Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
    783 research outputs found

    Pengaruh Metode Dongeng Interaktif untuk Meningkatkan Moral Judgement Pada Anak Usia 5-6 Tahun

    No full text
    ABSTRAK   Krisfida, Ribut. 2013. Pengaruh Metode Dongeng Interaktif Untuk Meningkatkan Moral Judgement Pada Anak Usia 5-6 Tahun. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Anies Syafitri, S.Psi, M.Psi, (II) Indah Suhanti, S.Psi, M.Psi.   Kata Kunci: dongeng interaktif, moral judgement, anak usia 5-6 tahun.   Pada masa ini anak-anak belum memiliki pandangan pertimbangan-pertimbangan tentang perbuatan benar dan salah. Anak-anak perlu dibimbing dan didampangi dalam mengembangkan konsep tentang pertimbangan moralnya. Dongeng sebagai media pembelajaran moral sangat sesuai dengan dunia anak yang bebas dan penuh imaginasi. Dongeng dapat menambah pengalaman anak untuk belajar moral dari cerita yang didongengkan. Berkaitan hal itu, maka diperlukan penelitian tentang dongeng interaktif untuk meningkatkan moral judgement tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh metode dongeng interaktif untuk meningkatkan moral judegment pada anak usia 5-6 tahun. Subjek penelitian ini adalah anak usia 5-6 tahun. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen. Rancangan penelitian ini menggunakan desain penelitian nonrandomized pretest-posttest control group design. Adapun instrumen dalam penelitian ini adalah berupa wawancara semi terstruktur dengan cerita dilema-dilema moral. Penelitian ini adalah penelitian nonparametrik dengan subjek penelitian yaitu 20 subjek. Analisis data dilakukan dua kali yaitu dengan analisis statistik deskriptif dan analisis uji hipotesa. Analisis uji hipotesa menggunakan formula wilcoxon signed rank test dan uji eta. Hasil uji wilcoxon signed rank test pada kelompok kontrol didapatkan nilai dengan signifikansi .088. Oleh karena itu signifikansi thitung  lebih dari 0,05 (sig >0,05), maka dapat diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari mean skor pretest dan posttest  pada kelompok kontrol. Sementara itu, hasil uji wilcoxon signed rank test pada kelompok eksperimen didapatkan nilai dengan signifikansi 0,028. Oleh karena itu signifikansi thitung  kurang dari 0,05 (si

    Hubungan Antara Intensitas Bermain Game Online Point Blank dan Perilaku Agresi Pada Gamer Remaja di Malang

