Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
    783 research outputs found

    Hubungan antara Efikasi Diri dan Motivasi Belajar Mahasiswa Anggota Paduan Suara Mahasiswa Universitas Negeri Malang

    No full text
    ABSTRAK   Kusdwiningtiyas, Rica. 2012. Hubungan antara Efikasi Diri dan Motivasi Belajar Mahasiswa Anggota Paduan Suara Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Fattah Hidayat, S.Psi, M.Si, (II) Drs. H. Mohammad Bisri, M.Si.   Kata Kunci: efikasi diri, motivasi belajar, paduan suara mahasiswa   Fenomena mahasiswa anggota Unit Kegiatan Mahasiswa yang menempuh masa kuliah melebihi masa perkuliahan normal, yaitu 3 tahun masa perkuliahan untuk jenjang Diploma 3 dan 4 tahun masa perkuliahan untuk jenjang Strata 1. Hal tersebut oleh peneliti dikaitan dengan bagaimana sebenarnya efikasi diri dan motivasi belajar dari mahasiswa itu sendiri, serta hubungan antara keduanya. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan korelasional. Teknik pengumpulan data menggunakan metode penskalaan likert dengan empat pilihan respon. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis korelasional dengan populasi mahasiswa anggota paduan suara mahasiswa berjumlah 134 dan sampel yang diambil peneliti berjumlah 50 subjek. Setelah dilakukan penyebaran skala didapati bahwa dari 50 skala yang disebarkan hanya kembali 44 skala, namun 44 skala yang kembali telah mencukupi untuk dilakukan analisis secara deskriptif maupun koresional. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa mahasiswa anggota paduan suara mahasiswa Universitas Negeri Malang memiliki efikasi diri yang sedang dan motivasi belajar mahasiswa anggota paduan suara mahasiswa Universitas Negeri Malang memiliki motivasi belajar yang sedang. Hasil analisis korelasional diperoleh r = 0,547 dengan p = 0,000 dan disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara efikasi diri dan motivasi belajar. Berdasarkan hasil tersebut adapun saran yang diajukan oleh peneliti, antara lain: (1) meningkatkan efikasi diri pengurus dengan mengadakan evaluasi berkala kegiatan dalam kurun waktu tertentu untuk dapat menyelesaikan masalah yang belum terpecahkan secara bersama dengan harapan dapat berusaha lebih keras dalam menjalankan perannya sebagai pelaku organisasi tanpa melupakan perannya sebagai mahasiswa, (2)membuat kelompok kecil dalam keanggotaan untuk menumbuhkan motivasi belajar dan kebiasaan belajar, serta (3)untuk menumbuhkan persaingan yang sehat di dalam kelompok paduan suara itu sendiri maupun di kelas kuliah, (4)perlunya dukungan dari senior kepada junior dalam hal kuliah maupun paduan suara, (5)kepada peneliti selanjutnya yang melakukan penelitian sejenis dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi disertai pengembangan masalah dari sudut pandang yang berbeda

    hubungan antara persepsi komunikasi dengan ayah dan sikap heteroseksual remaja perempuan di sma negeri 1 besuki

