Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
783 research outputs found
Sort by
Harga Diri pada Difabel Tunadaksa dalam Komunitas DMI (Disable Motorcycle Indonesia) di Malang
ABSTRAK Ariwjayanti, Pramita. 2010. Harga Diri pada Difabel Tunadaksa dalam Komunitas DMI (Disable Motorcycle Indonesia) di Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moh. Irtadji, M.Si., (II) Ika Andrini Farida, S. Psi, M. Psi. Kata kunci: harga diri, difabel tunadaksa, komunitas DMI (Disable Motorcycle Indonesia) Malang. Kata difabel dapat dimaksudkan sebagai kata eufemisme, yaitu penggunaan kata yang memperhalus istilah penyandang cacat. Difabel tunadaksa adalah orang yang menderita hambatan akibat polio myelitis, akibat kecelakaan, akibat keturunan,cacat sejak lahir, kelayuan otot-otot, akibat peradangan otak, dan kelainan motorik yang disebabkan oleh kerusakan pada pusat syaraf/cerebrum. Kondisi fisik yang berbeda bahkan tak lengkap, terkadang menyebabkan para difabel tunadaksa ini merasa menjadi kaum minoritas yang dikucilkan oleh masyarakat. Sebelumnya sudah ada penelitian yang meneliti tentang harga diri pada difabel tunadaksa, namun belum ditemukan adanya penelitian yang terkait dengan komunitas DMI untuk difabel tunadaksa. Berkenaan dengan hal tersebut, maka perlu pula untuk diketahui harga diri pada difabel tunadaksa yang tergabung dalam suatu komunitas.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan harga diri, khususnya yaitu harga diri pada difabel tunadaksa dalam komunitas DMI (Disable Motorcycle Indonesia) di Malang dan faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri tersebut. Pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian studi kasus. Data yang disajikan merupakan pemaparan dari hasil wawancara dan observasi yang diperoleh selama penelitian. Kehadiran peneliti dalam penelitian ini penting karena peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis data model interaktif. Pengecekan keabsahan data menggunakan validitas deskripstif dan validitas interpretif. Validitas deskriptif dilakukan dengan triangulasi, yaitu triangulasi subjek. Validitas interpretif dicapai melalui umpan balik (feed back) atau cek balik (check back) pada partisipan tentang kesimpulan hasil penelitian. Berdasarkan hasil analisis terhadap data-data tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa ke empat subjek yang merupakan difabel tunadaksa dalam komunitas DMI (Disable Motorcycle Indonesia) memiliki harga diri yang tinggi. Sumber-sumber dari harga diri tersebut adalah lingkungan yaitu meliputi lingkungan keluarga, komunitas DMI dan lingkungan masyarakat, contoh kecilnya adalah tetangga serta faktor psikologis atau pemikiran. Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu membantu meningkatkan harga diri pada difabel tunadaksa terkait dengan sumber-sumber yang telah ditemukan, sehingga mampu memberikan kontribusi yang baik bagi harga diri difabel tunadaksa baik dalam komunitas DMI, maupun di luar komunitas DMI
Kebahagiaan pada Bhikkhu Theravada
ABSTRAK Avezahra, Mutia Husna. 2011. Kebahagiaan pada Bhikkhu Theravada. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed., (II) Ninik Setyowati, S.Psi., M.Psi. Kata kunci: Bikkhu Theravada, Budha, Kebahagiaan, Kesadaran, Meditasi Hakikat ajaran Budha dapat diketemukan melalui pemikiran inti dari pemikiran Sidharta Gautama atau kemudian disebut Shakyamuni Budha. Panduan kehidupan umat Budha diatur dalam sila yakni dasar utama pengamalan ajaran agama Budha yang berbentuk berbagai macam peraturan pelatihan sesuai dengan kelompok umat Budha (Budha Parisad). Budha Theravada merupakan salah satu aliran ajaran agama Budha yang berarti ajaran sesepuh, yakni masih mempertahkankan aturan dan ajaran asli sebagaimana Budha Gautama masih hidup. Tujuan para penganut aliran Theravada adalah untuk mencapai Nirvana (Nibbana) dengan menjadi Arahat (orang yang mencapai kesucian tertinggi), yang diwujudkan dalam penanaman kebijaksanaan, pengertian dan pengamalan.Menjalin hubungan yang baik pada sesama manusia untuk menciptakan kedamaian di dunia merupakan salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut, sehingga Bhikkhu Theravada mengabdikan seluruh kehidupan pribadinya untuk umat atau masyarakat. Bhikkhu