Jurnal Ilmiah Visi
Not a member yet
    373 research outputs found

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PROSES SELF-DIRECTED LEARNING WANITA KARIR DI KOTA TASIKMALAYA: FACTORS AFFECTING THE SELF-DIRECTED LEARNING PROCESS OF CAREER WOMEN IN TASIKMALAYA CITY

    Full text link
    Modernisasi dan globalisasi mengharuskan wanita karir mampu membagi peran baik dalam urusan keluarga maupun dalam karirnya. Upaya yang dapat dilakukan oleh wanita karir guna menghadapi berbagai perubahan yang terjadi salah satunya yakni belajar mandiri. Belajar mandiri atau dikenal dengan self-directed learning (SDL) merupakan suatu proses dimana individu mengambil inisiatif dengan atau tanpa bantuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan belajarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan dan mendeskripsikan pengaruh dimensi person dan konteks terhadap dimensi proses belajar mandiri pada wanita karir. Penelitian ini menggunakan metode survei melalui pendekatan kuantitatif dengan populasi sebanyak 4024 wanita karir dengan sampel 100 orang (α=0,1) yang diambil secara simple random sampling di sepuluh Kecamatan di Kota Tasikmalaya. Penelitian ini dilakukan pada Bulan April hingga Oktober 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa person dan konteks berpengaruh sebesar 65,8% terhadap proses belajar mandiri wanita karir di Kota Tasikmalaya. Dukungan Konteks pada proses belajar mandiri lebih tinggi pengaruhnya dibandingkan dengan kemampuan personal wanita karir. Wanita karir yang memiliki kemampuan personal yang bagus jika didukung oleh konteks yang memadai akan membuat proses belajar mandiri wanita karir optimal dalam meningkatkan profesionalisme kerja dan ketahanan keluarganya. Dukungan konteks ini khususnya dukungan keluarga, kebijakan organisasi, dan kebijakan pemerintah. Rekomendasi atas penelitian ini yakni: a) perlu adanya dukungan dan kerjasama dari pihak keluarga, instansi dan pemerintah dalam memfasilitasi proses belajar mandiri yang dilakukan oleh wanita karir; b) perlu adanya penataan serius terkait kebijakan instansi dan pemerintah yang mendukung peran wanita karir sebagai pekerja maupun sebagai ibu dan istri

    PENGEMBANGAN MODEL “TEKNIK IMITASI” SEBAGAI TERAPI DASAR UNTUK ANAK USIA DINI DENGAN AUTISME: THE DEVELOPMENT OF THE "IMITATION TECHNIQUE" MODEL AS A BASIC THERAPY FOR CHILDREN WITH AUTISM

    Full text link
    Prevalensi anak dengan gangguan autisme di Indonesia peningkatannya semakin tajam. Namun sampai sekarang belum ada secara khusus model terapi dasar yang melatih anak autis yang mempunyai permasalahan tidak dapat mematuhi, meniru, dan mengikuti perintah sejak awal diagnosa. Akibatnya berbagai bentuk terapi yang diberikan kepada anak tersebut kurang optimal. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model terapi untuk anak dengan autisme dalam mematuhi, meniru, dan mengikuti perintah. Model terapi tersebut dinamakan “teknik imitasi” yang bertujuan untuk membantu anak autis dalam belajar mematuhi, meniru, dan mengikuti instruksi yang diberikan oleh terapis. Metode penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan. Pelaksanaan penelitian dilakukan di Kota Depok pada bulan Oktober 2018 – Januari 2019. Hasil ujicoba menunjukkan bahwa model terapi teknik imitasi tepat digunakan sebagai terapi dasar untuk anak usia dini dengan autisme dengan permasalahan tidak dapat mematuhi, meniru, dan mengikuti perintah. Hal ini karena setelah dilakukan ujicoba permasalahan tersebut dapat diatasi. Penelitian ini menyarankan kepada orang tua dan terapis anak autis untuk dapat mencoba teknik imitasi ini sebagai terapi dasar atau pertama sebelum anak mengikuti terapi metode lainnya

    STRATEGI PEMBELAJARAN CHARACTER ACTIVITY CARD (CAC) SEBAGAI PENGEMBANGAN PERILAKU BERKARAKTER PESERTA DIDIK DI PAUD HARAPAN BUNDA PASAMAN BARAT: CHARACTER ACTIVITY CARD (CAC) LEARNING STRATEGY IN DEVELOPING CHARACTER BEHAVIOR OF CHILDREN IN HARAPAN BUNDA KINDERGARTEN IN PASAMAN BARAT

