Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
783 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN ETOS KERJA DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DENGAN KINERJA GURU BERSERTIFIKAT DI SD NEGERI EKS RSBI/SBI MALANG
ABSTRAK Lestari, Nurul Fajar P. 2015. Hubungan Etos Kerja dan Pemanfaatan Teknologi Informasi dengan Kinerja Guru Bersertifikat di SD Negeri Eks RSBI/SBI Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si, M.Ed, (II) Farah Farida Tantiani, S.Psi., M.Psi. Kata kunci: Etos kerja, pemanfaatan teknologi informasi, kinerja, guru SD Negeri bersertifikat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan etos kerja dan pemanfaatan teknologi informasi dengan kinerja guru bersertifikat di SD Negeri eks RSBI/SBI Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif korelasional. Data penelitian berupa data primer dari skala etos kerja dan skala pemanfaatan teknologi informasi yang dikembangkan oleh peneliti serta data sekunder dari dokumentasi PKG (Penilaian Kinerja Guru) semester gasal tahun ajaran 2013/2014. Untuk mengukur etos kerja peneliti menggunakan skala etos kerja, untuk pemanfaatan teknologi informasi menggunakan skala pemanfaatan teknologi informasi. Tiap instrumen disebarkan kepada 30 guru SD Negeri bersertifikat yang ada di tiga sekolah yakni SDN Kauman 1 Malang, SDN Tunjungsekar 1 Malang, dan SDN Model Tlogowaru Malang dengan teknik sampel jenuh disebabkan terbatasnya jumlah guru SD Negeri bersertifikat di tiga sekolah tersebut. Karakter subjek penelitian ini adalah: Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah seluruh guru bersertifikat di SDN eks RSBI/SBI Malang. Hasil validitas pada skala etos kerja terdapat 11 aitem dari 24 aitem dengan reliabilitas 0,720. Validitas skala pemanfaatan teknologi informasi 39 aitem dari 48 aitem dengan reliabilitas sebesar 0,958. Berdasar hasil analisa data dari penelitian ini diperoleh 4 kesimpulan: (1) Etos kerja guru bersertifikat di SD Negeri eks RSBI/SBI Malang umumnya berada dalam klasifikasi tinggi sebesar 56,67%. (2) Pemanfaatan teknologi informasi guru bersertifikat di SD Negeri eks RSBI/SBI Malang umumnya berada dalam klasifikasi rendah sebesar 56,67%. (3) Kinerja guru bersertifikat di SD Negeri eks RSBI/SBI Malang berada dalam klasifikasi tinggi 73,33%. (4) Tidak ada hubungan antara etos kerja dan pemanfaatan teknologi informasi dengan kinerja guru bersertifikat di SD Negeri eks RSBI/SBI Malang. Saran pada peneliti selanjutnya yang membahas tentang etos kerja, pemanfaatan teknologi informasi dan kinerja pada guru SD Negeri bersertifikat diharapkan untuk lebih memperluas kajian terkait etos kerja, pemanfaatan teknologi informasi dan kinerja guru, bisa meneliti subjek dengan jumlah lebih besar dan dengan variabel-variabel lain yang belum diteliti, misalnya meneliti perbandingan etos kerja guru berdasarkan usia, gender, tingkat pendidikan dan pengalaman bekerja, meneliti hubungan etos kerja islami dengan kinerja guru Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT
EFEKTIFITAS VIDEO MEMBACA EKSPRESI WAJAH DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL EMOSI PADA ANAK AUTIS
ABSTRAK Pradipta, R. Karina. 2014.Efektifitas Video Membaca Ekspresi Wajah dalam Meningkatkan Kemampuan Mengenal Emosi Pada Anak Autis. Skripsi. Jurusan Psikologi. Fakultas Pendidikan Psikologi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Diyah Sulistiyorini, S.Psi, M.Psi, (2) Farah Farida Tantiani, S.Psi, M.Psi. Kata kunci: kemampuan mengenal emosi, anak dengan autisme, video membaca ekspresi wajah Autisme merupakan salah satu bentuk gangguan tumbuh kembang, berupa sekumpulan gejala akibat adanya kelainan syaraf-syaraf tertentu yang menyebabkan fungsi otak tidak bekerja secara normal sehingga mempengaruhi tumbuh kembang, kemampuan komunikasi, dan kemampuan interaksi sosial seseorang. Secara khas gangguan yang termasuk dalam kategori ini ditandai dengan distorsi