Jurnal Ilmiah Visi
Not a member yet
    373 research outputs found

    MEDIA BAHAN ALAM UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN KLASIFIKASI PADA ANAK USIA DINI: NATURAL MEDIA IN IMPROVING THE ABILITY TO CLASIFY OBJECTS IN EARLY CHILDHOOD

    Full text link
    Pemanfaatan bahan alam yang ada di sekitar lingkungan sekolah masih jarang sekali dilakukan oleh guru untuk mendorong kemampuan klasifikasi pada anak usia dini usia 5-6 tahun. Guru hanya menggunakan media berupa benda konkret yang ada di kelas saja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan media bahan alam dalam membantu meningkatkan kemampuan klasifikasi pada anak usia dini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian deskriptif kualitatif dengan Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil observasi selama lima kali pertemuan, menunjukkan bahwa guru menggunakan media bahan alam untuk mengembangkan kemampuan mengklasifikasi benda pada anak usia dini. Media bahan alam yang adalah batu-batu kecil, benih padi, biji salak, biji asam, air, sirup warna warni, batang pohon kering dan daun. Aktivitas belajar yang dilakukan siswa adalah mencari, mengumpulkan, mengelompokkan, membedakan, bermain sains dan menanam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan media bahan alam dapat meningkatkan kemampuan klasifikasi anak usia dini.Teachers rarely use natural materials around the school environment to encourage classification skills in children aged 5-6 years. Teachers only use media in the form of concrete objects in the classroom. The purpose of this study was to determine the use of natural media in improving early childhood’s classification ability. The method used in this research is descriptive qualitative with interviews, observation and documentation as data collection method. The results of this study indicate that the teacher used the natural media to develop their pupils’ object classification skills. During playing and learning activities teachers used natural materials such as tree branches, seeds, colourful liquid or syrup and inanimate objects. Learning activities carried out by students were searching, collecting, grouping, differentiating, playing science, and planting. This study concludes that the use of natural media can improve the classification skills of early childhood.Pemanfaatan bahan alam yang ada di sekitar lingkungan sekolah masih jarang sekali dilakukan oleh guru untuk mendorong kemampuan klasifikasi pada anak usia dini usia 5-6 tahun. Guru hanya menggunakan media berupa benda konkret yang ada di kelas saja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan media bahan alam dalam membantu meningkatkan kemampuan klasifikasi pada anak usia dini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian deskriptif kualitatif dengan Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil observasi selama lima kali pertemuan, menunjukkan bahwa guru menggunakan media bahan alam untuk mengembangkan kemampuan mengklasifikasi benda pada anak usia dini. Media bahan alam yang adalah batu-batu kecil, benih padi, biji salak, biji asam, air, sirup warna warni, batang pohon kering dan daun. Aktivitas belajar yang dilakukan siswa adalah mencari, mengumpulkan, mengelompokkan, membedakan, bermain sains dan menanam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan media bahan alam dapat meningkatkan kemampuan klasifikasi anak usia dini.Teachers rarely use natural materials around the school environment to encourage classification skills in children aged 5-6 years. Teachers only use media in the form of concrete objects in the classroom. The purpose of this study was to determine the use of natural media in improving early childhood’s classification ability. The method used in this research is descriptive qualitative with interviews, observation and documentation as data collection method. The results of this study indicate that the teacher used the natural media to develop their pupils’ object classification skills. During playing and learning activities teachers used natural materials such as tree branches, seeds, colourful liquid or syrup and inanimate objects. Learning activities carried out by students were searching, collecting, grouping, differentiating, playing science, and planting. This study concludes that the use of natural media can improve the classification skills of early childhood

    PENINGKATAN KETERAMPILAN MOTORIK KASAR ANAK USIA DINI MELALUI ANIMAL FUN: THE IMPROVEMENT OF GROSS MOTOR SKILLS IN EARLY CHILDHOOD THROUGH THE ANIMAL FUN

