JRSKT - Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan
Not a member yet
93 research outputs found
Sort by
PROFIL FITOKIMIA DAN UJI ANTIBAKTERI BIJI MANGGA ARUM MANIS (Mangifera indica. Linn)
Telah dilakukan penelitian tentang profil fitokimia dan uji antibakteri dari biji mangga Arum manis (Mangifera indica. Linn). Hasil uji fitokimia dan anlisis kromatografi lapis tipis terhadap ekstrak metanol, menunjukkan bahwa biji mangga Arum manis mengandung senyawa fenolik, flavonoid dan terpenoid dengan kandungan tertinggi senyawa golongan fenolik. Uji antibakteri menunjukan ekstrak metanol ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococus aureus dengan nilai konsentrasi hambat minimum masing-masing sebesar 2000 dan 250 µg/mL.
Kata kunci: Mangga, fitokimia, antibakte
DETEKSI BAKTERI PENYEBAB PENYAKIT TYPHUS PADA MANUSIA DENGAN POLYMERASE CHAIN REACTION
Salmonella typhi is bacteria that cause typhoid disease in humans. In Indonesia, the morbidity number of typhoid disease tends to be increase. Thus, it has been requiring the alternative for handling or preventing that disease. Recently, the detection method commonly uses for S. typhi detection is Serological test. The weakness of this method is often producing less accurate and not specific detection. The previous research was successfully discovered S. typhi gene that codes protein which is contributed at adherents or colonization those bacteria in epithelial human cell. That result was base to develop detection on S. typhi method by Polymerase chain reaction (PCR). The aim of this research is developing a specific and accurate detection method for S. typhi bacteria by PCR. The research result is performed successfully to amplify the fimbrial-C S. typhi gene using pairs of primer FW-INT 2- REV-1A NEW which was designed and synthesized in previous step. That success showed by the finding of the DNA fragment of 0.2 kilobase (kb) proffers to size of DNA fragment which is hopefully in using S. typhi genome as a template. Specificity and sensitivity test for those primers are still conducting to reproducibility results. Base on the results can be concluded that the research have successfully conducted in developing S. typhi detection method using pairs of S. typhi fimbrial-C primer. Hopefully, the studied of developing detection methods was conducted better compare with former detection methods.Keywords: S. typhi detection method, fim-C S. typhi gene, PCRAbstrakSalmonella typhi merupakan bakteri penyebab penyakit tifus pada manusia. Di Indonesia, angka morbiditas penderita penyakit typhus cenderung meningkat, sehingga diperlukan suatu alternatif untuk penanganan atau pencegahan penyakit tersebut. Sampai saat ini metode deteksi S. typhi yang banyak digunakan adalah uji serologi. Kelemahan metode ini adalah sering menghasilkan deteksi yang kurang akurat dan tidak spesifik. Pada penelitian yang dilakukan sebelumnya, telah berhasil ditemukan gen fimbrial-C S. typhi pengkode protein yang berperan dalam penempelan S. typhi pada usus manusia, hasil ini dijadikan landasan untuk pengembangan metode deteksi menggunakan teknik PCR. Tujuan penelitian ini mengembangkan metode deteksi yang akurat dan spesifik untuk bakteri penyebab penyakit typhus pada manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah berhasil dilakukan amplifikasi gen fimbrial-C S. typhi menggunakan pasangan primer hasil perancangan yaitu FW-INT 2- REV-1A NEW. Keberhasilan tersebut ditunjukkan dengan diperolehnya pita DNA berukuran 0.2 kilo basa (kb) sesuai dengan ukuran pita DNA yang diharapkan dengan menggunakan template DNA genom bakteri S. typhi. Uji sensitivitas dan spesifisitas terhadap primer hasil rancangan sedang di kaji lebih lanjut untuk memperoleh reprodusibiltas hasil pengujian. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa telah berhasil dilakukan pengembangan metode deteksi S. typhi menggunakan pasangan primer fimbrial-C S. typhi. Pengkajian pengembangan metode deteksi yang dihasilkan ini diharapkan dapat lebih baik dibanding beberapa metode deteksi yang sudah ada.Kata Kunci: Metode Deteksi Bakteri typhus, fim-C S. typhi, PC
ANALISA KADAR LOGAM TIMBAL (Pb) PADA IKAN MAS HASIL PERSILANGAN YANG DIBUDIDAYAKAN PADA KERAMBA JARING APUNG WADUK CIRATA JAWA BARAT
Logam Pb merupakan logam berat non esensial yang tidak dibutuhkan oleh tubuh, pada dosis tertentu dapat memberikan efek toksik terhadap kesehatan terutama pada sistim pernapasan, kardiovaskular, urinaria, endokrin, pencernaan, sistim reproduksi, dan sistim saraf. Ikan mas merupakan sumber protein dan ikan budidaya yang sering dikonsumsi masyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar logam Pb pada bagian daging dan bagian kepala, apakah ikan tersebut layak dikonsumsi? Sehingga masyarakat terhindar dari bahaya logam Pb. Ikan mas dikelompokan menjadi 3 kelompok lalu dipisahkan antara daging dan kepala, sampel dikeringkan pada suhu ±103°C selama 18 jam,sampel didestruksi kering pada suhu 450°C selama 18 jam, hasil destruksi dianalisa dengan spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Secara statistic terdapat hubungan antara peningkatan bobot dengan peningkatan kadar logam Pb pada ikan mas dan terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar logam Pb pada bagian kepala dengan kadar logam Pb yang terdapat pada ikan mas hasil persilangan di Waduk Cirata melebihi ambang batas yang diizinkan oleh SNI (Standar Nasional Indonesia) / POM, tidak memenuhi syarat konsumsi.