    No full text
    Pendidikan karakter merupakan pembelajaran yang diutamakan dalam era Nawacita. Character Activity Card (CAC) adalah salah satu contoh strategi pembelajaran bagi anak usia dini bertujuan untuk menanamkan perilaku berkarakter. Dalam artikel ini penerapan CAC pada salah satu taman kanak-kanak di Sumatera Barat dijadikan sebagai subjek penelitian. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan teknik deskriptif interpretif yang dilakukan untuk menggali dan menginterpretasikan informasi yang berhubungan erat dengan perilaku berkarakter yang dilakukan di Taman kanak-kanak Hamparan Bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter dilakukan sejak anak mulai memasuki kelas setiap hari di Hamparan Bunga. Guru menanamkan nilai-nilai agama dan mengarahkan anak memilih bentuk perilaku karakter yang ada di CAC. Selanjutnya guru mengulang kembali perilaku karakter yang telah dilakukan anak, melalui sebuah cerita dalam tema pembelajaran inti di dalam kelas dan meminta anak mengulang dan menyebutkan perilaku berkarakter setelah selesai pembelajaran inti

    STRATEGI PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN BERBASIS PARTISIPASI UNTUK PEMBERDAYAAN WARGA BELAJAR PAKET C : PARTICIPATORY-BASED ENTREPRENEURSHIP TRAINING STRATEGY FOR EMPOWERMENT OF THE PAKET C LEARNING COMMUNITY MEMBER

    Full text link
    Latar belakang penelitian ini adalah; rendahnya sikap, pengetahuan, dan keterampilan fungsional warga belajar Paket C dalam menjalankan, mempertahankan, dan menumbuhkembangkan usahanya, rendahnya kemampuan mengakses permodalan ke beberapa bank, serta rendahnya pengetahuan dan keterampilan menerapkan teknologi. Penelitian ini berfokus pada strategi pelatihan kewirausahaan berbasis partisipatif untuk pemberdayaan warga belajar Paket C. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan data tentang implementasi dan dampak pelatihan kewirausahaan untuk pemberdayaan warga belajar Paket C. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif metode studi kasus. Penelitian dilaksanakan di PKBM Ummul Yatama Kabupaten Karawang pada bulan Juli sampai dengan Desember 2019. Subyek penelitian terdiri dari pengurus, pelatih dan warga belajar Paket C. Data penelitian dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa implementasi pelatihan kewirausahaan pengolahan kerupuk kerang bagi warga belajar Paket C dimulai melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Pada tahap perencanaan pelatihan kewirauasahaan dilakukan identifikasi kebutuhan belajar, perumusan tujuan pelatihan, dan penyusunan program pelatihan. Pada pelaksanaan pelatihan warga belajar Paket C diberikan materi teori dan praktek kewirausahaan. Pelaksanaan pelatihan dikolaborasikan di dalam dan luar lingkungan PKBM, mitra usaha, atau di lingkungan kerja warga belajar. Penilaian pelatihan kewirausahaan dilakukan melalui lembar observasi untuk mengevaluasi kehadiran jumlah warga belajar, kuantitas dan kualitas produksi hasil usaha pengolahan kerupuk kerang, jumlah barang yang dipasarkan, jumlah pendapatan kelompok usaha, dan besar pendapatan warga belajar Paket C. Dampak pelatihan kewirausahaan adalah meningkatnya pendapatan dan pemberdayaan warga belajar Paket C. Saran-saran yang dapat diberikan; ketua PKBM memberikan akses yang lebih luas untuk memberikan bantuan permodalan, meningkatkan penyaluran hasil produksi dan memberikan pelatihan kewirausahaan secara berkelanjutan

    PENERAPAN FUNGSI MANAJEMEN DALAM MEMENUHI STANDAR PENGELOLAAN SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL: APPLICATION OF MANAGEMENT FUNCTIONS IN MEETING THE STANDARD OF MANAGEMENT OF NON-FORMAL EDUCATION UNITS

