADIOISOTOP 175YbCl3 HASIL IRADIASI BAHAN SASARAN 174Yb DIPERKAYA

    Full text link
    PENENTUAN KONDISI OPTIMUM PENANDAAN PARTIKEL HIDROKSIAPATITDENGAN SEDIAAN RADIOISOTOP 175YbCl3 HASIL IRADIASI BAHAN SASARAN 174YbDIPERKAYA. Partikel hidroksiapatit (HA) dapat ditandai dengan radioisotop 175Yb untukradiofarmaka alternatif dalam radiosinovektomi pada sendi ukuran kecil. Pada penelitian inidilakukan penentuan kondisi optimum penandaan partikel HA dengan sediaan radioisotop175YbCl3 hasil iradiasi bahan sasaran 174Yb diperkaya 98,4%. Untuk mendapatkan senyawabertanda 175Yb-HA dengan efisiensi penandaan yang tinggi, beberapa parameter dalamreaksi penandaan divariasikan, yaitu jumlah partikel HA, pH penandaan, waktu inkubasi danjumlah Yb non aktif (pengemban). Senyawa 175Yb-HA yang diperoleh ditentukan kemurnianradiokimianya dengan kromatografi kertas dan elektroforesis kertas. Kondisi optimumpenandaan diperoleh menggunakan jumlah partikel HA 10 mg, penandaan pada pH 7, waktuinkubasi 30 menit pada temperatur kamar dan jumlah Yb non aktif (pengemban) sebanyak0,25 – 1,55 μmol. Aktivitas jenis 175Yb yang digunakan sebesar 200 – 300 mCi/mg sehingga1,55 μmol Yb dapat menghasilkan 175Yb-HA dengan aktivitas 50 - 75 mCi. Senyawa 175Yb-HAyang diperoleh memiliki efisiensi penandaan maksimum 99,30 ± 0,17%, kemurnian radiokimia99,28 ± 0,12% dan memiliki kestabilan yang tinggi. Senyawa 175Yb-HA masih stabil selamatiga minggu pada temperatur kamar dengan kemurnian radiokimia sebesar 98,92 ± 0,64%.Kata kunci : iterbium-175 (175Yb), diperkaya, hidroksiapatit, radiosinovektom

    CONTROLLING Aedes aegypti POPULATION AS DHF VECTOR WITH RADIATION BASEDSTERILE INSECT TECHNIQUE IN BANJARNEGARA REGENCY, CENTRAL JAVA

    Full text link
    The control program of dengue hemorrhagic fever (DHF) in Indonesia is still a problem due tothe incomplete integrated handling. Sterile insect technique (SIT) for Aedes aegypti as DHFvector was considered as a potential strategy for controling the DHF. A preliminary survey wascarried out to to determine the characteristic of A. aegypti population in the study site before theimplementation of SIT. The implementation of radiation based-SIT was carried out in Krandeganand Kutabanjar Villages of Banjarnegara Regency, Central Java which involved 99 houses. Onehundred gamma rays irradiated male mosquitoes were released to each house up to five times.The eggs, larvae and adult mosquitoes were collected using ovitrap and weekly observed. Theinitial population density of A. aegipty in the studied area was obtained to be 6 mosquitoes perhouse with the mean index of house was 15.86 % and the mean sterility of sterilizedmosquitoes was 79.16 %. The SIT effectively reduced A. aegipty population after the fifthrelease of irradiated mosquitoes into the houses. It can be assumed that the SIT was effectivein controlling DHF vector in the studied area, nevertheles, it will be more effective if it iscombined with other handling techniques