    No full text
    ABSTRAK   Illiyyin, Mohammad Hasan. 2010. Hubungan Antara Persepsi Komunikasi Dengan Ayah Dan Sikap Heteroseksual Remaja Perempuan Di SMA Negeri I Besuki. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Fattah Hanurawan M.Psi. M. Ed., (II) Mohamad Bisri, M. Si.   Kata kunci: Persepsi komunikasi, sikap heteroseksual, remaja perempuan.   Masa remaja  adalah masa ajang coba-coba, rasa ingin tahu para remaja sangat tinggi. Pergaulannya tidak lagi hanya di lingkungan rumah dan sekolah tetapi juga pergaulan di luar lingkungan. Perilaku bermasalah para remaja mulai muncul ketika para remaja mulai bersinggungan dengan lawan jenis, apalagi tanpa ada pengawasan dari keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi komunikasi dengan ayah dan sikap heteroseksual. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri I Besuki. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif dan korelasional. Subjekdalam penelitian ini adalah seluruh siswa remaja perempuan di SMA Negeri I Besuki dengan sampel sebanyak 54 orang. Instrumen yang digunakan adalah skala persepsi komunikasi dan skala sikap heteroseksual. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif berdasarkan nilai mean dan teknik korelasi product moment. Hasil analisa skala persepsi komunikasi dengan ayah pada remaja perempuan di SMA Negeri I Besuki menunjukkan bahwa sebanyak 7 orang memiliki persepsi komunikasi yang tinggi, sebanyak 42 orang memiliki persepsi komunikasi yang sedang, dan 5 orang memiliki persepsi komunikasi yang rendah. Sedangkan skala sikap heteroseksual diketahui bahwa tingkat sikap heteroseksual pada remaja perempuan di SMA Negeri I Besuki yang berada pada kategori tinggi sebanyak 4 orang, kategori sedang sebanyak 46 orang, dan untuk kategori rendah sebanyak 4 orang. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara persepsi komunikasi dengan ayah dan sikap heteroseksual remaja perempuan dimana semakin tinggi persepsi komunikasi maka semakin tinggi sikap heteroseksualnya dengan koefisien sebesar r = 0,517. Dengan kata lain, sikap heteroseksual dapat diprediksi dari persepsi komunikasi dengan ayah dengan daya prediksi sebesar 26,7%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka hendaknya remaja perempuan lebih meningkatkan komunikasi dengan orangtua terlebih dengan ayah agar dapat memiliki sikap heteroseksual yang baik. Sehingga para remaja perempuan mampu bersikap sewajarnya dengan teman lawan jenisnya. Bagi orangtua, hendaknya mengupayakan komunikasi yang efektif antara orangtua dan anak terutama remaja perempuan agar tidak terjadi kesenjangan untuk berkomunikasi dengan anak. Paling tidak untuk menghilangkan kesan otoritas orangtua kepada remaja yang bersangkutan

    hubungan antara pola asuh permisif orangtua dengan perilaku cybersex remaja akhir

    No full text
    ABSTRAK   Veronika. 2012. Hubungan Antara Pola Asuh Permisif Orangtua dengan Perilaku Cybersex Remaja Akhir. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Adi Atmoko, M.Si., (II) Ika Andrini Farida, S.Psi, M. Psi.   Kata kunci: pola asuh permisif orangtua, perilaku cybersex, remaja akhir   Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran (1) pola asuh permisif orangtua remaja akhir, (2) perilaku cybersex remaja akhir, (3) hubungan antara pola asuh permisif orangtua dengan perilaku cybersex remaja akhir. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan 2009-2011 dengan jumlah sampel 250 orang, dengan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional. Teknik sampel yang digunakan adalah proportionate stratified random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala pola asuh permisif orangtua dengan reliabilitas alpha cronbach  0,965 dan skala perilaku cybersex dengan reliabilitas alpha cronbach 0,968. Validitas instrumen menggunakan uji validitas isi dengan product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat pola asuh permisif remaja akhir berada pada kategori sedang (91,6%), rendah (5,8%), tinggi (3,6%); (2) tingkat perilaku cybersex berada pada kategori sedang (80,45%), rendah (15,2%), dan tinggi (4,4%); (3) terdapat hubungan  positif yang signifikan antara pola asuh permisif orangtua dengan perilaku cybersex remaja akhir dengan korelasi product moment pearson (rxy = 0,165, p = 0,009 < 0,05), namun hasil korelasi tergolong kecil. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada (1) remaja akhir untuk mengendalikan perilaku cybersex dengan melakukan kegiatan yang positif (2) orangtua untuk meminimalkan pola asuh permisif dengan menerapkan bimbingan dan kontrol yang cukup kepada remaja (3) peneliti selanjutnya untuk dapat menggunakan desain penelitian lain dengan menyempurnakan atau menambah variabel independent dari penelitian ini (4) penyedia jasa warnet untuk mengontrol aktivitas pengguna jasa warnet dengan cara tidak memberi sekat diantara pengguna warnet yang satu dengan yang lain. 

