Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
Not a member yet
279 research outputs found
Sort by
PEMBUATAN RADIOISOTOP 64Cu BERBASIS REAKSI NUKLIR 64Ni (p,n) 64Cu : SIMULASI PREPARASI TARGET DAN PEMISAHAN RADIONUKLIDA
Dalam upayapenguasaan teknologi produksi radioisotop 64Cu berbasis reaksi nuklir 64Ni (p,n) 64Cu, targetnikel disiapkan melalui electroplating suasana asam larutan nikel klorida–asam borat danelectroplating suasana basa larutan nikel klorida–nikel sulfat pada permukaan perak kepingpenyangga target. Larutan simulasi matrik Ni(II)–Cu(II) dianggap sebagai larutan target nikelpasca iradiasi yang mengandung radiotembaga. Dalam percobaan ini iradiasi nikel tidakdilakukan, sedangkan radiotembaga dihasilkan dari aktivasi neutron pada target CuO.Pemisahan radiotembaga dilakukan dengan kromatografi kolom penukar anion pada kondisi Cusebagai komplek anion CuCl42– dan Ni dalam bentuk kation Ni2+. Hasil percobaan menunjukkanlarutan nikel suasana asam memberikan deposit electroplating nikel yang lebih memuaskandibandingkan dengan larutan nikel suasana basa. Dalam kondisi HCl 6 M spesi tembagaterindikasi dalam bentuk Cu2+ dan CuCl42–, sedangkan nikel dalam bentuk Ni2+. Dalam kondisiHCl 9 M, tembaga dalam bentuk CuCl42–, sedangkan nikel dalam bentuk Ni2+ dan NiCl42–.Kondisi pemisahan terbaik adalah dalam HCl 8 M yang mengkondisikan tembaga berada dalambentuk CuCl42–, sedangkan nikel dalam bentuk Ni2+. Selanjutnya CuCl42– yang tertahan di kolomdiubah menjadi Cu2+ dan dielusi dengan HCl 0,05 M. Pemeriksaan spektrometri-γ menunjukkanpuncak kuat pada energi 511 keV yang sesuai dengan energi γ-anihilasi radioisotop 64Cu danpuncak lemah pada 1346 keV sesuai dengan energi γ dari transisi energi internal 64C
PENETAPAN NILAI KANDIDAT IN-HOUSE REFERENCE MATERIAL (RM) ZrO2
Telahdilakukan kegiatan penelitian pembuatan dan penentuan nilai bahan acuan atau in-housereference material (RM) zirkonium oksida dengan mengacu pada standar ISO:35-2006. Bahanbaku kandidat RM adalah ZrO2 dari Merck seberat 4 kg yang dikeringkan pada suhu 90°Cselama 2×6 jam dalam ruangan tertutup. Selanjutnya sampel digerus dengan alu stainless steel(SS) hingga lolos ayakan berukuran ≤ 200 mesh, dihomogenkan dalam homogenizer selama3×6 jam agar diperoleh sampel yang halus, kering dan homogen. Uji kadar air, homogenitas,dan stabilitas sampel dilakukan masing-masing dengan metode gravimetri, XRF dan AAS.Serbuk kandidat RM ZrO2 kemudian dimasukkan ke dalam botol-botol polietilen masing-masingseberat 100 g. Selanjutnya sampel kandidat didistribusikan kepada 10 Laboratorium Pengujianyang telah terakreditasi untuk pengujian komposisi kandungan oksida dan hilang pijar (LOI)dengan berbagai metode analisis yang sudah tervalidasi seperti AAS, XRF, AAN, dan UV-Vis.Hasil uji kandungan parameter oksida dan hilang pijar dari berbagai laboratorium diolah denganmetode statistik. Dari data uji berbagai laboratorium tersebut diperoleh kadar oksida dan LOIdalam kandidat bahan standar zirkonium oksida yaitu ZrO2: 97,7334 ± 0,0016 %, HfO2: 1,7329± 0,0024 %, SiO2: 30,1224 ± 0,0053 %, Al2O3: 0,0245 ± 0,0015 %, TiO2: 0,0153 ± 0,0006 %,Fe2O3: 0,0068 ± 0,0005 %, CdO: 3,1798 ± 0,00006 ppm, dan LOI = 0,0217 ± 0,00022 %.Kata kunci: in-house reference material, ZrO2, ISO:35-200
