Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
    783 research outputs found

    Kecerdasan Adversitas Dan Tingkat Stres Sebagai Prediktor Prestasi Belajar Pada Siswa Kelas Akselerasi SMA Negeri Di Kota Malang

    No full text
    ABSTRAK   Kurniasari, Iis. 2013. Kecerdasan Adversitas Dan Tingkat Stres Sebagai Prediktor Prestasi Belajar Pada Siswa Kelas Akselerasi SMA Negeri Di Kota Malang. Skripsi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed., (II) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi   Kata kunci: kecerdasan adversitas, tingkat stres, prestasi belajar   Pada saat ini banyak siswa yang menjalani pendidikan di kelas akselerasi yang tidak mampu memahami dan menghadapi hambatan-hambatan yang mereka temui. Mereka cenderung terpuruk dan membiarkan hambatan-hambatan itu untuk tidak segera terselesaikan. Dalam kondisi demikian yang berlangsung secara terus-menerus membuat mereka mengalami suatu kondisi yang dinamakan dengan stres. Hal tersebut secara tidak langsung telah berdampak pada hasil prestasi belajar mereka pada saat menghadapi Ujian Akhir Semester, maka hal tersebut mendasari peneliti untuk mengadakan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kecerdasan adversitas dan tingkat stres sebagai prediktor prestasi belajar pada siswa kelas akselerasi SMA Negeri di Kota Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah 110 siswa kelas akselerasi yang bersekolah di beberapa SMA Negeri di Kota Malang, yaitu SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4, SMAN 5, dan SMAN 8, dengan sampel sebanyak 54 orang siswa kelas akselerasi yang diambil dengan menggunakan metode cluster random sampling. Kecerdasan adversitas dan tingkat stres siswa kelas akselerasi ini diambil dengan menggunakan metode kuesioner skala Likert. Sedangkan prestasi belajar diambil dengan menggunakan hasil dari Ujian Akhir Semester mereka. Hasil analisis validitas untuk skala kecerdasan adversitas menunjukkan bahwa terdapat 49 item yang valid dan 7 item yang tidak valid. Uji validitas untuk skala tingkat stres menunjukkan terdapat 82 item yang valid dan 14 item yang tidak valid. Sedangkan hasil analisis reliabilitas untuk skala kecerdasan adversitas sebesar 0,939 dan skala tingkat stres sebesar 0,966, sehingga instrumen ini dapat digunakan untuk melaksanakan penelitian. Data kecerdasan adversitas dan tingkat stres dianalisis dengan teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien regresi antara kecerdasan adversitas dan prestasi belajar sebesar 0,129 dengan p ˂ 0,05. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan adversitas memberikan hubungan yang positif terhadap prestasi belajar. Pada hubungan tingkat stres dan prestasi belajar koefisien regresi menunjukkan skor sebesar -0,060 dan p ˂ 0,05. Nilai tersebut berarti tingkat stres memberikan hubungan negatif terhadap prestasi  belajar. Sedangkan hubungan kecerdasan adversitas, tingkat stres, dan prestasi belajar mempunyai nilai R2 sebesar 0,527. Nilai tersebut menjelaskan bahwa ada hubungan antara kecerdasan adversitas dan tingkat stres terhadap prestasi belajar sebesar 52,7% pada diri siswa kelas akselerasi saat menghadapi Ujian Akhir Semester. Kesimpulan penelitian ini adalah adanya hubungan antara kecerdasan adversitas, tingkat stres, dan prestasi belajar saat menghadapi ujian akhir semester pada siswa kelas akselerasi SMA Negeri di Kota Malang. &nbsp

    PENGARUH KETIDAKAMANAN KERJA (JOB INSECURITY) TERHADAP KETERLIBATAN KERJA (JOB INVOLVEMENT) DAN KEINGINAN PINDAH KERJA (INTENSI TURNOVER) PADA KARYAWAN OUTSOURCING DI RS. WAVA HUSADA KEPANJEN