    Hubungan Kompensasi dan Kepuasan Kerja dengan Voluntary Turnover Intention Karyawan Perusahaan Garmen Al-Waqi'ah Probolinggo

    No full text
    ABSTRAK   Rachmah, Annida. 2012. Hubungan Kompensasi dan Kepuasan Kerja dengan  Voluntary Turnover Intention Karyawan Perusahaan Garmen Al-Waqi’ah Probolinggo. Skripsi. Program Studi Psikologi. Fakultas Ilmu Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Hj.  Sri Weni Utami, M.Si (2) Indah Y Suhanti, M. Psi   Kata Kunci :Kompensasi, Kepuasan Kerja, Voluntary Turnover Intention   Salah satu praktik manajemen sumber daya manusia yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan sistem kompensasi yang adil dan transparan kepada karyawan. Bila kompensasi diberikan secara benar, karyawan akan lebih termotivasi untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi, dan sebaliknya jika sistem kompensasi tidak efektif akan membuat prestasi kerja, motivasi menurun  serta akan mempengaruhi kepuasan kerja karyawan sehingga mengakibatkan timbulnya  voluntary turnover intention yang tidak terkendali. Penelitian ini bertujuan : (1)  Untuk mengetahui gambaran kompensasi yang diberikan Perusahaan Garmen Probolinggo kepada karyawannya (2) Untuk mengetahui tingkat kepuasan kerja karyawan di Perusahaan Garmen Probolinggo (3) Untuk mengetahui intensitas  voluntary turnover intention  karyawan di Perusahaan Garmen Probolinggo (4) Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan  negatif antara kompensasi dengan  voluntary turnover intention (5) Untuk mengetahui ada tidaknya  hubungan negatif  antara kepuasan kerja dengan voluntary turnover intention (6) Untuk mengetahui ada hubungan negatif antara kompensasi dan kepuasan kerja dengan voluntary turnover intention. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan Perusahaan  Garmen Al-Waqi’ah Kota Probolinggo.  Data kompensasi, kepuasan kerja dan voluntary turnover intention diperoleh melalui skala Likert. Data-data tersebut juga didukung dengan hasil wawancara langsung dengan Direktur Utama serta karyawan perusahaan. Hasil penelitian adalah : (1) Sebagian besar karyawan (53,33%) mempersepsi bahwa kompensasi yang diterima telah sesuai, (2) Sebagian besar karyawan (70%) memiliki tingkat kepuasan kerja yang rendah, (3) Sebagian besar karyawan (60%) memiliki intensitas voluntary turnover intention rendah, (4) Hasil analisis persepsi mengenai kompensasi memiliki hubungan negatif dengan voluntary turnover intention sebesar   - 0,219 (dengan signifikansi 0,122 >0,05) (5) Hasil analisis mengenai kepuasan kerja memiliki hubungan negatif dengan   voluntary turnover intention  sebesar -0,384 (dengan signifikansi 0,018 0,05). Berdasarkan hasil penelitian disarankan: (1) Perusahaan menerapkan sistem kompensasi yang adil dan transparan (2) perusahaan diharapkan mampu menciptakan quality of work life melalui penempatan karyawan sesuai bakat dan minatnya (3) Karyawan diharapkan menyampaikan semua keluhan, harapan dan aspirasinya terhadap perusahaan melalui perwakilan karyawan atau serikat pekerja (4) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menguji ulang model penelitian ini dengan menambah variabel-variabel baru seperti motivasi, budaya organisasi, kepemimpinan,  komitmen organisasi dan lingkungan kerja.

    Hubungan Persepsi Dan Motivasi Dengan Keputusan Pembelian Handphone pada Mahasiswa di Universitas Negeri Malang

