Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
783 research outputs found
Sort by
Hubungan Kematangan Emosi dan Kemampuan Penyelesaian Masalah Mahasiswa angkatan 2013 Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang.
ABSTRACT Dhayumna, Unzi Meritma. 2015. Hubungan Kematangan Emosi dan Kemampuan Penyelesaian Masalah Mahasiswa angkatan 2013 Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang.Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed (II) Diantini Ida Viatrie, S. Psi, M. SiKata Kunci: kematangan emosi, kemampuan penyelesaian masalah, mahasiswa jurusan psikologiKematangan emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengontrol dirinya ketika berada dalam situasi sosial tertentu sehingga dalam merespon suatu permasalahan ditandai dengan tidak meledakkan emosinya, menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional serta memberikan reaksi emosional yang stabil. Kemampuan penyelesaian masalah merupakan suatu proses untuk menemukan suatu solusi atau jalan keluar untuk suatu masalah yang spesifik melalui proses berpikir yang terarah secara langsung dimana proses ini bertujuan untuk memperoleh pemecahan yang ideal ataukepuasan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengatahui kematangan emosi pada mahasiswa jurusan psikologi angkatan 2013, 2) mengetahui kemampuan penyelesaian masalah pada mahasiswa jurusan psikologi angkatan 2013, 3) mengetahui hubungan kematangan emosi dan kemampuan penyelesaian masalah pada mahasiswa jurusan psikologi angkatan 2013.Subjek penelitian ini adalah mahasiswa jurusan psikologi angkatan 2013 yang termasuk dalam kategori remaja akhir dengan rentang usia 18 – 21 tahun. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan satu skala dan satu angket yaitu, skala kematangan emosi dan angket kemampuan penyelesaian masalah. Teknik analisis data untuk melihat gambaran kematangan emosi dan kemampuan penyelesaian masalah adalah dengan analisis deskriptif, sedangkan untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosi dan kemampuan penyelesaian masalah adalah dengan analisis korelasi Product Moment.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) 42,5% mahasiswa memiliki kematangan emosi yang tinggi dan 57,5% mahasiswa memiliki kematangan emosi rendah. 2) Pada kemampuan penyelesaian masalah sebanyak 47,5% mahasiswa memiliki kemampuan penyelesaian masalah tinggi dan 52,5% mahasiswa memiliki kemampuan penyelesaian masalah rendah. 3) Adanya hubungan yang signifikan antara kematangan emosi dan kemampuan penyelesaian masalah (rxy=0,784 p = 0,000
Pengaruh Metode Pembelajaran Small Group Oral Language terhadap Peningkatan Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini di Pos Paud Rosalia Malng
ABSTRAK Sari, Deangga Mayang. 2016. Pengaruh Metode Pembelajaran Small Group Oral Language terhadap Peningkatan Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini di Pos Paud Rosalia Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sudjiono, S.Pd., M.Si, (II) Farah Farida Tantiana S.Psi., M.Psi. Kata Kunci: anak usia dini, metode pembelajaran small group oral language, kemampuan berbahasa. Anak usia dini dapat mempelajari bahasa hanya bila orang-orang di sekelilingnya menggunakan bahasa tersebut secara rutin dalam percakapan. Orang tua juga memasukkan anaknya untuk mengikuti pendidikan prasekolah agar anak mampu berkomunikasi dalam lingkup sosial yang lebih luas. Akan tetapi, guru biasanya hanya mengajarkan kosakata tetapi mengabaikan maknanya, sehingga keaktifan anak dalam proses pembelajaran bahasapun juga masih rendah, anak-anak kurang merespon hal yang diterangkan oleh guru. Untuk itu, peneliti ingin meningkatkan kemampuan berbahasa anak usia dini di Pos Paud Rosalia Malang dengan memberikan metode pembelajaran small group oral language kepada siswa. Small Group Oral Language adalah proses pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak usia dini seperti memperkaya perbendaharaan kata dan meningkatkan kemampuan anak dalam memaknai bahasa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan kemampuan berbahasa anak usia dini serta pengaruh dari metode pembelajaran small group oral language terhadap kemampuan berbahasa anak usia dini di POS PAUD Rosalia. