Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
783 research outputs found
Sort by
STRATEGI KOPING STRES PADA PENDERITA KANKER PAYUDARA (Studi Kasus pada Penderita Kanker Payudara yang Menjalani Pengobatan Alternatif))
ABSTRAK Sari, Fita Ferdian. 2013. Strategi Koping Stres pada Penderita Kanker Payudara (Studi Kasus pada Penderita Kanker Payudara yang Menjalani Pengobatan Alternatif). Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moh. Irtadji, M.Si, (II) Ninik Setiyowati, S.Psi, M.Psi. Kata kunci: strategi koping stres, penderita kanker payudara, pengobatan alternatif. Kanker payudara merupakan tumor ganas yang bermula dari sel-sel di payudara yang dapat tumbuh ke jaringan di sekitarnya atau menyebar (metastasis) ke area-area lain dalam tubuh. Pengobatan untuk kanker payudara saat ini telah berkembang, dari pengobatan medis hingga pengobatan alternatif. Didiagnosis menderita kanker payudara dan menjalani pengobatan kanker dapat menimbulkan stres. Saat ini banyak penderita kanker payudara yang menjalani pengobatan alternatif. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai strategi koping stres pada penderita kanker payudara yang menjalani pengobatan alternatif. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menggambarkan strategi koping stres pada penderita kanker payudara yang menjalani pengobatan alternatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Dengan rancangan penelitian studi kasus. Subjek penelitian berjumlah tiga orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dengan tahap penelaahan data, pengkodean, dan menentukan tema-tema inti. Berdasarkan hasil analisis tersebut, diperoleh hasil sebagai berikut. Penderita kanker payudara yang menjalani pengobatan alternatif memasrahkan diri kepada Tuhan. Kepasrahan didapat melalui pemahaman bahwa Tuhan yang mengatur kehidupan manusia. Pemahaman ini juga mempengaruhi pengambilan makna positif dan penerimaan terhadap peristiwa yang dialami. Selain itu, penderita kanker payudara juga melakukan usaha untuk mengurangi efek dari kanker payudara melalui pengobatan yang dipilih dengan pertimbangan biaya dan pengalaman negatif terhadap pengobatan medis
PENGARUH PENDEKATAN FLOOR TIME TERHADAP KEMAMPUAN BERBAHASA PADA ANAK AUTISTIK
ABSTRAK Pangestika,Vidya. 2013. Pengaruh Pendekatan Floor Time Terhadap Kemampuan Berbahasa Pada Anak Autistik. Skripsi, Jurusan Psikologi Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si (II) Indah Yasminum Suhanti, S.Psi, M.Psi. Kata kunci: pendekatan floor time, kemampuan berbahasa, anak autistik Autistik adalah suatu gangguan perkembangan. Ciri-ciri yang tampak pada anak yang didiagnosis gangguan autistik mencakup dalam bahasa, komunikasi, dan perilaku ritualistik/stereotip. Anak autistik dapat pula tidak bicara atau jika memiliki ketrampilan berbahasa digunakan secara tidak lazim seperti ekolalia. Oleh karena itu, beberapa ahli mengembangkan pendekatan pembelajaran bagi anak autistik yaitu pendekatan floor time. Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi pada anak autistik dengan menekankan pada metode interaktif atau bermain dengan anak yang berlandaskan pada ikatan relasi (berhubungan) dan difokuskan pada minat anak. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan floor time terhadap kemampuan berbahasa pada anak autistik. Penelitian ini menggunakan desain repeated measures-rancangan tanpa kelompok kontrol. Subjek yang digunakan sebanyak 3 orang dengan rentang usia 3-5 tahun. Pelaksaan penelitian dilakukan selama ± 45 menit setiap sesi. Temuan dalam penelitian ini adalah pendekatan floor time memberikan pengaruh pada kemampuan berbahasa anak autistik (p< 0,05) dengan uji Wilcoxon 2 related sample. Peningkatan mean kemampuan berbahasa pada setiap komponen yaitu engagement (8,20), imitasi (2,07), bahasa reseptif (6,53), dan bahasa ekspresif (4,00). Pengaruh pendekatan floor time juga dipengaruhi oleh kontinuitas dan kehadiran sosok orang tua terutama ibu. Kedua hal ini cukup membantu dalam meningkatan kemampuan berbahasa pasa anak autistik. Adapun saran yang dapat diajukan terkait dengan penelitian ini antara lain: orang tua dapat menggunakan pendekatan floor time sebagai cara menangani anak autistik dengan menjalin interaksi bermakna bersama anak dan menciptakan suasana-suasana yang menyenangkan dan bervariasi baik kegiatan maupun media yang digunakan. Untuk kepentingan penelitian selanjutnya, diharapkan peneliti menggunakan desain yang lebih sempurna dari penelitian ini dalam segi rentang waktu penerapan intervensi sehingga dapat dilihat efektiftas dan kestabilan pengaruhnya. Sampel yang digunakan pun diharapkan lebih luas baik dalam jumlah maupun usia sehingga memungkinkan untuk generalisasi pada anak-anak autistik. Selain itu, diharapkan peneliti selanjutnya juga meninjau dari aspek lain selain kemampuan berbahasa, misalnya aspek emosional pada anak autistik.