    No full text
    ABSTRAK   Fanani, Fuad. 2010. Hubungan Persepsi Dan Motivasi Dengan Keputusan Pembelian Handphone pada  Mahasiswa  di  Universitas  Negeri  Malang.  Skripsi,  Program  Studi  Psikologi, Jurusan  Bimbingan  Konseling  dan  Psikologi,  Fakultas  Ilmu  Pendidikan,  Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I)Dr. Marthen Pali M.Psi, (II)Drs. Mohamad Bisri , Mpd.   Kata kunci persepsi, motivasi, keputusan pembelian.   Handphone  merupakan  barang  yang  sudah  umum  dalam  masyarakat  kita.  Keputusan pembelian handphone banyak dipengaruhi oleh beberapa  factor yaitu  factor eksternal dan  factor internal yaitu persepsi dan motivasi. Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi  dan motivasi dengan keputusan pembelian handphone pada mahasiswa. Penelitian  ini  dilakukan  di  Universitas  Negeri  Malang.  Rancangan  penelitian  yang digunakan  adalah  penelitian  kuantitatif  dengan  jenis  penelitian  deskriptif  dan  korelasional. Subjek  yang  dijadikan  sampel  sebanyak  50  orang.  Instrumen  yang  digunakan  adalah  skala persepsi dan skala motivasi serta skala keputusan pembelian. Teknik analsis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif berdasarkan nilai mean dan teknik korelasi product moment. Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  sebanyak  9  orang  atau  sebesar  18%  memiliki Persepsi yang tinggi ,sebanyak 37 orang atau sebesar 74% memiliki Persepsi  sedang, dan 4 orang atau sebesar 8% memiliki Persepsi rendah. Motivasi  tinggi sebanyak 11 orang atau sebesar 22%, Motivasi sedang 31 orang atau  sebesar 62%, sedangkan Motivasi  rendah sebanyak 8 orang atau sebesar  16%  sedangkan  untuk Keputusan Pembelian  sebanyak  78% kategori  termasuk  sedang, sedangkan  22%  termasuk kategori  rendah.  Hasil  analisis korelasi menunjukkan  ada  hubungan positif  antara  Persepsi   dengan  Keputusan  Pembelian  dengan  koefisin  korelasi  0,598  dimana semakin  tinggi Persepsi  mahasiswa  semakin  tinggi pula  tingkat Keputusan Pembeliannya, dan ada hubungan positif antara Motivasi dengan Keputusan Pembelian dimana koefisien korelasinya sebesar 0,642 dimana semakin  tinggi Motivasinya maka semakin  tinggi pula  tingkat Keputusan Pembeliannya. Serta nilai dari R Square dari analisis multi korelasi antara Persepsi dan Motivasi dengan Keputusan Pembelian sebesar 0,642. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka hendaknya Sebelum melakukan keputusan pembelian ponsel  seharusnya Mahasiswa mengetahui  tentang  fungsi  atau kegunaan ponsel  bagi  dirinya  sendiri  bukan  karena  pengaruh  teman,  iklan  dan  yang  lainnya.  Sehingga Mahasiswa  tidak  ikut- ikutan  teman  dan  yang  lainnya  dalam  menentukan  pembelian  ponsel. Sehingga ponsel tersebut bermanfaat dan berguna bagi Mahasiswa. Bukan karena trend yang ada

    Gaya Kelekatan Ambivalen pada Perempuan yang Mengalami Kekerasan dalam Pacaran

    No full text
    ABSTRAK   Nur’aini, Risma. 2012. Gaya Kelekatan Ambivalen pada Perempuan yang Mengalami Kekerasan dalam Pacaran. Skripsi, Jurusan Psikologi Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Fattah Hidayat, S.Psi, M.Si. (II) Ninik Setiyowati, S.Psi, M.Psi.   Kata Kunci : Kelekatan, ambivalen, perempuan, kekerasan, pacaran   Kekerasan dalam pacaran (dating violence) bukan merupakan hal yang baru dalam dunia pacaran. Kalangan Psikolog telah menyepakati bahwa perempuan memiliki kadar emosi lebih tinggi daripada laki-laki, sehingga dalam kasus percintaan perempuanlah yang sering menjadi korban. Fenomena yang terjadi, perempuan yang mengalami kekerasan dalam pacaran justru berusaha mempertahankan hubungannya tersebut. Disinilah penelitian akan difokuskan pada pengungkapan aspek-aspek yang membentuk serta dinamika kelekatan ambivalen pada perempuan yang mengalami kekerasan dalam pacaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi. Subyek penelitian sebanyak tiga perempuan dewasa awal usia 20-40 tahun, mengalami kekerasan dalam pacaran pada saat sekarang, memiliki gaya kelekatan ambivalen terhadap hubungannya dan bersedia menjadi partisipan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara semi terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan melalui cara (1) melakukan beberapa kali wawancara lanjutan untuk membandingkan dengan wawancara sebelumnya (2) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara (3) triangulasi sumber yaitu mengkonfirmasikan data yang didapat dari subyek primer dengan subyek skunder seperti pacar dan teman curhat. Hasil penelitian ini mendapatkan 3 aspek yang membentuk gaya kelekatan ambivalen pada perempuan yang mengalami kekerasan dalam pacaran yaitu aspek ambivalensi, asertifitas, dan cemas akan perpisahan. Peneliti juga menemukan aspek lain yaitu aspek konflik dalam keluarga, wishful thingking, dan dukungan sosial. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada subyek yaitu (1) bertindak lebih asertif terhadap pasangan ketika pacaran (2) menetapkan prinsip dan nilai yang kuat dalam berpacaran sehingga memiliki keberanian untuk menolak hal-hal yang bertentangan dengan nilai yang dianut (3) menyediakan lebih banyak waktu untuk kegiatan yang bermanfaat.

