Jurnal Agroindustri
Not a member yet
    236 research outputs found

    KARAKTERISTIK SAMPO BERBASIS EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK (Musa acuminata)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi ekstrak kulit pisang kepok (Musa acuminata) sebagai bahan aktif dalam formulasi sampo serta menentukan formula terbaik berdasarkan karakteristik fisikokimia dan preferensi konsumen. Empat formula sampo yaitu (F0–F3) dengan variasi konsentrasi ekstrak (0%–6%) diuji secara fisik (homogenitas, viskositas, pH, kadar air, dan tinggi busa) dan sensori melalui uji hedonik oleh 20 panelis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi standar mutu sampo berdasarkan SNI 06-2642-1992. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa penambahan ekstrak berpengaruh signifikan terhadap parameter warna, aroma, dan tekstur (p < 0,05), dengan formulasi F1 paling disukai secara organoleptik. Selanjutnya, dilakukan analisis menggunakan metode Bayes untuk menentukan formulasi optimal berdasarkan pembobotan seluruh parameter. Hasil analisis menunjukkan bahwa formulasi F3 (penambahan 6% ekstrak kulit pisang kepok) merupakan formula terbaik secara keseluruhan, karena memberikan performa tertinggi pada sebagian besar parameter kualitas. Temuan ini mendukung pemanfaatan limbah kulit pisang sebagai bahan aktif alternatif dalam produk kosmetik ramah lingkungan

    VARIASI KONSENTRASI SENG KLORIDA (ZnCl2) SEBAGAI AKTIVATOR ARANG AKTIF BERBAHAN BAKU KULIT BUAH SALAK PADANGSIDIMPUAN

    Full text link
    Kulit buah salak dapat menjadi bahan dasar pembuatan arang aktif karena mengandung senyawa selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang berpotensi tinggi sebagai sumber karbon. Pemanfaatan limbah kulit buah salak sebagai bahan baku arang aktif juga merupakan upaya dalam mengurangi limbah agroindustri sekaligus meningkatkan nilai tambahnya. Pembuatan arang aktif dari kulit buah salak dilakukan melalui dua tahap utama, yaitu proses karbonisasi dan aktivasi. Aktivasi kimia menggunakan bahan kimia ZnCl2 sebagai aktivator diketahui dapat menghasilkan mutu arang aktif yang lebih baik dibandingkan aktivasi fisika. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi aktivator seng klorida (ZnCl2) terbaik dalam pembuatan arang aktif kulit buah salak asal Padangsidimpuan. Penelitian dilaksanakan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan enam perlakuan konsentrasi ZnCl2 (5%, 10%, 15%, 20%, 25%, dan 30%) dan tiga ulangan. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikansi 5%. Hasil menunjukkan bahwa variasi konsentrasi aktivator berpengaruh nyata terhadap rendemen, kadar air, kadar abu, kadar zat volatil, kadar karbon terikat, dan daya serap iodium. Aktivasi dengan ZnCl2 30% memberikan hasil terbaik dengan rendemen 62,29% dan serapan iodium 960,25 mg/g, serta kadar air, abu, zat volatil, dan karbon terikat masing-masing 7,15%, 8,32%, 3,96%, dan 80,56%.Kulit buah salak dapat menjadi bahan dasar pembuatan arang aktif karena mengandung senyawa selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang berpotensi tinggi sebagai sumber karbon. Pemanfaatan limbah kulit buah salak sebagai bahan baku arang aktif juga merupakan upaya dalam mengurangi limbah agroindustri sekaligus meningkatkan nilai tambahnya. Pembuatan arang aktif dari kulit buah salak dilakukan melalui dua tahap utama, yaitu proses karbonisasi dan aktivasi. Aktivasi kimia menggunakan bahan kimia ZnCl2 sebagai aktivator diketahui dapat menghasilkan mutu arang aktif yang lebih baik dibandingkan aktivasi fisika. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi aktivator seng klorida (ZnCl2) terbaik dalam pembuatan arang aktif kulit buah salak asal Padangsidimpuan. Penelitian dilaksanakan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan enam perlakuan konsentrasi ZnCl2 (5%, 10%, 15%, 20%, 25%, dan 30%) dan tiga ulangan. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikansi 5%. Hasil menunjukkan bahwa variasi konsentrasi aktivator berpengaruh nyata terhadap rendemen, kadar air, kadar abu, kadar zat volatil, kadar karbon terikat, dan daya serap iodium. Aktivasi dengan ZnCl2 30% memberikan hasil terbaik dengan rendemen 62,29% dan serapan iodium 960,25 mg/g, serta kadar air, abu, zat volatil, dan karbon terikat masing-masing 7,15%, 8,32%, 3,96%, dan 80,56%

    PERANCANGAN KEMASAN TRANSPORTASI BUAH MELON (Cucumis melo L.)

