Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
    783 research outputs found

    Pemaknaan Audiens Terhadap Perilaku SARA pada Stand Up Comedy

    No full text
    ABSTRAK   Puspitasari, Chyntia. 2014. Pemaknaan Pemaknaan Audiens Terhadap Perilaku SARA Pada Stand Up Comedy. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Diyah Sulistyorini, S.Psi, M.Psi, (II) Ninik Setyowati, S.Psi, M.Psi.   Kata Kunci: pemaknaan, perilaku SARA, stand up comedy, perbedaan identitas sosial.   Stand up comedy merupakan salah satu jenis komedi baru yang ada di Indonesia. Banyak para comic di Indonesia maupun luar yang menggunakan tema sensitive seperti SARA. Di Indonesia sendiri banyak comic seperti Pandji, Ernest Prakasa, Mongol, dan Reggy Hasibuan yang membawakan tema SARA dalam stand up comedy. Padahal tema SARA merupakan tema yang sensitive bila dibicarakan. Seperti diketahui bahwa banyak konflik di Indonesia yang dipicu oleh perbedaan identitas SARA. Tujuan penelitian adalah mengetahui pemaknaan audiens terhadap tema SARA pada stand up comedy di Indonesia serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemaknaan audiens. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan interaksionisme simbolik dengan menggunakan teknik wawancara mendalam. Subjek penelitian adalah lima remaja berlatar belakang pendidikan mahasiswa perguruan tinggi dan pernah menonton stand up comedy. Analisis data penelitian menggunakan analisis deskriptif dengan keabsahan data menggunakan feedback dan check back. Hasil penelitian ini menghasilkan data bahwa semua subjek terbuka akan perbedaan SARA yang ada di Indonesia. Keterbukaan terhadap SARA tersebut yang menjadikan sebagian besar subjek memiliki pemaknaan yang sejalan dengan comic yang membawakan tema SARA dalam stand up comedy. Para comic membawakan tema SARA dengan tujuan untuk melunturkan sikap etnosentrisme dan membangun rasa saling toleransi. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyampaian pesan (encoding/decoding) pada subjek adalah latar belakang sosial, agama, suku, dan sikap keterbukaan pikiran, wawasan dan pengalaman masing-masing subjek akan perbedaan dilingkungan sekitarnya

    MANAJEMEN KONFLIK INTERGROUP TERKAIT KONTROVERSI LAHAN KONSERVASI SUMBER MATA AIR GEMULO MENURUT SUDUT PANDANG FORUM MASYARAKAT PEDULI MATA AIR (FMPMA)