    DINAMIKA KEPRIBADIAN PEREMPUAN BISEKSUAL: Studi Kasus Pada Seorang Perempuan Biseksual yang Mengalami Pelecehan Seksual

    No full text
    ABSTRAK   Mu’allafah, Siti. 2012. Dinamika Kepribadian Perempuan Biseksual: Studi Kasus pada Seorang Perempuan Biseksual yang Mengalami Pelecehan Seksual. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Anies Syafitri, S.Psi., M.Psi., Psikolog. (2) Ika Andrini Farida, S.Psi., M.Psi.   Kata kunci: dinamika kepribadian, biseksual, pelecehan seksual   Fenomena biseksualitas merupakan orientasi seksual yang tidak lazim dan cenderung dikategorikan negatif oleh sebagian orang. Definisi masyarakat akan apa yang normal, layak, benar dan alami memiliki pengaruh besar atas bagaimana perasaan orang biseksual tentang orientasi seksual mereka. Stereotip sosial yang semacam itu tidak sejalan dengan fakta bahwa di sekitar kita terdapat individu-individu dengan orientasi seks yang berbeda. Orientasi seks yang berbeda ini seringkali mendapatkan kritik yang negatif dari lingkungan tanpa memperhitungkan bahwa stigma negatif yang diberikan ini juga melukai mereka. Keberadaan kaum biseksual tidak dapat dikenali dengan mudah seperti halnya homoseksual dan transeksual. Kelompok biseksual memang tidak menampakkan diri secara fisik, sehingga tidak mudah dikenali. Terkait dengan fenomena biseksualitas, perlu kita ketahui bahwa terbentuknya orientasi seksual seseorang dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain sistem hormonal, neurofisiologi, sosiokultural (termasuk budaya, keluarga, perbedaan sosioekonomi, dan pendekatan religiusnya), serta faktor psikologis lainnya (seperti pengalaman seksual dan juga trauma seksual individu). Biseksual bisa terbentuk karena adanya faktor pendorong dari luar individu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keturunan, bisa jadi karena lingkungan tempat tinggal, pola asuh, pengalaman masa lalu yang dalam hal ini pelecehan seksual. Sebuah studi di Amerika menunjukkan bahwa sebagian besar kaum biseksual memiliki pengalaman dilecehkan, diperkosa, dan menjadi korban kekerasan di masa kanak-kanaknya. Hasil penelitian tersebut memberikan gambaran tentang adanya keterikatan antara pelecehan seksual yang dialami seseorang pada masa kanak-kanaknya dengan terbentuknya orientasi seksual seseorang di masa depannya, yang dalam hal ini biseksualitas pada kaum biseksual. Fokus dalam penelitian ini adalah mengungkap dinamika kepribadian perempuan biseksual yang mengalami pelecehan seksual. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif berperspektif fenomena dengan model penelitian studi kasus. Berdasarkan teknik purposive sampling, dipilih satu orang untuk menjadi subjek penelitian. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) Observasi Partisipan Pasif, dan (2) Wawancara mendalam. Data yang diperoleh dianalisis secara constant comparative method. Teknik pengecekan keabsahan temuan yang digunakan adalah: (1) Validitas Deskriptif, (2) Validitas Interpretif, dan (3) Validitas Teoritis. Hasil penelitian yang diperoleh adalah dinamika kepribadian subjek penelitian didominasi oleh id (konsep Freud) dan tak sadar kolektif (konsep Jung) yang tinggi sehingga ego (kesadaran) dan superego (nilai-nilai