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen-semu, dengan desain one-group pretest-postest design. Instrumen yang digunakan terbagi menjadi instrumen pengumpulan data dan instrumen perlakuan yang dikembangkan oleh peneliti sendiri. Instrumen penelitian berupa angket kemampuan berbahasa anak usia dini 4-5 tahun, sedangkan instrumen perlakuan berupa modul pembelajaran small group oral language. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan sampel jenuh, sehingga semua anggota populasi sebanyak 27 murid dijadikan sampel. Data yang diperoleh, dinalisis menggunakan uji beda Paired Sampels T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Sig. (2-tailed) adalah 0,000 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh metode pembelajaran small group oral language terhadap peningkatan kemampuan berbahasa pada anak usia dini. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian lanjutan dengan teknik oral language yang berbeda, desain penelitian yang berbeda serta jumlah subjek yang lebih luas
Efektivitas Pendekatan Contextual Teaching Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Krtisis Siswa
ABSTRACT Rahmawati, Yanuar Siti. 2016. Efektivitas Pendekatan Contextual Teaching Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Krtisis Siswa. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moh. Irtadji, M.Si, (II) , Aji Bagus Priyambodo, S.Psi, M.Psi Kata kunci: berpikir kritis, pendekatan Contextual Teaching LearningBerpikir kritis siswa merupakan kemampuan seseorang dalam merumuskan pertanyaan, membuat argumen berdasarkan informasi yang akurat, kemampuan menyimpulkan, mencari informasi pendukung dalam berargumen, membuat strategi sebagai solusi, dan meminta pendapat orang lain atas apa yang telah ia putuskan. Tetapi, tidak semua siswa SMK memiliki semua aspek tersebut. Hal ini dikarenakan, pendekatan pembelajaran pendidik yang masih bersifat konvensional. Pendekatan Contextual Teaching Learning dapat menjadi salah satu solusi dalam memberikan kesempatan bagi setiap siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka. Maka dari itu, peneliti ingin melihat efektivitas pendekatan Contextual Teaching Learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental dengan desain Nonrandomized Pretest-Postest Control Group Design. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI jurusan Akuntansi yang diajar oleh guru yang sama, 32 siswa untuk kelompok eksperimen dan 32 siswa untuk kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi instrumen pengumpulan data dan instrumen perlakuan yang dikembangkan oleh peneliti sendiri. Instrumen pengumpulan data berupa instrumen kemampuan berpikir krtis yang berjumlah 8 aitem dengan indeks reliabilitas sebesar 0,571 dan instrumen perlakuan berupa panduan pendekatan Contextual Teaching Learning.Teknik analisis yang digunakan adalah uji beda independent samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dan nilai Sig. (2-tailed) adalah 0,000 < 0,05. Selain itu menggunakan penghitungan effect size untuk melihat besarnya keefektivan pendekatan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Diperoleh hasil 0,8 dimana angka tersebut masuk dalam kategori efek besar. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa pendekatan Contextual Teaching Learning efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Saran yang diberikan kepada guru adalah : pendekatan Contextual Teaching Learning efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis khususnya dengan teknik berbasis masalah. Saran kepada peserta didik adalah melatih kemampuan berpikir kritis dengan memecahkan masalah dan memikirkan masalahnya secara berkelompok. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah: 1) Memperhatikan kemampuan berpikir kritis siswa diluar pemberian treatmen, 2)menggunakan metode lain, 3) melakukan penelitian lanjutan dengan metode berbeda, subjek lebih luas, waktu yang lebih lama dan menambahkan jumlah intervensi
Hubungan Persepsi Terhadap Keadilan Kompensasi dengan Kinerja Karyawan Tiga Putra Handphone Center Malang