Studi Kasus Deskripsi Kebutuhan Akan Cinta Pada Pria Dewasa Awal Yang Memiliki Kecenderungan Depresi
ABSTRAK Hadi, Rochman. 2013. Studi Kasus Deskripsi Kebutuhan Akan Cinta pada Pria Dewasa Awal yang Memiliki Kecenderungan Depresi. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Fattah Hanurawan M.Si,. M.Ed. (2) Anies Syafitri S.Psi,. M.Psi. Kata kunci: kebutuhan akan cinta, depresi, pria dewasa awal Mencintai dan dicintai merupakan prasyarat bagi adanya perasaan yang sehat. Sebaliknya, tanpa cinta orang akan dikuasai oleh perasaan kebencian, rasa tak berharga, dan kehampaan. Secara manusiawi dalam hubungan interpersonal seperti itu, kadang kala terjadi apa yang kita namakan putus cinta, yang pada akhirnya menimbulkan patah hati. Jika kita memang masih belum terlalu membutuhkan cinta, kita akan bisa menghadapinya secara biasa saja. Namun, apabila kita merasa sangat membutuhkannya kita akan mengalami apa yang dinamakan dengan stres yang bisa jadi berujung pada depresi. Tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan kebutuhan akan cinta pada pria dewasa awal yang memiliki kecenderungan depresi. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan model penelitian studi kasus. Dalam hal ini subyek yang dipilih adalah tiga orang pria dewasa awal dengan kriteria mengalami depresi sebagai akibat dari kebutuhan akan cintanya yang tidak terpenuhi. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) wawancara mendalam, (2) observasi partisipan, (3) kuesioner BDI (Beck Depression Inventory). Teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan adalah: triangulasi sumber. Hasil penelitian yang diperoleh adalah: (1) pada ketiga subyek memiliki kebutuhan akan cinta yang ingin dipuaskan. Hanya saja ketika figur cinta yang subyek anggap mampu menjadi pemuas kebutuhannya itu gagal didapatkan, sebagai implikasi ketiga subyek tersebut mengalami apa yang dinamakan dengan depresi. (2) Depresi pada pria cenderung ditunjukkan melalui upaya pelarian-pelarian kepada hal substansial misalnya dengan meminum alkohol, memakai narkoba, mengikuti komunitas di luar rumah, dan lain-lain. (3) Wujud pelarian kedalam hal substansial tersebut malah membuat pria lebih merana dan sakit daripada wanita. Selain itu, pria yang terdampak depresi cenderung akan menyendiri dan tidak menunjukkan bahwa dia tengah mengalami depresi karena pria tidak ingin nampak lemah dihadapan orang lain. Saran yang diajukan oleh peneliti: bagi ketiga subyek yang mengalami depresi karena kebutuhan akan cintanya tidak terpenuhi adalah diharapkan mendapatkan penanganan medis yang berkelanjutan, bagi pihak keluarga diharapkan untuk berperan aktif dengan memberikan dukungan sosial yang positif dalam upaya membantu proses penyembuhan pada ketiga subyek, dan bagi peneliti selanjutnya ialah subyek penelitiannya bisa dicoba pada jenis kelamin yang berbeda, yakni pada wanita
PENGARUH SIKAP PENGETAHUAN KESELAMATAN KERJA DAN IKLIM KESELAMATAN KERJA TERHADAP PERILAKU KESELAMATAN PADA KARYAWAN PRODUKSI PT. SEMEN INDONESIA (PERSERO) Tbk
Perilaku keselamatan dalam keselamatan kerja berhubungan langsung dengan perilaku karyawan dalam bekerja demi keselamatan individu sangat berhubungan erat dengan iklim keselamatan kerja dan sikap pengetahuan keselamatan kerja, karena dengan keadaan iklim keselamatan kerja ada dalam perusahaan mempengaruhi tingkat kesehatan karyawan dan dengan adanya pengetahuan keselamatan kerja, maka karyawan mampu mengerti dan memahami arti keselamatan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sikap pengetahuan keselamatan dengan iklim keselamatan kerja terhadap perilaku keselamatan pada karyawan produksi PT. Semen Indonesia (Persero)Tbk. