Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
Not a member yet
    279 research outputs found

    KARAKTERISTIK KIMIA PAPARAN PARTIKULAT TERESPIRASI

    Full text link
    Partikulat terespirasiadalah partikulat dengan ukuran 2-5μm yang karena sifat aerodinamiknya dapat masuk kedalam saluran pernafasan dan terdeposit dalam paru-paru serta merusak alveoli sehinggamembahayakan kesehatan manusia. Dinas Kesehatan kota Bandung mencatat bahwa adakecenderungan peningkatan angka kejadian penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)setiap tahun di kota Bandung. Pengukuran PM10 pada periode tahun 2002-2005 yang dilakukanoleh BPLH Kota Bandung menunjukkan bahwa di beberapa lokasi ambang batas baku mutuharian untuk PM10 telah dilampaui. Penelitian ini mencoba untuk mengetahui paparan partikulatterespirasi pada masyarakat dengan melakukan karakterisasi unsur-unsur kimia yangterkandung di dalamnya sebagai bentuk identifikasi bahaya. Penelitian dilakukan di empatkawasan di kota Bandung. Pengambilan sampel partikulat terespirasi dilakukan menggunakanpersonal sampler. Karakterisasi kimia dilakukan menggunakan metode analisis aktivasi neutron,spektrometri serapan atom dan reflektansi. Hasil identifikasi dan karakterisasi tersebutdigunakan untuk menghitung nilai IEC(Inhalation Exposure Concentration) sebagai estimasipaparan partikulat terespirasi yang terhirup selama kurun waktu tertentu. Tahap tersebutmerupakan tahap awal dari studi epidemiologi yang mengkaitkan kejadian penyakit saluranpernafasan dengan hasil identifikasi dan karakterisasi partikulat terespirasi. Unsur-unsur kimiayang diidentifikasi adalah unsur Br, Mn, Al, I, V, Cl, Ti, Na, Hg, Pb, dan black carbon (BC). Hasilpenelitian ini menunjukkan bahwa partikulat terespirasi yang dihirup oleh penduduk sebagaireseptor di kawasan Tegalega, Aria Graha, Dago Pakar, dan Cisaranten Wetan relatif lebihtinggi dibandingkan dengan konsentrasi PM2,5 udara ambien di lokasi yang sama. Kawasanindustri Cisaranten Wetan mempunyai konsentrasi tertinggi untuk sebagian besar unsur-unsuryang terkandung dalam partikulat terespirasi

    FENOMENA PERPINDAHAN PANAS PENDIDIHAN BERDASARKAN PERISTIWA LOCA DAN KECELAKAAN PARAH

    Full text link
    Penelitian dan pengembangan berdasarkan kejadianpada kasus kecelakaan PLTN TMI-2 telah banyak mengarah pada penelitian terkait performateras dan bejananya. Penelitian yang paling banyak dilakukan mengarah pada fenomenaperpindahan panas pendidihan, semenjak teras reaktor mengalami kehilangan pendinginan(post-LOCA) hingga kecelakaan parah (Severe Accident), yaitu lelehnya teras. Studiperpindahan panas pendidihan telah dilakukan melalui simulasi proses penggenangan terasdari bawah dan pendinginan pada celah sempit. Hasil penelitian secara eksperimental yangdilakukan BATAN terkait LOCA dan kecelakaan parah memberikan gambaran yang jelasbagaimana fenomena perpindahan panas pendidihan terjadi selama sekuen kecelakaan padareaktor nuklir, khususnya kecelakaan TMI-2. Pemetaan perpindahan panas selama pendidihan,berdasarkan data temperatur transien dibuat dalam bentuk kurva pendidihan yangmenunjukkan perbedaan fluks kalor pada tiga rejim pendidihan. Simulasi eksperimenal LOCAmenunjukkan nilai CHF (67,31 kW/m2) yang lebih kecil dibandingkan nilai CHF (262 kW/m2)untuk peristiwa kecelakaan parah