KARAKTERISTIK KERAMIK MgAl2O4 UNTUK BAHAN BAKAR NUKLIR MATRIKS INERT (IMF) YANG DIBUAT DARI SERBUK HASIL HEM PADA SUHU SINTER 1500OC
Terdapatkecenderungan bahwa di masa depan plutonium dan aktinida lain yang berumur panjangsebagai hasil samping PLTN akan menimbulkan masalah. Untuk mengatasi hal ini diperlukanbahan bakar reaktor daya yang lebih efisien. Salah satunya adalah bahan bakar matriks inert(IMF). Bahan bakar ini terdiri dari keramik yang inert (terhadap neutron) sebagai matriks danbahan fisil seperti uranium dioksida yang terdispersi atau larut padat di dalam matriks sebagaibahan bakarnya. Salah satu karakteristik yang diperlukan dari keramik matriks inert adalahrapat massa yang tinggi. Serbuk Al2O3 dan MgO dengan komposisi 50-50, 45-55 dan 55-45dalam % mol digerus dengan alat gerus listrik selama 1 Jam dan ball mill (HEM, high energymilling) selama 50 Jam. Serbuk hasil gerus dipres dengan tekanan 4 ton/cm2. Pelet hasil pres(mentah) kemudian disinter pada suhu 1500oC selama 2 Jam. Rapat masa pelet mentah dansinter ditentukan melalui penimbangan dan pengukuran dimensi. Pelet sinter selanjutnyadianalisis dengan difraksi sinar-x (XRD) dan mikroskop elektron (SEM). Hasil XRDmemperlihatkan bahwa semua keramik yang dibuat mempunyai struktur kristal kubik spinel.Keramik dengan komposisi 50-50 hasil HEM dapat disintesis dengan baik pada suhu 1500oCtetapi keramik yang sama dari serbuk awal tidak dapat disintesis dengan baik. Rapat massakeramik komposisi 45-55 dan 55-45 lebih rendah dari pada rapat massa keramik komposisi 50-50 karena ternyata kelebihan MgO dan Al2O3 tidak membentuk larutan padat spinel. Padasemua keramik fase kedua teramati. Meskipun serbuk hasil HEM lebih reaktif dari pada serbukawal, namun untuk mendapatkan rapat massa yang lebih tinggi waktu HEM perlu ditambah
KORELASI ANTARA MIB-1, AgNOR DAN APOPTOSIS CASPASE-3 DENGAN RESPONS KEMORADIOTERAPI PADA KANKER SERVIK
Salah satu cara pengobatankanker servik adalah dengan kemoradioterapi melalui pemberian radioterapi dan kemoterapisecara bersamaan pada kanker servik stadium lanjut lokal. Respons kemoradioterapidipengaruhi oleh faktor biologis yaitu kinetika sel yang terdiri dari proliferasi dan kematian sel.Pada penelitian ini dipelajari korelasi antara biomarker proliferasi sel kanker, yaitu AgNOR, MIB-1, dan ekspresi apoptosis jalur caspase-3 dengan respons kemoradioterapi pada kanker servik.Dua puluh satu sediaan mikroskopik jaringan kanker servik yang diambil dari biopsi pasiensebelum menerima tindakan kemoradioterapi diberi pewarnaan AgNOR, sedangkan deteksiMIB-1 dan apoptosis caspase-3 dilakukan dengan teknik immunohistokimia. Setelah selesaimenerima kemoradioterapi dilakukan pengamatan respons klinik dengan cara pelvic control.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum kemoradioterapi tidak ditemukan korelasi nilaiAgNOR, MIB-1 dengan apoptosis (p>0,05). Proliferasi sel yang diamati dengan AgNOR danMIB-1 sebelum kemoradioterapi tidak menunjukkan adanya korelasi dengan respons jaringankanker setelah kemoradioterapi, namun ekspresi apoptosis menunjukkan korelasi positifdengan respons kemoradioterapi. Indeks apoptosis caspase-3 yang diperoleh dapat dijadikanbahan pertimbangan pada penjadwalan kemoradioterapi kanker servik