    Full text link
    Transportasi buah melon merupakan mata rantai penting dalam kegiatan pascapanen karena umumnya buah melon hanya dibudidayakan di beberapa sentra produksi sedangkan konsumen tersebar di daerah yang cukup jauh dari lokasi penanaman. Penelitian bertujuan untuk merancang kemasan tranportasi buah melon dan penataan buah dalam kemasan partisi yang tepat untuk meminimalkan potensi kerusakan buah. Penelitian ini meliputi pembuatan desain kemasan dan dan uji jatuh untuk menguji kekuatan kemasan. Pengujian dilakukan dengan menghitung kekuatan kemasan, simulasi 3 (tiga) kali pengangkutan berulang, menghitung susut bobot, dan melakukan uji jatuh. Selama simulasi pengangkutan, suhu berkisar antara 25,70°C hingga 34,10°C, kelembapan relatif berkisar antara 66.80% hingga 84%, dan nilai maksimum getaran sebesar 8,2 m/s2. Karton gelombang flute BC digunakan sebagai bahan kemasan dengan kapasitas 20 kg dan disusun dengan lima tipe meliputi simple cubic (SC) tanpa partisi, SC partisi karton, SC partisi jerami, SC partisi kertas, dan jumble tanpa partisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan kemasan yang dirancang dengan dimensi ukuran 50 x 33 x 35 cm adalah 351,49 kgf, dan dapat ditumpuk hingga 5 kemasan. Kerusakan paling sedikit terjadi pada SC partisi jerami dan kerusakan paling banyak terjadi pada SC tanpa partisi. Susut bobot terbesar terjadi pada SC partisi kertas 0,89%.Transportasi buah melon merupakan mata rantai penting dalam kegiatan pascapanen karena umumnya buah melon hanya dibudidayakan di beberapa sentra produksi sedangkan konsumen tersebar di daerah yang cukup jauh dari lokasi penanaman. Penelitian bertujuan untuk merancang kemasan tranportasi buah melon dan penataan buah dalam kemasan partisi yang tepat untuk meminimalkan potensi kerusakan buah. Penelitian ini meliputi pembuatan desain kemasan dan dan uji jatuh untuk menguji kekuatan kemasan. Pengujian dilakukan dengan menghitung kekuatan kemasan, simulasi 3 (tiga) kali pengangkutan berulang, menghitung susut bobot, dan melakukan uji jatuh. Selama simulasi pengangkutan, suhu berkisar antara 25,70°C hingga 34,10°C, kelembapan relatif berkisar antara 66.80% hingga 84%, dan nilai maksimum getaran sebesar 8,2 m/s2. Karton gelombang flute BC digunakan sebagai bahan kemasan dengan kapasitas 20 kg dan disusun dengan lima tipe meliputi simple cubic (SC) tanpa partisi, SC partisi karton, SC partisi jerami, SC partisi kertas, dan jumble tanpa partisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan kemasan yang dirancang dengan dimensi ukuran 50 x 33 x 35 cm adalah 351,49 kgf, dan dapat ditumpuk hingga 5 kemasan. Kerusakan paling sedikit terjadi pada SC partisi jerami dan kerusakan paling banyak terjadi pada SC tanpa partisi. Susut bobot terbesar terjadi pada SC partisi kertas 0,89%