ABSTRACT Penelitian ini didasari oleh adanya fakta di lapangan, dalam melakukan pelayanan kepada pelanggan, Tiga Putra Handphone Center Malang memiliki standar pelayanan yang harus dimiliki oleh seluruh karyawan toko. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif dan korelasi. Populasi sebanyak 32 karyawan dengan menggunakan seluruh sampel atau total sampling yang berjumlah 32 karyawan. Menggunakan intrumen penelitian skala persepsi terhadap keadilan kompensasi dengan reliabilitas 0,932. Hasil penelitian menunjukkan a) Terdapat 43,75% karyawan yang memiliki persepsi terhadap keadilan kompensasi tinggi, 56,25% memiliki kinerja karyawan rendah, b) Terdapat 40,625% karyawan yang memiliki kinerja karyawan tinggi, 59,375% karyawan yang memiliki kinerja rendah, c) Terdapat hubungan positif antara persepsi terhadap keadilan kompensasi dengan kinerja karyawan dengan angka korelasi 0,654 dan
Hubungan Workplace Mindfulness Terhadap Organization Citizenship Behavior (OCB) Pada Karyawan Kapanlagi.com Malang
ABSTRACT Salsabila, Tanaya Hayu. 2016. Hubungan Workplace Mindfulness Terhadap Organization Citizenship Behavior (OCB) Pada Karyawan Kapanlagi.com Malang. Skripsi, Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Tutut Chusniyah, M.Si, (II) Ike Dwiastuti, S.Psi., M.PsiKata Kunci: Workplace Mindfulness, Organization Citizenship Behavior, Karaywan Kapanlagi.com MalangOrganization Citizenship Behavior (OCB) adalah bentuk perilaku yang merupakan pilihan dan inisiatif individual, tidak berkaitan dengan sistem reward formal organisasi tetapi secara agregat meningkatkan efektivitas organisasi. Workplace Mindfulness adalah kesadaran dimana perhatian difokuskan pada fenomena saat ini atau yang sedang dilakukan saat itu dari sudut pandang tempat kerja. OCB dapat meningkatkan produktifitas kerja karyawan, menghemat sumber daya yang dimiliki perusahaan, dan juga meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru. Begitu pula dengan workplace mindfulness yang menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan tingkat OCB pada karyawan. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui workplace mindfulness pada karyawan Kapanlagi.com Malang, (2) untuk mengetahui OCB pada karyawan Kapanlagi.com Malang, (3) untuk mengetahui hubungan antara workplace mindfulness terhadap OCB pada karyawan Kapanlagi.com MalangPenelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dalam menguji hipotesis yang telah dirancangan. Subjek penelitian merupakan karyawan aktif Kapanlagi.com Malang yang telah bekerja lebih dari satu tahun berjumlah 91 orang. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengambilan data yaitu dengan Skala Workplace Mindfulness dan Skala OCB. Validitas Skala Workplace Mindfulness dihitung menggunakan korelasi product moment dari Pearson sehingga diperoleh 22 pernyataan valid dari 30 pernyataan yang diuji cobakan dengan tingkat reliabilitas 0,772 pada Alpha Cronbach. Uji validitas Skala OCB diperoleh pernyataan valid sebanyak 17 pernyataan dari 20 pernyataan dengan tingkat reliabilitas 0.726 pada Alpha Cronbach.Uji hipotesis menggunakan teknik analisis korelasi Pearson Product Moment. Nilai korelasi yang diperoleh antara variabel workplace mindfulness dengan variabel OCB sebesar 0,300 dengan signifikansi 0,004(sig
Transisi Umur 30 Tahun pada Perempuan di Desa X Nusa Tenggara Barat yang Menikah Di Usia Dini
ABSTRACT Fitriani, Elis. 2012. Transisi Umur 30 Tahun pada Perempuan di Desa X Nusa Tenggara Barat yang Menikah di Usia Dini. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) : Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A., (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi., M.Si.Kata kunci : transisi umur 30, perempuan, menikah usia diniTransisi umur 30 tahun merupakan suatu periode perkembangan yang berada di antara tahap settling down dan tahap memasuki dunia dewasa. Transisi umur 30 tahun ini dapat berjalan lancar maupun krisis, disebabkan oleh tahap perkembangan sebelumnya terkait dengan adanya pengambilan keputusan untuk menikah di usia dini. Keputusan tersebut akan memberikan beberapa dampak khususnya bagi perempuan. Lokasi dalam penelitian ini terletak di desa X Nusa Tenggara Barat.Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam, kemudian observasi dan studi dokumen. Adapun subjek dalam penelitian ini merupakan perempuan di desa X Nusa Tenggara Barat yang berjumlah 2 orang. Sedangkan Fokus dalam penelitian ini adalah untuk mengungkap apakah perempuan di desa X Nusa Tenggara Barat yang menikah di usia dini mengalami krisis ketika berusia 30 tahun.