PERBANDINGAN TANGGAPAN DOSIMETER TERMOLUMINISENSI LiF:Mg,Ti DAN LiF:Mg,Cu,P TERHADAP DOSIS DALAM APLIKASI MEDIK
PERBANDINGAN TANGGAPAN DOSIMETER TERMOLUMINISENSI LiF:Mg,Ti DANLiF:Mg,Cu,P TERHADAP DOSIS DALAM APLIKASI MEDIK. Kemajuan peralatan medik telahmenyebabkan terjadinya peningkatan kebutuhan thermoluminescence dosimeter (TLD),khususnya dalam pemantauan dosis rendah. Selama ini, TLD LiF:Mg,Ti yang sangat sensitiftelah mendominasi pemakaian dosimeter di bidang medik. Akan tetapi, TLD LiF:Mg,Cu,P yanglebih sensitif dan biasa digunakan untuk pemantauan dosis personal dan lingkungan juga perludipertimbangkan untuk pengukuran dosis rendah dalam aplikasi medik. Pada penelitian ini,dilakukan penyinaran TLD LiF:Mg,Ti dan LiF:Mg,Cu,P dengan sumber 60Co pada jarak 1 meterdengan dosis masing-masing sebesar 100 mGy dan 10 mGy untuk mengetahui sebarantanggapan TLD. Selain itu, dilakukan juga penyinaran TLD LiF:Mg,Cu,P dengan dosis 5 mGymenggunakan pesawat sinar X. Tanggapan kedua jenis TLD terhadap dosis rendah dalamaplikasi medik dievaluasi pada pasien pemeriksaan kedokteran nuklir dan radiodiagnostik.Setiap TLD dibaca dengan alat TLD Reader Harshaw model 2000A/B. Tanggapan TLDLiF:Mg,Cu,P terhadap penyinaran dengan 60Co lebih baik dan homogen dibandingkan LiF:Mg,Ti.Besarnya deviasi tanggapan adalah 6,85% dan 9,42%, masing-masing untuk LiF:Mg,Cu,P danLiF:Mg,Ti. Pada dosis rendah, diperoleh bahwa sensitivitas LiF:Mg,Cu,P 23 kali lebih tinggi dariLiF:Mg,Ti. Dengan tingkat sensitivitas lebih tinggi dan deviasi tanggapan rendah, maka TLDLiF:Mg,Cu,P layak dipertimbangkan penggunaannya dalam aplikasi medik dengan dosis rendah
KOEFISIEN REAKTIVITAS TEMPERATUR BAHAN BAKAR REAKTOR KARTINI
Saatini pihak pengoperasi reaktor Kartini sedang mengajukan perpanjangan izin operasi reaktor keBadan Pengawas sehubungan izin operasi reaktor tersebut akan habis masa berlakunya padatahun 2010. Untuk mendukung evaluasi terhadap Laporan Analisis Keselamatan (LAK) yangdilampirkan di dalam pengajuan ini, unit pengkajian BAPETEN melakukan pengkajianindependen guna melakukan verifikasi terhadap nilai-nilai parameter yang terkait dengankeselamatan yang ada di dalam LAK, di mana aspek neutronik termasuk di dalamnya. Padaaspek ini dilakukan verifikasi terhadap nilai koefisien reaktivitas temperatur bahan bakar (αT)melalui perhitungan menggunakan paket program MCNP. Koefisien reaktivitas temperaturbahan bakar merupakan parameter yang penting karena memberikan umpan-balik reaktivitasterbesar pada reaktor jenis TRIGA dalam hal terjadinya perubahan suhu di teras reaktor. Dalamperhitungan ini diperoleh nilai αT= -1.108×10-4 Δρ/oC, atau 8% lebih rendah dari pada nilai yangtercantum di LAK, yakni αT= -1.20×10-4 Δρ/oC
PERBANDINGAN POLA BIODISTRIBUSI 99mTc-CTMP dan 99mTc-MDP PADA HEWAN UJI SEBAGAI RADIOFARMAKA PENYIDIK TULANG