    No full text
    ABSTRAK   Sujatmoko, Catur. 2013. Hubungan antara Intensitas Bermain Game Online Point Blank dan Perilaku Agresi Pada Gamer Remaja di Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fattah Hanurawan, M.Si, M.Ed, (II) Drs. Mohammad Bisri M.Si.   Kata Kunci : intensitas bermain game online point blank dan perilaku agresi, game online, intensitas, perilaku agresi, remaja.   Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas bermain game online Point Blank dan perilaku agresi pada gamer remaja di Malang. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian adalah dengan ciri: (1) Remaja berusia 13-18 tahun, (2) Bermain Game Online Point Blank, (3) Bermain Game Online lebih dari 1 jam dalam seminggu. Pengambilan Sampel Menggunakan teknik Insidental Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang gamer remaja. Alat pengumpulan data berupa kuesioner intensitas dan skala perilaku agresi  yang dikembangkan berdasarkan teori Buss. Teknik analisis menggunakan teknik korelasi product momentdan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan (1) intensitas bermain game online point blank pada remaja bertingkat tinggi dan rendah, (2) perilaku agresi remaja adalah sedang, (3) tidak ada hubungan signifikan antara Intensitas Bermain Game online Point Blank terhadap Perilaku Agresi pada remaja. Hal ini menunjukkan bahwa belum tentu semakin tinggi intensitas bermain game online Point Blank maka diikuti dengan tingginya perilaku agresi pada remaja. Berdasarkan hasil penelitian disarankan (1). Bagi remaja, sebaiknya para remaja memiliki kegiatan positif sehingga remaja tidak hanya menghabiskan waktunya bermain game online Point Blank. Selain itu remaja bisa mengarahkan minatnya pada hal lain yang positif untuk tidak terlibat dalam hal-hal negatif seperti tawuran maupun kasus kekerasan lainnya. (2). Bagi orang tua, hendaknya pada orang tua bisa mengawasi kegiatan anak-anak mereka saat bermain game online supaya tidak terlalu lama dan menyebabkan ketagihan pada anak khususnya remaja. Selain itu orang tua harus membatasi waktu anak ketika anak tersebut bermain game online dan memilah game online mana yang mungkin aman untuk dimainkan oleh anak sesuai dengan umurnya. (3). Bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar melakukan penelitian secara lebih mendalam karena penelitian ini hasilnya mewakili sebagian remaja yang bermain game online yang ditemui oleh peneliti maka dari itu diharapkan peneliti selanjutnya lebih memperbanyak populasi dan sampel serta dapat pula mengembangkan variabel-variabel lain yang mendukung penelitian yang berkaitan dengan intensitas bermain game online point Blank dan Perilaku Agresi. Untuk melakukan penelitian, sebaiknya dilakukan pada tempat di mana subyek biasa melakukan kegemarannya yang dalam hal ini adalah tempat bermain game online yang umum yaitu warnet. Dalam melakukan penelitian sebaiknya lebih menyatu dengan subyek. Setelah peneliti mengetahui tingginya intensitas bermain subyek dapat menindaklanjuti dengan pendekatan kualitatif agar dapat mendapatkan gambaran yang lebih mendalam tentang perilaku gamer. Misalnya sejarah gamer dalam bermain game online dan alasan bermainnya.

    PERBEDAAN ADVERSITY QUOTIENT ANTARA MAHASISWA PECINTA ALAM DENGAN MAHASISWA YANG TIDAK MENGIKUTI ORGANISASI DI UNIVERSITAS NEGERI MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Wicaksono, Brilian Tri. 2013. Perbedaan Adversity Quotient antara Mahasiswa Pecinta Alam dengan Mahasiswa yang Tidak Mengikuti Organisasi di Universitas Negeri Malang. Skripsi,  Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Tutut Chusniyah, M.Si (II) Ika, Ardini Farida, S.Psi, M.Psi.   Kata kunci : adversity quotient, mahasiswa pecinta alam   Adversity Quotient (AQ) adalah kemampuan seseorang dalam menghadapi kesulitan/permasalahan kemudian dapat mengubahnya menjadi peluang. Adversity Quotient memiliki empat dimensi ukur yang disebut CO2RE yaitu dimensi kendali (Control=C), dimensi asal usul – kepemilikan (Origin – Ownership=O2), dimensi jangkauan (Reach=R), dan dimensi daya tahan (Endurance=E). Kegiatan pendakian gunung (yang membuat Paul G.Stoltz mengadakan berbagai riset dan penelitian mengenai AQ), merupakan salah satu kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam yang memiliki kesulitan tinggi. Mahasiswa Pencinta Alam merupakan organisasi kemahasiswaan yang berkedudukan dalam suatu intitusi pendidikan tinggi yang dibentuk sebagai wadah pendidikan lingkungan hidup dan kepencintaalaman. Stoltz (2003) menjelaskan bahwa organisasi dengan AQ yang tinggi, mendorong anggotanya untuk berusaha mencapai tujuannya. Penelitian ini bertujuan untuk megetahui perbedaan Adversity Quotient antara Mahasiswa Pecinta Alam dengan Mahasiswa yang Tidak Mengikuti Organisasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Sampel penelitian ini sebanyak 60 orang mahasiswa dengan rincian 30 orang yang termasuk dalam anggota Mahasiswa Pecinta Alam dan 30 orang mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive quota sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Adversity Response Profile (ARP) yang telah disesuaikan kedalam situasi keorganisasian sebanyak 34 aitem yang valid dengan reliabilitas menggunakan formula Alpha Cronbach sebesar 0,917. Data hasil penelitian ini dianalis menggunakan uji perbedaan dengan menggunakan uji t. Berdasarkan analisis data penelitian diperoleh hasil bahwa (1) Mahasiswa Pecinta Alam memiliki rata-rata skor Adversity Quotient sebesar 99,73 dengan tingkat Adversity Quotient sedang dan mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi sebesar 90,43 dengan tingkat Adversity Quotient sedang (2) Adversity Quotient antara Mahasiswa Pecinta Alam dengan mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi memiliki perbedaan (p=0,0000,05), O2 (p=0,045>0,05), R (p=0,007> 0,05), E (p=0,012>0,012)). (4) Mahasiswa Pecinta Alam lebih banyak yang memperoleh tingkat dimensi penyusun Adversity Quotient tinggi (dimensi C=14 orang, O2=14 orang, R=11 orang, E=10 orang) dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi (dimensi C=4 orang, O2=2 orang, R=3 orang, E=26 orang). Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa Adversity Quotient Mahasiswa Pecinta Alam lebih tinggi daripada Mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi

    Kecerdasan Emosi dan Self Efficacy Sebagai Prediktor Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun Pada Pegawai PT. PLN

    No full text
    ABSTRAK   Meirina, Amanda. 2013. Kecerdasan Emosi Dan Self Efficacy Sebagai Prediktor Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun pada Pegawai PT. PLN. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Fattah Hidayat, S.Psi., M.Si., (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi., M.Si.   Kata Kunci: kecerdasan emosi, self efficacy, kecemasan menghadapi masa pensiun.   Penelitian ini bertujuan untuk (1)mengetahui kecerdasan emosi pegawai yang akan menghadapi masa pensiun, (2)mengetahui self efficacy pegawai yang akan menghadapi masa pensiun, (3)mengetahui kecemasan pada pegawai yang akan menghadapi masa pensiun, (4)mengetahui pengaruh kecerdasan emosi terhadap kecemasan dalam menghadapi masa pensiun, (5)mengetahui pengaruh self efficacy terhadap kecemasan dalam menghadapi masa pensiun, (6)mengetahui pengaruh kecerdasan emosi dan self efficacy terhadap kecemasan dalam menghadapi masa pensiun. Jenis penelitian kuantitatif ini adalah deskriptif kausalitas, dengan menggunakan studi populasi karena jumlah subjek yang tidak terlalu banyak. Subjek penelitian dalam penelitian ini berjumlah 35 orang yang berusia 48 tahun ke atas. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala kecerdasan emosi, skala self efficacy, dan skala kecemasan menghadapi masa pensiun. Teknik analisis data menggunakan teknik Analisis Regresi Berganda digunakan untuk mengetahui besarnya hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Hasil penelitian menunjukkan (1)kecerdasan emosi berada pada kategori sedang (71,43%), (2)self efficacy berada pada kategori sedang (74,29%), (3)kecemasan menghadapi masa pensiun berada pada kategori sedang (74,29%), (4)ada pengaruh kecerdasan emosi terhadap kecemasan menghadapi masa pensiun, (5)tidak ada pengaruh self efficacy terhadap kecemasan menghadapi masa pensiun, (6)kecerdasan emosi dan self efficacy secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kecemasan menghadapi masa pensiun. Disarankan (1)bagi pegawai yang akan menghadapi masa pensiun dapat mengurangi kecemasannya dengan meningkatkan kecerdasan emosi dengan cara mengenali dan mengelola emosi diri, (2)bagi instansi diharapkan dapat membantu mengembangkan potensi pegawai agar dapat mencegah kecemasan menghadapi masa pensiun, misalnya melalui pembinaan, melaksanakan program pelatihan pra pensiun untuk menyiapkan pegawai yang akan memasuki masa pensiun, (3)bagi peneliti selanjutnya untuk memperbanyak jumlah subjek, dan mencermati faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kecemasan menghadapi masa pensiun antara lain mengenai penghasilan, perbedaan kepribadian individu, situasi lingkungan subjek dan perencanaan mengenai masa pensiun.

