JRSKT - Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan
Not a member yet
    93 research outputs found

    PROFIL FITOKIMIA DAN UJI ANTIBAKTERI BIJI MANGGA ARUM MANIS (Mangifera indica. Linn)

    Full text link
    Telah  dilakukan  penelitian  tentang  profil  fitokimia  dan  uji  antibakteri  dari  biji  mangga  Arum  manis  (Mangifera indica. Linn). Hasil uji fitokimia dan anlisis kromatografi lapis tipis terhadap ekstrak metanol, menunjukkan bahwa biji  mangga  Arum  manis  mengandung  senyawa    fenolik,  flavonoid  dan  terpenoid  dengan  kandungan  tertinggi senyawa  golongan  fenolik.  Uji  antibakteri  menunjukan  ekstrak  metanol  ini  dapat  menghambat  pertumbuhan bakteri  Escherichia  coli  dan  Staphylococus  aureus  dengan  nilai  konsentrasi  hambat  minimum  masing-masing sebesar 2000 dan 250 µg/mL. Kata kunci: Mangga, fitokimia, antibakte

    DETEKSI BAKTERI PENYEBAB PENYAKIT TYPHUS PADA MANUSIA DENGAN POLYMERASE CHAIN REACTION

    Full text link
    Salmonella typhi is bacteria that cause typhoid disease in humans. In Indonesia, the morbidity number of typhoid disease tends to be increase. Thus, it has been requiring the alternative for handling or preventing that disease. Recently, the detection method commonly uses for S. typhi detection is Serological test. The weakness of this method is often producing less accurate and not specific detection. The previous research was successfully discovered S. typhi gene that codes protein which is contributed at adherents or colonization those bacteria in epithelial human cell. That result was base to develop detection on S. typhi method by Polymerase chain reaction (PCR). The aim of this research is developing a specific and accurate detection method for S. typhi bacteria by PCR. The research result is performed successfully to amplify the fimbrial-C S. typhi gene using pairs of primer FW-INT 2- REV-1A NEW which was designed and synthesized in previous step. That success showed by the finding of the DNA fragment of 0.2 kilobase (kb) proffers to size of DNA fragment which is hopefully in using S. typhi genome as a template. Specificity and sensitivity test for those primers are still conducting to reproducibility results. Base on the results can be concluded that the research have successfully conducted in developing S. typhi detection method using pairs of S. typhi fimbrial-C primer. Hopefully, the studied of developing detection methods was conducted better compare with former detection methods.Keywords: S. typhi detection method, fim-C S. typhi gene, PCRAbstrakSalmonella typhi merupakan bakteri penyebab penyakit tifus pada manusia. Di Indonesia, angka morbiditas penderita penyakit typhus cenderung meningkat, sehingga diperlukan suatu alternatif untuk penanganan atau pencegahan penyakit tersebut. Sampai saat ini metode deteksi S. typhi yang banyak digunakan adalah uji serologi. Kelemahan metode ini adalah sering menghasilkan deteksi yang kurang akurat dan tidak spesifik. Pada penelitian yang dilakukan sebelumnya, telah berhasil ditemukan gen fimbrial-C S. typhi pengkode protein yang berperan dalam penempelan S. typhi pada usus manusia, hasil ini dijadikan landasan untuk pengembangan metode deteksi menggunakan teknik PCR. Tujuan penelitian ini mengembangkan metode deteksi yang akurat dan spesifik untuk bakteri penyebab penyakit typhus pada manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah berhasil dilakukan amplifikasi gen fimbrial-C S. typhi menggunakan pasangan primer hasil perancangan yaitu FW-INT 2- REV-1A NEW. Keberhasilan tersebut ditunjukkan dengan diperolehnya pita DNA berukuran 0.2 kilo basa (kb) sesuai dengan ukuran pita DNA yang diharapkan dengan menggunakan template DNA genom bakteri S. typhi. Uji sensitivitas dan spesifisitas terhadap primer hasil rancangan sedang di kaji lebih lanjut untuk memperoleh reprodusibiltas hasil pengujian. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa telah berhasil dilakukan pengembangan metode deteksi S. typhi menggunakan pasangan primer fimbrial-C S. typhi. Pengkajian pengembangan metode deteksi yang dihasilkan ini diharapkan dapat lebih baik dibanding beberapa metode deteksi yang sudah ada.Kata Kunci: Metode Deteksi Bakteri typhus, fim-C S. typhi, PC

