Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
    783 research outputs found

    Keefektifan Ilustrasi Terhadap Kemampuan Mengingat Isi Cerita Pada Siswa Kelas 3 SDN 01 Sisir Kota Batu

    No full text
    ABSTRAK   Pahlevi, Raffly As’ad. 2013. Keefektifan Ilustrasi Terhadap Kemampuan Mengingat Isi Cerita Pada Siswa Kelas 3 SDN 01 Sisir Kota Batu. Skripsi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti M.Si. (II) Ika A. Farida, S.Psi., M.Psi.   Kata kunci: Ilustrasi, kemampuan mengingat isi cerita   Berdasarkan studi Sumiani (dalam Rahmayana, 2012) pesan visual yang amat diminati siswa adalah gambar yang sederhana, praktis, dan mudah dimengerti. Sungguhpun demikian gambar yang disenangi oleh siswa tidak menjamin meningkatnya prestasi akademik mereka. Namun, memudahkan pembelajaran akan lebih menarik bagi mereka. Pembelajaran yang menarik akan menimbulkan motivasi belajar, apabila siswa termotivasi dalam belajar daya serap terhadap pembelajaran juga akan meningkat. Penelitian ini berusaha membuktikan pengaruh ilustrasi terhadap kemampuan mengingat isi cerita. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Randomized Two – Group Design, Posttest Only. Desain ini menggunakan prinsip method of difference karena desain ini membuat dua kondisi (treatment) yang berbeda pada dua kelompok penelitian. Desain ini melakukan pengukuran sesudah (posttest) pemberian treatment. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik pemberian tes. Subjek penelitian adalah siswa kelas 3 SDN 01 Sisir, sejumlah 30 siswa. Subjek diminta menjawab soal tes, setelah mendapatkan skor kemudian dilakukan analisis data. Berdasarkan hasil analisis data, nilai rata-rata kelompok ilustrasi berbasis information sebesar 12.33 sedangkan nilai rata-rata kelompok ilustrasi berbasis decoration 10.27. Hal ini berarti bahwa ilustrasi berbasis information lebih efektif meningkatkan kemampuan mengingat isi cerita dibandingkan dengan ilustrasi berbasis decoration. Berdasarkan uji-t didapatkan nilai equal variance not assumed 4.720 dengan signifikansi sebesar 0.000 dengan taraf signifikansi 5% atau 0.05, (p=0.00

    Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan Inisiasi Seksual pada Karyawati PT. Mutiara Citra Sentosa

    No full text
    ABSTRAK Inisiasi seksual memainkan peranan yang cukup penting dalam pernikahan. Humphreys dan Newby (2007) menjelaskan bahwa menjaga inisiasi seksual merupakan hal yang penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Data yang dilansir oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, tingkat perceraian pada tahun 2011, sekitar 32% dari jumlah yang tercatat merupakan perceraian yang disebabkan oleh ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk (1) memberikan gambaran mengenai kecerdasan emosional (2) memberikan gambaran mengenai inisiasi seksual (3) mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan inisiasi seksual. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif jenis deskriptif dan korelasional. Pengambilan subyek sebanyak 40 orang karyawati PT. Mutiara Citra Sentosa dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan kriteria wanita yang terikat pernikahan dan berada di rentang usia 20 – 30. Data diperoleh dengan menggunakan Skala Kecerdasan Emosional serta Skala Inisiasi Seksual yang diadaptasi dari Sexual Initiation Scale (Gossmann, 2004). Validitas instrumen menggunakan validitas korelasi antar aitem menggunakan korelasi product moment dengan taraf signifikasi 5%. Instrumen yang digunakan berupa: Skala Kecerdasan Emosional (α=0,948) dan Skala Inisiasi Seksual (0,894). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sebesar 20% subyek memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, 62,5% subyek memiliki kecerdasan emosional sedang, dan 17,5% subyek memiliki kecerdasan emosional rendah, (2) sebesar 12,5% memiliki inisiasi seksual tinggi, 70% memiliki inisiasi seksual sedang, dan 17,5 subyek memiliki inisiasi seksual rendah, (3) ada hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan inisiasi seksual. Hubungan yang positif ditunjukkan dengan nilai rxy sebesar 0,924. Kata kunci : kecerdasan emosional, inisiasi seksual   ABSTRACT             Sexual initiation has a crucial role in marriage. Humphreys and Newby (2007) explained that sexual initiation is one of main role in marriage satisfaction. Marriage divorced data collected by Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama give 32% from all divorce case caused by marriage dissatisfaction. This research try to explain (1) subject emotional intelligence distribution (2) subject sexual initiation distribution (3) correlation between emotional intelligence and sexual initiation. Method used in this research is descriptive and correlation quantitative. Subject in this research, which total 40 female employee of PT. Mutiara Citra Sentosa, is chosen with purposive sampling. Criteria to choose subject is female in age 20 – 30 years old and engaged in marriage. Data in this research collected with Skala Kecerdasan Emosional and Skala Inisiasi Seksual which adapted version of Sexual Initiation Scale (Gossmann, 2004). Instrument validation use correlation validity of each item with product moment correlation, 5% signification. Final instrument used in this research contain Skala Kecerdasan Emosional (α=0,948) and Skala Inisiasi Seksual (0,894). Result of this research is: (1) 20% of subject has high emotional intelligence, 62.5% subject has average emotional intelligence, and 17.5% subject has low emotional intelligence, (2) 12.5% subject has high sexual initiation, 70% subject has average sexual initiation, and 17.5% subject has low sexual initiation, (3) correlation between emotional intelligence and sexual initiation proved with rxy 0.924. Keywords : emotional intelligence, sexual initiation