    Hubungan Antara Persepsi Terhadap Polisi Lalu Lintas Dengan Pelanggaran Lalu Lintas Yang Dilakukan Remaja di Kota Malang

    No full text
    ABSTRAK   Lelangayaq, Yodokus Lusius Peu. 2013. Hubungan Antara Persepsi Terhadap Polisi Lalu Lintas Dengan Pelanggaran Lalu Lintas Yang Dilakukan Remaja di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Weni Utami, M.Si, (II) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi.   Kata Kunci : Persepsi, Polisi Lalu Lintas, Pelanggaran Lalu Lintas, Remaja, Kota Malang   Persepsi terhadap Polisi Lalu Lintas dapat bermuara pada terbentuknya kepercayaan dan kesukaan seorang pengguna lalu lintas terhadap Polisi Lalu Lintas sebagai pihak otoritas yang menegakan hukum tentang lalu lintas. Dengan memiliki kepercayaan dan kesukaan terhadap Polisi Lalu Lintas, seseorang dapat meningkatkan perilaku ketaatannya terhadap hukum lalu lintas itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal mencakup gambaran persepsi remaja terhadap Polisi Lalu Lintas, gambaran pelanggaran yang dilakukan remaja di Kota Malang, dan menguji adanya hubungan negatif antara persepsi terhadap Polisi Lalu Lintas dengan pelanggaran lalu lintas yang dilakukan remaja di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa skala persepsi yang disebar kepada 72 subjek penelitian yaitu remaja-remaja yang melakukan pelanggaran lalu lintas di Kota Malang. Data di analisis yang dengan analisis korelasional dengan menghitung koefisien korelasi Spearman Rank (ρ). Dari hasil analisis korelasional, menunjukan hipotesis penelitian ini ditolak karena koefisien korelasi Spearman Rank (ρ) yang diperoleh (-0,25) adalah rendah dan signifikansi (0,837) > 0,05 sehingga hubungannya tidak signifikan atau tidak bermakna. Koefisien determinasi yang diperoleh adalah 6,25 % sehingga dapat dikatakan persepsi terhadap Polisi Lalu Lintas memberikan pengaruh yang kecil bagi pelanggaran lalu lintas yang dilakukan remaja di Kota Malang. Dari hasil penelitian ini, disarankan kepada Polisi Lalu Lintas di Kota Malang untuk semakin meningkatkan kinerjanya terutama dalam hal pelayanan dan pembinaan kesadaran hukum lalu lintas bagi masyarakat khususnya bagi remaja akhir di Kota Malang. Polisi Lalu Lintas juga diharapkan semakin mendekatkan diri terhadap kalangan remaja agar memperoleh kepercayaan dan kesukaan yang tinggi dari remaja untuk menaati hukum lalu lintas. Bagi remaja yang melakukan pelanggaran lalu lintas diharapkan dapat meningkatkan kesadaran hukum dan ketaatan terhadap hukum dalam dirinya sendiri dengan aktif mencari informasi tentang hukum lalu lintas dan aktif dalam kegiatan sosialisasi atau penyuluhan tentang hukum lalu lintas. Bagi penelitian selanjutnya, disarankan memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pelanggaran lalu lintas yang dilakukan remaja seperti konsekuensi yang jelas atas ketidaktaatan, harapan mendapatkan kondisi tertentu, kesadaran hukum, dan kecerdasan emosi dari remaja itu sendiri.