Keywords:Timbal, Ikan Ma
PENGARUH EKSTRAK METANOL KULIT BUAH JENGKOL TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT
The study aim is to investigate the phytochemical profile and the effect of methanol extract of Jengkol [Pithecellobium jiringa (Jack) Prain ex King] (Leguminoceae) on reduction of glucose blood sugar level of mice (Mus musculus L.) strain DDY. A 870 g of dried Jengkol from Cipayung was macerated with methanol in order to get dried methanol extract (12,75 g). Meanwhile, phytochemical screening of the extract gave the information that the extract contained phenolic, flavanoid, steroid and saponine compounds. A TLC chromatogram indicated that methanol extract contained five phenolic compounds, seven flavonoid compounds and six mixtures of steroid and saponine compounds. The results showed that the extract of 450 mg/kg BW was able to lower glucose blood level as much as 66,67% more effective than other extract dosages (300 mg/kg BW, 600 mg/kg BW and 750 mg/kg BW) and the control drugs (Amaryl® 0,02 mg/kg BW, Glucobay® 1 mg/kg BW and Glucophage® 10 mg/kg BW). The maximum decrease of glucose level had been reach at day 14 of observation after administration of extracts or drugs. Hyperglycemic mice by glucose induced can be identified as animal model of type 2 diabetes due to unhealthy and unbalanced eating habit. Hence based on experiment outcome above, it can be concluded that extract dosage of 450 mg/kg BW has function as oral anti diabetic drug of type 2 diabetes.
Keywords: hyperglycemia, Amaryl, Glucobay, Glucophage, diabetes, methanol extract
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil fitokimia dan pengaruh dosis ekstrak metanol kulit buah Jengkol [Pithecellobium jiringa (Jack) Prain ex King] (Leguminoceae) terhadap penurunan kadar glukosa darah mencit (Mus Musculus L.) strain DDY dengan waktu pengamatan yang berbeda.Sebanyak 870 g jengkol dari Cipayung yang sudah dikeringkan, dimaserasi dengan pelarut metanol sehingga diperoleh ekstrak metanol kering (12,75 g). Sementara, hasil uji fitokimia memberikan informasi bahwa kulit buah jengkol mengandung senyawa kimia golongan fenolik, flavonoid, steroid, dan saponin. Hasil kromatogram dari KLT menunjukkan bahwa ekstrak metanol kulit buah jengkol mengandung 5 noda yang teridentifikasi sebagai senyawa fenolik, 7 noda yang teridentifikasi sebagai senyawa flavonoid, dan 6 noda yang teridentifikasi sebagai senyawa steroid dan saponin. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ekstrak jengkol dosis 450 mg/kg BB mampu menurunkan kadar glukosa darah sebesar 66,67% lebih efektif dibanding ekstrak dosis lain (300 mg/kg BB, 600 mg/kg BB dan 750 mg/kg BB) dan kontrol obat (Amaryl® 0,02 mg/kg BB, Glucobay® 1 mg/kg BB dan Glucophage® 10 mg/kg BB). Penurunan kadar glukosa secara maksimum terjadi pada waktu pengamatan hari ke-14 setelah pemberian ekstrak atau obat. Mencit yang dibuat hiperglikemia dengan cara diberi glukosa berlebih setiap hari, dapat dijadikan sebagai model hewan yang mengalami diabetes tipe 2 karena pola makanan yang tidak sehat dan seimbang. Oleh karena itu berdasarkan hasil percobaan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dosis 450 mg/kg BB dapat berfungsi sebagai obat antidiabetes oral tipe 2. Kata Kunci: hiperglikemia, Amaryl®, Glucobay®, Glucophage®, diabetes, ekstrak metanol
 
PERANAN GARAM-GARAM ANORGANIK DALAM TUBUH SEBAGAI PRINSIP DASAR PADA SISTEM PENGOBATAN SECARA BIOKIMIA
A biochemical treatment is a natural treatment system, such as body cells treatment system use inorganik salt existed in human blood and tissues. The inorganic salt can heal all kind diseases, even though these salt existed in smaller amount inside body. These salt are required as active substances to build a million cells. When these substances are inadequate and transported by blood, the disturbance of body balance will occur. These condition are indicated by symptoms and various pains which are called diseases. On the biochemical treatment needs only twelve inorganic salts existed inside body. When a human lacks one of these salt, the various health disturbances will take place.