    HUBUNGAN PERSEPSI KESESAKAN (CROWDING) DAN KEMATANGAN EMOSI DENGAN DISIPLIN BERLALU LINTAS PADA REMAJA AKHIR SMAN 1, SMAN 3, DAN SMAN 4 KOTA MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Sulaiman, Bilal Zavanna. 2013. Hubungan Persepsi Kesesakan (Crowding) dan Kematangan  Emosi dengan Disiplin Berlalu Lintas Pada Remaja Akhir    SMAN 1, SMAN 3, dan SMAN 4 Kota Malang. Skripsi Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si (II) Ika Andrini Farida, S.Psi, M.Psi   Kata Kunci : persepsi kesesakan (crowding), kematangan emosi, disiplin berlalu lintas remaja akhir.   Remaja akhir dalam rentang usia 17-21 tahun di Kota Malang menyumbang angka korban kecelakaan tertinggi. Salah satu faktor penyebab kecelakaan adalah karena kesesakan dan kelalaian manusianya sendiri serta rendahnya tingkat kematangan emosi remaja akhir yang berujung pada kurangnya kesadaran untuk disiplin berlalu lintas. Persepsi Kesesakan (crowding) itu merupakan persepsi subjektif seseorang terhadap jumlah orang yang terlalu banyak dalam ruang tertentu. Sedangkan kematangan emosi adalah suatu keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan perkembangan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan persepsi kesesakan (crowding) dan kematangan emosi dengan disiplin berlalu lintas pada remaja akhir SMAN 1, SMAN 3 dan SMAN 4 Kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional.Subjek penelitian ini adalah pelajar SMA yang masuk kriteria remaja akhir di SMAN 1, SMAN 3, SMAN 4 dengan total 120 subjek dari ketiga sekolah tersebut. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala persepsi kesesakan, skala kematangan emosi dan skala disiplin berlalu lintas. Skala persepsi kesesakan terdiri dari 15 aitem dengan reliabilitas 0,743lalu skala kematangan emosi terdiri dari 35 aitem dengan reliabilitas 0,903 dan skala disiplin berlalu lintas terdiri dari 40 aitem dengan reliabilitas 0,905. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan analisis korelasi product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Persepsi kesesakan (crowding) tidak memiliki hubungan dengan disiplin berlalu lintas. (2)Kematangan emosi memiliki hubungan positif dengan disiplin berlalu lintas. (3) Secara keseluruhan, persepsi kesesakan (crowding) dan kematangan emosi sebagai variabel bebas tidak dilakukan pengukuran dengan disiplin berlalu lintas sebagai variabel terikat karena variabel persepsi kesesakan (crowding) menunjukkan tidak memiliki hubungan dengan variabel disiplin berlalu lintas. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan: (1) Bagi Sekolah: untuk membentuk kematangan emosi remaja yang sesuai usianya itu, pendidikan karakter perlu dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah; (2) Orang tua sebaiknya ikut berperan aktif dalam perkembangan masa remaja anak-anaknya agar dapat membentuk karakter dan kepribadian yang baik sesuai tingkat kematangan emosinya. (3) Bagi subjek penelitian, perlu kesadaran akan tingkat emosi dirinya sendiri agar bisa menyikapi kesesakan berlalu lintas di Kota Malang. (4) Bagi peneliti selanjutnya yang menjadikan penelitian ini sebagai acuan dan referensi sehingga hasil penelitian menjadi lebih detail dan akurat, hendaknya membuat instrumen penelitian dengan jumlah pernyataan yang lebih cermat dan tepat.

    HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DAN KONSEP DIRI DENGAN BURN-OUT PADA TERAPIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

    No full text
    ABSTRAK   Fadhillah, Annisa Ridha. 2013. Hubungan antara Kepuasan Kerja dan Konsep Diri dengan Burn-out pada Terapis Anak Berkebutuhan Khusus. Skripsi, Jurusan Psikologi Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si., (II) Nur Eva, S.Psi., M.Psi.   Kata kunci: kepuasan kerja, konsep diri, burn-out   Fenomena Burn-Out telah menjadi fenomena umum yang terjadi di kalangan pekerjaan yang mengkhususkan diri melayani orang lain (the helping professions) atau pekerja pelayanan manusia (human service worker) (Barrick, 1989). Kepuasan kerja dan konsep diri merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan Burn-out. semakin tidak puas seseorang terhadap pekerjaannya dan semakin rendah konsep dirinya, maka Burn-out akan dapat terjadi. Penelitian ini memiliki enam tujuan yaitu untuk mengetahui: (1) gambaran kepuasan kerja terapis ABK; (2) gambaran konsep diri terapis ABK; (3) gambaran burn-out terapis ABK; (4) hubungan antara kepuasan kerja dan Burn-out pada terapis ABK; (5) hubungan antara konsep diri dan Burn-out pada terapis ABK; (6) hubungan antara kepuasan kerja dan konsep diri dengan Burn-out pada terapis ABK. Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian deskriptif korelasional dengan subyek penelitian 36 orang terapis anak berkebutuhan khusus. Instrumen yang digunakan yaitu skala kepuasan kerja, konsep diri dan Burn-out yang disusun berdasarkan penskalaan Likert. Analisis data yang digunakan terdiri dari analisis deskriptif dan analisis korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) gambaran kepuasan kerja yang diperoleh dari 36 responden adalah 13,89% mendapat kepuasan kerja tinggi, 69,44% sedang dan 16,67% rendah; (2) gambaran konsep diri terapis 11,11% tinggi, 72,22% sedang, dan 16,67& rendah; (3) gambaran burn-out terapis 8,33% tinggi, 77,78% sedang, dan 13,89% rendah; (4) terdapat hubungan negatif antara kepuasan kerja dan burn-out (rxy = -0,388 ; p = 0,019 F tabel (3,28)) yang berarti bahwa variabel independent memberikan sumbangan sebesar 56,25% terhadap variabel dependent, dan terdapat hubungan yang signifikan antara kepuasan kerja dan konsep diri dengan Burn-out, semakin tinggi kepuasan kerja dan semakin tinggi konsep diri yang dimiliki terapis anak berkebutuhan khusus, maka akan semakin rendah tingkat Burn-out nya dan berlaku sebaliknya. Berdasarkan hasil penelitian disarankan : (1) bagi terapis ABK untuk lebih meningkatkan konsep diri dan meningkatkan kepuasan kerja; (2) bagi lembaga atau yayasan penanganan ABK agar dapat meningkatkan kepuasan kerja terapisnya dengan melihat aspek-aspek yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja terapis dan meningkatkan konsep diri terapis; dan (3) bagi peneliti selanjutnya agar lebih memperluas subyek penelitian dan meneliti faktor-faktor lain yang dapat menimbulkan Burn-out seperti karakteristik pekerjaan, karakteristik organisasi dan lainnya.

    Pengembangan Buku Panduan Renang Untuk Siswa Ekstrakurikuler Renang di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang.