    ANALISA KADAR LOGAM TIMBAL (Pb) PADA IKAN MAS HASIL PERSILANGAN YANG DIBUDIDAYAKAN PADA KERAMBA JARING APUNG WADUK CIRATA JAWA BARAT

    Full text link
    Logam Pb merupakan logam berat non esensial yang tidak dibutuhkan oleh tubuh, pada dosis tertentu dapat memberikan efek toksik terhadap kesehatan terutama pada sistim pernapasan, kardiovaskular, urinaria, endokrin, pencernaan, sistim reproduksi, dan sistim saraf. Ikan mas merupakan sumber protein dan ikan budidaya yang sering dikonsumsi masyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar logam Pb pada bagian daging dan bagian kepala, apakah ikan tersebut layak dikonsumsi? Sehingga masyarakat terhindar dari bahaya logam Pb. Ikan mas dikelompokan menjadi 3 kelompok lalu dipisahkan antara daging dan kepala, sampel dikeringkan pada suhu ±103°C selama 18 jam,sampel didestruksi kering pada suhu 450°C selama 18 jam, hasil destruksi dianalisa dengan spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Secara statistic terdapat hubungan antara peningkatan bobot dengan peningkatan kadar logam Pb pada ikan mas dan terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar logam Pb pada bagian kepala dengan kadar logam Pb yang terdapat pada ikan mas hasil persilangan di Waduk Cirata melebihi ambang batas yang diizinkan oleh SNI (Standar Nasional Indonesia) / POM, tidak memenuhi syarat konsumsi. Keywords:Timbal, Ikan Ma

    PENGARUH EKSTRAK METANOL KULIT BUAH JENGKOL TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT

    Full text link
    The  study  aim  is  to  investigate  the  phytochemical  profile  and  the  effect  of  methanol  extract  of  Jengkol [Pithecellobium jiringa (Jack) Prain ex King] (Leguminoceae) on reduction of glucose blood sugar level of mice (Mus musculus L.) strain DDY. A 870 g of dried Jengkol from Cipayung was macerated with methanol in order to get dried methanol  extract  (12,75  g).  Meanwhile,  phytochemical  screening  of  the  extract  gave  the  information  that  the extract  contained  phenolic,  flavanoid,  steroid  and  saponine  compounds.  A  TLC  chromatogram  indicated  that methanol extract contained five phenolic compounds, seven flavonoid compounds and six mixtures of steroid and saponine compounds. The results showed that the extract of 450 mg/kg BW was able to lower glucose blood level as much as 66,67% more effective than other extract dosages (300 mg/kg BW, 600 mg/kg BW and 750 mg/kg BW) and the control drugs (Amaryl® 0,02 mg/kg BW, Glucobay® 1 mg/kg BW and Glucophage® 10 mg/kg BW). The maximum decrease of glucose level had been reach at day 14 of observation after administration of extracts or drugs. Hyperglycemic mice by glucose induced can be identified as animal model of type 2 diabetes due to unhealthy and unbalanced eating habit. Hence based on experiment outcome above, it can be concluded that extract dosage of 450 mg/kg BW has function as oral anti diabetic drug of type 2 diabetes. Keywords: hyperglycemia, Amaryl, Glucobay, Glucophage, diabetes, methanol extract Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil fitokimia dan pengaruh dosis ekstrak metanol kulit buah Jengkol [Pithecellobium jiringa (Jack) Prain ex King] (Leguminoceae) terhadap penurunan kadar glukosa darah mencit (Mus Musculus L.)  strain  DDY  dengan  waktu  pengamatan  yang  berbeda.Sebanyak  870  g  jengkol  dari  Cipayung  yang sudah  dikeringkan,  dimaserasi  dengan  pelarut  metanol  sehingga  diperoleh  ekstrak  metanol  kering  (12,75  g). Sementara,  hasil  uji  fitokimia  memberikan  informasi  bahwa kulit  buah jengkol  mengandung  senyawa  kimia golongan  fenolik,  flavonoid,  steroid,  dan  saponin. Hasil  kromatogram  dari  KLT  menunjukkan  bahwa  ekstrak metanol  kulit  buah  jengkol  mengandung  5  noda  yang  teridentifikasi  sebagai  senyawa  fenolik,  7  noda  yang teridentifikasi sebagai senyawa flavonoid, dan 6 noda yang teridentifikasi sebagai senyawa steroid dan saponin. Hasil  penelitian  menyimpulkan  bahwa  ekstrak  jengkol  dosis  450  mg/kg  BB  mampu  menurunkan  kadar  glukosa darah sebesar 66,67% lebih efektif dibanding ekstrak dosis lain (300 mg/kg BB, 600 mg/kg BB dan 750 mg/kg BB) dan kontrol obat (Amaryl® 0,02 mg/kg BB, Glucobay® 1 mg/kg BB dan Glucophage® 10 mg/kg BB). Penurunan kadar  glukosa  secara  maksimum  terjadi  pada  waktu  pengamatan  hari  ke-14  setelah  pemberian  ekstrak  atau obat. Mencit  yang  dibuat  hiperglikemia  dengan  cara  diberi  glukosa  berlebih  setiap  hari,  dapat  dijadikan  sebagai model hewan yang mengalami diabetes tipe 2 karena pola makanan yang tidak sehat dan seimbang. Oleh karena itu berdasarkan hasil percobaan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dosis 450 mg/kg BB dapat berfungsi sebagai obat antidiabetes oral tipe 2. Kata Kunci:  hiperglikemia, Amaryl®, Glucobay®, Glucophage®, diabetes, ekstrak metanol &nbsp

