Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
783 research outputs found
Sort by
Perbedaan Penerimaan terhadap Kebohongan pada Mahasiswa
ABSTRAK Kebohongan adalah bentuk komunikasi yang sering terjadi yang merupakan bentuk tipu daya. Tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, berbohong juga dapat dilakukan oleh anak sedari usia 2 tahun dalam menjalin komunikasinya. Komunikasi yang tidak benar atau berbohong dapat memicu beragam permasalahan tergantung dari bagaimana individu menerima kebohongan orang lain. Selain itu, tahap perkembangan diri dan lingkup sosial pun akan mempunyai peran dalam memberikan toleransi pada kebohongan. Penerimaan terhadap kebohongan dapat dikonseptualisasikan sebagai evaluasi umum individu terhadap berbohong atau tipu daya. Sebagai dimensi evaluatif, individu mendefinisikannya sebagai baik-buruk, positif-negatif, diinginkan-tidak diinginkan, atau dapat diterima-tidak dapat diterima, dan sebagainya. Dimensi evaluatif berkaitan dengan definisi sikap dimana sikap merupakan evaluasi individu terhadap objek sikap. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif dan komparatif dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan penerimaan terhadap kebohongan pada mahasiswa. Hasil penelitian ini adalah remaja berada pada kategori tinggi penerimaan terhadap kebohongan, yaitu 36% pada kategori rendah dan 64% pada kategori tinggi. Penerimaan terhadap kebohongan kategori dewasa awal adalah tinggi, yaitu 36% pada kategori rendah, 62% kategori tinggi, dan 2% kategori sangat tinggi. Uji hipotesis menunjukkan tidak ada perbedaan penerimaan terhadap kebohongan pada remaja dan dewasa awal di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya yang dapat dilihat dari nilai signifikansi 0,672 ( p > 0,05 ). Saran dari hasil penelitian ini, individu dapat menelaah lebih jauh pengambilan keputusannya terhadap suatu hal, dalam hal ini adalah penerimaan terhadap kebohongan orang lain. Bagi praktisi psikologi, agar dapat menelaah lebih jauh kompleksitas didalam diri individu yang mempengaruhi individu dalam menyikapi kebohongan. Kemudian saran kepada peneliti lain agar dapat mengembangkan penelitian terpaut penerimaan terhadap kebohongan dengan variabel maupun sampel yang lebih beragam
Life-Story Transgender Menggunakan Perspektif Individual Alfred Adler
ABSTRAK Pratiwi, Monica. 2015. Life-Story Transgender Menggunakan Perspektif Individual Alfred Adler.Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. Tutut Chusniyah, M.Si (II) Farah Farida Tantiani, S.psi, M.Psi. Kata Kunci:Transgender, Perspektif Individual Alfred Adler. Penelitian ini membahas tentang life-story transgender, mengungkap bagaimana kehidupan pribadi dan social subjek, lingkungan tempat tinggal, dan juga gaya hidup subjek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui terbentuknya transgender dengan menggunakan perspektif individual teori Alfred Adler dimana dari ketujuh pokok dalam teori tersebut dapat melihat bagaimana dinamika kehidupan para subjek. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang secara spesifik lebih diarahkan pada penggunaan metode studi kasus. Subjek penlitian terdiri dari dua orang yaitu Rowitha dan Angie yang merupakan mahasiswa disebuah perguruan tinggi negeri Kota Malang. Pengambilan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakanan alisis tematik. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, kedua subjek memiliki kesamaan dalam masa kanak-kanak, yang sudah merasa berbeda semenjak kecil, kemudian dengan mereka lebih senang bergaul dengan perempuan, selain itu mereka lebih tertarik dengan barang-barang maupun pernak-pernik perempuan. Hal ini semakin berkembang ketika mereka mulai tinggal secara terpisah dengan orang tuanya, dengan pergaulan yang bebas tanpa ada control dari orang tua secara langsung menyebabkan mereka semakin mudah untuk mengekspresikan dirinya. Kedua, teori perspektif individual Alfred Adler dapat digunakan untuk mengungkap bagaimana terbentuknya transgender dan melihat dinamika kehidupan subjek. Saran yang diajukan berdasarkan penelitian yang dilakukan baik bagi peneliti selanjutnya dan bagi para transgender yaitu, bagi peneliti dianjurkan melakukan observasi yang lebih mendetail agar hal – hal yang tidak dapat terungkap melalui proses wawancara dapat diperoleh dengan lebih baik. Saran yang dianjurkan untuk para pelaku transgender yaitu, melakukan terapi perilaku bagi subjek yang bertujuan untuk memahami dan memodifikasi perilaku subjek, kemudian melakukan psikoterapi dengan pendekatan agama. ABSTRACT Pratiwi, Monica. 