    No full text
    ABSTRAK   Exstrada, Arik . 2013. Pengaruh Ketidakamanan Kerja (Job Insecurity) terhadap Keterlibatan Kerja (Job Involvement) dan Keinginan Pindah Kerja (Intensi Turnover) pada Karyawan Outsourcing di RS. Wava Husada Kepanjen. Skripsi,  Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Tutut Chusniyah, M.Si., (II) Indah Yasminum Suhanti, S. Psi,M.Psi.   Kata kunci : ketidakamanan kerja, keterlibatan kerja, keinginan pindah kerja.   Ketidakamanan kerja merupakan persepsi pekerja tentang kontinuitas masa depan  pekerjaan yang meliputi persepsi terhadap kemungkinan kehilangan pekerjaan, rasa takut atau khawatir  kehilangan pekerjaan, dan kekhawatiran tentang promosi jabatan, kenaikan gaji, penurunan pangkat atau jabatan pada pekerjaan. Keterlibatan kerja merupakan tingkat sejauh mana seseorang terlibat dalam pekerjaannya dan secara aktif berpartisipasi di dalamnya. Selain itu keinginan pindah kerja merupakan tingkat seberapa besar karyawan berfikir dan berniat untuk pindah kerja atau keluar dan mencari alternatif pekerjaan lain. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif regresional. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 dari 36 karyawan outsourcing di RS.Wava Husada Kepanjen dengan teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala ketidakamanan kerja yang terdiri dari 18 aitem dengan reliabilitas sebesar 0,887, skala keterlibatan kerja terdiri dari 39 aitem dengan reliabilitas sebesar 0,935, dan skala keinginan pindah kerja sebanyak 31 aitem dengan reliabilitas sebesar 0,964. Data hasil penelitian ini dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis jalur. Hasil penelitian adalah bahwa (1) Tingkat ketidakamanan kerja yang dimiliki oleh karyawan outsourcing di RS. Wava Husada berada dalam kategori sedang sebesar 63%. 2). Tingkat keterlibatan kerja yang dimiliki oleh karyawan outsourcing berada dalam kategori sedang sebesar 60%. (3)  Tingkat keinginan pindah kerja yang dimiliki oleh karyawan outsourcing berada dalam kategori tinggi yaitu sebesar 50%. (4) Ketidakamanan kerja memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap keterlibatan kerja. (5) Ketidakamanan kerja tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keinginan pindah kerja. (6) Keterlibatan kerja memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap keinginan pindah kerja. (7) Ketidakamanan kerja dan keterlibatan kerja secara bersama-sama memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap keinginan pindah kerja. Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah:1) bagi karyawan: agar lebih meningkatkan lagi keterlibatan kerjanya. 2) bagi perusahaan : agar lebih terbuka dan menjaga hubungan baik  dengan karyawan. 3) Bagi peneliti selanjutnya: diharapkan dapat mengembangkannya dengan membedakan dan mengelompokkan berdasarkan jenis pekerjaan serta menambah jumlah subyek