    APLIKASI MICROWAVE ASSISTED EXTRACTION (MAE) PADA EKSTRAKSI PHILODENDRON RED SEBAGAI SUMBER PEWARNA ALAMI

    Full text link
    Philodendron Red adalah tanaman hias dengan daun berwarna merah kecoklatan sehingga berpotensi sebagai sumber pewarna alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode Microwave Assisted Extraction (MAE) terhadap karakteristik ekstrak Philodendron red  dengan perbedaan waktu (menit) dan daya (watt) serta mengetahui perlakuan terbaik metode Microwave Assisted Extraction (MAE) pada perbedaan waktu (menit) dan daya (watt) untuk menghasilkan pewarna alami. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor yaitu waktu (3 menit, 5 menit, dan 7 menit) dan daya (225 watt dan 315 watt). Analisis data menggunakan Analysis of Varians (ANOVA) dengan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan interaksi lama waktu (menit) dan daya (watt) berpengaruh nyata terhadap rendemen, pH, total antosianin, total klorofil, nilai warna (a,b,chroma, dan hue) tetapi tidak berpengaruh nyata pada nilai lightness dan total karotenoid. Perlakuan A3B2 (7 menit; 315 watt)  sebagai perlakuan terbaik dengan karakteristik rendemen sebesar 73,98%, nilai L* sebesar 68,24, nilai a* 5,29, nilai b* sebesar 5,31, nilai chroma sebesar 7,74, total antosianin sebesar 33,90 mg/L, dan total klorofil sebesar 2,04 mg/L. Ekstrak Philodendron red berpotensi menjadi pewarna alami terutama warna merah, tetapi kandungan pigmen cukup rendah dibandingkan pewarna lainnya.Philodendron Red adalah tanaman hias dengan daun berwarna merah kecoklatan sehingga berpotensi sebagai sumber pewarna alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode Microwave Assisted Extraction (MAE) terhadap karakteristik ekstrak Philodendron red  dengan perbedaan waktu (menit) dan daya (watt) serta mengetahui perlakuan terbaik metode Microwave Assisted Extraction (MAE) pada perbedaan waktu (menit) dan daya (watt) untuk menghasilkan pewarna alami. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor yaitu waktu (3 menit, 5 menit, dan 7 menit) dan daya (225 watt dan 315 watt). Analisis data menggunakan Analysis of Varians (ANOVA) dengan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan interaksi lama waktu (menit) dan daya (watt) berpengaruh nyata terhadap rendemen, pH, total antosianin, total klorofil, nilai warna (a,b,chroma, dan hue) tetapi tidak berpengaruh nyata pada nilai lightness dan total karotenoid. Perlakuan A3B2 (7 menit; 315 watt)  sebagai perlakuan terbaik dengan karakteristik rendemen sebesar 73,98%, nilai L* sebesar 68,24, nilai a* 5,29, nilai b* sebesar 5,31, nilai chroma sebesar 7,74, total antosianin sebesar 33,90 mg/L, dan total klorofil sebesar 2,04 mg/L. Ekstrak Philodendron red berpotensi menjadi pewarna alami terutama warna merah, tetapi kandungan pigmen cukup rendah dibandingkan pewarna lainnya

    ANALISIS KINERJA RANTAI PASOK UNIT PENGGILINGAN PADI MENGGUNAKAN SUPPLY CHAIN OPERATION REFERENCE (STUDI KASUS)

    Full text link
    Unit penggilingan padi masih menghadapi berbagai kendala dalam mengelola aktivitas rantai pasoknya mulai dari  pembelian bahan baku, pengolahan di pabrik, hingga pengiriman produk. Kendala dan masalah tersebut harus segera ditangani agar kinerjanya meningkat yang berdampak pada peningkatan daya saing, profitabilitas, dan kepuasan konsumen. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi struktur rantai pasok, menganalisis status kinerja rantai pasok dan memberikan rekomendasi perbaikan kinerjanya pada salah satu unit penggilingan padi skala kecil di Kabupaten Banyuwangi. Analisis kinerja dilakukan menggunakan matrik SCOR (Supply Chain Operation Reference) versi 11. Atribut kinerja yang digunakan meliputi reliability, responsiveness, agility, cost, dan management asset dimana masing-masing memiliki indikator kinerja. Penilaian kinerja dilakukan dengan membandingkan data aktual dengan data historis perusahaan, dimana mengacu pada kejadian nyata yang mencerminkan kondisi kinerja dari yang terburuk hingga yang terbaik untuk setiap indikator. Nilai kinerja rantai pasok terdiri atas tiga kategori yaitu  superior-advantage-parity (terbaik-baik-rendah). Indikator yang memiliki status kinerja superior adalah indikator total biaya pelayanan (72,64%) dan siklus cash-to-cash (1 hari). Sedangkan indikator dengan status kinerja advantage adalah indikator pemenuhan pesanan sempurna (80%), siklus pemenuhan pesanan (5 hari), dan fleksibilitas pemenuhan pesanan (5 hari). Indikator dengan status kinerja superior perlu dipertahankan, sedangkan indikator kinerja dengan status advantage perlu ditingkatkan dengan rekomendasi perbaikan yang disarankan

