Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM
Not a member yet
783 research outputs found
Sort by
Hubungan Antara Beban Kerja Dengan Psychological Well-Being pada karyawan Hotel Ijen Suites Resort and Convention Malang
RINGKASANPradipa, Indah. 2019. Hubungan Antara Beban Kerja Dengan PsychologicalWell-Being Pada Karyawan Hotel Ijen Suites Resort And Convention Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Diyah Sulistiyorini S.Psi, M.PsiKata kunci: Beban Kerja, Psychological Well-Being, Karyawan.Psychological Well-Being adalah suatu penilaian terhadap diri sendiri dimana individu memiliki kesehatan mental yang positif yang dapat menerima dan mengakui keadaan pada dirinya, memiliki perasaan yang hangat dengan orang lain, mandiri, mampu menciptakan kondisi yang sesuai dengan keadaan psikisnya, mempunyai arah tujuan hidup yang jelas, serta mampu mengembangkan potensinya secara terus – menerus. Salah satu faktor yang mempengaruhi psychological well-being pada karyawan adalah tuntutan pekerjaan. Beban kerja adalah sejauh mana kapasitas individu pekerja dibutuhkan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan kepada individu tersebut, yang dapat diindikasikan dari jumlah pekerjaan yang harus dilakukan, batasan waktu yang dimiliki oleh pekerja dalam menyelesaikan tugasnya, dan dengan target tertentu yang berkaitan dengan kapasitas maksimum. Tuntutan pekerjaan seperti beban kerja yang diberikan perusahaan, tuntutan emosional, kelelahan, dan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan kesejahteraan psikologis karyawan.Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adakah hubungan antara beban kerja dengan psychological well-being. Penelitian ini melibatkan 80 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan analisis full time equivalent untuk beban kerja dan pengumpulan data untuk psychological well-being menggunakan skala Likert yang terdiri 48 aitem valid dan realibilitas sebesar 0,741. Hasil penelitian menunjukan bahwa 52,5% karyawan memiliki beban kerja tinggi, dan 47,5% karyawan memiliki beban kerja yang rendah, serta 46,25% karyawan memiliki psychological well-being rendah, dan 53,75% karyawan memiliki psychological well-being tinggi. Penelitian ini memiliki nilai signifikansi kolerasi r = 0,412, p = 0,000 < 0,05 yang artinya adanya hubungan positif signifikan beban kerja dengan psychological well-being pada karyawan Hotel Ijen Suites Convention MalangSaran dari penelitian ini adalah untuk perusahan agar mendistribusikan beban kerja secara seimbang kepada semua karyawan dengan insentif yang sesuai dengan beban kerja yang diberikan. Untuk karyawan agar dapat mengatur beban kerja yang diberikan perusahaan, dan mengembangkan psychological well-being yang dimiliki. Untuk peneliti selanjutnya melakukan penelitian dengan subjek responden yang berbeda, sehingga dapat membandingkan hasil penelitian yang didapat apakah sama atau berbeda ketika responden penelitian beragam, dan mampu mengembangkan penelitian lebih baik,SUMMARYPradipa, Indah. 2019. The Correlation Between Workload and PsychologicaL Well-Being at Hotel Ijen Suites Resort And Convention Malang. Thesis, Departement of Psychology, Faculty of Educational Psychology, State Universty of Malang. Supervisor (I) Diyah Sulistiyorini S.Psi, M.PsiKeywords: Workload, Psychological Well-Being, employeePsychological Well-Being is an assessment of oneself where an individual has positive mental health that can accept and acknowledge his condition, has a warm feeling with others, is independent, is able to create conditions that are in accordance with his psychological state, has a direction of life clear, and able to develop its potential continuously. Workload is the extent to which the capacity of individual workers is needed in completing tasks assigned to the individual, which can be indicated from the amount of work that must be done, the time limit possessed by the worker in completing his task, and with certain targets related to maximum capacity. Workload is a demand of a job. Job demands include, high or low workloads, can affect an individual's physical health and have a time limit for completing a job. One of the factors that influence psychological well-being on employees is the job demand. Psychological well-being can be influenced by several things, namely personality factors, individual differences, emotions, physical health, relationship attachment, social status and wealth and achievement of goals. The purpose of this study was to find out whether there was a relationship between workload and psychological well-being. This study involved 80 respondents were selected using purposive sampling techniques. Instruments of research include full time equivalent analysis for workload and for psychological well-being using a Likert scale consisting of 48 valid and reliability items of 0.741. The results showed that 52.5% of employees have a high workload, and 47.5% of employees have a lower workload, as 46.25% of employees have a lower psychological well-being, and 53.75% of the employees have the psychological well-being high. This research has significance correlation value of r = 0,412, p = 0,000 < 0,05, which means a positive relationship between workload with psychological well-being of employees Suites Convention Hotel Ijen MalangSuggestions from this study is for companies that distribute workload in a balanced manner to all employees with the appropriate incentives with a given workload. For employees to be able to adjust the workload of a given company, and develop psychological well-being owned. For further research is hoped to do research with respondents of different subjects, so as to compare the results obtained are the same or different when respondents diverse research, and are able to develop better research