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan di desa X Nusa Tenggara Barat mengalami perkembangan yang krisis. Adanya perekmbangan yang krisis ini diukur melalui aspek-aspek, yakni ketidaksesuaian antara dream dan life structure, adanya konflik, kurangnya keinginan untuk melibatkan orangtua dalam perkembangan dream, dan berkeinginan untuk melakukan perubahan terkait dengan dream dan life structure. Krisis tersebut dialami oleh kedua subjek penelitian sebelum memasuki periode transisi umur 30 tahun. Kedua subjek penelitian mengalami perkembangan yang krisis, sehingga memutuskan untuk menikah di usia dini. Kemudian, ketika memasuki periode transisi umur 30 tahun, kedua subjek penelitian juga mengalami krisis dengan bentuk yang berbeda dari krisis sebelumnya. Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini: (1) masyarakat khusunya orangtua dapat memberikan dukungan baik secara emosional maupun finansial dalam perkembangan dream perempuan, khususnya bagi perempuan yang mengalami krisis agar mampu melewati masa krisisnya. (2) Bagi Perempuan yang menikah di usia dini di desa X Nusa Tenggara Barat, hendaknya mempersiapakan diri secara emosional dan kognitif dalam menghadapi kemungkinan adanya krisis sebelum maupun ketika berusia 30 tahun (3) Bagi perempuan usia di bawah 20 tahun di desa X Nusa Tenggara Barat,hendaknya berusaha memperjuangkan kehidupan yang sesuai dengan harapan dan melatih problem solving, (4) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya melakukan penelitian dengan subjek yang lebih banyak dan karakteristik sama agar menambah gambaran mengenai transisi umur 30 tahun pada perempuan yang menikah di usia dini
Persepsi Sosial Mahasiswa Papua terhadap Suku Jawa di Kota Malang
Persepsi Sosial Mahasiswa Papua terhadap Suku Jawa di Kota Malang Sebagai mahasiswa perantau, mahasiswa Papua memiliki dua tantangan yang harus dihadapi saat berkuliah di Jawa. Tantangan tersebut adalah adaptasi dan tantangan bersosialisasi dengan suku Jawa di kota Malang. Dalam kenyataannya, tantangan tersebut tidak mudah untuk dilakukan oleh para mahasiswa Papua. Selain karena berbeda latar belakang budaya, sebagian besar suku Jawa masih memandang negatif terhadap mereka. Perlakuan tersebut tentu memiliki pengaruh terhadap mahasiswa Papua, terutama dalam mempersepsi suku Jawa pada umumnya. Persepsi sosial yang dimiliki setiap mahasiswa Papua tentunya saling berkaitan dengan pengalaman-pengalaman yang pernah mereka alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan bagaimana gambaran persepsi sosial mahasiswa Papua terhadap suku Jawa di kota Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan model penelitian studi kasus fenomenologi. Partisipan pada penelitian ini adalah tiga Mahasiswa Papua, dua perempuan dan satu laki-laki. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kualitatif jenis wawancara terpimpin. Teknik analisis data menggunakan analisis tematik dan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan validasi responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi sosial mahasiswa Papua terhadap suku Jawa adalah sebagai berikut. Secara sosial, suku Jawa merupakan suku yang memiliki karakteristik ramah, suka menolong dan terbuka. Mahasiswa Papua tidak menyukai perlakuan suku Jawa yang cenderung menganggap mereka sebagai kelompok suku timur yang perilakunya negatif. Secara budaya, suku Jawa dianggap melestarikan budayanya sampai saat ini karena menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Aturan yang ada di Jawa bagi mahasiswa Papua dianggap sulit dan rumit. Secara fisik mahasiswa Papua menganggap penampilan fisik pria Jawa tampak seperti orang baik daripada penampilan fisik pria Papua yang terkesan lebih mirip orang jahat
PERBEDAAN KEPUASAN PERNIKAHAN ANTARA SUAMI DAN ISTRI DITINJAU DARI PENGUNGKAPAN DIRI DAN CINTA