    Full text link
    Penjaminan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas telah ditetapkan Standar Nasional Pendidikan, salah satunya melalui standar pengelolaan. Untuk memenuhi standar pengelolaan, dibutuhkan manajemen yang baik di satuan pendidikan. Pendidikan nonformal merupakan jalur pendidikan yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang, yang diselenggarakan di satuan pendidikan nonformal, seperti Sanggar Kegiatan Belajar dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan fungsi-fungsi manajemen melalui pelatihan dalam memenuhi standar pengelolaan SPNF dan mendeskripsikan hasil penerapan fungsi-fungsi manajemen dalam memenuhi standar pengelolaan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif yang dilaksanakan terhadap 30 orang pengelola pada 30 satuan pendidikan nonformal di Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Penentuan partisipan penelitian dengan menggunakan sampel bertujuan, sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen semu (quasi experiment design) dengan tes awal dan tes akhir. Perlakuan dilaksanakan selama selama dua bulan dengan 15 kali pertemuan atau 60 jam pelatihan, Instrumen penelitian menggunakan tes dan dokumen evaluasi diri berupa tes sebanyak 20 butir soal pilihan ganda. Signifikansi program diuji dengan t-test berkorelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai thitung > ttabel, artinya terdapat perbedaan yang signifikan nilai yang diperoleh SPNF sebelum dengan sesudah mengikuti pembelajaran pada taraf signifikansi 5%. Terdapat kenaikan nilai rata-rata tes awal dan tes akhir sebesar 59,6% dengan daya serap klasikal 75% atau baik. Sedangkan analisis dokumen menunjukkan hasil pemenuhan dokumen rata-rata 69,5 termasuk dalam kategori sangat baik.National education standards have been established to ensure quality education, one of which is through management standards. To meet management standards, good management is needed in the education unit. Non formal education is an educational path that can be implemented a structured and tiered manner, which is held in non-formal education units, including the Learning Centers and Community Learning Centers. This study aims to determine the effectiveness and describe the results of implementing management functions through training in meeting SPNF management standards. This research is a quantitative study conducted on non-formal education in Deli Serdang Regency, North Sumatra Province in 2018. Participants of this research were recruited based on the principle of purposive sampling. There were 30 participants that met the inclusion criteria which came from 30 non-formal education units. The participants were trained about management standards for 15 times or 60 hours within two months. Before and after the training participants were given a 20-item questionnaire about the training materials as well as self-evaluation. The significance of the program was tested with a correlated t-test. The results showed that the value of countedt > tablet, meaning that there were significant differences before and after participating the training in meeting the SPNF management standards at significance level of 5%. There was an increase in the mean score of the pre and post test by 59.6% with 75% classical absorption or good. Meanwhile, the document analysis result shows that the average document fulfilment is 69.5 which categorized as very good.Penjaminan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas telah ditetapkan Standar Nasional Pendidikan, salah satunya melalui standar pengelolaan. Untuk memenuhi standar pengelolaan, dibutuhkan manajemen yang baik di satuan pendidikan. Pendidikan nonformal merupakan jalur pendidikan yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang, yang diselenggarakan di satuan pendidikan nonformal, seperti Sanggar Kegiatan Belajar dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan fungsi-fungsi manajemen melalui pelatihan dalam memenuhi standar pengelolaan SPNF dan mendeskripsikan hasil penerapan fungsi-fungsi manajemen dalam memenuhi standar pengelolaan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif yang dilaksanakan terhadap 30 orang pengelola pada 30 satuan pendidikan nonformal di Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Penentuan partisipan penelitian dengan menggunakan sampel bertujuan, sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen semu (quasi experiment design) dengan tes awal dan tes akhir. Perlakuan dilaksanakan selama selama dua bulan dengan 15 kali pertemuan atau 60 jam pelatihan, Instrumen penelitian menggunakan tes dan dokumen evaluasi diri berupa tes sebanyak 20 butir soal pilihan ganda. Signifikansi program diuji dengan t-test berkorelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai thitung > ttabel, artinya terdapat perbedaan yang signifikan nilai yang diperoleh SPNF sebelum dengan sesudah mengikuti pembelajaran pada taraf signifikansi 5%. Terdapat kenaikan nilai rata-rata tes awal dan tes akhir sebesar 59,6% dengan daya serap klasikal 75% atau baik. Sedangkan analisis dokumen menunjukkan hasil pemenuhan dokumen rata-rata 69,5 termasuk dalam kategori sangat baik.National education standards have been established to ensure quality education, one of which is through management standards. To meet management standards, good management is needed in the education unit. Non formal education is an educational path that can be implemented a structured and tiered manner, which is held in non-formal education units, including the Learning Centers and Community Learning Centers. This study aims to determine the effectiveness and describe the results of implementing management functions through training in meeting SPNF management standards. This research is a quantitative study conducted on non-formal education in Deli Serdang Regency, North Sumatra Province in 2018. Participants of this research were recruited based on the principle of purposive sampling. There were 30 participants that met the inclusion criteria which came from 30 non-formal education units. The participants were trained about management standards for 15 times or 60 hours within two months. Before and after the training participants were given a 20-item questionnaire about the training materials as well as self-evaluation. The significance of the program was tested with a correlated t-test. The results showed that the value of countedt > tablet, meaning that there were significant differences before and after participating the training in meeting the SPNF management standards at significance level of 5%. There was an increase in the mean score of the pre and post test by 59.6% with 75% classical absorption or good. Meanwhile, the document analysis result shows that the average document fulfilment is 69.5 which categorized as very good