HUBUNGAN ANTARA PENGALAMAN KERJA DENGAN KOMITMEN ORGANISASI PENGURUS ORGANISASI PERSATUAN MAHASISWA DONGGO MALANG
ABSTRAKTrimadhani, Rinda. 2019. Hubungan Antara Pengalaman Kerja Dengan Komitmen Organisasi Pengurus Organisasi Persatuan Mahasiswa Donggo Malang (PEMDO Malang). Skripsi Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dr. Sudjiono, S.Pd, M. Si.Kata Kunci: Pengalaman kerja, komitmen organisasi.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) gambaran pengalaman kerja pengurus organisasi Persatuan Mahasiswa Donggo Malang angkatan 2013-2018, (2) gambaran komitmen organisasi pengurus organisasi Persatuan Mahasiswa Donggo Malang angkatan 2013-2018, (3) hubungan antara pengalaman kerja dengan komitmen organisasi Pengurus Organisasi Persatuan Mahasiswa Donggo Malang angkatan 2013-2018.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif dan korelasional kuantitatif. Subjek penelitian diambil dari pengurus organisasi Persatuan Mahasiswa Donggo Malang angkatan 2013-2018 yang berjumlah 60 pengurus dengan menggunakan teknik sampling jenuh. Instrumen penelitian yang digunakan dalam pengambilan data menggunakan skala pengalaman kerja dan skala komitmen organisasi. Uji validitas menggunakan korelasi Pearson Product Moment, pada skala pengalaman kerja diperoleh 30 aitem valid dengan tingkat reliabilitas 0,903 dan komitmen organisasi diperoleh 29 aitem valid dengan tingkat reliabilitas 0,846 pada Alpha Cronbach.Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa pengurus organisasi Persatuan Mahasiswa Donggo Malang angkatan 2013-2018 memiliki pengalaman kerja yang tinggi (51,67%) dan memiliki komitmen organisasi yang rendah (53,33%). Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan data membentuk garis linear. Uji hipotesis penelitian ini mengunnakan uji hipotesis analisis korelasi Pearson Product Moment yang diperoleh nilai sign = 0.006. Hal tersebut berarti ada hubungan antara pengalaman kerja dengan komitmen organisasi pengurus organisasi Persatuan Mahasiswa Donggo Malang angkatan 2013-2018.Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar para pengurus untuk dapat meningkatkan pengalaman kerja dan komitmen organisasi yang sudah dimiliki oleh pengurus dengan cara terus aktif dalam mengadakan kegiatan-kegiatan rutin yang bersifat sederhana agar kerekatan antar pengurus semakin kuat sehingga akan memunculkan perasaan setiap individu berat untuk meninggalkan organisasi
Kesadaran Diri Karyawan PT. Pembangkitan Jawa Bali Unit Bisnis dan Operasi Luar Jawa terhadap Budaya Organisasi
KESADARAN DIRI KARYAWAN PT. PEMBANGKITAN JAWA BALI UNIT BISNIS DAN OPERASI LUAR JAWA TERHADAP BUDAYA ORGANISASI PERUSAHAAN IPJB WAY Andreas Dosiam Laksono Arpasat; Gamma Rahmita Ureka Hakim Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang Email: [email protected] Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesadaran diri yang dimiliki karyawan PT. Pembangkitan Jawa Bali Unit Bisnis dan Operasi Luar Jawa terhadap budaya organisasi IPJB Way. Kesadaran diri yang akan diteliti berfokus pada kerangka kerja kesadaran yang meliputi perhatian (attention), kesiagaan (wakefulness), Arsitektur (architecture), mengingat pengetahuan (recall of knowledge), pengetahuan diri (self-knowledge), Emotif (emotive). Model yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Pengumpulan data menggunakan wawancara semi terpimpin, observer sebagai partisipan. Kemudian teknik analisis data menggunakan teknik analisis isi kualitatif tematik. Sedangkan pengecekan keabsahan temuan menggunakan metode triangulasi data. Penelitian dilaksanakan di PT. Pembangkitan Jawa Bali dengan partisipan sebanyak tiga orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran diri karyawan terhadap budaya organisasi sudah terpenuhi dan memiliki kesadaran diri baik, sangat baik dan baik untuk tiap partisipan. Penelitian ini diharapkan mampu untuk menggambarkan kesadaran diri karyawan terhadap budaya organisasi. Untuk perusahaan dapat memiliki jadwal dalam mensosialisasikan budaya organisasi IPJB Way dengan rutin agar setiap karyawan dapat memahami dan mengetahui nilai – nilai yang ada di dalam budaya organisasi, serta membuat pelatihan atau program yang bertujuan untuk membantu karyawan dalam mengimplementasikan budaya organisasi yang belum berjalan Kata Kunci: kesadaran diri, budaya organisasi Abstract: The study aims to determine the self-awareness of employees of PT. Pembangkitan Jawa Bali Unit Bisnis dan Operasi Luar Jawa to IPJB Way's organizational culture. Self-awareness that will be examined focuses on the framework of awareness which includes attention, wakefulness, architecture, remembering knowledge, self-knowledge, Emotive. The model used in this study is a case study method. Data collection uses semiguided interviews, observers as participants. Then the data analysis technique uses thematic qualitative content analysis techniques. While checking the validity of the findings using the data triangulation method. The research was conducted at PT. Pembangkitan Jawa Bali with three participants. The results of the study show that employees' self-awareness of organizational culture has been fulfilled and has good self-awareness, very good and good for each participant. This research is expected to be able to describe employees' self-awareness of organizational culture. For companies, they can have a schedule in socializing IPJB Way's organizational culture routinely so that each employee can understand and know the values that exist in organizational culture, as well as create training or programs that aim to help employees implement an organizational culture that has not yet