    PERBEDAAN ANTARA KONSEP DIRI REMAJA YANG MEMILIKI ORANG TUA BEDA AGAMA DENGAN ORANG TUA YANG SEAGAMA DI KOTA MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Gerrits, Jenny Novitasari. 2013. Perbedaan Antara Konsep Diri Remaja yang Memiliki Orang tua Beda Agama dengan Orang tua yang Seagama di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Weni Utami, M.Si, (II) Drs. Mohammad Bisri, M.Si.   Kata kunci: konsep diri, remaja, orang tua beda agama   Remaja yang berasal dari keluarga dengan ayah dan ibu berbeda agama mengalami ketimpangan dalam menginternalisasikan nilai-nilai kehidupan dan nilai agama untuk membentuk sifat, karakter, dan konsep diri. Nilai-nilai agama sangat berperan ketika anak tengah memasuki masa pembentukan dan perkembangan kepribadian. Kegagalan dalam memahami dirinya, peran-perannya, dan makna hidup beragama yang dialami remaja akan menimbulkan kebingungan yang berdampak kurang baik bagi pembentukan konsep diri remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara konsep diri remaja yang memiliki orang tua beda agama dengan orang tua seagama. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif komparatif. Subjek penelitian sebanyak 80 remaja. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling kuota. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala konsep diri yang terdiri dari 45 aitem. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan teknik analisis independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan antara konsep diri remaja yang memiliki orang tua beda agama dengan orang tua yang seagama (p = 0,015 < 0,05). Konsep diri remaja yang memiliki orang tua beda agama lebih tinggi (65%) daripada konsep diri remaja yang memiliki orang tua seagama (42,5%). Dalam penelitian ini, remaja yang memiliki orang tua beda agama berhasil melewati situasi kebingungan, karena orang tua, keluarga, maupun lingkungan remaja mendukung remaja untuk dapat menjalani tugas perkembangan hidupnya dengan baik, sehingga konsep diri yang terbentuk cenderung positif. Sedangkan, remaja yang memiliki orang tua seagama, sekalipun tidak mengalami krisis pemilihan agama, namun ada krisis-krisis lain yang dialami. Pengambilan keputusan untuk mengatasi krisis tersebut perlu mendapat dukungan dari lingkungan remaja. Pilihan-pilihan yang kurang memadai, mendorong remaja untuk mengikuti pola yang sudah diakui, sehingga remaja kurang mempunyai perasaan identitas dan individualitas Disarankan kepada orang tua agar tetap menjaga komunikasi antar pribadi, menjaga kehidupan demokratis dan harmonis. Bagi remaja, agama apapun yang dipilih harus benar-benar diyakini dan hendaknya melibatkan diri dalam kegiatan keagamaan yang dapat mempekuat keimanan dan ketakwaan. Bagi pihak sekolah disarankan dapat membantu siswa untuk mengenali potensi-potensinya dan tetap menerapkan pola pendidikan yang adil dan tidak bias terhadap agama apapun yang dianut. Bagi calon pasangan suami istri beda agama hendaknya mempertimbangkan kembali ketika ingin memutuskan untuk menikah beda agama. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan metode observasi dan wawancara agar hasil yang didapat lebih mendalam dan sempurna, terkait dengan temuan yang menunjukkan bahwa remaja yang memiliki orang tua beda agama lebih tinggi konsep dirinya