ABSTRACT Rif’atin, Chusnul Mahfudhoh. 2016. Perbedaan Kepuasan Pernikahan antara Suami dan Istri Ditinjau dari Pengungkapan Diri dan Cinta. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Nur Eva, S.Psi., M.Psi. (II) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi.Kata Kunci: kepuasan pernikahan, pengungkapan diri, cinta, pasangan suami istriKepuasan pernikahan merupakan salah satu indikator keberhasilan hubungan pernikahan. Dalam ikatan pernikahan, perasaan puas dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya komunikasi yang baik dengan pasangan dan kemampuan mengekspresikan kasih sayang pada pasangan. Kepuasan pernikahan berasal dari penilaian subjektif individu terhadap berlangsungnya hubungan pernikahan, hal itu menyebabkan adanya perbedaan antara suami dan istri baik dilihat dari segi persepsi, kepribadian dan budaya.Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya perbedaan kepuasan pernikahan ditinjau dari pengungkapan diri dan cinta pada pasangan suami istri. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 100 orang, yang terdiri dari masing-masing 50 orang suami dan istri. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling dengan populasi pasangan suami istri di Kota Malang. Pengambilan data dilakukan dengan memberikan instrumen pada suami dan istri secara bersamaan untuk diisi dan diambil kembali pada waktu yang ditentukan.Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menunjukkan 1) tidak ada perbedaan kepuasan pernikahan antara suami dan istri ditinjau dari pengungkapan diri, 2) tidak ada perbedaan kepuasan pernikahan antara suami dan istri ditinjau dari cinta dan 3) tidak ada perbedaan kepuasan pernikahan antara suami dan istri ditinjau dari pengungkapan diri dan cinta. Hal ini dibuktikan melalui hasil tingginya nilai kepuasan pernikahan, pengungkapan diri dan cinta suami sama tinggi dengan istri. Adanya faktor penyesuaian dalam pernikahan dan pembagian peran yang sama rata menjadi penyebab suami dan istri untuk saling bekerjasama dalam menyatukan perbedaan. Faktor lain yang memberikan pengaruh besar adalah pandangan masyarakat atas kesetaraan gender sehingga menjadikan pergeseran budaya dalam memandang peran laki-laki dan perempuan.Menurut paparan data di atas, maka diajukan beberapa saran diantaranya: 1) bagi pasangan suami istri untuk meningkatkan pengungkapan diri dan cinta dengan menambah intensitas komunikasi dengan pasangan serta memberikan perhatian melalui kontak fisik dengan pasangan, 2) pada tahap pengumpulan data sebaiknya dilakukan pada suami terlebih dahulu kemudian istri pada waktu yang berbeda dan 3) bagi penelitian selanjutnya sebaiknya ditambahkan variabel penyesuaian dalam pernikahan, lamanya pernikahan dan hubungan pacaran sebelum pernikahan serta menggunakan pendekatan kualitatif untuk memperoleh kajian mendalam.ABSTRACT Rif’atin, Chusnul Mahfudhoh. 2016. Marital Satisfaction Distiction between Husband and Wife Observed from Self Disclosure and Love. An Undergraduate Thesis, Psychology Major of Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Advisors: (1) Nur Eva, S.Psi., M.Psi. (II) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi.Kata Kunci: marital satisfaction, self-disclosure, love, spouseMarital satisfaction is one of marital success indicators. In term of marriage, marital satisfaction is influenced by several factors such as proper communication between partner and an ability to express feelings of affection toward partner. Marital satisfaction derived from individual assessments of marriage sustainability, so those matter bringing on the distinction between husband and wife from perception of marital satisfaction, personality and culture.This research purposes to prove marital satisfaction distinction between husband and wife observed from self-disclosure and love toward partner. Sample of this research amounted to a hundred people, consisting of fifty husband and wife equally. Technique that used to collect data is cluster random sampling from population of married couples in Malang. Data subtraction was done by extending instrument to husband and wife simultaneously then revert to given time.Based on hypothesis testing that indicate 1) lack of marital satisfaction distinction between husband and wife observed from self-disclosure 2) there’s no different in marital satisfaction between husband and wife observed from love and 3) No distinction of marital satisfaction between husband and wife observed from self-disclosure and love. Those matter proved from husband’s marital