    No full text
    ABSTRAK   Anggriawan, Faris Pratama. 2012. Pengembangan Buku Panduan Renang Untuk Siswa Ekstrakurikuler Renang di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Roesdiyanto, M. Kes, Pembimbing (2) Dra. Sulistyorini, M.Pd.   Kata kunci : pengembangan, buku panduan, ektrakurikuler renang. Renang adalah suatu olahraga yang dilakukan di air, yang dilakukan dengan cara menggerakan anggota badan, mengapung di air, dan seluruh anggota badan bergerak dengan bebas. SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang adalah SMA yang terdapat di Kota Malang, tidak menutup kemungkinan mata pelajaran renang serta ekstrakurikuler renang akan diberikan oleh sekolah, dengan adanya pemberian materi dan praktik renang diharapkan siswa menguasai tehnik dasar dalam berenang dan mampu mengembangkan bakat serta minat dalam bidang renang. Untuk melengkapi komponen dalam kegiatan ekstrakurikuler renang, sudah seharusnya memanfaatkan buku panduan yang mampu mendukung pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler secara efektif dan efesien.   Tujuan dari penelitian ini adalah menguji kelayakan pengembangan buku panduan renang yang akan digunakan untuk siswa ekstrakurikuler renang di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Buku panduan latihan renang ini yang nantinya dapat membantu siswa untuk memperoleh informasi tentang renang dan mempercepat proses pemahaman dalam mempelajari dasar-dasar tehnik berenang. Selanjutnya buku panduan yang dikembangkan diharapkan juga dapat menjadi bahan bacaan yang menarik bagi siswa, sehingga dapat memotivasi siswa dalam belajar renang.   Desain pengembangan dalam penelitian ini menggunakan langkah-langkah pengembangan dari Borg and Gall. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini berupa angket kuesioner. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan  produk buku panduan yang dilakukan dalam penelitian ini hanya sampai pada uji kelompok kecil dan uji kelompok kecil dan uji lapangan. Hal ini karena keterbatasan waktu untuk melakukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut. Dalam penelitian dan pengembangan ini ditetapkan jika hasil evaluasi uji coba terbatas mencapai 60% maka buku panduan ini secara keseluruhan dinyatakan layak.   Berdasarkan hasil  uji coba (kelompok kecil) dan uji lapangan (kelompok besar), maka diperoleh bahwa produk pengembangan buku panduan renang untuk siswa ekstrakurikuler renang di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang tersebut telah memenuhi kriteria baik yaitu antara 80-100%, sehingga dapat digunakan.   Hasil penelitian dan pengembangan ini berupa buku panduan yang mengemas metode latihan renang 4 gaya yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam kegiatan ekstrakurikuler renang di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian selanjutnya yang menguji tentang tingkat efektivitas produk yang telah dikembangkan.   Dalam pengembangan yang lebih lanjut, peneliti memberi saran sebagai berikut: Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui tingkat efektivitas dari produk yang dikembangkan ini, karena hasil dari pengembangan ini masih terbatas sampai tersusun sebuah produk saja

    Ketertarikan Interpersonal Lawan Jenis Lansia di Panti Werdha Pangesti Lawang

    No full text
    ABSTRAK   Maharini, Lintang Dwi. 2013. Ketertarikan Interpersonal Lawan Jenis Lansia di Panti Werdha Pangesti Lawang. Skripsi. Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Diyah Sulistiyorini,S.Psi, M.Psi, (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi, M.Si.   Kata kunci : ketertarikan interpersonal, cinta, jenis cinta, lansia, aspek sosioemosional.   Lansia lekat sekali dengan banyaknya penurunan fungsi fisik dan sosioemosional serta kehilangan yang mewarnai kehidupannya. Lansia yang telah hidup sendiri di Panti membuat mereka kembali bertemu dengan rekan sebaya yang mampu untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya akan cinta. Mereka yang secara psikologis merasa sepi dengan kesendirian tanpa anak maupun cucu pasti membutuhkan kenyamanan dan perhatian sebagaimana ketika mereka tinggal di rumahnya. Oleh karena itu maka mereka membentuk relasi baru dengan lawan jenis yang tinggal di Panti untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya akan cinta. Fokus penelitian ini adalah bagaimana dinamika ketertarikan interpersonal lansia kepada lawan jenis, mengapa lansia memiliki ketertarikan interpersonal, apa indikator ketertarikan interpersonal lansia, bagaimana jenis cinta lansia. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif fenomenologis. Dengan penelitian fenomenologis, maka pengambilan data dilakukan secara mendalam. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Pengecekkan keabsahan data berjenis interpretif yakni dengan menanyakan kembali hasil dari kesimpulan peneliti kepada subjek penelitian. Kegiatan analisis data dimulai dari pengumpulan data, tahap reduksi data dan kategorisasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh temuan penelitian bahwa ketiga pasangan subjek penelitian menunjukkan adanya ketertarikan interpersonal lawan jenis yang memenuhi syarat berdasarkan faktor penyebab ketertarikan interpersonal. Jenis cintanya yakni dua pasangan lansia menunjukkan Companionate Love karena memang tampak komponen keintiman dan komitmen, sedangkan satu pasangan lansia menunjukkan Empty Love karena memang hanya menunjukkan komponen komitmen yang lebih mendominasi daripada keintiman dan gairah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah proses ketertarikan interpersonal dimulai dari adanya faktor kedekatan fisik, keadaan afeksi, motivasi afiliasi, dan karakteristik yang dapat diamati. Kemudian jika menemukan banyak kesamaan barulah masing-masing pasangan dapat mengekspresikan rasa sukanya. Keberadaan stimulus sama yang berulang dapat menimbulkan afek positif. Dengan afek yang positif dapat menimbulkan ketertarikan interpersonal yang dimulai dari pertemanan, menjadi lebih akrab dan akhirnya timbullah cinta. Diharapkan untuk penelitian selanjutnya untuk mengambil subjek penelitian yang lebih banyak dan tidak hanya terbatas pada ruang lingkup Panti saja.