    HUBUNGAN KUALITAS PERTUKARAN PEMIMPIN-ANGGOTA (LMX) DAN PERSEPSI KEADILAN PENILAIAN KINERJA PADA KARYAWAN DI PG KEBON AGUNG KABUPATEN MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Widiyati, Rahayu. 2013. Hubungan Kualitas Pertukaran Pemimpin-Anggota (LMX) dan Persepsi Keadilan Penilaian Kinerja pada Karyawan di PG Kebon Agung Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fattah Hanurawan, M. Si., M. Ed., (II) Pravissi Shanti, S. Psi., M.Psi.   Kata Kunci: kualitas pertukaran pemimpin-anggota, lmx, persepsi keadilan penilaian kinerja   Banyak peneliti sudah mengenal beberapa variabel yang berpengaruh terhadap penilaian kinerja. Namun masih sedikit peneliti yang menguji pengaruh konteks sosial dalam proses penilaian kinerja. Konteks sosial yang dimaksud dari penelitian ini adalah pertukaran pemimpin-anggota (LMX). Kualitas pertukaran pemimpin anggota dibagi menjadi 2, yaitu in group (kualitas tinggi) dan out group (kualitas rendah). Status in/out group akan berpengaruh pada bagaimana karyawan dinilai dan bagaimana mereka diperlakukan saat penilaian kinerja berlangsung. Dengan adanya perbedaan perlakuan pada status kualitas pertukaran pemimpin-anggota maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas pertukaran pemimpin-anggota (LMX) dan persepsi keadilan pada penilaian kinerja pada karyawan pelaksana di PG Kebon Agung Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Data penelitian berupa data primer dari skala yang dikembangkan oleh peneliti. Skala disebarkan kepada 35 sampel yang diambil dengan teknik purposive sampling. Dengan teknik ini, peneliti menentukan kriteria sampel penelitian yaitu, merupakan karyawan tetap, karyawan pelaksana yang dinilai kinerjanya dan berada pada bagian TUK dan pabrikasi. Setelah itu, peneliti menyebarkan dua skala yang masing-masing memiliki reliabilitas 0, 944 dan 0,967 kepada 35 karyawan pelaksana PG Kebon Agung Kabupaten Malang. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kualitas pertukaran pemimpin-anggota di PG Kebon Agung termasuk tinggi (65,58%). Kualitas tinggi bisa terjadi karena masa kerja yang sudah lama yaitu 10-25 tahun. Kelompok in group ini memiliki banyak keuntungan yaitu dapat bertukar informasi, berpengaruh dalam pengambilan keputusan, tugas-tugas, dukungan, dan perhatian dari atasan. Persepsi keadilan penilaian kinerja pada karyawan pelaksana PG Kebon Agung juga menunjukkan hasil yang cukup tinggi (80% sedang/ netral, 20% tinggi). Hal ini berarti karyawan telah merasakan keadilan dari segi prosedural, distributif, informasional dan interpersonal. Walaupun kedua variabel ini menujukkan hasil yang tinggi yang secara teori berhubungan, namun pada hasil di lapangan, tidak ada hubungan antara kedua variabel tersebut. Hal ini mungkin disebabkan oleh atasan yang bertindak netral saat penilaian kinerja, keterbatasan ruang gelak peneliti dalam memilih sampel, organizational citizenship behavior yang tinggi, dan bias budaya. Adapun saran peneliti untuk penelitian selanjutnya adalah penelitian dilakukan di perusahaan dengan penilaian kinerja 360º agar meminimalisir bias budaya dan mendapatkan dua sudut pandang. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat mengembangkannya dengan menambah jumlah subyek.

    Hubungan Penerapan Hukuman yang Tidak Efektif di Sekolah dengan Inferioritas Pada Siswa SD.

    No full text
    ABSTRAK   Siswa SD mengalami perubahan lingkungan anak rumah menjadi anaksekolahan. Adanya perubahan ini membuat siswa mengembangkan standarstandarbaru dalam menilai dirinya. Standar-standar baru didapat dari interaksisiswa dengan orang lain, terutama guru. Adanya hukuman yang diberikan olehguru saat proses belajar mengajar mengakibatkan adanya penilaian yang negatifsiswa terhadap dirinya. Hal ini yang membuat siswa mengalami perasaaninferioritas.   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penerapan hukumanyang tidak efektif di sekolah dengan inferioritas pada siswa SD. Rancanganpenelitian kuantitatif ini adalah deskriptif korelasional. Subjek penelitian inisebanyak 108 siswa SD, dengan rincian 12 siswa kelas 4, 12 siswa kelas 5, dan 12siswa kelas 6 di SDN Pujon Lor 1, SDN Pujon Lor 2, dan SDN Pujon Lor 3.Teknik pengambilan sampel adalah cluster random sampling. Instrumenpenelitian yang digunakan adalah angket penerapan hukuman tidak efektif disekolah dan skala inferioritas. Angket penerapan hukuman tidak efektif di sekolahterdiri dari 36 aitem dengan reliabilitas 0,854 dan skala inferioritas terdiri dari 35aitem dengan reliabilitas 0,874. Data hasil penelitian dianalisis denganmenggunakan teknik prosentase analisis deskriptif dan analisis korelasi productmoment pearson.   Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan hukuman yang tidakefektif di sekolah pada subjek penelitian sebagian besar dalam kategori sedangdengan persentase sebesar 78 % dan gambaran kondisi inferioritas pada subjekpenelitian sebagian besar dalam kategori sedang dengan persentase sebesar 71 %.Uji hipotesis menyimpulkan tidak terdapat hubungan antara penerapan hukumanyang tidak efektif di sekolah dengan pada siswa SD (rxy = 0,093; p = 0,340>0,05).   Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan: (1) Bagi Sekolah, hukumandi sekolah yang dilakukan oleh guru sebaiknya menggunakan hukuman yangefektif; (2) Bagi orang tua, diharapkan tidak menggunakan pola asuh gaya hidupdimanja dan pola asuh gaya hidup tertolak karena dapat menyebabkan perasaaninferioritas pada anak; (3) Bagi Peneliti Selanjutnya, diharapkan mengembangkanpenelitian dengan cara menambah populasi dan memasukkan faktor lain yangberhubungan dengan penerapan hukuman yang tidak efektif di sekolah daninferioritas pada siswa SD sebagai variabel

