Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
783 research outputs found
Sort by
Perbedaan Loyalitas Merek Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Aqua pada Konsumen Kelas Ekonomi Atas dan Kelas Ekonomi Bawah di Kota Malang
ABSTRAK Putranti, Hastantri Dwi. 2013. Perbedaan Loyalitas Merek Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Aqua pada Konsumen Kelas Ekonomi Atas dan Kelas Ekonomi Bawah di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Fattah Hanurawan, M.Si.,M.Ed., (II) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi. Kata Kunci: loyalitas merek, konsumen kelas ekonomi atas, konsumen kelas ekonomi bawah. Pada kondisi persaingan global, loyalitas merek pada suatu produk sangat dibutuhkan agar perusahaan dapat bertahan. Upaya mempertahankan loyalitas merek merupakan strategi yang lebih efektif dibandingkan dengan upaya menarik pelanggan baru. Persoalan merek menjadi salah satu persoalan yang harus dipantau secara terus-menerus oleh setiap perusahaan. Merek-merek yang kuat, teruji, dan bernilai tinggi terbukti tidak hanya sukses mengalahkan rasional tetapi juga canggih mengalahkan sisi-sisi emosional konsumen. Loyalitas merek adalah sejauh mana seseorang konsumen menunjukkan sikap positif, mempunyai komitmen, dan berniat untuk terus membeli merek produk di masa depan. Karena pentingnya peran konsumen, perlu diperhatikan juga bahwa secara umum terdapat konsumen ekonomi atas dan konsumen ekonomi bawah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan komparatif dengan sampel berjumlah 30 orang konsumen kelas ekonomi atas, dan 30 orang konsumen kelas ekonomi bawah yang ditentukan dengan teknik purposif sampling. Alat pengumpul data dalam penelitian ini dengan menggunakan Skala Loyalitas Merek dan dengan teknik analisis Independent Sample t-test. Hasil analisis deskriptif menunjukkan konsumen ekonomi bawah memiliki loyalitas merek tinggi, di mana terdapat 83,3% subjek yang berada di klasifikasi tinggi dan konsumen ekonomi atas memiliki loyalitas merek rendah, di mana terdapat 70 % subjek yang berada di klasifikasi rendah. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara loyalitas merek AMDK Aqua pada konsumen ekonomi atas dan ekonomi bawah (0.000 < 0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan kepada: (1) konsumen, memilih suatu merek produk dengan cermat, (2) perusahaan, mempunyai strategi marketing yang berbeda pada setiap kelas ekonomi dan mendekatkan merek produk pada konsumen, (3) penelitian selanjutnya, memperdalam aspek loyalitas merek dan memperluas subjek penelitian.
BELIEF PEMBENTUK KEPEMIMPINAN PARA PEMIMPIN ORGANISASI MAHASISWA DI UNIVERSITAS NEGERI MALANG
ABSTRAK Suwitaningrum, Dyah Ayu. 2013. Belief Pembentuk Kepemimpinan Para Pemimpin Organisasi Mahasiswa di Universitas Negeri Malang (UM). Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Sri Weni Utami, M. Si; (II) Ninik Setiyowati, S. Psi, M. Psi Kata Kunci: belief, kepemimpinan, pemimpin ormawa Persaingan dalam mendapatkan jabatan seringkali menuai konflik. Bahkan menjadi pemimpin dikalangan mahasiswa pun tak luput dengan konflik. Seperti fenomena yang terjadi di UM, yaitu persaingan mendapatkan jabatan BEM UM. dalam pemilu raya terdapat kecurangan yang dilakukan oleh salah satu calon, karena kecurangan tersebut mediasi dilakukan sampai 29 jam, namun mediasi tersebut berujung walk out dua calon karena tidak setuju dengan hasil mediasi. Setiap calon pemimpin tersebut memiliki kelompok sendiri, dan adanya pengaruh kelompok berdampak pada belief dan perilaku seseorang seperti kasus diatas. Dari fenomena tersebut, peneliti memiliki tujuan untuk mengetahui belief yang dimiliki para pemimpin tentang kepemimpinan, dan belief pembentuk kepemimpinan, sehingga mereka merasa percaya diri mampu untuk menjadi pemimpin. Dari belief yang dimiliki membentuk pola perilaku seseorang. Belief kepemimpinan yang membawa pola perilaku kepemimpinan para pemimpin. Peneliti menghubungkan belief yang dimiliki dengan sepuluh hukum pemimpin sukses yang diberikan oleh Newmann (dalam