2015. Transgender’s Life Story use Alfred Adler’s Individual Perspective. Essay, Psychology Program, Faculty of Psychology, Malang State University, Advicer: (I) DrDr. TututChusniyah, M.Si (II) Farah Farida Tantiani, S.psi, M.Psi. Keywords: Transgender, Alfred Adler Individual Perspectives. This study discusses the life-story transgender, reveals how personal and social life of the subject, neighbourhood, and also subject's lifestyle. The aim of this study was to determine transgender formation, using Alfred Adler's theory of individual perspective, which, those seven points in the theory can explained the life dynamics of the subjects. This research is a qualitative research. Which is directed specifically at the use of the case study method. The subjects consists of two persons namely Rowitha and Angie, who are students of state universities in Malang. The data is collected using observation, interviews, and documentation. Based on the results of research carried out can be concluded as follows: First, both subjects have in common in childhood, they were both already feel different since early childhood. Supported by the behavior of the subjects who prefer to hang out with women, besides they are more interested in Women's goods and trinkets . This feeling is growing more when they start to live separately from their parents. Social Intercouse without control of parents directly cause them easier to express themself. Second, the theory of Alfred Adler individual perspective can be used to uncover how the formation of transgender and look at the dynamics of the subject's life. Suggestion that can be used based on this research or for the next research and for the transgenders is: for the research is recommended doing more thoroughly observation so it can obtain the things that cant be revealed with interview better. The recommended suggestion for the Transgender is, doing behavior therapy for the subject, the purpose is for understanding and modifying the subject’s behavious, and then doing psychotherapy with religion approac
Konsep Diri Muslimah Berhijab Penyalahguna NAPZA
ABSTRAK Priadenata, Mochammad Fajar. 2015. Konsep Diri Muslimah Berhijab Penyalahguna NAPZA. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed., (II) Indah Yasminum Suhanti, S.Psi., M.Psi Kata Kunci : konsep diri, muslimah berhijab, penyalahguna NAPZA Kasus penyalahgunaan NAPZA di Indonesia tidak memandang status, gender, ras, agama, maupun usia. Muslimah di Indonesia juga tidak lepas dari kasus penyalahgunaan NAPZA. Muslimah berhijab yang menyalahgunakan NAPZA cenderung memandang dirinya tidak baik. Konsep diri muslimah tersebut berpengaruh pada perilakunya dalam menyalahgunakan NAPZA. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep diri muslimah berhijab penyalahguna NAPZA dengan memahami perilaku beserta apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam ilmu psikologi dengan model studi kasus. Partisipan merupakan tiga orang WBP di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Wanita Malang. Ketiganya merupakan muslimah berhijab dengan kasus penyalahgunaan NAPZA. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara semi-terstruktur dan observasi tidak terstruktur. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data model interaktif dengan tahapan pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan menggunakan validasi responden, triangulasi, dan memeriksa data secara berulang-ulang. Penelitian ini mengungkapkan bahwa konsep diri muslimah berhijab penyalahguna NAPZA cenderung negatif. Partisipan penelitian merasa dirinya adalah seorang muslimah yang kurang baik karena telah menyalahgunakan NAPZA. Konsep diri negatif tersebut berasal dari latar belakang keluarga yang kurang harmonis dan berbagai pengalaman yang dialami partisipan. Tetapi setelah memasuki lembaga pemasyarakatan, konsep diri partisipan berubah menjadi lebih positif. Hal tersebut datang dari harapan dan pandangan positif partisipan akan kehidupan yang lebih baik bersama keluarga dan anak-anak mereka. Saran yang diberikan kepada partisipan dalam penelitian ini adalah agar mereka bisa menerima keadaan dan menjadikan pengalaman masuk lembaga pemasyarakatan sebagai pembelajaran bagi partisipan untuk bisa mengontrol diri. Keluarga juga harus memberikan dukungan agar partisipan bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Masyarakat diharapkan bisa menjaga, mengawasi dan memberikan perhatian kepada keluarga dan orang-orang di sekitar mereka agar tidak sampai terjerumus pada masalah penyalahgunaan NAPZA
Hubungan Konformitas dengan Motivasi Berprestasi Remaja Anggota Geng Motor Anak Sekolah di Kota Mojokerto.
