Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
783 research outputs found
Sort by
Afnan, Abiel Helma. 2017. Gambaran Resiliensi Remaja Keluarga TKI Tanpa Perilaku Delikuen di Jawa Timur. Skripsi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Sudjiono, M.Si (2) Pravissi Shanti, S.Psi, M.Psi.
ABSTRAK Kata kunci : Resiliensi, Remaja, Keluarga TKI, Delikuen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran resiliensi dan faktor yang membuat remaja dari keluarga TKI tidak berperilaku delikuen. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi pada tiga anak TKI usia dewasa awal yang tidak berperilaku delikuen saat remaja. Alat pengumpul data berupa wawancara mendalam terkait kehidupan subjek sebagai anak TKI dengan berbagai permasalahan yang dihadapi dan teknik pemilihan subjek menggunakan snow ball sampling. Teknik analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis tematik, yaitu pemrosesan data, mengkategorikan data, dan penafsiran data. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi metode dan triangulasi sumber data. Dari hasil analisis penelitian diperoleh (1) ketiga subjek (HK, ZHA, FAY) merasakan dampak negatif terkait kepergian orang tua menjadi TKI berupa emosi negatif (marah, sedih, murung) yang mendominasi perasaan mereka. (2) ketiga subjek memiliki enam dari tujuh kemampuan pembentuk resiliensi berdasarkan teori resiliensi dari Reivich dan Shatte. (3) Ketiga subjek mampu menemukan hal positif dari kehidupan yang dianggap tidak menyenangkan. (4) ketiga subjek selama remaja tidak pernah melakukan kenakalan remaja (5) Pendidikan dari keluarga, rasa tanggung jawab dan kesadaran diri menjadi pertahanan diri bagi subjek untuk tidak terlibat dengan perilaku kenakalan. Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah : (1) Bagi subjek yang masih merasa sedih saat situasi-situasi tertentu cobalah untuk melakukan kegiatan yang disenangi atau kegiatan yang bisa membuat pikiran tidak terfokus pada hal-hal yang membuat sedih. Dengan demikian, diharapkan subjek mampu mengatasi situasi-situasi yang memicu munculnya kesedihan. (2) Bagi orang tua secara umum diharapkan menyempatkan waktu untuk memberi perhatian kepada anak, mengenalkan norma sosial yang berlaku dimasyarakat dan melatih anak sejak dini untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Bagi orangtua yang memiliki rencana bekerja sebagai TKI, diharapkan memberi pengertian kepada anak mengapa keputusan yang diambil. (3) Bagi guru dan pemerintah desa atau daerah diharapkan memberi perhatian ekstra kepada anak dari keluarga TKI dan membuat kegiatan yang melibatkan remaja anak TKI maupun bukan anak TKI untuk menyalurkan energi, kreativitas dan waktu luang yang dimiliki para remaja agar mereka tidak mengisi waktu luang dengan aktivitas yang tidak baik (4) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan peneliti selanjutnya menggali lebih mendalam lagi mengenai kehidupan anak dari keluarga TK
Gambaran Resiliensi Remaja Keluarga TKI Tanpa Perilaku Delikuen di Jawa Timur
Kata kunci : Resiliensi, Remaja, Keluarga TKI, Delikuen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran resiliensi dan faktor yang membuat remaja dari keluarga TKI tidak berperilaku delikuen. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi pada tiga anak TKI usia dewasa awal yang tidak berperilaku delikuen saat remaja. Alat pengumpul data berupa wawancara mendalam terkait kehidupan subjek sebagai anak TKI dengan berbagai permasalahan yang dihadapi dan teknik pemilihan subjek menggunakan snow ball sampling. Teknik analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis tematik, yaitu pemrosesan data, mengkategorikan data, dan penafsiran data. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi metode dan triangulasi sumber data. Dari hasil analisis penelitian diperoleh (1) ketiga subjek (HK, ZHA, FAY) merasakan dampak negatif terkait kepergian orang tua menjadi TKI berupa emosi negatif (marah, sedih, murung) yang mendominasi perasaan mereka. (2) ketiga subjek memiliki enam dari tujuh kemampuan pembentuk resiliensi berdasarkan teori resiliensi dari Reivich dan Shatte. (3) Ketiga subjek mampu menemukan hal positif dari kehidupan yang dianggap tidak menyenangkan. (4) ketiga subjek selama remaja tidak pernah melakukan kenakalan remaja (5) Pendidikan dari keluarga, rasa tanggung jawab dan kesadaran diri menjadi pertahanan diri bagi subjek untuk tidak terlibat dengan perilaku kenakalan. Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah : (1) Bagi subjek yang masih merasa sedih saat situasi-situasi tertentu cobalah untuk melakukan kegiatan yang disenangi atau kegiatan yang bisa membuat pikiran tidak terfokus pada hal-hal yang membuat sedih. Dengan demikian, diharapkan subjek mampu mengatasi situasi-situasi yang memicu munculnya kesedihan. (2) Bagi orang tua secara umum diharapkan menyempatkan waktu untuk memberi perhatian kepada anak, mengenalkan norma sosial yang berlaku dimasyarakat dan melatih anak sejak dini untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Bagi orangtua yang memiliki rencana bekerja sebagai TKI, diharapkan memberi pengertian kepada anak mengapa keputusan yang diambil. (3) Bagi guru dan pemerintah desa atau daerah diharapkan memberi perhatian ekstra kepada anak dari keluarga TKI dan membuat kegiatan yang melibatkan remaja anak TKI maupun bukan anak TKI untuk menyalurkan energi, kreativitas dan waktu luang yang dimiliki para remaja agar mereka tidak mengisi waktu luang dengan aktivitas yang tidak baik (4) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan peneliti selanjutnya menggali lebih mendalam lagi mengenai kehidupan anak dari keluarga TK
Perbedaan Stres Kerja Ditinjau Dari Shift Kerja Perawat Di Rumah Sakit Jiwa Menur Provinsi Jawa Timur
ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) stres kerja perawat shift pagi, (2) stres kerja perawat shift siang, (3) stres kerja perawat shift malam, (4) dan perbedaan stres kerja perawat shift pagi, shift siang, dan shift malam. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat yang berjumlah 107 orang. Subjek pada penelitian ini berjumlah 35 orang yang diperoleh dengan teknik purposive sampling, teknik tersebut termasuk dalam jenis non-probability sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala stres kerja didasarkan pada aspek yang dikemukakan oleh (Beehr & Newman, 1978) dengan tingkat reliabilitas 0,934. Pengukuran berupa data tekanan darah dan denyut nadi sebagai acuan data tambahan. Teknik analisa data dengan teknik statistik one-way repeated measures anova, dikarenakan pengukuran dilakukan berulang berdasarkan waktu atau shift kerja perawat. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa sebanyak 6% perawat shift pagi memiliki stres kerja tinggi dan sangat tinggi, 17% perawat shift siang memiliki stres kerja tinggi dan sangat tinggi, 60% perawat shift malam memiliki stres kerja tinggi dan sangat tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) stres kerja perawat shift pagi adalah rendah. (2) Stres kerja perawat shift siang adalah sedang. (3) Stres kerja perawat shift malam tinggi. (4) Ada perbedaan tingkat stres antara shift pagi, shift sore, dan shift malam pada perawat di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Menur Jawa Timur. Saran yang diberikan dari hasil penelitian ini adalah: (1) Mempertimbangkan penambahan jumlah karyawan pada shift malam untuk meminimalisir dampak stres. (2) Mengurangi jadwal kerja pada shift malam dari tiga hari masuk kerja menjadi dua hari masuk kerja. (3) Mengembangkan spesifikasi kategori penelitian selanjutnya yaitu gender dan membandingkan antara Rumah Sakit Umum dengan Rumah Sakit Jiwa
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL FUNGSIONAL DAN RESILIENSI PADA RESIDEN NARKOBA DI PONDOK PEMULIHAN DOULOS BATU
ABSTRAK Suryadyani, A. 2018. Hubungan Dukungan Sosial Fungsional dan Resiliensi pada Residen Narkoba di Pondok Pemulihan Doulos Batu. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Nur Eva, S.Psi., M.Psi., (II) Drs. Mohammad Bisri, M.Si. Kata Kunci: dukungan sosial fungsional, resiliensi, residen narkoba. Residen yang sedang menjalani rehabilitasi didominasi dengan individu yang sudah pernah menjalani rehabilitasi sebelumnya. Residen yang telah selesai menjalani rehabilitasi kembali menyalahgunakan narkoba. Rehabilitasi merupakan suatu proses yang dijalani oleh residen narkoba untuk menjadi individu yang resilien sehingga mampu kembali ke masyarakat dan terbebas dari narkoba. Resiliensi adalah kapasitas manusia untuk menghadapi, mengatasi, memperkuat, dan bertransformasi dari pengalaman-pengalaman kesengsaraan. Salah satu faktor dari resiliensi adalah dukungan sosial fungsional. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui gambaran dukungan sosial fungsional residen narkoba, (2) mengetahui gambaran resiliensi residen narkoba, (3) mengetahui hubungan dukungan sosial fungsional dan resiliensi pada residen narkoba. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan korelasi sebab-akibat. Populasi dalam penelitian ini ialah residen yang sedang menjalani rehabilitasi berjumlah 31 orang dengan rentang usia 20 hingga 60 tahun. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah residen narkoba di Pondok Rehabilitasi Doulos Batu. Pemilihan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis teknik sampling jenuh, yang berarti semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Penelitian ini memakai uji coba terpakai yang artinya responden pada uji coba dipakai lagi dalam penelitian. Pengambilan data dalam penelitian ini dengan cara observasi menggunakan teknik rating scale. Hasil uji hipotesis dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan uji regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial fungsional pada residen narkoba di Pondok Rehabilitasi Doulos berada dalam kategori rendah. Sedangkan resiliensi pada residen narkoba di Pondok Rehabilitasi Doulos berada dalam kategori tinggi. Berdasarkan hasil uji hipotesis diperoleh p value sebesar 0.000 (p < 0.05) dan koefisien korelasi sebesar 0.673 yang berarti bahwa adanya hubungan yang signifikan antara dukungan sosial fungsional dan resiliensi pada residen narkoba. Dukungan sosial fungsional berkontribusi terhadap resiliensi sebesar 45,3%. Saran untuk residen narkoba adalah residen diharapkan memiliki niat yang kuat untuk pulih dan juga memiliki dukungan sosial fungsional yang mengutamakan kualitas hubungannya. Karena residen yang telah selesai menjalani rehabilitasi diharapkan menjadi individu yang resilien sehingga mampu kembali ke masyarakat dan terbebas dari narkoba. Sedangkan saran untuk keluarga dan instansi terkait diharapkan untuk memberi dukungan sosial fungsional yang menekankan pada dukungan emosional terhadap residen narkoba
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL FUNGSIONAL DAN RESILIENSI PADA RESIDEN NARKOBA DI PONDOK PEMULIHAN DOULOS BATU
ABSTRAK Suryadyani, A. 2018. Hubungan Dukungan Sosial Fungsional dan Resiliensi pada Residen Narkoba di Pondok Pemulihan Doulos Batu. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Nur Eva, S.Psi., M.Psi., (II) Drs. Mohammad Bisri, M.Si. Kata Kunci: dukungan sosial fungsional, resiliensi, residen narkoba. Residen yang sedang menjalani rehabilitasi didominasi dengan individu yang sudah pernah menjalani rehabilitasi sebelumnya. Residen yang telah selesai menjalani rehabilitasi kembali menyalahgunakan narkoba. Rehabilitasi merupakan suatu proses yang dijalani oleh residen narkoba untuk menjadi individu yang resilien sehingga mampu kembali ke masyarakat dan terbebas dari narkoba. Resiliensi adalah kapasitas manusia untuk menghadapi, mengatasi, memperkuat, dan bertransformasi dari pengalaman-pengalaman kesengsaraan. Salah satu faktor dari resiliensi adalah dukungan sosial fungsional. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui gambaran dukungan sosial fungsional residen narkoba, (2) mengetahui gambaran resiliensi residen narkoba, (3) mengetahui hubungan dukungan sosial fungsional dan resiliensi pada residen narkoba. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan korelasi sebab-akibat. Populasi dalam penelitian ini ialah residen yang sedang menjalani rehabilitasi berjumlah 31 orang dengan rentang usia 20 hingga 60 tahun. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah residen narkoba di Pondok Rehabilitasi Doulos Batu. Pemilihan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis teknik sampling jenuh, yang berarti semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Penelitian ini memakai uji coba terpakai yang artinya responden pada uji coba dipakai lagi dalam penelitian. Pengambilan data dalam penelitian ini dengan cara observasi menggunakan teknik rating scale. Hasil uji hipotesis dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan uji regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial fungsional pada residen narkoba di Pondok Rehabilitasi Doulos berada dalam kategori rendah. Sedangkan resiliensi pada residen narkoba di Pondok Rehabilitasi Doulos berada dalam kategori