    Full text link
    Anak dengan kesulitan motorik kasar seperti melompat, melempar bola, dan menendang bola cenderung terlihat tidak percaya diri, tidak bersemangat, dan sulit mengikuti aktivitas pembelajaran. Keterampilan motorik kasar yang kurang optimal dapat mengganggu aktivitas pembelajaran anak dalam bermain. Perlunya solusi kegiatan yang inovatif dan menyenangkan dalam aktivitas keterampilan motorik sangatlah penting, agar anak berkembang optimal. Penelitian ini bertujuan meningkatkan keterampilan motorik kasar pada anak dengan animal fun. Animal fun adalah kegiatan menirukan gerakan binatang untuk perkembangan motorik dan sosial emosional anak usia pra sekolah. Ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) model Kemmis & McTaggart. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunaan unjuk kerja, observasi, wawancara, serta dokumentasi. Teknik uji validitas datanya yaitu triangulasi sumber serta triangulasi teknik. Subjek penelitian meliputi anak kelompok A1 berusia 4-5 tahun berjumlah 18 anak di TK Nurani Patriot Kecamatan Jebres Surakarta tahun ajaran 2018/2019. Hasil penelitian ini menampilkan bahwa keterampilan motorik kasar pada kelompok anak A1 terdapat peningkatan saat pra tindakan sebesar 33,4%, siklus I sebesar 50%, serta siklus II sebesar 83,3%. Uraian tersebut membuktikan bahwa animal fun berhasil meningkatkan keterampilan motorik kasar kelompok anak usia 4–5 tahun di TK Nurani Patriot Kecamatan Jebres tahun ajaran 2018/2019. Hasil inilah yang diharapkan menjadi informasi penting bagi guru dan calon pendidik dalam melakukan evaluasi dan inovasi guna mencari solusi yang tepat dalam mengoptimalkan perkembangan anak

    KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN ANAK: FATHER'S INVOLEMENT IN PARENTING

    Full text link
    Pengasuhan tidak hanya tugas seorang ibu, melainkan juga ayah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai keterllibatan ayah dalam pengasuhan anak, melalui kuisioner terbuka yang ditujukan pada ayah yang memiliki anak usia 0-8 tahun melalui Google form. Sebanyak 75 partisipan ayah dari anak usia 0-8 tahun terlibat dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan keterlibatan ayah dalam mengasuh anak sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan pengakuan responden sebanyak 94,7% menjawab sudah terlibat dalam mengasuh anaknya. Hal ini di perkuat juga dengan pengasuhan yang dilakukan secara bersama antara ayah dan ibu cukup tinggi. Sebanyak 88% partisipan penelitian menyatakan bahwa pengasuhan anak menjadi tugas bersama antara ayah dan ibu. Terkait waktu ayah bersama anak, sebanyak 42,7% ayah menjawab selalu meluangkan waktu luang, disaat tidak ada kesibukan. Faktor penghambat untuk Ayah terlibat secara langsung dalam mengasuh anak adalah tuntutan pekerjaan (83,8%).Parenting is not only the duty of mothers, but also fathers. This study aims to obtain an overview of the fathers’ involvement in parenting, through an open questionnaire aimed at fathers who have children ages between 0 and 8 years old through Gform (google form). A total of 75 fathers were involved in this study. The results show the involvement of fathers in taking care of their children. The father’s involvement level in parenting is very high, as evidenced by the fact that 94,7% of the participants answered that they involved in parenting their children. This is also strengthened by the high level of equally shared parenting between fathers and mothers since 88% of respondents state that parenting is shared task between fathers and mothers. Regarding the time fathers spent with their children, 42,7%, of the fathers answered that they always spent their free time with their children. The father’s direct involvement in parenting their children is hampered by their job demands (83,8%).  Pengasuhan tidak hanya tugas seorang ibu, melainkan juga ayah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai keterllibatan ayah dalam pengasuhan anak, melalui kuisioner terbuka yang ditujukan pada ayah yang memiliki anak usia 0-8 tahun melalui Google form. Sebanyak 75 partisipan ayah dari anak usia 0-8 tahun terlibat dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan keterlibatan ayah dalam mengasuh anak sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan pengakuan responden sebanyak 94,7% menjawab sudah terlibat dalam mengasuh anaknya. Hal ini di perkuat juga dengan pengasuhan yang dilakukan secara bersama antara ayah dan ibu cukup tinggi. Sebanyak 88% partisipan penelitian menyatakan bahwa pengasuhan anak menjadi tugas bersama antara ayah dan ibu. Terkait waktu ayah bersama anak, sebanyak 42,7% ayah menjawab selalu meluangkan waktu luang, disaat tidak ada kesibukan. Faktor penghambat untuk Ayah terlibat secara langsung dalam mengasuh anak adalah tuntutan pekerjaan (83,8%).Parenting is not only the duty of mothers, but also fathers. This study aims to obtain an overview of the fathers’ involvement in parenting, through an open questionnaire aimed at fathers who have children ages between 0 and 8 years old through Gform (google form). A total of 75 fathers were involved in this study. The results show the involvement of fathers in taking care of their children. The father’s involvement level in parenting is very high, as evidenced by the fact that 94,7% of the participants answered that they involved in parenting their children. This is also strengthened by the high level of equally shared parenting between fathers and mothers since 88% of respondents state that parenting is shared task between fathers and mothers. Regarding the time fathers spent with their children, 42,7%, of the fathers answered that they always spent their free time with their children. The father’s direct involvement in parenting their children is hampered by their job demands (83,8%)