    No full text
    ABSTRAK   Wiyanto, Agus Hadi. 2014. Manajemen Konflik Intergroup Terkait Kontroversi Lahan Konservasi Sumber Mata Air Gemulo Menurut Sudut Pandang Forum Masyarakat Peduli Mata Air (FMPMA). Skripsi, Jurusan Psikologi Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si. (II) Gamma Rahmita Ureka Hakim, S.Psi, M.Psi.   Kata Kunci: Manajemen konflik, konflik intergroup, sumber mata air Gemulo, FMPMA.   Manajemen konflik intergroup merupakan cara mengelola konflik antar kelompok agar konflik dapat terselesaikan. Strategi penyelesaian yang digunakan dalam manajemen konflik memiliki dua tipe yakni destruktif dan konstruktif. Konflik yang diselesaikan dengan manajemen konflik disebabkan oleh dua hal yaitu penyebab obyektif dan penyebab subyektif. Penelitian ini mengkaji tentang manajemen konflik yang dilakukan oleh pihak FMPMA dalam menghadapi konflik intergroup dengan pihak investor (Hotel The Rayja) terkait adanya perebutan wilayah sumber daya alam berupa sumber mata air Gemulo. FMPMA sebagai perwakilan warga pengguna air minum yang berasal dari sumber Gemulo berusaha menyelesaikan konflik dengan pihak hotel The Rayja yang dimulai sejak akhir tahun 2011 sampai 2014 dengan berbagai macam strategi penyelesaian yang ada dalam manajemen konflik, salah satunya dengan strategi intervensi pihak ketiga yang melibatkan peran pengadilan. Selain untuk melestarikan lingkungan, manajemen konflik ini sangat perlu dilakukan FMPMA guna menyelesaikan konflik supaya dampak-dampak negatif akibat konflik yang selama ini dirasakan warga desa sekitar sumber mata air Gemulo dapat tereduksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Peneliti mengggunakan metode pengambilan data wawancara, observasi  dan analisis data menggunakan analisis isi (content analysis) yang menganalisis makna berdasarkan isi yang berhubungan dengan kategori-kategori konsep yang diteliti dengan pendekatan intra dan inter subyek serta triangulasi pengamat lain atau significant others digunakan dalam pengecekan keabsahan data. Subyek dalam penelitian ini berjumlah 5 orang yang merupakan anggota dari FMPMA dan berasal dari 3 desa, yaitu Bumiaji, Sidomulyo, dan Bulukerto. Temuan dalam penelitian ini, yakni konflik disebabkan sosialisasi yang tidak dilakukan secara transparan oleh investor dan adanya pelanggaran peraturan dalam pembangunan yang dapat menimbulkan dampak kerusakan lingkungan. Salah satu dampak kerusakan lingkungan yaitu debit air sumber mata air Gemulo berkurang. Strategi manajemen konflik yang dilakukan oleh FMPMA cenderung bertipe konstruktif, karena strategi yang dilakukan warga ditujukan untuk menyelesaikan konflik tanpa menimbulkan kerugian bagi pihak-pihak yang berkonflik. Strategi yang digunakan oleh FMPMA diantaranya, problem solving, strategi intervensi pihak ketiga (ajudikasi dan konsiliasi). Adapun saran yang dapat diajukan terkait dengan temuan dalam penelitian ini adalah subyek ataupun FMPMA diharapkan mampu bekerja sama dengan berpikir logis serta penuh segala pertimbangan, agar tercipta solusi damai yang tidak merugikan kedua belah pihak. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman teori yang dimiliki dengan diimbangi aspek kesadaran dan emosi agar masyarakat secara luas dan peneliti lain tahu serta ingin tahu terhadap masalah sosial yang terjadi di sekitarnya, terutama masalah konflik intergroup di sekitar kawasan sumber mata air Gemulo yang melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah kota Batu dalam penyelesaian konflik. Pemerintah kota Batu diharapkan bertindak tegas dan konsisten dalam melaksanakan kebijakan guna menyelesaikan konflik terkait sumber mata air Gemulo.  

    Hubungan Gaya kepemimpinan dan Motivasi Kerja dengan Kinerja Polisi Sektor Slahung Ponorogo