    SCHOOL AND FAMILY PARTNERSHIP: INFORMAL LEARNING CONTEXT TO BUILD CHILDREN CHARACTER: KEMITRAAN SEKOLAH DAN KELUARGA: KONTEKS PEMBELAJARAN INFORMAL DALAM MEMBANGUN KARAKTER ANAK

    Full text link
    This present study aims to describe the pattern of partnerships between schools and families in basic education as part of character building for students in the context of informal learning in primary schools. The study was conducted using a descriptive qualitative approach with 9 school principals and committee members as participants. Participants were recruited from both public and private schools based on regional representation. Data analysis was conducted inductively by linking of family involvement aspects with interactive analysis. The results showed that character building is the responsibility of both the schools and families which is achieved through priority programs implemented in all elementary schools. These programs involved institutional cooperation, family-school collaboration at home and family-teacher communication. The study also found that involvement in all elementary schools was mostly represented by mothers (85%). Character building can also be done by accelerating school-family partnership in a more informal learning context. Through this families and schools go hand in hand promoting culture of achievement, literacy related habits five principles which comprise smile, greeting, say hello, polite, well-mannered and five involvement which are corporation, community leaders in the villages, universities, family and city government. Involving families in children's education evidently provides confidence, comfort and enthusiasm in learning at home and at school.Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola kemitraan antara keluarga dan sekolah dalam pendidikan dasar sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa dalam konteks pembelajaran informal di sekolah dasar. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dengan partisipan 9 kepala sekolah dan komite sekolah. Peserta direkrut dari sekolah negeri dan swasta berdasarkan keterwakilan wilayah. Analisis data dilakukan secara induktif dengan mengaitkan aspek keterlibatan keluarga dengan analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan karakter merupakan tanggung jawab sekolah dan keluarga yang dicapai melalui program prioritas yang dilaksanakan di semua sekolah dasar. Program-program ini melibatkan kerjasama kelembagaan, kerjasama keluarga-sekolah di rumah dan komunikasi keluarga-guru. Studi ini juga menemukan bahwa keterlibatan di semua sekolah dasar sebagian besar diwakili oleh ibu (85%). Pengembangan karakter juga dapat dilakukan dengan mempercepat kemitraan sekolah-keluarga dalam konteks pembelajaran yang lebih informal. Melalui ini keluarga dan sekolah bahu membahu mempromosikan budaya berprestasi, lima prinsip terkait kebiasaan literasi yaitu senyum, sapa, sopan, santun, menanyakan kabar dan lima keterlibatan yaitu korporasi, tokoh masyarakat di desa, perguruan tinggi, keluarga dan pemerintah kota. Melibatkan keluarga dalam pendidikan anak ternyata memberikan rasa percaya diri, kenyamanan dan semangat dalam belajar di rumah dan di sekolah.This present study aims to describe the pattern of partnerships between schools and families in basic education as part of character building for students in the context of informal learning in primary schools. The study was conducted using a descriptive qualitative approach with 9 school principals and committee members as participants. Participants were recruited from both public and private schools based on regional representation. Data analysis was conducted inductively by linking of family involvement aspects with interactive analysis. The results showed that character building is the responsibility of both the schools and families which is achieved through priority programs implemented in all elementary schools. These programs involved institutional cooperation, family-school collaboration at home and family-teacher communication. The study also found that involvement in all elementary schools was mostly represented by mothers (85%). Character building can also be done by accelerating school-family partnership in a more informal learning context. Through this families and schools go hand in hand promoting culture of achievement, literacy related habits five principles which comprise smile, greeting, say hello, polite, well-mannered and five involvement which are corporation, community leaders in the villages, universities, family and city government. Involving families in children's education evidently provides confidence, comfort and enthusiasm in learning at home and at school.Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola kemitraan antara keluarga dan sekolah dalam pendidikan dasar sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa dalam konteks pembelajaran informal di sekolah dasar. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dengan partisipan 9 kepala sekolah dan komite sekolah. Peserta direkrut dari sekolah negeri dan swasta berdasarkan keterwakilan wilayah. Analisis data dilakukan secara induktif dengan mengaitkan aspek keterlibatan keluarga dengan analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan karakter merupakan tanggung jawab sekolah dan keluarga yang dicapai melalui program prioritas yang dilaksanakan di semua sekolah dasar. Program-program ini melibatkan kerjasama kelembagaan, kerjasama keluarga-sekolah di rumah dan komunikasi keluarga-guru. Studi ini juga menemukan bahwa keterlibatan di semua sekolah dasar sebagian besar diwakili oleh ibu (85%). Pengembangan karakter juga dapat dilakukan dengan mempercepat kemitraan sekolah-keluarga dalam konteks pembelajaran yang lebih informal. Melalui ini keluarga dan sekolah bahu membahu mempromosikan budaya berprestasi, lima prinsip terkait kebiasaan literasi yaitu senyum, sapa, sopan, santun, menanyakan kabar dan lima keterlibatan yaitu korporasi, tokoh masyarakat di desa, perguruan tinggi, keluarga dan pemerintah kota. Melibatkan keluarga dalam pendidikan anak ternyata memberikan rasa percaya diri, kenyamanan dan semangat dalam belajar di rumah dan di sekolah