satisfaction, self-disclosure and love indexes are as high as wife. Presence of marital adjustment and an equally role distribution between husband and wife facilitating to unite disparity. Another factor that extend a great influence in society’s perspective about gender equivalent that create a culture alteration to look up of men’s and women’s role. According to research discussion, researcher proposed some advises inter-alia: 1) for husband and wife are expected to improve self-disclosure and love by getting more frequent communication and skin-ship with partner, 2) data subtraction better done on husband first then wife at different occasion, and 3) for next research is expected to strain more variables i.e. marital adjustment, the age of marriage and relationship before marriage, also tend to use qualitative method to attain proper study
PERILAKU ALTRUISME PADA RELAWAN BSMI KOTA MALANG DITINJAU DARI SEGI GENDER
ABSTRAK Febbi, Muhammad Hoky. 2015. Perilaku Altruisme pada Relawan BSMI Kota Malang Ditinjau dari Gender. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Moh. Irtadji, M.Si., (2) Ike Dwiastuti, S.Psi., M.Psi. Kata kunci: altruisme, gender, relawan BSMI Kota Malang. Dalam kehidupan sehari-hari manusia sebagai mahluk sosial selalu membutuhkan bantuan dari orang lain. Dengan kata lain manusia tidak dapat terhindar dari kebutuhan tolong menolong antara satu individu dengan individu lainnya. Perilaku membantu menolong orang lain termasuk ke dalam perilaku jenis prososial atau lebih khusus disebut sebagai altruisme. Perilaku altruisme adalah perilaku menolong orang lain yang bertujuan untuk meringankan beban orang lain tanpa memikirkan kepentingan sendiri. Gender mempengaruhi perilaku dalam menolong. Hal ini dikarenakan laki-laki dan perempuan mempunyai karateristik yang berbeda dalam tindakan altruisme. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif dan komparatif. Subjek penelitian ini adalah relawan BSMI Kota Malang yang berjumlah 82 orang relawan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala altruisme. Penyebaran dilakukan via on line, yakni dengan menggunakan google form. Hal ini dikerenakan subjek penelitian yang lokasinya saling berjauhan serta tidak memungkinkan untuk didatangi satu per satu. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposif incidental sampling. Analisis data dilakukan dengan deskriptif persentase dan statistik parametik independent samples t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relawan laki-laki sebanyak 53,5% memiliki perilaku altruisme tinggi sedangkan 46,5% memiliki perilaku altruisme rendah. Sedangkan untuk relawan perempuan 51,3% memiliki perilaku altruisme tinggi sedangkan 48,7% memiliki altruisme rendah. Hasil uji t test memperlihatkan siginifikansi 0,025 (p < 0,05), dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan perilaku altruisme antara relawan laki-laki dan relawan perempuan. Bisa disimpulakan bahwa perilaku altruisme relawan BSMI Kota Malang tergolong tinggi, relawan perempuan lebih tinggi perilaku altruismenya dari pada relawan laki-laki. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dikemukakan adalah (1) Bagi ilmuwan psikologi, khususnya peminatan psikologi sosial, diharapkan dapat menambah kajian tentang altruisme karena erat kaitannya dengan kehidupan sosial bermasyarakat.(2) Bagi BSMI Kota Malang sebaiknya mempertimbangkan kembali sebelum mengirim relawan ke lokasi bencana. Hal ini dikarenakan ada perbedaan perilaku altruisme antara relawan laki-laki dan relawan perempuan (3) Bagi peneliti selanjutnya yang ingin melanjutkan atau melakukan penelitian kembali mengenai perilaku altruisme yang ditinjau dari segi gender, dapat melakukan tindak lanjut dengan menambah variabel, populasi penelitian dan mengontrol variabel yang akan mempengaruhi perilaku altruisme seperti profesi, etnis, kepribadian, jenjang pendidikan, dan umur. ABSTRACT Febbi, Muhammad Hoky. 2015. Behavior of Altruism on Volunteer BSMI Malang reviewed from Gender. Thesis, Department Of Psychology, Faculty Of Psychology, State University Of Malang. Supervisor: (1) Dr. Moh. Irtadji, M. Si., (2) Ike Dwiastuti, S. Psi., M. Psi. Keywords: altruism, gender, volunteer BSMI Malang. In the daily life of humans as social beings