Setiyowati, 2008). Pendekatan penelitian yang digunakan adalah studi kasus, menggunakan prosedur pengumpulan data wawancara semi terstruktur dan analisis metaphor. Sumber data dalam penelitian ini adalah pemimpin BEM Fakultas di UM, yaitu BEM FT, BEM FIP, BEM FIK, BEM FE, BEM FPPsi, BEM FS. Selain itu, peneliti juga menggunakan significant others sebagai pengecekan keabsahan temuan, yaitu pengurus bem. Dalam penelitian ini, kehadiran peneliti diketahui informan sepenuhnya sebagai peneliti. Setelah data terkumpul dilakukan analisis data menggunakan teknik analisi tematik. yang sebelumnya telah dilakukan koding. Hasil penelitian menunjukkan empat dari enam subjek memiliki dua pembentuk belief kepemimpinan (pemimpin BEM FIP, FS: descriptive dan informational belief. Pemimpin BEM FIK, FE: descriptive dan inferential belief), dari belief tersebut subjek mampu menerapkan tujuh hukum dari sepuluh hukum pemimpin sukses. Satu subjek hanya memiliki satu pembentuk belief, yaitu descriptive belief. Dari belief yang dimiliki, subjek hanya menerapkan tiga dari sepuluh hukum pemimpin sukses. Selain itu, terdapat satu subjek yang memiliki dua pembentuk belief kepemimpinan, namun subjek hanya menerapkan empat dari sepuluh hukum pemimpin sukses, ini dikarenakan subjek termasuk pemimpin organisasi yang baru dibentuk. Peneliti menyarankan memakai subjek penelitian pemimpin sebuah organisasi yang lebih tinggi, seperti pemimpin sebuah perusahaan. Sehingga bisa menemukan dinamika belief yang lebih bervariasi dan memiliki pembentuk belief yang lengkap.
Hubungan Kemandirian Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 6 Malang.
ABSTRAK Putri, Ratih Hardianti. 2013. Hubungan Kemandirian Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 6 Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Fattah Hidayat, S.Psi., M.Si., (2) Ika Andrini Farida, S.Psi., M.Psi. Kata Kunci: Kemandirian Belajar, Prestasi Belajar Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah kemandirian belajar, contohnya seperti guru harus meremidi siswa ketika nilai ujian siswanya kurang dari kriteria ketuntasan yang ada. Siswa tidak mempunyai jadwal untuk belajar setiap hari di rumahnya, dengan kata lain siswa belajar hanya terpaku pada jadwal sekolah saja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran serta hubungan prestasi belajar dan kemandirian belajar siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang. Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang, sampel sebanyak 159 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Pengumpulan data dengan metode skala dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis Korelasi Product Moment untuk menganalisa hubungan antara kemandirian belajar dengan prestasi belajar. Hasil penelitian menunjukkan 110 siswa (69%) memiliki tingkat kemandirian belajar tinggi, 42 siswa (27%) sedang, dan 7 siswa (4%) sangat tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa kelas X di SMA Negeri 6 Malang telah memiliki kemandirian belajar yang tinggi. Hal ini berarti ada hubungan yang signifikan antara kemandirian belajar dengan prestasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang dengan perolehan nilai koefisien korelasi antara X dan Y sebesar 0,357 dengan probabilitas , yaitu 0,000 < 0.05. Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan kemandirian belajarnya sehingga prestasi belajarnya juga akan meningkat yaitu: (1) Siswa diharapkan bisa menumbuhkan 3 aspek penting pada dirinya hal dalam kemandirian belajar yaitu self observation, self judgment, dan self reaction yang bertujuan agar prestasi belajarnya bisa menjadi lebih baik lagi. (2) orang tua harus lebih mendorong kemandirian belajar anaknya dengan memperhatikan prestasi belajar anaknya, selalu bertanya kepada anaknya setiap sepulang sekolah ada tugas atau ujian apa, dan lebih terbuka dengan anaknya. (3) peneliti selanjutnya diharapkan untuk melengkapi hasil penelitian yang ini perlu diadakan penelitian kembali dengan sampel yang lebih luas lagi dan pengukuran lebih akurat atau reliabel.