    PERANAN GARAM-GARAM ANORGANIK DALAM TUBUH SEBAGAI PRINSIP DASAR PADA SISTEM PENGOBATAN SECARA BIOKIMIA

    Full text link
    A biochemical treatment is a natural treatment system, such as body cells treatment  system use inorganik salt existed in human blood and tissues. The inorganic salt can heal all kind diseases, even though these salt existed in smaller  amount  inside  body.  These  salt  are  required  as  active  substances  to  build  a  million  cells.  When    these substances are inadequate and transported by blood, the disturbance of body balance will occur. These condition are indicated by symptoms and various pains which are called diseases. On the biochemical treatment needs only twelve inorganic salts existed inside body. When a human lacks one of these salt, the various health disturbances will take place.  Key works: Inorganic salts, Biochemical treatment system   Abstrak Pengobatan  secara  biokimia  adalah  sistem  pengobatan  secara  alamiah  yaitu  sistem  pengobatan  sel-sel  tubuh dengan menggunakan garam-garam anorganik yang terdapat dalam darah dan jaringan. Garam anorganik ini atau  dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit walaupun garam ini dalam tubuh terdapat dalam jumlah yang sangat kecil, tetapi sangat diperlukan sebagai bahan aktif untuk membangun bejuta-juta sel. Bila bahan ini tidak mencukupi dibawa oleh darah  mengakibatkan gangguan keseimbangan tubuh yang ditunjukkan dengan gejala-gejala atau berbagai keluhan-keluhan rasa sakit yang disebut dengan penyakit. Pada sistem pengobatan  secara biokimia ini hanya memerlukan dua belas macam garam-garam anorganik yang meyerupai garam-garam anoganik yang  terdapat  dalam  tubuh  manusia.  Bila  kekurangan  salah  satu  garam-garam  ini  akan  menimbulkan  bergagai gangguan kesehatan.  Kata Kunci: Garam-garam Anorganik, Sistem Pengobatan Secara Biokimia &nbsp

    PENENTUAN FAKTOR SELEKTIFITAS PENISILIN G TERHADAP FENILASETAT SECARA EKSTRAKSI MEMBRAN CAIR EMULSI DENGAN MENGGUNAKAN CARRIER DIOKTILAMIN