    No full text
    ABSTRAK   Saputro, Ambarukma Yosi. 2014. Hubungan Gaya Kepemimpinan dan Motivasi Kerja dengan Kinerja Polisi Polsek Slahung Ponorogo. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Moh. Irtadji, M.Si (2) Farah Farida Tantiani, M.Psi .   Kata kunci : gaya kepemimpinan, motivasi kerja, kinerja.   Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan gaya kepemimpinan, motivasi kerja dan kinerja Polisi Sektor Slahung, serta untuk mengetahui hubungan di antara tiga variabel tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif dan korelasional. Subjek atau sampel penelitian adalah Polisi Sektor Slahung dengan jumlah responden 30 Polisi. Pengumpulan data menggunakan metode skala gaya kepemimpinan, skala motivasi kerja dan skala penilaian kinerja. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis korelasi bivariate yang dikembangkan oleh pearson untuk menganalisis hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kinerja serta kendall’s tau-b untuk menganalisis hubungan antara motivasi kerja dengan kinerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan kepala Polisi Sektor  Slahung yang lebih berorientasi tugas dapat diterima oleh sebagian besar (63%) anggota. Motivasi kerja anggota Polisi di Sektor Slahung sebagian besar (60%) rendah dan cenderung memiliki jenis motivasi hygiene. Sedangkan sebagian besar kinerja Polisi di Sektor Slahung adalah rendah (53%). Hubungan antara variabel gaya kepemimpinan (X1) dengan kinerja (Y) positif signifikan, dengan nilai 0,648 pada taraf signifikasi 0,000. Hubungan antara variabel motivasi kerja (X2) dengan kinerja (Y) tidak signifikan. Kapolsek Slahung diharapkan untuk menjaga konsistensi dalam memimpin anggota dengan berorientasi tugas namun tentunya tetap mengevaluasi cara kepemimpinannya demi mempertahankan dan membuat lebih baik kerja anggotanya. Sedangkan untuk anggota Polsek Slahung diharapkan untuk meningkat motivasi kerjanya dan meningkatkan kualitas serta kuantitas kerjanya sehingga hasil kerjanya menjadi lebih baik. Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan subjek penelitian yang lebih banyak diatas 30 orang Polisi dengan menambah beberapa variabel lain yang berhubungan dengan kinerja

    PENGEMBANGAN PERMAINAN KONSTRUKTIF KATA SEBAGAI ALAT UKUR KEMAMPUAN BERBAHASA PADA SISWA KELAS III SDN KARANGBESUKI 1 DAN 2

    No full text
    ABSTRAK   Mantara, Angga Yuni. 2014. Pengembangan Permainan Konstruktif Kata Sebagai Alat Ukur Kemampuan Berbahasa Pada Siswa Kelas III SDN Karangbesuki 1 dan 2. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Diyah Sulistiyorini, S.Psi., M.Psi. (II) Gama Rahmita Ureka Hakim, S. Psi., M.Psi.   Kata Kunci: alat ukur, kemampuan berbahasa, permainan konstruktif kata.   Bahasa merupakan pembelajaran yang pertama kali diterima oleh anak. Hal ini berkaitan dengan bagaimana mereka menyampaikan keinginan dan memberikan penjelasan kepada orang lain. Kemampuan berbahasa pada anak usia tertentu seringkali dikaitkan dengan kecerdasan anak tersebut yang dilihat dari usia pertama kali bisa berbicara dengan lancar. Namun, ada kalanya kesulitan berbahasa pada anak menimbulkan gangguan belajar tersendiri yang menyebabkan prestasi mereka tidak sesuai dengan seharusnya. Maka diperlukan alat ukur untuk mengukur kemampuan berbahasa anak untuk memberikan pemahaman tentang kemampuan berbahasa itu sendiri kepada orang lain. Untuk melakukan pengukuran kemampuan berbahasa anak diperlukan metode yang mumpuni dan menyenangkan, salah satunya dengan metode permainan konstruktif kata. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat ukur kemampuan berbahasa pada siswa kelas tiga sekolah dasar dengan permainan konstruktif kata. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang bertujuan untuk mengembangkan suatu produk dan mengembangkan produk tersebut untuk menjadi instrumen yang siap pakai, dipercaya, dan mempunyai nilai keajegan yang tinggi. Prosedur yang dilakukan melalui 7 langkah yang meliputi analisa kebutuhan, perancangan desain, implementasi desain, validasi ahli, revisi permainan, uji kelayakan, dan perbaikan produk. Permainan diujikan kepada siswa kelas tiga sekolah dasar. Permainan konstruktif kata merupakan permainan berpasangan. Salah satunya bertindak sebagai pemain, dan yang lain sebagai interpretator. Tugas interpretator yakni memberikan petunjuk utama kepada pemain tentang kelompok kata yang dimaksud dan memberikan respon kepada pemain apabila pemain memberikan petunjuk yang berusaha merujuk pada kata yang dimaksud. Sedangkan tugas pemain ialah menebak petunjuk utama yang diberikan dengan memberikan serangkaian kata yang berusaha merujuk pada petunjuk dan menebak kata apa yang dimaksud dalam permainan. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa permainan konstruktif kata mampu dalam mengukur kemampuan berbahasa siswa. Hal ini dilihat dari tingkat validitas berkisar 0,50 – 0,69 dan koefisien reliabilitas terletak pada 0,73 yang tergolong tinggi. Permainan ini menggunakan kata atau frase terhadap beberapa hal yang berada disekitar anak sehingga mampu menggambarkan kemampuan anak dalam kondisi sehari-hari. Berdasarkan hasil pengembangan ini, disarankan (1) sebaiknya permainan ini mampu digunakan dalam metode pembelajaran, baik tentang materi bahasa ataupun materi lain yang mampu diaplikasikan dengan permainan ini. (2) bagi penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah variasi kosa kata yang diujikan, subjek uji permainan, ataupun menggunakan kosa kata dari tes yang telah terstandar. Apabila dimungkinkan, permainan ini mampu diterapkan pada rentang tingkat lain.