been Keywords: self awareness, organizational culture PENDAHULUAN Organisasi adalah perserikatan orang yang usahanya harus dikoordinasikan, tersusun dari sejumlah sub sistem yang saling berhubungan dan saling tergantung, bekerjasama atas dasar pembagian kerja, peran dan wewenang, serta mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. Menurut Robbins dan Judge (2008) pengertian dari organisasi adalah sebuah unit sosial yang dikoordinasi secara sadar terdiri atas dua orang atau lebih, dan memiliki batasan – batasan yang dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan atau keyakinan yang telah ditetapkan oleh organisasi. Tujuan yang hendak dicapai dari fungsi organisasi yaitu dapat meningkatkan kesejahteraan anggota organisasi. Organisasi memiliki pola kepercayaan dan nilai yang dikembangkan selama organisasi di bentuk. Robbins, dalam bukunya Organizational Behavior (2012) menyatakan bahwa budaya organisasi atau perusahaan mengacu pada sistem yang memiliki makna dan disusun secara bersama serta dipegang oleh setiap anggota yang bertujuan membedakan organisasinya dan organisasi lain. Budaya organisasi adalah cara – cara berpikir, berperasaan, dan bereaksi berdasarkan pola – pola tertentu yang ada dalam organisasi atau yang ada pada bagian – bagian organisasi (Munandar, 2014). Budaya organisasi perusahaan merupakan pakaian bagi setiap organisasi. Di mana setiap pakaian tersebut akan menjadi identitas bagi organisasi tersebut dan akan menjadi salah satu bahan penilaian pihak eksternal ataupun unsur yang berhubungan dengan organisasi tersebut kepada organisasi (Tampubolon, 2012). Budaya organisasi berfungsi sebagai dasar pembentuk perilaku dari setiap organisasi bahwa budaya organisasi dapat membuat orang berpikir sehat dan masuk akal serta budaya organisasi meningkatkan stabilitas sistem sosial dan mencerminkan bahwa lingkungan kerjanya merupakan lingkungan yang memberikan dampak positif sehingga setiap konflik maupun perubahan di dalamnya dapat dikelola dengan baik dan efektif sehingga tidak menimbulkan gejolak di dalamnya (Kreitner dan Kinicki 2001, dalam Wibowo, 2013). Tosi dan Rizzo (1994) mengemukakan setiap organisasi selalu melakukan interaksi dengan lingkungan di sekitarnya. Penyelesaian dari setiap permasalahan yang dihadapi oleh masing – masing individu merupakan implementasi dari nilai, norma, dan keyakinan yang berlaku dalam sebuah organisasi. Keberhasilan menyelesaikan permasalahan yang ada merupakan dasar bagi tumbuhnya budaya organisasi. Mathis dan Jackson (2001), mengemukakan berhasil tidak suatu organisasi dalam pencapaian tujuan akan banyak ditentukan oleh kesadaran individu – individu dalam menjalankan tugas yang diembannya, sebab sumber daya manusia merupakan pelaksana kegiatan dalam rangka pencapaian tujuan. Manusia dalam melaksanakan aktivitas membutuhkan kemampuan agar dapat melaksanakan dengan memfokuskan perhatian pada tugas dan berfokus pada diri sendiri agar timbul pemahaman tentang potensi pada diri dan mengetahui apa yang akan dilakukan dan mengapa melakukan hal tersebut serta dapat mengetahui kemampuan serta potensi yang dimiliki guna menjalankan pekerjaan. Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting dalam menjalankan tugas dan kewajiban perusahaan untuk mencapai keberhasilan perusahaan. Namun, sumber daya manusia dapat memberikan kinerja yang maksimal dipengaruhi kesadaran diri tiap individu untuk menjalankan tugas, ketika individu memiliki kesadaran diri, individu dapat mengetahui kemampuan yang ada di dalam diri dan potensi yang akan digunakan untuk membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang timbul ketika bekerja. Nilai yang terdapat dalam diri tiap individu tentunya tidak dapat membantu secara menyeluruh ketika ada permasalahan, maka perusahaan memiliki budaya organisasi yang diciptakan, ditemukan dan dikembangkan dalam upaya untuk mengatasi masalah dalam beradaptasi dengan nilai – nilai eksternal dan mengintegrasi perilaku serta standar kerja di internal perusahaan. Goleman (2001), mengemukakan kesadaran diri adalah kemampuan dalam mengenali perasaan atau memahami diri sendiri sewaktu suatu kejadian terjadi. Kesadaran diri merupakan dasar dari kecerdasan emosional. Sedangkan Abraham Maslow dalam Teori Humanistik mengemukakan tentang kesadaran diri adalah mengerti dan memahami siapa diri kita, bagaimana menjadi diri sendiri, apa potensi yang kita miliki, gaya apa yang anda miliki, apa langkah yang diambil, apa yang dirasakan, nilai apa yang kita miliki dan yakini, kearah mana perkembangan kita akan menuju. Budaya organisasi memiliki pola tertentu yang membuat anggota memiliki nilai, keyakinan, cara berfikir dan berperilaku dalam menjalankan tugas dan kewajiban, maka setiap individu harus memiliki kesadaran diri menginternalisasikan dan mengimplementasi nilai - nilai yang terdapat di dalam budaya organisasi kedalam cara bekerja dan menjadi pedoman dalam mengevaluasi perilaku selama bekerja. Berdasarkan Peraturan Direksi PT Pembangkitan Jawa Bali Nomor 011.P/019/DIR/2018 tentang PJB Way sebagai budaya perusahaan di lingkungan PT Pembangkitan Jawa Bali, PJB Way sebagai budaya perusahaan terdiri atas 3 (tiga) elemen, yaitu : spirit (basic belief) yang merupakan keyakinan dasar seluruh Berkarya, Mengabdi, dan Beribadah; tata nilai inti (core values) PJB Way, yaitu Integrity, Professional, Joint Collaboration, Business Excellence; perilaku utama (key behavior) yang merupakan unsur dari tata nilai inti PJB Way dalam bentuk standar perilaku praktis seluruh karyawan PJB. Dalam penelitian ini peneliti lebih memfokuskan pada kesadaran diri karyawan PT Pembangkitan Jawa Bali Unit Bisnis Jasa dan Operasi Luar Jawa terhadap budaya organisasi yaitu IPJB Way, diharapkan dengan