    HUBUNGAN ANTARA TENDENSI GAYA KELEKATAN DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA SISWA SMP ISLAM PAITON YANG TINGGAL DI PESANTREN

    No full text
    ABSTRAK   Fitriyah,  Lailatul.  2013.  Hubungan  Antara  Tendensi  Gaya  Kelekatan  Dengan Penyesuaian Sosial Pada Siswa SMP Islam Paiton Yang Tinggal Di Pesantren. Skripsi,Jurusan  Psikologi  Fakultas  Pendidikan  Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si.  (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi, M.Psi.   Kata kunci: Gaya Kelekatan Aman (Secure), Penyesuaian Sosial.   Gaya kelekatan yang dibangun sejak lahir dapat berlaku sebagai fungsi adaptif bagi  remaja untuk menguasai  lingkungan-lingkungan baru. Relasi yang baik dengan pengasuh  akan  menjadikan  seorang  anak  memiliki  secure  attachment   dan mengembangkan  interaksi  yang  baik  dengan  orang  lain  dan memiliki  penyesuaian sosial  yang  baik.  Gaya  kelekatan  pada  masa  remaja  dapat  membantu  kompetensi sosial dan kesejahteraan  sosial  remaja  sebagaimana  tercermin dalam ciri-ciri  seperti self esteem, penyesuaian sosial, dan emosional. Penelitian  ini  bertujuan  untuk mengetahui  apakah  terdapat  hubungan  antara gaya  kelekatan  aman  (secure)  dengan  penyesuaian  sosial  pada  remaja  awal  yang tinggal  di  pesantren.  Rancangan  penelitian  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini adalah deskriptif korelasional. Subjek penelitian  ini adalah  siswa SMP  Islam Paiton yang  tinggal  di  pesantren  sebanyak  100  orang. Teknik  pengambilan  sampel  adalah staratified  sampling.  Instrument  penelitian  yang  digunakan  adalah  angket  gaya kelekatan dan skala penyesuaian sosial. Angket gaya kelekatan  terdiri dari 33 aitem dengan  reliabilias  0,878  dan  skala  penyesuaian  sosial  terdiri  dari  28  aitem  dengan reliabilitas  0,837.  Data  hasil  penelitian  dianalisis  dengan  menggunakan  teknik analisis deskripstif dan analisis korelasi product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kelekatan aman pada  remaja awal yang  tinggal  di  pesantren  sebagian  besar  dalam  kategori  sedang  dengan  prosentase sebesar  (76%)  dan  penyesuaian  sosial  pada  remaja  awal  yang  tinggal  di  pesantren sebagian  besar  dalam  ketegori  sedang  dengan  prosentase  (59%).  Uji  hipotesis menyimpulkan terdapat hubungan yang positif dan signifikan anatara gaya kelekatan dan penyesuaian sosial pada remaja awal yang  tinggal di pesantren (rxy = 0,281; p = 0,005 < 0,05). Berdasarkan  hasil  penelitian  maka  disarankan:  (1).  Bagi  orang  tua  Orang  tua diharapkan mampu mengontrol  rutinitas  hubungan  resiprokal  dalam  perkembangan gaya  kelekatan.  (2).  Remaja  diharapkan  mampu  dalam  menghilangkan  kebiasaan bergantung    pada  figure  attachmentnya.  (3). Untuk  peneliti  selanjutnya  diharapkan dapat  memperhatikan  faktor-faktor  lain  diluar  attachment  yang  dapat  turut mempengaruhi bentuk penyesuaian sosial.