    PERBEDAAN KEMATANGAN EMOSI PADA REMAJA YANG TINGGAL DENGAN ORANG TUA DAN REMAJA YANG TINGGAL DI PONDOK PESANTREN

    No full text
    ABSTRAK   Anjani, Nadia Kamila. 2014. Perbedaan Kematangan Emosi Pada Remaja yang Tinggal dengan Orang Tua dan Remaja yang Tinggal di Pondok Pesantren. Skripsi, Jurusan Psikologi Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs Fattah Hidayat S.psi., M.Psi, (II) Farah Farida Tantiani S.Psi., M.Psi   Kata Kunci : kematangan emosi, remaja, keluarga, pondok pesantren.   Masa remaja adalah masa yang banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan dalam rangka menghindari hal – hal negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain, remaja seharusnya memiliki kematangan emosi. Menurut Goleman (2004) kematangan emosi adalah “kemampuan untuk menyelesaikan problem-problem pribadi tanpa adanya keselarasan antara gangguan perasaan dan kemampuan untuk mengungkapkan emosi yang tepat yang berhubungan dengan orang lain”. Kematangan emosi pada setiap remaja tidaklah sama karena banyak faktor – faktor lain yang mendukung diantaranya lingkungan dan orang tua. Sehingga penelitian ini ingin melihat (1) kematangan emosi pada remaja yang tinggal dengan orang tua, (2) remaja yang tinggal di pondok pesantren, (3) perbedaan kematangan emosi pada kedua remaja tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif komparatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk membandingkan kesamaan dan perbedaan suatu gejala, peristiwa dan masalah – masalah yang ada sekarang (Arikunto, 2006). Hasilnya 75 remaja yang tinggal dengan orang tua yaitu 8% kematangan emosi tinggi, 73% kematangan emosi sedang, 19% kematangan emosi rendah yang tinggal dengan orang tua sedangkan 75 remaja yang tinggal tinggal di pondok pesantren yaitu 21% kematangan emosi tinggi, presentase 66% kematangan emosi sedang. 12% kematangan emosi rendah yang tinggal di pondok pesantren.Uji hipotesis ada perbedaan kematangan emosi pada remaja yang tinggal dengan orang tua dan remaja yang tinggal di pondok yang dapat dilihat dari mean remaja dipondok pesantren lebih tinggi daripada mean remaja yang tinggal dengan orang tua dengan signifikansi 0,002 (p < 0,05). Saran dari hasil penelitian ini adalah untuk lebih memperhatikan kematangan emosi pada remaja Orang tua dapat menentukan pola asuh yang cocok dan bagaimana mengajarkan anak dalam berinteraksi di lingkungan sehingga dengan didikan orang tua sejak dini akan membentuk kematangan emosi pada remaja. Buat pendidik di SMA juga lebih mempertimbangkan interaksi siswa satu dengan siswa yang lain dengan meningkatkan kegiatan ekstrakulikuler. Pendidik di pondok pesantren lebih terus meningkatkan sistem dan pembentukan  karakter remaja untuk jadi lebih baik kedapannya