1,4,8,11-tetraaza cyclotetradecyl-1,4,8,11-tetramethylene phosponic acid (CTMP) sebagai senyawa baru untuk penyidik tulangtelah berhasil disintesis di PTNBR-BATAN Bandung yang kemudian ditandai denganradioisotop 99mTc. Uji biodistribusi dari senyawa ini dilakukan pada mencit untuk mengetahui uptake-nya di tulang dan organ-organ yang lain. Pada penelitian ini dilakukan juga uji biodistribusiradiofarmaka 99mTc-MDP sebagai pembanding untuk mengevaluasi kehandalan radiofarmaka99mTc-CTMP. Hasil uji biodistribusi memperlihatkan up take radiofarmaka 99mTc-CTMP padatulang sebesar 3,57; 2,90; 4,14 dan 4,39 (%ID/g) masing-masing pada 1, 3, 5 dan 24 jam, hasilini masih lebih rendah dibandingkan up take radiofarmaka 99mTc-MDP pada tulang sebesar10,73; 10,12; 10,48; dan 5,95 (%ID/g) pada 1, 3, 5 dan 24 jam. Meskipun up take radiofarmaka99mTc-CTMP lebih rendah dibandingkan dengan 99mTc-MDP, radiofarmaka 99mTc-CTMPmemiliki stabilitas in vivo yang lebih baik dari radiofarmaka 99mTc-MDP sehingga memberikangambar pencitraan tulang yang lebih jelas dibandingkan dengan radiofarmaka 99mTc-MDP
PENGEMBANGAN HIDROGEL BERBASIS POLIVINIL PIROLIDON (PVP) HASIL IRADIASI BERKAS ELEKTRON SEBAGAI PLESTER PENURUN DEMAM
Telah dilakukanpengembangan hidrogel berbasis PVP sebagai plester penurun demam menggunakan teknikiradiasi berkas elektron. Hidrogel berbasis PVP dibuat dengan mengiradiasi campuran polimerPVP, PVA dan bahan tambahan lainnya dengan berbagai komposisi (formula I, II III dan IV)pada dosis 20 sampai 40 kGy. Pengujian yang dilakukan terhadap hidrogel yaitu sifat fisik,fraksi gel, kadar air, daya kelengketan dan waktu penurunan suhu air dari 40oC menjadi 37oC.Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada dosis iradiasi 20 sampai 40 kGy, hidrogelformula I mempunyai sifat fisik kurang baik yaitu rapuh, permukaan hidrogel berair danmeninggalkan residu pada kulit setelah hidrogel ditempelkan. Demikian juga dengan formula IVmempunyai sifat fisik seperti kaku, tidak elastis dan rapuh. Hidrogel formula II dan III pada dosis20 kGy mempunyai sifat fisik elastis dan agak rapuh, sedangkan pada dosis 30 kGymempunyai sifat fisik yang diinginkan seperti tidak meninggalkan residu pada kulit, liat,permukaan hidrogel tidak berair dan memberikan rasa nyaman saat digunakan. Hidrogelmenjadi sedikit kaku pada dosis 40 kGy. Fraksi gel bertambah dengan bertambahnya dosis dari20 kGy menjadi 30 kGy, selanjutnya penambahan dosis dari 30 kGy menjadi 40 kGy tidakmenyebabkan kenaikan yang bermakna terhadap fraksi gel. Pada dosis 20 kGy fraksi gelberkisar antara 83 – 87%, sedang pada dosis 30 dan 40 kGy fraksi gel berkisar antara 83-98%.Kadar air hidrogel bergantung pada konsentrasi polimer yang ada. Semakin besar konsentrasipolimer yang digunakan, semakin kecil kadar air hidrogel. Dosis iradiasi tidak berpengaruhsecara nyata pada kadar air hidrogel. Kadar air hidrogel berkisar antara 73 – 84%. Hasilpengujian terhadap daya lengket menunjukkan bahwa hidrogel formula II dan III dengan dosisiradiasi 30 dan 40 kGy mempunyai daya lengket 8,3 – 8,9 gf. Daya lengket hidrogel formula IIdan III setara dengan daya lengket hidrogel komersial (Bye Bye Fever). Hidrogel formula Imempunyai kemampuan penurunan suhu air dari 40oC menjadi 37oC lebih cepat dari padaformula II, III dan IV yaitu dalam waktu 11 menit. Hidrogel formula II dan III mempunyaikecepatan penurunan suhu air dari 40oC menjadi 37oC sebanding dengan hidrogel komersial(Bye Bye Fever) yaitu dalam waktu 12 menit. Hidrogel formula IV adalah yang paling lamamenurunkan suhu air yaitu sekitar 19 menit. Sebaliknya tanpa hidrogel (kontrol) penurunansuhu air dicapai dalam waktu sekitar 37 menit