    PENDAMPINGAN ORANGTUA PADA ANAK PENGGUNA GAWAI DI SATUAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI: PARENT ACCOMPANIMENT TO THEIR CHILDREN WHO USED GADGET IN AN EARLY CHILDHOOD EDUCATION UNIT

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan langkah pendampingan orangtua pada anak pengguna gawai dan mengetahui hasil yang dicapai oleh orangtua setelah mendampingi anak pengguna gawai di satuan pendidikan anak usia dini. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi serta analisis dokumen. Hasil penelitian menemukan bahwa (1) ada delapan langkah pendampingan yang dilakukan orangtua pada anak dalam menggunakan gawai; (2) tingkat pendidikan orangtua dan intervensi pelatihan parenting memberikan kontribusi pada kemampuan orangtua dalam mendampingi anak dalam menggunakan gawai; serta (3) ada perubahan pada pengguna gawai kategori berat dan sedang setelah pendampingan

    APA YANG MENYEBABKAN RENDAHNYA KEBERADAAN GURU LAKI-LAKI DI PAUD? WHAT CAUSES THE LOW EXISTENCE OF MALE TEACHERS IN EARLY CHILDHOOD EDUCATION?

    Full text link
    Artikel ini mendeskripsikan keberadaan guru laki-laki dan perannya pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Faktor rendahnya keberadaan guru laki-laki di PAUD disebabkan oleh banyak hal, salah satunya dikarenakan adanya berbagai persepsi masyarakat yang berbeda terhadap pekerjaan laki-laki sebagai guru PAUD. Pada banyak negara termasuk di Indonesia, guru PAUD didominasi perempuan, yang mendorong beberapa negara untuk meningkatkan partisipasi laki-laki, karena munculnya kekhawatiran terhadap ketidakseimbangan gender di PAUD. Walau demikian, sampai saat ini khususnya di Indonesia, masih ada laki-laki yang bertahan dan memilih profesi tersebut. Metode penelitian menggunakan studi pustaka, dimana peneliti mencatat dan mengolah berbagai sumber, baik itu jurnal, buku, dan berbagai bentuk dokumen terkait guru laki-laki di PAUD. Adapun hasilnya, keberadaan dan peran guru laki-laki di PAUD sangat penting, utamanya dengan alasan agar adanya keseimbangan gender yang terjadi, serta memberikan interaksi pengalaman pembelajaran pada PAUD

    PENGARUH VIDEO PEMBELAJARAN INTERAKTIF MENGENAL WARNA TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK: THE EFFECT OF INTERACTIVE EDUCATIONAL VIDEOS OF RECOGNISING COLOURS ON CHILDREN’S COGNITIVE ABILITIES