    Hubungan Komitmen Organisasi dan Niat Berpindah Pekerjaan (Turnover Intention) pada Karyawan Hotel di Kota Malang

    No full text
    ABSTRAK   Permata, Ayu Eristya. 2013. Hubungan Komitmen Organisasi dan Niat Berpindah Pekerjaan (Turnover Intention) pada Karyawan Hotel di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing  : (1) Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed., (II) Indah Yasminum Suhanti, S.Psi., M.Psi.   Kata Kunci: komitmen organisasi, niat berpidah pekerjaan.   Sumber daya manusia merupakan unsur utama dalam dunia industri dan organisasi yang akan memiliki peranan penting dalam organisasi. Simamora (dalam Witasari, 2009) menjelaskan bahwa SDM dapat mempengaruhi efisiensi dan efektivitas organisasi. SDM dapat dijadikan sebagai fokus utama dalam pengembangan perusahaan, karena terkadang persoalan-persoalan dalam perusahaan muncul berkaitan dengan SDM itu sendiri. Persoalan yang seringkali terjadi adalah keinginan untuk berpindah meninggalkan pekerjaannya. Menurut Mobley (1986) keinginan untuk pindah atau beganti pekerjaan (turnover intention) merupakan sinyal awal terjadinya berganti pekerjaan pada karyawan di dalam organisasi. Turnover tersebut banyak terjadi disebabkan kurangnya komitmen pada diri karyawan terhadap organisasi. Blau and Boal (dalam Robbins, 2012) menjelaskan bahwa komitmen organisasi merupakan suatu keadaan di mana seorang karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan korelasional yang bertujuan untuk mengetahui komitmen organisasi dan niat berpindah pekerjaan pada karyawan hotel di kota Malang dan hubungan antara komitmen organisasi dan niat berpindah pekerjaan pada 40 sampel penelitian yang ditentukan dengan teknik purposif sampling. Alat pengumpulan data menggunakan skala Komitmen Organisasi dan skala Niat Berpindah Pekerjaan. Teknik analisis penelitian menggunakan analisis deskriptif yang menghasilkan rata-rata karyawan hotel di kota Malang memiliki komitmen organisasi pada kategori tinggi, sedangkan untuk niat berpindah pekerjaan pada kategori tinggi pula. Untuk teknik korelasi menggunakan rumus Product Moment dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antar komitmen organisasi dan niat berpindah pekerjaan pada karyawan hotel di kota Malang (rxy = -0,676 dan p = 0,000 < 0,05), artinya semakin tinggi komitmen organisasi karyawan maka semakin rendah niat berpindah pekerjaan yang dimiliki. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan kepada: (1) perusahaan: sebaiknya lebih memperhatikan karier karyawannya dan melibatkan seluruh karyawan dalam usaha mencapai tujuan perusahaan, dan (2) penelitian selanjutnya: memperdalam aspek komitmen organisasi sebagi faktor yang mempengaruhi keputusan seorang karyawan melakukan tindakan berpindah pekerjaan.