    Profil Kebutuhan Psikologis Otaku Genre Action Berdasarkan Teori Kebutuhan Psikologis Murray

    No full text
    ABSTRAK   Trisnawari, Dina. 2014. Profil Kebutuhan Psikologis Otaku Genre Action Berdasarkan Teori Kebutuhan Psikologis Murray. Skripsi, Jurusan Psikologi FPPsi Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing (1) Dr. Moh. Irtadji M.Si, (II) Ninik Setiyowati S.Psi, M.Si.   Kata kunci: Otaku, Genre Action, Kebutuhan Psikologis Murray.   Otaku adalah penggemar berat atau penggemar fanatik subkultural Jepang seperti anime, manga, game dan lainnya. Otaku mempunyai kecenderungan tersendiri untuk menyukai gaya cerita anime atau manga yang biasanya disebut dengan istilah genre. Salah satu genre anime dan manga yang saat ini popular adalah genre action. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil kebutuhan psikologis Otaku dengan kesukaan genre action. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif studi kasus. Subjek dalam penelitian yang digunakan adalah orang-orang otaku yang memiliki kesukaan terhadap anime dan manga dengan genre action, yang tidak berada dalam satu komunitas penggemar. Subjek dalam penelitian ini sejumlah 3 orang dengan karakteristik yang sama. Penelitian dilakukan di Kota Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan dengan menggunakan tehnik wawancara dan observasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif dimulai dari tahap penelahaan data, tahap identifikasi dan klasifikasi data, dan tahap evaluasi data. Pengecekan keabsahan data menggunakan member check dan significant other. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh sebuah hasil kesimpulan yaitu kebutuhan psikologis yang selalu dominan muncul pada Otaku dengan kesukaan genre action adalah kebutuhan untuk bertindak otonom (Need of Autonomy) dan kebutuhan untuk memberikan perlawanan (Need of Counteraction).Kebutuhan bertindak otonom (Need of Autonomy) adalah kebutuhan untuk menjadi bebas, melepaskan diri, menghilangkan kekangan, menolak paksan dan larangan serta meninggalkan kegiatan yang ditentukan oleh aturan-aturan. Kebutuhan untuk memberikan perlawanan (Need of Counteraction) adalah kebutuhan untuk menguasai atau memperbaiki kegagalan dengan berjuang lagi untuk mempertahankan harga diri.

    Hubungan Konflik Peran Ganda dan Disiplin Kerja Dengan Prestasi Kerja Pada Wanita Karier yang Sudah Berkeluargadi RSUD Dr. H. Slamet Martodirdjo Kabupaten Pamekasan.