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskripsi korelasional. Subjek penelitian ini sebanyak 44 karyawan pada bagian produksi. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala sikap pengetahuan keselamatan kerja yang terdiri 22 aitem dengan reliabilitas menggunakan formula Alpha Cronbach sebesar 0,843, skala iklim keselamatan kerja yang terdiri dari 24 aitem dengan reliabilitas menggunakan formula Alpha Cronbach sebesar 0,732, dan skala perilaku keselamatan yang terdiri dari 22 aitem dengan reliabilitas menggunakan formula Alpha Cronbach sebesar 0,861. Data hasil penelitian ini dianalismenggunakan metode regresi linier berganda. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan Rsquare 0,308 diketahui bahwa variabel sikap pengetahuan keselamatan kerja berpengaruh terhadap perilaku keselamatan dan iklim keselamatan kerja tidak ada pengaruh terhadap variabel perilaku keselamatan karena penelitian menunjukkan Rsquare 0,55. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan: (1) Diharapkan untuk tetap mampu meningkatkan iklim keselamatan kerja yang sudah ada saat ini dengan diantaranya selalu memberikan informasi baru tentang pentingnya aspek teknis keselamatan kerja agar karyawan tidak melakukan tindakan ceroboh, melakukan pelatihan tentang keselamatan secara berkala. (2) Pihak manajemen hendaknya memberikan penghargaan bagi karyawan yang selalu mematuhi peraturan keselamatan dan mempunyai andil dalam meningkatkan keselamatan kerja baik bagi dirinya maupun bagi rekan kerjanya
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN KESADARAN SOSIAL DENGAN INTENSI PERILAKU AGRESI PADA ANGGOTA CLUB MOTOR DI JAWA TIMUR
ABSTRAK Agasty, Aminah Nurul. 2013. Hubungan antara Konsep Diri dan Kesadaran Sosial dengan Intensi Perilaku Agresi pada Anggota Club Motor di Jawa Timur. skripsi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Fattah Hidayat, S.Psi., M.Si (2) Indah Yasminum Suhanti, S.Psi., M.Psi. Kata Kunci: Konsep Diri, Kesadaran Sosial, Intensi Perilaku Agresi Intensi perilaku agresi merupakan niat seseorang untuk melakukan perilaku agresi. Setiap orang memiliki kemungkinan untuk melakukan perilaku agresi, namun dengan intensi yang berbeda-beda. Intensi perilaku agresi menjadi penting untuk diteliti karena pada masa sekarang, hampir setiap masalah melibatkan perilaku agresi. Intensi perilaku agresi dihubungkan dengan variabel lainnya, yaitu konsep diri yang merupakan pusat referensi setiap pengalaman dan kesadaran sosial yang dapat mengarahkan individu menjadi empatik dan lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara: 1) konsep diri dan intensi perilaku agresi, 2) kesadaran sosial dengan intensi perilaku agresi, 3) konsep diri dan kesadaran sosial dengan intensi perilaku agresi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional untuk mengetahui hubungan konsep diri dan kesadaran sosial dengan intensi perilaku agresi. Subjek penelitian adalah 110 anggota aktif club motor satria yang berada di dalam naungan suzuki, terdaftar pada kepolisian, dan Satria Club Indonesia koordinasi wilayah Jawa Timur. Instrumen yang digunakan adalah skala, yakni skala konsep diri (α=0,928), skala kesadaran sosial (α=0,962), dan skala intensi perilaku agresi α=0,982. Pengumpulan data diambil dari pilihan jawaban subjek pada ketiga skala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Ada hubungan antara konsep diri dan intensi perilaku agresi dengan korelasi pearson sebesar -0,976, Artinya, semakin tinggi konsep diri, maka intensi perilaku agresi semakin rendah, 2) Ada hubungan antara kesadaran sosial dan intensi perilaku agresi dengan korelasi pearson sebesar -0,973, Artinya, semakin tinggi kesadaran sosial, maka intensi perilaku agresi semakin rendah, 3) Ada hubungan antara konsep diri dan kesadaran sosial dengan intensi perilaku agresi. Berdasarkan hasil uji regresi, didapatkan hasil bahwa besarnya nilai R = 0,977 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara variabel konsep diri, kesadaran sosial mempengaruhi variabel intensi perilaku agresi. Sumbangan efektif dalam penelitian ini adalah variabel konsep diri dengan koefisien beta sebesar -0,679. Penelitian selanjutnya diharapkan mengambil sampel dengan karakteristik yang berbeda dengan mempertimbangkan karakter pribadi subjek serta budaya yang melatarbelakangi.