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh video pembelajaran interaktif terhadap kemampuan mengenal warna pada anak usia 4-5 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah pre experimental dengan jenis one group pretest posttest design. Sampel yang digunakan adalah anak usia 4-5 tahun yang berjumlah 20 orang, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh. Indikator kemampuan kognitif yang digunakan adalah kemampuan mengklasifikasikan warna, kemampuan mengurutkan benda berdasarkan 5 seri warna, dan kemampuan menyebutkan warna. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi yang digunakan untuk melakukan pretest dan posttest. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji paired sample T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang cukup signifikan pada nilai rata-rata hasil pretest dan nilai hasil posttest pada indikator mengklasifikasikan warna memiliki nilai; indikator mengurutkan benda berdasarkan 5 seriasi warna; dan indikator menyebutkan warna. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh penggunaan video pembelajaran interaktif terhadap kemampuan mengenal warna pada anak usia 4-5 tahun.The purpose of this study was to find out the effect of interactive educational videos on children, specially aged 4-5 years, in recognizing colors. The research used pre-experimental method, with one group pre test post test design. The participants were 20 children aged 4-5 years, which recruited using saturated sampling. Indicators of cognitive abilities used in this research were focusing on the ability to classify colors, to sort objects based on 5 color series, and to name the colors. The data were collected through observation using observation sheets before and after the introduction of the interactive educational videos which was conducted for five days. Data analysis was performed using the normality test, homogeneity test, and paired sample T-test. The results showed that there was a significant difference in the mean value of the pretest and posttest results on each indicator. The conclusion of this study is that there is an effect of the use of interactive educational videos on the ability to recognize colors in children aged 4-5 years.Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh video pembelajaran interaktif terhadap kemampuan mengenal warna pada anak usia 4-5 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah pre experimental dengan jenis one group pretest posttest design. Sampel yang digunakan adalah anak usia 4-5 tahun yang berjumlah 20 orang, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh. Indikator kemampuan kognitif yang digunakan adalah kemampuan mengklasifikasikan warna, kemampuan mengurutkan benda berdasarkan 5 seri warna, dan kemampuan menyebutkan warna. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi yang digunakan untuk melakukan pretest dan posttest. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji paired sample T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang cukup signifikan pada nilai rata-rata hasil pretest dan nilai hasil posttest pada indikator mengklasifikasikan warna memiliki nilai; indikator mengurutkan benda berdasarkan 5 seriasi warna; dan indikator menyebutkan warna. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh penggunaan video pembelajaran interaktif terhadap kemampuan mengenal warna pada anak usia 4-5 tahun.The purpose of this study was to find out the effect of interactive educational videos on children, specially aged 4-5 years, in recognizing colors. The research used pre-experimental method, with one group pre test post test design. The participants were 20 children aged 4-5 years, which recruited using saturated sampling. Indicators of cognitive abilities used in this research were focusing on the ability to classify colors, to sort objects based on 5 color series, and to name the colors. The data were collected through observation using observation sheets before and after the introduction of the interactive educational videos which was conducted for five days. Data analysis was performed using the normality test, homogeneity test, and paired sample T-test. The results showed that there was a significant difference in the mean value of the pretest and posttest results on each indicator. The conclusion of this study is that there is an effect of the use of interactive educational videos on the ability to recognize colors in children aged 4-5 years

    INOVASI MODEL PEMBELAJARAN JARAK JAUH PROGRAM KESETARAAN PAKET C DI MASA PANDEMI COVID-19: DISTANCE LEARNING MODEL INNOVATION OF PACKAGE C EQUALITY PROGRAM DURING COVID-19 PANDEMIC