    ANTIOXIDANT POTENTIAL OF ARABICA COFFEE PROCESSED BY HONEY METHOD

    Full text link
    This study investigated the impact of different coffee processing methods, the natural method, and fermentation with yellow, red, and black honey methods on the bioactive compounds of Arabica coffee using a Randomized Complete Block Design in five replicate experiments. The antioxidant activity, phenolic, flavonoid, caffeine, total soluble solid content, and pH value were determined. The results showed that the honey processing method could improve bioactive compounds more than the natural method, with higher levels of antioxidants, phenolic, flavonoid, and total soluble solid contents but lower caffeine content and pH value. Arabica coffee-treated yellow honey exhibited the highest Increase in antioxidant activity. These findings suggest that coffee-treated yellow honey could be a functional food

    MANAJEMEN RISIKO PENGEMBANGAN AGROTECHNOPRENEURSHIP ABON LELE DI KABUPATEN JEMBER

    Full text link
    Salah satu agrotechnopreneurship berbasis perikanan yang berpotensi dikembangkan di Kabupaten Jember adalah industri abon ikan lele. Pengembangan agrotechnopreneurship menghadapi beberapa risiko akibat adanya ketidakpastian pada kegiatan usahanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengelola risiko dalam pengembangan agrotechnopreneurship abon lele, dengan tujuan memberikan panduan praktis bagi para pemangku kepentingan agrotechnopreneurship di Kabupaten Jember dalam mendirikan dan mengembangkan usahanya. Metode manajemen risiko yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wawancara dan observasi untuk mengidentifikasi risiko, Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk menilai tingkat keparahan dan kemungkinan terjadinya risiko, diagram tulang ikan (fishbone diagram) untuk menganalisis akar penyebab risiko, serta Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas strategi mitigasi risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 10 potensi risiko yang di antaranya terkait dengan pengembangan agrotechnopreneurship abon lele di Kabupaten Jember. Berdasarkan analisis kekritisan, teridentifikasi empat risiko utama dalam proses pengembangan agrotechnopreneurship abon lele, antara lain rendahnya kemampuan permodalan untuk pengembangan produk, proses produksi tidak kontinu, kegiatan promosi yang kurang intensif, dan kurangnya inovasi produk. Faktor manusia, metode, sarana, dan lingkungan diperhitungkan dalam mengevaluasi akar penyebab risiko. Hasil dari mitigasi risiko menunjukkan beberapa strategi prioritas yang dapat diterapkan yaitu perlunya peran pemerintah dalam memfasilitasi (akses dan kebijakan) peminjaman modal, menerapkan manajemen rantai pasok untuk mengelola distribusi bahan baku dan produk, berpartisipasi dalam acara atau pameran yang diselenggarakan oleh pemerintah, serta mengembangkan variasi rasa dan kemasan produk abon lele.Salah satu agrotechnopreneurship berbasis perikanan yang berpotensi dikembangkan di Kabupaten Jember adalah industri abon ikan lele. Pengembangan agrotechnopreneurship menghadapi beberapa risiko akibat adanya ketidakpastian pada kegiatan usahanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengelola risiko dalam pengembangan agrotechnopreneurship abon lele, dengan tujuan memberikan panduan praktis bagi para pemangku kepentingan agrotechnopreneurship di Kabupaten Jember dalam mendirikan dan mengembangkan usahanya. Metode manajemen risiko yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wawancara dan observasi untuk mengidentifikasi risiko, Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk menilai tingkat keparahan dan kemungkinan terjadinya risiko, diagram tulang ikan (fishbone diagram) untuk menganalisis akar penyebab risiko, serta Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas strategi mitigasi risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 10 potensi risiko yang di antaranya terkait dengan pengembangan agrotechnopreneurship abon lele di Kabupaten Jember. Berdasarkan analisis kekritisan, teridentifikasi empat risiko utama dalam proses pengembangan agrotechnopreneurship abon lele, antara lain rendahnya kemampuan permodalan untuk pengembangan produk, proses produksi tidak kontinu, kegiatan promosi yang kurang intensif, dan kurangnya inovasi produk. Faktor manusia, metode, sarana, dan lingkungan diperhitungkan dalam mengevaluasi akar penyebab risiko. Hasil dari mitigasi risiko menunjukkan beberapa strategi prioritas yang dapat diterapkan yaitu perlunya peran pemerintah dalam memfasilitasi (akses dan kebijakan) peminjaman modal, menerapkan manajemen rantai pasok untuk mengelola distribusi bahan baku dan produk, berpartisipasi dalam acara atau pameran yang diselenggarakan oleh pemerintah, serta mengembangkan variasi rasa dan kemasan produk abon lele