    Hubungan Antara Kematangan Emosi dan Konsep Diri dengan Penyesuaian Diri Mahasiswi yang Menikah Dini di Universitas Negeri Malang

    No full text
    ABSTRAK   Ardyanto, Michel. 2013. Hubungan Antara Kematangan Emosi dan Konsep Diri dengan Penyesuaian Diri Mahasiswi yang Menikah Dini di Universitas Negeri Malang. Skripsi. Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi. Pembimbing (1) Anies Syafitri, S.Psi., M.Psi. (2) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi.   Kata Kunci: kematangan emosi, konsep diri, penyesuaian diri, dan mahasiswi yang menikah dini   Fenomena pernikahan dini semakin marak terjadi dan umumnya pada usia 15-20 tahun. Mahasiswi yang masih aktif kuliah juga tidak segan untuk melakukan pernikahan dini.Hal ini merupakan hal yang sangat sulit karena mahasiswi harus menjalankan peran ganda, yakni sebagai mahasiswi sekaligus menjadi seorang istri.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kematangan emosi, konsep diri, dan penyesuaian diri mahasiswi yang menikah dini dan hubungan diantara ketiga variabel tersebut. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif deskripsi korelasi dengan subjek mahasiswi Universitas Negeri Malang yang melakukan pernikahan dini.Penelitian menggunakan Skala Kematangan Emosi, Skala Konsep Diri, dan Skala Penyesuaian Diri.Data dianalisis secara deskripsi, menggunakan uji korelasi dan uji regresi.Hasil analisis deksripsi sebagaian besar subjek mempunyai kematangan emosi, konsep diri, dan penyesuaian diri yang baik. Hasil dari uji regresi antara kematangan emosi dan konsep diri dengan penyesuaian diri R=0,735 signifikansi 0,000 disimpulkan Ha diterima artinya ada hubungan positif antara kematangan emosi dan konsep diri dengan penyesuaian diri mahasiswi yang menikah dini di Universitas Negeri Malang. Dengan daya prediksi 50,7%. Saran kepada mahasiswi yang menikah dini agar tetap menjaga kestabilan emosi dan konsep diri agar bisa menyesuaikan diri dan menjalankan peran ganda dengan baik dan kepada dosen agar lebih memantau mahasiswi yang menikah dini agar mereka bisa tetap fokus dengan kuliah dan lulus dengan hasil yang memuaskan.

    EFEKTIVITAS PERMAINAN SMART SNAKE-LADDER SEBAGAI STIMULASI ASPEK PERILAKU MORAL ANAK DI TAMAN BELAJAR PAUD AREMA

    No full text
    ABSTRAK   Kusumawardani, Diah Rahmi. 2013. Efektivitas Permainan Smart Snake-Ladder sebagai Stimulasi Aspek Perilaku Moral Anak di Taman Belajar PAUD Arema. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Diyah Sulistiyorini, S.Psi., M.Psi, (II) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi.   Kata kunci: permainan Smart Snake-Ladder, aspek perilaku moral   Perkembangan moral pada masa awal kanak-kanak masih dalam tingkat yang rendah. Hal ini disebabkan karena perkembangan intelektual anak-anak belum mencapai titik di mana ia dapat mempelajari atau menerapkan prinsip-prinsip abstrak tentang benar atau salah. Anak-anak hanya belajar bagaimana bertindak tanpa mengetahui mengapa. Peran orang tua berpengaruh bagi perkembangan moral anak. Peran orang tua ini bisa dilihat dari pola asuh orang tua dalam mendidik anak. Pola asuh yang berbeda-beda bisa menyebabkan perilaku dan trait kepribadian yang berbeda-beda pula pada anak. Bermain dapat membantu mengarahkan perkembangan kognitif anak, perkembangan bahasa anak, perkembangan psikomotorik, dan perkembangan fisik. Pengalaman bermain akan mendorong anak untuk lebih kreatif. Mulai dari perkembangan emosi, kemudian mengarah ke kreativitas bersosialisasi. Permainan Smart Snake-Ladder merupakan permainan yang dikembangkan untuk menstimulasi perkembangan aspek moral untuk anak pada periode awal kanak-kanak. Permainan ini diadaptasi dari permainan “Ular Tangga”, tetapi yang menjadi bidaknya adalah para anak-anak itu sendiri. Tata cara permainannya sama seperti permainan ular tangga pada umumnya. Hanya saja para anak nanti diberi pertanyaan sesuai angka di mana ia berdiri ketika berjalan sesuai dengan angka yang ditunjukkan dadu. Desain ekperimen penelitian ini adalah one-group pretest-posttest design, yakni dengan menggunakan satu kelompok sampel yang diberi perlakuan namun tanpa kelompok pembanding atau kelompok kontrol. Kelompok sampel yang digunakan adalah anak yang memiliki tingkat perilaku moral rendah, dimana dilakukan pengukuran sebelum dan sesudah pemberian perlakuan pada subjek. Alat ukur dalam penelitian ini adalah Skala Perilaku Moral. Skala ini memiliki 26 aitem valid yang digunakan sebagai pretest dan posttest. Subjek dalam penelitian ini adalah 14 anak Taman Belajar PAUD Arema yang sebelumnya telah di-screening oleh peneliti, yakni yang paling rajin hadir sekolah. Hasil analisis statistik terhadap data yang diperoleh menunjukkan bahwa  secara statistik Smart Snake-Ladder efektif untuk menstimulasi aspek perilaku moral dengan taraf signifikansi 0.000. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keefektifan permainan Smart Snake-Ladder untuk menstimulasi aspek perkembangan perilaku moral, yaitu pemberian reinforcement, konsistensi pemberian penguatan, pengulangan pertanyaan, dan hukuman penghilangan (removal punishment). Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk mengembangkan Smart Snake-Ladder dapat digunakan untuk menstimulasi aspek perkembangan lainnya selain moral, yaitu kognitif, bahasa, maupun psikomotorik