dilakukan penelitian ini akan diperoleh konsep mengenai bagaimana kesadaran diri karyawan terhadap budaya organisasi PJB Way. METODE Penelitian kualitatif yang dilakukan peneliti menggunakan model penelitian studi kasus (case studies). Tujuan dari penelitian studi kasus ini adalah suatu model yang menekankan pada eksplorasi dari suatu “sistem yang saling terkait satu sama lain” (bounded system) pada beberapa hal dalam satu kasus secara mendetail, disertai dengan penggalian data secara mendalam yang melibatkan beragam sumber informasi yang kaya akan konteks. (Creswell, 1996). Cresswell (1998, dalam Herdiansyah, 2015) menjelaskan yang dimaksud dengan sistem yang saling terkait adalah adanya kaitan dalam hal waktu dan tempat serta batasan dalam kasus yang diteliti. Subjek yang diteliti adalah karyawan PT. Pembangkitan Jawa Bali Unit Bisnis Jasa dan Operasi Luar Jawa khususnya Junior Officer dan Assistant Officer yang ditetapkan sebagai karyawan tetap kurang dari 2 tahun dan sosialisasi budaya organisasi IPJB Way dilaksanakan ketika subjek melaksanakan on the job training. Jumlah subjek dalam penelitian ini berjumlah 3 orang yang terdiri dari 3 perempuan. Subjek dipilih berdasarkan laporan penilaian keefektifan program internalisasi IPJB Way bahwa terdapat nilai cukup terhadap beberapa karyawan setelah dilakukan penilaian terhadap seluruh karyawan. Selain hasil dari penilaian program internalisasi peneliti melakukan observasi terhadap subjek dan diperoleh gambaran bahwa beberapa perilaku subjek tidak mencerminkan budaya organisasi PJB Way, perilaku yang nampak yaitu karyawan pada saat jam Dhuhur dan Ashar tidak segera meninggalkan pekerjaannya untuk kemudian melakukan sholat berjamaah dengan karyawan PT Pembangkitan Jawa Bali lainnya. Selain itu, pada saat diadakannya rapat internal dan acara formal pada Unit Bisnis Jasa dan Operasi Luar Jawa 2, karyawan jarang bahkan tidak pernah mengucapkan salam transformasi, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars PJB dan berdoa serta karyawan meninggalkan kantor diwaktu jam kerja dengan kegiatan yang diluar kepentingan kantor, kembali dari jam istirahat melebihi jam yang telah ditentukan oleh kantor. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data dengan wawancara semi terpimpin dengan cara pewawancara memasuki sesi wawancara dengan membawa rencana eksplorasi tentang topik-topik spesifik dan mengajukan pertanyaan terbuka terbatas kepada partisipan (Hanurawan, 2016). Peneliti juga melakukan observasi kepada partisipan. Jenis observasi yang digunakan adalah observer sebagai partisipan. Johnson dan Christiensen (dalam Hanurawan, 2016) mengemukakan jika observer sebagai partisipan adalah peneliti tinggal dalam waktu terbatas dalam melakukan observasi terhadap subyek yang diteliti. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis isi tematik kualitatif. Teknik analisis ini adalah analisis makna berdasarkan isi yang berhubungan kategori kategori yang ada dalam konsep yang di teliti oleh peneliti serta melakukan penelaahan terhadap pola – pola menonjol dalam data yang terkumpul sehingga dapat dilakukan interpretasi suatu kesimpulan (proposisi) sebagai hasil penelitian (Hanurawan, 2016). Peneliti menggunakan verifikasi hasil melalui metode triangulasi dengan mencari data yang tidak hanya dari subyek tetapi juga dari orang – orang yang dekat dengan subyek yang disebut dengan significant other. Dengan tujuan menjadikan data yang dihasilkan menjadi semakin sah. Diharapkan significant other tersebut menambah kekayaan yang tidak hanya didapat dari subyek saja. (Hanurawan, 2016). Tujuan dari significant other ini adalah untuk memverifikasi kesimpulan awal yang didapat dari proses analisis data, interpretasi data dan penarikan kesimpulan awal PEMBAHASAN Hasil penelitian menggambarkan bahwa kesadaran diri karyawan dari temuan penelitian yang didapat peneliti, ketiga subjek memiliki kesadaran diri terhadap budaya organisasi IPJB Way. Ketiga subjek dapat menjelaskan dan menjawab pertanyaan yang mewakili tiap aspek kesadaran diri dan dari hasil wawancara diperkuat oleh informasi yang didapat dari rekan kerja subjek tentang pemahaman kesadaran diri subjek terkait dengan budaya organisasi. Perubahan budaya organisasi mendorong karyawan untuk selalu mengevaluasi perilaku selama bekerja yang memiliki dampak terhadap kemajuan perusahaan, perubahan yang terlihat secara jelas dari perubahan budaya organisasi IKKPS menjadi IPJB adalah kenaikan surplus perusahaan yang mana nilai business excellent sangat berpengaruh di dalam perubahan budaya organisasi. Maka perusahaan perlu mengevaluasi dan mengembangkan budaya organisasi sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang ada di dalam perusahaan. Perubahan budaya organisasi memang tidak mudah dilakukan, namun perubahan perlu dilakukan guna membentuk pola perilaku. Pengembangan sistem dan metode sosialisasi budaya organisasi secara baik akan mempermudah dalam melakukan perubahan. Budaya organisasi IPJB merupakan budaya organisasi yang baru berjalan kurang lebih 2 tahun, masih banyak hal yang perlu diperbaiki agar budaya organisasi IPJB Way dapat terinternalisasi di setiap karyawan. Metode sosialisasi budaya perusahaan perlu mengalami pengembangan dan perbaikan, perlunya penilaian yang lebih rinci untuk menilai sejauh mana nilai yang sudah terinternalisasi dan yang belum serta pelatihan terhadap karyawan yang nilai di dalam budaya organisasi tidak dapatw terinternalisasi dengan baik karena faktor jabatan, masih banyak nilai – nilai yang tidak dapat terinternalisasi dengan baik karena adanya batasan dari jabatan karyawan. Pengembangan IPJB masih belum diperlukan, namun perusahaan lebih fokus dalam memperbaiki cara – cara mensosialisasikan IPJB ke karyawan serta membuat penilaian yang lebih rinci dan jelas serta mengawasi jalannya penilaian. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa ketiga subyek memiliki kesadaran diri yang baik dan sangat baik. Subjek AY memiliki kesadaran diri terhadap budaya organisasi dengan baik, subjek memahami nilai – nilai budaya organisasi dalam bentuk perilaku yang dapat diamati. Nilai dari budaya organisasi yang berkesan dan menjadi arah dalam bekerja adalah nilai jujur dan professional. Budaya organisasi IPJB Way mendorong subjek untuk bekerja dan mengarahkan kedalam perilaku yang lebih baik dan menurut subjek budaya organisasi IPJB Way sebagai sekumpulan nilai – nilai yang baik yang berbentuk pedoman berperilaku saat bekerja. Nilai integritas, professional dan joint collaboration merupakan nilai yang sering digunakan oleh subjek dalam membantu selama bekerja, nilai – nilai itu sesuai dengan jabatan dan kebutuhan subjek sehingga mudah untuk diimplementasikan. Subjek menjelaskan bahwa tidak semua karyawan telah mengimplementasikan budaya organisasi, hal yang menjadi pengaruhi yaitu perbedaan generasi budaya organisasi dan adanya batasan di dalam jabatan. Selanjutnya budaya organisasi IPJB Way membentuk perasaan dan emosi yang positif sehingga mendorong orang untuk bekerja semakin baik dan mengembangkan cara bekerja untuk selalu mimikirkan kepentingan perusahaan dan dampak yang terjadi jika subjek melakukan kesalahan. Dan untuk nilai budaya organisasi yang mudah diterapkan menurut subjek adalah joint collaboration karena tuntutan jabatan dan juga merupakan nilai yang membantu subjek dalam berinteraksi dan bekerja sama dengan pihak eksternal, serta menurut subjek pengimplementasian budaya organisasi tergantung sebesar apa effort yang dikeluarkan tiap individu dan sejauh mana individu memiliki kesadaran diri terhadap budaya organisasi yang berlaku. Selanjutnya, subjek VI memiliki kesadaran diri yang sangat baik diantara kedua subjek lainnya, pergantian budaya organisasi IKKPS menjadi IPJB menjadi perhatian khusus subjek. Subjek menyatakan bahwa budaya organisasi IPJB Way menjadi spirit dalam bekerja dan menjadi penyemangat serta menurut subjek bekerja tidak hanya untuk diri sendiri namun untuk kepentingan perusahaan, Negara, dan menjadi ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya subjek memiliki ketertarikan terhadap budaya organisasi sehingga sikap, perilaku dan tatanilai yang ada dalam IPJB Way harus tertanaman di dalam dirinya sehingga budaya organisasi menjadi landasan dalam bersikap dan berperilaku serta menjadi penyemangat dalam bekerja sebgai keyakinan dasar. Nilai – nilai yang mudah untuk diimplementasikan merupakan nilai yang sesuai dengan diri dan jabatan subjek dalam menunjang bekerja. Nilai integritas dan professional menurut subyek sudah harus di miliki oleh tiap karyawan karena nilai integritas dan professional terdapat di dalam setiap diri karyawan dan sebagai nilai dasar untuk menjadi standar perilaku. Budaya organisasi IPJB Way mendorong subjek untuk memperbaiki cara bekerja untuk dapat bekerja secara cepat, cerdas dan lebih inovatif. Subjek berpendapat bahwa nilai budaya organisasi yang mudah di implementasikan adalah integritas karena setiap karyawan memiliki integritas serta adanya program yang berjalanan tiap minggu yang membantu karyawan untuk lebih mudah memahami nilai – nilai budaya organisasi. Selanjutnya, subjek SE memiliki kesadaran diri yang baik terhadap budaya organisasi IPJB Way. Subjek menjelaskan bahwa hal yang berkesan dari IPJB Way adalah sebagai landasan dalam menjalani aktivitas di dalam kantor dari awal masuk hingga pulang. Nilai – nilai yang membantu subjek dalam bekerja adalah joint collaboration dan integrity. Joint collaboration mendorong partisipan untuk tidak takut berinteraksi dengan rekan kerja dan pihak eksternal, partisipan di dorong untuk memperbaiki komunikasi secara terus menerus sehingga join collaboration dapat tercapai. Pada nilai integrity, partisipan didorong untuk menjunjung tinggi amanah, etika dan tata kelola perusahaan yang baik sehingga partisipan dapat bekerja sesuai dengan job desk partisipan dan bekerja secara professional dengan mengetahui kapan waktu teman dan kapan waktu sebagai rekan kerja ketika ada pekerjaan. Budaya organisasi IPJB Way membantu dalam merefleksikan diri untuk lebih terarah daan memiliki batasan untuk bertindak tanpa didasari rasa terpaksa namun karena ada rasa bangga dan senang terhadap budaya organisasi sehingga dapat sebagai penggaris yang bertujuan untuk mengevaluasi perilaku ketika bekerja. Selanjutnya subjek SE mengungkapkan bahwa budaya organisasi yang mudah dilakukan dan efektif adalah integritas dan professional karena hal tersebut dimulai dari diri sendiri tanpa diperlukan effort yang besar namun hal itu tergantung oleh tiap individu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesadaran diri karyawan PT. Pembangkitan Jawa Bali Unit Bisnis dan Operasi Luar Jawa terhadap Budaya Organisasi IPJB Way memiliki nilai yang baik pada subjek AY, sangat baik pada subjek VI dan baik pada subjek SE. Nilai – nilai yang terdapat di dalam budaya organisasi IPJB Way, perlu dikembangkan lebih baik lagi untuk membantu karyawan dalam bekerja dan mencapai visi dan misi perusahaan. Metode dalam mensosialisasikan budaya organisasi perlu tinjau ulang untuk kefektifan dalam membantu karyawan memahami nilai – nilai yang ada. PENUTUP Simpulan Berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa Kesadaran diri karywan PT. Pembangkitan Jawa Bali Unit Bisnis dan Jasa Luar Jawa dapat disimpulkan bahwa ketiga subjek memiliki kesadaran diri terhadap budaya organisasi IPJB Way, ketiga subjek dapat menjelaskan pertanyaan yang mewakili tiap aspek kesadaran