Key works: Inorganic salts, Biochemical treatment system
Abstrak Pengobatan secara biokimia adalah sistem pengobatan secara alamiah yaitu sistem pengobatan sel-sel tubuh dengan menggunakan garam-garam anorganik yang terdapat dalam darah dan jaringan. Garam anorganik ini atau dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit walaupun garam ini dalam tubuh terdapat dalam jumlah yang sangat kecil, tetapi sangat diperlukan sebagai bahan aktif untuk membangun bejuta-juta sel. Bila bahan ini tidak mencukupi dibawa oleh darah mengakibatkan gangguan keseimbangan tubuh yang ditunjukkan dengan gejala-gejala atau berbagai keluhan-keluhan rasa sakit yang disebut dengan penyakit. Pada sistem pengobatan secara biokimia ini hanya memerlukan dua belas macam garam-garam anorganik yang meyerupai garam-garam anoganik yang terdapat dalam tubuh manusia. Bila kekurangan salah satu garam-garam ini akan menimbulkan bergagai gangguan kesehatan.
Kata Kunci: Garam-garam Anorganik, Sistem Pengobatan Secara Biokimia
 
PENENTUAN FAKTOR SELEKTIFITAS PENISILIN G TERHADAP FENILASETAT SECARA EKSTRAKSI MEMBRAN CAIR EMULSI DENGAN MENGGUNAKAN CARRIER DIOKTILAMIN
Tujuan dpenelitian ini adalah untuk menentukan faktor selektifitas pemisahan penisilin G dari fenilasetat. Cara penenlitian: ke dalam wadah yaitu reaktor (wadah tempat kontak antara fasa emulsi dengan fasa eksternal) dimasukkan 20 mL fasa eksternal buffer sitrat pH = 5 yang mengandung 372,5 ppm penisilin G dan 136,5 ppm fenilasetat. Emulsi yang stabil dicampurkan ke dalam reaktor tersebut diaduk dengan kecepatan 300 rpm dan waktu kontak 5 menit. Setelah terjadi kontak antara fasa emulsi dengan fasa eksternal campuran didiamkan kemudian dipisahkan lalu diambil fasa emulsinya. Emulsi dipecahkan fasa internal yang mengandung penisilin G ditentukan kuantitasnya dengan HPLC, Hasil penelitian memberikan data sebagai berikut : persen ekstraksi penislin G pada lama ekstraksi : 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit adalah : 35,74% ; % ; 10,54% ; 10,05 % ; 9,66% lebih tinggi dibanding persen ekstraksi fenil asetat 15,13% ; 0,76% ; 0,57% ; 0,55%. Akibatnya faktor selektifitas penisilin G-fenilasetat naik dari 2,1 sampai 21. Keadaan ini memberikan arti bahwa pada fasa internal kandungan penisilin G lebih banyak dibanding fenilasetat. Dengan demikian kesimpulan penelitian adalah cara ekstraksi membran cair emulsi dengan dioktilamin sebagai carrier merupakan cara yang efektif untuk memisahkan campuran penisilin G dari fenilasetat.Kata kunci : Membran cair emulsi, faktor daya pisa
STUDI PENDAHULUAN PEMBUATAN MINUMAN FERMENTASI-YOGHURT BERBAHAN DASAR BIJI DURIAN DAN ANALISIS KIMIANYA
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pembuatan minuman fermentasi berbahan dasar biji durian dan analisis kimianya. Minuman fermentasi ini dibuat dengan memvariasikan lamanya waktu fermentasi (20 jam, 30 jam, dan 40 jam) dan konsentrasi campuran serbuk biji durian dengan air (perbandingan biji durian:air adalah 1:16, 1:18 dan 1:20). Komposisi lengkap dari tiap-tiap yoghurt adalah sebagai berikut: Yoghurt A (5% w/w susu skim, 5% w/w gula pasir, 10% starter bakteri asam laktat, dan 80% biji durian + air (perbandingan biji durian:air = 1:16)), Yoghurt B (5% w/w susu skim, 5% w/w gula pasir, 10% starter bakteri asam laktat, dan 80% biji durian + air (perbandingan biji durian:air = 1:18)), Yoghurt C (5% w/w susu skim, 5% w/w gula pasir, 10% starter bakteri asam laktat, dan 80% biji durian + air (perbandingan biji durian:air = 1:20)), dan Blangko (5% w/w susu skim, 5% w/w gula pasir, 10% starter bakteri asam laktat, dan 80% air). Tiap-tiap campuran tersebut dibagi tiga dan dimasukkan ke tiga botol steril yang diberi label 20 jam (Yoghurt A20, Yoghurt B20 dan Yoghurt C20), 30 jam (Yoghurt A30, Yoghurt B30 dan Yoghurt C30) dan 40 jam (Yoghurt A40, Yoghurt B40 dan Yoghurt C40). Selanjutnya botol diinkubasi pada suhu ruang (28-30oC) berdasarkan waktu