EFEKTIFITAS KAMUS GAMAL SEBAGAI PENINGKAT DAYA INGAT DALAM MEMPELAJARI BAHASA MALANGAN PADA MAHASISWA LUAR SUKU JAWA DI MALANG
ABSTRAK Azminah, Badi’atul. 2013. Evektifitas Kamus Gamal sebagai Peningkat daya Ingat Dalam Mempelajari Bahasa Malangan Pada Mahasiswa Luar Suku Jawa di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Diyah Sulistiyorini, S.Psi., M.Psi. (II) Drs. Moh. Bisri, M. Si. Kata kunci: Kamus Gamal, Daya Ingat, Bahasa Malangan Saat ini banyak mahasiswa dari luar suku Jawa yang belajar di Malang. Tentunya mahasiswa tersebut tidak langsung memahami bahasa di tempat baru mereka, sehingga mereka harus mempelajari bahasa setempat untuk mempermudah komunikasi.Bahasa merupakan aspekpenting bagi manusia untuk berkomunikasi agar saling memahami satu sama lain. Namun, bahasa yang ada sangatlah beragam, tergantung pada daerah, suku bangsa, dll. Bahasa daerah merupakan lambang identitas suatu daerah, sehingga ketika seseorang berada di daerah lain diharapkan mampu menguasai bahasa yang digunakan oleh lingkungan sekitarnya, sehingga meminimalisir kesalahpahaman dalam komunikasi. Untuk mempelajari bahasa kita dapat menggunakan sebuah kamus. Peneliti membuat kamus bahasa malangan dengan tujuan mengetahui efektifitas kamus gamal sebagai peningkat daya ingat dalam mempelajari bahasa malangan pada mahasiswa luar suku Jawa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen dengan menggunakan desain eksperimen pretest-posttestt control group design. Kelompok sampel yang digunakan adalah 13 mahasiswa dari luar suku jawa yang yang sedang menempuh masa perkuliahan, dengan batas maksimal smester 5 , dimana dilakukan pengukuran sebelum dan sesudah pemberian perlakuan pada subjek. Teka-teki dibuat berdasarkan bab yang ada pada kamus Gamal.. Kamus Gamal yang berisi 10 bab, harus dipelajari oleh kelompok eksperimen selama 5 hari sejak pemberian pretest. Setelah 5 hari, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diberi posttest di akhir penelitian dengan memberikan teka-teki silang yang sama untuk mengetahui peningkatan atau penurunan variabel terikat (daya ingat) setelah dilakukan penelitian. Hasil uji Mann Withney U pada kedua kelompok didapatkan nilai dengan signifikansi posttest sebesar 0,023. Maka dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari skor pada pretest dan posttest. Dari hasil diatas, didapatkan kesimpulan bahwa kamus gamal efektif dalam meningkatan daya ingat dalam mempelajari Bahasa Malangan. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti selanjutnya adalah ketika mempelajari bahasa daerah sebaiknya peneliti juga menambahkan stimulasi tambahan berupa suara, menjelaskan dialek, dan sleng (Bahasa Gaul) khas daerah, sehingga lebih menarik dan semakin mudah dipelajari.