    PENGEMBANGAN DAN APLIKASI KLINIS KIT-KERING RADIOFARMAKA SIPROFLOKSASIN

    Full text link
    Radiofarmaka 99mTc-siprofloksasin tersedia dalam bentuk kit-cair yangdikemas terpisah dari radionuklidanya. Sediaan dalam bentuk ini mempunyai stabilitas yangrendah. Guna memenuhi kebutuhan radiofarmaka untuk diagnosis infeksi telah dilakukanmodifikasi pembuatan kit-kering radiofarmaka siprofloksasin menggunakan larutan infussiprofloksasin laktat yang beredar di pasaran dengan metode liofilisasi. Kit-kering siprofloksasinterdiri dari flakon A berisi 2 mg siprofloksasin laktat dan flakon B berisi 2 mg reduktor Sn-tartrat.Preparasi sediaan 99mTc-siprofloksasin dilakukan dengan menambahkan radioisotop 99mTc kedalam flakon A yang telah dilarutkan dalam akuabides, diikuti penambahan larutan reduktor Sntartratdari flakon B pada kondisi penandaan optimal. Kemurnian radiokimia 99mTc-siprofloksasinditentukan dengan metode kromatografi menggunakan fase diam ITLC-SG dengan fase`gerakaseton kering. Pengujian aktivitas biologis dan uptake 99mTc-siprofloksasin terhadapmikroorganisme dilakukan secara in-vitro. Selain itu, dilakukan juga pemeriksaan sterilitas,toksisitas dan evaluasi klinis terhadap volunter. Hasil penandaan kit-kering siprofloksasindengan radionuklida 99mTc diperoleh 99mTc-siprofloksasin dengan kemurnian radiokimia sebesar96,39 ± 2,01%. Pengujian aktivitas biologis terhadap bakteri S. aureus dan E. coli menunjukkanbahwa kit-kering siprofloksasin setelah proses penandaan dengan 99mTc tidak kehilangan dayabakterisidanya dan uptake maksimum terjadi pada waktu inkubasi 1 jam sebesar 83,06 ±10,95% dan 80,26 ± 8,58% masing-masing terhadap bakteri S. aureus dan E. coli. Kit-keringradiofarmaka siprofloksasin merupakan sediaan yang steril, vakum dan tidak toksik. Uji klinisradiofarmaka 99mTc-siprofloksasin terhadap volunter yang menderita abses hati dan korpustulang belakang menunjukkan adanya akumulasi radioaktivitas di daerah tersebut. Aplikasiklinis 99mTc-siprofloksasin dengan teknik pencitraan menggunakan kamera gammamenunjukkan bahwa radiofarmaka ini dapat digunakan untuk penyidik infeksi

    OPTIMALISASI PENANDAAN 99mTc-DTPA-KETOKONAZOL SEBAGAI RADIOFARMAKA UNTUK DETEKSI INFEKSI FUNGI

    Full text link
    Kemiripan gejala yang timbul akibatpenyakit infeksi, baik oleh bakteri, fungi atau virus pada stadium awal, mengakibatkanpengobatan seringkali tidak tepat. Diagnosis yang tepat sasaran dapat menjadikan pengobatanlebih efektif dan memiliki tingkat kesembuhan yang maksimal. Pada penelitian ini dilakukanpengembangan diagnosis infeksi fungi berbasis drug-targeting relationship antara radiofarmaka99mTc-DTPA-ketokonazol sebagai radioperunut dan fungi yang terdapat di dalam tubuh sebagaitargetnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sediaan radiofarmasi 99mTc-DTPAketokonazolmenggunakan teknik penandaan tidak langsung dengan ko-ligan atau bifunctionalagent sebagai penghubung antara radionuklida 99mTc dengan ketokonazol. Bifunctional agentyang digunakan dalam penelitian ini yaitu dietilen triamin pentaasetat (DTPA). Dari penelitian inidiperoleh kondisi optimal penandaan 99mTc-DTPA-ketokonazol, yaitu komposisi jumlahketokonazol 2 mg; DTPA 1,125 mg; SnCl2.2H2O 37,5 μg; pH 4,5 dan waktu inkubasi selama 5menit, sehingga diperoleh kemurnian radiokimia sebesar 97,77±0,33 %. Uji uptake in-vivo99mTc-DTPA-ketokonazol dilakukan terhadap Candida albicans yang diinfeksikan ke dalam pahakiri mencit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa rasio organ terinfeksi dan tidak terinfeksi(T/NT) setelah 2 jam injeksi sebesar 3,16±0,04 (n=5). Dari hasil yang diperoleh, dapatdisimpulkan bahwa 99mTc-DTPA-ketokonazol berhasil dibuat dan memenuhi syarat sebagairadiofarmaka