    Hubungan Antara Intensitas Komunikasi Dan Prasangka Politik Dengan Hubungan Sosial Pada Anggota Partai di Kota Batu

    No full text
    ABSTRAK   Abianto, Asep. 2013. Hubungan Antara Intensitas Komunikasi dan Prasangka Politik Dengan Hubungan Sosial Pada Anggota Partai Di Kota Batu. Skripsi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pem-bimbing: (I) Anies Syafitri, S.Psi.,M.Psi. (II) Ninik Setyowati, S.Psi., M.Psi.   Kata kunci: intensitas komunikasi, prasangka politik, hubungan social   Anggota Partai sebagai aktor politik dalam tingkat yang paling dasar (grass root) sangat rentan terhadap konflik vertikal maupun horisontal. Konflik yang paling nyata yaitu biasa terjadi ketika PEMILU di daerah maupun tingkat nasional, persaingan dalam memperoleh atau mempertahankan kekuasaan yang mempengaruhi hubungan sosial mereka, bisa jadi disebabkan karena komunikasi yang salah hingga prasangka yang tumbuh diantara mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan anta-ra intensitas komunikasi dan prasangka politik dengan hubungan sosial pada ang-gota partai politik, Rancangan dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif korelasional. Subyek penelitian berjumlah 33 orang anggota Partai PDI-Perjuangan Kota Batu, teknik pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala intensitas komunikasi, skala prasangka politik, dan skala hubungan sosial. Skala-skala tersebut menggunakan model method of summated rating atau model Likert. Data hasil pengukuran dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi product moment dan analisis regresi linear berganda Berdasarkan hasil analisis data pada variabel intensitas komunikasi dan hubungan sosial, dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment, di-peroleh r hitung sebesar 0,449 dengan signifikansi 0,009 (sig0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan anta-ra prasangka politik dan hubungan sosial. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda, diketahui nilai F=3,824 (p=0,033 < 0,05), hal ini berarti bahwa inten-sitas komunikasi dan prasangka politik secara simultan berhubungan dengan hub-ungan sosial. Disarankan untuk: (1) Bagi anggota partai, disarankan agar mempertahankan intensitas komunikasi, yang meliputi aspek-aspek, saling jujur, terbuka, saling mendukung, bersikap positif dan empati, disarankan pula untuk selalu menghindari prasangka, serta disarankan untuk meningkatkan hubungan sosial di masyarakat. (2) Bagi masyarakat, agar mempererat hubungan sosial dengan berkomunikasi secara mendalam serta berpikir positif untuk menghilangkan prasangka. (3) Bagi Peneliti Selanjutnya, agar peneliti mencoba variabel-variabel lain yang dapat menjelaskan tentang hubungan sosial, serta mengkaji ulang mengenai variabel intensitas komunikasi dan prasangka politik, peneliti juga disarankan merubah atau menambah subyek penelitian

    0

    full texts

    783

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