moralnya) lemah. Keinginan untuk selalu memenuhi insting seksnya membuat Mothy tidak lagi menganggap aktivitas seksualnya sebagai bentuk pelecehan, tetapi kenikmatan seksuallah yang mengendalikan dirinya secara tidak disadari untuk terus melakukan pengulangan (disebut Jung sebagai kompleks). Perilaku seksual subjek dipelajari dari kasus-kasus pelecehan seksual yang dialaminya. Kasus-kasus tersebut dipelajari subjek sebagai suatu kondisioning (konsep behaviorisme). Aktivitas seksual yang diakuisisikan dengan otoritas ayah akan memunculkan respon kesediaan anak untuk patuh. Sehingga lama-kelamaan ketika stimulus seksual tidak lagi dihadirkan bersamaan dengan otoritas ayahnya, Mothy akan tetap melakukannya. Ucapan terima kasih ayahnya menjadi reinforcement positif bagi Mothy untuk terus mengulangi perilaku seksualnya itu. Pelecehan seksual yang terjadi berulang-ulang membuat Mothy melekatkan persepsi subjektif (konsep Adler) sebagai “tumbal seksual” dan konsep diri ideal (konsep Horney) bahwa aktivitas seksual sebagai sesuatu yang harus dia lakukan jika dia ingin mendapatkan kasih sayang (id). Persepsi subjektif dan konsep diri ideal inilah yang menyebabkan Mothy menciptakan tujuan final fiktif tentang pelecehan seksual sebagai jalan hidupnya dan seperti itulah dia harus menjalaninya. Secara perlahan tujuan final fiktif ini berkembang menjadi gaya hidup yang sulit dirubah. Gaya hidup yang didominasi oleh seksualitas ini membuat Mothy mencari aktivitas yang paling berpeluang sukses untuk memenuhi kebutuhan instingtifnya, yaitu dengan menjadi wanita panggilan (baik dengan laki-laki maupun perempuan). Kepuasan dan uang yang dia peroleh dari ativitas tersebut menjadi reward yang menyebabkan aktivitas seksual dipandang sebagai sesuatu yang berharga. Dibalik kepuasan dan uang yang dia peroleh, subjek juga mengalami kecemasan moral (kemungkinan disalahkan oleh masyarakat) dan kecemasan neurotik (hukuman dari masyarakat) atas perilaku seksualnya tersebut. Kecemasan-kecemasan ini membuat Mothy mengembangkan inferiorita kompleks (konsep Adler) untuk memanipulasi perilaku atau respon orang lain atas perilaku seksualnya. Mothy berharap orang yang mendengarnya menjadi simpati dan tidak meyalahkannya tetapi menganggapnya sebagai korban denga menimpakan kesalahan tersebut pada pelaku (disebut Freud sebagai proyeksi). Kecemasan-kecemasan ini juga ditutupi dengan sesalan (excuses), pengakuan dosa (undoing), dan menarik diri (withdrawal). Memilih menarik diri dari lingkungan orang-orang baru dan tetap tinggal dengan orang-orang lama yang sebagian besar pernah melecehkannya dianggap sebagai upaya untuk menghindari kasus-kasus pelecehan lainnya. Padahal para pelaku sebenarnya melakukan pelecehan seksual pada dirinya karena cue stimulus (konsep Miller dan Dollard) yang ditunjukkan subjek. Orang lain (pelaku) memiliki keinginan untuk melakukan aktivitas dengan subjek mungkin karena cue stimulus subjek melalui bahasa tubuhnya dibaca oleh pelaku sebagai ajakan untuk melakukan hubungan seksual. Sehingga dalam hal ini subjek dan pelaku saling membaca cue (pertanda) masing-masing yang menunjukkan keinginan seksual yang sama untuk memenuhi hasrat seksual yang akan berakhir pada suatu aktivitas seksual.