perkembangan fungsi psikologis dasar majemuk yang meliputi perkembangan ketrampilan sosial dan berbahasa, seperti perhatian, persepsi, daya nilai terhadap realitas, dan gerakan-gerakan motorik. Video Membaca Ekspresi Wajah adalah sebuah video yang berisikan sepuluh gambar ekspresi wajah yang berbeda-beda. Ekspresi yang digunakan adalah marah, sedih, bahagia/senang, takut, bersalah, bersemangat, terkejut, lelah, bingung, dan bosan. Pada setiap dibawah gambar wajah yang ditunjukkan akan tampil pilihan jenis emosi yang mungkin beserta jawabannya. Video ini dirancang dengan tujuan dapat meningkatkan kemampuan mengenal emosi. Yang dimaksud dengan mengenal emosi dalam penelitian ini adalah anak mampu membedakan jenis emosi sekalipun dari ekspresi wajah yang berbeda, serta mampu melabeli setiap emosi yang muncul baik dalam diri sendiri maupun orang lain. Jenis-jenis emosi yang diharapkan mampu mengenali kesepuluh emosi yang ditunjukkan dalam video tersebut. Tujuandaripenelitianiniadalahuntuk melihat efektifitas media Video Membaca Ekspresi Wajah dan meningkatkan kemampuan mengenal emosi pada anak dengan autisme. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen kuasi. Desain penelitian eksperimen kuasi dipilih karena dalam pemilihan subyek tidak dilakukan randomisasi. Jumlah subyek dalam penilitian ini anak n kecil yakni n =3. Subyek yang telah dipilih selanjutnya diberi pretest¸perlakuan, kemudian posttest, Hasil pretest dan posttest yang didapat kemudian dilakukan uji statistic nonparametrik Wilcoxon untuk melihat perubahan sebelum dansesudah perlakuan serta melihat keefektifan media. Hasil uji statistic didapatkan nilai p = 0.102 dengan signifikansi
Hubungan Persepsi Beban Kerja Dengan Kinerja Karyawan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Cabang Malang
ABSTRAK Hindrasiwi, Lini. 2015. Hubungan Persepsi Beban Kerja dengan Kinerja Karyawan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Cabang Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Fattah Hidayat, S.Psi., M.Si (II) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi Kata Kunci: persepsi beban kerja, kinerja karyawan, PT. SumberAlfariaTrijayaTbk, Cabang Malang. Penelitian ini didasari oleh adanya fakta di lapangan,dalam melakukan pelayanan kepada pelanggan, Alfamart memiliki standar pelayanan yang harus dilakukan oleh seluruh karyawan took Alfamart baik kasir atau pramuniaga. Namun kenyataannya masih ada karyawan yang tidak melakukan standar pelayanan yang di tetapkan oleh perusahaan, tidak menyapa pelanggan yang datang, dan tidak memiliki product knowledge yang baik. Selain itu kemunduran kinerja karyawan juga dapat dilihat dari banyaknya karyawan yang absen dari tugasnya dan meningkatnya turnover. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi beban kerja dengan kinerja karyawan PT. SumberAlfariaTrijaya Tbk, Cabang Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif dan korelasional. Populasi sebanyak 342 karyawan dengan jumlah sampel 172 karyawan. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling insidental. Menggunakan instrumen penelitian skala persepsi beban kerja dengan reliabilitas 0,944 dan data sekunder berupa penilaian kinerja karyawan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Cabang Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karyawan yang memiliki persepsi beban kerja tinggi 52% dan karyawan yang memiliki persepsi beban kerja rendah 48%. Karyawan yang memiliki kinerja tinggi 47% dan karyawan yang memiliki kinerja rendah 53%. Terdapat hubungan negatif signifikan antara persepsi beban kerja dengan kinerja karyawan dengan angka korelasi -0,650 dan
Hubungan Antara Kemampuan Penyesuaian Diri terhadap Sistem Kredit Semester (SKS) dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Batu