ABSTRAK Septianingrum, Fenty Dwi. 2015. Hubungan Konformitas dengan Motivasi Berprestasi Remaja Anggota Geng Motor Anak Sekolah di Kota Mojokerto. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sudjiono, S.Pd., M.Si, (II) Drs. Mohomammad Bisri M.Si. Kata kunci: konformitas, motivasi berprestasi, remaja anggota geng motor Masa remaja adalah sebagai masa transisi atau masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Remaja harus memiliki tanggung jawab untuk masa depannya. Remaja sebagai pelajar berkewajiban untuk menuntut ilmu dan harus mempunyai motivasi berprestasi di sekolah. Motivasi berprestasi adalah keinginan individu untuk mencapai kesuksesan dengan usaha dan kemampuan yang dimiliki. Remaja sering berkumpul dengan teman sebayanya dan berkonformitas. Konformitas adalah perubahan persepsi, keyakinan dan perilaku individu menyesuaikan diri dengan kelompok dan mengikuti peraturan dalam kelompok tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat (a) konformitas remaja anggota geng motor di kota Mojokerto, (b) Motivasi berprestasi remaja anggota geng motor di kota Mojokerto, (c) Hubungan antara konformitas dan motivasi berprestasi remaja anggota geng motor di kota Mojokerto. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif korelasonal.Pengambilan data penelitian menggunakan skala Likert untuk mengukur konformitas dan motivasi berprestasi. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja anggota geng motor di Mojokerto yang mempunyai karakteristik (a) jenis kelamin laki-laki, (b) usia 15-18 tahun, (b) masih bersekolah Sampel dalam penelitian berjumlah 60. Untuk mengukur validitas menggunakan rumus product moment, dan untuk mengukur reliabilitas menggunakan cronbach alpha hasilnya skala konformitas yaitu 0,743 dan tingkat skala motivasi berprestasi yaitu 0,742. Untuk uji korelasional menggunakan rumus product moment jika
Hubungan Dukungan Sosial dan Konsep Diri dengan Kecemasan Menarche pada Siswi Kelas VII di SMPN 12 Malang
ABSTRAK Suwitri, Zabrina Intan. 2015. Hubungan Dukungan Sosial dan Konsep Diri dengan Kecemasan Menarche pada Siswi Kelas VII di SMPN 12 Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Moh. Irtadji, M.Si, (II) Farah Farida Tantiani, S.Psi, M.Psi. Kata Kunci: dukungan sosial, konsep diri, kecemasan, dan menarche. Menarche adalah peristiwa ketika seorang anak perempuan mengalami haid atau menstruasi untuk pertama kali. Hal ini dapat menimbulkan kecemasan pada sebagian remaja. Dukungan sosial dan konsep diri menjadi hal penting dalam kaitannya dengan kecemasan menarche. Dukungan sosial dapat memgurangi kecemasan remaja yang sedang mengalami menarche karena dengan adanya dukungan dari orang-orang disekelilingnya remaja akan merasa dirinya dicintai dan diperhatikan. Selain itu, konsep diri juga berpengaruh terhadap kecemasan menarche, dimana jika seorang remaja putri memiliki konsep diri positif maka kecemasannya akan berkurang, sedangkan jika seorang remaja putri memiliki konsep diri negatif maka kecemasannya cenderung bertambah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai dukungan sosial siswi kelas VII di SMPN 12 Malang, gambaran mengenai konsep diri siswi kelas VII di SMPN 12 Malang, gambaran kecemasan menarche, hubungan dukungan sosial dan kecemasan menarche siswi kelas VII di SMPN 12 Malang, hubungan konsep diri dan kecemasan menarche siswi kelas VII di SMPN 12 Malang, dan hubungan dukungan sosial dan konsep diri dengan kecemasan menarche pada siswi kelas VII di SMPN 12 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan korelasional dengan subyek sebanyak 80 siswi kelas VII SMPN 12 Malang. Pengambilan data penelitian menggunakan skala dukungan sosial, skala konsep diri, dan skala kecemasan menarche. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cukup banyak siswi kelas VII di SMPN 12 Malang, (1) memiliki dukungan sosial rendah, (2) memiliki konsep diri rendah, (3) memiliki kecemasan rendah, (4) tidak ada hubungan yang antara dukungan sosial dengan kecemasan menarche dengan nilai r = -0,171 dan p = 0,128 > 0,05 (5) ada hubungan yang negatif antara konsep diri dengan kecemasan menarche dengan nilai r = -0,248 dan p = 0,027 ft (2,291 > 2,07). Saran yang dapat diberikan adalah diharapkan siswi lebih aktif menambah pengetahuan dan informasi dalam masalah pubertas, orangtua dan sekolah dapat menjadi tempat bagi remaja putri untuk mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan, dan bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk memperluas wilayah penelitan dan melakukan penelitian dengan menambahkan variabel yang berbeda agar dapat mendeskripsikan kecemasan menarche