    Hubungan Iklim Organisasi dan Organizational Citizens Behavioral (OCB) pada Perawat RSUD Kanjuruhan Kepanjen

    No full text
    ABSTRAK   Meylandani, Dharing. 2013. Hubungan Iklim Organisasi dan Organizational     Citizens Behavioral (OCB) pada Perawat RSUD Kanjuruhan Kepanjen. Skripsi,  Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Tutut Chusniah, M. Si., (II) Ninik Setiyowati, S. Psi,M. Psi   Kata Kunci : iklim organisasi, organizational citizens behavioral (OCB),   Perawat merupakan ujung tombak baik tidaknya pelayanan kesehatan yang diberikan kepada konsumen kesehatan. Hal ini tidak terlepas dari iklim organisasi yang tumbuh pada rumah sakit. iklim organisasi adalah suatu kondisi, keadaan maupun situasi  yang dipersepsikan oleh individu secara sadar atau tidak sadar mengenai kondisi lingkungan internal organisasi. bahwa karyawan yang mempersepsi iklim organisasi kondusif cenderung berbicara secara positif tentang organisasi, membantu individu lain, dan melebihi harapan normal dalam pekerjaan mereka dengan kata lain karyawan tersebut menunjukan perilaku organisasi yang mampu memberi kinerja melebihi harapan normal organisasi yang sering disebut dengan organizational citizens behavioral (OCB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan iklim organisasi dan OCB pada perawat RSUD Kanjuruhan Kepanjen. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskripsi korelasional. Sampel penelitian ini sebanyak 35 dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala iklim organisasi yang terdiri dari 38 item dengan reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0,912, dan skala OCB yang terdiri dari 31 item dengan reliabilitas Alpha Cronbach  sebesar 0,894. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa (1)Perawat RSUD Kanjuruhan Kepanjen mempersepsikan bahwa iklim organisasi di RSUD Kanjuruhan Kepanjen kondusif dengan persentase sebesar 54,28%. (2)Perawat RSUD Kanjuruhan Kepanjen memiliki OCB pada kategori tinggi dengan persentase sebesar 52,47%. (3)Ada hubungan positif dan signifikan antara iklim organisasi dan OCB  pada perawat RSUD Kanjuruhan Kepanjen  (rxy = 0,791; p = 0,000 < 0,05).Hal ini dapat diartikan bahwa jika karyawan mempersepsikan iklim organisasi di tempatnya bekerja kondusif (tinggi), maka OCB karyawan juga tinggi, sebaliknya jika iklim organisasi dipersepsikan kurang kondusif (rendah), maka tingkat OCB karyawan juga rendah. Saran yang dapat diberikan oleh penelitian ini adalah (1)bagi instansi rumah sakit lebih meningkatkan kondisi iklim organisasi pada RSUD Kanjuruhan Kepanjen melalui kesinkronan dan kesesuaian antara nilai-nilai dan tuntutan organisasi dan perilaku pemimpin dengan kebutuhan dan tuntutan karyawan, seperti membina saling percaya antar karyawan, saling mendukung antara anggota organisasi, adanya komunikasi yang sehat antar anggota organisasi  sehingga senantiasa akan terjaga iklim organisasi yang kondusif  dan menumbuhkan OCB karyawan yang lebih baik lagi

    Hubungan Antara Kesadaran Hidup Sehat dan Self Management dengan Perilaku Sehat Mahasiswa Pecinta Alam Jonggring Salaka Universitas Negeri Malang.