    Hubungan Kematangan Emosi dengan Kepemimpinan pada Mahasiswa Pengurus Organisasi Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Negeri Malang

    No full text
    ABSTRAK   Ismienar, Swesty. 2012. Hubungan Kematangan Emosi dengan Kepemimpinan pada Mahasiswa Pengurus Organisasi Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Adi Atmoko, M.Si., (II) Nur Eva, S.Psi., M.Psi.   Kata Kunci : kematangan emosi, kepemimpinan, dan organisasi unit kegiatan mahasiswa   Pemimpin yang ideal dalam sebuah organisasi adalah pemimpin yang memiliki kematangan emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) kematangan emosi mahasiswa pengurus organisasi, (2) kepemimpinan mahasiswa pengurus organisasi, dan (3) hubungan kematangan emosi dengan kepemimpinan mahasiswa pengurus dalam organisasi pada Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan korelasional, jumlah subyek sebanyak 60 mahasiswa pengurus organisasi Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Negeri Malang yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data kematangan emosi dikumpulkan dengan skala kematangan emosi (koefisien validitas item antara 0,275 sampai 0,688, dan koefisien reliabiltas 0,850) dan data kepemimpinan mahasiswa pengurus organisasi dikumpulkan dengan skala kepemimpinan (koefisien validitas item antara 0,304 sampai 0,748, dan koefisien reliabilitas 0,918). Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif antara kematangan emosi dengan kepemimpinan mahasiswa pengurus organisasi Unit Kegiatan Mahasiswa (rxy = 0,572 dengan sig = 0,000 < 0,05). Artinya semakin tinggi kematangan emosi mahasiswa pengurus organisasi maka semakin tinggi pula kemampuannya dalam memimpin. Hasil analisis deskriptif menunjukkan kematangan emosi mahasiswa pengurus organisasi sebanyak 9 orang (15%) tinggi, 44 orang (73,33%) sedang, dan 7 orang (11,67%) rendah, sedangkan kepemimpinan mahasiswa pengurus organisasi sebanyak 6 orang (10%) tinggi, 45 orang (75%) sedang, dan 9 orang (15%) rendah. Disarankan, (1) bagi mahasiswa pengurus organisasi untuk mengontrol emosi diri saat sedang terjadi masalah dalam organisasi, dengan meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar, memperbanyak sosialisasi dengan orang lain agar menambah wawasan dalam dirinya, (2) bagi organisasi perlu mengadakan seminar atau pelatihan yang bertema emosi dan kepemimpinan sehingga kualitas kepemimpinan pengurus organisasi bisa semakin lebih tinggi lagi, (3) bagi peneliti selanjutnya disarankan melakukan penelitian lebih luas yang terkait dengan kematangan emosi dan kepemimpinan, dan melakukan penelitian yang lebih komprehensif dengan metode kualitatif.

    HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG MORAL SEKSUAL, PENGETAHUAN AGAMA (KRISTEN), DAN PERILAKU SEKSUAL SISWA SMA

    No full text
    ABSTRAK   Simanungkalit, Enny. 2012. Hubungan antara Pengetahuan Tentang Moral Seksual, Pengetahuan Agama (Kristen), dan Perilaku Seksual Siswa SMA. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Fattah Hanurawan M.Si.,M.Ed.,  (II) Ninik Setiyowati S.Psi.,M.Psi.   Kata Kunci: pengetahuan tentang moral seksual, pengetahuan agama (Kristen), perilaku seksual.   Perilaku seksual adalah segala aktivitas seksual yang dilakukan seseorang, baik yang dapat diamati maupun tidak dapat diamati, yang dilakukan sendiri atau bersama orang lain karena didorong oleh hasrat seksual. Perilaku seksual berbeda-beda faktor yang mempengaruhinya, di antaranya adalah pengetahuan tentang moral seksual dan pengetahuan agama. Pengetahuan moral seksual adalah kepemilikan informasi seseorang tentang bagaimana berperilaku seksual yang tidak melanggar ketentuan yang berlaku di masyarakat. Pengetahuan Agama (Kristen) adalah kepemilikan informasi yang dimiliki seseorang mengenai ajaran-ajaran dalam agama. Penelitian ini bertujuan untuk  (1) mengetahui tingkat pengetahuan tentang moral seksual pada siswa SMA 2) mengetahui tingkat pengetahuan agama (Kristen) pada siswa SMA, (3) mengetahui tingkat perilaku seksual pada siswa SMA, (4) mengetahui hubungan pengetahuan tentang moral seksual dengan perilaku seksual, (5) mengetahui hubungan pengetahuan agama (Kristen) dengan perilaku seksual, dan (6) mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang moral seksual, pengetahuan agama (Kristen), dan perilaku seksual pada siswa SMA. Jenis penelitian  kuantitatif ini adalah deskriptif  korelasional, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik penelitian populasi. Subjek penelitian dalam penelitian ini berjumlah 52 orang yang berusia 15-19 tahun. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket pengetahuan tentang moral seksual, angket tentang pengetahuan agama Kristen, dan skala perilaku seksual yang dikembangkan oleh peneliti. Teknik analisis data menggunakan teknik korelasi Product Moment untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dan teknik Regresi digunakan untuk mengetahui hubungan antara ketiga variabel. Hasil penelitian menunjukkan (1) pengetahuan tentang moral seksual berada pada klasifikasi tinggi (60%), (2) pengetahuan agama (Kristen) berada pada klasifikasi tinggi (50%), (3)perilaku seksual berada pada klasifikasi rendah (50%), (4) ada hubungan negatif pengetahuan tentang moral seksual dan perilaku seksual, (5) ada  hubungan negatif antara pengetahuan agama (Kristen) dan perilaku seksual dan (6) ada hubungan antara pengetahuan tentang moral seksual, pengetahuan agama (Kristen), dan perilaku seksual siswa SMA. Disarankan (1) bagi remaja, disarankan untuk mempertahankan pengetahuan tentang moral seksual dan pengetahuan agama yang dimiliki melalui moral yang berlaku di masyarakat dan ajaran agama. Remaja juga disarankan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan seperti kebaktian pemuda. (2) bagi orang tua, disarankan agar mempertahankan dan memberikan pengetahuan tentang moral seksual dan pengetahuan agama sebagai kontrol dari perilaku seksual. Selain itu orang tua juga harus memberi penjelasan kepada anak bahaya dan dampak perilaku seksual sebelum menikah. (3) bagi sekolah, diharapkan untuk rutin melibatkan siswa dalam hal kegiatan keagamaan, menyediakan ekstrakurikuler yang postif yang menarik minat siswa (4) bagi peneliti selanjutnya untuk menambah jumlah sampel dan mencermati faktor-faktor lain yang mempunyai keterkaitan dengan perilaku seksual.