    Hubungan Persepsi Keadilan Kompensasi dengan Kepuasan kerja Pada Karyawan PT. Agus jaya Mojokerto

    No full text
    ABSTRAK   Ardini, Pradnya Dahniar. 2013. Hubungan Persepsi Keadilan Kompensasi dengan Kepuasan kerja Pada Karyawan PT. Agus jaya Mojokerto. Skripsi, Jurusan Psikologi, program studi S1 psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Anies Syafitri, S.Psi., M. Psikolog. (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi., M.Si.   Kata Kunci: Persepsi, Keadilan Kompensasi, Kepuasan Kerja   Saat ini banyak bermunculan bermacam perusahaan baru yang akan meningkatkan kompetisi dalam dunia bisnis. Perusahaan yang sudah lama berdiri harus mampu bersaing dengan perusahaan yang baru berdiri. Perusahaan memerlukan karyawan yang memiliki kepuasan kerja yang tinggi untuk dapat memenangkan persaingan usaha. Kepuasan kerja karyawan ini dipengaruhi oleh persepsi keadilan kompensasi, yaitu pandangan karyawan terhadap kompensasi yang diterimannya dari perusahaan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif deskriptif korelasional. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Subjek penelitian ini karyawan PT. Agus Jaya Mojokerto berjumlah 33 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala persepsi keadilan kompensasi dan skala kepuasan kerja. Teknik analisis data menggunakan teknik korelasi Product Moment untuk mengetahui hubungan antara dua variabel. Hasil analisis product moment diperoleh rxy = 0,632 dengan p = 0,000 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara persepsi keadilan kompensasi dengan kepuasan kerja. Semakin positif persepsi keadilan kompensasi maka kepuasan kerja semakin tinggi, begitu sebaliknya. Jadi kepuasan kerja bukan bergantung pada tinggi-rendahnya kompensasi, melainkan pada persepsi karyawan terhadapnya. Nilai koefisien determinasi sebesar 0,400 atau 40,0% menunjukkan bahwa variabel independen yang diuji mampu mempengaruhi variabel dependen sebesar 40,0% sedangkan sisanya 60,0% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diuji dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka disarankan untuk penelitian selanjutnya memasukkan variabel terikat lain dengan aspek yang mempengaruhi kepuasan kerja dan memperluas obyek penelitian agar tingkat objektivitas sampel lebih tinggi dan lebih akurat.