    ANALISIS KONTEN LAGU “MARITIRUKAN” SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN KETERAMPILAN SOSIAL ANAK USIA DINI BERKEBUTUHAN KHUSUS: THE CONTENT ANALYSIS OF "MARITIRUKAN" SONG AS A MEDIA OF SOCIAL SKILL DEVELOPMENT OF CHILDREN WITH SPECIAL NEEDS

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terbatasnya ketersediaan lagu anak-anak usia dini yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran untuk pengembangan keterampilan sosial anak dengan kebutuhan khusus, terutama autisme, Attention Deficit of Hyperactivity Disorder (ADHD), dan Attention Deficit Disorder (ADD). Lagu Maritirukan adalah salah satu media pembelajaran hasil luaran riset PDUPT KemenristekBrin dengan No HKI 000210282 000210282. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan analisis konten lagu Maritirukan sebagai media pengembangan keterampilan sosial anak dengan autisme, ADHD, dan ADD usia dini. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan pada 3 orang anak, wawancara secara mendalam pada 5 orang tua dan guru, dan expert judgement oleh 5 orang ahli yang terdiri dari musisi, ahli media, dan ahli pendidikan anak. Data tambahan terkait lagu diperoleh melalui survei pada 35 orang tua dan guru. Data yang diperoleh kemudian dianalisis yang terdiri dari tahap pengumpulan data, reduksi data, dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu “Maritirukan” telah memenuhi 5 standar kriteria lagu anak. Secara umum, syair lagu Maritirukan memiliki kalimat yang tidak terlalu panjang, sehingga mudah diingat dan dihafal oleh anak. Syair lagu-lagu ini juga memiliki nilai-nilai pendidikan berupa pesan yang ingin disampaikan untuk mengajarkan anak mengembangkan keterampilan sosialnya yaitu menunjukkan, mengenalkan, dan melatih pengembangan emosi yang sehat dan ragam perilaku yang baik. Aransemen lagu sesuai dengan dunia anak dengan nada yang mudah dihafal oleh anak-anak. Lagu ini dapat menjadi alternatif media pembelajaran bagi orang tua untuk mengembangkan keterampilan sosial pada anak berkebutuhan khusus, terutama anak usia dini dengan autisme, ADHD, dan ADD.This research is backgrounded by the limitations of children’s song as a media of learning to help develop the social skills of children with autism, Attention Deficit of Hyperactivity Disorder (ADHD) and Attention Deficit Disorder (ADD). The Maritirukan Song is one of the learning media results from the research output of PDUPT Kemenristekbrin with No. HKI 000210282 000210282. The aim of this research is to describe the analysis of the content of Maritirukan song as a media to develop the social skill of children with autism, ADHD, and or ADD. This research was a qualitative descriptive research. The data was collected through observations, interviews, and documentation. Observations were conducted on 3 children. Interviews were conducted on 5 parents and teachers. Expert judgments were conducted by 5 experts consisting of musicians, media experts, and childhood education experts. Additional data related to this research were obtained through a survey of 35 parents and teachers. The data obtained were analyzed using triangulation technique consisted of the stages of data collection, data reduction, data display, and verification or data conclusion. The results showed that the Maritirukan song had fulfilled the 5 criteria for children's songs. In general, the poetry of Maritirukan song have sentences that are not too long so that they are easy to remember and memorize by children. These songs also have educational values that have messages to teach children to develop social skills which are showing, introducing, and practicing to develop good emotions and a variety of good behaviors. Song arrangement is suitable for the children's world with an easy tone for children to memorize. This song can be an alternative learning media for parents and teachers to develop social skills of children with autism, ADHD, and or ADD.  Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terbatasnya ketersediaan lagu anak-anak usia dini yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran untuk pengembangan keterampilan sosial anak dengan kebutuhan khusus, terutama autisme, Attention Deficit of Hyperactivity Disorder (ADHD), dan Attention Deficit Disorder (ADD). Lagu Maritirukan adalah salah satu media pembelajaran hasil luaran riset PDUPT KemenristekBrin dengan No HKI 000210282 000210282. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan analisis konten lagu Maritirukan sebagai media pengembangan keterampilan sosial anak dengan autisme, ADHD, dan ADD usia dini. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan pada 3 orang anak, wawancara secara mendalam pada 5 orang tua dan guru, dan expert judgement oleh 5 orang ahli yang terdiri dari musisi, ahli media, dan ahli pendidikan anak. Data tambahan terkait lagu diperoleh melalui survei pada 35 orang tua dan guru. Data yang diperoleh kemudian dianalisis yang terdiri dari tahap pengumpulan data, reduksi data, dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu “Maritirukan” telah memenuhi 5 standar kriteria lagu anak. Secara umum, syair lagu Maritirukan memiliki kalimat yang tidak terlalu panjang, sehingga mudah diingat dan dihafal oleh anak. Syair lagu-lagu ini juga memiliki nilai-nilai pendidikan berupa pesan yang ingin disampaikan untuk mengajarkan anak mengembangkan keterampilan sosialnya yaitu menunjukkan, mengenalkan, dan melatih pengembangan emosi yang sehat dan ragam perilaku yang baik. Aransemen lagu sesuai dengan dunia anak dengan nada yang mudah dihafal oleh anak-anak. Lagu ini dapat menjadi alternatif media pembelajaran bagi orang tua untuk mengembangkan keterampilan sosial pada anak berkebutuhan khusus, terutama anak usia dini dengan autisme, ADHD, dan ADD.This research is backgrounded by the limitations of children’s song as a media of learning to help develop the social skills of children with autism, Attention Deficit of Hyperactivity Disorder (ADHD) and Attention Deficit Disorder (ADD). The Maritirukan Song is one of the learning media results from the research output of PDUPT Kemenristekbrin with No. HKI 000210282 000210282. The aim of this research is to describe the analysis of the content of Maritirukan song as a media to develop the social skill of children with autism, ADHD, and or ADD. This research was a qualitative descriptive research. The data was collected through observations, interviews, and documentation. Observations were conducted on 3 children. Interviews were conducted on 5 parents and teachers. Expert judgments were conducted by 5 experts consisting of musicians, media experts, and childhood education experts. Additional data related to this research were obtained through a survey of 35 parents and teachers. The data obtained were analyzed using triangulation technique consisted of the stages of data collection, data reduction, data display, and verification or data conclusion. The results showed that the Maritirukan song had fulfilled the 5 criteria for children's songs. In general, the poetry of Maritirukan song have sentences that are not too long so that they are easy to remember and memorize by children. These songs also have educational values that have messages to teach children to develop social skills which are showing, introducing, and practicing to develop good emotions and a variety of good behaviors. Song arrangement is suitable for the children's world with an easy tone for children to memorize. This song can be an alternative learning media for parents and teachers to develop social skills of children with autism, ADHD, and or ADD

    PENERAPAN BERMAIN KONSTRUKSI MAGIC SAND UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK USIA DINI: APPLICATION OF MAGIC SAND CONSTRUCTION PLAY IN DEVELOPING EARLY CHILDHOOD FINE MOTOR ABILITY

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kemampuan motorik halus anak usia dini yang belum berkembang secara optimal, khususnya dalam keterampilan otot-otot halus dan koordinasi mata dengan tangan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak usia dini melalui kegiatan bermain konstruksi magic sand. Kegiatan penelitian dilakukan secara kolaboratif dengan guru kelas dengan menerapkan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan sebanyak tiga siklus dengan menggunakan model Kemmis dan Mc. Taggart. Subjek penelitian berjumlah 16 anak, terdiri dari delapan anak laki-laki dan delapan anak perempuan serta satu orang guru mitra. Objek penelitian adalah kemampuan motorik halus anak usia dini melalui kegiatan bermain konstruksi magic sand. Teknik observasi dan dokumentasi digunakan dalam pengumpulan data dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan deskriptif kuantitatif. Instrumen yang digunakan berupa observasi terstruktur dengan capaian indikator setiap kegiatannya. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan motorik halus melalui kegiatan bermain konstruksi magic sand. Terjadi peningkatan dari setiap siklus penelitian dengan hasil akhir kemampuan motorik halus anak berada pada kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH), sedangkan hasil akhir dari kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran berada pada kriteria sangat baik. Kesimpulannya, kegiatan bermain konstruksi magic sand berkontribusi dalam mengembangkan kemampuan motorik halus anak usia dini