ABSTRAK Hardiyanti, Rahmania. 2015. Hubungan Antara Kemampuan Penyesuaian Diri terhadap Sistem Kredit Semester (SKS) dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Batu. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sudjiono, S.Pd., M.Si, (II) Ninik Setiyowati, S.Psi., M.Psi. Kata Kunci: kemampuan penyesuaian diri, motivasi belajar, SKS, siswa kelas X Motivasi belajar merupakan hal yang penting dalam aktivitas belajar mengajar karena mempunyai fungsi untuk mendorong, menggerakan, dan mengarahkan aktivitas-aktivitas siswa dalam belajar sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal. Siswa tahun pertama pada jenjang SMA yang menggunakan Sistem Kredit Semester (SKS) dihadapkan pada perubahan-perubahan dan tuntutan-tuntutan sekolah yang sangat berbeda dari jenjang SMP. Kemampuan siswa untuk menyesuaiakan diri terhadap penerapan Sistem Kredit Semester (SKS) berpengaruh pada keadaan siswa untuk memberikan respon pada setiap keadaan yang dihadapi.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) tingkat kemampuan penyesuaian diri terhadap Sistem Kredit Semester (SKS) siswa kelas X SMA Negeri 1 Batu, (2) tingkat motivasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Batu, serta (3) melihat apakah ada hubungan antara kemampuan penyesuaian diri terhadap Sistem Kredit Semester (SKS) dengan motivasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Batu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Batu. Sampel penelitian berjumlah 153 siswa yang diperoleh dari teknik cluster random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kemampuan penyesuaian diri sebanyak 46 aitem dengan reliabilitas 0,942 dan skala motivasi belajar sebanyak 30 aitem dengan reliabilitas sebesar 0,878.Hasil penelitian menunjukkan (1) tingkat kemampuan penyesuaian diri terhadap Sistem Kredit Semester (SKS) siswa kelas X SMA Negeri 1 Batu berada dalam kategori tinggi, (2) tingkat motivasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Batu berada dalam kategori tinggi, dan (3) ada hubungan positif antara kemampuan penyesuaian diri terhadap Sistem Kredit Semester (SKS) dengan motivasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Batu sebesar 0,653. Siswa diharapkan tetap mengoptimalkan kemampuan penyesuaian diri terhadap Sistem Kredit Semester (SKS) agar mampu menghadapi keadaan sulit di jenjang pendidikan selanjutnya. Pihak sekolah diharapkan terus mengoptimalkan penerapan Sistem Kredit Semester (SKS) yang masih baru diterapkan di Kota Batu. Bagi peneliti selanjutnya disarankan melakukan penelitian di SMP atau SMA kategori standar, menggunakan metode penelitian lainnya seperti penelitian eksperimen atau kualitatif, dan menambahkan variabel penelitian
POLA INTERAKSI SOSIAL PADA ODHA HOMOSEKSUAL DI KOTA MALANG
ABSTRAK Al Farizi, Rahmat Khafid. 2015. Pola Interaksi Sosial Pada ODHA Homoseksual di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Diyah Sulistiyorini, S.Psi, M.Psi, (II) Ike Dwiastuti, S.Psi, M.Psi. Kata Kunci: Interaksionisme Simbolik, orang dengan HIV AIDS, homoseksual. Interaksionisme Simbolik adalah pemaknaan hubungan antara individu dengan individu lain dengan menggunakan simbol. Simbol-simbol ini biasanya dimaknai dari makna-makna yang telah diciptakan dan saling dimengerti antara individu itu sendiri. Dalam penelitian ini fokus penelitiannya yang dimaksud adalah meliputi cara pandang ODHA Homoseksual terhadap masyarakat sekitar terkait interaksi sosial yang mereka alami. Bagaimana adaptasi ODHA Homoseksual yang aktif maupun pasif dalam melakukan interaksi dengan masyarakat.Proses penerimaaan masyarakat sekitar terhadap ODHA Homoseksual. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana ODHA Homoseksual menunjukkan interaksinya kepada sesamanya serta kepada masyarakat umum khususnya interaksi secara simbolik.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Fenomenologi Dimana banyak fenomena eksistensi ODHA khususnya Homoseksual belakangan ini. seperti pada munculnya film Coklat Stroberi, Arisan, Pesan dari Surga. Yang pada dasarnya komunitas-komunitas homoseksual ingin menunjukkan eksistensinya dan ingin mendapat hak yang serupa, khususnya pada ODHA Homoseksual. Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan metode pengumpulan data yaitu wawancara, observasi kepada subjek dan untuk keabsahan datanya peneliti menggunakan triangulasi. Dimana peneliti membandingkan data yang diperoleh dari subjek dengan data yang diperoleh dari significant others apakah sudah sesuai atau belum. Subjek yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini berjumlah 4 orang, semuanya berstatus HIV AIDS positif di Malang dan significant other juga 4 orang, yang masing - masing dipilih oleh peneliti.Penelitian ini mengungkapkan bahwa dilema psikologis yang dialami oleh ODHA Homoseksual paling jelas adalah perasaan tidak aman karena takut jika orang lain mengetahui kondisi mereka sebagai Homoseksual sekaligus HIV AIDS positif dan tidak bisa menerima kondisi tersebut. Keluarga pun ditakutkan menolak kehadiran mereka karena penyimpangan hal ini. mengenai pengakuan status positif HIV, ODHA Homoseksual dibagi menjadi dua yakni ODHA Homoseksual komunitas dan non komunitas. ODHA Homoseksual komunitas lebih cenderung terbuka terkait statusnya, karena didalam komunitas terdapat struktur orang-orang yang harus tau identitas ODHA Homoseksual komunitas secara menyeluruh. Sedangkan untuk ODHA Homoseksual non komunitas hanya dirinya sendiri dan orang-orang yang dipercaya serta kalangan medis saja yang mengetahui tentang statusnya sebagai HIV AIDS positif. Interaksionisme simbolik yang muncul lebih kepada bagaimana subjek memaknai makna-makna yang telah ada dan mengartikannya sehingga terbentuk komunikasi non verbal yang dapat menghubungkan sesama Homoseksual khususnya ODHA. Sedangkan ketika berkumpul dengan masyarakat umum, ODHA Homoseksual cenderung menutup dirinya. Peran keluarga dan orang terdekat sangat penting untuk pembentukan identitas diri. Saran untuk ODHA Homoseksual adalah semakin terbuka dengan identitas dan statusnya sebagai Homoseksual maupun sebagai Orang Dengan HIV AIDS. Terlebih lagi untuk ODHA Homoseksual non komunitas terkait penanganan dampak dan penyebaran HIV/AIDS sehingga pengawasannya lebih mudah. Karena pada dasarnya pada masa sekarang ini masyarakat khususnya yang telah teredukasi bagaimana penyebab, penularan, serta penanggulangan HIV/AIDS menerima kehadiran ODHA maupun kaum homoseksual di sekitar mereka. Hanya saja perlu sosialisasi dan edukasi yang lebih dari pemerintah dalam hal ini dinas sosial, rumah sakit ataupun puskesmas pendamping kepada masyarakat khususnya ODHA Homoseksual itu sendiri
hubungan dukungan sosiual dan motivasi kerja dengan burnout pada perawat rumah sakit ra. basoeni mojokerto
ABSTRAK Suparman, Cita Widiyani. 2015. Hubungan Dukungan Sosial Dan Motivasi Kerja Dengan Burnout Pada Perawat Rumah Sakit RA.Basoeni Mojokerto. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Moh. Irtadji, M.Si (II) Gamma Rahmita Ureka Hakim, S.Psi, M.Psi Kata kunci : dukungan sosial, motivasi kerja, burnout. Burnout merupakan sindrom kelelahan emosional, depersonalisasi, dan berkurangnya penghargaan terhadap diri sendiri, yang secara spesifik dihubungkan dengan stres yang kronis dari hari ke hari dan ditandai dengan kelelahan fisik, emosional, dan mental, hal tersebut sering dijumpai pada orang yang terlibat pada situasi atau pekerjaan yang menuntut keterlibatan emosional. Banyak variabel yang mempengaruhi terjadinya burnout, yang termasuk diantaranya adalah rendahnya dukungan sosial serta menurunnya motivasi kerja.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan motivasi kerja dengan burnout pada perawat rumah sakit RA.Basoeni Mojokerto. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik proportionate random sampling. Subjek penelitian berjumlah 100 orang perawat. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala dukungan sosial, skala motivasi kerja, dan skala burnout. Analisis deskriptif data dengan menggunakan skor-T yang dikategorikan dalam tinggi dan rendah, kemudian untuk uji hipotesis menggunakan analisis korelasi product moment pearson dan korelasi berganda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat 61% memiliki dukungan sosial dalam kategori rendah dan 39% perawat dalam kategori tinggi. Sebagian besar perawat 60% memiliki motivasi kerja dalam kategori rendah dan 40% perawat dalam kategori tinggi. Jumlah perawat yang mengalami burnout dalam kategori tinggi sebanyak 61% sedangkan 39% perawat mengalami burnout dalam kategori yang rendah.Terdapat hubungan negatif signifikan sebesar -0,649 antara dukungan sosial dengan burnout pada perawat rumah sakit RA.Basoeni Mojokerto. Terdapat hubungan negatif signifikan sebesar -0,539 antara motivasi kerja dengan burnout pada perawat rumah sakit RA.Basoeni Mojokerto. Terdapat hubungan positif sebesar 0,862 antara dukungan sosial dan motivasi kerja dengan burnout pada perawat rumah sakit RA.Basoeni Mojokerto. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa cukup banyak perawat rumah sakit RA.Basoeni Mojokerto yang memiliki dukungan sosial dan motivasi kerja dalam kategori rendah namun ada cukup banyak perawat yang mengalami burnout dalam kategori tinggi. Ada hubungan negatif antara dukungan sosial dengan burnout serta motivasi kerja dengan burnout pada perawat rumah sakit RA.Basoeni Mojokerto. Ada hubungan positif antara dukungan sosial dan motivasi kerja dengan burnout pada perawat rumah sakit RA.Basoeni Mojokert
Hubungan antara Distress dengan Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa Akhir dalam Menyusun Skripsi Angkatan 2008-2011 Fakultas Pendidikan Psikologi UM
ABSTRAK Permana, Yudha. 2015. Hubungan antara Distress dengan Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa Akhir dalam Menyusun Skripsi Angkatan 2008-2011 Fakultas Pendidikan Psikologi UM. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Drs. Fattah Hidayat, S.Psi., S.E., M.Si, (II) Gamma Rahmita Ureka Hakim, S.Psi., M.Psi. Kata Kunci: Distress, Prokrastinasi Akademik Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara distress dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa akhir dalam menyusun skripsi angkatan 2008-2011 Fakultas Pendidikan Psikologi UM. Distress merupakan respon secara emosional, kognitif, dan fisiologis yang diakibatkan ketidakberhasilan dalam menghadapi stres yang bersifat merusak dan merugikan diri sendiri. Prokrastinasi akademik merupakan perilaku menunda-nunda dalam mengerjakan tugas akademik yang dilakukan berulang-ulang secara sengaja dan menimbulkan perasaan tidak nyaman. Penelitian ini menggunakan rancangan populatif deskriptif korelasional. Subjek penelitian adalah 76 mahasiswa akhir yang sedang mengerjakan skripsi di Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pengambilan data penelitian menggunakan skala distress dan skala prokrastinasi akademik. Data dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan skor T dan dianalisis dengan korelasi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan korelasi yang signifikan dalam dua variabel. Dengan hasil secara umum tingkat distress subjek penelitian berada pada kategori rendah yaitu dengan rincian dari tujuh puluh enam mahasiswa pada sampel penelitian, terdapat tiga puluh dua mahasiswa mengalami tingkat distress tinggi dan empat puluh empat mahasiswa mengalami tingkat distress rendah. Secara umum tingkat prokrastinasi akademik subjek penelitian berada pada kategori rendah yaitu dengan rincian dari tujuh puluh enam mahasiswa terdapat tiga puluh tujuh mahasiswa melakukan prokrastinasi akademik tinggi dan tiga puluh sembilan mahasiswa melakukan prokrastinasi akademik rendah. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara distress dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa akhir dalam menyusun skripsi sebesar 0,569 dengan Nilai Sig (0,000
Hubungan Komunikasi Antarpribadi dengan Kepuasan Pernikahan.