yang tertera di masingmasing botol tersebut. Setelah selesai diinkubasi, tiap-tiap botol didinginkan didalam refrigerator sampai dilakukan analisis kimianya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penampilan fisik dari minuman fermentasi biji durian adalah berupa larutan kental atau semipadat yang berwarna krem dan berbau tajam khas produk fermentasi bakteri asam laktat. Selain itu, waktu fermentasi berpengaruh terhadap kandungan kimia dari minuman fermentasi biji durian. Minuman fermentasi biji durian yang memiliki keasaman paling tinggi (0,855 setiap 100mg asam laktat/g sampel) dan kadar gula pereduksi yang paling tinggi (2,641 mg/mL) adalah minuman fermentasi dengan perbandingan biji durian:air = 1:16 pada waktu fermentasi 30 jam. Sementara itu, minuman fermentasi biji durian yang memiliki kandungan protein yang paling tinggi (8,717 mg/mL) adalah minuman fermentasi dengan perbandingan biji durian:air = 1:20 pada waktu fermentasi 30 jam. Kesimpulan penelitian ini adalah biji durian dapat digunakan sebagai media fermentasi bagi bakteri asam laktat. Penelitian selanjutnya adalah uji organoleptik (uji penerimaan konsumen), karakteristik kimiawi, fisika, dan biologis seperti kadar lemak, kadar abu, cemaran mikroba, dan jenis-jenis asam atau senyawa volatil yang terkandung dalam yoghurt biji durian agar dapat memenuhi standar yoghurt yang sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).
Kata Kunci: bakteri asam laktat, biji durian, minuman fermentasi, gula pereduksi, keasaman, Peptid
PERMUKAAN ENERGI POTENSIAL HIDROGEN PADA SISTEM GRAFIT TERINTERKALASI INVESTIGASI TEORI FUNGSI KERAPATAN
Permukaan energi potensial untuk sistem hidrogen pada permukaan grafit terinterkalasi alkali (Li, Na dan K) telah diteliti, secara teoritis. Model struktural, sifat energik, dan elektronik dari hidrogen pada sistem alkali/grafit dihitung melalui teori fungsi kerapatan (DFT) dengan menggunakan pendekatan koreksi gradien Perdew-Burke-Ernzerhof (PBE). Perhitungan dilakukan dengan menggunakan basis set plane-wave, dan interaksi elektron-inti dijelaskan menggunakan pendekatan pseudopotential. Pada langkah pertama, permukaan energi potensial diperoleh dengan cara menghitung energi berbagai posisi molekul hidrogen pada permukaan grafit, yaitu di atas atom karbon (top), di atas ikatan C=C (bridge), dan di atas ring (hollow). Diperoleh hasil bahwa molekul hidrogen yang paling stabil adalah pada posisi top, dengan energi sebesar 3,2 eV pada jarak 0,019 A. Selanjutnya semua perhitungan dilakukan pada jarak 3,2 A dari permukaan grafit. Pada langkah berikutnya, permukaan energi potensial atom alkali (Li, Na, dan K) pada permukaan grafit memberi hasil bahwa atom alkali paling stabil pada posisi hollow dengan jarak antara Li, Na, dan K pada permukaan grafit adalah 1,7 A, 2,3 A, dan 2,6 A dengan energi minimum -1,37 eV, -0,66 eV dan -0,96 eV, secara berurutan. Dari data kerapatan muatan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan transfer muatan elektron dari atom alkali terhadap orbital elektron pi grafit. Pada langkah terakhir, permukaan energi potensial minimum diperoleh pada variasi posisi hidrogen molekul pada sistem grafit terinterkalasi atom alkali, dan menunjukkan model permukaan energi potensial seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah. Diperoleh bahwa terdapat enam titik energi potensial terendah yang dapat ditempati oleh enem molekul hidrogen yaitu pada posisi bridge dari sistem ini. Jarak antara keenam molekul hidrogen dengan atom Li, Na, dan atom K adalah 2,6 A, 2,7 A, dan 2,8 A, dengan energi minimum -0,082 eV, eV dan -0,071 -0,079 eV, secara berurutan. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran atom Li memberikan nilai kapasitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan atom Na dan K. Hasil ini mendukung dan menjelaskan secara kualitatif adanya peningkatan kapasitas penyimpanan hidrogen dalam sistem alkali-grafit.