hubungan antara ego integrity dan successful aging pada lanjut usia di desa krai
ABSTRAK Wulandari, Sri. 2015. Hubungan antara Ego Integrity dan Successful Aging padaLanjutUsia di DesaKrai. Skripsi, JurusanPsikologi, FakultasPendidikanPsikologi, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sudjiono, S.Pd,M.Si, (2) Drs. Mohammad Bisri, M.Si. Kata kunci: ego integrity, successful aging, lanjutusia. Pencapaian successful aging penting bagi lanjut usia karena akan menjadikan lansia tetap aktif dan tidak akan mengalami penyusutan dalam beraktifitas. Tujuan dari pencapaian successful aging ini akan membentuk lanjut usia yang memiliki fungsisosial yang baik. Dibalik pencapaian tersebut tentunya dilatarbelakangi oleh proses perkembangan lanjut usia, khususnya dalam masa dewasa akhir yang ditunjukkan dengan pencapain ego integrity. Pencapaian ego integrity sangat diperlukan oleh lansia untuk membentuk kepuasan atas pengalaman hidup yang lebih bermakna. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) tingkat ego integrity pada lanjut usia di Desa Krai. (2) tingkat successful aging pada lanjut usia di Desa Krai., (3) hubungan antara ego integrity dan successful aging pada lanjut usia di Desa Krai.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif dengan menggunakan analisis deskripsi korelasional. Pengumpulan data menggunakan skala ego integrity dan skala successful aging yang berbentuk likert pada lanjut usia di Desa Krai. Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 52 orang lanjut usia dan diambil dengan teknik cluster random sampling. Validitas untuk variable ego integrity terdiri dari 34 butir aitem yang telah lulus dalam uji validitas aitem dengan reliabilitas sebesar 0,931. Sedangkan validitas untuk variable successful aging terdiri dari 30 item dengan reliabilitas sebesar 0,896.Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat ego integrity lanjut usia di Desa Krai berada dalam kategori tinggi sebesar 67,38 atau setara dengan 35 orang (2) tingkat successful aging lanjut usia di DesaKrai berada dalam kategori tinggi sebesar 82,64% atau setara dengan 43 orang (3) ego integrity memiliki hubungan dengan successful aging sebesar 0,763 dengan arah hubungan positif. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan motivasi bagi lanjut usia untuk mencapai ego integrity guna mengembangkan penuaan yang sukses (successful aging). Selanjutnya dapat memberikan wawasan bagi pengurus Desa Krai terkait peningkatan produktifitas lanjut usia sehingga membantu lanjut usia untuk mengoptimalkan peran hidup lansia agar tercapai successful aging. Selain itu diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk memperbaiki ataupun mengembangkan alat ukur yang digunakan sehingga informasi subjek dan variable penelitian dapat tergali secara mendalam. ABSTRACT Wulandari, Sri. 2015. Correlation Between Ego Integrity and Successful Aging on Elderly in the Krai Village. Thesis, Department of Psychology, Faculty of Educational Psychology,University of Malang.Supervisor: (1) Dr. Sudjiono, S.Pd.,M.Si (2) Drs. H. Mohammad Bisri, M.Si. Keywords: ego integrity, successful aging, elderly Achieving of successful aging is important for the elderly, because it would make the elderly remain active and will not experience reducing in the activity. The purpose of the realizing of successful aging will form the elderly who have good social function. Behind this achievement is certainly motivated by the process of the