diri dengan rinci dan jelas. Subjek AY memiliki kesadaran diri yang baik terhadap budaya organisasi. Subjek VI memiliki kesadaran diri yang sangat baik terhadap budaya organisasi dan subjek SE memiliki kesadaran diri yang baik. Subjek VI memiliki kesadaran diri lebih baik dari subjek AY dan SE. Subjek VI memahami budaya organisasi dalam nilai spirit atau nilai yang paling dalam dan menjadi dasar pembentuk tata nilai inti dan perilaku utama. Saran Berdasarkan penelitian yang dilakukan, berikut ini adalah beberapa saran yang dapat dipertimbangkan, baik bagi peneliti selanjutnya maupun perusahaan 1. Saran bagi perusahaan a. Diharapkan perusahaan agar lebih memiliki jadwal dalam mensosialisasikan budaya organisasi PJB Way dengan rutin agar setiap karyawan dapat mengetahui nilai – nilai yang terdapat dalam PJB Way. b. Diharapkan perusahaan memiliki waktu dalam memberikan pelatihan untuk nilai – nilai yang belum dapat diimplementasikan oleh karyawan 2. Saran bagi karyawan a. Diharapkan karyawan dapat mengikuti setiap program – program yang telah dirancang oleh perusahaan seperti sosialisasi maupun pelatihan tentang budaya organisasi IPJBWay. 3. Saran bagi peneliti selanjutnya a. Melakukan observasi yang lebih detail agar hal – hal tidak dapat terungkap melalui proses waawancara dapat diperoleh lebih baik b. Pemilihan subyek yang lebih beragam dengan jumlah yang lebih banyak sehingga dapat menggambarkan keunikan dari masing – masing partisipan DAFTAR PUSTAKA Brahmasari, 2004. Pengaruh Var
Komitmen Pernikahan dan Perjodohan Perempuan Usia Dewasa Tengah
ABSTRAKSholikhah, Lailatus, 2019. Komitmen Pernikahan dan Perjodohan Perempuan Usia Dewasa Tengah. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed.Kata Kunci : Komitmen, Komitmen Pernikahan, PerjodohanKomitmen merupakan hal yang fundamental dalam sebuah hubungan yang melibatkan perasaan seperti pernikahan. Pernikahan sendiri berarti sebuah hubungan laki-laki dan perempuan yang disahkan oleh institusi agama maupun negara yang melibatkan kedekatan emosional dan fisik. Komitmen pernikahan adalah keadaan seseorang yang memilih untuk tetap bertahan bersama pasangannya dalam suka maupun duka. Pernikahan di Indonesia tak jarang bermula dari perjodohan yang diatur oleh keluarga.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap secara mendalam deskripsi komitmen pernikahan dan perjodohan perempuan usia dewasa tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis metode kualitatif dengan model penelitian deskriptif. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan penilaian dokumen dengan metode penelitian kualitatif. Teknik analisis data menggunkan analisis tematik. Untuk menguji keabsahan hasil penelitian peneliti menggunakan metode triangulasi dengan beberapa informasi dari informan. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Lamongan dengan jumlah subjek 3 orang perempuan dewasa tengah yang menikah karena dijodohkan dan memiliki umur pernikahan minimal 10 tahun.Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa gambaran komitmen pernikahan dan perjodohan perempuan usia dewasa tengah tergolong tinggi. Hal itu dapat dilihat dari aspek kepuasan yang juga tinggi, menghindari pilihan-pilihan alternatif yang ada di luar pernikahan dan memiliki investasi berupa anak dan reputasi diri yang baik. Perjodohan yang terjadi merupakan perjodohan dengan tipe direncanakan dan tipe joint venture
Komitmen Pernikahan dan Perjodohan Perempuan Usia Dewasa Tengah
RINGKASAN Sholikhah, Lailatus, 2019. Komitmen Pernikahan dan Perjodohan Perempuan Usia Dewasa Tengah. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed. Kata Kunci : Komitmen, Komitmen Pernikahan, Perjodohan Komitmen merupakan hal yang fundamental dalam sebuah hubungan yang melibatkan perasaan seperti pernikahan. Pernikahan sendiri berarti sebuah hubungan laki-laki dan perempuan yang disahkan oleh institusi agama maupun negara yang melibatkan kedekatan emosional dan fisik. Komitmen pernikahan adalah keadaan seseorang yang memilih untuk tetap bertahan bersama pasangannya dalam suka maupun duka. Pernikahan di Indonesia tak jarang bermula dari perjodohan yang diatur oleh keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap secara mendalam deskripsi komitmen pernikahan dan perjodohan perempuan usia dewasa tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis metode kualitatif dengan model penelitian deskriptif. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan penilaian dokumen dengan metode penelitian kualitatif. Teknik analisis data menggunkan analisis tematik. Untuk menguji keabsahan hasil penelitian peneliti menggunakan metode triangulasi dengan beberapa informasi dari informan. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Lamongan dengan jumlah subjek 3 orang perempuan dewasa tengah yang menikah karena dijodohkan dan memiliki umur pernikahan minimal 10 tahun. Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa gambaran komitmen pernikahan dan perjodohan perempuan usia dewasa tengah tergolong tinggi. Hal itu dapat dilihat dari aspek kepuasan yang juga tinggi, menghindari pilihan-pilihan alternatif yang ada di luar pernikahan dan memiliki investasi berupa anak dan reputasi diri yang baik. Perjodohan yang terjadi merupakan perjodohan dengan tipe direncanakan dan tipe joint venture
HUBUNGAN TINGKAT KESEPIAN DAN KELEKATAN REMAJA DITINJAU DARI STATUS PEKERJAAN IBU DI KABUPATEN MALANG