always need help from others. In other words a human being can not avoid the need please help one individual with other individuals. Behavior help help others belong to the prosocial type of behavior or more specifically referred to as altruism. The behavior of altruism is behaviour to help others that aims to relieve the burden of others without thinking of his own interests. Gender affects behavior in help. This is because men and women have different characteristics in the Act of altruism. This research uses a quantitative approach with descriptive and comparative research design. The subject of this research is the volunteer BSMI Malang totalling 82 people volunteers. The instruments used in this study i.e. the scale of altruism. Dissemination is done via on line, using the google form. This is the location of the subject because each other away and not allowed to be seen one at a time. Sampling done by the technique of purposif incidental sampling. Data analysis was performed by descriptive statistics and percentage parametik the independent samples t test. The results showed that the male volunteers as much as 53.5% have high altruism behaviors while 46.5% have low altruism behaviors. As for the female volunteers 51.3% have high altruism behaviors while 48.7% have low altruism. T test test results showed p 0.025 (p < 0.05), it can be concluded that there is a difference between altruism behaviors of volunteer men and women volunteers. Can conclusion that the behavior of the altruism of volunteers BSMI Malang belonged to high, a volunteer women's more altruism than male volunteers. Based on the research results, the suggestion expressed was (1) for the scientist of psychology, specifically social psychology, expected to add to the study of altruism because it is closely related to the social life of society. (2) For BSMI Malang reconsider before sending volunteers to the disaster site. This is because there is a difference between altruism behaviors of volunteer men and women volunteers (3) For further researchers who wish to continue or do research on the altruism behaviors back in terms of gender, can do a follow-up by adding variables, population research and control variables that will affect the behavior of altruism as a profession, ethnicity, personality, level of education, and age
Hubungan Kesejahteraan Psikologis dengan Komitmen Kerja Operator Excavator di PT. Saptaindra Sejati Admo Kalimantan Selatan
ABSTRAK Maharani, Sella Fidya. 2016. Hubungan Kesejahteraan Psikologis dengan Komitmen Kerja Pada Operator Excavator di PT. Saptaindra Sejati Admo Kalimantan Selatan. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Fattah Hidayat, S.Psi., M.Si, (II) Ninik Setiyowati, M.Psi. Kata Kunci : kesejahteraan psikologis, komitmen kerja Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang: (1) deskripsi kesejahteraan psikologis operator excavator, (2) deskripsi komitmen kerja operator excavator, (3) melihat apakah ada hubungan antara kesejahteraan psikologis dengan komitmen kerja operator excavator di PT.Saptaindra Sejati Admo. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional dengan teknik pearson product moment. Sampel penelitian yang digunakan sebanyak 118 diperoleh dengan teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala kesejahteraan psikologis sebanyak 33 aitem dengan reliabilitas 0,868 dan skala komitmen kerja sebanyak 14 aitem dengan reliabilitas sebesar 0,852. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kesejahteraan psikologis operator excavator di PT.Saptaindra Sejati Admo berada dalam kategori tinggi, (2) komitmen kerja operator excavator di PT.Saptaindra Sejati Admo berada dalam kategori tinggi. (3) kesejahteraan psikologis memiliki hubungan dengan komitmen kerja. Saran yang diberikan terkait hasil penelitian ini adalah 1) bagi perusahaan diharapkan penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dan masukan untuk lebih memerhatikan kondisi psikologis khususnya kesejahteraan psikologis operator, dalam meningkatkan komitmen kerja, 2) bagi peneliti selanjutnya untuk lebih memperluas penelitian dengan menggali karakteristik subjek berbeda dan atau dengan metode penelitian yang berbeda sehingga dapat mengungkap banyak wacana baru