    SIFAT MAGNETORESISTANCE BAHAN KOMPOSIT Fe0,2C0,8 SEBELUM DAN SESUDAH IRADIASI SINAR GAMMA PADA DOSIS 250 kGy

    Full text link
    Telah dilakukan penelitianterhadap sifat magnetoresistance bahan komposit Fe0,2C0,8 sebelum dan sesudah iradiasidengan sinar gamma pada dosis 250 kGy. Bahan komposit Fe0,2C0,8 dibuat dari campuranserbuk Fe dan serbuk C, dengan rasio komposisi 20% berat Fe dan 80% berat C. Padapenelitian ini, diamati perubahan sifat magnetoresistance bahan komposit Fe0,2C0,8 setelahdiiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 250 kGy. Pengujian struktur Fe0,2C0,8 dilakukandengan difraktometer sinar-X (XRD) dan karakterisasi sifat magnetoresistance dilakukandengan metode Four Point Probe. Hasil pengujian dengan XRD menunjukkan penurunanintensitas puncak difraksi dari fasa Fe dan C oleh radiasi sinar gamma, sedangkan hasilpengukuran magnetoresistance menunjukkan peningkatan nilai magnetoresistance bahantersebut. Peningkatan nilai ini mencapai 5 kali pada medan magnet 7,5 kOe setelah diiradiasidengan sinar gamma. Hal ini disebabkan oleh adanya cacat struktur yang terbentuk dalambahan komposit Fe0,2C0,8 akibat interaksi sinar gamma dengan bahan komposit tersebut yangmenimbulkan perubahan intensitas interaksi magnetik di dalam bahan ini

    PENGARUH IRADIASI GAMMA PADA AKTIVITAS SITOTOKSIK DAGING BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.)

    Full text link
    Iradiasi gamma telah digunakanoleh industri obat herbal untuk pengawetan simplisia tanaman obat, tetapi pengaruh iradiasiterhadap khasiatnya belum diteliti. Tujuan penelitian adalah memperoleh dosis iradiasi optimaluntuk pengawetan simplisia daging buah mahkota dewa tanpa merusak khasiatnya. Telahdilakukan iradiasi gamma terhadap simplisia daging buah kering mahkota dewa pada variasidosis 0; 5; 7,5 ; 10; 15; 20 kGy. Cemaran mikroba diuji dengan metode yang mengacu padaSNI, yang menunjukkan bahwa dosis 5 kGy telah dapat membunuh seluruh mikroba. Masingmasingsampel dimaserasi dengan etanol, lalu ekstrak yang diperoleh difraksinasi dengankromatografi kolom, diperoleh 8 fraksi. Uji sitotoksisitas fraksi-fraksi terhadap sel leukemiaL1210 menunjukkan bahwa Fr.3 merupakan fraksi paling sitotoksik. Untuk menentukan dosisiradiasi optimal dalam menghambat pertumbuhan serta membunuh semua bakteri dankapang/khamir pada simplisia daging buah mahkota dewa tanpa menurunkan aktivitassitotoksik, dilakukan analisis kromatografi lapis tipis (KLT) dan kromatografi cair kinerja tinggi(KCKT) terhadap Fr.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iradiasi dengan dosis > 5 kGy padasimplisia daging buah mahkota dewa dapat menghambat pertumbuhan dan membunuh semuabakteri serta kapang khamir yang ada tanpa menurunkan aktivitas sitotoksik ekstrak etanolsecara nyata terhadap sel leukemia L1210. Penurunan aktivitas sitotoksik ekstrak etanolterhadap sel leukemia L1210 secara nyata terjadi setelah iradiasi pada dosis > 10 kGy. Padadosis 10 kGy, aktivitas sitotoksik sudah terlihat menurun meskipun belum melampaui batassuatu fraksi dinyatakan tidak aktif dan hasil analisis profil kromatogram KLT menunjukkanbahwa Fr. 3 sedikitnya mengandung 10 komponen. Iradiasi sampai dengan dosis 20 kGymengakibatkan intensitas salah satu puncak mayor menurun, dan penurunannya sebandingdengan besarnya dosis. Dosis 5 sampai 10 kGy merupakan dosis optimum untuk tujuanpengawetan tanpa merusak aktivitas sitotoksiknya

    KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA KIT KERING KANAMYCIN

    Full text link
    KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA KIT KERING KANAMYCIN. Kanamycin merupakanantibiotik yang berspektrum luas dan biasa digunakan untuk pengobatan infeksi jika antibiotikyang kurang kuat seperti penisilin tidak dapat diberikan. Pada penelitian ini dilakukan pengujiansifat fisikokimia 99mTc-kanamycin yang dibuat dalam bentuk kit kering kanamycin untukmenjamin aplikasinya pada manusia. Kit diagnostik kanamycin tersedia dalam bentuk kit keringyang dikemas dalam satu flakon yang bersisi ligan kanamycin, co-ligan pirofosfat dan reduktorSnCl2. Pengujian kemurnian radiokimia dilakukan dengan cara instant kromatografi lapis tipis(ITLC-SG) menggunakan NaOH 0,5 N sebagai fase gerak dan kromatografi kertas menaikmenggunakan kertas whatman 3 dengan aseton sebagai fase gerak. Ikatan protein plasmadiuji secara in vitro dengan metode pengendapan menggunakan larutan asam trikloro asetat(TCA) 5% dan lipofilisitas (log P) 99mTc-kanamycin ditentukan dengan menentukan koefisienpartisinya dalam pelarut organik-air. Disamping itu juga dilakukan pengujian pengaruh besarnyaradioaktivitas dan volume larutan Na99mTcO4 terhadap kemurnian radiokimia 99mTc-kanamycin.Dari percobaan ini diperoleh sifat fisikokimia kit kering kanamycin yaitu hidrofil, 59,54 % sediaanberikatan dengan plasma, kemurnian radiokimianya > 95%, volume akhir sediaan 2mL danakan stabil hingga 2 jam setelah penambahan 99mTc dengan radioaktivitas <3 mCi.Kata kunci : kit-kering, karakteristik fisikokimia, kanamycin,99mT

    KARAKTERISTIK RADIOFARMAKA 99mTc-GLUTATION

    Full text link
    ABSTRAKKARAKTERISTIK RADIOFARMAKA 99mTc-GLUTATION. Senyawa bertandateknesium-99m-glutation (99mTc-GSH) merupakan radiofarmaka yang digunakan dalam bidangkedokteran nuklir untuk diagnosis kanker dengan metode pencitraan. Karakteristik fisiko-kimiadan biologis suatu radiofarmaka memegang peranan penting dalam penyebaran sertapenimbunannya di dalam tubuh. Oleh karena itu, untuk menjamin keberhasilan penggunaanradiofarmaka perlu dilakukan pengujian sifat fisiko-kimia dan biologisnya. Pengujian kemurnianradiokimia dilakukan dengan kromatografi lapis tipis (TLC-SG) menggunakan aseton kering danNaCL 0,9% sebagai fase gerak. Muatan 99mTc-GSH ditentukan dengan metode elektroforesisdan lipofilisitasnya (P) diketahui dengan menentukan koefisien partisinya dalam pelarut organikair.Ikatan protein plasma ditentukan secara in-vitro dengan metode pengendapanmenggunakan larutan asam trikloro asetat (TCA) 5%. Di samping itu, dilakukan juga pengujianpengaruh besarnya radioaktivitas 99mTc terhadap stabilitas 99mTc-GSH serta stabilitas di dalamplasma secara in-vitro. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa radiofarmaka 99mTc-GSHmempunyai kemurnian radiokimia 99,08 ± 0,26%; tidak bermuatan listrik (netral); lipofilisitas =0,03 ± 0,002; ikatan protein plasma sebesar 30,31 ± 0,04%. Penggunaan larutan Na99mTcO4sampai mencapai konsentrasi radioaktivitas 21 mCi/2 mL menghasilkan radiofarmaka 99mTc-GSH yang tetap stabil hingga 5 jam dengan kemurnian radiokimia ≥ 95%. Uji stabilitas 99mTc-GSH dalam plasma secara in-vitro menunjukkan bahwa kemurnian radiokimia menurun dengancepat pada penyimpanan satu jam pertama, yaitu sebesar 63,41± 4,86% dan kemurnianradiokimia antara 55 - 57 % bertahan hingga 5 jam penyimpanan.Kata kunci : karakteristik, radiofarmaka, 99mTc, glutation, kankerABSTRACTCHARACTERISTIC OF 99mTc-GLUTATHIONE RADIOPHARMACEUTICAL.Technetium-99m glutathione labelled compound is a radiopharmaceutical which is used innuclear medicine for cancer diagnoses by imaging method. The distribution and accumulation ofradiopharmaceutical in the body depend on its physicochemical and biological characteristic.Therefore, the determination of its characteristic was carried out in order to assure the succesfulutilization of this radiopharmaceutical. The radiochemical purity was determined with thin layerchromatography (TLC-SG) using dried aceton and 0.9% of NaCl solution as a mobile phase.The charge of 99mTc-GSH was tested by electrophoresis method and its lipophilicity (P) wasobtained by determination of octanol-water partition. The plasma binding protein of thisradiopharmaceutical was in-vitro investigated with precipitation method using 5% of trichloroacetic acid solution. Beside that, studies on the effect of 99mTc radioactivity to the stability of99mTc-GSH and its stability in plasma has been in-vitro carried out. From the experiment it wasobtained that 99mTc-GSH has 99.08 ± 0.26% of radiochemical purity; neutral (no charge); thelipophilicity (P) = 0.03 ± 0.002; the plasma binding protein of 30.31 ± 0.04%. Utilization of 99mTcradioactivity concentration up to 21 mCi/2 mL resulted 99mTc-GSH radiopharmaceutical whichwas remained stable up to 5 hours with ≥ 95% of radiochemical purity. In-vitro stability test of99mTc-GSH in plasma indicated that in the first hour of storage, the radiochemical puritydrastically decreased and until 5 hours of storage, its radiochemical purity did not changesignificantly, that was about 50%.Keywords: characteristic, radiopharmaceutical, 99mTc, glutathione, cance

    SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS RADIOLANTANIDA LUTESIUM-177 (177Lu) - DI-n-BUTIL DITIOKARBAMAT UNTUK RADIOPERUNUT DI INDUSTRI

    Full text link
    SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS RADIOLANTANIDA 177Lu-DI-n-BUTILDITIOKARBAMAT UNTUK RADIOPERUNUT DI INDUSTRI. Penggunaanradioisotop unsur tanah jarang atau lantanida dengan umur paro pendek menjadi perhatian dibidang industri, khususnya radioisotop pemancar gamma energi rendah. Radioisotop lutesium-177 (177Lu) mempunyai umur paro 6,7 hari, pemancar gamma dengan energi maksimum 113keV (6,4%) dan 208 keV (11%) yang cocok digunakan untuk perunut radioaktif di bidangindustri. Sintesis senyawa kompleks menggunakan ligan golongan ditiokarbamat (-NC(=S)-S-)dengan suatu ion logam lantanida akan membentuk senyawa kompleks khelat yang netraldengan kemampuan mengikat logam yang kuat. Pada penelitian ini telah dilakukan sintesisdan karakterisasi senyawa 177Lu-di-n-butilditiokarbamat untuk tujuan aplikasi teknik nuklirsebagai radioperunut di bidang industri. Metode sintesis didasarkan pada pembentukankompleks antara ion logam 177Lu dengan ligan di-n-butilditiokarbamat secara stoikiometriperbandingan mol dan lingkungan pH reaksi optimum. Hasil sintesis dan karakterisasimemperlihatkan kondisi optimum diperoleh pada perbandingan mol 1 : 6, pH 5, senyawakompleks berbentuk kristal berwarna putih, larut dalam pelarut asam organik dan titik leleh diatas 350oC. Spektrum UV-Vis memberikan serapan yang spesifik di daerah panjang gelombangmaksimum 244,8 nm. Spektrum inframerah menunjukkan adanya vibrasi ulur antara logam –ligan (Lu – S) pada puncak serapan di daerah bilangan gelombang νmax.KBr 950 cm-1.Kromatogram kertas menunjukkan migrasi senyawa kompleks 177Lu-di-n-butilditiokarbamatdengan harga Rf 0,87 dan kemurnian radiokimia 97,10%. Hasil penelitian memberikankesimpulan bahwa senyawa 177Lu-di-n-butilditiokarbamat dapat disintesis dan bisa digunakansebagai sediaan radioperunut untuk industri

    KARAKTERISTIK FISIKO-KIMIA RADIOFARMAKA 99mTc-HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA)-NANOSFER

    Full text link
    Metode lymphoscintigraphy (limfosintigrafi) adalah metode diagnosis yang dilakukan dengan menyuntikkan sediaan radiofarmasi yang berbentuk nanokoloid dengan ukuran ideal 100-200 nm, bertanda radionuklida teknesium-99m (99mTc) secara intradermal,  subkutan atau peritumoral. Pergerakan radiofarmaka tersebut dideteksi dari luar tubuh dengan kamera gamma atau probe khusus untuk limfosintigrafi yang dilakukan secara paralel dengan pembedahan tumor/kanker terutama kanker payudara (breast cancer). Tahun 2006 dan 2007 telah berhasil diteliti  pembuatan sediaan 99mTc-HSA-nanosfer yang merupakan salah satu sediaan nanokoloid yang bersifat biodegredable dan bioavailable. Pada tahun 2008 dipelajari karakteristik fisiko-kimianya, meliputi: kemurnian radiokimia, pH sediaan, lipofilisitas, besarnya ikatan dengan protein plasma, muatan listrik, kestabilan  pada penyimpanan pada suhu tertentu dan kestabilan plasmatiknya. Hasilnya menunjukkan bahwa radiofarmaka 99mTc-HSA-nanosfer mempunyai kemurnian radiokimia 92,1± 2,6%, pH sediaan 6,5–7, angka lipofilisitasnya 0,127±0,03, ikatan dengan protein plasma 89,6 ± 1,2% dan mempunyai muatan listrik netral. Setelah 30 menit disimpan  pada temperatur kamar kemurnian radiokimianya  turun menjadi 71%, sedangkan apabila disimpan pada temperatur 4oC (lemari es) sampai satu jam kemurnian radiokimianya masih > 90%. Kestabilan plasmatik yang ditentukan secara in-vitro menunjukkan bahwa kemurnian radiokimia turun secara drastis, dimulai dari 30 menit kemudian 1 jam, yaitu sebesar 61,8 % dan 55,9%, tetapi pada 2, 3 dan sampai 4 jam berikutnya angka ini tidak berubah signifikan  yaitu 57,8%, 51,2%, 52% dan setelah 24 jam menjadi 8,2%