Hubungan Antara Self Esteem, Self Confidence, Dan Self Acceptance Dengan Self Disclosure Pada Remaja
ABSTRAK Hanafiah, Nurul Anikmatul. 2012. Hubungan Antara Self Esteem, Self Confidence, Dan Self Acceptance Dengan Self Disclosure Pada Remaja. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si, (II) Ika Andrini Farida, S.Psi, M. Psi. Kata Kunci: Self Esteem, Self Confidence, Self Acceptance, Self Disclosure, Remaja, SMAN 3 Ponorogo Seorang remaja akan mencari format yang tepat untuk membentuk identitas dirinya. Remaja yang sedang mencari identitas diri diharapkan membentuk kemampuan mengevaluasi diri akan menumbuhkan kepercayaan serta penerimaan terhadap diri. Remaja yang memiliki self esteem, self confidence, serta self acceptance akan mampu mengungkapkan tentang pribadi nya kepada orang lain yang disebut self disclosure. Remaja perlu melakukan self disclosure sebagai salah satu sikap yang harus dimiliki agar mereka dapat diterima dalam lingkungan sosialnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self esteem, self confidence, dan self acceptance terhadap self disclosure pada remaja dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-XI SMAN 3 Ponorogo baik secara simultan maupun parsial. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah self esteem, self confidence, self acceptance, variabel terikatnya adalah self disclosure. Rancangan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, korelasional, regresi linear berganda. Penelitian dilakukan dengan menggunakan skala self esteem,skala self confidence, skala self acceptance dan skala self disclosure. Sampel penelitian sejumlah 60 siswa. Pengambilan sampel menggunakan teknik proporsional random sampling yaitu cara mengundi dengan nomor urut absen siswa, dan menentukan jumlah perwakilan pada setiap kelasnya. Berdasarkan hasil analisis data tersebut diperoleh empat kesimpulan. 1) Ada hubungan antara tingkat self esteem dengan self disclosure pada remaja (rxy= 0,706 ; p=0,000). 2) Ada hubungan antara tingkat self confidence dengan self disclosure pada remaja (rxy= 0,703 ; p=0,000. 3) Ada hubungan antara tingkat antara self acceptance dengan self disclosure pada remaja (rxy= 0,832 ; p=0,000). 4) Ada hubungan antara self esteem, self confidence, self acceptance secara simultan berhubungan dengan self disclosure pada remaja. Hasil penelitian menunjukkan nilai F = 90,863 (p = 0,000 < 0,05). Hal ini berarti bahwa self esteem, self confidence, self acceptance secara simultan berhubungan dengan self disclosure. Sementara itu nilai koefisien determinasi R Square yang sudah disesuaikan sebesar 0,830, berarti bahwa 83% variabel self disclosure dijelaskan oleh variabel self esteem, self confidence, dan self acceptance, sedangkan sisanya 26,8% dijelaskan oleh variabel lain yang mendukung self disclosure. Dari hasil penelitian dapat disarankan kepada orang tua untuk memberikan penghargaan terhadap apa yang dilakukan anak, serta bagi pihak sekolah diharapkan memberikan pelatihan dan bimbingan kepada siswanya.. Serta peneliti selanjutnya yang berminat mengkaji masalah ini menggunakan metode penelitian kualitatif sehingga di dapatkan kondisi kehidupan subyek.