    RADIOAKTIVITAS IODIUM-126 SEBAGAI RADIONUKLIDA PENGOTOR DI KAMAR IRADIASI PADA PRODUKSI IODIUM-125

    Full text link
    Pusat Radioisotop dan Radiofarmaka telah berhasilmelakukan uji produksi iodium-125 menggunakan target xenon diperkaya. Namun, pengotorradionuklida iodium-126 mulai terdeteksi pada uji produksi ke-7. Radionuklida iodium-126terbentuk di dalam kamar iradiasi dan besarnya radioaktivitas di kamar iradiasi tidak dapatdiukur. Untuk itu telah dilakukan perhitungan radioaktivitas iodium-126 di dalam kamar iradiasi.Pada perhitungan ini, target xenon-124 diperkaya 82,4% diiradiasi selama 24 jam dengan fluksneutron 3x1013 n.s-1cm-2. Dari hasil perhitungan diketahui bahwa dari iradiasi selama 24 jamhanya dihasilkan iodium-126 sebanyak 11,7 mCi, namun, karena iodium-125 tertinggal di kamariradiasi dan mendapat paparan neutron, maka pada akhir operasi reaktor pada hari ke-12terbentuk sebesar 367 mCi. Jadi diketahui bahwa sebagian besar iodium-126 yang mengotoriproduk pada uji produksi ke-7 adalah iodium-126 dari uji produksi sebelumnya, karena iodium-126 yang terbentuk selama 24 jam iradiasi sangat kecil. Jumlah massa radioisotop iodium dariiodium-125 dan iodium-126 sebesar 0,33 mg pada saat pemindahan gas xenon ke kamariradiasi. Nilai ini dapat digunakan sebagai acuan dalam perawatan filter iodium

    PENANDAAN LIGAN ETILENDIAMINTETRAMETILEN FOSFONAT (EDTMP) DENGAN RADIONUKLIDA 175Yb

    Full text link
    Iterbium-175 (175Yb) merupakan salah satu radioisotop yang dapatdigunakan untuk terapi karena merupakan pemancar-β (T1/2 = 4,2 hari dengan Eβ (maks) sebesar480 keV). Di samping itu, radioisotop tersebut juga memancarkan sinar-γ dengan energi yangcukup ideal untuk penyidikan (imaging) selama terapi berlangsung (113 keV (1,9%), 282keV(3,1%) dan 396 keV (6,5%)). Ligan EDTMP dapat ditandai dengan radionuklida 175Ybsebagai radiofarmaka alternatif untuk penghilang rasa sakit (paliatif) akibat metastase kankerke tulang. Telah dilakukan penandaan ligan etilendiamintetrametilen fosfonat (EDTMP) denganradionuklida 175Yb. Untuk mendapatkan radiofarmaka 175Yb-EDTMP dengan efisiensipenandaan yang tinggi, maka dilakukan variasi beberapa parameter yang berpengaruh dalamreaksi penandaan, yaitu jumlah ligan EDTMP, pH penandaan, waktu inkubasi dan jumlahlarutan 175Yb. Radiofarmaka 175Yb-EDTMP yang diperoleh ditentukan efisiensi penandaanmelalui pemeriksaan kemurnian radiokimianya dengan cara kromatografi kertas danelektroforesis kertas. Kondisi optimum penandaan diperoleh pada pH 7 dengan jumlah liganEDTMP sebanyak 4 mg, larutan 175Yb sebanyak 100 μL (105 μg setara dengan 0,6 μmol) danwaktu inkubasi selama 30 menit pada temperatur kamar. Kompleks yang terbentuk memberikanefisiensi penandaan maksimum sebesar 98,81 ± 0,15%. Berdasarkan hasil yang diperoleh,ligan EDTMP dapat ditandai dengan radionuklida 175Yb dengan efisiensi penandaan yang tinggi(di atas 95%)