elderly development, especially in elderly stage indicated by reaching the ego integrity. Achievement of ego integrity is required by the elderly to compose the satisfaction of a more meaningful life experience.The purpose of this study was to determine: (1) the level of ego integrity on elderly in the Krai Village, (2) the level of successful aging on elderly in the Krai Village., (3) the correlation between ego integrity and successful aging on elderly in the Krai Village.This study used a quantitative research with descriptive correlational design. Collecting data used an ego integrity and successful aging scale with shaped likert on elderly in Krai Village. Samples taken in this study were 52 elderly and taken by cluster random sampling technique. Validity of ego integrity variables consisted of 34 items that has passed the validity test items with reliability of 0.931. While the validity of the successful aging variable consists of 30 items.The results showed that (1) the level of ego integrity on elderly in Krai Village are in the high category of 67.38 or the equivalent of 35 people, (3) the level of successful aging on elderly in the Krai Village., (3) there is a positive correlation and significant between ego integrity and successful aging on elderly in the KraiVillage of 0.763.Based on these results, it is expected to provide motivation for the elderly to achieve ego integrity in order to develop a successful aging. Furthermore, it can provide insight for administrators Krai Village associated increase in productivity thus helping elderly to optimize the role of the elderly living in order to achieve successful aging. Also expected for further research to improve or develop a measuring tool that used, so that subject information and research variables can be explored in depth
Hubungan Antara Empati dengan Perilaku Agresi Siswa RegulerSMKN 2 Malang Kepada Teman Sekelas Yang Berkebutuhan Khusus (ABK)
ABSTRAK Reubun, Sinta Oktavia Ayu Dawara. 2015. Hubungan Antara Empati dengan Perilaku Agresi Siswa RegulerSMKN 2 Malang Kepada Teman Sekelas Yang Berkebutuhan Khusus (ABK). Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negri Malang; Pembimbing (I) Dr.Tutut Chusniyah, M.Si (II) Drs. H. Mohammad Bisri, M.Si. Kata Kunci: empati, agresi siswa reguler terhadap ABK. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui gambaran empati siswa reguler SMKN 2 Malamg kepada teman sekelas yang berkebutuhan khusus (ABK), (2) untuk mengetahui gambaran agresi siswa reguler SMKN 2 Malamg kepada teman sekelas yang berkebutuhan khusus (ABK) (3) untuk mengetahui hubungan antara empati dan perilaku agresi siswa reguler SMKN 2 Malamg kepada teman sekelas yang berkebutuhan khusus (ABK).Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan korelasional. Subyek peneliti berjumlah 63 siswa kelas X administrasi perhotelan (AP) yang di peroleh dengan menggunakan tehnik cluster sampling berdasarkan kriteriayang telah ditentukan, yaitu kelas reguler yang didalamnya pernah terjadi perilaku agresi dari siswa reguler kepada teman sekelas berkebutuhan khusus (ABK). Pengambilan data penelitian menggunakan skala empati dan skala agresi. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan skor Z, dan dianalisis korelasi menggunakan teknik analisis pearson correlation.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas X administrasi perhotelan (AP) (1) memiliki tingkat empati yang tinggi (2) memiliki tingkat agresifitas yang tinggi (3) ada hubungan yang negatif antara empati dengan agresi dengan nilai r = -0,262dan p = 0,03
Hubungan Antara Gratitude dengan Post Power Syndrome pada Pensiunan TNI AD di Kota Malang