Hubungan Sikap Moral Seksual dan Perilaku Seksual Siswa SMP Negeri 4 dan MTs Negeri Kauman Ponorogo
ABSTRAK Fadhila A., Wilda Geta. 2012. Hubungan Sikap Moral Seksual dan Perilaku Seksual Siswa SMP Negeri 4 dan MTs Negeri Kauman Ponorogo. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Fattah Hidayat, S.Psi., S.E., M.Si., dan (2) Ika Andrini Farida, S.Psi., M.Psi. Kata Kunci: Sikap Moral Seksual, Perilaku Seksual, Pengetahuan Agama Islam. Perkembangan zaman sedikit demi sedikit telah menggeser budaya timur yang sarat dengan sopan santun dan tata krama ke budaya barat sebagai kiblatnya. Perubahan orientasi seksual yang dahulu bersifat sangat pribadi dan tertutup lalu kini dibuka lebar-lebar, seolah-olah menjadi fenomena wajar dan umum yang menyebabkan banyak remaja banyak terlibat dalam perilaku amoral. Remaja terkesan mengabaikan aturan moral seksual yang berlaku dengan melakukan perilaku seksual yang dilarang oleh masyarakat dan agama dengan berbagai alasan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui gambaran sikap moral seksual (2) mengetahui gambaran perilaku seksual (3) mengetahui gambaran pengetahuan agama Islam, dan (4) mengetahui hubungan sikap moral seksual dan perilaku seksual dengan mengendalikan pengetahuan agama Islam. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dan korelasional. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik random sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 55 siswa. Validitas instrumen menggunakan validitas korelasi antar aitem menggunakan formula korelasi product moment dengan taraf signifikansi 5%. Instrumen yang digunakan berupa: skala sikap moral seksual (α=0,959), skala perilaku seksual (α=0,947), dan tes pengetahuan agama Islam (α=0,830). Data dianalisis menggunakan teknik persentase dan uji korelasi Parsial. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: (1) sebesar 98,19% subjek bersikap positif pada moral seksual, (2) sebesar 76,38% subjek jarang melakukan perilaku seksual, (3) sebesar 70,92% subjek memiliki pengetahuan agama Islam yang baik (4) Ada hubungan negatif yang signifikan antara sikap moral seksual dan perilaku seksual dengan mengendalikan pengetahuan agama Islam. Hubungan yang negatif ditunjukkan dengan nilai rxy sebesar -0,525. Saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitian adalah: (1) bagi siswa diharapkan untuk meninjau kembali moral masyarakat dan agama sebelum bertindak, mengikuti kegiatan keagamaan secara rutin, serta aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler sebagai sarana menyalurkan bakat dan minat, (2) bagi orangtua diharapkan melibatkan anak dalam kegiatan beribadah bersama, mengingatkan untuk takut kepada Tuhan, serta memberikan wawasan mengenai akibat perilaku seksual, (3) bagi pihak sekolah hendaknya melibatkan siswa dalam kegiatan keagamaan, misalnya sholat dhuha dan pondok Ramadhan, menyediakan fasilitas ekstrakulikuler yang menarik bagi siswa, serta kegiatan mentoring untuk memberikan penjelasan bahaya perilaku seksual, dan (4) bagi penelitian lebih lanjut disarankan untuk memberikan bobot pada perilaku seksual sesuai tingkatan, mempertimbangkan faktor-faktor lain yang turut menentukan perilaku seksual, dan melakukan analisis kualitatif untuk memperdalam temuan penelitian.