    PERBEDAAN MINAT MUSIK PUNK DITINJAU DARI KEPRIBADIAN OPTIMISTIK-PESIMISTIK PADA SISWA KELAS XI DI SMAK FRATERAN MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Andre, Allluicius 2012. Perbedaan Minat Musik Punk Ditinjau Dari Kepribadian Optimistik-Pesimistik. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Anies Syafitri, S. Psi. M.Psi. Psikologi  (II) Indah Yasminum Suhanti, S.Psi. M. Psi.   Kata Kunci: kepribadian optimistik-pesimistik, minat musik punk Penelitian ini berfokus pada salah satu jenis musik, yaitu musik punk. Keyakinan bahwa musik kesukaan dapat memberikan informasi psikologi secara akurat telah didukung oleh banyak penelitian-penelitian (Perkins, 2008). Dari berbagai macam tipe kepribadian yang ada, maka penulis memilih untuk mengkaji lebih lanjut tentang kepribadian optimistik-pesimistik. Penelitian lebih lanjut dilaksanakan di SMAK Frateran Malang.   Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini termasuk dalam penelitian komparatif. Dengan menggunakan populasi yang berjumlah 84 orang. jumlah sampel yang diambil sebanyak 70 orang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simple random sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis independent sample T-Test menggunakan program SPSS for windows seri 16.0   Hasil penelitiannya adalah: (1) Sebagian besar murid SMAK Frateran memiliki kepribadian pesimistik yaitu 43 orang, sedangkan hanya 27 orang yang memiliki kepribadian optimistik. (2) Dari 70 murid kelas XI SMAK Frateran, yang memiliki minat musik punk tinggi yaitu 51%, sedangkan yang memiliki minat musik punk rendah yaitu 49%. (3) Nilai probabilitas (Sig. 2-tailed) sebesar 0,613 dengan signifikansi 0,05 dengan demikian hasilnya maka hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan minat musik punk ditinjau dari kepribadian optimistik-pesimistik pada siswa kelas XI di SMAK Frateran Malang, ditolak.   Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa: (1) Hanya sebagian kecil, yaitu 39% siswa-siswi kelas XI SMAK Frateran berkepribadian optimis. Dari hasil analisa pada penelitian ini diketahui bahwa 51% memiliki minat musik punk yang tinggi, hanya 18 murid saja yang berkepribadian optimis. (2) Sebagian besar, yaitu 61% siswa-siswi kelas XI SMAK Frateran berkepribadian pesimis. Dari 36 peminat musik punk, sebanyak 50% yang berkepribadian pesimis. (3) Tidak terdapat perbedaan minat musik punk antara kepribadian optimistik dan pesimistik. Karena jumlah siswa yang memiliki minat musik punk yang tinggi memiliki kepribadian optimistik dan pesimistik dengan tingka presentase yang sama yaitu 50%.   Saran yang dapat peneliti berikan adalah (1) Bagi Siswa-siswi SMAK Frateran Malang, agar  para siswa mampu memilah-milah yang baik ataupun yang buruk dalam pergaulan, mengingat bahwa musik punk memiliki image negative di masyarakat. (2) Bagi peneliti selanjutnya agar meneliti hubungan antara kepribadian optimistik dan pesimistik dengan minat musik secara lebih mendalam, dengan cara menambah item serta mampu memperluas ruang lingkup tidak hanya di SMAK Frateran saja.