    Full text link
    Pandemi COVID-19 telah menghambat proses belajar dan pembelajaran baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal seperti pada program kesetaraan Paket C. Guru atau tutor dituntut untuk dapat menghadirkan inovasi pembelajaran yang efektif. Pembelajaran jarak jauh dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat diterapkan. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan inovasi model pembelajaran jarak jauh pada Program Kesetaraan di wilayah Purwokerto Selatan pada masa pandemik COVID-19. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode etnografi. Pengumpulan data menggunakan tiga teknik yakni; melakukan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Setelah data diperoleh kemudian peneliti melakukan analisis, adapun teknik analisis yang digunakan yakni; mereduksi, analisis dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga metode pembelajaran yakni daring (live book, kuis, recording materi), luring (proyek karya), dan kombinasi (group observation or self-observation, rekaman materi, diskusi, investigasi dan webinar, dan apresiasi belajar). Ketiga metode pembelajaran ini merupakan modifikasi sekaligus adaptasi pembelajaran jarak jauh di masa pandemi COVID-19.The COVID-19 pandemic has hampered the learning and its process at all levels of education ranging from early childhood education to college. In addition to formal education, non-formal education such as the Package C Equality Program has also undergone drastic changes in the teaching and learning process. From that problem teachers or tutors are required to be able to present effective learning innovations. Distance learning can be one of the applicable alternatives. This article aims to describe the innovation of distance learning models in the Equality Program in the South Purwokerto region during the COVID-19 pandemic. This study is a field research with a qualitative approach. Data was collected using three techniques, namely; observations, interviews and document studies. The data then analysed based on these steps; reduction, analysis and withdrawal of conclusions. The results of this study show that there are three methods of learning namely online (live book, quiz, recording material), offline (project work), and combination (group observation or self-observation, recording material, discussion, investigation and webinar, and appreciation of learning). These three learning methods are both modifications and adaptations of distance learning during the COVID-19 pandemic.Pandemi COVID-19 telah menghambat proses belajar dan pembelajaran baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal seperti pada program kesetaraan Paket C. Guru atau tutor dituntut untuk dapat menghadirkan inovasi pembelajaran yang efektif. Pembelajaran jarak jauh dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat diterapkan. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan inovasi model pembelajaran jarak jauh pada Program Kesetaraan di wilayah Purwokerto Selatan pada masa pandemik COVID-19. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode etnografi. Pengumpulan data menggunakan tiga teknik yakni; melakukan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Setelah data diperoleh kemudian peneliti melakukan analisis, adapun teknik analisis yang digunakan yakni; mereduksi, analisis dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga metode pembelajaran yakni daring (live book, kuis, recording materi), luring (proyek karya), dan kombinasi (group observation or self-observation, rekaman materi, diskusi, investigasi dan webinar, dan apresiasi belajar). Ketiga metode pembelajaran ini merupakan modifikasi sekaligus adaptasi pembelajaran jarak jauh di masa pandemi COVID-19.The COVID-19 pandemic has hampered the learning and its process at all levels of education ranging from early childhood education to college. In addition to formal education, non-formal education such as the Package C Equality Program has also undergone drastic changes in the teaching and learning process. From that problem teachers or tutors are required to be able to present effective learning innovations. Distance learning can be one of the applicable alternatives. This article aims to describe the innovation of distance learning models in the Equality Program in the South Purwokerto region during the COVID-19 pandemic. This study is a field research with a qualitative approach. Data was collected using three techniques, namely; observations, interviews and document studies. The data then analysed based on these steps; reduction, analysis and withdrawal of conclusions. The results of this study show that there are three methods of learning namely online (live book, quiz, recording material), offline (project work), and combination (group observation or self-observation, recording material, discussion, investigation and webinar, and appreciation of learning). These three learning methods are both modifications and adaptations of distance learning during the COVID-19 pandemic

    PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENGEMBANGKAN PENGUASAAN KOSAKATA PADA ANAK AUTIS USIA DINI: UTILIZING PICTURES AS MEDIA TO DEVELOP VOCABULARIES MASTERY FOR A CHILD WITH AUTISM