ABSTRAK Apriliyani, Lilik. 2015. Hubungan Komunikasi Antarpribadi dengan Kepuasan Pernikahan. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Sri Weni Utami, M.Si., (II) Ike Dwiastuti, S.Psi, M.Psi. Kata Kunci: komunikasi antarpribadi, kepuasan pernikahan Tujuan dari suatu pernikahan hakikatnya adalah untuk mencapai suatu kebahagiaan. Kebahagiaan tersebut dapat tercapai apabila dalam pernikahan terdapat kepuasan pernikahan. Salah satu yang masalah yang mempengaruhi kepuasan pernikahan adalah bagaimana kemampuan kedua belah pihak yaitu suami dan istri dalam berkomunikasi antarpribadi. Kualifikasi untuk melakukan komunikasi antarpribadi yang baik yaitu terdiri dari kriteria-kriteria terbuka, empati, dukungan, positif dan kesamaan. Sedangkan kualifikasi untuk memperoleh kepuasan pernikahan adalah sejauh mana kebutuhan material, seksual, dan psikologis terpenuhi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi antarpribadi dengan kepuasan pernikahan di Kecamatan Klojen, Malang, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan termasuk jenis penelitian deskriptif dan korelasional. Subjek penelitian adalah pasangan suami istri dengan usia pernikahan 5-10 tahun di Kecamatan Klojen Kota Malang. Penentuan sampel penelitian menggunakan teknik area sampling dan terpilih Kelurahan Gading Kasri dan Kelurahan Kasin sebagai lokasi penelitian di Kecamatan Klojen, dengan jumlah sampel 100 orang. Instrumen yang digunakan berupa skala komunikasi antarpribadi dengan 28 antem valid dan reliabilitas sebesar 0,872. Sedangkan skala kepuasan pernikahandengan 36 aitem valid dan reliabilitas sebesar 0,889. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis korelasi product moment. Berdasarkan hasil analisis, dalam penelitian ini dihasilkan tiga kesimpulan yaitu (1) sebagian besar komunikasi antarpribadi pada pernikahan usia 5-10 tahun di Kecamatan Klojen berada pada kategori rendah yaitu sebanyak 53% (2) sebagian besar kepuasan pernikahan pada pernikahan usia 5-10 tahun di Kecamatan Klojen berada pada kategori rendah yaitu sebanyak 58% (3) terdapat hubungan positif antara komunikasi antarpribadi dengan kepuasan pernikahan (rxy = 0,705, sig 0,000 < 0,05). Berdasarkan penelitian ini, disarankan kepada ilmuwan psikologi untuk melakukan evaluasi terhadap konsep kepuasan pernikahan karena terdapat unsur budaya yang ikut mempengaruhi seperti hubungan dengan keluarga besar. Kepada suami dan istri dengan usia pernikahan 5-10 tahun untuk dapat meningkatkan kemampuan komunikasi antarpribadi dikarenakan penting untuk mencapai kepuasan pernikahan. Kemuadian, bagi peneliti selanjutnya yang tertarik dengan tema ini, disarankan untuk menambahkan variabel lain seperti hubungan dengan mertua, kehadiran anak dalam pernikahan, keyakinan beragama, latar belakang keluarga, usia saat menikah, karakter kepribadian dan mencari perbedaan kepuasan pernikahan yang dirasakan oleh suami dan istri
HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN KONFORMITAS DENGAN INTENSI PERILAKU SEKSUAL BERISIKO PADA REMAJA SISWA SMA