kata kunci : Teori fungsi kerapatan, hidrogen, grafit terinterkalasi atom alkal
N-METIL LAUROTETANIN DAN BOLDIN, DUA SENYAWA TURUNAN ALKALOID APORFIN DARI Cryptocarya tawaensis Merr (Lauraceae)
Cryptocarya (Lauraceae), yang dikenal dengan nama daerah “medang†merupakan salah satu kelompok tumbuhan endemik hutan tropik Indonesia. Kelompok tumbuhan ini secara fitokimia merupakan penghasil metabolit sekunder golongan alkaloid, α-piron, flavonoid dan triterpen. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, kajian fitokimia terhadap senyawa alkaloid dari spesies Cryptocarya tawaensis Merr (Lauraceae) belum pernah dilaporkan sebelumnya. Hasil penelitian terhadap spesies ini telah berhasil diisolasi dan diidentifikasi dua senyawa turunan alkaloid aporfin, yaitu N-metillaurotetanin (1) dan boldin (2), dimana struktur molekul kedua senyawa tersebut ditetapkan berdasarkan sifat fisika, data spektroskopi UV, IR, 1H-NMR dan serta perbandingan dengan data senyawa standar yang telah dilaporkan. Senyawa 1 pernah dilaporkan sebelumnya dari spesies C. longifolia, sementara senyawa 2 baru pertama kali ditemukan dalam tumbuhan Cryptocarya. Berdasarkan penemuan kedua senyawa tersebut, dapat disimpulkan bahwa C. tawaensis dapat dikelompokkan ke dalam tumbuhan Cryptocarya penghasil alkaloid.
Kata kunci: Alkaloid, Aporfin, N-metil laurotetanin, boldin, Cryptocarya tawaensis Merr, Lauracea
PELAPISAN CABE MERAH DENGAN NANOPARTIKEL KITOSAN UNTUK MENGHAMBAT KEHILANGAN VITAMIN C DAN SUSUT BOBOT
In this research the possible use of chitosan nanoparticle coating on green peppers (Capsium annuum L) after harvesting and to determined the effect of chitosan nanoparticle coating formulation to control the barrier properties toward water and oxygen.was investigated. Manually green peppers were treated with a solution of 1% ,2% and 3% nanoparticle chitosan and then stored at 200C. The parameters of physcochemical properties such as weight loss and ascorbic acid concentrations, were monitored during storage 4 days until 16 days. Results indicated that the physicochemical properties of weight loss and ascorbic concentration did not show remarkable change during storage period. and the longest storage life 16 The best quality of greeen peppers days were obtained from the chitosan nanoparticle coating at 3% concentration.The results suggest that the biodegradable coating with higher water vapour permeability can be used to maintain the quality and sanitary conditions of freshly harvested green peppers in modified atmosphere packaging.
Keywords :chitosan nanoparticle, green pepper, vitamin C, total weight
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh konsentrasi nanopartikel kitosan yang terhadap kandungan vitamin C dan susut bobot cabe merah. Cabe merah dilapis dengan larutan nanopartikel kitosan, disimpan pada suhu 200C, dan kandungan vitamin C serta susur bobot diukur setiap 4 hari sekali selama 16 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cabe merah yang dilapis dengan larutan yang mengandung nanopartikel kitosan 3%, kehilangan vitamin C sebesar 30% pada hari ke 12, sementara cabe merah yang tidak dilapis, kehilangan vitamin C sebesar 53,8%. Sementara kehilangan susut bobot juga menunjukkan pola yang sama dengan vitamin C. Hasil terbaik diperoleh jika cabe merah dilapis dengan larutan yang mengandung 3% nanopartikel kitosan.
kata kunci : nanopartikel kitosan, cabe hijau, vitamin C, jumlah bobo