    Full text link
    Anak autis biasanya mengalami keterlambatan dalam berkomunikasi semenjak masih balita. Kesulitan dalam berkomunikasi pada anak autis dapat membuat anak menjadi sedih, marah, atau frustasi ketika tidak dapat mengkomunikasikan keinginan atau kebutuhannya. Untuk itu, perlu mencari solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut, sehingga anak autis dapat berkomunikasi seperti anak pada umumnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penggunaan media gambar dalam mengembangkan penguasaan kosakata pada anak autis. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan teknik pengumpulan datanya menggunakan observasi. Subjek penelitian adalah seorang anak berinisial AZH berusia 4 tahun 10 bulan. Adapun instruktur dalam melakukan treatment adalah peneliti dan ibu dari AZH. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada tanggal 1 – 27 Februari 2019 dengan frekuensi treatment sebanyak 20 kali yang bertempat di rumah orangtua AZH di Kota Depok - Jawa Barat. Simpulan hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa penggunaan media gambar dapat meningkatkan penguasaan kosakata pada anak autis. Hal ini dapat ditunjukan dari kemampuan AZH dalam menguasai seluruh kosakata (26 kosakata) yang diberikan dengan waktu 27 hari. Saran dalam penelitian ini yakni pemberian treatment untuk mengembangkan penguasaan kosakata pada anak autis melalui media gambar sebaiknya kosakata yang diberikan pertama kali yakni kata benda dengan dua suku kata dan empat huruf. Selain itu, usahakan anak tersebut diperlihatkan benda aslinya sesuai dengan gambar yang ditunjukan

    PENGARUH KONSEP DIRI, PENGALAMAN, DAN MOTIVASI TERHADAP KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN PESERTA DIDIK DI LEMBAGA KURSUS DAN PELATIHAN: THE EFFECT OF SELF-CONCEPT, EXPERIENCE, AND MOTIVATION ON ENTREPRENEURSHIP COMPETENCY OF STUDENTS IN TRAINING COURSE INSTITUTION

    Full text link
    Persaingan di dunia kerja semakin ketat, sehingga angka pengangguran yang berasal dari lulusan sekolah formal di Indonesia cukup tinggi. Untuk dapat bertahan dalam persaingan dibutuhkan keterampilan tambahan. Keterampilan tersebut berupa keterampilan hidup (life skill) yang dapat diperoleh pada pendidikan non formal. Lembaga Kursus dan Pelatihan (LPK), termasuk LPK Melati, menyelenggarakan pendidikan nonformal pada bidang tata busana atau menjahit. Penerapan metode pembelajaran dengan benar akan memberikan hasil berupa kompetensi kewirausahaan yang dapat digunakan untuk menjadi wirausaha. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari konsep diri, pengalaman, dan motivasi terhadap kompetensi kewirausahaan peserta didik. Penelitian menggunakan metode survei dengan pendekatan mix method yang menggabungkan antara data kuantitatif dan kualitatif menggunakan instrumen berupa kuesioner dan wawancara. Hasil data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis regresi linier SPSS 25. Berdasarkan analisis yang dilakukan, diperoleh hasil yang positif pada pengaruh konsep diri, pengalaman, dan motivasi terhadap kompetensi kewirausahaan

    THE MANAGEMENT OF EDUCATION CENTER PROGRAMS FOR STREET CHILDREN EMPOWERMENT IN A NON-GOVERNMENTAL ORGANISATION (NGO): PENGELOLAAN PROGRAM EDUCATION CENTER DALAM PEMBERDAYAAN ANAK JALANAN DI LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT (LSM)

    Full text link
    This study aims at revealing (1) the implementation of education center programs in Non- Governmental Organizations (NGO) of Rumah Impian (2) the role of NGO in empowering street children through its education center programs by reviewing their management of planning, organizing, implementation, controlling, (3) the constraints faced by NGO in implementing education center programs and (4) the benefits for the street children after the implementation of its education center program. This research can be categorized as case study using a qualitative approach. The subjects of this study were the head and staff of Rumah Impian as well as the street children who participated in the program.The data collection was conducted by interview, observation and documentation. The analysis technique used the interactive analysis model of Miles & Huberman. The validity of the data was through source triangulation by comparing the data of interview, observation and documentation. The results of this study showed that 1) the implementation of the education center program was conducted with fun learning-based teaching and skills development. 2) The role of Rumah Impian according to its participation level for handling street children can be categorized as education roles. 3) The constraints in implementing the program consists of funding, the parental perceptions for the benefits of education center programs, the limited number of assistants, experts for program evaluation and the limited space. 4) The benefits of the program were improving the knowledge and skills among the street children and risky adolescents and changes in positive parental behavior, which were initially antipathic to education center activities, are now turning to be very enthusiastic in suporting education center activities

    328

    full texts

    373

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah Visi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