AbstrakArifaniPradnadiaMiftah.2019.HubunganTingkatKesepiandanKelekatanpadaRemajaDitinjaudariStatusPekerjaanIbudiKabupatenMalang.Skripsi,JurusanPsikologi,FakultasPendidikanPsikologi,UniversitasNegeriMalang.Pembimbing(I)Dr.HettiRahmawati,S.Psi,M.Si.,(II)IndahYasminumSuhanti,S.Psi,M.PsiKatakunci:kesepian,kelekatan,remaja,PekerjamigrantdannonmigrantPenelitian inibertujuan untuk mengetahuihubungantingkatkesepiandankelkatanpadaremajaditinjaudaristatuspekerjaanibudikabupaten Malang.Remaja merupakan masa peralihan darianakmenuju dewasa karena haltersebutketidaksiapan remaja dalammengemban tugastugasperkembangan dapatmenjadikan remajamengalamikesepian.Penyebabutamakesepianpadaremajaadalahkurangnyakelekatanbaikpadaorangtua,temanmaupunkelekatanberlebihdengansmartphonesehinggaremajalebihmengasingkandiridarilingkungan.Penelitian inimenggunakan metode kuantitatifdengan jenispenelitian korelasional, melibatkan 100 responden yang dipilihmenggunakanmenggunakanteknikNonprobabilitySampling,denganjenis pengambilan sampel cluster sampling. Sampel penelitianmerupakanremajayangibunyabekerjasebagaipekerjamigrantdannon migran.Cara penghitungan yang digunakan ialah modelperhitunganskalaLikertPengumpulandatamenggunakaninstrumenkesepian,denganreliabilitas0,725,daninstrumenkelekatandenganreliabilitas sebesar 0,799. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa 19remajadiKabupatenMalangmemilikitingkatkesepiantinggidan16remajamemilikitingkatkesepianrendah,sebanyak65remajamemiliki tingkatkesepiansedang dan19remajamemilikitingkatkelekatan tinggi.67remajamemilikitingkatkelekatansedang,dan16remaja meilikikelekatan rendah HasilkorelasiKesepian dan Kelekatanmenunjukkannilaidatapsebesar0,001denganp-value=0,00
Efektifitas Outbound Untuk Meningkatkan Kecerdasan Interpersonal Pada Siswa Kelas VI SD Taman Siswa Turen
RINGKASANLuthfiah, Rosyada Dzulfahmi. 2018. Efektifitas Outbound Untuk Meningkatkan Kecerdasan Interpersonal pada Siswa Kelas VI SD Taman Siswa Turen.Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang.Pembimbing:(1) Dra. Sri Weni Utami, M.Si,(2) Ike Dwiastuti, S.Psi., M.Psi, Kata kunci: Outbound, Kecerdasan Interpersonal, Siswa kelas VI SDKecerdasan interpersonal merupakan kemampuan seseorang dalam memahami dan menempatkan dirinya secara tepat pada situasi sosial. Selain itu kecerdasan interpersonal juga mencakup dalam kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah dan dapat berkomunikasi dengan baik. Dengan kecerdasan interpersonal yang baik, akan meminimalisir terjadinya konflik interpersonal yang akan terjadi. Sehingga dengan kurangnya kemampuan ini, maka akan tercipta hubungan sosial yang tidak harmonis. Outbound merupakan metode experiental learning yang dipercaya dapat meningkatkan kemampuan seseorang. Hal ini dikarenakan pada metode outbound peserta langsung terlibat secara kognitif, afektif dan psikomotor.Penelitian ini bertujuan untuk(1) Untuk mengetahui gambaran kecerdasan interpersonal pada siswa kelas VI SD Taman Siswa Turen(2) Untuk mengetahui rancangan outbound yang sesuai dengan pengembangan kecerdasan interpersonal siswa kelas VI SD Taman Siswa Turen(3) Untuk mengetahui efektifitas Outbound untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal pada siswa kelas VI SD Taman Siswa Turen.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan rancangan penelitian one group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah Siswa kelas VI SD Taman Siswa Turen dengan teknik purposive sampling maka sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Taman Siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal yang rendah sekali. Sehingga didapatkan sample pada penelitian ini sejumlah 12 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala kecerdasan interpersonal sejumlah 57 item. Selain itu juga digunakan panduan Outbound untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal siswa kelas VI SD untuk pelatih dalam menerapkan outbound.Hasil penelitian dengan menggunakan teknik analisis uji paired sample t-test didapatkan Sig. (2-tailed) 0,000 dan koefisien nilai t sebesar 10,327. Sehingga outbound efektif untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal siswa kelas VI SD Taman Siswa Turen. Selain itu berdasarkan analisis effect size cohen’s didapatkan skor sebesar d 2,649. Hal ini berarti outbound memiliki efek yang kuat dalam meningkatkan kecerdasan interpersonal siswa kelas VI SD Taman Siswa Turen. Kesimpulan dari penelitian ini adalah outbound efektif untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal siswa kelas VI SD Taman Siswa Turen. Saran bagi peneliti selanjutnya, hendaknya menggunakan permainan yang lebih bervariasi dan lebih menyenangkan bagi peserta. Bagi pelatih, hendaknya memahami dengan baik pedoman penggunaan outbound dan memberikan briefing kepada peserta dengan jelas
Religiusitas sebagai Prediktor Perilaku Hedonik pada Anak Punk di kota Malang
Abstrak Bahaduri, Taju. 2018. Religiusitas sebagai Prediktor Perilaku Hedonik pada Anak Punk di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Tutut Chusniyah, M.Si, (II) Dr. Nur Eva., S.Psi, M.Psi. Kata kunci: religiusitas, perilaku hedonik, anak punk Anak Punk di Kota Malang memiliki cara hidup yang bebas dan memiliki tujuan hidup untuk mencari kesenangan penuh. Hidup dengan penuh kenikmatan seperti bebasnya aktivitas seksual, minum minuman keras, dan menonton konser musik, tetapi anak Punk juga memiliki aturan sendiri yang dipegang dalam ideologi Punk. Namun, beberapa anak Punk juga melakukan kegiatan sosial masyarakat, membantu sesama individu dalam kehidupan sosial di masyarakat, dan ikut membela apa yang benar seperti halnya penista agama, karena religiusitas pada seseorang menjadi sumber dorongan bahkan ketahanan untuk berperilaku. Hal tersebut terjadi karena adanya pengaruh antara religiusitas dan perilaku hedonik yang dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (a) bagaimana religiusitas pada anak Punk di Kota Malang, (b) bagaimana perilaku hedonik pada anak Punk di Kota Malang, dan (c) apakah religiusitas merupakan prediktor perilaku hedonik pada anak Punk di Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan rancangan dekriptif kausalitas dengan subjek seluruh anak Punk di Kota Malang. Subjek penelitian dipilih menggunakan metode accidental sampling dengan jumlah subjek sebanyak 60 anak Punk di Kota Malang. Pengumpulan data menggunakan skala religiusitas dengan reliabilitas 0,877 dan skala perilaku hedonik dengan reliabilitas 0,860. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) 60% anak Punk di Kota Malang memiliki religiusitas yang rendah, (2) 52% anak Punk di Kota Malang memiliki perilaku hedonik yang tinggi, dan (3) hasil uji regresi menunjukkan religiusitas merupakan prediktor perilaku hedonik dengan nilai R sebesar 0,371. Kontribusi dari religiusitas sebesar 0,138 (13,8%) yang menunjukkan bahwa pengaruh religiusitas terhadap kemunculan perilaku hedonik pada anak Punk di Kota Malang sebesar 13,8%. Saran yang diberikan kepada anak Punk di Kota Malang adalah meningkatkan ajaran agama yang dianutnya ke dalam perilaku sehari-hari dan evaluasi diri untuk mempertimbangkan perilaku hedonik yang tinggi. Kemudian untuk peneliti selanjutnya agar dapat melakukan penelitian mengenai religiusitas dan perilaku hedonik menggunakan metode kualitatif atau menguji variabel lain seperti kebudayaan, kelas sosial dan lain-lain
Pengaruh Terapi Musik Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pasien Pra Pembedahan Sectio Caesar Di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Pusura Tegalsari Surabaya
ABSTRAK Paramita, Bethari. Pradnya. 2015. Pengaruh Terapi Musik Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pasien Pra Pembedahan Sectio Caesar Di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Pusura Tegalsari Surabaya. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed, (II) Ike Dwiastuti, S.Psi., M.Psi. Kata Kunci : terapi musik, kecemasan, pasien, pra pembedahan, sectio caesar. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi musik terhadap penurunan tingkat kecemasan pasien pra pembedahan sectio caesar di RSIA Pusura Tegalsari Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis rancangan penelitian eksperimen dan menggunakan rancangan Randomized Controlled Trial. Populasi penelitian ini adalah seluruh wanita dewasa yang akan menjalani pembedahan sectio caesar di RSIA Pusura Tegalsari Surabaya. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 40 subjek yang di bagi dalam 2 kelompok dan dikelompokkan dengan Simple Random Sampling. Instrumen untuk mengukur kecemasan 1 & 2 dalam penelitian ini menggunakan State Trait Anxiety Inventory form Y (STAI) berbahasa Indonesia sebanyak 20 item state anxiety dan 20 item trait anxiety dengan tingkat reliabilitas 0,895 untuk state anxiety dan 0,901 untuk trait anxiety. Dari hasil analisis data yang menggunakan analisis kovarian (anakova), dapat disimpulkan bahwa terapi musik berpengaruh terhadap penurunan tingkat kecemasan pasien pra pembedahan sectio caesar di RSIA Pusura Tegalsari Surabaya. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diperoleh saran bagi pasien, peneliti selanjutnya, ilmuwan psikologi dan RSIA Pusura Tegalsari Surabaya. Bagi pasien diharapkan dapat melakukan metode ini secara mandiri. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mempersiapkan penelitiannya lebih matang sehingga hasil lebih representatif. Bagi ilmuwan psikologi diharapkan dapat mendampingi pasie yang akan menjalani pembedahan sectio caesar. Bagi RSIA Pusura Tegalsari Surabaya diharapkan metode ini dapat diterapkan dalam tahap pra pembedahan sectio caesar
Self Awareness pada Ibu PSK dalam Pendidikan Seksual untuk Anak di Lingkungan Lokalisasi Gedangsewu Kecamatan Pare
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai self awareness yang ada pada diri ibu PSK terkait dengan cara dan kesadaran dirinya dalam memberikan pendidikan seksual bagi anaknya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan model penelitian fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis tematik. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan validitas interpretif dengan triangulasi data. Penelitian dilakukan di Lingkungan Lokalisasi Gedangsewu Kecamatan Pare dengan jumlah subyek 3 orang ibu yang berprofesi sebagai PSK dengan usia anak rentangan usia 9-14 tahun serta significant others sejumlah 3 orang. Penelitian menunjukkan bahwa dua orang subyek dengan anak berjenis kelamin perempuan mengatakan bahwa memberikan pendidikan seksual bagi anak itu penting untuk melindungi anaknya dari pengaruh negatif lingkungan. Sementara satu orang subyek dengan anak berjenis kelamin laki-laki menyatakan bahwa pendidikan seksual tidak penting diberikan untuk anaknya karena menganggap bahwa lebih penting pendidikan formal dan keagamaan. Hasil dari penelitian menjelaskan bahwa ibu PSK telah memiliki kesadaran diri dalam tingkatan mampu menyadari risiko dari pekerjaannya, memahami pengaruh negatif dari lingkungan kepada anak, serta mampu untuk sebisa mungkin memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya. Pendidikan seksual yang diberikan oleh ibu kepada anak diantaranya adalah membatasi dengan siapa saja anak bergaul, mengatur cara berpakaian anak, memberikan pengetahuan reproduksi sesuai dengan kemampuannya, serta memberikan aturan terkait dengan pergaulan anak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ibu PSK telah memiliki kesadaran diri untuk memberikan pendidikan seksual kepada anaknya karena mengetahui risiko dari pekerjaan serta lingkungannya yang akan berdampak buruk pada anak. Saran dari penelitian ini adalah perlu adanya pemberian pengetahuan kepada ibu PSK terkait dengan pendidikan seksual untuk anak.Kata Kunci : self awareness, pendidikan seksual, anak di lingkungan lokalisas