KARAKTERISASI BaFe12O19 KOERSIVITAS TINGGI HASIL SINTESIS DENGAN METODE KOPRESIPITASI KIMIA
KARAKTERISASI BaFe12O19 KOERSIVITAS TINGGI HASIL SINTESIS DENGANMETODE KOPRESIPITASI KIMIA. Bahan magnet BaFe12O19 dengan koersivitas danmagnetisasi tinggi telah berhasil disintesis dengan metode kopresipitasi kimia. Tujuan penelitianini adalah untuk mendapatkan bahan magnet BaFe12O19 yang memiliki sifat magnet tinggidengan metode kopresipitasi kimia tanpa modifikasi dan tanpa pemberian surfaktan. PrekursorBaFe12O19 diperoleh dari campuran larutan Fe(NO3)3.9H2O dan Ba(NO3)2.6H2O denganperbandingan mol Fe3+/Ba2+ = 7,4. Proses kopresipitasi BaFe12O19 dilakukan pada suhu sekitar50 oC, menggunakan NaOH 1M, hingga dicapai larutan prekursor dengan pH 12. Hasilpengamatan menunjukkan bahwa prekursor BaFe12O19 setelah sintering 900 dan 1000 oCmembentuk sistem fase barium heksaferit, BaFe12O19. Nilai koersivitas intrinsik yang tinggi, Hci 5,0 kOe diperoleh dari prekursor BaFe12O19 setelah sintering 900oC selama 5 jam. Nilai Hciyang diperoleh dari penelitian ini jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai Hci produkkomersial yang hanya 1,7 kOe. Nilai Hci tinggi ini sangat erat kaitannya dengan ukuran kristalitBaFe12O19 yang sangat halus. Hal ini didukung oleh hasil pengamatan dengan TransmissionElectron Microscope (TEM) yang menunjukkan bahwa BaFe12O19 yang dihasilkan memilikiukuran partikel sekitar 200 nm. Dari hasil kegiatan penelitian ini dapat diperoleh bahan magnetBaFe12O19 koersivitas tinggi yang dapat diaplikasikan sebagai komponen pembangkit energi.Kata kunci : magnetisasi, koersivitas, heksaferit, kopresipitasi kimi
KARAKTERISTIK UNSUR PADA ABU DASAR DAN ABU TERBANG BATU BARA MENGGUNAKAN ANALISIS AKTIVASI NEUTRON INSTRUMENTAL
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan cerobong-cerobong industri yang menggunakan batu bara menghasilkan sisa pembakaran berupa limbah padat abu dasar (bottom ash) dan abu terbang (fly ash). Penentuan unsur pada limbah tersebut secara kualitatif dan kuantitatif merupakan langkah awal untuk mengevaluasi dampak terhadap lingkungan terkait dengan risiko kontaminasi lingkungan dan biologis. Pada kegiatan ini, dilakukan analisis unsur pada sampel abu dasar dan abu terbang batubara menggunakan teknik analisis aktivasi neutron instrumental(AANI). Sampel diiradiasi pada fasilitas rabbit sistem di reaktor G.A Siwabessy, dengan neutron fluks ~ 1013 n.cm-2.s-1, selanjutnya dicacah menggunakan detektor spektrometri gamma HPGe. Validasi metode dilakukan dengan menganalisis standard reference material (SRM) 1633b coal fly ash. dari National Institute of Standards and Technology (NIST). Beberapa unsur seperti Al, As, Ce, Co, Cr, Fe, K, La, Mn, Na, Sc, Sm, Ti dan V terdeteksi pada kedua sampel. Konsentrasi unsur toksik yang berdampak pada lingkungan seperti As dan Cr pada sampel abu dasar masing-masing sebesar 6,24 dan 137,4 mg/kg, adapun pada abu terbang masing-masing sebesar 6,37 dan 39,0 mg/kg. Konsentrasi As pada kedua sampel tersebut telah melebihi batas baku mutu yang ditetapkan dalam PP no.85 tahun 1999