ABSTRAK Riyaddini, Citra Alfa. 2015. Hubungan Antara Gratitude dengan Post Power Syndrome pada Pensiunan TNI AD di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Tutut Chusniyah, M.Si. (2) Ike Dwiastuti, S.Psi, M.Psi. Kata kunci: gratitude, post power syndrome. Gratitude adalah ungkapan rasa terimakasih atas nikmat yang diperoleh dari sesama manusia dan Tuhan. Post power syndrome adalah gejala-gejala kejiwaan baik fisik maupun psikologis yang muncul dan dirasakan seseorang setelah tidak bekerja lagi atau mengalami pensiun. Dengan memiliki rasa bersyukur, maka pensiunan TNI AD bisa terhindar dari post power syndrome. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui tingkat gratitude pada pensiunan TNI AD di Kota Malang (2) Mengetahui tingkat post power syndrome pada pensiunan TNI AD di Kota Malang (3) Mengetahui hubungan antara gratitude dengan post power syndrome pada pensiunan TNI AD di Kota Malang.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan menggunakan rancangan deskriptif korelasional. Subjek dalam penelitian ini 81 pensiunan TNI AD. Gratitude diukur menggunakan skala gratitude yang dibuat sendiri oleh peneliti (reliabilitas = 0,968) dan skala post power syndrome yang dibuat sendiri oleh peneliti (reliabilitas = 0,941). Sebaran data dalam penelitian ini berdistribusi normal dengan p = 0,130 untuk variabel gratitude dan p = 0,251 untuk variabel post power syndrome. Kedua variabel memiliki linieritas sebesar p = 0,000.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih banyak pensiunan TNI AD di Kota Malang memiliki gratitude yang tinggi dan post power syndrome yang rendah. Uji hipotesis menggunakan korelasi product moment pearson dan didapatkan koefisien korelasi -0,541 dengan nilai signifikansi 0,00
Attachment Anak Terhadap Guru di TK Wahid Hasyim Malang
ABSTRAK Ranoko, Karinda Sari. 2015. Attachment Anak Terhadap Guru di TK Wahid Hasyim Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sudjiono, S.Pd., M.Si., (II) Gamma Rahmita Ureka Hakim, S.Psi., M.Psi. Kata kunci: Attachment, anak TK, guru Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap secara mendalam mengenai attachment anak terhadap guru di TK Wahid Hasyim yang berlokasi di jalan MT. Haryono No. 165 Kota Malang. Subjek dalam penelitian ini adalah anak usia 4-6 tahun yang proses pemilihannya berdasarkan observasi awal oleh peneliti. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif umum dasar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purpossive sampling. Teknik wawancara dan observasi digunakan untuk menyaring data. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber informan terdekat dengan anak yakni guru dan orangtua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa attachment anak terhadap guru pada ketiga subjek dapat dimasukkan dalam kategori pola kelekatan emosional yang aman atau secure attachment. Alasan anak lekat dengan guru ialah karena guru selalu membantu dan menemani mereka. Faktor lainnya ialah karena anak merasa kurang waktu kebersamaan dengan orangtua mereka masing-masing di rumah sehingga anak lebih cenderung lekat dengan guru. Rekomendasi yang diberikan hendaknya guru selalu membangun hubungan yang sehat dan nyaman dengan anak-anak dengan cara menjadikan mereka nyaman di dekat guru. Jalinan hubungan tersebut hendaknya terjadi tidak hanya ketika sedang sakit, takut, atau marah akan tetapi dalam kondisi apapun. Jika mereka kesakitan, takut atau marah, dengan cara demikian anak menjadi riang, ceria serta mudah mengikuti arahan dan saran guru. Orangtua diharapkan dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anaknya sehingga mereka memiliki dan merasakan bentuk kelekatan yang aman pada orangtua dan keluarga lainnya. ABSTRACT Ranoko, Karinda Sari. 2015. Attachment Children Against Teachers in kindergarten Wahid Hasyim Malang. Thesis, Department of Psychology, Faculty of Educational Psychology, University of Malang. Advisors: (I) Dr. Sudjiono, S.Pd., M.Sc., (II) Gamma Rahmita Ureka Hakim, S.Psi., M.Psi. Keywords: Attachment, kindergartner, teacher This study aims to reveal the depth of the attachment children against teachers in kindergarten Wahid Hasyim, located in the street MT. Haryono No. 165 Malang. Subjects in this study were children aged 4-6 years the selection process is based on preliminary observations by researchers. This type of research is a general qualitative basis. The approach used in this study is a qualitative