    No full text
    ABSTRAK   Fitrianto, Triyono. 2014. Hubungan Konflik Peran Ganda dan Disiplin Kerja Dengan Prestasi Kerja Pada Wanita Karier yang Sudah Berkeluargadi RSUD Dr. H. Slamet Martodirdjo Kabupaten Pamekasan. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moh. Irtadji, M.Si, (II) Ike Dwiastuti, S.Psi, M.Psi.   Kata kunci: konflik peran ganda, disiplin kerja, prestasi kerja.   Keterlibatan perempuan dalam dunia kerja menimbulkan perubahan peran.Terutama perempuan yang sudah berkeluarga harus menjalankan peran tradisi dan peran transisi.Tuntutan dari kedua peran tersebut seringkali bertentangan dan datang dalam waktu yang bersamaan, sehingga menimbulkan konflik bagi individu yang bersangkutan untuk menentukan peran mana yang harus didahulukan sehingga menimbulkan konflik peran ganda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konflik peran ganda, disiplin kerja dan prestasi kerja pada wanita karier yang sudah berkeluarga. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional serta menganalisis regresi ganda. Subjek penelitian iniberjumlah 38 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala konflik peran ganda, skala disiplin kerja dan skala prestasi kerja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar perawat 52,63% mengalami konflik peran ganda dengan kategori tinggi dan 47,37% dalam kategori rendah. Sebagian besar perawat dengan presentase47,37%  memiliki disiplin kerja tinggi dan 52,63% memiliki disiplin kerja kategori rendah. Sebagian besar perawat dengan presentase60,53%  memiliki prestasi kerja tinggi dan 39,47% memiliki prestasi kerja kategori rendah. Terdapat hubungan yang negatif antara konflik peran ganda dengan prestasi kerja pada wanita karier yang sudah berkeluarga dengan koefisien korelasi -0,486. Terdapat hubungan yang positif antara disiplin kerja dengan prestasi kerja pada wanita karier yang sudah berkeluarga dengan koefisien korelasi 0,474. Terdapat hubungan yang signifikan antara konflik peran ganda dan disiplin kerja dengan prestasi kerja dengan koefisien korelasi sebesar 0,565. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memberi saran (1) diharapkan bagi wanita karier yang sudah berkeluarga agar dapat memerankan peran gandanya dan mampu memanajemen diri dan waktu dengan baik antara tugas sebagai ibu rumah tangga dengan tugasnya sebagai pekerja dengan mengikuti pelatihan tentang cara memanajemen diri dan waktu sehingga tidak terjadi konflik peran ganda. (2) diharapkan pada RSUD Dr. H. Slamet Martodirdjo Kabupaten Pamekasan agar lebih memperhatikan wanita karier untuk memberikan kebijakan atau peraturan yang fleksibel, serta memberikan pelatihan tentang cara memanajemen diri dan waktu sehingga tidak terjadi konflik peran ganda. (3) peneliti selanjutnya disarankan agar menambah subjek dalam cakupan yang lebih luas dan banyak agar keakuratan hasil penelitian jauh lebih baik dan maksimal.

    Pengaruh Kepuasan Hubungan Terhadap Kebohongan dalam Berpacaran pada Mahasiswa Universitas Negeri Malang.

    No full text
    ABSTRAK   Paramitha, Dinda Asa. 2014. Pengaruh Kepuasan Hubungan Terhadap Kebohongan dalam Berpacaran pada Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Tutut Chusniyah, M.Si, (II) Farah Farida Tantiani, S.Psi., M.Psi.   Kata kunci: kepuasan hubungan, kebohongan, mahasiswa, berpacaran.   Masa pacaran merupakan masa mencari kecocokan dan mengenal lebih dekat satu sama lain. Dalam masa ini individu akan melakukan evaluasi secara interpersonal mengenai hubungannya dimana ketika hasil evaluasi interpersonal tersebut positif (hubungan menguntungkan) maka individu akan puas, sedangkan ketika hasilnya negatif (cenderung merugikan) maka individu akan merasa tidak puas. Kepuasan dalam hubungan merupakan hasil evaluasi interpersonal yang positif (menguntungkan) terhadap suatu hubungan yang meliputi aspek perilaku pemeliharaan hubungan, komitmen, kualitas komunikasi, cara penanganan konflik, pengungkapan diri (self-disclosure), perilaku kasih sayang, rasa aman/kepastian dalam hubungan,  peran seseorang dalam suatu hubungan, serta ekuitas (keadilan). Salah satu masalah yang disebabkan karena perasaan tidak puas adalah kebohongan (lying). Kebohongan dalam berpacaran adalah pemberian gambaran, dan pemahaman yang salah kepada pasangan yang meliputi aspek perasaan; pendapat; fakta; serta tindakan individu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) deskripsi tingkat kepuasan hubungan dalam berpacaran pada mahasiswa, (2) deskripsi tingkat berbohong dalam berpacaran pada mahasiswa, serta (3) melihat apakah ada pengaruh tingkat kepuasan hubungan terhadap kebohongan dalam berpacaran. Penelitian kuantitatif ini merupakan jenis penelitian deskriptif kausalitas dengan menggunakan teknik analisis regresi linear sederhana. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 200 mahasiswa Universitas Negeri Malang yang berpacaran, terdiri dari 100 laki-laki dan 100 perempuan dengan usia hubungan minimal 1 tahun lamanya dan diambil dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kepuasan hubungan sebanyak 69 aitem dengan reliabilitas sebesar 0,749, dan skala kebohongan yang terdiri dari 56 aitem dengan reliabilitas sebesar 0,737. Hasil penelitian adalah (1) Tingkat kepuasan hubungan berpacaran Mahasiswa Universitas Negeri Malang berada dalam kategori rendah. (2) Tingkat kebohongan dalam berpacaran pada mahasiswa Universitas Negeri Malang berada dalam kategori rendah. (3) Kepuasan hubungan memiliki pengaruh terhadap kecenderungan melakukan kebohongan dalam hubungan berpacaran. Berdasarkan penelitian ini diharapkan bagi mahasiswa dapat dijadikan bahan instropeksi diri, untuk munculnya kejujuran dan meningkatkan kepuasan hubungan dengan lebih terbuka (self-disclosure) dan mengenal pasangan lebih mendalam. Sedangkan bagi penelitian selanjutnya dapat mengkaji lebih mendalam faktor penyebab individu mengungkapkan kebohongan seperti faktor gender, kepribadian, atau penilaian sosial