Theravada adalah seorang yang menjalani ketentuan penetapan Sang Budha dalam Vinaya Pitaka. Di dalam praktik yang nyata, para Bhikkhu Theravada meninggalkan kehidupan berkeluarga, menjalani kehidupan sederhana, tidak boleh makan lebih dari jam 12 siang, tidak makan banyak, tidak diperbolehkan mendengarkan lagu atau melihat tari-tarian dan tidak boleh melaksanakan hal-hal yang hanya bertujuan kesenangan indria semata. Oleh karena itu, seorang Bhikkhu diharuskan untuk menjalankan disiplin pengelolaan diri melalui latihan meditasi. Melihat tata cara kehidupan Bhikkhu yang penuh batasan itulah, penulis tertarik untuk meneliti tentang kebahagiaan pada Bhikkhu Theravada.Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan model pendekatan fenomenologi. Subjek pada penelitian ini adalah tiga Bhikkhu Theravada di Padepokan Dhammadipa Arama Batu Jawa Timur Indonesia. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam (in depth interview), catatan lapangan (field notes) dan dokumen. Teknik analisis data menggunakan analisis tematik dan validasi data menggunakan cek partisipan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan pada Bhikkhu Theravada adalah terciptanya kondisi batin yang bersih, artinya sebuah kondisi di mana batin terbebas dari hal-hal yang dapat membelenggu diri. Kebahagiaan pada Bhikkhu Theravada pada penelitian ini tergambar pada aspek berikut: Pada aspek kognitif Bhikkhu Theravada, para Bhikkhu memandang diri sebagai orang yang cukup puas. Aspek hubungan positif pada orang lain menggambarkan bahwa Bhikkhu Theravada mengabdikan diri pada masyarakat serta menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Sementara pada aspek ciri-ciri kepribadian, Bhikkhu Theravada menekankan keterbukaan diri terhadap pelayanan spiritual, melepaskan kehidupan duniawi yang penuh dengan kemelekatan dan melakukan pengelolaan kesadaran dengan bermeditasi. Penelitian ini menunjukkan pentingnya meditasi dalam kehidupan Bhikkhu Theravada sebagai kegiatan melakukan pengamatan pada hal-hal yang muncul pada pikiran dan proses-proses pada tubuh yang timbul pada saat itu untuk mencapai kesadaran batin. Saat ini ketiga partisipan merasa cukup bahagia. Namun ketiga partisipan juga mengatakan bahwa diri masih dalam proses menuju batin yang bersih guna menciptakan kebahagiaan yang lebih sejati dan kedamaian diri yang bersifat jangka panjang. Pandangan dan cara hidup Bhikkhu Theravada dapat dikaji lebih mendalam dengan pendekatan psikologi transpersonal yang dapat mengakomodir pengalaman-pengalaman transenden individu, sehingga dapat memeriksa potensi psikologis individu. Penelitian tentang subjek Bhikkhu Theravada masih belum banyak dilakukan, oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat mengembangkan temuan-temuan yang telah ada
Perbedaan Prokrastinasi Akademik Dan Tingkat Stres Pada Mahasiswa Yang Aktif Dan Tidak Aktif Berorganisasi
ABSTRAK Nikmatusolikah. 2008. Perbedaan Prokrastinasi Akademik dan Tingkat Stres pada Mahasiswa Aktif dan Tidak Aktif Berorganisasi di Universitas Negeri Malang, Jurusan Psikologi Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Sri Weni Utami, M. Si, Psikolog (II) Indah Yasminum Suhanti, S.Psi., M. Psi. Kata Kunci: Prokrastinasi Akademik, Stres, Mahasiswa Mahasiswa yang mempunyai kewajiban untuk melakukan dua aktivitas sekaligus (belajar dan berorganisasi) membutuhkan time management yang baik sehingga tidak melakukan prokrastinasi akademik (kecenderungan/perilaku menunda-nunda untuk menyelesaikan tugas) serta dapat menghindari stress (keadaan terbeban, tegang dan cemas karena adanya ketidakseimbangan antara tuntutan dan kemampuan respon untuk beradaptasi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat prokrastinasi pada mahasiswa yang aktif dan tidak aktif berorganisasi, mengetahui bagaimana tingkat stres pada mahasiswa yang aktif dan tidak aktif berorganisasi, serta mengetahui perbedaan prokrastinasi akademik dan tingkat stres pada mahasiswa yang aktif dan tidak aktif berorganisasi di Universitas Negeri Malang. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa fakultas sastra Universitas Negeri Malang. Sampel yang digunakan sebanyak 50 mahasiswa yang aktif berorganisasi dan 50 mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi di Fakultas sastra Universitas Negeri Malang. Instrumen penelitian untuk mengukur prokrastinasi akademik menggunakan Skala Prokrastinasi Akademik dan instrumen penelitian untuk mengukur stres menggunakan Skala Hassles Assessment Scale. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Berdasarkan analisis deskriptif prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang aktif berorganisasi diperoleh hasil bahwa 38% (19 mahasiswa) dalam kategori sedang dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi diperoleh hasil bahwa 44% (22 mahasiswa) dalam kategori sedang. Berdasarkan analisis deskriptif tingkat stres pada mahasiswa yang aktif berorganisasi diperoleh hasil bahwa 60% (30 mahasiswa) dalam kategori tinggi dan tingkat stres pada mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi diperoleh hasil bahwa 42% (21 mahasiswa) dalam kategori rendah. Berdasarkan analisis komparatif prokrastinasi dan stres diperoleh sig 0,000
HUBUNGAN SOCIAL INTELLIGENCE DENGAN PERILAKU DELINKUENSI PADA NAPI REMAJA PENGHUNI LEMBAGA PEMASYRAKATAN ANAK (LAPAS KLAS II A ANAK) BLITAR
ABSTRAK Fitriani, Dhinna. 2012. Hubungan Social Intelligence dengan Perilaku Delinkuensi pada Napi Remaja Penghuni Lembaga Pemasyarakatan Anak ( Lapas Klas II A Anak) Blitar. Skripsi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Weni Utami, M.Si, (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi, M.Psi. Kata kunci: social intelligence, perilaku delinkuensi, napi remaja di Lembaga Pemasyarakatan Anak. Perilaku delinkuensi sangat marak di era globalisasi saat ini,dapat di ketahui dari fenomena yang terjadi seperti pencurian, permerasan, penganiayaan dan pembunuhan yang menjadi masalah yang merugikan bagi orang lain maupun masyarakat di sekitarnya. Fenomena ini terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas II A Blitar. Remaja yang melakukan perilaku delinkuensi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya social intelligence. Sebagai faktor interrnal, penerapan social intelligence akan berpengaruh dalam membentuk perilaku delinkuensi. Selain itu sebagai faktor eksternal, antara lain keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan sekitar dan teman sebaya. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah ada hubungan antara social intelligence dengan perilaku delinkuensi pada napi remaja penghuni Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas II A Blitar. Penelitian dilakukan pada napi remaja penghuni LAPAS Klas II A Blitar. Penelitian menggunakan rancangan deskriptif dan korelasional. Sampel penelitian adalah laki-laki berusia 13 -17 berjumlah 40 orang. Teknik pengambilan sampel adalah random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala Social Intelligence dengan menggunakan metode likert dan Dokumentasi Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas II A Blitar. Skala social intelligence terdiri dari 43 aitem dengan taraf signifikansi 5% dengan rtabel = 0,312 dan reliabilitas 0,904. Analisis deskriptif berdasarkan kategori tingkatan harga mean dan standar deviasi. Analisis korelasi menggunakan formula korelasi Spearman dengan taraf signifikansi 5%. Analisis menggunakan program SPSS 20.00 for Windows. Hasil analisis deskriptif menunjukkan social intelligence yaitu: 17 orang atau 42,5% masuk dalam kategori sedang dan perilaku delinkuensi 17 orang atau 42,5% dalam kategori sedang. Dari hasil korelasi menunjukkan rxy = -0,015 dengan p = 0,925, p > 0,05. Dengan demikian hipotesis penelitian yang berbunyi “Ada hubungan antara social intelligence dengan perilaku delinkuensi” ditolak. Artinya tidak ada hubungan yang singnifikan antara social intelligence dengan perilaku delinkuensi. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan remaja dapat mengontrol perilaku delinkuensi terhadap segala perilakunya dengan lebih aktif dalam kegiatan ekstra kurikuler; untuk pihak Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas II A Blitar disarankan memberikan dukungan dan fasilitas pada narapidana agar mereka dapat beradaptasi dan dapat mengembangkan keterampilan bersosialisasi
Hubungan Antara Kontrol Diri, Citra Tubuh, Konformitas dan Perilaku Konsumtif Pada Siswi Kelas XI SMAN 8 Malang.