STUDI KASUS FENOMENOLOGIS KONSEP DIRI DAN INTERAKSI SOSIAL PRIA HOMOSEKSUAL
ABSTRAK Putra, Zhenda Prima. 2012. Studi Kasus Fenomenologis Konsep Diri dan Interaksi Sosial Pria Homoseksual. Skripsi. Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed, (II) Drs. Mohammad Bisri, M.Si. Kata kunci : konsep diri, interaksi sosial, homoseksual. Homoseksual menjadi bahasan yang sensitif di tengah-tengah masyarakat Indonesia dikarenakan masih kuatnya norma agama dan norma sosial. Respon yang diterima para pelaku homoseksual bermacam-macam, dari yang mendukung sampai yang menentang. Respon-respon tersebut merupakan salah satu faktor kuat yang membentuk konsep diri mereka. Konsep diri tersebut yang akhirnya mempengaruhi perilaku mereka dalam berinteraksi di lingkungan sosialnya. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan beberapa hal, yaitu tentang konsep diri pria homoseksual, interaksi sosial pria homoseksual, serta bagaimana konsep diri akhirnya mempengaruhi bagaimana interaksi sosial mereka. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif studi kasus. Dengan penelitian studi kasus, maka pengambilan data dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail dan komperehensif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk memastikan keabsahan data, peneliti melakukan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari pengumpulan data, tahap reduksi data dan kategorisasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh temuan penelitian sebagai berikut. Pada subjek penelitian yang pertama, memiliki konsep diri positif. Konsep diri positif diperoleh dari pola asuh orang tua, interaksi dengan masyarakat, pergaulan dengan kawan sebaya dan dari hasil belajarnya. Subjek penelitian memiliki interaksi yang positif dengan lingkungannya, dan hal tersebut didapat dengan proses yang cukup lama. Subjek penelitian yang kedua juga memiliki konsep diri positif yang diperolehnya dari pola asuh orang tua, pergaulannya dengan kawan sebaya, hasil belajarnya dan interaksi dengan masyarakat. Subjek penelitian juga memiliki interaksi positif dan hal tersebut didapatnya dari proses yang panjang. Kesimpulannya dari penelitian ini adalah dengan konsep diri yang positif, dapat diperoleh pula interaksi sosial yang positif. Jika seseorang mampu menerima dirinya dan mampu merespon tanggapan-tanggapan dari orang lain dengan baik, pada akhirnya mampu berinteraksi dan berperan dengan baik di lingkungan sosialnya. Diharapkan untuk penelitian selanjutnya untuk mengambil subjek penelitian yang memiliki latar belakang yang berbeda, seperti memiliki konsep diri negatif, sehingga dapat melihat gambaran konsep diri dan bagaimana perilakunya dalam berinteraksi di lingkungannya.