    Perbedaan Stres pada Remaja Berdasarkan Tipe Kepribadian Somatotip Sheldon

    No full text
    ABSTRAK   Polinggapo, Sri. Wahyuni. 2013. Perbedaan Stres pada Remaja Berdasarkan Tipe Kepribadian Somatotip Sheldon. Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Hj. Sri Weni Utami, M.Si, (2) Ika A. Farida, S.Psi, M.Psi   Kata kunci: Stres, Remaja, Tipe Kepribadian Somatotip Sheldon   Remaja merupakan masa dimana terjadi berbagai perubahan, baik fisik maupun psikologis. Sebagai seorang remaja yang masih rentan terhadap berbagai persoalan hidup, seringkali ketika menghadapi suatu masalah, hal tersebut menjadi sebuah tekanan yang berakhir dengan stres. Cara individu memberikan tanggapan terhadap stres berbeda-beda. Tanggapan tersebut tidak hanya ditentukan oleh faktor fisiologis saja, melainkan juga ditentukan oleh faktor psikologis, yaitu tipe kepribadian. Salah satu tipe kepribadian adalah tipe kepribadian somatotip, yaitu tipe kepribadian berdasarkan bentuk tubuh. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan stres antara remaja yang memiliki tipe kepribadian endomorf, tipe kepribadian mesomorf, dan tipe kepribadian ektomorf. Tipe kepribadian somatotip diukur dengan menggunakan metode pengukuran antropometri. Instrumen yang digunakan untuk mengukur stres yaitu Daily Stress Inventory (DSI) yang telah diadaptasi oleh tim Fakultas Psikologi UGM dengan validitas bergerak dari 0,355 sampai dengan 0,752 dan reliabilitas 0,966. Analisis data menggunakan teknik one way ANOVA untuk menguji perbedaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan stres antara remaja tipe kepribadian endomorf, remaja tipe kepribadian mesomorf, dan remaja tipe kepribadian ektomorf. Stres remaja tipe kepribadian endomorf lebih rendah dibandingkan remaja tipe kepribadian mesomorf dan ektomorf. Bagi remaja tipe endomorf, menghindari situasi atau kondisi yang menyebabkan stres tidak selamanya baik, terkadang manusia butuh itu untuk bisa berkembang menjadi manusia yang lebih baik. Bagi remaja tipe mesomorf, menyukai persaingan bukanlah hal yang buruk, namun ada baiknya bersaing dengan cara yang sehat. Dan bagi remaja tipe ektomorf, ada baiknya mencoba sedikit terbuka dan mulai menjalin hubungan baik dengan orang lain sebagai teman untuk saling berbagi keluh kesah dan bertukar pikira

    PENGARUH METODE BERMAIN PERAN TERHADAP PENINGKATAN PERILAKU PROSOSIAL ANAK TK A LAB. UM KOTA BLITAR

    No full text
    ABSTRAK &nbsp; Novitaningrum, Widhadirane Triardhila Kurniasari. 2013. Pengaruh Metode Bermain Peran Terhadap Peningkatan Perilaku Prososial Anak TK A Lab. UM kota Blitar. Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si., (II) Ika Andrini Farida, S.Psi., M.Psi. &nbsp; Kata kunci: perilaku prososial, bermain peran &nbsp; Berdasarkan fenomena yang terjadi saat ini, dengan banyaknya anak yang kurang peduli dengan teman, anaknya yang dipukul teman sekolahnya dan anak yang suka merebut barang yang dipegang temannya. Namun dengan banyaknya perilaku prososial yang kurang kepada anak yang tidak mau berbagi dengan teman dan suka merebut barang yang dipegang temannya. Bukan hal yang aneh ketika melihat balita suka merebut mainan milik teman. Karena mereka mengenal konsep kepemilikan, meskipun mempunyai mainan yang mirip atau bahkan sama, tapi mereka selalu ingin memiliki apa yang sedang dinikmati oleh orang lain. Penelitian ini merupakan penelitian experimental yang bertujuan untuk mengetahui apakah metode bermain peran dapat meningkatkan perilaku prososial anak. Rancangan penelitian ini adalah uji komparatif dengan one group pretest-postest design populasi penelitian ini adalah siswa TK yang memiliki perilaku prososial kurang di TK Lab UM kota Blitar sejumlah 17 subjek. Teknik analisis data untuk mengetahui peningkatan perilaku prososial yaitu dengan menggunakan nonparametrik dengan menggunakan uji wilcoxon. Hasil yang diperoleh yaitu: perilaku sebelum: 63,41 dan perilaku sesudah 67,52, yang ada peningkatan 3,14 % dengan Zhitung sebesar -2.460 dengan nilai signifikansi sebesar 0.014. dan dengan diketahui nilai Ztabel untuk = 0.05 adalah sebesar 1.960. dari sini dapat diketahui bahwa bahwa |Zhitung| sebesar 2.460 lebih besar daripada Ztabel sebesar 1.960, selain itu nilai signifikansi dari uji Wilcoxon sebesar 0.014 lebih kecil daripada (0.05) Sesuai hasil penelitian dapat disarankan: (1) Agar guru dan orang tua menggunakan metode bermain peran dengan panduan buku permain peran untuk meningkatkan perilaku prososial anak. (2) Peneliti selanjutnya disarankan untuk memperpanjang waktu pemberian kegiatan bermain peran. (3) Peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah cerita yang berkaitan dengan perilaku prososial. (4) Peneliti selanjutnya disarankan untuk lebih mengontrol variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi hasil penelitian, sehingga didapatkan hasil yang optimal dari penelitian. &nbsp