tinggi. Berdasarkan hasil uji hipotesis diperoleh p value sebesar 0.000 (p < 0.05) dan koefisien korelasi sebesar 0.673 yang berarti bahwa adanya hubungan yang signifikan antara dukungan sosial fungsional dan resiliensi pada residen narkoba. Dukungan sosial fungsional berkontribusi terhadap resiliensi sebesar 45,3%. Saran untuk residen narkoba adalah residen diharapkan memiliki niat yang kuat untuk pulih dan juga memiliki dukungan sosial fungsional yang mengutamakan kualitas hubungannya. Karena residen yang telah selesai menjalani rehabilitasi diharapkan menjadi individu yang resilien sehingga mampu kembali ke masyarakat dan terbebas dari narkoba. Sedangkan saran untuk keluarga dan instansi terkait diharapkan untuk memberi dukungan sosial fungsional yang menekankan pada dukungan emosional terhadap residen narkoba
Hubungan antara Kecerdasan Emosional dan Penyesuaian Sosial pada Remaja Korban Kekerasan Seksual di Kabupaten Malang
ABSTRAK Nikmah, Mudrikatun. 2018. Hubungan antara Kecerdasan Emosional dan Penyesuaian Sosial pada Remaja Korban Kekerasan Seksual di Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si.,M.Ed (II) Indah Yasminum Suhanti, S.Psi.,M.Psi., Psikolog. Kata kunci: kecerdasan emosional, penyesuaian sosial, remaja korban kekerasan seksual. Fenomena kekerasan seksual sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari pada remaja. Kekerasan seksual adalah perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar atau tidak disukai dan akan mengakibatkan dampak pada korban. Hasil wawancara yang dilakukan peneliti pada salah satu remaja korban kekerasan seksual menunjukkan bahwa remaja korban kekerasan seksual mengalami dampak terutama pada emosionalnya. Seseorang yang cerdas dalam mengelola emosinya akan meningkatkan kualitas penyesuaian terhadap lingkungannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) gambaran kecerdasan emosional remaja korban kekerasan seksual di Kabupaten Malang, (2) gambaran penyesuaian remaja korban kekerasan seksual di Kabupaten Malang, dan (3) hubungan antara kecerdasan emosional dan penyesuaian social pada remaja korban kekerasan seksual di Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif dan korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua remaja korban kekerasan seksual di Kabupaten Malang. Sampel penelitian ini berjumlah 53 orang yang diperoleh dengan teknik Accidental Sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kecerdasanemosionalyang berjumlah 35 aitem dan skala penyesuaiansosial yang berjumlah 36 aitemdengan analisis data menggunakan teknik analisis Pearson Product moment denganhasil koefisien korelasi sebesar 0,656 dan
PERSEPSI KELOMPOK MAYORITAS TERHADAP KELOMPOK MINORITAS AGAMA LAIN PADA PERGURUAN TINGGI ISLAM DI MALANG
ABSTRAK Hafizhuddin, Charry. 2018. Persepsi Kelompok Mayoritas terhadap Minoritas Agama Lain pada Perguruan Tinggi Islam di Malang. Skripsi. Jurusan Psikologi. Fakultas Pendidikan Psikologi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed. (II) Gamma Rahmita Ureka Hakim, S.Psi., M.Psi Kata kunci: persepsi, multikultural, kelompok agama, mahasiswa Perguruan Tinggi Islam. Indonesia adalah negara multikultural yang memiliki banyak perbedaan di antaranya, seperti suku, agama, ras, budaya. Dalam perbedaan tersebut sering terjadi gesekan dan perbedaan pendapat di antara satu kelompok dengan lainnya. Banyaknya permasalahan yang terjadi di Indonesia yang mengatas namakan Agama. Terdapat salah satu Perguruan Tinggi Islam di Malang memiliki visi, misi, dan tujuan agar menjadi manusia yang bertoleransi di negara yang multikultural. Berdasar rasional itu, peneliti bertujuan mendeskripsikan secara kualitatif persepsi mahasiswa agama mayoritas di Perguruan Tinggi Islam dalam melihat kelompok minoritas agama lain. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan jenis fenomenologi. Prosedur penelitian menggunakan metode wawancara mendalam, kuesioner kualitatif, catatan lapangan. Subjek pada penelitian ini ada 5 mahasiswa yang diperoleh melalui snowball sampling. Penelitian dilakukan di salah satu Perguruan Tinggi Islam di Malang. Teknik analisis yang dilakukan adalah teknik analisis fenomenologi. Pengecekan keabsahan data dilakukan melalui cek partisipan dan validitas metode. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa Perguruan Tinggi Islam memiliki persepsi positif dari aspek kognitif dan afektif, namun memiliki batasan pada aspek konatif. Perguruan Tinggi Islam memahami keberadaan kelompok minoritas agama lain dengan segenap karakterisiknya. Mahasiswa Perguruan Tinggi Islam memiliki persepsi yang signifikan terhadap pentingnya keberadaan kelompok minoritas. Mahasiswa Perguruan Tinggi Islam memilki persepsi bahwa hubungan antara kelompok mayoritas dan minoritas berlangsung baik di lingkungan Perguruan Tinggi Islam, mesikipun masih ragu dalam menerima makanan dan bertemu dengan orang baru yang berasal dari anggota kelompok minoritas. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan 1) Pemerintahan menerapkan pendidikan multikultural kepada semua lembaga pendidikan. 2) Perguruan Tinggi tetap mengoptimalkan pendidikan multikultural dan mengajarkan tentang toleransi. 3) Mahasiswa tetap mengerti bahwa kelompok mayoritas dan minoritas tetap berada pada derajat yang sama. 4) Bagi peneliti selanjutnya melakukan penelitian pada kelompok yang lebih melekat pada ajaran agama yang radikal, juga meneliti pada bidang suku di Indonesia
Hubungan Antara Persepsi Beban Kerja dengan Psychological Well-Being Pada Relawan PMI Kota Mlalang
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang: 1) deskripsi persepsi beban kerja relawan PMI Kota Malang, 2) tingkat psychological well-being relawan PMI Kota Malang, dan 3) mengetahui hubungan persepsi beban kerja dengan psychological well-being pada relawan PMI Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional. Variabel pada penelitian ini terdiri dari persepsi beban kerja dan psychological well-being. Subjek penelitian yang digunakan adalah 40 relawan, terdapat 33 skala yang kembali dan 7 skala penelitian yang tidak kembali. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala persepsi beban kerja sebanyak 28 aitem dengan reliabilitas 0,854 dan skala psychological well-being sebanyak 49 aitem dengan reliabiitas 0,923. Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis korelasi Pearson Product Moment. Hasil uji hipotesis didapatkan nilai signifikansi (p) sebesar 0,000 (p=0,000 < 0,05) dengan nilai korelasi pearson Rxy sebesar -0,850 dengan keputusan H0 ditolak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) persepsi beban kerja yang dimiliki oleh relawan lebih dari sebagian termasuk dalam kategori rendah. 2) psychological well-being yang dimiliki relawan PMI Kota Malang lebih dari sebagian berada pada kategori tinggi. 3) persepsi beban kerja memiliki hubungan yang negatif dengan psychological well-being. Saran yang dapat penulis berikan dari hasil penelitian ini adalah: A) bagi organisasi PMI Kota Malang membuat pembagian yang merata mengenai tugas yang diemban tiap relawan dan juga menampung saran yang relawan berikan untuk organisasi secara anonim. B) bagi masyarakat diharapkan dapat mempercayakan proses evakuasi kepada relawan agar tugas yang diemban dapat segera teratasi. C) bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk memperbanyak responden penelitian, agar hasil data yang diperoleh dapat signifikan dan dapat digeneralisasikan
Pengaruh Antara Kontrol Diri dan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Agresi Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kartika IV-8 Malang
ABSTRAK Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa ini remaja masuk dalam proses pencarian identitas diri. Beberapa remaja pada umumnya akan banyak mengalami masalah pada tahap ini. Remaja mudah dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya baru yang sering bertentangan dengan norma masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui gambaran perilaku agresi Siswa (2) untuk mengetahui gambaran kontrol diri Siswa (3) untuk mengetahui gambaran dukungan keluarga Siswa (4) untuk mengetahui pengaruh antara kontrol diri dengan perilaku agresi Siswa (5) untuk mengetahui pengaruh antara dukungan keluarga dengan perilaku Agresi Siswa (6) untuk mengetahui pengaruh antara kontrol diri dan dukungan keluarga dengan perilaku agresi Siswa Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan kausalitas. Subjek penelitian melibatkan 130 siswa di SMP Kartika IV-8 Malang dengan kriteria Siswa-siswi Sekolah Menegah Pertama, Kelas VII dan VIII dan yang melakukan perilaku agresi di sekolah. Pengambilan data penelitian menggunakan skala perilaku agresif, skala kontrol diri, dan skala dukungan keluarga. Reliabilitas skala kontrol diri dengan reliabilitas sebesar 0,926, reliabilitas skala dukungan keluarga sebesar 0,953 dan reliabilitas skala perilaku agresi sebesar 0,939. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar siswa kelas VII dan VIII SMP Kartika IV-8 Malang, (1) memiliki perilaku agresif yang rendah, (2) memiliki kontrol diriyang tinggi, (3) memiliki dukungan keluarga yang tinggi, (4) ada pengaruh antara kontrol diri dengan perilaku agresi dengan nilai R sebesar 0,587 dan R square sebesar 0,345, (5) ada pengaruh antara dukungan keluarga dengan perilaku agresi dengan nilai R sebesar 0,514 dan R square sebesar 0,264, (6) Ada pengaruh antara kontrol diri dan dukungan keluarga dengan perilaku agresi dengan nilai R sebesar 0,623 dan R square sebesar 0,388. Saran yang diberikan kepada kepala sekolah adalah memberikan arahan kepada para guru agar selalu mengawasi siswanya yang memiliki perilaku yang mengarah berperilaku agresi. Siswa diharapkan untuk mempertahankan kontrol diri yang baik, jika kontrol diri menurun maka siswa akan berperilaku negatif. Untuk siswa yang memiliki perilaku agresi disarankan untuk tidak melanggar peraturan lagi, jangan menganggap dirinya yang paling kuat, mengikuti ektrakulikuler di sekolah untuk menyalurkan diri ke kegiatan positif. Untuk penelitian lebih lanjut diharapkan untuk memeriksa juga faktor lainya yang terkait perilaku agresi diluar kontrol diri dan dukungan keluarga seperti lingkungan teman sebaya, lingkungan sekolah dan melakukan penelitian dalam bentuk kualitatif
EFEKTIVITAS PELATIHAN KOMPETENSI CUSTOMER SERVICE ORIENTATION UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI CUSTOMER SERVICE ORIENTATION KARYAWAN MATAHARI DEPARTMENT STORE LIPPO PLAZA BATU
ABSTRAK Suminar, Ratih . 2018. Efektivitas Pelatihan Kompetensi Customer Service Orientation untuk Meningkatkan Kompetensi Customer Service Orientation Karyawan Matahari Department Store Lippo Plaza Batu. Skripsi. Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Diyah Sulistiyorini, S.Psi, M.Psi (II) Ike Dwiastuti, S.Psi, M.Psi. Kata Kunci: pelatihan kompetensi, customer service orientation, karyawan perusahaan ritel Kompetensi customer service orientation (CSO) perlu dimiliki oleh semua karyawan dalam suatu perusahaan, khususnya karyawan yang secara langsung berhadapan dengan pelanggan seperti: customer service, public relation (Humas), pramuniaga, kasir/teller, satuan pengamanan (satpam) dan operator telepon. Kompetensi tersebut diperlukan agar suatu perusahaan, khususnya perusahaan ritel, mampu terus bersaing dalam dunia bisnis. Pada kenyataannya, karyawan pramuniaga salah satu perusahaan ritel, Matahari Department Store di Lippo Plaza Batu diketahui bahwa kurang memiliki kompetensi CSO dalam bekerja. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkannya dengan melakukan pelatihan. Tujuan penelitian ini adalah: (a) untuk mengetahui gambaran kompetensi CSO karyawan Matahari Department Store di Lippo Plaza Batu sebelum dan sesudah diberi pelatihan dan (b) untuk mengetahui efektivitas pelatihan kompetensi CSO dalam meningkatkan kompetensi CSO karyawan Matahari Department Store di Lippo Plaza Batu. Penelitian ini menggunakan one group pretest posttest design. Analisis uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis uji Mann-Whitney U test. Seluruh karyawan pramuniaga perusahaan tersebut sebanyak 120 digunakan sebagai populasi, dan 30 orang sebagai sampel. Ada dua instrumen yang digunakan yakni (a) modul pelatihan kompetensi CSO dan (b) skala kompetensi CSO adaptasi dari skala Spencer & Spencer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pelatihan kompetensi customer service orientation efektif untuk meningkatkan sikap optimis dengan nilai P = 0,003 serta nilai U sebesar 258,5 yang berarti bahwa terdapat peningkatan kompetensi CSO karyawan sebelum dan setelah mendapatkan pelatihan. Selain itu besar efektivitas senilai 0,827 yang berarti bahwa efek pelatihan kompetensi CSO sangat besar terhadap peningkatan kompetensi tersebut. Saran untukpihak perusahaan adalah terus berupaya meningkatkan kompetensi customer service orientation untuk keseluruhan karyawan. Sedangkan untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk mempertimbangkan tempat pelatihan yang lebih kondusif dan menambah metode pelatihan menggunakan media video