    No full text
    ABSTRAK   Wati, Dilla Ima. 2013. Hubungan Antara Kesadaran Hidup Sehat dan Self Management dengan Perilaku Sehat Mahasiswa Pecinta Alam Jonggring Salaka Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moh. Irtadji, M.Si, (II) Indah Yasminum Suhanti, S.Psi, M.Psi.   Kata kunci: kesadaran hidup sehat, self management, perilaku sehat, mahasiswa pecinta alam   Faktor fisik merupakan salah satu modal bagi seorang pecinta alam. Fisik yang baik diperoleh dengan cara menjaga kesehatan. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa mahasiswa pecinta alam Jonggring Salaka Universitas Negeri Malang belum menunjukkan perilaku yang menjaga kesehatan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan pembahasan kesadaran hidup sehat, self management, dan perilaku sehat pada mahasiswa pecinta alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesadaran hidup sehat, gambaran self management, gambaran perilaku sehat, dan hubungan antara ketiga variabel tersebut pada mahasiswa pecinta alam Jonggring Salaka Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Instrumen dalam penelitian ini adalah skala yang terdiri dari skala kesadaran hidup sehat, skala self management, dan skala perilaku sehat. Hasil penelitian yaitu sebagai berikut. Pertama, 52,5% mahasiswa pecinta alam Jonggring Salaka Universitas Negeri Malang memiliki kesadaran hidup sehat yang tinggi. Kedua, 75% mahasiswa pecinta alam Jonggring Salaka Universitas Negeri Malang memiliki self management yang baik. Ketiga, 58,75% mahasiswa pecinta alam Jonggring Salaka Universitas Negeri Malang memiliki perilaku sehat yang tinggi. Keempat, terdapat hubungan antara kesadaran hidup sehat dan self management dengan perilaku sehat Mahasiswa Pecinta Alam Jonggring Salaka Universitas Negeri Malang. Saran dalam penelitian yaitu sebagai berikut. Pertama, unit kegiatan mahasiswa pecinta alam Jonggring Salaka Universitas Negeri Malang diharapkan melakukan kampanye untuk meningkatkan perilaku sehat para anggotanya. Kedua, mahasiswa pecinta alam Jonggring Salaka Universitas Negeri Malang diharapkan dapat berupaya untuk menjaga dan meningkatkan perilaku sehatnya agar memiliki fisik yang baik sehingga dapat melaksanakan kegiatan kepecintaalaman dengan baik. Ketiga, peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini yaitu dengan melakukan penelitian untuk mencari pengaruh ketiga variabel tersebut dan melakukan penelitian eksperimen dengan menggunakan teknik self management untuk meningkatkan perilaku sehat.

    Hubungan Fanatisme terhadap Musik Rock dengan Perilaku Agresi pada Remaja

    No full text
    HUBUNGAN FANATISME TERHADAP MUSIK ROCK DENGAN PERILAKU AGRESI PADA REMAJA Alan Budi Kusuma Psikologi, Universitas Negeri Malang Musik memiliki pengaruh yang penting bagi kehidupan manusia. Sedangkan Musik Rock sendiri adalah musik yang memiliki banyak penggemar dari seluruh penjuru dunia. Banyak kalangan remaja yang sedang mencari jati diri dan menjadikan musik rock adalah sasaran untuk proses pencarian jati diri.  Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara fanatisme terhadap musik rock dengan perilaku agresi pada remaja. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif korelasional. Penelitian ini adalah penelitian populasi. Subjek penelitian berjumlah 42 orang anggota Malang Rock Forum, dan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Instrument yang digunakan adalah skala fanatisme terhadap musik rock, dan skala perilaku agresi. Data dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi product moment. Hasil data dekriptif fanatisme music rock pada tingkat sedang yaitu 33 orang (78,6%), sedangkan pada perilaku agresi juga pada tingkat sedang yaitu 31 orang (73,8%). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara fanatisme terhadap musik rock dengan perilaku agresi pada remaja dengan skor korelasi sebesar 0,428 dengan signifikansi 0,005. Disarankan kepada : (1)Bagi remaja hendaknya para remaja mampu memilah dan memilih karakteristik yang sesuai dengan proses pencarian jati dirinya, serta dapat membuka wawasan dan pengetahuannya agar tidak menunjukkan hal-hal yang dianggap keliru oleh masyarakat dan agar bisa sesuai dengan norma-norma yang berlaku saat ini, (2)Bagi komunitas di harapkan komunitas dapat mengkoordinasi anggota dan memberikan wawasan positif atau berkegiatan selain yang berhubungan dengan kegiatan komunitas,(3) bagi penikmat musik di harapkan penikmat musik lebih bisa menyikapi perkembangan musik secara positif (4) bagi peneliti agar peneliti lebih menunjukkan faktor-faktor lain yang memungkinkan yang mempengaruhi perilaku agresi selain fanatisme terhadap musik rock sehingga dapat memberikan hasil penelitian yang lebih baik.   Kata kunci: Fanatisme terhadap Musik Rock, Perilaku Agresi. Alan Budi Kusuma adalah Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) angkatan 2008. Artikel ini diangkat dari Skripsi Sarjana Psikologi, Program Sarjana Universitas Negeri Malan