    Kemampuan Coping Stres Pada Pengasuh Utama (Primary Caregiver) Penyandang Autis

    No full text
    ABSTRAK   Destriana, Vica. 2012. Kemampuan Coping Stres Pada Pengasuh Utama (Primary Caregiver) Penyandang Autis. Skripsi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Weni Utami, M. Si. (II) Pravissi Shanti, S. Psi., M. Psi.   Kata Kunci : Kemampuan Coping Stres, Pengasuh utama, Penyandang Autis.   Jumlah penyandang autis semakin meningkat setiap tahunnya. Minimnya tenaga medis yang tersedia, mahalnya biaya perawatan, juga diskriminasi terhadap penyandang autis dan keluarganya menjadi masalah tersendiri bagi pengasuh (caregiver) penyandang autis. Pengasuh (caregiver) adalah seseorang yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan perawatan kepada seseorang yang sakit secara mental, ketidakmampuan secara fisik, atau kesehatannya terganggu karena penyakit atau usia tua. Pengasuh (caregiver) dapat merasakan terisolasi secara sosial, kurangnya waktu untuk diri sendiri, sulit tidur, berat badan menurun, dan juga sakit kepala, yang semuanya itu ikut mempengaruhi fungsi dan relasinya terhadap penyandang autis itu sendiri. Oleh karena itu seorang pengasuh (caregiver) perlu mengembangkan kemampuan coping untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang timbul selama kegiatan caregiving agar kesejahtaraan dan kesehatannya tidak terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kemampuan coping stres para pengasuh utama (primary caregiver) terkait dengan masalah yang dialaminya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Peneliti menggunakan wawancara dan observasi sebagai metode pengambilan data, analisis data menggunakan teknik analisis data tematik, serta triangulasi digunakan dalam pengecekan keabsahan data. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 3 orang yang merupakan pengasuh utama (primary caregiver) dari anak-anak yang terdiagnosis autis. Temuan dalam penelitian ini yaitu pengasuh utama (primary caregiver) mengalami masalah selama melakukan kegiatan caregiving. Masalah yang dirasakan meliputi beberapa area dalam diri caregiver yakni masalah fisik, finansial, sosial, emosi, dan lingkungan. Dalam melakukan usaha coping untuk meminimalisir kadar stres yang timbul akibat masalah tersebut, ketiga subjek telah mampu mengenali stressor dengan baik, mampu menggunakan sumber coping yang tersedia, namun hanya mampu memilih respon yang adaptif untuk beberapa masalah saja. Sehingga output yang muncul menunjukkan ketiga subjek masih mengalami gejala-gejala seperti menurunnya kondisi fisik, dan juga kecemasan. Adapun saran yang dapat diajukan terkait dengan penelitian ini adalah bagi para praktisi kesehatan diharapkan lebih memandang pengasuh (caregiver) sebagai bagian dari pasien yang juga memerlukan pelayanan kesehatan, dukungan, dan pendampingan. Para praktisi juga hendaknya lebih banyak membuat wadah bagi para pengasuh (caregiver) agar mereka dapat saling berbagi, memberi masukan satu sama lain, sehingga dapat menumbuhkan keyakinan positif dalam diri pengasuh (caregiver).

    0

    full texts

    783

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