ABSTRAK Wibowo, Febriono Ary. Hubungan Antara Kontrol Diri, Citra Tubuh, Konformitas dan Perilaku Konsumtif Pada Siswi Kelas XI SMAN 8 Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si. (II) Ika Andrini Farida, S.Psi., M.Psi. Kata Kunci : Kontrol Diri, Citra Tubuh, Konformitas, Perilaku Konsumtif Perilaku konsumtif yang tinggi di kalangan remaja putri menjadi permasalahan baru di era pasar bebas dan ditunjang dengan semakin tingginya daya beli masyarakat Indonesia. Dalam membeli remaja putri lebih menggunakan sisi emosionalnya daripada manfaat atau kegunaan dari suatu barang. Kecenderungan perilaku konsumtif ini dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal, jika kontrol internal kuat berarti individu memiliki kemampuan menahan diri ketika ada stimulasi eksternal berupa barang-barang atau jasa yang ada di depan mereka. Pernyataan ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Reynold, Scott dan Warshaw (1973) yang menyatakan bahwa remaja putri berusia diantara 16-19 tahun membelanjakan uangnya lebih banyak untuk keperluan menunjang penampilan diri seperti ; sepatu, pakaian, kosmetik dan aksesoris serta alat-alat yang dapat membantu memelihara kecantikan dan penampilan dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kontrol diri, citra tubuh, konformitas dan perilaku konsumtif pada remaja putri dalam penelitian ini adalah siswi kelas XI SMAN 8 Malang baik secara simultan maupun parsial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional serta menggunakan analisis regresi linier berganda. Populasi penelitian terdiri dari seluruh siswi kelas XI SMAN 8 Malang dengan pengambilan sampel menggunakan Kuota Sample. Sampel seluruhnya berjumlah 61 orang. Instrumen yang digunakan berupa skala control diri, citra tubuh, konformitas dan perilaku konsumtif. Berdasarkan hasil analisis data tersebut diperoleh empat kesimpulan. (1) Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kontrol diri dan perilaku konsumtif (rxy= -0.448, R square=0.201, sig.=0.0000.05). (3) Terdapat hubungan positif yang signifikan antara konformitas dan perilaku konsumtif (rxy= 0.393, R square=0.155, sig.=0.002>0.05). (4) Secara bersama-sama kontrol diri, citra tubuh dan konformitas berkontribusi secara signifikan terhadap perilaku konsumtif pada siswi kelas XI SMAN 8 Malang (R= 0.523, R square=0.274, sig.=0.00
Hubungan antara Motivasi Berprestasi dan Tipe Kepribadian dengan Stres Akademik pada Mahasiswa Universitas Negeri Malang
ABSTRAK Narulita, Anggia. 2011. Hubungan antara Motivasi Berprestasi dan Tipe Kepribadian dengan Stres Akademik pada Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Fattah Hidayat, S.E., S.Psi., M.Si., (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi., M.Si. Kata Kunci : motivasi berprestasi, tipe kepribadian, dan stres akademik Stres akademik adalah proses menilai tuntutan akademik sebagai mengancam, menantang atau membahayakan dirinya, baik secara fisik maupun psikologis, dan memberikan respon terhadap tuntutan tersebut dalam tingkatan fisiologis, emosi, kognisi, dan tingkah laku. Perbedaan tingkat stres akademik tiap individu berbeda-beda, faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah motivasi berprestasi dan tipe kepribadian. Motivasi berprestasi adalah kecenderungan memperjuangkan kesuksesan dengan cara mengatasi hambatan, menggunakan kekuatan, berusaha untuk melakukan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit dengan baik dan sesegera mungkin. Kepribadian adalah organisasi yang dinamis mencakup fikiran, perasaan dan tingkah laku, kesadaran dan ketidak sadaran yang ditentukan oleh keturunan dan lingkungan dan menentukan cara individu yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Kepribadian dibagi menjadi dua tipe, yaitu tipe kepribadian introvert dan tipe kepribadian ekstravert. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dan tipe kepribadian dengan stres akademik. Penelitian ini berjenis deskriptif dan korelasional, pengambilan sampel ditentukan dengan teknik Simple Random Sampling. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah skala motivasi berprestasi, skala EPI (Eysenck Personality Inventori) adaptasi Indonesia, dan skala stres akademik. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, motivasi berprestasi tergolong sedang, tipe kepribadian tergolong ekstravert, dan stres akademik tergolong sedang. Hasil analisis korelasi motivasi berprestasi sebesar rxy = 0,138 dengan nilai p = 0,458 (> 0,05). Ini berarti tidak ada hubungan antara motivasi berprestasi dengan stres akademik. Koefisien rxy = -0,451 dengan p = 0,011 ( 0,005 maka sumbangan efektif terhadap stres akademik hanya berasal dari tipe kepribadian dengan signifikansi 0,016 < 0,05. Dari hasil penelitian ini disarankan kepada mahasiswa agar dapat memahami motivasi berprestasi dan tipe kepribadian yang dimiliki agar dapat mengatasi kesulitan dengan mudah untuk menghindari timbulnya stres akademik dan mempelajari cara coping stres. Bagi universitas, layanan konsultasi bagi mahasiswa dapat ditingkatkan lagi agar mahasiswa memperoleh tempat yang sesuai untuk mengungkapkan kesulitan yang mereka hadapi sehingga terhindar dari stres akademik. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan agar menambah jumlah sampel penelitian, melakukan penelitian dengan variabel yang berbeda yang berpengaruh terhadap stres akademik seperti intelektual (cara berpikir) dan harga diri (self esteem), serta menambah karakteristik subyek yang mengalami stres akademik.
HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS DAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP TERHADAP NAPZA PADA REMAJA AWAL DI SMP NEGERI 1 KOTA KEDIRI TAHUN AJARAN 2011/2012
ABSTRAK Sabatini, Natalia. 2012. Hubungan antara Konformitas dan Pengetahuan dengan Sikap terhadap NAPZA pada Remaja Awal di SMP Negeri 1 Kota Kediri Tahun Ajaran 2011/2012. Skripsi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Endang Prastuti M. Si., (2) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi. Kata kunci: konformitas, pengetahuan NAPZA, sikap terhadap NAPZA Kasus penyalahgunaan NAPZA di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Dari 3202 kasus, 3141 di antaranya terkait dengan remaja. Kota Kediri termasuk dalam jajaran tiga kota dengan kasus NAPZA terbesar di Jatim. Perilaku ditentukan salah satunya oleh sikap sehingga menyelidiki sikap remaja terhadap NAPZA menjadi penting untuk mengetahui kemungkinan perilaku remaja awal berkenaan dengan penyalahgunaan NAPZA di masa mendatang. Sikap terhadap NAPZA dihubungkan dengan variabel lainnya, yakni konformitas, yang dapat mempengaruhi keyakinan dalam penentuan sikap, serta pengetahuan NAPZA yang mendasari pemikiran individu dalam bersikap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara: 1) konformitas dengan sikap terhadap NAPZA, 2) pengetahuan dengan sikap terhadap NAPZA dan 3) konformitas dan pengetahuan dengan sikap terhadap NAPZA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Subyek penelitian adalah 50 siswa Kelas VIII SMPN 1 Kota Kediri Tahun Ajaran 2011/2012 dengan rentang usia 13-14 tahun. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala, yakni skala konformitas (Į=0,888), uji pengetahuan NAPZA (Į=0,855), dan skala sikap terhadap NAPZA (Į=0,911). Pengumpulan data diambil dari pilihan jawaban subyek pada ketiga instrumen. Peneliti menggunakan teknik analisis Korelasi Product Moment yang dikembangkan oleh Pearson dalam program SPSS 16.0 for windows untuk melihat hubungan antara konformitas dan pengetahuan terhadap sikap terhadap NAPZA pada remaja awal. Kemudian peneliti menggunakan teknik analisa regresi linier berganda (Multiple Linier Regression) dalam program SPSS 16.0 for windows untuk mengetahui hubungan ketiga variabel dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat hubungan positif antara konformitas dengan sikap terhadap NAPZA (r = 0,767; sig. < 0,05), semakin tinggi konformitas maka semakin tinggi pula tingkat persetujuan terhadap NAPZA, 2) terdapat hubungan negative antara pengetahuan dengan sikap terhadap NAPZA (r = -0,642; sig. < 0,05), semakin tinggi pengetahuan maka semakin rendah tingkat persetujuan terhadap NAPZA dan 3) konformitas dan pengetahuan berhubungan dengan sikap terhadap NAPZA (R = 0,824; sig. < 0,05), tingkat konformitas dan pengetahuan individu dapat memprediksi sikap individu terhadap NAPZA. Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan subyek dengan karakteristik yang lebih beragam dan dengan jumlah lebih banyak. Saran bagi para remaja awal adalah mampu mempertahankan pemikiran evaluatif mengenai NAPZA, yakni mampu menyaring informasi yang baik dan benar mengenai NAPZA serta mampu bertindak konformis secara positif, yakni tidak mengikuti konformitas kelompok sebaya yang merujuk pada perilaku penyalahgunaan NAPZA.  