    ANALISIS SISTEM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP TINGKAT RISIKO KECELAKAAN PEKERJA MENGGUNAKAN METODE HIRARC DI UD NYOTO PERMADI

    Full text link
    UD Nyoto Permadi merupakan perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan, penyaluran, serta penerimaan tembakau. Proses pengolahaan pada perusahaan ini masih dilakukan secara manual yang membutuhkan tenaga manusia. Terdapat kecelakaan kerja yang berasal dari adanya bahaya di tempat kerja. Tindakan pengendalian yang dilakukan perusahaan hanya bersifat kuratif sehingga tidak mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Metode HIRARC digunakan untuk mengenali faktor potensi bahaya yang terjadi sehingga dapat dilakukan pengendalian terhadap risiko dan bahaya yang akan terjadi. Penelitian ini menggunakan metode HIRARC melalui 3 tahapan dengan sampel 30 orang pada 6 area kerja pengolahan kemudian dilakukan penilaian risiko untuk mengetahui nilai risiko yang tinggi. Hasil dari metode HIRARC menunjukkan bahwa terdapat 4 jenis bahaya yang ada pada area kerja pengolahan tembakau. Pengendalian risiko dilakukan berdasarkan faktor bahaya yang memiliki nilai risiko tinggi hingga ekstrim.Pada area pembelian, terdapat 3 faktor risiko yang memiliki nilai tinggi dan 1 nilai riisko ekstrim. Pada area kerja penjemuran, terdapat 4 faktor risiko yang memiliki nilai tinggi. Pada proses fermentasi, terdapat 2 faktor risiko yang memiliki nilai tinggi. Pada area pengguntingan, terdapat 3 faktor risiko yang memiliki nilai tinggi. Pada area sortasi, terdapat 2 faktor risiko dengan nilai tinggi. Pada proses pengemasan, terdapat 3 faktor risiko dengan nilai tinggi. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat 11 potensi bahaya pada 6 area kerja di UD Nyoto Permadi. Jenis pengendalian risiko yang dapat dilakukan pada UD Nyoto Permadi adalah subtitusi, pengendalian teknis, administratif, dan alat pelindung diri.UD Nyoto Permadi merupakan perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan, penyaluran, serta penerimaan tembakau. Proses pengolahaan pada perusahaan ini masih dilakukan secara manual yang membutuhkan tenaga manusia. Terdapat kecelakaan kerja yang berasal dari adanya bahaya di tempat kerja. Tindakan pengendalian yang dilakukan perusahaan hanya bersifat kuratif sehingga tidak mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Metode HIRARC digunakan untuk mengenali faktor potensi bahaya yang terjadi sehingga dapat dilakukan pengendalian terhadap risiko dan bahaya yang akan terjadi. Penelitian ini menggunakan metode HIRARC melalui 3 tahapan dengan sampel 30 orang pada 6 area kerja pengolahan kemudian dilakukan penilaian risiko untuk mengetahui nilai risiko yang tinggi. Hasil dari metode HIRARC menunjukkan bahwa terdapat 4 jenis bahaya yang ada pada area kerja pengolahan tembakau. Pengendalian risiko dilakukan berdasarkan faktor bahaya yang memiliki nilai risiko tinggi hingga ekstrim.Pada area pembelian, terdapat 3 faktor risiko yang memiliki nilai tinggi dan 1 nilai riisko ekstrim. Pada area kerja penjemuran, terdapat 4 faktor risiko yang memiliki nilai tinggi. Pada proses fermentasi, terdapat 2 faktor risiko yang memiliki nilai tinggi. Pada area pengguntingan, terdapat 3 faktor risiko yang memiliki nilai tinggi. Pada area sortasi, terdapat 2 faktor risiko dengan nilai tinggi. Pada proses pengemasan, terdapat 3 faktor risiko dengan nilai tinggi. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat 11 potensi bahaya pada 6 area kerja di UD Nyoto Permadi. Jenis pengendalian risiko yang dapat dilakukan pada UD Nyoto Permadi adalah subtitusi, pengendalian teknis, administratif, dan alat pelindung diri