approach. Sampling was done by purposive sampling technique. Interview and observation techniques used to filter the data. Data validity checking is done by triangulation techniques informant source closest to the child's teachers and parents. The results showed that the attachment children against teachers in the three subjects can be included in the category of emotional attachment pattern safe or secure attachment. The reason the child is attached to the teacher because teachers always help and accompany them. Another factor is that the child feels less time together with their parents at home so that children are more likely closely with teachers. Recommendations are given the teacher should always build healthy relationships and comfortable with the children by making them comfortable near the teacher. Such relations should occur not only when you're sick, scared, or angry but in any condition. If they are in pain, fear or anger, in that way children become carefree, cheerful and easy to follow directions and suggestions of teachers. Parents are expected to provide security and comfort for their children so that they have and feel the shape of a secure attachment to parents and other relatives
dampak perilaku modeling remaja terhadap tokoh idola dalam komik jepang
ABSTRAK Dwiga, Ifan. 2015. Dampak Perilaku Modeling Remaja terhadap Tokoh Idola dalam Komik Jepang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Fattah Hidayat, S.Psi., M.Si. (2) Ninik Setyowati, S.Psi., M.Psi. Kata kunci: perilaku modeling, remaja, komik Jepang. Ketika anak menginjak masa remaja tokoh idola merupakan hal yang penting dan berfungsi sebagai role model atau teladan bagi dirinya. Namun komik sebagai salah satu bacaan yang digemari remaja sering dianggap minor dan negative oleh pihak-pihak tertentu. Karena komik dianggap merusak bahasa, penyebab kemalasan membaca buku pelajaran, meliarkan khayalan, serta sederetan dampak buruk lainnya termasuk kekerasan dan pornografi. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui: (1) Bentuk perilaku modeling remaja terhadap tokoh idola dalam komik Jepang, (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku modeling remaja terhadap tokoh idola dalam komik Jepang, dan (3) Dampak perilaku modeling remaja terhadap tokoh idola dalam komik Jepang. Karakteristik subjek penelitian ini adalah: (1) remaja, (2) tertarik pada komik jepang, dan (3) bersedia menjadi partisipan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) wawancara semi terstruktur, dan (2) metode observasi. Teknik trianggulasi sumber dan metode digunakan untuk pengecekan keabsahan data, sedangkan metode perbandingan digunakan untuk analisis data. Hasil penelitian yang diperoleh: (1) Bentuk perilaku modeling yang ditiru adalah; kemampuan memecahkan berpikir tokoh idola, cara berpakaian dan meniru sifat tokoh idola. (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku modeling adalah: semangat kesamaan gender, keinginan subjek untuk dapat berbuat seperti tokoh idola, menjadi individu yang lebih baik, serta mendapat pengakuan dari lingkungan pergaulannya. (3) Dampak dari perilaku modeling yang diperoleh bersifat positif adalah; (a) meningkatnya kemampuan dan prestasi subjek, sifat tidak mudah menyerah, menjadi lebih dewasa, lebih tenang, lebih kuat dan bertanggung jawab dalam menghadapi masalah; (b) Subjek menjadi lebih peka dan terbuka terhadap lingkungan sekitar, subjek berubah dalam berpenampilan, mendapatkan predikat fashionista dan eksistensi dalam pergaulan. Sebaliknya dampak negatif yang diperoleh dari perilaku modeling adalah menjadi orang yang bergaya hidup glamor dan suka menghambur-hamburkan waktu dan materi. Rekomendasi yang diberikan diantaranya adalah bagi para remaja diharapkan mampu untuk lebih memahami aspek dan nilai karakter tokoh idola yang ingin ditiru. untuk peneliti selanjutnya adalah peneliti selanjutnya diharapkan juga dapat lebih mengungkap masalah-masalah yang berhubungan dengan perilaku modeling pada remaja pecinta komik Jepang, seperti masalah modeling lainnya