PERBEDAAN KETERAMPILAN INTERPERSONAL PADA WANITA PEKERJA FORMAL DAN WANITA PEKERJA INFORMAL DI KOTA MALANG
ABSTRAK Sari, Galuh Dwinta. 2013. Perbedaan Keterampilan Interpersonal pada Wanita Pekerja Formal dan Wanita Pekerja Informal di Kota Malang. Skripsi. Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moh. Irtadji, M.Si (II) Diantini Ida Viatrie S.Psi, M.Psi. Kata kunci : keterampilan interpersonal, wanita, pekerja formal dan informal Wanita lebih unggul dalam berkomunikasi daripada pria karena wanita mampu memahami maksud dari setiap gerak tubuh.Wanita mampu menyadari apakah lawan bicaranya masih tertarik untuk mendengarkan atau tidak. Dalam dunia kerja, wanita menggunakan keterampilan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain. Wanita pekerja baik formal maupun informal dituntut untuk bisa melayani, berinteraksi dengan atasan ataupun bawahan, mempengaruhi dan menjalin hubungan yang baik dengan partner kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keterampilan interpersonal pada wanita pekerja formal dan wanita pekerja informal.Penelitian kuantitatif ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif komparatif. Subjek penelitian sebanyak 200 orang wanita, diambil dengan menggunakan area random sampling dari populasi sasaran dalam penelitian ini sebanyak 131.170 wanita yang bekerja di Kota Malang. Data keterampilan interpersonal diambil menggunakan skala dengan metode Likert.Reliabitas skala keterampilan interpersonal sebesar 0,885. Data hasil penelitian dideskripsikan dan dianalisis dengan teknik independet sample t-test Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Wanita pekerja formal di Kota Malang memiliki keterampilan interpersonal yang tinggi. (2) Wanita pekerja informal di Kota Malang memiliki keterampilan interpersonal yang tinggi. (3) Dari hasil keseluruhan penelitian, ditemukan hasil “ada perbedaan keterampilan interpersonal pada wanita pekerja formal dan wanita pekerja informal di Kota Malang, yaitu keterampilan interpersonal wanita pekerja formal lebih tinggi daripada keterampilan interpersonal wanita pekerja informal” Disarankan kepada : (1) Pemerintah lebih memperhatikan dan meningkatkan kesejahteraan perempuan dengan cara meningkatkan upah kerja dan mengontrol waktu kerja, baik pekerjaan di sektor formal maupun informal (2) Bagi Manager HRD agar dapat memberikan fasilitas yang dapat meningkatkan keterampilan interpersonal pada pekerja/karyawannya dengan mengadakan pelatihan atau seminar tentang keterampilan interpersonal (3) Bagi tenaga kerja wanita hendaknya mempertahankan dan mengembangkan keterampilan interpersonalnya dengan cara berinteraksi dengan berbagai macam kalangan dan status sosial yang berbeda, lebih membuka diri, percaya kepada orang lain, mengikuti kegiatan-kegiatan yang meningkatkan keterampilan interpersonalnya, bisa bekerja sama dengan orang dari berbagai macam kalangan, sehingga hubungan antara sesama pekerja terjalin lebih erat agar mendapatkan hasil yang maksimum dalam pekerjaannya.
Studi Kasus Pola Asuh Keluarga Tunawisma Yang Orang Tuanya Mengalami Broken Home
ABSTRAK Rima, Endang Dewi Galih Nur. 2013. Studi Kasus Pola Asuh Keluarga Tunawisma Yang Orang Tuanya Mengalami Broken Home, Skripsi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Hj. Sri Weni Utami, M. Si, (II) Indah Yasminum Suhanti, S. Psi, M. Psi. Kata Kunci: pola asuh, tunawisma Pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berhubungan dengan anaknya, sikap ini dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain dari cara orang tua memberikan peraturan kepada anak, cara memberikan hadiah dan hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritas dan cara orang tua memberikan perhatian atau tanggapan terhadap keinginan anak. Gelandangan adalah orang yang tidak memiliki tempat tinggal juga secara yuridis formal orang tersebut tidak memiliki domisili secara sah dan teratur. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pola asuh dalam keluarga tunawisma yang orang tuanya mengalami broken home. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Instrumen dalam pengumpulan data adalah peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini dimulai dari tahap persiapan, tahap pengerjaan, dan tahap pelaporan. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, tipe pola asuh pada subjek A dan subjek D adalah tipe pola asuh ambigu. Hal ini dikarenakan subjek A dan subjek D memang membiarkan anak melakukan apa yang anak inginkan dan memperhatikan kebutuhan anak, namun masih menerapkan adanya hukuman pada anak. Kedua, tipe pola asuh pada subjek B dan subjek C adalah tipe pola asuh permasif. Hal ini dikarenakan subjek B dan subjek C membiarkan anak melakukan apa yang anak inginkan dan masih memperhatikan kebutuhan anak. Ketiga, tipe pola asuh yang ada pada pola pengasuhan keempat subjek dipengaruhi oleh trauma masa lalu, yaitu keluarga yang broken home dan sering dipukul apabila melakukan kesalahan. Saran bagi subjek dalam penelitian adalah masa lalu tidak dijadikan sebagai patokan hidup. Dan bagi peneliti selanjutnya harap meneliti tentang kebiasaan gelandangan yang suka berganti-ganti pasangan, mengkonsumsi alkohol atau minuman keras dan obat-obatan dalam dosis yang berlebihan atau tidak sesuai dengan petunjuk penggunaan obat, serta melakukan hubungan seks bebas tanpa menggunakan pengaman atau memikirkan resiko yang akan dihadapi dari seks bebas itu sendiri.