    COMPUTATIONAL PROGRAM OF ISODOSE AND TREATMENT PLANNING SYSTEM (TPS) FOR BRACHYTHERAPY USING 125I-SEED-SOURCES

    Full text link
    ABSTRACTCOMPUTATIONAL PROGRAM OF ISODOSE AND TREATMENT PLANNING SYSTEM(TPS) FOR BRACHYTHERAPY USING 125I-SEED-SOURCES. To reach the goals of abrachytherapy treatment, a guaranteed dose rate calculation as well as a treatment planningsystem (TPS) are absolutely needed. Therefore, a local computational program for isodose andTPS calculations has been developed. The program has been performed using Microsoft VisualBasic for Windows and its supporting tools based on dosimetry calculation models developedand updated by the Association of American Physicist in Medicine. The program was startedfrom the dose rate calculation of the of 125I-seed-source assumed as a line source with 0.3 cmof active length. This program can display two dimensions-isodose contour of the single or poly-125I-seeds presented in the directions of lateral, anterior and caudal by changing the polarcoordinate system (r, θ) into a Cartesian coordinate system (x,y). The dose rate at thedistances of 1, 2, 3 and 4 cm from the center point as well as the effect of single-seed-sourcerotation can also be calculated. The entered data as well as the resulting calculation and theisodose contour presentation can be saved, quickly traced and redisplayed at any timenecessarily. It was found that this computer program is in agree with the referenced data so it ishopefully able to assist physicians in the domestic implementation of 125I seeds implants forbrachytherapy.Keywords: 125I-seed-source, brachytherapy, isodose contour, treatment planning system,computer programABSTRAKPROGRAM KOMPUTASI ISODOSIS DAN TREATMENT PLANNING SYSTEM (TPS)UNTUK BRACHITERAPI MENGGUNAKAN 125I-SEED-SOURCES Dalam aplikasi teknikbrachiterapi, perhitungan dosis dan perencanaan terapi (treatment planning system, TPS)mutlak diperlukan, oleh karena itu program komputasi lokal untuk perhitungan isodosis dan TPSperlu dikembangkan. Program komputasi isodosis dibuat menggunakan Microsoft Visual Basicfor Windows beserta perangkat pendukungnya berdasar pada model perhitungan dosimetriyang dikembangkan dan diperbarui oleh The Association of American Physicist in Medicine.Program dimulai dengan perhitungan laju dosis 125I-seed-source yang diasumsikan sebagaisumber garis sepanjang 0,3 cm. Program ini dapat menampilkan kontur isodosis dua dimensidari 125I-seed-source yang disajikan dengan arah lateral, anterior dan caudal dengan mengubahsistem koordinat polar (r, θ) menjadi sistem koordinat Cartesian (x,y). Laju dosis pada jarak 1, 2,3 dan 4 cm dari titik pusat dan efek rotasi 125I-seed-source tunggal juga dapat dihitung. Datamasukan (input) dan hasil perhitungan serta tampilan kontur isodosis dapat disimpan, ditelusuridan ditampilkan kembali secara cepat setiap saat. Hasil perhitungan isodosis dengan programkomputer ini sesuai dengan data acuan sehingga diharapkan program ini dapat membantu paradokter dalam implementasi 125I-seed-source untuk brachiterapi.Kata kunci: 125I-seed-source, brachiterapi, kontur isodosis, treatment planning system, programkompute

    FORMULASI KIT HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA)-NANOSFER SEBAGAI RADIOFARMAKA UNTUK STUDI LIMFOSINTIGRAFI DI KEDOKTERAN NUKLIR

    Full text link
    ABSTRAKFORMULASI KIT HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA)-NANOSFER SEBAGAIRADIOFARMAKA UNTUK STUDI LIMFOSINTIGRAFI DI KEDOKTERAN NUKLIR. Untukkeperluan limfosintigrafi, formula kit HSA-nanosfer dirancang sedemikian sehingga setelahditandai dengan 99mTc menghasilkan radiofarmaka 99mTc-HSA-nanosfer dengan kemurnianradiokimia >90%. Jumlah SnCl2.2H2O sebagai reduktor, Na-pirofosfat sebagai ko-ligan, danHSA-nanosfer yang optimum, beserta cara dan waktu inkubasi, kondisi penandaan, danmetode sterilisasi dipelajari dan dievaluasi sehingga dapat digunakan untuk membuat kit HSAnanosferkering dan stabil selama penyimpanan. Pengaruh umur partikel HSA-nanosferterhadap efisiensi penandaan juga diteliti. Hasil menunjukkan bahwa SnCl2.2H2O sebanyak 250μg yang telah direaksikan dengan 1,875 mg natrium pirofosfat, merupakan jumlah yang ideal.Jumlah optimal partikel HSA-nanosfer terdispersi dalam air adalah 25-50 μL, dan volumesediaan diatur kurang dari 225 μL. Campuran diinkubasi pada 37 oC selama 15 menit dalamkeadaan vakum atau tidak vakum, kemudian ditambah larutan 99mTc-perteknetat dan diinkubasipada suhu kamar selama 15 menit. Volume akhir 99mTc-HSA-nanosfer sebanyak 525 μLmenghasilkan efisiensi penandaan lebih tinggi dari pada volume akhir 2 mL. Umur partikel HSAnanosferyang disimpan pada temperatur 4 oC sampai 2 bulan tidak berpengaruh nyataterhadap hasil penandaan. Metode sterilisasi yang sesuai untuk pembuatan kit ini adalahpenyaringan menggunakan millipore steril dengan ukuran pori 0,22 μm untuk masing-masinglarutan komponen kit sebelum proses pencampuran.Kata kunci: limfosintigrafi, HSA-nanosfer, 99mTc, kit-radiofarmakaABSTRACTFORMULATION OF HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA)-NANOSPHERES KIT ASRADIOPHARMACEUTICAL FOR LYMPHOSCINTIGRAPHY STUDY IN NUCLEARMEDICINE. In order to the application in lymphoscintigraphy, the HSA-nanospheres kit hasbeen designed and formulated to have radiochemical purity more than 90 % after it was labeledwith 99mTc. Total amount of SnCl2.2H2O as reducing agent, sodium pyrophosphate as coligandand HSA-nanospheres as primary ligand, as well as the labeling condition andsterilization method were studied and evaluated. The influence of the storage time of HSAnanosphereswas also studied. The use of 250 μg SnCl2.2H2O have been reacted with 1.875mg of sodium pyrophosphate was found to be an ideal number. The optimal amount of thewater-dispersed HSA-nanospheres was 25 - 50 μL and the total solution volume was set lessthan 225 μL. This mixture was incubated at 37 oC for 15 minutes in a vacuum or not and afterthe labeling process with 99mTc, it was incubated at room temperature for 15 minutes. The99mTc-HSA-nanopheres final volume of 525 μL gives a higher labeling efficiency than the finalvolume of 2 mL. The age of HSA-nanospheres stored at 4 oC did not significantly influence thelabeling results. The sterilization method suitable for this kit making is sterile filtration by amillipore of 0.22 μm pore size for each kit component solution before mixing process.Keywords: lymphoscintigraphy, HSA-nanospheres, 99mTc, radiopharmaceutical ki