    SMART TREES MEDIA TO HELP IMPROVING PUPILS’ COUNTING PROFICIENCY IN A KINDERGARTEN: MEDIA POHON PINTAR UNTUK MEMBANTU MENINGKATKAN KECAKAPAN BERHITUNG SISWA SEBUAH TAMAN KANAK-KANAK

    Full text link
    Based on the results of a preliminary study conducted on 20 children, the number of children who got 4 stars was 3 children with a percentage (15%), 3 stars were 4 children with a percentage (20%), 2 stars were 3 children with a percentage (15%), while those who got 1 star were 10 children with a percentage (50%). This shows that there are still many children who have not been able to count from 1-10, which means that many children have not achieved their learning completeness. For this reason, it is necessary to take action so that children's learning completeness can be achieved. The purpose of this study was to see the effectiveness of using smart tree media in improving children's numeracy skills 1-10. The design chosen for this study was the Kemmis and Taggart Classroom Action Research Model with 3 cycles. The data collection techniques used are performance techniques to collect data about students' numeracy skills and observation techniques to collect data about the learning process when each action cycle is carried out. The results of the data analysis showed that after the third cycle was completed, the learning completeness of the children reached 80%, meaning that there were 16 children who achieved learning completeness. The conclusion is that smart tree media can improve numeracy skills 1-10 in group A children at An-Nur Labuapi Kindergarten.Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada 20 anak, 3 anak (15%) mendapat 4 bintang, 4 anak (20%) mendapat 3 bintang, 3 anak (15%) mendapat 2 bintang, dan sisanya 10 anak (50%) mendapatkan 1 bintang. Hal ini menunjukkan masih banyak anak yang belum dapat berhitung dari 1-10, yang berarti banhyak anak yang belum tercapai ketuntasan belajarnya. Untuk itu perlu adanya Tindakan yang dilakukan agar ketuntasan belajar anak dapat tercapai. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat efektivitas penggunaan media pohon pintar dalam meningkatkan kecakapan berhitung 1-10 pada anak. Desain yang dipilih untuk penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas Model Kemmis dan Taggart dengan 3 siklus. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah teknik unjuk kerja untuk mengumpulkan data tentang kemampuan berhitung peserta didik dan teknik observasi untuk mengumpulkan data tentang proses pembelajaran pada saat setiap siklus tindakan dilaksanakan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa setelah siklus III selesai dilaksanakan ketuntasan belajar anak mencapai 80%, artinya anak yang mencapai ketuntasan belajar berjumlah 16 anak. Kesimpulannya adalah bahwa media pohon pintar dapat meningkatkan kecakapan berhitung 1-10 pada anak kelompok A TK An-Nur Labuapi.Based on the results of a preliminary study conducted on 20 children, the number of children who got 4 stars was 3 children with a percentage (15%), 3 stars were 4 children with a percentage (20%), 2 stars were 3 children with a percentage (15%), while those who got 1 star were 10 children with a percentage (50%). This shows that there are still many children who have not been able to count from 1-10, which means that many children have not achieved their learning completeness. For this reason, it is necessary to take action so that children's learning completeness can be achieved. The purpose of this study was to see the effectiveness of using smart tree media in improving children's numeracy skills 1-10. The design chosen for this study was the Kemmis and Taggart Classroom Action Research Model with 3 cycles. The data collection techniques used are performance techniques to collect data about students' numeracy skills and observation techniques to collect data about the learning process when each action cycle is carried out. The results of the data analysis showed that after the third cycle was completed, the learning completeness of the children reached 80%, meaning that there were 16 children who achieved learning completeness. The conclusion is that smart tree media can improve numeracy skills 1-10 in group A children at An-Nur Labuapi Kindergarten.Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada 20 anak, 3 anak (15%) mendapat 4 bintang, 4 anak (20%) mendapat 3 bintang, 3 anak (15%) mendapat 2 bintang, dan sisanya 10 anak (50%) mendapatkan 1 bintang. Hal ini menunjukkan masih banyak anak yang belum dapat berhitung dari 1-10, yang berarti banhyak anak yang belum tercapai ketuntasan belajarnya. Untuk itu perlu adanya Tindakan yang dilakukan agar ketuntasan belajar anak dapat tercapai. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat efektivitas penggunaan media pohon pintar dalam meningkatkan kecakapan berhitung 1-10 pada anak. Desain yang dipilih untuk penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas Model Kemmis dan Taggart dengan 3 siklus. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah teknik unjuk kerja untuk mengumpulkan data tentang kemampuan berhitung peserta didik dan teknik observasi untuk mengumpulkan data tentang proses pembelajaran pada saat setiap siklus tindakan dilaksanakan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa setelah siklus III selesai dilaksanakan ketuntasan belajar anak mencapai 80%, artinya anak yang mencapai ketuntasan belajar berjumlah 16 anak. Kesimpulannya adalah bahwa media pohon pintar dapat meningkatkan kecakapan berhitung 1-10 pada anak kelompok A TK An-Nur Labuapi