Hubungan Antara Kematangan Emosi Dan Kontrol Diri Dengan Stres Kerja Pada Guru SLB Di Kota Malang
ABSTRAK Amiril, Feby Asrurun Risna. 2013. Hubungan Antara Kematangan Emosi Dan Kontrol Diri Dengan Stres Kerja Pada Guru SLB Di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Anies Syafitri, S.Psi, M.Psi, (II) Drs. M. Bisri, M.Si Kata kunci: kematangan emosi, kontrol diri, stres kerja Kematangan emosi dan kontrol diri yang dimiliki para guru tentu berbeda satu sama lain. Kematangan emosi dan kontrol diri yang berbeda ini akan berdampak pada stres kerja yang dirasakan oleh masing-masing guru. Guru yang memiliki emosi yang matang akan mampu mengontrol dirinya ketika menemui stimulus dan tekanan-tekanan yang muncul dalam pekerjaannya. Sehingga, tekanan tersebut dapat dikontrol agar tidak menimbulkan stres pada dirinya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran (1) kematangan emosi pada guru SLB, (2) kontrol diri pada guru SLB, (3) stres kerja pada guru SLB, (4) hubungan antara kematangan emosi dengan stres kerja pada guru SLB di Kota Malang, (5) hubungan antara kontrol diri dengan stres kerja pada guru SLB di Kota Malang, (6) hubungan antara kematangan emosi dan kontrol diri dengan stres kerja pada guru SLB di Kota Malang. Penelitian ini dilakukan pada guru Sekolah Luar Biasa di Kota Malang dengan jumlah sampel 40 orang, dengan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel kuota (quota sample). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala kematangan emosi dengan reliabilitas alpha cronbach 0,965 skala kontrol diri dengan reliabilitas alpha cronbach 0,926 dan skala stres kerja dengan reliabilitas alpha cronbach 0,946. Validitas instrumen menggunakan analisis product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat kematangan emosi berada pada kategori tinggi yaitu 13 orang (32,5%) (2) kontrol diri secara umum termasuk dalam kategori rendah yaitu 18 orang (45%) (3) guru SLB di Kota Malang mendapatkan stres kerja tingkat rendah yaitu 55% (4) ada hubungan yang negatif antara kematangan emosi dan stres kerja pada guru SLB (5) ada hubungan yang negatif antara kontrol diri dan stres kerja pada guru SLB (6) ada hubungan yang simultan antara kematangan emosi dan kontrol diri dengan stres dengan nilai R Square sebesar 0,517. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada (1) guru SLB untuk mempertahankan kematangan emosi yang dimilikinya dan meningkatkan kontrol diri yang tinggi agar terhindar dari kemungkinan stres kerja (2) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberikan pelatihan-pelatihan guna meningkatkan kontrol diri yang tinggi yang dimiliki para guru tersebut (3) peneliti selanjutnya untuk menambah jumlah subjek penelitian dan variabel lain untuk mengukur stres kerja.