    Full text link
    Tujuan  dpenelitian  ini  adalah  untuk  menentukan  faktor  selektifitas  pemisahan  penisilin  G  dari  fenilasetat.  Cara penenlitian:  ke  dalam  wadah  yaitu    reaktor  (wadah  tempat  kontak  antara  fasa  emulsi  dengan  fasa  eksternal) dimasukkan 20 mL fasa eksternal buffer sitrat pH = 5 yang  mengandung 372,5 ppm penisilin G dan 136,5 ppm fenilasetat. Emulsi yang stabil dicampurkan ke dalam reaktor tersebut diaduk dengan kecepatan 300 rpm dan waktu kontak   5  menit. Setelah terjadi kontak antara fasa emulsi dengan fasa eksternal campuran didiamkan  kemudian dipisahkan lalu diambil fasa emulsinya. Emulsi dipecahkan fasa internal yang mengandung penisilin G ditentukan kuantitasnya dengan HPLC, Hasil penelitian memberikan data sebagai berikut : persen ekstraksi penislin G pada lama ekstraksi : 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit adalah : 35,74% ; % ; 10,54% ; 10,05 % ; 9,66% lebih tinggi dibanding persen ekstraksi fenil asetat 15,13% ; 0,76% ; 0,57% ; 0,55%. Akibatnya faktor selektifitas penisilin G-fenilasetat naik  dari 2,1 sampai 21. Keadaan ini memberikan arti bahwa pada fasa internal kandungan penisilin G lebih  banyak  dibanding  fenilasetat.  Dengan  demikian  kesimpulan  penelitian  adalah  cara  ekstraksi  membran  cair emulsi dengan dioktilamin sebagai carrier merupakan cara yang efektif untuk memisahkan campuran penisilin G dari fenilasetat.Kata kunci : Membran cair emulsi, faktor daya pisa

    STUDI PENDAHULUAN PEMBUATAN MINUMAN FERMENTASI-YOGHURT BERBAHAN DASAR BIJI DURIAN DAN ANALISIS KIMIANYA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pembuatan minuman fermentasi berbahan dasar biji durian dan analisis kimianya. Minuman fermentasi ini dibuat dengan memvariasikan lamanya waktu fermentasi (20 jam, 30 jam, dan 40 jam) dan konsentrasi campuran serbuk biji durian dengan air (perbandingan biji durian:air adalah 1:16, 1:18 dan 1:20). Komposisi lengkap dari tiap-tiap yoghurt adalah sebagai berikut: Yoghurt A (5% w/w susu skim, 5% w/w gula pasir, 10% starter bakteri asam laktat, dan 80% biji durian + air (perbandingan biji durian:air = 1:16)), Yoghurt B (5% w/w susu skim, 5% w/w gula pasir, 10% starter bakteri asam laktat, dan 80% biji durian + air (perbandingan biji durian:air = 1:18)), Yoghurt C (5% w/w susu skim, 5% w/w gula pasir, 10% starter bakteri asam laktat, dan 80% biji durian + air (perbandingan biji durian:air = 1:20)), dan Blangko (5% w/w susu skim, 5% w/w gula pasir, 10% starter bakteri asam laktat, dan 80% air). Tiap-tiap campuran tersebut dibagi tiga dan dimasukkan ke tiga botol steril yang diberi label 20 jam (Yoghurt A20, Yoghurt B20 dan Yoghurt C20), 30 jam (Yoghurt A30, Yoghurt B30 dan Yoghurt C30) dan 40 jam (Yoghurt A40, Yoghurt B40 dan Yoghurt C40). Selanjutnya botol diinkubasi pada suhu ruang (28-30oC) berdasarkan waktu yang tertera di masingmasing botol tersebut. Setelah selesai diinkubasi, tiap-tiap botol didinginkan didalam refrigerator sampai dilakukan analisis kimianya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penampilan fisik dari minuman fermentasi biji durian adalah berupa larutan kental atau semipadat yang berwarna krem dan berbau tajam khas produk fermentasi bakteri asam laktat. Selain itu, waktu fermentasi berpengaruh terhadap kandungan kimia dari minuman fermentasi biji durian. Minuman fermentasi biji durian yang memiliki keasaman paling tinggi (0,855 setiap 100mg asam laktat/g sampel) dan kadar gula pereduksi yang paling tinggi (2,641 mg/mL) adalah minuman fermentasi dengan perbandingan biji durian:air = 1:16 pada waktu fermentasi 30 jam. Sementara itu, minuman fermentasi biji durian yang memiliki kandungan protein yang paling tinggi (8,717 mg/mL) adalah minuman fermentasi dengan perbandingan biji durian:air = 1:20 pada waktu fermentasi 30 jam. Kesimpulan penelitian ini adalah biji durian dapat digunakan sebagai media fermentasi bagi bakteri asam laktat. Penelitian selanjutnya adalah uji organoleptik (uji penerimaan konsumen), karakteristik kimiawi, fisika, dan biologis seperti kadar lemak, kadar abu, cemaran mikroba, dan jenis-jenis asam atau senyawa volatil yang terkandung dalam yoghurt biji durian agar dapat memenuhi standar yoghurt yang sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Kata Kunci: bakteri asam laktat, biji durian, minuman fermentasi, gula pereduksi, keasaman, Peptid