Tindak Pembelajaran Guru dalam Membangun Karakter di SDI Al-Munawar Tulungagung
ABSTRAK Sokip. 2012. Tindak Pembelajaran Guru dalam Membangun Karakter di SDI Al-Munawar Tulungagung. Disertasi. Program Studi Psikologi Pendidikan. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. I. Wayan Ardhana, M.A; (II) Dr. Dany M.Handarini, M.A; (III) Dr. Nurul Murtadho, M.Pd. Kata kunci: tindak pembelajaran guru, membangun karakter. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk-bentuk tindakan guru dalam membangun karakter di SDI Al-Munawar Tulungagung, (2) strategi guru dalam membangun karakter di SDI Al-Munawar Tulungagung, (3) alasan-alasan guru dalam membangun karakter di SDI Al-Munawar Tulungagung, (4) bentuk-bentuk karakter atas tindakan guru di SDI Al-Munawar Tulungagung. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi, observasi, dan wawancara. Data yang terkumpul melalui ketiga teknik tersebut dianalisis secara berulang-ulang dengan model interaktif yang diadopsi dari Miles dan Huberman. Analisis data dilakukan dengan langkah reduksi data yakni klasifikasi, pengkodean, pemaparan data, dan penarikan kesimpulan. Untuk mendapatkan kredibilitas data, peneliti melakukan triangulasi, pengecekan anggota, dan diskusi teman sejawat. Sementara dependabilitas dan konfirmabilitas dilakukan oleh para pembimbing sebagai independent auditor. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan beberapa temuan sebagai berikut. Pertama, bentuk-bentuk tindakan guru dalam membangun karakter di SDI Al-Munawar dilakukan dengan beberapa macam tindakan: (1) Guru membiasakan diri datang lebih awal untuk menanamkan sifat disiplin diri; (2) Guru membiasakan diri membaca koran atau majalah waktu istirahat dan luang untuk menanamkan sifat gemar membaca; (3) Guru membiasakan siswa untuk berjabat tangan sambil mencium tangannya guru untuk menanamkan sifat hormat; (4) Guru membiasakan diri memberi contoh berdoa dengan hati yang khusuk, ikhlas, rendah hati menanamkan sifat religius; (5) Guru membiasakan diri mengecek kemampuan siswa dalam memahami pelajaran dalam rangka menanamkan sifat tanggungjawab; (6) Guru menjelaskan kembali keterangannya pada siswa yang mengalami keterlambatan dalam hal pemahaman untuk menanamkan sifat peduli; (7) Guru membiasakan diri menunggu kedatangan siswa dengan penuh kesabaran untuk menanamkan sifat sabar; (8) Guru membiasakan diri mengucapkan salam untuk menanamkan sifat cinta damai; (9) Guru membiasakan siswa saling mendengarkan bacaan temannya saat dikelas untuk menanamkan sifat toleransi; (10) Guru membiasakan diri datang lebih awal untuk menanamkan sifat ulet dan gigih; (11) Guru berpakaian yang bersih dan mengecek kebersihan kelas untuk menanamkan sifat cinta kebersihan; (12) Guru mengajak siswa secara teliti mencermati isi bacaan yang ada dan mencari pokok kalimat yang ada dalam bacaan, untuk menanamkan sifat ketelitian; (13) Guru memberi teguran dengan bahasa yang tidak menakutkan siswa, untuk menanamkan sifat ramah; (14) Guru mengajak berdo’a dengan hati yang tawadhu’, untuk menanamkan sifat tawadhu’ (rendah hati); (15) Guru memberi nilai dengan kriteria yang jelas, untuk menanamkan sifat adil; (16) Guru mengkoreksi hasil dari PR para siswanya sambil menunggu para siswa masuk , untuk menanamkan sifat produktif; (17) Guru mengajak berbagi kebahagiaan dengan orang lain yang mengalami musibah untuk menanamkan sifat tolong menolong; (18) Guru memberi kesempatan yang luas untuk bertanya, untuk menanamkan sifat rasa ingin tahu; (19) Guru membiasakan diri mengucapkan salam, untuk menanamkan sifat bersahabat; (20) Guru membiasakan diri memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan guru, untuk menanamkan sifat berani; (21) Guru mendekati siswa yang pemalu, siswa yang pendiam dalam memberi penjelasan, untuk menanamkan sifat bijaksana; (22) Guru membiasakan siswa tidak melihat hasil pekerjaan milik temannya dalam mengerjakan tugas dan UAS, untuk menanamkan sifat mandiri; (23) Guru menggunakan kesempatan yang ada untuk menghasilkan sesuatu yang bermakna, untuk menanamkan sifat kreatif; (24)Guru menjelaskan pelajaran dengan kata-kata yang tidak menyakitkan perasaan siswa, untuk menanamkan sifat santun; (25) Guru mengajak siswa tidak mencontek waktu ujian atau melihat milik temannya, untuk menanamkan sifat jujur; (26) Guru memberi penguatan pada siswa agar setiap saat selalu sungguh-sungguh, untuk menanamkan sifat sungguh-sungguh; (27) Guru membiasakan siswa selalu menempati tempat duduknya dan selalu belajar dirumah dengan konsisten, untuk menanamkan sifat ajek; (28) Guru membiasakan siswa agar teliti saat mendengarkan penjelasan dari gurunya, untuk menanamkan sifat cermat; (29) Guru selalu memanfaatkan waktu yang ada untuk membaca buku, untuk mengkoreksi hasil pekerjaan rumah dengan penuh