    PENGARUH REFORMULASI YOGURT DRINK SEHATI MENGGUNAKAN CMC (Carboxymethyl cellulose) TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA SELAMA PENYIMPANAN DINGIN

    Full text link
    Yogurt drink merupakan olahan minuman fermentasi yang kaya akan manfaat, namun yogurt drink memiliki kelemahan dalam hal stabilitas selama penyimpanan. Penyimpanan yogurt dalam jangka waktu yang cukup lama akan menyebabkan kerusakan seperti sinersis, yaitu terbentuknya dua endapan akibat terpisahnya padatan dan cairan pada yogurt. Kelemahan ini dapat diperbaiki dengan menambahkan bahan penstabil seperti CMC pada produk dengan konsentrasi tertentu. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penambahan bahan penstabil CMC dengan variasi konsentrasi yang berbeda terhadap karakteristik fisik dan kimiawi produk yogurt drink yang di reformulasi. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan variasi konsentrasi penambahan bahan penstabil CMC 0%; 0,3%; 0,5%; 0,7%; dan 0,9% pada yogurt drink. Variabel pengujiannya, meliputi uji stabilitas, viskositas, pH, gula brix (padatan gula dalam larutan) dan total asam tertitrasi yang akan dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan penstabil berupa CMC pada konsentrasi 0,1% - 0,9% mampu meningkatkan stabilitas fisik dari yogurt drink yang dihasilkan. Konsentrasi CMC yang ditambahkan berpengaruh nyata terhadap viskositas, stabilitas fisik dan total padatan. Penambahan CMC pada konsentrasi 0,5% dan 0,7% dapat meningkatkan stabilitas fisik yogurt hingga penyimpanan selama 12 hari pada kondisi suhu refrigerator (4 – 8)°C dengan nilai stabilitas dan viskositas, berturut-turut 378 cP dan 87%; serta 424,33 cP dan 91%.Yogurt drink merupakan olahan minuman fermentasi yang kaya akan manfaat, namun yogurt drink memiliki kelemahan dalam hal stabilitas selama penyimpanan. Penyimpanan yogurt dalam jangka waktu yang cukup lama akan menyebabkan kerusakan seperti sinersis, yaitu terbentuknya dua endapan akibat terpisahnya padatan dan cairan pada yogurt. Kelemahan ini dapat diperbaiki dengan menambahkan bahan penstabil seperti CMC pada produk dengan konsentrasi tertentu. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penambahan bahan penstabil CMC dengan variasi konsentrasi yang berbeda terhadap karakteristik fisik dan kimiawi produk yogurt drink yang di reformulasi. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan variasi konsentrasi penambahan bahan penstabil CMC 0%; 0,3%; 0,5%; 0,7%; dan 0,9% pada yogurt drink. Variabel pengujiannya, meliputi uji stabilitas, viskositas, pH, gula brix (padatan gula dalam larutan) dan total asam tertitrasi yang akan dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan penstabil berupa CMC pada konsentrasi 0,1% - 0,9% mampu meningkatkan stabilitas fisik dari yogurt drink yang dihasilkan. Konsentrasi CMC yang ditambahkan berpengaruh nyata terhadap viskositas, stabilitas fisik dan total padatan. Penambahan CMC pada konsentrasi 0,5% dan 0,7% dapat meningkatkan stabilitas fisik yogurt hingga penyimpanan selama 12 hari pada kondisi suhu refrigerator (4 – 8)°C dengan nilai stabilitas dan viskositas, berturut-turut 378 cP dan 87%; serta 424,33 cP dan 91%

    Sampul dan Daftar Isi

    No full text

    193

    full texts

    236

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agroindustri
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