    PERMUKAAN ENERGI POTENSIAL HIDROGEN PADA SISTEM GRAFIT TERINTERKALASI INVESTIGASI TEORI FUNGSI KERAPATAN

    Full text link
    Permukaan energi potensial untuk sistem hidrogen pada permukaan grafit terinterkalasi alkali (Li, Na dan K) telah  diteliti,  secara  teoritis.  Model  struktural,  sifat  energik,  dan  elektronik  dari  hidrogen  pada  sistem alkali/grafit dihitung melalui teori fungsi kerapatan (DFT) dengan menggunakan pendekatan koreksi gradien Perdew-Burke-Ernzerhof  (PBE).  Perhitungan  dilakukan  dengan  menggunakan  basis  set  plane-wave,  dan interaksi  elektron-inti  dijelaskan  menggunakan  pendekatan  pseudopotential.  Pada  langkah  pertama, permukaan energi potensial diperoleh dengan cara menghitung energi berbagai posisi molekul hidrogen pada permukaan  grafit,  yaitu  di  atas  atom  karbon  (top),  di  atas  ikatan  C=C  (bridge),  dan  di  atas  ring  (hollow). Diperoleh hasil bahwa molekul hidrogen yang paling stabil adalah pada posisi top, dengan energi sebesar 3,2 eV pada jarak 0,019 A. Selanjutnya semua perhitungan dilakukan pada jarak 3,2 A dari permukaan grafit. Pada langkah berikutnya, permukaan energi potensial atom alkali (Li, Na, dan K) pada permukaan grafit memberi hasil bahwa atom alkali paling stabil pada posisi hollow dengan jarak antara Li, Na, dan K pada permukaan grafit adalah 1,7 A, 2,3 A, dan 2,6 A dengan energi minimum -1,37 eV, -0,66 eV dan -0,96 eV, secara berurutan. Dari  data  kerapatan  muatan  menunjukkan  bahwa  terjadi  peningkatan  transfer  muatan  elektron  dari  atom alkali  terhadap  orbital  elektron  pi  grafit.  Pada  langkah  terakhir,  permukaan  energi  potensial  minimum diperoleh pada variasi posisi hidrogen molekul pada sistem grafit terinterkalasi atom alkali, dan menunjukkan model permukaan energi potensial seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah. Diperoleh bahwa terdapat enam  titik  energi  potensial  terendah  yang  dapat  ditempati  oleh  enem  molekul  hidrogen  yaitu  pada  posisi bridge dari sistem ini. Jarak antara keenam molekul hidrogen dengan atom Li, Na, dan atom K adalah 2,6 A, 2,7 A,  dan  2,8  A,  dengan  energi  minimum  -0,082  eV,  eV  dan  -0,071  -0,079  eV,  secara  berurutan.  Hal  ini menunjukkan  bahwa  kehadiran  atom  Li  memberikan  nilai  kapasitas  yang  lebih  tinggi  dibandingkan  dengan atom  Na  dan  K.  Hasil  ini  mendukung  dan  menjelaskan  secara  kualitatif  adanya  peningkatan  kapasitas penyimpanan hidrogen dalam sistem alkali-grafit.   kata kunci : Teori fungsi kerapatan, hidrogen, grafit terinterkalasi atom alkal