    CHARACTERISTICS OF ZrO2 ADDED-MgAl2O4 CERAMICS FOR MATRIX OF INERT MATRIX NUCLEAR FUEL (IMF)

    Full text link
    CHARACTERISTICS OF ZrO2 ADDED-MgAl2O4 CERAMICS FOR MATRIX OF INERTMATRIX NUCLEAR FUEL (IMF). Some ZrO2 added-MgAl2O4 ceramics for inert matrix of inertmatrix nuclear fuel (IMF) had been fabricated from powders prepared using precipitationmethod. Effect of ZrO2 addition on crystal structure, microstructure and mechanical properties ofthe ZrO2 added-MgAl2O4 ceramics was studied. The ceramics were prepared by mixing ZrO2,MgO and Al2O3 followed by pressing and sintering. The concentrations of ZrO2 additive were 0,5, 10 and 15 mole %. The mixed powder was pressed into green pellets with pressure of4 ton/cm2. The green pellets were sintered at 1600 oC for 2 hours in air. The sintered pelletswere evaluated visually. For microstructure examination, the fractured samples were examinedusing a scanning electron microscope (SEM). Crystal structure of the samples was analyzedusing x-ray diffraction (XRD). Hardness and fracture toughness of the sintered pellets weredetermined using microindentation method with aid of a Vickers microhardness tester fromZwick. It was known that the sintered pellets were visually good. The XRD data showed that theceramics crystallized in spinel cubic with second phase of ZrO2.. The hardness and fracturetoughness of the ceramics increased with the increase of ZrO2 concentration

    RESPONS HEMATOPOITIK MENCIT YANG DIINFEKSI DENGAN Plasmodium berghei STADIUM ERITROSITIK IRADIASI GAMMA

    Full text link
    RESPONS HEMATOPOITIK MENCIT YANG DIINFEKSI DENGAN Plasmodiumberghei STADIUM ERITROSITIK IRADIASI GAMMA. Salah satu strategi untuk mengontrolpenyakit malaria adalah pengembangan vaksin melalui pelemahan parasit Plasmodium bergheidengan iradiasi gamma. Pada penelitian ini, P. berghei yang diiradiasi gamma dan yang tidakdiiradiasi disuntikkan secara peritoneal pada mencit untuk mempelajari respons hematopoitik.Respons hematopoitik ditentukan melalui persen parasitemia, jumlah eritrosit, leukosit, limfosit,dan monosit setiap 2 hari sekali selama 14 hari. Berat organ limpa dan hati mencit diukursetiap 3 hari sesudah infeksi. Mencit yang diinfeksi dengan parasit yang diiradiasi memilikiperiode prepaten 5 hari dengan parasitemia rendah dan jumlah eritrosit mengalami sedikitpenurunan. Jumlah leukosit naik hampir dua kali dari konsentrasi awal, dan jumlah limfosit sertamonosit juga mengalami kenaikan. Mencit yang diinfeksi dengan P. berghei tanpa iradiasimemiliki periode prepaten 2 hari dengan parasitemia meningkat, jumlah eritrosit mengalamipenurunan hingga 75%, dan jumlah leukosit tidak mengalami peningkatan. Limpa maupun hatimencit yang diinfeksi dengan P. berghei yang diiradiasi mengalami sedikit kenaikan berat,sedangkan pada mencit yang diinfeksi dengan P. berghei tanpa iradiasi terjadi kenaikan yangsignifikan. Peningkatan jumlah leukosit, limfosit, monosit, dan rendahnya parasitemia padamencit yang diinfeksi P. berghei yang diiradiasi menunjukkan terjadinya respons imun padamencit

    144

    full texts

    279

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