Motivasi Mahasiswa Fakultas Pendidikan Psikologi Yang Mengikuti Ormawa Ditinjau Dari Memiliki Pengalaman Menjadi Pengurus Dan Tidak Memiliki Pengalaman Menjadi Pengurus OSIS di SMA
ABSTRAK Choirudin, Faris. 2013. Motivasi Mahasiswa Fakultas Pendidikan Psikologi Yang Mengikuti Ormawa Ditinjau Dari Memiliki Pengalaman Menjadi Pengurus Dan Tidak Memiliki Pengalaman Menjadi Pengurus OSIS di SMA. Skripsi, Jurusan Psikologi Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Fattah Hanurawan, M.Si, M.Ed (II) Drs. Moh. Bisri, M.Si. Kata kunci: motivasi, ormawa, pengalaman, OSIS. Motivasi adalah dorongan yang timbul dalam diri seseorang untuk menimbulkan sebuah perilaku atau tindakan untuk mencapai tujuan tertentu dan tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan dalam dirinya yang belum terpuaskan. Mengikuti ormawa adalah sebuah fenomena dalam Fakultas Pendidikan Psikologi yang masih baru berdiri. Umumnya, untuk dapat mengikuti organisasi mahasiswa tersebut tidak dituntut memiliki pengalaman khusus dibidangnya seperti pengalaman menjadi pengurus OSIS di SMA. Sebuah pengalaman yang pernah dialami seseorang di masa lalu tentu akan mempengaruhi setiap motivasi, tujuan, cita-cita, nilai hidup, kebutuhan, dan alasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 6 orang yang merupakan mahasiswa aktif di ormawa dengan memiliki pengalaman dan tidak memiliki pengalaman menjadi pengurus OSIS di SMA. Peneliti menggunakan metode pengambilan data wawancara, observasi. Analisis data menggunakan analisis isi (content analysis) dengan pendekatan intra dan inter subjek serta member check untuk mengecek keabsahan data. Temuan dalam penelitian ini, motivasi yang dimiliki oleh mahasiswa Fakultas Pendidikan Psikologi mengikuti ormawa dengan pengalaman menjadi pengurus OSIS di SMA memiliki motivasi harga diri, sedangkan mahasiswa Fakultas Pendidikan Psikologi mengikuti ormawa yang tidak memiliki pengalaman menjadi pengurus OSIS di SMA memiliki motivasi rasa aman. Motivasi mahasiswa Fakultas Pendidikan Psikologi yang mengikuti ormawa ditinjau dari memiliki pengalaman menjadi pengurus dan tidak memiliki pengalaman menjadi pengurus OSIS di SMA memiliki motivasi yang berbeda. Pengalaman hidup yang di alami oleh mahasiswa selain pengalaman menjadi pengurus OSIS di SMA memiliki pengaruh terhadap motivasi yang dimiliki oleh mahasiswa dalam mengikuti ormawa. Adapun saran yang dapat diajukan terkait dengan temuan dalam penelitian ini adalah untuk mahasiswa Fakultas Pendidikan Psikologi yang ingin mengikuti ormawa hendaknya menyesuaikan motivasi yang dimiliki dengan keadaan ormawa. Untuk Pembina ormawa diharapkan melakukan perencanaan sumber daya manusia kembali terutama dalam sistem perekrutan anggota. Untuk peneliti lain yang ingin melakukan penelitian serupa diharapkan untuk mengkaji motivasi yang dimiliki juga ditinjau dari jenis kelamin mahasiswa. Penelitian dilakukan dalam konteks penelitian yang berbeda misalkan dalam dunia politik.