    N-METIL LAUROTETANIN DAN BOLDIN, DUA SENYAWA TURUNAN ALKALOID APORFIN DARI Cryptocarya tawaensis Merr (Lauraceae)

    Full text link
    Cryptocarya  (Lauraceae),  yang  dikenal  dengan  nama  daerah  “medang† merupakan  salah  satu  kelompok tumbuhan  endemik  hutan  tropik  Indonesia.  Kelompok  tumbuhan  ini  secara  fitokimia  merupakan  penghasil metabolit sekunder golongan alkaloid, α-piron, flavonoid dan triterpen. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, kajian fitokimia terhadap senyawa alkaloid dari spesies Cryptocarya tawaensis  Merr (Lauraceae) belum pernah dilaporkan  sebelumnya.  Hasil  penelitian  terhadap  spesies  ini  telah  berhasil  diisolasi  dan  diidentifikasi  dua senyawa turunan alkaloid aporfin, yaitu N-metillaurotetanin (1) dan  boldin (2), dimana struktur molekul kedua senyawa  tersebut  ditetapkan    berdasarkan  sifat  fisika,  data  spektroskopi  UV,  IR,  1H-NMR  dan  serta perbandingan dengan data senyawa standar yang telah dilaporkan. Senyawa 1 pernah dilaporkan sebelumnya dari spesies C. longifolia, sementara senyawa 2 baru pertama kali ditemukan dalam tumbuhan Cryptocarya. Berdasarkan penemuan kedua senyawa tersebut, dapat disimpulkan bahwa C. tawaensis dapat dikelompokkan ke dalam tumbuhan Cryptocarya penghasil alkaloid. Kata kunci: Alkaloid, Aporfin, N-metil laurotetanin, boldin, Cryptocarya tawaensis  Merr, Lauracea

    PELAPISAN CABE MERAH DENGAN NANOPARTIKEL KITOSAN UNTUK MENGHAMBAT KEHILANGAN VITAMIN C DAN SUSUT BOBOT

    Full text link
    In  this  research  the  possible  use  of  chitosan  nanoparticle  coating  on  green  peppers  (Capsium  annuum  L)  after harvesting and to determined the effect of chitosan nanoparticle  coating formulation to control the barrier properties  toward water and oxygen.was investigated. Manually green peppers were treated with a solution of 1% ,2% and 3% nanoparticle chitosan and then stored at 200C. The parameters of physcochemical properties such as weight loss and ascorbic  acid  concentrations,  were  monitored  during  storage  4  days  until  16  days.  Results  indicated  that  the physicochemical  properties    of  weight  loss  and  ascorbic  concentration  did  not  show  remarkable  change  during storage  period.  and  the  longest  storage  life  16  The  best  quality  of  greeen  peppers  days  were  obtained  from  the chitosan nanoparticle coating at 3% concentration.The results suggest that the biodegradable   coating with higher water vapour permeability can be used to maintain the quality and sanitary conditions of freshly harvested green peppers in modified atmosphere packaging. Keywords :chitosan nanoparticle, green pepper, vitamin C, total weight   Abstrak Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menentukan  pengaruh  konsentrasi  nanopartikel  kitosan  yang    terhadap  kandungan vitamin C dan susut bobot cabe merah. Cabe merah dilapis dengan larutan nanopartikel kitosan, disimpan pada suhu 200C,    dan  kandungan  vitamin  C  serta  susur  bobot  diukur  setiap  4  hari  sekali  selama  16  hari.  Hasil  penelitian menunjukkan  bahwa  cabe  merah  yang  dilapis  dengan  larutan  yang  mengandung  nanopartikel  kitosan  3%, kehilangan vitamin C sebesar 30% pada hari ke 12, sementara cabe merah yang tidak dilapis,  kehilangan vitamin C sebesar  53,8%.  Sementara  kehilangan  susut  bobot  juga  menunjukkan  pola  yang  sama  dengan  vitamin  C.  Hasil terbaik diperoleh jika cabe merah dilapis dengan larutan yang mengandung 3% nanopartikel kitosan. kata kunci : nanopartikel kitosan, cabe hijau, vitamin C, jumlah bobo

    84

    full texts

    93

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JRSKT - Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