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KECEMASAN BERBICARA DI DEPAN UMUM PADA MAHASISWA FAKULTAS PENDIDIKAN PSIKOLOGI UNIVERSITAS NEGERI MALANG
ABSTRAK Restiny, Ufitri Dwi. 2012. Hubungan antara Konsep Diri dengan Kecemasan Berbicara di Depan Umum pada Mahasiswa Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Fattah Hidayat, S.E, S.Psi, M.Si, (II) Diyah Sulistiyorini S.Psi, M.Psi. Kata kunci : konsep diri, kecemasan berbicara. Mahasiswa yang akan berbicara di depan umum atau banyak orang sering kali mengalami kecemasan yang dapat dirasakan melalui gejala-gejala yang muncul dari aspek fisik, psikologis, dan perilaku. Tinggi rendahnya kecemasan mahasiswa dalam berbicara di depan umum dipengaruhi oleh konsep diri yang dimiliki. Konteks konsep diri itu sendiri mencakup gambaran siapa dirinya, siapa seharusnya dirinya, dan siapa kemungkinan dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan konsep diri mahasiswa FPPsi UM, (2) mendeskripsikan kecemasan kecemasan berbicara di depan umum mahasiswa FPPsi UM, (3) mengetahui hubungan antara konsep diri dan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa FPPsi UM. Penelitian ini dilaksanakan dengan desain deskriptif korelasional. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa FPPsi UM. Sampel diambil dengan teknik accidental sampling. Data penelitian diambil dengan menggunakan dua skala yaitu skala konsep diri dan skala kecemasan berbicara di depan umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 11% mahasiswa memiliki konsep diri dengan kualifikasi tinggi, 81% mahasiswa memiliki konsep diri dengan kualifikasi sedang dan 8% mahasiswa memiliki konsep diri dengan kualifikasi rendah. Sebanyak 15% mahasiswa memiliki kecemasan dengan kualifikasi tinggi, 75% siswa memiliki kecemasan dengan kualifikasi sedang dan 10% mahasiswa memiliki kecemasan dengan kualifikasi rendah dalam berbicara di depan umum. Hasil analisis korelasional Pearson menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dan kecemasan berbicara di depan umum (rxy = - 0,605; sig = 0,0
PRASANGKA AREMANIA TERHADAP BONEKMANIA
ABSTRAK Pratama, Happy. 2012. Prasangka Aremania Terhadap Bonekmania. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti M.Si, (II) Indah Yasminum Suhanti S.Psi.,M.Psi. Kata Kunci: prasangka, aremania, bonekmania Aremania adalah julukan bagi seluruk warga Malang Raya terutama yang mendukung kesebelasan Arema. Aremania memiliki musuh bebuyutan yang sejak lama bentrok dan hingga saat ini belum menemukan kesepakatan untuk berdamai dengan Bonekmania. Permusuhan antara Malang-Surabaya tersebut menimbulkan Prasangka negatif diantara kedua belah pihak yang bermusuhan yaitu Aremania dan Bonekmania. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yaitu tentang prasangka yang ada pada setiap diri Aremania terhadap Bonekmania yang menjadi musuh bebuyutannya, selanjutnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk prasangka apa saja yang ada pada Aremania. Peneliti ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif studi kasus. Dengan penelitian studi kasus, maka penelaahannya dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail, dan komprehensif. Pengumpulan data di lakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis deskriptif kualitatif dimulai dengan pengumpulan data, tahap reduksi data dan kategorisasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: subjek penelitian menunjukkan adanya prasangka negatif terhadap Bonekmania dengan bersikap kurang bersahabat bila bertemu dengan bonekmania. Prasangka yang dilakukan ketiga subjek penelitian dilatar belakangi oleh adanya sejarah permusuhan yang telah berlangsung lama diantara masyarakat Malang dan Surabaya, selain itu ketiga subjek merasa Bonekmania selalu memupuk permusuhan dengan cara memicu bentrokan saat Aremania tour ke luar kota dalam mendukung kesebelasan Arema bertanding di luar kandang. Subjek menunjukkan adanya tindakan strereotip dengan mengganggap semua Bonekmania memiliki perilaku yang sama yaitu brutal serta tidak memiliki modal uang dan hanyalah modal nekat, subjek menunjukkan adanya tindakan diskriminasi dengan cara memusuhi siapa saja yang mengenakan atribut Bonekmania, subjek menunjukkan adanya tindakan jarak sosial dengan menjaga jarak dalam bergaul, bekerja, dan memilih jodoh selama ada atribut Bonekmania, subjek tidak menunjukkan tindakan prasangka dimensi diskriminasi maupun tindakan tipe diskriminasi selama tidak ada yang menunjukkan adanya atribut Bonekmania. Subjek penelitian menerangkan bahwa Aremania bukanlah organisasi resmi atau instansi sehingga tidak ada tipe diskriminasi institusional langsung maupun tak langsung.