    KONTRAK PSIKOLOGIS DI UNIT HUMAN REPRESENTATIVE CENTER PADA PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA WITEL JATIM SELATAN

    No full text
    ABSTRAK   Andayani, Sri. 2014. Kontrak psikologis di Unit Human Representatif Center PT Telekomunikasi Indonesia Witel Jatim Selatan. Skripsi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Tutut Chusniyah, M.Si, (2) Farah Farida Tantiani, S.Psi., M.Psi.   Kata kunci: kontrak psikologis, harapan, karyawan, perusahaan   Kontrak psikologis merupakan kesepakatan tidak tertulis antara individu dan organisasi yang merinci apa yang diharapkan oleh masing-masing pihak untuk diterima dan diberikan kepada pihak lainya (Ivavcevich, 2007). Oleh karena itu kontrak psikologis melibatkan dua pihak karyawan dan pihak pemberi kerja. Pada tahun 2014 PT Telekomunikasi Indonesia mengadakan transformasi organisasi dengan transformasi SDM sebagai tranformasi awal melalui unit human representative center(HR center). Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui isi kontrak psikologis di unit HR center sebagai langkah pencegahan timbulnya masalah, khususnya pada proses transformasi. Pendekatan pengukuran kontrak psikologis dalam penelitian ini adalah pendekatan content oriented.Pendekatan ini dilakukan karena sebelumnya belum pernah dilakukan pengukuran kontrak psikologis di unit HR center pada PT Telekomunikasi Indonesia. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang dilakukan di PT Telekomunikasi Indonesia Witel Jatim Selatan.Pengambilan subjek dengan metode purposive dengan criteria tunggal yaitu subjek adalah karyawan yang bekerja di unit HR center pada lokasi penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara terarah kepada semua subjek. Pengecekan keabsahan penelitian dilakukan dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini adalah gambaran isi kontrak psikologis di unit HR center PT Telkom Witel Jatim Selatan sebagai berikut: (1) Harapan yang pantas diterima karyawan dari perusahaan termasuk dalam monetary reward dan non monetary reward. Sedangkan harapan yang diberikan kepada perusahaan termasuk dalam non monetary reward. (2) Harapan yang pantas diterima perusahaan dari karyawan termasuk dalam non monetary reward. Sedangkan harapan yang diberikan kepada perusahaan termasuk dalam monetary reward. Saran yang dapat diberikan dari penelitiani niadalah: (1) Bagi subjek dapat digunakan untuk lebih menyesuaikan diri dengan apa yang diharapkan perusahaan. (2) Bagi perusahaan sebaiknya perusahaan benar-benarm emanfaatkan forum feedback dalam rangka menyampaikan harapanya yang belum terpenuhi. (3) Bagi peneliti selanjutnya agar meneliti kontrak psikologis dengan mengkombinasikan ketiga pendekatan pengukuran. Pada penelitian yang menggunakan pendekatan content agar mengkombinasikan dengan pendekatan featured. Sehingga diketahui bagaimana bentuk kontrak psikologis secara jelas melalui dimensi lainya.Selain itu penelitian selanjutnya hendaknya meneliti mengenai faktor-faktor apa saja yang membentuk kontrak psikologis di sebuah perusahaan. Hal ini dapat berfungsi sebagai pertimbangan dalam membuat kebijakan