    Hubungan antara Pola Asuh Orang Tua Dan Tipe Kepribadian Dengan Perilaku Bullying Di Sekolah SMP

    No full text
    ABSTRAK   Yuniartiningtyas, Fitri. 2013. Hubungan antara Pola Asuh Orang Tua Dan Tipe Kepribadian Dengan Perilaku Bullying Di Sekolah SMP. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Anies Syafitri S.Psi.,M.Psi.,  (II) Diyah Sulistyorini Psi.,M.Psi.   Kata Kunci: pola asuh orang tua, tipe kepribadian, perilaku bullying di sekolah.   Perilaku bullying adalah segala perilaku agresi yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang mengandung tiga karakteristik yakni pelaku cenderung untuk menyakiti seseorang, seringkali target bullying adalah orang yang sama, pelaku memilih korban yang dianggapnya rentan. Perilaku bullying dipengaruhi oleh faktor pola asuh orang tua dan tipe kepribadian. Pola asuh orang tua adalah perlakuan orang tua terhadap anak dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan, memberi perlindungan, dan mendidik anak agar anak-anaknya dapat tumbuh menjadi individu-individu yang dewasa secara sosial. Kepribadian adalah apa yang menentukan individu untuk bertingkah laku sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat dan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya sesuai dengan situasi yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pola asuh orang tua siswa di sekolah, (2) mengetahui tipe kepribadian siswa di sekolah, (3) mengetahui perilaku bullying di sekolah, (4) mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku bullying di sekolah, (5) mengetahui hubungan antara tipe kepribadian siswa dan perilaku bullying di sekolah, dan (6) mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dan tipe kepribadian siswa terhadap perilaku bullying di sekolah. Jenis penelitian  kuantitatif ini adalah deskriptif  korelasional, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Subjek penelitian dalam penelitian ini berjumlah 87siswa kelas VIII. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket pola asuh orang tua, angket tipe kepribadian, dan skala perilaku bullying yang dikembangkan oleh peneliti. Teknik analisis data menggunakan teknik korelasi Product Moment untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dan teknik Regresi digunakan untuk mengetahui hubungan antara ketiga variabel. Hasil penelitian menunjukkan (1) pola asuh orang tua pada klasifikasi pola asuh permisif (69%), (2) tipe kepribadian berada pada klasifikasi tipe kepribadian sanguinis (39%), (3) perilaku bullying berada pada klasifikasi rendah (62%), (4) ada hubungan negatif pola asuh orang tua dan perilaku bullying, (5) ada  hubungan negatif antara tipe kepribadian dan perilaku bullying dan (6) ada hubungan antara pola asuh orang tua, tipe kepribadian, dan perilaku bullying. Disarankan (1) bagi siswa, disarankan untuk tetap mudah bergaul dengan teman maupun adik kelas, karena hal tesebut dapat menambah pergaulan. (2) bagi orang tua, orang tua sebaiknya menerapkan pola asuh permisif atau pola asuh demokratis (2) bagi sekolah, para guru tidak perlu menggunakan kekerasan dalam menegakkan peraturan di sekolah, (3) bagi peneliti selanjutnya untuk menambah jumlah sampel dan mencermati faktor-faktor lain yang mempunyai keterkaitan dengan perilaku bullying

    0

    full texts

    783

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