ketelitian dan hati-hati, untuk menanamkan sifat tekun; (30) Guru menggunakan metode kelompok dalam mengajar di kelas, untuk menanamkan sifat mau kerjasama. Kedua, strategi guru dalam membangun karakter di SDI Al-Munawar Tulungagung dilakukan dengan empat langkah, (1) memasukkan nilai-nilai kebaikan (pengetahuan), (2) mengajak siswa untuk mempunyai alasan atau keinginan untuk melakukan nilai-nilai kebaikan (perasaan), (3) membiasakan siswa untuk melakukan nilai-nilai kebaikan (psikomotorik), dan (4) guru mengadakan pemantauan terhadap nilai-nilai karakter siswa yang kerjasama dengan orang tua siswa. Ketiga, alasan-alasan guru dalam membangun karakter di SDI Al-Munawar: (1) alasan agama. Agama Islam memerintahkan umatnya agar memiliki akhlak mulia; (2) alasan sosial. Kehidupan masyarakat sekarang semakin penuh dengan ketidakaturan karena tidak dipatuhinya norma-norma sosial;(3) alasan budaya. Sebagai bangsa timur yang memiliki budaya adiluhung, dirasa penting untuk menanamkan dan mewariskan budaya tersebut kepada generasi berikutnya; (4) alasan amanat Pancasila. Sebagai dasar negara, Pancasila mengandung nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan. (5) alasan amanat undang-undang. Ada tiga undang-undang yang mengamanatkan pendidikan karakter, yakni (1) UUD 1945, (2) Undang-undang nomor 20 tahun 2003, dan (3) UU nomor. 14/2005 tentang guru & dosen. Keempat, bentuk-bentuk karakter atas tindakan guru di SDI Al-Munawar adalah nilai-nilai karakter yang dimiliki oleh para Rasul yang meliputi: (1)Shiddik yang berarti benar dengan berbagai indikator seperti siswa terbiasa dengan sikap religius, sabar, tawadhu’, adil, berani, jujur (2) Amanah yang berarti dapat dipercaya, dengan berbagai indikator seperti disiplin, tanggungjawab, gigih, kebersihan, bersahabat, bijaksana, sungguh-sungguh, ajek (3)Tabligh yang artinya menyampaikan sesuatu, dengan berbagai indikator seperti siswa terbiasa dengan sikap hormat, peduli, cinta damai, toleransi, ramah, tolong menolong, santun, kerja keras (4) Fathanah yang berarti kecerdasan dengan berbagai indikator seperti siswa terbiasa dengan sikap yang gemar membaca, teliti, produktif, rasa ingin tahu, mandiri, kreatif, cermat, tekun.
Hubungan Motivasi Berprestasi dengan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang
ABSTRAK Supraba, Dellawaty, 2012. Hubungan Motivasi Berprestasi dengan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Fattah Hidayat, S.Psi., M.Si., (II) Drs. Mohammad Bisri, M.Si. Kata Kunci : motivasi berprestasi, prokrastinasi akademik. Motivasi berprestasi merupakan dorongan untuk mengungguli, berprestasi sehubungan dengan seperangkat standar dan berusaha untuk mendapatkan keberhasilan. Prokrastinasi akademik adalah suatu bentuk perilaku penundaan tugas akademik yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang, dengan melakukan aktivitas lain yang tidak berhubungan dengan pengerjaan tugas-tugas akademik. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui motivasi berprestasi mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang; (2) mengetahui prokrastinasi akademik mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang; (3) mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dan prokrastinasi akademik mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang . Jenis Penelitian ini adalah deskriptif dan korelasional. Subjek penelitian ini adalah karyawan mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang yang berjumlah 52 orang. Data diambil dengan menggunakan Skala Motivasi Berprestasi dan Skala Prokrastinasi Akademik. Teknik analisis data untuk melihat gambaran motivasi berprestasi dan prokrastinasi akademik adalah analisis deskriptif, sedangkan untuk mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik adalah dengan analisis korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang (rxy = -0,353, sig.= 0,010 < 0,05). Artinya semakin tinggi motivasi berprestasi mahasiswa tingkat akhir maka semakin rendah prokrastinasi akademiknya. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang cenderung memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Sedangkan mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang memiliki tingkat prokrastinasi akademik yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada : (1) mahasiswa: memanfaatkan waktu dengan baik dan mengembangkan tanggung jawab pribadi karena berkaitan erat dengan motivasi berprestasi (2) universitas: menyelenggarakan program yang dapat menumbuhkan motivasi berprestasi seperti seminar mengenai bagaimana cara mengembangkan motivasi berprestasi dan memberi beasiswa kepada mahasiswa (3) peneliti selanjutnya: dapat mengembangkan penelitian dengan menggunakan faktor lain yang memiliki pengaruh sama dan lebih memperluas populasi penelitian yang digunakan.