    IDENTIFIKASI POLA ASUH ORANG TUA TUNGGAL PADA ANAK USIA DINI: PARENTING STYLES OF SINGLE PARENTS WITH EARLY AGE CHILDREN: AN IDENTIFICATION

    Full text link
    Pola asuh adalah karakteristik yang dimiliki orang tua dalam pengasuhan pada anak yang dilakukan secara berkelanjutan. Ada tiga jenis pola asuh yang biasa diterapkan oleh orang tua yaitu demokratis, permisif dan otoriter (Baumrind, 2010). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola asuh yang diterapkan oleh orang tua tunggal pada anak usia dini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan teknik perekrutan partisipan secara purposive sampling. Kriteria perekrutan partisipan dalam penelitian ini adalah orangtua tunggal yang memiliki anak usia dini dan ada 60 partisipan, 9 laki-laki dan 51 perempuan, yang memenuhi kriteria tersebut. Data penelitian diperoleh melalui penyebaran kuesioner melalui google form kepada para partisipan tesebut selama enam bulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 51,4% partisipan penelitian yang menerapkan pola asuh demokratis, 27,9% menerapkan pola asuh otoriter dan 20,7% menerapkan pola asuh permisif pada anak usia dini. Parenting is a set of characteristic that parents have in caring for their children on a sustainable manner. There are three types of parenting styles that are usually applied by parents, namely democratic, permissive and authoritarian (Baumrind, 2010). This research aims to determine the parenting styles that applied by single parents in early childhood. This research is a descriptive study using a quantitative approach and purposive sampling technique. The inclusion criteria for participants recruitment was single parent who has early age children and there were 9 male and 51 female participants who met this criteria. Data were collected by distributing questionnaires to those participants for six months. The results of this study indicate that there are 51,4% of study participants who apply democratic parenting, 27.9% apply authoritarian parenting and 20.7% apply permissive parenting in early childhood.  Pola asuh adalah karakteristik yang dimiliki orang tua dalam pengasuhan pada anak yang dilakukan secara berkelanjutan. Ada tiga jenis pola asuh yang biasa diterapkan oleh orang tua yaitu demokratis, permisif dan otoriter (Baumrind, 2010). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola asuh yang diterapkan oleh orang tua tunggal pada anak usia dini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan teknik perekrutan partisipan secara purposive sampling. Kriteria perekrutan partisipan dalam penelitian ini adalah orangtua tunggal yang memiliki anak usia dini dan ada 60 partisipan, 9 laki-laki dan 51 perempuan, yang memenuhi kriteria tersebut. Data penelitian diperoleh melalui penyebaran kuesioner melalui google form kepada para partisipan tesebut selama enam bulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 51,4% partisipan penelitian yang menerapkan pola asuh demokratis, 27,9% menerapkan pola asuh otoriter dan 20,7% menerapkan pola asuh permisif pada anak usia dini. Parenting is a set of characteristic that parents have in caring for their children on a sustainable manner. There are three types of parenting styles that are usually applied by parents, namely democratic, permissive and authoritarian (Baumrind, 2010). This research aims to determine the parenting styles that applied by single parents in early childhood. This research is a descriptive study using a quantitative approach and purposive sampling technique. The inclusion criteria for participants recruitment was single parent who has early age children and there were 9 male and 51 female participants who met this criteria. Data were collected by distributing questionnaires to those participants for six months. The results of this study indicate that there are 51,4% of study participants who apply democratic parenting, 27.9% apply authoritarian parenting and 20.7% apply permissive parenting in early childhood

    328

    full texts

    373

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah Visi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