    Sikap Pemuka Agama Terhadap Pemimpin Perempuan di Bidang Politik (Studi Kasus Fenomenologi)

    No full text
    ABSTRAK   Putri, Susan Oktaviani. 2014. Sikap Pemuka Agama Terhadap Pemimpin Perempuan di Bidang Politik (Studi Kasus Fenomenologi). Skripsi, Jurusan Psikologi Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Fattah Hanurawan, M.Si, M.Ed. (II) Ike Dwiastuti, S.Psi, M.Psi.   Kata Kunci: Sikap, Pemuka Agama, Pemimpin Perempuan, Politik.   Sikap merupakan emosi atau afek yang diarahkan oleh seseorang kepada orang lain, benda, atau peristiwa sebagai objek sasaran sifat. Hampir seluruh aspek di dalam kehidupan manusia dapat dijadikan sebagai objek dari sikap. Sikap dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi sikap individu adalah pemuka agama. Pemuka agama merupakan  tokoh penting yang dapat mempengaruhi individu dalam mengambil sikap. Pemimpin perempuan di bidang politik merupakan fenomena yang mengundang pro dan kontra. Hal ini dikarenakan beberapa agama menolak seorang perempuan menjadi pemimpin di bidang politik. Penelitian ini mengkaji bagaimana sikap pemuka agama terhadap adanya fenomena pemimpin perempuan yang di dalam bidang politik. Fenomena pemimpin perempuan menjadi kontroversi di masyarakat karena ada agama-agama tertentu yang menentang. Pemuka agama dianggap sebagai tokoh yang dianggap penting, sehingga sikapnya dijadikan sebagai panutan bagi masyarakat. Sikap pemuka agama dianggap penting karena akan memberikan pengaruh bagi masyarakat Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam sebagai sumber utama, observasi, dan analisis data menggunakan analisis fenomenologi yang mereduksi pernyataan-pernyataan ke dalam tema-tema inti yang menunjukkan esensi pengalaman partisipan terhadap fenomena serta cek anggota partisipan atau member check digunakan dalam pengecekan keabsahan data. Subyek dalam penelitian ini berjumlah 6 orang yang merupakan pemuka agama dari agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Temuan dalam penelitian ini adalah sebagian besar subyek setuju dengan adanya pemimpin perempuan di bidang politik. Namun ada subyek yang kurang setuju dengan adanya pemimpin perempuan di bidang politik. Subyek yang setuju dengan fenomena pemimpin perempuan di bidang politik adalah pemuka agama Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Sedangkan subyek pemuka agama Islam memiliki sikap kurang setuju terhadap pemimpin perempuan di bidang politik. Saran yang diberikan dalam penelitian ini adalah pemuka agama diharapkan bijaksana dalam menyikapi fenomena pemimpin perempuan di bidang politik karena sikap yang diambil oleh pemuka agama akan mempengaruhi masyarakat dan masyarakat diharapkan mampu berpikir kritis dalam melihat sikap pemuka agama terhadap pemimpin perempuan di bidang politik. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan motivasi kepada perempuan dalam berperan di bidang politik. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan untuk lebih detail dalam menjelaskan proses pemilihan subyek hingga proses pengumpulan data berakhir

    0

    full texts

    783

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