Hubungan antara Pengetahuan tentang Kesetaraan Gender, Peran sebagai Istri, dan Sikap Terhadap Kesetaraan Gender pada Ibu Rumah Tangga
ABSTRAK Sagala, Roma Pintauli. 2012. Hubungan antara Pengetahuan tentang Kesetaraan Gender, Peran sebagai Istri, dan Sikap Terhadap Kesetaraan Gender pada Ibu Rumah Tangga. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Fattah Hanurawan, M.Si, M.Ed, (II) Ninik Setiyowati S.Psi.,M.Psi. Kata Kunci : pengetahuan tentang kesetaraan gender, peran sebagai istri, sikap terhadap kesetaraan gender Sikap terhadap kesetaraan gender adalah kecenderungan individu untuk memberikan respon secara kognitif, afektif dan konatif terhadap persamaan peran dan hak antara laki-laki dan perempuan dalam bidang sosial budaya, politik, pendidikan, ekonomi dan keluarga serta bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender. Perbedaan sikap terhadap kesetaraan gender bervariasi, faktor yang mempengaruhi di antaranya adalah pengetahuan tentang kesetaraan gender dan peran wanita sebagai istri. Pengetahuan merupakan hasil pemahaman yang sebelum tidak tahu akhirnya tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Peran adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang dalam status tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengetahuan tentang kesetaraan gender pada ibu rumah tangga, (2) mengetahui peran wanita sebagai istri, (3) mengetahui sikap terhadap kesetaraan gender pada ibu rumah tangga, (4) mengetahui hubungan pengetahuan tentang kesetaraan gender dengan sikap terhadap kesetaraan gender, (5) mengetahui hubungan antara peran sebagai istri dengan sikap terhadap kesetaraan gender dan (6) mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang kesetaraan gender, peran sebagai istri, dan sikap terhadap kesetaraan gender. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampel. Subjek penelitian dalam penelitian ini ibu rumah tangga berjumlah 118 orang dengan karakteristik: wanita usia 25-45 tahun, menikah dan memiliki anak, tinggal seatap dengan suami. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket pengetahuan tentang kesetaraan gender, skala peran sebagai istri dan skala sikap terhadap kesetaraan gender yang dikembangkan oleh peneliti. Teknik analisis data menggunakan teknik korelasi Product Moment untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dan teknik Regresi digunakan untuk mengetahui hubungan antara ketiga variabel. Hasil penelitian menunjukkan (1) pengetahuan tentang kesetaraan gender tergolong sedang, (2) peran sebagai istri tergolong sedang, (3) sikap terhadap kesetaraan gender termasuk sedang, (4) ada hubungan hubungan positif antara pengetahuan tentang kesetaraan gender dengan sikap terhadap kesetaraan gender, (5) ada hubungan negatif antara peran sebagai istri dengan sikap terhadap kesetaraan gender dan (6) ada hubungan antara pengetahuan tentang kesetaraan gender, peran sebagai istri dan sikap terhadap kesetaraan gender. Disarankan (1) bagi wanita, diharapkan dapat memberikan pemahaman bahwa peran dapat dibagi secara adil dan tidak bersifat mutlak (dapat dipetukarkan) sehingga perempuan dapat mengambil peran yang menjadi peran pria dan sebaliknya. Agar wanita memiliki sikap positif terhadap kesetaraan gender perlu meningkatkan pengetahuan mengenai kesetaraan gender dan peran dalam keluarga. Untuk meningkatkan pengetahuan mengenai kesetaraan gender dengan cara mencari informasi baik melalui media cetak maupun elektronik, sedangkan peran sebagai istri diperoleh melalui proses belajar didukung dengan wawasan yang baik mengenai pembagian tugas yang adil untuk meningkatkan keharmonisan rumah tangga, (2) bagi peneliti selanjutnya untuk mencari teori yang lebih mendalam dan komprehensif mengenai permasalahan gender dan peran sebagai istri.