    PERBANDINGAN ANALISIS UNSUR Cu, Cr DAN Fe DALAM CUPLIKAN BIOTA MENGGUNAKAN METODE AANC DAN SSA

    Full text link
    PERBANDINGAN ANALISIS UNSUR Cu, Cr DAN Fe DALAM CUPLIKAN BIOTAMENGGUNAKAN METODE AANC DAN SSA. Telah dilakukan pengendalian mutu metodeAnalisis Aktivasi Neutron Cepat (AANC) dan Spektroskopi Serapan Atom (SSA) melalui ujibanding analisis unsur Cu, Cr dan Fe dalam cuplikan biota untuk mengetahui bahwa metodemasih memenuhi syarat peruntukannya. Uji banding meliputi optimasi alat, homogenitas,validasi metode, pengukuran ketidakpastian, uji t dan uji F. Hasil uji banding kemudiandiaplikasikan untuk analisis cuplikan biota. Dari uji banding diperoleh nilai validitas metodeAANC dan SSA berkisar antara 92,69 % sampai 98,12 %. Hasil uji t menunjukkan tidak adaperbedaan yang signifikan pada rerata kadar unsur hasil uji. Demikian pula hasil uji Fmenunjukkan bahwa di antara metode AANC dan SSA tidak ada perbedaan kecermatan

    RADIOAKTIVITAS IODIUM-125 PADA UJI PRODUKSI MENGGUNAKAN TARGET XENON-124 DIPERKAYA

    Full text link
    Telah dilakukan uji produksi 125I menggunakan target xenondiperkaya dengan pengayaan 124Xe sebesar 82,4%. Target diiradiasi neutron di kamar iradiasidi posisi S1 pada reaktor G.A. Siwabessy. Setelah iradiasi selama 24 jam, gas xenon teriradiasidiluruhkan di dalam botol peluruhan selama 7 hari. Radioisotop 125I yang terbentuk di dalambotol peluruhan dilarutkan menggunakan NaOH 0,005N sebanyak 3 kali. Dari uji produksi ke-1sampai dengan ke-8 diperoleh radioaktivitas total 125I sebesar 9541, 9801, 11239, 9458, 3293,3735, 4693 dan 2744 mCi. Penurunan radioaktivitas total 125I disebabkan oleh penurunanjumlah gas target. Radioaktivitas 125I hasil pelarutan pertama bergantung pada volume larutanNaOH yang digunakan. Persentase rerata radioaktivitas 125I pada pelarutan pertama sebesar65,1%, 71,5% dan 82,6% dari radioaktivitas total untuk pelarutan menggunakan larutan NaOHdengan volume 3, 4 dan 5 mL. Konsentrasi radioaktivitas maksimum yang berhasil diproduksisebesar 3410 mCi/mL dari hasil pelarutan pertama dari uji produksi pertama

    144

    full texts

    279

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