    Pengaruh Etika Kerja Islam Terhadap Komitmen Organisasi PNS pada Dinas Pendidikan dan Kesehatan Kota Malang

    No full text
    ABSTRAK   Aditya, Anisya. 2013. Pengaruh Etika Kerja Islam terhadap Komitmen Organisasi PNS pada Dinas Pendidikan dan Kesehatan Kota Malang. Skripsi,  Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Tutut Chusniyah, M.Si., (II) Pravissi Shanti, S. Psi., M. Psi.   Kata Kunci : Etika Kerja Islam, Komitmen Organisasi   Etika kerja Islam merupakan orientasi yang membentuk dan mempengaruhi keterlibatan dan partisipasi pekerja, yang dapat dilihat dari usaha, kompetisi, transparasi, dan tanggung jawabnya (Ali, 2001). Komitmen organisasi merupakan suatu ikatan psikologis karyawan pada organisasinya. Komitmen organisasi dapat dilihat dari komitmen afektif, komitmen berkelanjutan, dan komitmen normatif (Allen dan Meyer, 1990). Beberapa penelitian yang telah dilakukan, mengungkapkan adanya pengaruh Etika Kerja Islam terhadap komitmen organisasi. Karyawan yang menerapkan Etika Kerja Islam dalam bekerja akan menunjukkan komitmen organisasi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Etika Kerja Islam terhadap komitmen organisasi PNS pada Dinas Pendidikan dan Kesehatan kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan sampel penelitian sebanyak 43 PNS yaitu 18 PNS dari Dinas Pendidikan dan 25 PNS dari Dinas Kesehatan kota Malang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Etika Kerja Islam yang terdiri dari 26 item dengan reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0,887 dan skala komitmen organisasi yang terdiri dari 22 aitem dengan reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach sebesar 0,870. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa (1) Sebanyak 7 PNS (16,28%) memiliki skor Etika Kerja Islam yang tinggi, 30 PNS (69,77%) masuk dalam kategori sedang, dan 6 PNS (13,95%) masuk dalam kategori rendah untuk Etika Kerja Islam. (2) Sebanyak 3 PNS (6,98%) memiliki skor tinggi pada komitmen organisasi, 31 PNS (72,09%) memiliki komitmen organisasi yang cukup, dan 9 PNS (20,93%) memiliki komitmen organisasi yang rendah. (3)Uji hipotesis menyimpulkan Etika Kerja Islam berpengaruh signifikan terhadap komitmen organisasi (sig. 0,00 < 0,05) dan pengaruh Etika Kerja Islam terhadap komitmen organisasi PNS pada Dinas Pendidikan dan Kesehatan kota Malang cukup besar yaitu 50,9% (R square= 0,509). Hal ini dapat diartikan bahwa PNS yang menerapkan Etika Kerja Islam dalam bekerja akan memunculkan komitmen organisasi mereka. Saran yang dapat diberikan pada penelitian ini adalah (1) bagi karyawan: agar lebih meningkatkan penerapan Etika Kerja Islam dalam bekerja, (2) bagi dinas Pendidikan dan Kesehatan: agar mendukung penerapan Etika Kerja Islam dalam diri PNS sehingga dapat lebih meningkatkan komitmen organisasi PNS.

    0

    full texts

    783

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