PENCAPAIAN IDENTITAS DIRI PADA REMAJA: Studi Kasus pada Remaja dengan Orang Tua Tunggal
ABSTRAK Irawati, Seviana. 2013. Pencapaian Identitas Diri pada Remaja: Studi Kasus pada Remaja dengan Orang Tua Tunggal. Skripsi, Jurusan psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moh. Irtadji, M. Si, (II) Ika Andrini Farida S. Psi, M. Psi Kata kunci: pencapaian identitas diri, remaja, orang tua tunggal Masa remaja merupakan masa rentan dalam perkembangan manusia. Pada masa ini, individu mulai berjuang untuk mendapatkan identitas diri, dengan melalui beberapa perubahan pada tugas perkembangannya. Perubahan tugas perkembangan tersebut dapat memunculkan kebingungan dalam diri remaja, sehingga remaja akan berkembang ke arah negatif. Peran keluarga tidak hanya dapat membantu remaja mengatasi perubahan yang terjadi, tetapi juga penting dalam pencapaian identitas diri pada remaja. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pencapaian identitas diri remaja dengan orang tua tunggal dan faktor-faktor apa yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sampel penelitian yang digunakan adalah tiga subjek remaja yang memiliki orang tua tunggal. Dua subjek memiliki orang tua tunggal karena meninggal dunia dan satu subjek memiliki orang tua tunggal karena perceraian. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah depth-interview dan observasi. Hasil penelitian menemukan bahwa remaja memiliki status identitas achievement untuk aspek pekerjaan dan peran jenis kelamin. Pada aspek peran sosial, dua subjek memiliki status identitas achievement dan satu subjek memiliki status identitas foreclosure. Pada aspek ideologi politik dan agama, remaja memiliki status identitas foreclosure. Faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian identitas diri subjek adalah pola asuh, model identifikasi, homogenitas lingkungan, perkembangan kognisi, sifat individu, pengalaman masa anak-anak, pengalaman kerja, interaksi sosial, dan kelompok teman sebaya. Saran yang dikemukakan pada penelitian ini yaitu bagi remaja agar mengembangkan diri pada berbagai aspek identitas agar dicapai identitas diri yang baik. Bagi orangtua tunggal, diharapkan memberikan perhatian dan pengawasan kepada anak-anak, agar membantu anak dalam mencapai status identitas yang baik. Selain itu, dikemukakan pula saran bagi peneliti selanjutnya yaitu untuk memperluas ranah penelitian agar tidak terbatas pada area universitas.
The Effectiveness of Smart Snake-Ladder Game as a Stimulation of Children’s Moral Attitude Aspect in Taman Belajar PAUD Arema
ABSTRACT Kusumawardani, Diah Rahmi. 2013. The Effectiveness of Smart Snake-Ladder Game as a Stimulation of Children’s Moral Attitude Aspect in Taman Belajar PAUD Arema. Minithesis, Department of Psychology, Faculty of Educational Psychology, State University of Malang. Advisor (I) Diyah Sulistiyorini, S.Psi., M.Psi, (II) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi. Keywords: Smart Snake-Ladder game, aspects of moral attitude Moral development in early childhood is still in a low level. This is due to the intellectual development of the children have not yet reached the point where they can learn or apply the abstract principles of right or wrong. Children only learn how to act without knowing the reason. The role of parents influence the moral development of children. The role of parents can be seen from parenting parents in educating children. Parenting can lead to different attitude and different personality traits also vary in children. Play can help guide children's cognitive development, child language development, psychomotor development, and physical development. Playing experience will encourage children to be more creative. Ranging from the development of emotions, then leads to creativity socializing. Smart Snake-Ladder game is a game that was developed to stimulate the moral aspects of child development in the early childhood period. The game is adapted from the game “Ular dan Tangga”, but which became the pieces are the children themselves. Ordinances game like snakes and ladders game in general. It's just that the child later given question according to the number where they stands when it runs according to the number shown on the dice. Experimental design of this research is a one-group pretest-posttest design, ie, using a sample of the treated group but without a comparison group or control group. Sample group used is the child who has a low level of moral attitude, which was measured before and after treatment on the subject. Measuring instrument in this research is Moral Attitude Scale. This scale has 26 valid item used as a pretest and posttest. Subjects in this research were 14 children Taman Belajar PAUD Arema which previously had to be screened by the researchers, the most diligent attend school. Statistical analysis of the data obtained shows that statistically Smart Snake-Ladder effective to stimulate aspects of moral attitude with a significance level of 0.000. Factors that may affect the effectiveness of the Smart Snake-Ladder game to stimulate the developmental aspects of moral attitude, namely providing reinforcement, consistency reinforcement, reiteration, and removal punishment. Suggested to the next researcher to develop Smart Snake-Ladder can be used to stimulate the development of other aspects in addition to moral, namely cognitive, language, and psychomotor