ABSTRAK Armadani, Riyan Rahayu. 2015. Hubungan Konsep Diri dan Konformitas dengan Intensi Perilaku Seksual Berisiko pada Remaja Siswa SMA. Skripsi. Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moh. Irtadji, M.Si, (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi, M.PSi Kata kunci : konsep diri, konformitas, intensi perilaku seksual beresiko, remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan konformitas dengan intensi perilaku seksual berisiko pada remaja. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif dan analisis korelasi poroduct moment pearson untuk menganalisis korelasi antara varaiabel X1 dengan Y, kemudian variabel X2 dengan Y, serta menggunakan analisis korelasi ganda untuk menganalisis korelasi antara variabel X1, X2, dengan Y. Sampel yang di ambil adalah siswa kelas XI SMA Islam Al-Maarif Singosari sebanyak 130 orang dengan teknik simple random sampling. Variabel independen penelitian ini adalah konsep diri dan konformitas, serta variabel dependen yaitu intensi perilaku seksual berisiko. Intrumen yang digunakan adalah skala konsep diri (α=0,876) dengan 29 aitem, skala konformitasi (α=0,890) degan 35 aitem dan skala intensi perilaku seksual berisiko (α=0,765) dengan 28 aitem. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) terdapat hubungan negatif antara konsep diri dengan intensi perilaku seksual berisiko pada remaja dengan r hitung sebesar -0,332 dan α=0,000 untuk konsep diri dan α=0,000 untuk intensi perilaku seksual beresiko,sig3,07). Saran yang diberikan adalah: agar remaja lebih memahami diri dan menghargai diri sendiri, agar orang tua tidak tabu lagi memberikan pendidikan seksual bagi anaknya, dan agar guru dan sekolah bekerjasama untuk memberikan pelatihan tentang kesehatan reproduksi remaja dengan ditambhkan muatan spriritual, sehingga dapat menjadikan generasi penerus bangsa yang berkualitas dan produkti
Kecemasan Warga Binaan Pemasyarakatan Pada Saat Tes Darah Voluntary Counseling and Testing di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang
ABSTRAK Puspitasari, Fiolita I. Kecemasan Warga Binaan Pemasyarakatan Pada Saat Tes Darah Voluntary Counseling and Testing di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si, M.Ed, (II) Gamma Rahmita Ureka Hakim, S.Psi., M.Psi. Kata kunci: kecemasan dan tes darah voluntary counseling and testing. Kecemasan dapat dicirikan secara fisik, behavioral, dan juga psikologis. Hal yang khas sering muncul dalam kasus kecemasan dalam tes darah voluntary counseling and testing (VCT) pada warga binaan pemasyarakatan adalah bahwa warga binaan pemasyarakatan biasanya cenderung takut akan tes darah yang akan dilakukan. Warga binaan pemasyarakatan yang mengalami kecemasan pada saat pengambilan darah umumnya takut akan jarum suntik yang akan digunakan untuk pengambilan darah dan warna darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecemasan,bentuk kecemasan, dan dampak kecemasan pada saat tes darah voluntary counseling and testing (VCT). Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Subjek penelitian adalah warga binaan pemasyarakatan yang mengalami kecemasan pada saat tes darah voluntary counseling and testing(VCT) dengan menggunakan kuisioner, observasi, dan juga teknik wawancara mendalam sebagai alat pengumpul data. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis tematik.Validitas yang digunakan adalah validitas interpretif. Hasil penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa seluruh subjek mengalami kecemasan dalam taraf yang berat dampak yang ditimbulkan adalah susah tidur, muntah, diare, tangan bengkak, serta sering terbangun dari tidur ketika malam hari. Dua dari ketiga subjek melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan. Maka dari itu dengan adanya penelitian ini diharapkan mengurangi timbulnya kecemasan yang berlebihan ketika tes darah dilakukan dalam rangkaian voluntary counseling and testing (VCT) yang dirasakan oleh warga binaan pemasyarakatan